• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI: Penutup meliputi kesimpulan dari penulis mengenai hal-hal yang telah dibahas oleh penulis dalam

TINJAUAN TEORITIS

B. Pengertian Narapidana Terorisme

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa Narapidana adalah orang yang sedang dijatuhi hukuman sanksi, dan dicabut segala haknya dalam berdemokrasi, baik secara pidana maupun perdata. Adapun terorisme, mengacu pada sebuah istilah bahwa terorisme adalah suatu aktivitas terencana, kekerasan yang bermotivasi politik dengan sasaran masyarakat sipil yang tidak berdosa, dan dilakukan oleh kelompok-kelompok sub-nasional atau agen-agen terselubung. Narapidana terorisme adalah orang yang dijatuhi hukuman akibat melakukan tindak teror kepada masyarakat yang tidak bersalah. Berdasarkan definisi tersebut, terdapat 4 elemen kunci terorisme yaitu: 56

a. Aktivitas yang terencana, dan bukanlah

kegiatan yang dilakukan secara impulsif atau berdasarkan dorongan sesaat.

b. Bermotivasi politik, bukan kriminal, seperti

halnya kekerasan yang dilakukan oleh

kelompok mafia. Aksi teroris tidak semata-mata dilakukan untuk mendapatkan uang tebusan tapi bertujuan untuk merubah tatanan politik yang mapan.

56

Sukawarsini Djelantik, Terorisme Tinjauan Psiko-politis, Peran Media,

Kemiskinan, dan Keamanan Nasional, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia,

c. Dilakukan oleh kelompok-kelompok sub-nasional, bukan tentara pemerintah.

d. Korban adalah masyarakat sipil yang tidak berdosa.57

Istilah terorisme digunakan sebagai alat teror politik, yang saat ini menjadi praktik yang menggejala, dan sangat tidak menyenangkan dilihat dari sudut pandang moral, dan hukum. Menurut Alex P. Schimd, dalam buku yang ditulis Ahmad Jainuri dkk mengatakan, bahwa ada empat kelompok yang berbeda pandangan mengenai terorisme, yakni akademisi, pemerintah, masyarakat umum, dan kaum teroris serta simpatisannya.

Kaum akademisi biasanya mengedepankan intelektual dan bersikap netral dalam melakukan penyelidikan segala sesuatu yang berbau teroris. Definisi terorisme dari kelompok ini menyebutkan bahwa terorisme adalah sebuah metode yang didorong oleh semangat melakukan aksi kekerasan secara berulang, yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau faktor penguasa bawah tanah, karena alasan ideosinkratis, krimininil, atau politik.58

Berbeda dengan definisi di atas, dalam hal ini kalangan pemerintah cenderung memaknai istilah terorisme

57 Sukawarsini Djelantik, Terorisme Tinjauan Psiko-politis, Peran Media,

Kemiskinan, dan Keamanan Nasional, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia,

2010) h. 280.

58 Achmad Jainuri, Zainuddin Maliki, Samsul Arifin,dkk. Terorisme dan

lebih tegas dan keras, karena mereka secara aktif berkewajiban memberantas aktivitas terorisme, dan bahkan menjadi korban dari terorisme. Di dalam pandangan masyarakat, aksi terorisme dimaknai dengan bentuk kekerasan dengan aktivitas penyanderaan, pembunuhan, pengeboman tanpa membedakan sasaran, penculikan, pembajakan, untuk pemaksaan perundingan, perang gerilya kota, sabotase, penganiayaan, pembajakan untuk melepaskan diri.

Pandangan tersebut merupakan hasil dari sebuah survei terhadap 20 agen berita televisi, stasiun radio, dan surat kabar yang sebagaian besar berasal dari Erofa Barat.59 Dalam pandangan kaum teroris sendiri, mereka sering kali melawan

balik untuk memperoleh jastifikasi moral dengan

membandingkan kekerasan yang mereka lakukan dengan kekerasan yang dilakukan oleh lawan-lawannya. Dengan

perbandingan seperti ini, kaum teroris mencoba

memposisikan tujuan moral dan aksinya pada tingkatan moral yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah yang melawannya.

Jadi dari semua pengertian terorisme seperti yang telah dipaparkan di atas menjelaskan adanya penekanan tujuan pokok dari pada taktiknya. Umumnya, kaum teroris mencoba menghindari pengelompokan taktik perjuangan mereka sebagai tindakan kriminal.

59 Achmad Jainuri, Zainuddin Maliki, Samsul Arifin,dkk. Terorisme dan

Kaum teroris lebih senang apabila perjuangan mereka itu diletakan dalam kerangka “perang” melawan musuh guna mencapai tujuan politik. Karena, jika istilah terorisme disamakan dengan tindakan kriminal, maka keabsahannya akan lebih berkurang dibandingkan dengan jika terminologi “perang” digunakan untuk mendeskripsikan terorisme.60 Orang yang melakukan aksi teror terhadap masyarakat, yang membuat keadaan menjadi tidak aman, dan nyaman.

Radikalisasi dapat terjadi di dalam lapas, dan tidak timbul begitu saja, melainkan melalui suatu proses yang membutuhkan waktu dan actor yang terlibat di dalamnya. hal inilah yang menyebutkan bahwa lapas menjadi tempat yang rentan bagi terjadinya penanaman radikalisasi,. Menurut Noor Huda Ismail (Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian) mengatakan bahwa setidaknya ada empat faktor yang memungkinkan terjadinya radikalisasi di dalam lapas, atau setelah keluar dari lapas antara lain:

a. Religius gathering, yakni dimana narapidana teroris biasanya deberikan kepercayaan dan tanggung jawab atas fasilitas masjid di lapas. Hal ini sangat beresiko, karenadari sini napi teroris mendapatkan keuntungan berupa kesempatan interaksi mereka menjadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan dan kerjasama baik dengan sipir maupun napi lain.

60 Achmad Jainuri, Zainuddin Maliki, Samsul Arifin,dkk. Terorisme dan

b. Internal discussion, yakni diskusi internal yang melihatkan ustadz dari dalam atau luar lapas, termasuk hubungan via telepon. Beberapa diskusi tidak dimoderatori dan tidak melibatkan orang lain sehingga memungkinkan terjadinya internalisasi nilai dan persepsi tentang jihad, lebih jauh menguatkan pemahaman orang yang diajak berdiskusi untuk tetap berkomitmen pada jihad.

c. Reading material about jihad, relatif mudah untuk menemukan bahan bacaan tentang jihad dan mendiskusikannya di dalam lapas. Sesuai dengan pepatah bahwa buku adalah guru terbaik, khususnya dalam proses internalisasi pemahaman jihad yang terjadi adalah banyak buku teks Arab yang dibawa dari luar ke dalam lapas oleh narapidana teroris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian didistribusi secara luas sebagai sarana untuk mempengaruhi pemikiran orang lain.

d. A strong bond between the jihadist (terrorist), kuatnya ikatan antara teroris seringkali dibangun di dalam lapas, membuat mereka lebih eksis baik secara individu maupun kelompok. Interaksi mereka dalam kelompok terus berlanjut dari sebuah landasan ideologis menuju penguatan posisi masing-masing.

Dalam komunitasnya, mereka mendapatkan

penghargaan status sosial yang tinggi serta dianggap sebagai “pembela agama” dan “pahlawan”. Napi

teroris juga selalu di jenguk sebagai bentuk solidaritas sesama muslim.

Hal tersebutlah yang membuat napiter diperlakukan dangan istimewa karena keimanan yang terlalu kuat terhadap agama yang dianutnya membuatnya menjadi tertutup, Islam fundamentalis, dan tidak ingin dirinya merasa terganggu dalam aliran atau organisasi lain.

Disini penulis menyimpulkan bahwa yang membuat radikal yaitu, mereka anak-anak remaja, dan orangtua yang kurang kasih sayang., Rasa syukur yang kurang maksimal, dan ketidaksabaran menghadapi ujian baik dari manusia lainnya, maupun dari Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT). Dengan adanya program deradikalisasi untuk narapidana teroris yaitu agar napiter menjadi moderat, dan yang sudah moderat tidak menjadi radikal.

Dokumen terkait