• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI: Penutup meliputi kesimpulan dari penulis mengenai hal-hal yang telah dibahas oleh penulis dalam

TINJAUAN TEORITIS

B. Pengertian Radikalisme Agama

Berbicara tentang Radikalisme agama mari kita telisik dengan cara yang serderhana, indah nan tentram, istilah radikalisme muncul dari pemahaman agama yang tertutup, dan tekstual hingga menganggap kelompoknya yang paling benar, sehingga pemahaman kelompok lain dianggap sesat, dan kafir yang berhak untuk diperangi dengan kekerasan

Menurut buku yang ditulis M.I Rahmat berjudul Arus Baru Islam Radikal, Radikalisme agama adalah suatu gerakan yang memiliki ciri radikal dengan indikator adanya karakter keras dan tegas, tanpa kompromi dalam mencapai agenda-agenda tertentu yang berkaitan dengan kelompok muslim tertentu.45

Mengutip hasil temuan Haraco M Kallen, radikalisme agama paling tidak dicirikan oleh tiga kecenderungan: a. Radikalisme Agama merupakan respons terhadap

kondisi yang sedang berlangsung. Biasanya respons tersebut muncul dalam bentuk evaluasi, penolakan atau bahkan perlawanan. Masalah-masalah yang ditolak dapat berupa asumsi, ide, lembaga, atau nilai-nilai yang

dipandang bertanggungjawab terhadap

keberlangsungan kondisi yang ditolak.

b. Radikalisme Agama tidak berhenti pada upaya penolakan, melainkan terus berupaya mengganti tatanan tersebut dengan suatu bentuk tatanan lain. Ciri

45

ini menunjukan bahwa di dalam radikalisme agama terkandung suatu program atau pandangan dunia tersendiri.

c. Kuatnya keyakinan kaum radikalisme agama akan kebenaran program atau ide atau ideologi yang mereka bawa.46

Lahirnya, fenomena radikalisme agama tidak terlepas dari permasalahan psikologis baik para tokoh pelopor, wayang pelakon, dan kemungkinan adanya deviasi sosial, yaitu selalu ada komunitas yang abnormal. Baik ia berada dalam abnormalitas demografis, sosial, maupun psikologis.

Sedangkan bentuk deviasi dapat bersifat individual, situasional, dan sistemik. Abnormal perilaku

seseorang berkategori normal dalam pengertian

kepribadian tetapi abnormal dalam pengertian sosial dan moral. Berkenaan dengan hal itu, menjadi benar ungkapan Sidney Jones bahwa ancaman terorisme, dan radikalisme di Indonesia itu nyata.

Dari berbagai problematika yang terjadi dari berbagai aspek baik sosial, agama dan moral dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin yaitu, agama yang diutus oleh Allah SWT sebagai jalan yang benar, akan tetapi disini negara Indonesia sebagai negara yang mengajarkan tentang nilai-nilai serta

46

Tarmizi Taher, Eddy, Kristityanto, Faranz Suseno, Sumartana, Radikalisme Agama (Jakarta: PPIM IAIN Jakarta, 1998) hvii.

sikap saling menghargai (toleransi), harmoni, menghormati harta, dan nyawa manusia. Sehingga agama manapun mengajarkan tentang kedamaian serta tidak menganjurkan kekerasan.

Di dalam Islam sendiri tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan atas nama agama, termasuk dalam menyebarkan ajaran agamanya.47 Agama Islam yang merupakan agama perdamaian inilah, yang mana di era kontemporer ini menjadi modal besar bagi peradaban Islam di Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi. Kendati demikian, berbicara mengenai radikalisme agama kita tidak bisa fokus pada satu agama, mengingat Indonesia tidaklah berlandas pada satu agama saja.

Sila pertama yang menegaskan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa inilah yang menyimpulkan bahwa, Indonesia merupakan negara berideologi Pancasila, harus bersifat terbuka, gotong royong, berkeadilan dalam persatuan, adil serta makmur, dan pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat bagi proses demokrasi, dengan tetap dalam koridor NKRI.48

Lahirnya radikalisme agama ini terjadi karena adanya propaganda isu sara yang berkembang di

masyarakat baik media massa, maupun sosial.

Ketidakpahaman masyarakat awam terkait pemahaman

47

Tarmizi Taher, Eddy Kristityanto, Faranz Suseno, Sumartana, Radikalisme

Agama (Jakarta: PPIM IAIN Jakarta, 1998), xvii

48 Pendidikan kewargaan (Civic Education), Demokrasi Hak Asasi Manusia

keagamaan yang rahmatan lil A’alamin inilah yang menjadikan seseorang, atau kelompok tertentu ikut terpropokasi dalam aksi radikal tersebut.

Dalam sudut pandang agama, atau keyakinan “theology” penyebab dari adanya gagasan radikal ini bermula dari adanya ketidakpuasan masyarakat awam terhadap pemerintahan. Dalam beberapa pertemuan forum bersama tokoh besar pemuka agama di Indonesia sebuah forum diskusi tentang refleksi sumpah pemuda Joang 45 di auditorium aukumene Jakarta Pusat, dengan beberapa tokoh pemuka agama baik Islam, Hindu, Budha, Katolik, Protestan, dan Khonghucu,.

Dalam forum tersebut menjelaskan, masing-masing menyadari bahwa tidak hanya Islam yang kerap berlabel radikal, di agama selain Islam pun ada yang radikal, hasil diskusi menyebutkan bahwa mereka adalah masyarakat minoritas yang segala hak, dan kewajiban dalam melakukan segala aktivitas keagamaan merasa belum terpenuhi, dan terbatas.49

Selain itu, pelabelan agama menjadi radikal disebabkan karena adanya paradigma masyarakat pertama, penilaian seorang individu terhadap individu lain. Misalnya karena penampilan, karakter atau watak keras, intonasi,

49 Bersama Ahmad Nauval dari Komisariat Tarbiyyah, Ika Wahyuni Direktur Bidang Administrasi dan Keuangan Lapmi HMI Ciputat, serta dua rekan aktivis PMII, dan IMM dari Fakultas Adab dan Humaniora yang ikut serta pada kegiatan tersebut, disambut oleh Inayah Wahid selaku moderator dengan pembicara beberapa tokoh pemuka agama, para anggota gusdurian, serta dari agama Baha’i.

gaya berbicara, ekspresi wajah dan simbol agama yang menempel pada pribadinya serta himpitan ekonomi.

Kedua karena faktor geografis atau lokasi tempat tinggal, antara dataran tinggi, dan rendah. seperti pegunungan cenderung santai, lembut, tenang, berbeda dengan lokasi pesisir pantai cenderung keras karena efek kondisi alam yang membuat mereka harus meninggikan suara agar pesan yang hendak disampaikan dapat tersampaikan.

Kita tengok lagi pada contoh kasus negara-negara muslim minoritas, hal inilah yang menjadi barometer tentang kepenyuluhan sebagai “obat penenang” bagi kondisi umat Islam di Indonesia, Islam di Indonesia sebagai roll model studi agama universal yang terbuka terhadap sesama, toleran, dan moderat tanpa membeda-bedakan baik itu dari segi gender, agama dan status sosial di masyarakat. Melalui Islam Nusantara dengan pendidikan Islam berkarakter di lihat dari sudut pandang sosiologis.50

“ Negara Indonesia yang pluralis akan selalu berlandaskan pada ideologi Pancasila yang menghargai keragaman, nilai-nilai Islam yang tetap tidak dihilangkan, serta selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,”.

50 Dirangkum dari hasil wawancara Prof. Oman Faturahman, biasa kita sapa kang Oman pada hari Kamis, jam 15:00 di ruangannya PPIM UIN Jakarta, 11 Desember, 2015,.

Dokumen terkait