• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI: Penutup meliputi kesimpulan dari penulis mengenai hal-hal yang telah dibahas oleh penulis dalam

SEKRETARIAT UTAMA

C. Resosialisasi dan reintegrasi

Selain identifikasi, dan reedukasi BNPT juga mendesain program resosialisasi dan reintegrasi dengan cara membimbing mereka dalam bersosialisasi dan menyatu kembali dengan masyarakat. Selain itu deradikalisasi juga dilakukan melalui jalur pendidikan

dengan melibatkan perguruan tinggi, melalui

serangkaian kegiatan seperti public lecture, workshop, dan lainnya, mahasiswa diajak untuk berfikir kritis dan memperkuat nasionalisme sehingga tidak mudah menerima doktrin yang destruktif.

Pada tindak kasus pidana terorisme perlu pembinaan yang khusus, penanganan terorisme sebenarnya suatu perlawanan yang ditujukan kepada ideologi yang dianut teroris beserta penyebarannya. Program deradikalisasi menjadi penting karena memiliki peran untuk melepaskan ideologi yang dianut oleh radikalis-teroris dengan menggantikannya dengan ideologi Pancasila.81 D. Pengembangan Masyarakat

Pengembangan masyarakat dilakukan agar

narapidana terorisme mampu terintegrasi dengan masyarakat atau setidaknya meredakan niat mereka supaya tidak melakukan tindak kejahatan. Penelitian Mark Woodward terhadap jaringan teroris Aceh dan

81 Mochamad N. Febriyansah, Raka K. Wardana, Seminar Hukum Universitas Negeri Semarang : Upaya Deradikalisasi Narapidana Terorisme

di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Keung Pane Semarang, Vol 3 nomor 1

Tahun 2017, https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/snh2017. Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang. Hal. 96

program deradikalisasi tahun 2010 menguraikan

kelebihan deradikalisasi yang dilakukan oleh

pemerintah Indonesia dengan soft approach sehingga diadopsi oleh Yaman, Saudi Arabia, dan Singapura,.82

Kendati pun demikian, Ada pula kekurangan atau kendala dalam program deradikalisasi pada awal pembentukannya antara lain:83

a. Belum adanya pembinaan khusus untuk napiter dan kurang optimalnya peran balai pemasyarakatan

(Bapas) sebagai institusi yang berfungsi

memberdayakan mantan narapidana terorisme b. Efektif atau tidaknya deradikalisasi terhadap

narapidana terorisme sangat tergantung pada peran lapas.

Telah dipaparkan diatas beberapa sub tentang profil lembaga Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebagai lembaga pemerintah dalam mengatasi secara dini, menangkal

dengan maksimal paham radikalisme agama yang

berkembang di Indonesia, dalam penelitian ini penulis akan memfokuskan diri kepada para tokoh yang terlibat dalam upaya deradikalisasi pada narapidana terorisme,.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, di mana setelah melakukan observasi penulis menentukan beberapa subjek atau informan dengan

82 Muh. Khamdan, Deradikalisasi Pelaku Tindak Pidana Terorisme di

Indonesia, Tesis Kajian Agama dan Studi Perdamaian, UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta 2015, hal. 38. 83

Josefhin Mareta, Rehabilitasi Dalam Upaya Deradikalisasi Napiter, masalah-masalah hukum, jilid 47 no. 3, Oktober 2018.

menggunakan wawancara mendalam, walau tidak ke semua

aparat namun masing-masing dari narasumber bisa

melengkapi kekurangan data dan informasi narasumber lainnya, sehingga informasi yang didapat adalah data yang jelas dan relevan.

3. Kegiatan Penyuluhan yang dilakukan Penyuluh di BNPT Citereup Bogor

Bertujuan untuk merubah prilaku napiter dengan itulah penyuluh di lapas khusus BNPT memberikan materi penyuluhan dengan metode ceramah, diskusi, dan wawanca oleh penyuluh agama kepada napiter selama satu minggu satu kali.

“Kita memberikan materi, di mulai dari rehabilitasi terus di kasih isi kemudian di coba untuk reedukasi serta disosialisasikan kepada masyarakat, resosialisasi dan dan reintegrasi. Rehab itu dia tidak lagi merasa paling benar dengan pemikiran dia yang radikal, jadi dia tidak bisa menerima perbedaan. Kalau dia sudah mau menerima perbedaan baru kita isi, setelah itu reedukasi dan di sana lebih banyak reedukasias melakukan penyuluhan yang dilakukan dengan memberikan reedukasi dan resosialisasi kepada mereka.”84

84 wawancara dengan pembina atau penyuluh narapidana teroris di lapas khusus BNPT Bogor pada Jum’at, 09 April 2021 pukul 16:15.

BAB V

Analisis dan Pembahasan A. Analisis terkait strategi komunikasi

Strategi merupakan suatu proses untuk melakukan perumusan dan penentuan rencana untuk mencapai suatu tujuan, dengan demikian ketika individu atau kelompok ingin melakukan suatu pembinaan, tentunya merencanakan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan.

Maka dengan demikian Badan Nasional

Penanggulangan Teroris Lapas Khusus Citeurep Sentul Bogor melakukan suatu rencana strategis dalam proses pembinaan pada narapidana melalui program deradikalisasi. Selanjutnya penulis akan memaparkan hasil temuan lapangan berdasarkan rumusan masalah yang telah penulis rumuskan pada bab I yakni bagaimana strategi komunikasi penyuluh agama dalam pelaksanaan program deradikalisasi narapidana terorisme (Napiter).

Komunikasi menjadi kebutuhan penting bagi

keberlangsungan hidup setiap manusia. Sebagai mahkluk hidup yang mulia di hadapan Allah SWT, oleh karenanya penting bagi kita untuk melakukan sesuatu kebaikan sekecil apapun di mata diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. Hidup sederhana berbudi luhur tidak hanya diukur dari mana kita berasal, tetapi bagaimana kita bisa diterima di dalam lingkungan.

Begitupun dengan seorang penyuluh agama untuk bisa dan mampu merubah pola pikir kepribadian dan kemandirian subjek terkait, sulit dan butuh waktu yang lama,. Proses penyuluhan inilah yang seyogyanya sukar untuk dilakukan secara mandiri atau perorangan, karena penyuluhan adalah

proses yang dilakukan secara berkelompok guna

mendapatkan hasil yang optimal.

Sejauh itu, penyuluhan bisa dilakukan dengan komunikasi verbal dan non verbal. Sejauh ini penyuluhan bisa digunakan melalui media massa berupa Koran, majalah, brosur, pamplet dan majalah atau audio visual. Disini dapat dilihat bagaimana sebenarnya manusia diciptakan untuk saling tolong-menolong antara pihak pemerintah dengan penyuluh agama bersama.

Maka begitupun dengan proses untuk dapat

melakukan penyuluhan dan menembus tertentu tergantung situasi dan kondisi tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Dari hasil wawancara data lapangan komunikasi yang dijalankan oleh penyuluh agama yaitu ada beberapa strategi, dengan demikian strategi penyuluhan yang digunakan menjadi beragam antara lain yaitu :85

1. Wawancara (komunikasi antarpribadi) .

wawancara dilakukan oleh penyuluh di lapas khusus kepada napiter guna merubah pola pikir pribadi

napiter sehingga ia tidak merasa benar dengan pemikiran dia yang radikal , komunikasi dijalankan agar diantara penyuluh dan napiter mendapatkan hubungan emosional yang baik diantara keduanya. 2. Ceramah (komunikasi individu dan kelompok)

ceramah merupakan penjelasan yang disampaikan secara verbal. Dalam kegiatan penyuluhan digunakan teknik ceramah dari penyuluh agama kepada napiter. Komunikasi ini dimaksudkan untuk merubah perilaku napiter dengan metode ceramah ini nepiter bisa

mendengarkan isi pesan penyuluhan yang

disampaikan oleh penyuluh agama itu sendiri

3. Diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif dengan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan penggunaan diskusi, berbeda dengan metode sebelumnya diskusi juga menjadi salah satu cara penyuluh melaksanakan penyuluhan, cara ini juga digunakan untuk menggali informasi daeri para napiter. Sesi diskusi menjadi cara yang baik untuk menemukan kendala-kendala dalam melakukan proses penyuluhan. Dari diskusi ini napiter diberikan

kesempatan untuk mengungkapkan kendalanya

melalui sesi tanya jawab antara penyuluh agama dengan napiter itu sendiri.

Selain itu, adapun strategi komunikasi yang dilakukan oleh penyuluh dalam melakukan peran penyuluhannya antara lain:

1. Penyuluh sebagai komunikator

Kompetensi penyuluh agama dalam berkomunikasi yaitu

kemampuan penyuluh dalam penyampaian pesan,

kemampuan menggunakan media penyuluhan, kemampuan menggunakan metode penyuluhan kemampuan membantu menyelesaian masalah orang yang disuluh, kemampuan menyampaikan informasi sesuai dengan masalah yang dihadapi klien, kemampuan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

2. Penyuluh sebagai fasilitator

Peran penyuluh sebagai fasilitator dalam penyuluhan yaitu dengan membantu menerapkan teknologi yang baik, menyediakan konsultan terkait deradikalisasi, serta membantu mendampingi kegiatan program deradikalisasi.

3. Penyuluh sebagai edukator

Penyuluh sebagai edukator yaitu untuk memfasilitasi proses belajar yang dilakukan oleh para penerima manfaat penyuluh atau (stakeholders) pembangunan yang lainnya.

4. Peran penyuluh sebagai mediator

Peran penyuluh sebagai mediator guna menghubungkan

antara narapidana dengan pemerintah, menhubungkan

5. Peran penyuluh sebagai motivator

Penyuluh mendorong penerima manfaat agar

mengikuti kegiatan penyuluhan deradikalisasi,

mendorong untuk memecahkan masalah terkait paham radikal, mendorong penerima manfaat untuk bisa mau menerima, dan pancasila sebagai ideologi bangsa.86 B. Media Komunikasi yang digunakan

Media yang digunakan penyuluh agama saat melakukan penyuluhan terhadap napiter yakni melalui:

1. Media Elektronik

Media elektronik berupa komputer dan pointer 2. Media Audio Visual

Media audio visual yang digunakan adalah video penyuluhan yang diberikan penyuluh agama kepada napiter

3. Media Internet

Di masa pandemi covid 19 komunikasi langsung menjadi terbatas, akibatnya media internet turut serta digunakan dalam proses penyuluhan antara lain mengunakan alikasi zoom meet, dan aplikasi webex C. Analisis Pelaksanaan Deradikalisasi

Disamping penyuluhan diartikan sebagai proses

penerangan kepada klien atau sasaran penyuluhan. Maka kepenyuluhan merupakan proses pendidikan bagi orang dewasa

86 Jurnal Of Integrasi Virginia Chintyasari, Hubungan Kompetensi dengan peran penyuluh pertanian dalam mengembalikan kejayaan lada putih di provinsi Belitung, (Universitas Bangka Belitung: Bangka) halaman, 57. Diundung 16, Juli 2021 pukul 22.00

yang dilakukan di wilayah tertentu terutama desa, dusun dan kelurahan. Beberapa strategi penyuluhan yang digunakan oleh penyuluh agama untuk proses deradikalisasi.

Deradikalisasi yang dijalankan di lapas khusus diterapkan beberapa kategori ntara lain yakni, reedukasi, reintegrasi dan resosialisasi, di lapas khusus BNPT diterakan resosialisasi dan reedukasi kepada napiter.

Ada beberapa materi yang diberikan kepada napiter dalam upaya deradikalisasi oleh penyuluh diantaranya yakni, tentang pemahaman keagamaan, kebangsaan, wirausaha, serta psikologi. Penyuluhan tentang kewirausahaan sendiri sengaja diberikan untuk meningkatkan kemandirian napiter agar setelah keluar bebas dan terintegrasi dengan masyarakat mereka sudah memiliki kemampuan untuk bekerja sesuai keahlian.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

Konsep agama tentang bangsa dan negara dengan demikian merupakan hal yang tidak hanya instrumental akan tetapi suatu yang substansial. Islam rahmatan lil alamin merupakan substansi dalam kehidupan bermasyarakat terkhusus dalam deradikalisasi terhadap mereka yang telah terpapar paham radikalisme.

Strategi komunikasi yang digunakan penyuluh agama dalam melakukan proses penyuluham merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam melakukan suatu pembinaan. Proses komunikasi penyuluhan merupakan pendampingan yang dilakukan oleh pembina dalam melakukan pembinaan kepada para napiter.

Pendampingan yang dimaksudkan adalah cara pembinaan menyampaikan pesan dengan tujuan untuk memastikan para napiter paham dengan informasi yang diberikan oleh pembina dengan menggunakan komunikasi antarpribadi, persuasif, komunikasi kelompok langsung dan tidak langsung.

Sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembahasan pada bab sebelumnya, maka penulis mencoba menyimpulkan

strategi komunikasi penyuluh agama dalam upaya

Strategi komunikasi penyuluh agama dalam upaya deradikalisasi narapidana ada beberapa diantaranya yakni:

a. wawancara b. diskusi c. ceramah d. dan lainnya B. Implikasi

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan implikasi sebagai berikut:

1. Bahwa strategi komunikasi yang digunakan oleh penyuluh agama dalam melakukan penyuluhan dapat berpengaruh terhadap narapidana terorisme jika dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.

2. Kualitas keahlian dalam berkomunikasi penyuluh agama dapat menentukan berhasil atau tidaknya penyuluh sebagai komunikator.

3. Program deradikalisasi walaupun belum berjalan maksimal, namun mampu membuat narapidana mau mengikuti program serta merubah sikapnya menjadi moderat.

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan kesimpulan di atas maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut dalam upaya deradikalisasi narapidana terorisme sebaiknya para penyuluh agama memperhatikan kembali:

1. dikembangkan kembali strategi-strategi yang lebih baik dan persuasif untuk menumbuhkan rasa dan sikap moderat dari narapidana terorisme tersebut.

2. Komunikasi yang dimiliki petugas atau pembina harus ditingkatkan lagi guna memiliki hasil yang lebih optimal, serta kondsi lapas yang mumpuni

3. Perlu adanya dukungan dari masyarakat ketika telah terintegrasi dengan masyarakat dan turut memberikan dukungan dan kepercayaan terhadap keahlian yang dimiliki para napiter setelah berada di tengah-tengah ingkungan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Jainuri, Zainuddin Maliki, Samsul Arifin,dkk. Terorisme dan

Fundamentalisme Agama, (Malang: Bayumedia

Publishing, 2003), h. 198-199.

Alinurdin, psikologi pendidikan (Universitas Pamulang: Jakarta) hal. 48.

Arifin. M, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan

Agama,(Jakarta: PT. Golden Trayon Press,1982), h. 40.

Cangara. Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Rajawali Press, 2005).

Djelantik, Sukawarsini. 2010, Terorisme Tinjauan Psiko-politis, Peran Media, Kemiskinan, dan Keamanan Nasiona, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Djelantik. Sukawarsini, Terorisme Tinjauan Psiko-politis, Peran

Media, Kemiskinan, dan Keamanan Nasional, (Jakarta:

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010) h. 280.

Efendi, Onong Uchjana. 1992, Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Fajar. Marhaen, Ilmu Komunikasi teori & Praktik, (Yogyakarta: graha ilmu, 2009), h, 57.

Febriyansah, Mochamad N, Lailatul Khodriah, Raka K. Wardana, Upaya Deradikalisasi Narapidana Terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Keung Pane Semarang, Seminar Nasional Hukum Universitas Negeri, Vol. 3 Nomor 1 Tahun 2017.

Fitriana, Saella. Upaya BNPT Dalam Melaksanakan Program Deradikalisasi di Indonesia, Jurnal Internasional, Vol 2, Nomor 3 Tahun 2016.

Hamdan, Muh. Deradikalisasi Pelaku Tindak Pidana Terorisme Di Indonesia, Tesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.

Hamdani dan Affifuddin, Bimbingan dan Penyuluhan. (Bandung: Pustaka Setia, 2012).

Handayani. Yeni, Peranan BNPT Dalam Penanggulangan Terorisme, Media Pembinaan Hukum Nasional, 2016. Hendri. Ezi, Komunikasi Persuasif, (Remaja Rosdakarya: Bandung),

hal. 25

Hendro priyono, A.M. 2009, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, Jakarta: Kompas Media Nusantara.

http://nasional.tempo.co/read/1062388/lipi-ungkap-4-alasan

--mengapa-radikalisme-berkembang-di-indonesia. diakses pada 30 Agustus 2019 pukul 16:00.

https://beritabaru.co/mahfud-md-sampaikan-indonesia-adalah-laboratorium-pluralisme/ diakses Rabu, 19 Febuari 2020.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Analisis_SWOT diakses rabu, 5 februari 2020.

https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/snh2017. Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang. Hal. 96

https://kumparan.com/erucakra-garuda-nusantara/pergeseran-orientasi-terorisme-di-indonesia-2000-2018 diakses pada 30 September 2019. https://www.bnpt.go.id/pimpinan BNPT. https://www.ilmudasar.com/2017/08Pengertian/radikalisme, diunduh 10 September 2019.

Jalaludin Rahmat, Islam Dan Pluralisme : Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan, (Jakarta Serambi,2006), Cet Ke-2, h.126.

Jurnal Kriminolog Indonesia, Vol. 7 No. 1 Mei 2010, hal 112.

Jurnal Of Integrasi Virginia Chintyasari, Hubungan Kompetensi

dengan peran penyuluh pertanian dalam

mengembalikan kejayaan lada putih di provinsi Belitung, (Universitas Bangka Belitung: Bangka) halaman, 57

Kamasa, Frassminggi . 2015, Terorisme Kebijakan Kontra Terorisme Indonesia, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kardima. A.M., Pengantar Ilmu Managemen, (Jakarta: PT. Pronhalindo), h. 58.

Khairul Umam dan H.A Achyar Aminudin, Bimbingan Dan

library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2012-1-00374-MC%20Bab%202. pdf halaman 6-9 diunduh pada 16 Juli 2021.

Mareta. Josefhin, Rehabilitasi Dalam Upaya Deradikalisasi

Napiter, masalah-masalah hukum, jilid 47 no. 3,

Oktober 2018. 1 Mochamad N. Febriyansah, Raka K. Wardana, Seminar Hukum Universitas Negeri Semarang : Upaya Deradikalisasi Narapidana

Terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Keung Pane Semarang, Vol 3 nomor 1 Tahun 2017

Modul Praktikum Makro Bimbingan dan Penyuluhan Islam angkatan 2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Modul LK 1 Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas

Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Cabang Ciputat, hal. 97.

Moleong, Lexy. 2000, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: CV Remaja Rosdakarya.

Muhammad Fahmi Nur Cahya, Jurnal Fenomena

Anarkisme, pdf hal. 2-6

Nasution. Zulkarimein, Prinsip-prinsip Komunikasi Penyuluhan, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1990) h. 7.

Nurmalita, Siti. Strategi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Dalam Upaya Deradikalisasi Pemahaman Agama Narapidana Terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016. Pendidikan kewargaan (Civic Education), Demokrasi Hak

Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, (Jakarta: Prenada Media Group) edisi ketiga. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar

Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia, 1995),

cet. Ke- 1, h 283.

Qodir. Zuly, Radikalisme Agama Di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), h. 117.

Rokmad, Abu. Pandangan Kiai Tentang Deradikalisasi Paham Islam Radikal di Kota Semarang, Jurnal Analisa Vol 21 Nomor 01 Juni 2014.

Roudhonah, Ilmu Komunikasi (Jakarta: UIN Jakarta press, 2007) hlm.113-114.

Septian, Farid. Pelaksanaan Deradikalisasi Narapidana

Terotisme di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, Jurnal Kriminolog Indonesia, Vol. 7 No.I Mei 2010.

Siagian. Sondang, Analisa Serta Kebijaksanaan dan Strategi Organisasi. (Jakarta: PT Gunung Agung , 1986), cet ke-2, h.17.

Sihabuddin Noor, Penyuluh Untuk Umat Beragama Di Indonesia, (Jakarta: Jurnal Suluh Bimbingan dan Penyuluhan Islam, 2016). Jurnal ini menjelaskan tentang istilah

kepenyuluhan (extension) yang dikembangkan

pertama kali di Universitas Oxport dan Universitas

Cambrigde pada tahun 1850, dalam istilah

terminology bahasa Belanda disebut woorlichiting (obor, ina) bermakna menerangi.

Supriyono, Manajemen Strategi dan Kebijakan Bisnis

(Yogyakarta: BPFE, 1986) h. 9.

Suranto Aw, Komunikasi Interpersonal, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2011), cet 1, hlm 5.

Sutrisno, Hadi. 2000, Metodologi Research, Yogyakarta: Andi. Tarmizi Taher, Eddy Kristityanto, Faranz Suseno, Sumartana,

Radikalisme Agama (Jakarta: PPIM IAIN Jakarta, 1998), xvii

Tarmizi Taher, Eddy, Kristityanto, Faranz Suseno, Sumartana, Radikalisme Agama (Jakarta: PPIM IAIN Jakarta, 1998) hvii.

Uchjana Effendy. Onong, Kepemimpinan dan Komunikasi, (Bandung: CV Mandar Maju, 1998), hal. 59.

Uchjana Effendy. Onong, Komunikasi:Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), h. 9.

Umam, Khairul. 1998, Bimbingan dan Penyuluhan, Bandung: Pustaka Setia.

Wawancara Penyuluh, dan Observasi Pusat Pengamanan BNPT Lapas Bogor, Jawa Barat.

Lampiran Catatan Lapangan Nama Peneliti : Siti Nurhasanah Tanggal : 20 Mei 2019

Kota : Sentul, Bogor Jawa Barat Hari &

Jam

: Senin, & 11:53 WIB

Tempat : Desa. Sukahati Kecamatan. Citeurep Bogor, Jawa Barat Kegiatan : Penelitian I

Teknik : Observasi Deskripsi

Singkat

: Sekitar pukul 08:30 WIB hari senin tanggal 20 Mei 2019 ditemani Yanti Purnamasari mahasiswa akhir Bimbingan dan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penulis bergegas pergi hendak melakukan observasi Lembaga Pemasyarakatan Khusus Teroris di bilangan Sentul, Bogor BNPT.

Hari itu adalah hari tepat umat muslim di Indonesia tengah melakukan ibadah puasa bulan Ramadhan, cuaca pagi itu cerah berawan serta keadaan lalu lintas dalam keadaan ramai lancar. Lokasi kami saat itu berada di kawasan Tangerang Selatan untuk menuju Bogor sebagai tujuan utama, rute Sawangan Depok menjadi jalur alternative seiring teman juga hendak melakukan observasi untuk tempat penelitiannya yaitu rumah singgah di daerah Limo,

Depok.

Kami sampai di Depok pukul 09.24 menit, kondisi di sekitar rumah singgah terbilang sepi hanya terlihat beberapa warga yang melintas di sekitaran rumah singgah tersebut. Setelah dirasa cukup, kami lantas melanjutkan perjalanan utama kami yaitu pusat pengamanan Lapas Sentul, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Citeurep, Bogor Jawa Barat.

Saat melanjutkan perjalanan menuju BNPT jalur yang dipilih yaitu melewati rute Citayem, dan Cibinong hingga akhirnya kami bisa berada di kawasan Citeurep, saat diperjalanan dengan sengaja terlihat kantor pemerintahan kabupaten Bogor. Jalanan raya cukup luas, banyak angkutan umum yang beroperasi disana, serta kendaraan truk beroda enam hingga delapan ramai berlalu lalang. Saat beberapa kilometer lagi menuju BNPT, udara mulai terasa pengap cuaca panas mulai terasa hingga menusuk setiap pori kulit sawo matang penulis, diperkirakan siang itu sekitar 35 derajat Celsius.

Setelah beberapa jam diperjalanan, penulis sampai di jl. Pahlawan, dipertigaan tepat di kanan jalan, tak jauh dari Masjid Jami Nurul Yakin penulis menemukan plang yang menunjukan arah ke BNPT serta beberapa tukang ojek pangkalan sedang beroperasi di kawasan tersebut, ternyata setelah penulis amati, BNPT terletak tak jauh dari kantor pusat pelatihan BNPB keduanya berlokasi di komplek jl. Anyar.

Berbeda dengan kondisi jalanan sebelumnya, jl. Anyar memiliki nuansa lebih tenang, udara lebih terasa dingin dibanding kawasan Cibinong, dan Citayam yang tadi penulis jelaskan, tak banyak kendaran yang lalu lalang disana hanya beberapa pemuda dan pelajar yang terlihat menggunakan motor, dan pemukiman warga yang tak begitu padat, serta masyarakatnya pun hanya beberapa yang nampak di lingkungan.

Ketika masuk lebih dalam di jl. Anyar penulis dihadapkan dengan kondisi jalan aspal yang mulus tak banyak lobang,

hanya saja kondisi alam yang mengakibatkan penulis harus melewati beberapa tanjakan, dan turunan.

Hingga akhirnya penulis menemukan kantor BNPT penulis langsung dihadapkan dengan tim pengamanan BNPT di depan gerbang utama BNPT, kemudian setelah dijelaskan maksud dan tujuan kepada salah satu pria dengan seragam pengaman yang lengkap serta memiliki tinggi badan kira-kira 169 cm memeriksa isi tas penulis berwarna perpaduan biru terang, dan dongker yang isinya hanya amplop coklat berisi surat perizinan wawancara untuk keperluan akademis yaitu skripsi.

S etelah dirasa memenuhi standarnya penulis dipersilahkan untuk masuk ke ruangan sekitar 3x2 meter di samping gerbang utama BNPT, serta diarahkan untuk menulis identitas diri di buku tamu yang disediakan pihak BNPT. Ruangan itu dilengkapi meja dan kursi serta beberapa furniture, dan satu pintu masuk menuju lingkungan BNPT. Hari itu adalah hari pertama penulis melakukan observasi langsung ke BNPT, petugas yang menerima kunjungan bergender perempuan dengan tinggi badan sekitar 167 cm. Melihat kondisi amplop surat, ia menyarankan untuk menulis nama serta ditujukan kepada siapa agar surat semakin jelas, setelah dirasa cukup penulis kembali menemui teman, dan bergegas hendak kembali pulang ke rumah.

Di lihat dari suasana lingkungan BNPT sendiri dipenuhi pepohonan, serta aliran sungai jernih, lengkap dengan bebatuan, ia terletak jauh dari pemukiman warga, jika dilihat dari sudut pandang pemukiman warga, BNPT atau Lapas Sentul berada di atas puncak gunung atau dataran tinggi wilayah jl. Anyar Desa. Sukahati Citeurep.

Setelah mengambil dokumentasi berupa foto dalam jarak 200 meter dari gerbang awal tertulis Indonesia Peace and Security Center yang masih dalam kawasan BNPT tepat di jembatan aliran sungai penulis beristirahat sejenak sembari memperhatikan lingkungan sekitar, serta melihat beberapa pemuda/i Desa berlalu lalang melewati kawasan BNPT di

jl. Anyar tersebut.

Setelah beberapa menit kami beristirahat, tiba kami bergegas pulang serta melakukan sholat dhuhur pukul 13:30 WIB di Masjid Jami Nurul Yakin, suasana masjid tersebut terbilang sepi terlihat beberapa orang tengah melakukan sholat juga, rata-rata jama’ah masjid tersebut adalah mereka yang sedang dalam perjalanan. Berbeda dengan tempat sholat untuk laki-laki, terdapat tempat khusus perempuan yaitu di bagian belakang, jika dilihat

Dokumen terkait