BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Pengertian Stres Kerja
Stres kerja adalah suatu tanggapan penyesuaian diperantarai oleh Perbedaan-perbedaan individu dan atau proses psikologis yang merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar (lingkungan), situasi, atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik berlebihan kepada seseorang (Gibson dalam Azzaniar, 2011).
Stres kerja menurut Kahn dalam Azzaniar (2011) merupakan suatu proses yang kompleks, bervariasi, dan dinamis dimana stressor, pandangan tentang stres itu sendiri, respon singkat, dampak kesehatan, dan variabel-variabelnya saling berkaitan. Stres akibat kerja menurut NIOSH yang dikutip oleh Tarwaka (2010) adalah respon emosional dan fisik yang bersifat mengganggu atau merugikan yang terjadi pada saat tuntutan tugas tidak sesuai dengan kapabilitas, sumber daya, atau keinginan pekerja.
Menurut Mandasari (2015) mengutip pendapat Spears, mendefinisikan stres kerja sebagai reaksi seseorang terhadap tekanan yang berlebihan atau tuntutan ditempat kerja yang bersifat merugikan. Stres kerja adalah suatu kondisi dimana individu mendapatkan tekanan dari pihak internal maupun eksternal.
Menurut Kavaganh, Hurst, dan Rose dalam Wijono (2010), stres kerja merupakan suatu ketidakseimbangan persepsi individu tersebut terhadap kemampuannya untuk melakukan tindakan. Beehr & Newman dalam Wijono
(2010) mendefinisikan bahwa stres kerja sebagai suatu keadaan yang timbul dalam interaksi diantara manusia dengan pekerjaan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja sebagai reaksi atau respon terhadap situasi yang menekan ataupun tekanan yang berlebihan terhadap tuntutan pekerjaan internal dan eksternal yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan fisik, psikis, dan sosial yang dapat merugikan seseorang.
2.1.2 Faktor-Faktor Penyebab Stres Kerja
Robbins (2014), ada tiga kategori faktor stres berupa: lingkungan, organisasi, dan pribadi.
a. Faktor-Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi tingkat stres kerja pada karyawan dalam organisasi seperti desain struktur organisasi, pemerintahan baru di dalam suatu perusahaan, ekonomi perusahaan, iklim politik dan interaksi dengan orang-orang di dalam perusahaan.
b. Faktor-Faktor Organisasi
Faktor Organisasi juga mempengaruhi timbulnya stres kerja pada karyawan, seperti tekanan untuk menyelesaikan tugas dengan waktu yang singkat, menghindari kesalahan, beban kerja yang berlebihan, atasan yang selalu menuntut dan tidak peka dan hubungan yang tidak baik dengan rekan kerja. Beberapa tuntutan kerja seperti :
1. Tuntutan tugas, merupakan faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang.
Tuntutan tugas tersebut meliputi bentuk pekerjaan individu (otonomi,
keragaman tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja, dan tata letak fisik pekerjaan. Penelitian Monk dan Tepas (1985) menunjukkan bahwa kerja shift merupakan sumber utama dari stres bagi para pekerja pabrik. Para pekerja shift lebih sering mengeluh tentang kelelahan dan gangguan perut dari kerja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin menyebabkan gangguan-gangguan perut.
2. Tuntutan peran, berkaitan dengan tekanan yang diberikan kepada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkannya dalam organisasi.
Konflik peran menciptakan ekspektasi yang mungkin sulit untuk diselesaikan atau dipenuhi. Beban peran yang berlebihan dialami ketika karyawan diharapkan melakukan lebih banyak daripada waktu yang ada. Ambiguitas peran tercipta ketika ekspektasi peran tidak dipahami secara jelas dan karyawan tidak yakin apa yang harus ia lakukan.
3. Tuntutan antarpribadi, merupakan tekanan yang diciptakan oleh karyawan.
Hubungan dengan rekan kerja yang tidak baik dapat menyebabkan stres kerja, terutama di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial tinggi.
c. Faktor-faktor Pribadi
Masalah diluar jam kerja setiap minggunya dapat terbawa ke dunia kerja.
Faktor-faktor ini terutama adalah masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang. Selain faktor–
faktor tersebut tentunya masih banyak faktor penyebab terjadinya stres akibat kerja. Faktor–faktor lain yang kemungkinan besar dapat menyebabkan stres akibat kerja antara lain:
a. Ancaman pemutusan hubungan kerja. Faktor ini sering kali menghantui para karyawan di perusahaan dengan berbagai alasan dan penyebab yang tidak pasti.
b. Perubahan politik nasional. Perubahan politik secara cepat berakibat kepada pergantian pemimpin secara cepat pula, diikuti dengan pergantian kebijaksanaan pemerintah yang sering kali menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Kondisi demikian tidak jarang menimbulkan kegelisahan para pegawai, akibatnya motivasi kerja menurun, angka absensi meningkat, mogok kerja, dan lain-lain. Keadaan tersebut juga merupakan bentuk dari adanya stres.
c. Krisis ekonomi nasional. Krisis ekonomi yang berkepanjangan, seperti yang terjadi di Indonesia menyebabkan banyak perusahaan melakukan efisiensi dalam bentuk perampingan organisasi. Akibatnya, ribuan karyawan terancam berhenti kerja atau pensiun muda dan pencari kerja kehilangan lowongan pekerjaan. Stres dan depresi menjadi bahasa popular pada kalangan masyarakat pekerja maupun pencari kerja.
Dari berbagai penelitian terbaru tentang stres akibat kerja mengindikasikan bahwa terdapat rentang variabel yang cukup luas yang mendefenisikan pekerjaan penyebab stres. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pekerjaan sebagai penyebab stres ditandai dengan :
1. Tingkat tuntutan tugas yang tinggi (beban kerja).
2. Tingkat kontrol tugas yang rendah (pembuat keputusan).
3. Tingkat pelaksanaan tugas tidak menentu (kemampuan kerja dan keterampilan teknis).
4. Dukungan organisasi rendah (pengakuan dan penghargaan terhadap individu pekerja).
2.1.3 Sumber Stres Kerja
Sumber stres (stressors) menurut Wijono (2010) adalah suatu kondisi, situasi atau peristiwa yang dapat menyebabkan stres. Ada berbagai sumber stres yang dapat menyebabkan stres di perusahaan di antaranya adalah faktor pekerjaan itu sendiri dan di luar pekerjaan, hal ini sependapat dengan Hariandja (2005) yang mengatakan pada dasarnya stres bisa bersumber dari pekerjaan dan lingkungan kerja dan bisa juga bersumber dari luar pekerjaan. Stressor yang bersumber dari pekerjaan misalnya beban pekerjaan yang terlalu besar atau terlalu kecil, konflik peran, ketidakjelasan peran, wewenang yang tidak sesuai dengan pelaksanaan tanggung jawab, lingkungan kerja yang tidak menyenangkan dan lain-lain.
Pada dasarnya, sumber stres merupakan hasil interaksi dan transaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya, Wijono (2010) menggolongkan dua faktor terjadinya stres kerja yaitu faktor-faktor di pekerjaan dan faktor-faktor diluar pekerjaan.
2.1.3.1 Faktor-faktor di pekerjaan
Banyak faktor-faktor dari pekerjaan yang dapat menyebabkan stres kerja, berdasarkan hasil penelitian Soewondo dalam Wijono (2010) yang telah mengidentifikasi sumber stres terhadap 200 karyawan di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang perminyakan. Hasilnya antara lain adalah
sumber stres dapat berhubungan dengan tempat bekerja, isi pekerjaan, syarat syarat pekerjaan, dan hubungan interpersonal. Munandar (2001) faktor-faktor di pekerjaan:
1. Faktor-faktor Intrinsik dalam Pekerjaan
Termasuk dalam kategori ini adalah tuntutan fisik dan tuntutan tugas. Tuntutan fisik meliputi: bising, vibrasi, higiene. Sedangkan tuntutan tugas mencakup: kerja shift, beban kerja, dan penghayatan dari resiko dan bahaya.
a. Tuntutan Fisik
Kondisi fisik kerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologis diri seorang tenaga kerja. Kondisi fisik dapat merupakan pembangkit stres (stressor).
1) Bising
Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pada pendengaran. Bising dalam kesehatan kerja, diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran, baik secara kualitatif (penyempitan spektrum pendengaran) maupun secara kuantitatif (peningkatan ambang pendengaran), berkaitan dengan faktor intensitas, frekuensi, dan pola waktu. Kebisingan yang terjadi tidak hanya dapat menimbulkan gangguan sementara atau tetap pada alat pendengaran, tetapi juga dapat merupakan sumber stres yang menyebabkan peningkatan dari kesiagaan dan ketidakseimbangan psikologis. Dampak sosial dari bising yang berlebih ialah
mengurangi toleransi dari tenaga kerja terhadap pembangkit stres yang lain, dan menurunkan motivasi kerja (Buchari, 2007).
2) Vibrasi
Vibrasi merupakan sumber stres yang kuat yang mengakibatkan peningkatan
taraf catecholamine dan perubahan dari berfungsinya seseorang secara psikologikal dan neurological.
3) Hygiene
Lingkungan yang kotor dan tidak sehat merupakan pembangkit stres. Para pekerja dari industri baja menggambarkan kondisi berdebu dan kotor, akomodasi pada waktu istirahat yang kurang baik, juga toilet yang kurang memadai. Hal ini dinilai oleh para pekerja sebagai faktor tinggi pembangkit stres (Munandar, 2001).
b. Tuntutan Tugas
Tuntutan tugas yang dapat menyebabkan terjadinya stres kerja dapat dilihat dalam dua hal yaitu:
1) Kerja Shift
Pekerjaan shift adalah pekerjaan yang mempunyai jadwal diluar jam kerja normal (jam 9.00-17.00). Jadwal shift kerja (kerja gilir) yang berlaku sangat bervariasi. Biasanya adalah shift kerja (kerja gilir) 8 jam atau 12 jam dalam sehari (Mardi, 2008). Menurut Dewi (2006) dalam Monk dan Folkard, mengkategorikan 3 jenis sistem shift kerja (kerja gilir), yaitu shift permanen, sistem rotasi cepat, dan sistem rotasi shift lambat
Pada sidang ke-77 di Jenewa tanggal 26 Juni 1990 dibahas mengenai standar internasional bagi pekerja malam. Standar yang dimaksud adalah The Night Work
Convention and Recommendation. The Night Work Convention membahas mengenai kesehatan dan keselamatan, transfer kerja siang hari, perlindungan bagi kaum wanita, kompensasi dan pelayanan sosial. Recommendation membahas mengenai batas waktu kerja normal, waktu istirahat yang minimum antar shift, transfer kerja siang pada situasi khusus, kesempatan pelatihan (Dewi, 2006).
Munandar (2001) mengatakan bahwa para pekerja shift lebih sering mengeluh tentang kelelahan dan gangguan perut daripada para pekerja pagi/siang dan dampak dari kerja shift terhadap kebiasaan makan yang mungkin menyebabkan gangguan-gangguan perut. pengaruhnya adalah emosional dan biological, karena gangguan Circadian rhythm dari tidur/ daur keadaan bangun, pola suhu, dan ritme pengeluaran adrenalin.
2) Beban Kerja
Beban kerja berlebih dan beban kerja terlalu sedikit merupakan pembangkit stres. Beban kerja dapat dibedakan lebih lanjut ke dalam beban kerja berlebih/terlalu sedikit „kuantitatif”, yang timbul sebagai akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/sedikit diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu, dan beban kerja berlebih/terlalu sedikit „kualitatif‟, yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau tugas tidak menggunakan keterampilan dan/atau potensi dari tenaga kerja (Munandar, 2001).
2. Peran Individu dalam Organisasi
Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus ia lakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya.
a. Konflik Peran
Konflik peran telah didefinisikan sebagai ketidakcocokan bersama antara tuntutan peran kerja dan permintaan peran keluarga. Konflik peran adalah kemunculan dua atau lebih penyampai peran secara bersamaan yang saling bertentangan. Konflik peran muncul saat ini yang terjadi lebih dari satu permintaan dari sumber yang berbeda yang menimbulkan suatu ketidakpastian pada pegawai. Konflik peran ini dapat menimbulkan dampak yang negatif terhadap perilaku pegawai, seperti munculnya ketegangan kerja yang akhirnya menimbulkan perasaan tidak nyaman ketika berada dilingkungan kerjanya (Nurnazirah, 2015)
Konflik peran timbul jika seorang tenaga kerja mengalami adanya:
1. Pertentangan antara tugas-tugas yang harus dilakukan dan antara tanggung jawab yang dimiliki.
2. Tugas-tugas yang harus dilakukan yang menurut pandangannya bukan merupakan bagian dari pekerjaannya
3. Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bawahannya atau orang lain yang dinilai penting baginya.
4. Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu melakukan tugas pekerjaannya (Munandar,2001)
b. Ketaksaan (Ketidakjelasan) Peran
Ketaksaan peran dirasakan jika seorang tenaga kerja tidak memiliki cukup informasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi untuk dapat melaksanakan tugasnya, atau tidak mengerti atau merealisasi harapan-harapan yang berkaitan dengan peran tertentu.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketaksaan peran menurut Everly dan Girdano dalam Munandar (2001) ialah:
1) Ketidakjelasan dari sasaran-sasaran kerja 2) Kesamaran tentang tanggung jawab 3) Ketidakjelasan tentang prosedur kerja
4) Kesamaran tentang apa yang diharapkan oleh orang lain
5) Kurang adanya balikan, atau ketidakpastian tentang unjuk kerja pekerjaan.
3. Pengembangan Karier (Career Development)
Pengembangan karier merupakan pembangkit stres potensial yang mencakup ketidakpastian pekerjaan,promosi berlebih, dan promosi yang kurang. Pengembangan karier terdiri dari:
a. Job Insecurity
Ketakutan kehilangan pekerjaan, ancaman bahwa pekerjaannya dianggap tidak diperlukan lagi merupakan hal-hal biasa yang dapat terjadi dalam kehidupan kerja. Perubahan-perubahan lingkungan menimbulkan
masalah baru yang dapat mempunyai dampak pada perusahaan.
Reorganisasi dirasakan perlu untuk dapat menghadapi perubahan lingkungan dengan lebih baik. Sebagai akibatnya ialah adanya pekerjaan lama yang hilang dan adanya pekerjaan yang baru. Introduksi hasil-hasil teknologi yang canggih ke dalam perusahaan juga memberikan dampak pada jumlah dan macam pekerjaan yang ada (Munandar, 2001).
b. Over dan Under Promotion
Setiap organisasi industri mempunyai proses pertumbuhan masing-masing. Ada yang tumbuhnya cepat dan ada yang lambat, ada pula yang tidak tumbuh atau setelah tumbuh besar mengalami penurunan, organisasinya menjadi lebih kecil. Pola pertumbuhan organisasi industri berbeda-beda. Salah satu akibat dari proses pertumbuhan ini ialah tidak adanya kesinambungan dari mobilitas vertikal dari para tenaga kerjanya.
Stres yang timbul karena over promotion memberikan kondisi yang sama seperti beban kerja berlebih, harga diri yang rendah dihayati oleh seseorang tenaga kerja yang mendapatkan promosi terlalu dini, atau yang dipromosikan ke jabatan yang menuntut pengetahuan dan keterampilan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
4. Hubungan dalam Pekerjaan
Hubungan kerja yang tidak baik terungkap dalam gejala-gejala adanya kepercayaan yang rendah, taraf pemberian support yang rendah, dan minat yang rendah dalam pemecahan masalah dalam organisasi. Hubungan sosial yang menunjang dengan rekan-rekan kerja, atasan, dan bawahan di pekerjaan,
tidak akan menimbulkan tekanan-tekanan antarpribadi yang berhubungan dengan persaingan. Kelekatan kelompok, kepercayaan antarpribadi dan rasa senang dengan atasan, berhubungan dengan penurunan dari stres pekerjaan dan kesehatan yang lebih baik.
5. Struktur dan Iklim Organisasi
Bagaimana para tenaga kerja mempersepsikan kebudayaan, kebiasaan dan iklim dari organisasi adalah penting dalam memahami sumber-sumber stres potensial sebagai hasil dari beradanya mereka dalam organisasi. Kepuasan dan ketidakpuasan kerja berkaitan dengan penilaian dari struktur dan iklim organisasi.
Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya peran serta atau partisipasi dalam pengambilan keputusan berhubungan dengan suasana hati dan perilaku yang negatif, misalnya menjadi perokok berat. Peningkatan peluang untuk berperan serta menghasilkan peningkatan unjuk kerja, dan peningkatan taraf dari kesehatan mental dan fisik (Munandar, 2001).
2.1.3.2 Faktor-faktor di Luar Pekerjaan
Menurut Tosi dalam Wijono (2010) ada beberapa faktor diluar pekerjaan yang dapat menjadi sumber stres, terutama yang berhubungan dengan faktor-faktor lingkungan di luar pekerjaan seperti:
1. Perubahan-perubahan Struktur Kehidupan
Ada tiga dimensi struktur kehidupan yang dapat menyebabkan stres, yaitu:
a. Dimensi budaya sosial yang dilakukan bersama keluarga, religius, keturunan, struktur pekerjaan, dan faktor-faktor sosial yang luas lainnya. Hardjana
(2002) mengatakan bahwa keluarga yang merupakan kesatuan inti dalam masyarakat, dapat menjadi sumber stres tersendiri. Meskipun jumlahnya terbatas, setiap anggota keluarga memiliki perilaku, kebutuhan dan kepribadian yang berbeda-beda. Disamping hal-hal yang datang dari hubungan antar pribadi dan situasi keluarga yang ada, keluarga dapat menjadi sumber stres karena peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan para anggota keluarga.
b. Hubungan dengan orang-orang lain dalam dunia budaya sosial, seperti seorang pribadi berperan sebagai suami/istri, rekan kerja, orang tua, rakyat sebuah negara dan sebagainya.
c. Aspek dari individu sendiri. Seperti umur, jenis kelamin, individu mempunyai kecenderungan ciri-ciri yang tidak tahan terhadap tekanan, ancaman, dan mudah cemas.
Menurut Greenberg yang dikutip oleh Hardjana (2002) semakin tua seseorang maka semakin mudah terserang stres, hal ini disebabkan karena semakin tua seseorang maka semakin berkurangnya daya tahan tubuh terhadap tekanan dan beban yang diterimanya.
2. Dukungan Sosial
Menurut Katz dan Kahn yang dikutip oleh Wijono (2010) kehilangan suatu pekerjaan akan menyebabkan individu mengalami stres sehingga menunjukkan kecenderungan munculnya gejala-gejala seperti radang sendi, kenaikan kadar kolesterol, dan kepala terasa nyeri. Walaupun demikian, situasi seperti ini perlu dinetralisir melalui salah satu cara yaitu menggunakan sistem dukungan sosial.
Dukungan sosial merupakan salah satu cara komunikasi yang positif karena berisi tentang perasaan suka, keyakinan, penghargaan, penerimaan diri dan kepercayaan diri seorang terhadap kepentingan orang lain.
3. Locus of Control
Konsep ini didasarkan pada teori pembelajaran sosial bahwa individu belajar dari lingkungan melalui pembuatan model dan pengalaman lampau. Ketika individu yang ber-locus of control internal menghadapi stres potensial, mereka sebelumnya akan mempelajari terlebih dahulu peristiwa-peristiwa yang dianggap mengancam dirinya, kemudian ia bersikap tertentu secara rasional dalam menghadapi stres kerja tersebut. Sebaliknya, individu yang ber-locus of control eksternal menganggap bahwa segala peristiwa yang ada dalam lingkungan kerja di sekitarnya sangat mempengaruhi dirinya.
4. Kepribadian
Setiap individu mempunyai ciri-ciri kepribadian yang berbeda satu dengan lainnya. Secara umum kepribadian individu digolongkan ke dalam dua sifat, yaitu introvert dan ekstrovert. Individu yang mempunyai sifat introvert akan cenderung
mengalami stres bila dihadapkan pada persoalan-persoalan yang membuat dirinya terancam atau tertekan dalam kaitannya dengan hubungan antarmanusia dibandingkan dengan individu yang mempunyai ciri-ciri kepribadian ekstrovert.
5. Harga Diri
Menurut Tosi yang dikutip oleh Wijono (2010) harga diri setiap individu berbeda, terutama dalam menghadapi stres di lingkungannya. Harga diri merupakan cara penerimaan seseorang dan usaha untuk melakukan evaluasi
terhadap diri sendiri atau disebut sebagai konsep diri. Jika seseorang memiliki konsep diri positif, maka ia mempunyai harga diri yang tinggi sehingga ia dapat mengembangkan diri dalam menghadapi kondisi, situasi atau peristiwa yang mengganggu, menekan atau mengancam dirinya, akibatnya ia akan mengalami stres kerja yang rendah. Sebaliknya, jika ia mempunyai harga diri yang rendah dalam menghadapi kondisi, situasi atau peristiwa yang mengganggu, menekan atau mengancam dalam pekerjaannya, maka ia akan mengalami stres kerja yang tinggi karena rasa percaya dirinya rendah.
6. Fleksibilitas/Kaku
Orang yang mempunyai kecenderungan yang fleksibel adalah orang yang dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan atau tekanan-tekanan karena lebih baik dalam melakukan kerja sama dengan orang lain dibandingkan dengan orang yang kaku.
Orang yang mudah menyesuaikan diri secara fleksibel terhadap tuntutan-tuntutan dalam situasi tertentu dan menunjukkan prestasi yang baik, maka ia dapat mengurangi tekanan-tekanan karena dirinya dapat menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Sebaliknya, orang yang kaku adalah orang yang menunjukkan sikap tertutup, berorientasi pada dogma-dogma yang sifatnya umum, cenderung ingin kelihatan rapi, tidak toleran dan senang mengkritik orang lain dan mudah mengalami tekanan-tekanan atau stres dalam pekerjaannya.
7. Kemampuan
Kemampuan merupakan salah satu aspek yang dapat memengaruhi respons-respons individu terhadap kondisi, situasi, atau peristiwa yang menimbulkan
stres. Individu yang mempunyai kemampuan tinggi cenderung mempunyai pengendalian stres daripada individu yang mempunyai kemampuan rendah dalam menghadapi stres.
Ada tiga alasan yang mengatakan bahwa individu yang mempunyai kemampuan tinggi lebih baik dalam menghadapi stres:
a. Dengan kemampuan yang lebih tinggi dari orang lain, memungkinkan ia dapat mengerjakan tugas-tugasnya yang sarat dengan peran secara kuantitatif maupun kualitatif.
b. Orang yang mempunyai kemampuan yang tinggi ada kecenderungan mengetahui batas akhir kemampuannya untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
c. Orang yang mempunyai kemampuan tinggi dalam pekerjaannya cenderung mempunyai pengendalian diri yang lebih terhadap kondisi, situasi atau peristiwa yang menimbulkan stres kerja dibandingkan dengan orang yang mempunyai kemampuan yang lebih rendah dalam member respons terhadap stres kerja.
2.1.4 Pengaruh Stres Kerja
Berdasarkan Tarwaka (2015) reaksi tubuh terhadap stressor pada seseorang sangat bervariasi dan berbeda dari masing-masing orang yang menerimanya. Perbedaan reaksi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Reaksi Psikologis
Stres biasanya merupakan perasaan subjektif seseorang sebagai bentuk kelelahan, kegelisahan dan depresi. Reaksi psikologis akibat stres dapat dievaluasi dalam bentuk beban mental, kelelahan dan perilaku.
2. Respon Sosial
Setelah beberapa lama mengalami kegelisahan, depresi, konflik dan stres di tempat kerja, maka pengaruhnya akan dibawa ke dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sosial.
3. Respon Stres Kepada Gangguan Kesehatan atau Reaksi Fisiologis
Bila tubuh mengalami stres, maka akan terjadi perubahan fisiologis sebagai jawaban atas terjadinya stres. Adapun sistem di dalam tubuh yang mengadakan respon adalah diperantarai oleh saraf otonom, hypothalamic-pituitari axis dan pengeluaran katekolamin yang akan mempengaruhi fungsi-fungsi organ di dalam tubuh seperti sistem kardiovaskuler, sistem gastrointestinal dan gangguan penyakit lainnya.
4. Respon Individu
Dalam menghadapi stres, individu dengan kepribadian introvert akan bereaksi lebih negatif dan menderita ketegangan lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berkepribadian ekstrovert.
Sedangkan pengaruh stres di tempat kerja dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Pengaruhnya terhadap individu seseorang a. Reaksi Emosional
Dalam keadaan stres tingkat emosi seseorang sangat tidak stabil dimana sering kita lihat orang tersebut mudah marah, emosi yang tidak terkontrol, curiga yang berlebihan perasaan tidak aman, depresi, iritabilitas, dan lain-lain.
b. Reaksi Perubahan Kebiasaan atau Mental
Dalam kedaan stres atau tertekan seseorang dengan tanpa sadar mencari pelarian dari permasalahan yang diterima yang terkadang mempengaruhi kebiasaan seseorang. Sebagai contoh: perubahan kebiasaan untuk merokok, minum-minuman keras dan peggunaan obat-obatan terlarang. Pengaruh terhadap
Dalam kedaan stres atau tertekan seseorang dengan tanpa sadar mencari pelarian dari permasalahan yang diterima yang terkadang mempengaruhi kebiasaan seseorang. Sebagai contoh: perubahan kebiasaan untuk merokok, minum-minuman keras dan peggunaan obat-obatan terlarang. Pengaruh terhadap