BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Pengertian Tenaga Kerja
Tenaga kerja (manpower) meliputi penduduk yang sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah atau mengurus rumah tangga. Secara praktis, pengertian tenaga kerja adan bukan tenaga kerja hanya dibedakan oleh batas umur, walaupun dibeberapa Negara tidak seragam mengenai pemakaian batas umur tersebut. Hal ini disebabkan karena kondisi dari masing-masing negara jauh berbeda antara satu dengan lainnya.
Sedangkan menurut DR Payaman Siamanjuntak dalam bukunya “Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia” tenaga kerja adalah penduduk yang sudah atau
sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praksis pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja menurut dia hanya dibedakan oleh batas umur. Jadi yang dimaksud dengan tenaga kerja yaitu individu yang sedang mencari atau sudah melakukan pekerjaan yang menghasilkan barang atau jasa yang sudah memenuhi persyaratan ataupun batasan usia yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang yang bertujuan untuk memperoleh hasil atau upah untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Klasifikasi Tenaga Kerja
Klasifikasi adalah penyusunan bersistem atau berkelompok menurut standar yang di tentukan. Maka, klasifikasi tenaga kerja adalah pengelompokan akan ketenaga kerjaan yang sudah tersusun berdasarkan kriteria yang sudah di tentukan. Yaitu:
1) Berdasarkan penduduknya a. Tenaga kerja
Tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak ada permintaan kerja.
Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja, mereka yang dikelompokkan sebagai tenaga kerja yaitu mereka yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun.
b. Bukan tenaga kerja
Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada permintaan bekerja. Menurut
Undang-Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk di luar usia, yaitu mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-anak.
2) Berdasarkan batas kerja
Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.
3) Berdasarkan kualitasnya a. Tenaga kerja terdidik
Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Contohnya:
pengacara, dokter, guru, dan lain-lain.
b. Tenaga kerja terlatih
Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerjayang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini dibutuhkan latihan secara berulang-ulang sehingga mampu menguasai pekerjaan tersebut. Contohnya:
apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lain-lain.
c. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih
Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja. Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga, dan sebagainya.
d. Bukan angkatan kerja
Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kelompok ini adalah: anak sekolah dan mahasiswa, para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan para pengangguran sukarela.
H. Pengertian Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja merupakan salah satu biaya konversi, disamping biaya overhead pabrik untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi. Tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tak langsung.
Tenaga kerja langsung adalah semua karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi produk jadi, yang jasanya dapat diukur secara langsung dengan produk, yang merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk. Upah tenaga kerja langsung diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung dan diperhitungkan langsung sebagai unsur biaya produksi. Tenaga kerja yang jasanya tidak secara langsung dapat diusut pada produk disebut tenaga kerja tak langsung. Upah tenaga kerja tak langsung ini disebut biaya tenaga kerja tak langsung dan merupakan unsur
biaya overhead pabrik. Upah tenaga kerja tak langsung dibebankan pada produk tidak langsung, tetapi melalui biaya overhead pabrik yang ditentukan.
Biaya tenaga kerja adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang yaitu pengeluaran dalam bentuk kontan atau dalam pemindahan kekayaan, jasa yang diserahkan dalam hubungannya dengan barang dan jasa yang akan diperoleh atau yang akan dicapai.
Definisi Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan unutk mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut. Dapat juga diartikan semua balas jasa yang diberikan oleh perusahaan kepada semua karyawan, elemen biaya tenaga kerja yang merupakan biaya produksi adalah biaya tenaga kerja untuk karyawan di pabrik.
Penggolongan Kegiatan dan Biaya Tenaga Kerja
Dalam perusahaan manufaktur penggolongan kegiatan tenaga kerja dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan.
b. Penggolongan menurut kegiatan departemen-departemen dalam perusahaan.
c. Penggolongan menurut jenis pekerjaannya.
d. Penggolongan menurut hubungannya dengan pabrik.
Biaya tenaga kerja dibagi ke dalam 3 golongan besar yaitu :
a. Potongan-potongan pajak penghasilan dan biaya asuransi hari tua.
b. Premi lembur.
c. Biaya-biaya yang berhubungan dengan tenaga kerja (labor related costs).
Gaji dan Upah
Ada berbagai macam cara perhitungan upah karyawan dalam perusahaan.
Salah satu cara adalah dengan mengalihkan tarif upah dengan jam kerja karyawan. Dengan demikian untuk menentukan upah seorang karyawan perlu dikumpulkan data jumlah jam kerjanya selama peroide waktu tertentu.
Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan, dokumen pokok untuk mengumpulkan waktu kerja karyawan adalah kartu hadir (clock card) dan kartu jam kerja (job time ticket). Kartu hadir adalah suatu catatan yang digunakan untuk mencatat jam kehadiran karyawan, yaitu jangka waktu antara jam hadir dan jam meninggalkan perusahaan. Jika jam kerja perusahaan dimulai jam 07:00 sampai dengan jam 14:00, maka kartu hadir karyawan akan berisi jam kedatangan di perusahaan dan jam pergi dari perusahaan setiap hari kerja. Jika seorang karyawan hadir diperusahaan dari jam 07:00 sampai dengan jam 14:00, maka ia hadir di perusahaan selama 7 jam, yang merupakan jam kerja regular perusahaan. Jika karyawan tersebut bekerja lebih dari 7 jam sehari, kelebihan jam kerja di atas jam kerja regelur tersebut dinamakan jam lembur. Pada setiap hari minggu, kartu hadir tiap karyawan
dikirim ke bagian pembuat daftar gaji dan upah untuk dipakai sebagai dasar perhitungan gaji dan upah karyawan per minggu.
Disamping kartu hadir, perusahaan menggunakan kartu jam kerja untuk mencatat pemakaian waktu hadir karyawan pabrik, dalam mengerjakan berbagai pekerjaan atau produk. Kartu jam kerja ini biasanya hanya digunakan untuk mencatat pemakaian waktu hadir tenaga kerja langsung dipabrik. Kartu jam kerja untuk setiap karyawan kemudian disesuaikan dengan waktu yang tercantum dalam kartu jam hadir dan dikirim ke bagian Akuntansi Biaya untuk keperluan distribusi gaji dan upah (labor cost distribution) tenaga kerja langsung.
Kartu jam kerja sangat penting dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok pesanan dalam perhitungan harga pokok produknya.
Dalam perusahaan yang menggunakan metode harga pokok proses, kartu jam kerja tersebut tidak diperlukan, karena karyawan melakukan pekerjaan atau membuat produk yang sama dalam departemen tertentu dari hari ke hari, sehingga distribusi biaya tenaga kerja tidak diperlukan.
Akuntansi biaya gaji dan upah dilakukan dalam 4 tahap pencatatan, yaitu : Tahap I
Berdasarkan kartu hadir karyawan (baik karyawan produksi, pemasaran maupun administrasi dan umum), bagian pembuatan daftar gaji dan upah tersebut kemudian membuat daftar gaji dan upah karyawan. Dari daftar gaji dan upah tersebut kemudian dibuat rekapitulasi gaji dan upah untuk
mengelompokkan gaji dan upah tersebut, gaji dan upah karyawan pabrik, gaji dan upah karyawan administrasi dan umum, serta gaji dan upah karyawan pemasaran. Gaji dan upah karyawan pabrik dirinci lagi ke dalam upah karyawan langsung dan karyawan tak langsung dalam hubungannya dengan produk. Atas dasar rekapitulasi gaji dan upah tersebut, bagian akuntansi kemudian membuat jurnal sebagai berikut :
Barang dalam proses-biaya tenaga kerja xxx
Barang overhead pabrik xxx
Biaya administrasi & umum xxx
Biaya pemasaran xxx
Gaji dan upah xxx
Tahap II
Atas dasar daftar gaji dan upah tersebut bagian keuangan membuat bukti kas keluar dan cek untuk pengambilan uang dari bank. Atas dasar bukti kas keluar tersebut, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut :
Gaji dan upah xxx
Utang PPh karyawan xxx
Utang gaji dan upah xxx
Perusahaan berkewajiban memungut pajak penghasilan (PPh) yang diperoleh karyawan dan menyetorkannya ke kas negara.
Tahap III
Setelah cek diuangkan dibank, uang gaji dan upah kemudian dimasukkan kedalam amplop gaji dan upah tiap karyawan. Uang gaji dan upah karyawan kemudian dibayarkan oleh juru bayar kepada tiap karyawan yang berhak. Tiap karyawan menandatangani daftar gaji dan upah sebagai bukti telah diterimanya gaji dan upah mereka. Setelah tiap karyawan mengambil gaji dan upahnya, atas dasar daftar gaji dan upah yang telah ditandatangani karyawan, bagian akuntansi membuat jurnal sebagai berikut :
Utang gaji dan upah xxx
Kas xxx
Tahap IV
Penyetoran pajak penghasilan (PPh) karyawan ke kas Negara dijurnal oleh bagian akuntansi sebagai berikut :
Uang PPh karyawan xxx
Kas xxx
I. Pengertian Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas perusahaan dalam suatu periode. Pendapatan merupakan hal yang penting karena pendapatan adalah objek atas aktivitas perusahaan. Pendapatan memilki pengertian yang bermacam-macam tergantung dari sisi mana untuk meninjau pengertian pendapatan tersebut. Pendapatan timbul dari peristiwa ekonomi antara lain penjualan barang,
penjualan jasa, penggunaan aktiva perusahaanoleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti dan deviden.
Pendapatan pada prinsipnya mempunyai sifat menambah atau manaikkan nilai kekayaan pemilik perusahaan, baik dalam bentuk penerimaan maupun berupa hak dan tagihan. Untuk lebih jelasnya pengertian pendapatan ini, dapat kita ikuti penjelasan yang dikemukakan beberapa ahli sebagai berikut :
Menurut PSAK No.23 Tahun 2012, menyatakan bahwa “Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal”.
Sedangkan menurut Akuntansi Perusahaan PELINDO (2007:19) pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbil dari aktivitas normal entitas perusahaan selama suatu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan aset bersih yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal. Pengertian pendapatan dapat ditemui dalam berbagai literatur akuntansi baik mengenai sumber, cara memperoleh maupun cara mengukurnya. Pendapatan ini dapat terjadi setiap saat dan dapat pula terjadi pada waktu-waktu tertentu.
Menurut Santoso, Iman (2009;340) menyatakan bahwa “Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa (normal activity) dan dikenal dengan sebutan yang berbeda, misalnya: penjualan (sales), peghasilan jasa (fees revenues), pendapatan bunga (interest revenue), pendapatan dividen (dividend
revenue), pendapatan royalty (royalties revenue), dan pendapatan sewa (rent revenue)”.
Definisi tersebut memberi arti, bahwa revenue atau pendapatan adalah keseluruhan penerimaan dari hasil penjualan barang-barang atau jasa yang diperoleh yang diperoleh oleh suatu unit usaha selama periode tertentu.
Menurut Stice, James D, Earl K.Stice, K.Fred Skousen (2009;493) menyatakan bahwa: “Pendapatan adalah arus kas masuk atau peningkatan lain dari aset suatu entitas atau pelunasan utang-utangnya (atau kombinasi dari keduanya) yang dihasilkan dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa, atau aktivitas-aktivitas lainnya yang merupakan operasi utama atau operasi sentral yang berkelanjutan dari entitas tersebut”.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia bahwa pendapatan hanya terdiri dari arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan atau oleh dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga, seperti pajak pertambahan nilai, bukan merupakan manfaat ekonomi yang mengalir keperusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas dan karena itu harus dikeluarkan dari pendapatan.
Menurut PSAK No.23 Tahun 2012, menyatakan bahwa “Pendapatan adalah arus kas masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal”.
Untuk itu penelitian dapat menarik beberapa kesimpulan mengenai sehubungan dengan revenue sebagai berikut :
1. Pendapatan (revenue) biasa terjadi setiap saat, dan bisa juga terjadi secara berkala atau pada saat tertentu.
2. Pendapatan (revenue) diperoleh melalui hasil penjualan barang atau jasa, dengan kata lain revenue timbul karena adanya barang atau jasa yang dijual kepada konsumen. Pendapatan dapat pula diperoleh dari penjualan atau pertukaran aktiva diluar barang-barang atau pertukaran aktiva tetap juga hasil dari hasil investasi seperti bunga, dividen dan lain-lain.
3. Pendapatan (revenue) yang sifatnya menambah atau menaikkan nilai kekayaan pemilik akibat adanya penilaian kembali atas aktiva tetap perusahaan dan aktiva yang timbul dari pembelian harta, investasi oleh pemilik, pinjaman-pinjaman ataupun koreksi laba rugi periode tahun lalu, tidak dapat dikategorikan sebagai pendapatan (revenue).
4. Pengertian penghasilan (income) sering disamakan dengan pengertian pendapatan (revenue), padahal dalam literatur akuntansi sesungguhnya kedua istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda. Jika pendapatan masih merupakan pendapatan kotor yang belum dikurangi biaya dan beban untuk memperolehnya, maka penghasilan adalah pendapatan dikurangi dengan biaya (cost) dan beban (expense).
Pendapatan adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi
yang mereka sumbangkan dalam turut serta membentuk produk nasional. Menurut Reksoprayitno, pendapatan atau income adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa bunga, dan laba termasuk juga beragam tunjangan, seperti kesehatan dan pension (Reksoprayitno, 2009).
Ada 3 kategori pendapatan yaitu :
1. Pendapatan berupa uang yaitu segala penghasilan berupa uang yang sifatnya regular dan yang diterima biasanya sebagai balas jasa atau kontra prestasi.
2. Pendapatan berupa barang adalah segala pendapatan yang sifatnya reguler dan biasa, akan tetapi selalu berbentuk balas jasa dan diterima dalam bentuk barang dan jasa.
3. Pendapatan yang bukan merupakan pendapatan adalah segala penerimaan yang bersifat transfer redistributive dan biasanya membuat perubahan dalam keuangan rumah tangga (Sunuharjo, 2009).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengertian penghasilan maka penulis akan mengutip beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli dalam berbagai literatur akuntansi.
Dari sejumlah definisi mengenai pendapatan dan income yang telah dikemukakan diatas, maka jelaslah income tidak sama dengan revenue walaupun dalam arti sehari-hari sering kita mendengar kedua istilah tersebut adalah sama padahal keduanyan adalah berbeda walaupun mempunyai kaitan yang erat satu dengan yang lainnya.
Dalam bisnis, pendapatan adalah jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk atau jasa kepada pelanggan.
Bagi investor, pendapatan kurang penting disbanding keuntungan yang merupakan jumlah uang yang diterima setelah dikurangi pengeluaran.
Pertumbuhan pendapatan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa perusahaan tersebut. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten, dan juga pertumbuhan keuntungan, dianggap penting bagi perusahaan yang dijual ke publik melalui saham untuk menarik investor.
J. Kerangka Pikir
Dalam perkembangannya banyak perusahaan yang mengalami masalah yang kompleks dan saling berkaitan oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk dapat lebih memfokuskan perhatiaannya pada variabel-variabel yang berpengaruh terhadap tercapainya tujuan perusahaan.
Dalam penetapan anggaran terdapat berbagai biaya antara lain biaya variabel, biaya tetap, dan biaya semi variabel. Dalam biaya tersebut terdapat biaya tenaga kerja yang terbagi atas tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung yang keduanya merupakan variabel yang secara langsung berpengaruh terhadap jumlah biaya sehingga dapat tercapai tingkat efisiensi penggunaan biaya.
Untuk lebih jelasnya Kerangka Pikir diatas dapat dilihat pada gambar berikut : KERANGKA PIKIR
GAMBAR 2.1 KERANGKA PIKIR
K. Hipotesis
Dengan mengacu pada masalah pokok, tujuan penelitian dan landasan teori yang dikemukakan, maka dapat diajukan hipotesis bahwa penerapan Line Item Budgeting pada biaya tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap tingkat pendapatan PDAM Gowa.
PDAM GOWA
LINE ITEM BUDGETING
BIAYA TENAGA KERJA LANGSUNG
REALISASI
PENDAPATAN
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada PDAM Gowa, sedangkan waktu yang diperlukan untuk penelitian ini adalah dua bulan yaitu dari bulan April sampai dengan bulan Juni 2016.
B. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
1. Penelitian pustaka (library research)
Yaitu suatu teknik pengumpulan data melalui perpustakaan baik berupa buku-buku literatur, dan bahan kuliah yang relevan dengan masalah yang diteliti.
2. Penelitian lapangan (field research)
Yaitu pengambilan langsung terhadap objek yang diteliti dengan menempuh cara sebagai berikut :
a) Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti.
b) Wawancara, yaitu mengadakan wawancara dengan pimpinan dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam obyek penelitian.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan berupa pernyataan atau penjelasan.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk angka-angka.
2. Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh penulis dari hasil observasi maupun hasil wawancara pada PDAM Gowa.
b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh penulis dari perusahaan berupa bukti-bukti atau laporan-laporan tertulis yang dibuat secara berkala.
D. Definisi Operasional
1. Line Item Budgeting adalah suatu proses penyusunan anggaran yang hanya mendasarkan pada besarnya realisasi anggaran tahun sebelumnya serta biaya yang dianggarkan untuk suatu keperluan yang dibuatkan sebagai baris terpisah.
2. Biaya adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang yaitu pengeluaran dalam bentuk kontan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan,
pengeluaran modal saham, jasa yang diserahkan dalam hubungannya dengan barang dan jasa yang akan diperoleh atau yang akan dicapai.
3. Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja pada bagian produksi serta mudah dihubungkan dengan outputnya, bersifat variabel atau proporsional dengan hasil produksinya dan biaya ini direncanakan dalam anggaran tenaga kerja langsung.
4. Anggaran adalah suatu program keuangan periodik yang disusun berdasarkan program-program yang telah disahkan dan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu.
5. Pendapatan adalah penambahan bruto dalam modal, sebagai dampak dari aktivitas perusahaan.
E. Metode Analisis Data
Untuk menguji hipotesis yang diajukan, maka analisis yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Analisis deskriptif, yaitu menjelaskan metode line item budgeting dalam biaya tenaga kerja.
2. Analisis variance, yaitu penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar Menurut Mulyadi (1991,424). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisis ini diselidiki penyebab terjadinya, untuk kemudian dicari jalan untuk mengatasi terjadinya selisih yang
merugikan. Selisih antara biaya sesungguhnya denga biaya standar dipecah menjadi dua macam selisih , yaitu :
a. Selisih Tarif. Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut :
ST = ( Tst – Tss ) x JKss
b. Selisih Efisiensi Upah Langsung. Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut :
SE = ( JKst – JKss ) x Tst Keterangan :
ST = Selisih Tarif Upah Tst = Tarif Standar Tss = Tarif Sesungguhnya Se = Selisih Efisiensi JKst = Jam Kerja Standar
JKss = Jam Kerja Sesungguhnya
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Berdirinya Perusahaan
Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa, demi memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat kota Sungguminasa dan penduduk Kabupaten Gowa, pada tahun 1980 didirikanlah 1 (Satu) pengolahan air bersih oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum Cabang Dinas Kabupaten Gowa, dimana pengolahan dan pengawasannya dilaksanakan oleh Proyek Pengolahan Sarana Air Bersih (PPSAB) Propinsi Sulawesi Selatan, dengan kapasitas produksi air bersih 10 liter/detik. Pada tahun 1981 unit pengolahan air Kabupaten Gowa telah memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat kota Sungguminasa, sehingga pada tangal 8 September 1982 sesuai Berita Acara Penyerahan Asset Pemerintah Pusat oleh Departemen Keuangan Republik Indonesia kepada Pemerintah Kabupaten Gowa, bersamaan itu pula Unit Pengelolaan Air Minum (BPAM) Kabupaten Gowa yang pengelolaannya dan tanggung jawabnya masih tetap berada pada PSAB Propinsi Sulawesi Selatan telah mengangkat Pegawai Bagi BPAM dan memperbantukan 3 orang Pegawai Negeri Sipil dari Pemerintah Kabupaten Gowa.
Dengan laju perkembangan pembangunan Kabupaten Gowa, maka kebutuhan air bersih masyarakat kota bertambah sehingga dengan kapasitas 10 liter/detik terasa sudah tidak mencukupi lagi.
PPSAB Propinsi Sulawesi Selatan kemudian mengajukan proposal pengembangan rencana penambahan kapasitas produksi air bersih sebesar 20 liter/
detik. Hasil dari tindak lanjut pengajuan proposal tersebut,pada tahun 1985/1986 rencana penambahan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang berlokasi di Lingkungan Cambaya Kelurahan Sungguminasa terealisasi. Tetapi dengan adanya IPA yang baru
detik. Hasil dari tindak lanjut pengajuan proposal tersebut,pada tahun 1985/1986 rencana penambahan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang berlokasi di Lingkungan Cambaya Kelurahan Sungguminasa terealisasi. Tetapi dengan adanya IPA yang baru