BAB III : PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAKU USAHA PASAR
C. Waralaba
1. Pengertian Waralaba
Waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap system bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.61
Waralaba adalah suatu sistem pemasaran atau distribusi barang dan jasa, di mana sebuah perusahaan induk (franchisor) memberikan kepada individu atau perusahaan lain yang berskala kecil dan menengah (franchisee), hak-hak istimewa untuk melaksanakan suatu sistem usaha tertentu dengan cara yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu, di suatu tempat tertentu.62
Menurut Susilowati waralaba (franchise) adalah kontrak perjanjian pemakaian nama, merk dagang, dan logo perusahaan tertentu dari pemberi waralaba (franchisor) yang di dalamnya dicantumkan ikhtisar peraturan pengoperasiannya oleh perusahaan yang menggunakan (franchise), jasa yang disediakan oleh pemberi waralaba (franchisor), dan persyaratan keuangan.63
Odop menyimpulkan bahwa waralaba adalah pengaturan bisnis dengan sistem pemberian hak pemakaian nama dagang oleh pewaralaba kepada pihak terwaralaba untuk menjual produk atau jasa sesuai dengan standardisasi
61 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Waralaba
62 Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007),hlm 57
63
kesepakatan untuk membuka usaha dengan menggunakan merk dagang/nama dagangnya.64
Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia yang dimaksud dengan waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir dimana franchisor memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melakukan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan jangka waktu yang sudah ditetapkan.65
2. Prosedur perizinan waralaba
Prosedur pemberian izin adalah sebagai berikut : a. Proses dan pemberian izin
Proses penyelesaian perizinan merupakan proses internal yang dilakukan oleh aparat/petugas. Pada umumnya permohonan izin harus menempuh prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin serta pemohon izin juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah atau pemberi izin. Prosedur dan persyaratan perizinan itu berbeda-beda tergantung jenis izin, tujuan izin, dan instansi pemberi izin. Inti dari regulasi dan deregulasi adalah tata cara prosedur perizinan adalah tata cara dan prosedur perizinan. Isi regulasi dan deregulasi harus memenuhi nilai : sederhana, jelas, tidak melibatkan banyak pihak, meminimalkan
64 Odop, Nistains, Berbisnis Waralaba Murah, (Yogyakarta: Media Pressindo, 2006), hlm 16
65 Ratna Patria, “Pengertian Waralaba dan Jenisnya”, diakses dari https://www.domainesia.com/berita/pengertian-waralaba-dan-jenisnya, pada tanggal 24 Juli 2020 pukul 19.31
kontak fisik antarpihak yang melayani dan dilayani, memiliki prosedur operasional standar, dan wajib dikomunikasikan secara luas.
Salah satu aspek hukum yang harus diperhatikan dalam bisnis waralaba adalah pengurusan izin usaha franchise atau waralaba. Saat ini sebagian besar perizinan usaha dilakukan melalui sistem online single submission (OSS), salah satunya adalah perizinan usaha sektor perdagangan.Franchise merupakan salah satu usaha di sektor perdagangan sehingga perizinan usahanya dilakukan melalui OSS sebagaimana diatur Peraturan Menteri Perdagangan No.77 Tahun 2018.
Berikut ini adalah proses yang harus dilakukan untuk memperoleh izin usaha atau Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW):66
1) Melakukan regristrasi akun melalui laman website https:/oss.go.id/oss/. Setelah mengisi beberapa informasi pada menu daftar, anda akan menerima email validasi akun dan user ID serta password untuk log-in.
2) Mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha)
3) Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran waralaba (STPW) berdasarkan komitmen
STPW diproses dan diterbitkan oleh Direktorat Bina Usaha dan Pelaku Ditribusi Kementrian Perdagangan atas Permohonan STPW yang diajukan oleh:
a) Pemberi Waralaba dari Luar Negeri b) Pemberi Waralaba dari Dalam Negeri
66 Peraturan Menteri Perdagangan No.77 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan
c) Pemberi Waralaba Lanjutan dari Luar Negeri d) Pemberi Waralaba Lanjutan dari Dalam Negeri e) Penerima Waralaba dari Waralaba Luar Negeri
STPW diproses dan diterbitkan oleh Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kabupaten/Kota atas permohonan STPW yang diajukan oleh:
a) Penerima Waralaba dari Waralaba Dalam Negeri
b) Penerima Waralaba Lanjutan dari Waralaba Luar Negeri c) Penerima Waralaba Lanjutan dari Waralaba Dalam Negeri Komitmen adalah pernyataan untuk memenuhi persyaratan dari STPW
4) Memenuhi Persyaratan Komitmen
5) 1. Pemberi Waralaba: Memiliki Prospektus Penawaran Waralaba 2. Pemberi Waralaba Lanjutan: Memiliki Prospektus Penawaran
Waralaba
3.Penerima Waralaba: Memiliki Perjanjian Waralaba dan Prospektus Penawaran Waralaba
4. Penerima Waralaba Lanjutan: Memiliki Perjanjian Waralaba Prospektus Penawaran Waralaba adalah keterangan tertulis yang memuat data dari Pemberi Waralaba:
a) Identitas b) Legalitas usaha
c) Sejarah kegiatan usahanya
d) Struktur organisasi Pemberi Waralaba
e) Laporan keuangan 2 (dua) tahun terakhir f) Jumlah tempat usaha
g) Daftar penerima waralaba; dan
h) Hak dan kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba Proses permohonan pendaftaran franchise atau waralaba ini tidak membutuhkan biaya. Terkait jangka waktu berlakunya, STPW berlaku selama Pelaku Usaha menjalankan usaha dan/atau kegiatannya.
b. Persyaratan
Merupakan hal yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin yang dimohonkan, yang berupa dokumen dan kelengkapan atau surat-surat.
Menurut Soehino, syaratsyarat dalam izin bersifat konstitutif dan kondisional.67
1) Konstitutif yaitu ditentukan suatu perbuatan tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yaitu dalam pemberian izin ditentukan suatu perbuatan konkret yang bila tidak dipenuhi dapat dikenai sanksi.
2) Kondisional artinya penilaian tersebut baru ada dan dapat dinilai setelah perbuatan atau tingkah laku yang diisyaratkan terjadi.
Untuk memperoleh izin usaha waralaba ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu:
a) Syarat Administrasi
1. Mengisi formulir permohonan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba yang di tanda tangan oleh direktur, dibubuhi materai Rp. 6.000, dan disertai cap perusahaan.
2. Photocopy KTP Pemohon dengan menunjukan KTP yang asli 3. Photocopy prospektus penawaran waralaba
4. Photocopy perjanjian waralaba 5. Photocopy izin usaha
6. Photocopy tanda bukti pendaftaran HKI
67 Adrian Sutedi, Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik, (Jakarta: Sinar
7. Komposisi penggunaan tenaga kerja
8. Komposisi barang/bahan baku yang diwaralabakan
9. Surat kuasa bermaterai cukup bila pemilik, pengurus atau penanggung jawab perusahaan menguasakan pengurusan STPW ke pihak ketiga.
10. Surat Kuasa Pengurusan bila melalui pihak lain/perantara.
11. Photocopy Akte pendirian bagi yang berbadan hukum.
12. Photocopy NPWP Pribadi dan NPWP Perusahaan.
13. Ada bukti keanggotaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.
b) Syarat Teknis
Persyaratan Teknis Untuk Franchiseatau waralaba, yaitu:68
1) Baik pemilik waralaba maupun franchise diharuskan menggunakan setidaknya 80% bahan mentah dari Indonesia.
Dengan cara, peralatan bisnis dan barang dagangan dalam bisnis harus diproduksi di dalam negeri.
2) Semua pemilik waralaba harus bekerja sama dengan perusahaan skala kecil dan menengah sebagai pewaralaba atau pemasok untuk membuktikan kemampuan mereka dan untuk memenuhi persyaratan pemilik franchise atau waralaba
3. Proses pendirian waralaba
Dalam mendirikan bisnis waralaba atau yang biasa disebut dengan franchise, para pemilik waralaba atau franchisor dan pihak yang menerima
waralaba atau franchise harus memiliki persiapan yang matang dan harus memenuhi karakteristik, dan syarat-syarat untuk membuka atau mendirikan usaha waralaba.
Adapun beberapa karakteristik dasar yang dimiliki franchise menurut Munir Fuady, yaitu:
a. Unsur Dasar
Ada 3 (tiga) unsur dasar yang harus selalu dimiliki, yaitu :
68 Emerhub.id, Bisnis Franchise: Persyaratan Mendapatkan Izin Usaha Waralaba di Indonesia, sebagaimana diakses https://emerhub.com/id/bisnis/bisnis-franchise-persyaratan-mendapatkan-izin-usaha/,pada 13 Agustus 2020 jam 20.00
1) pihak yang mempunyai bisnis franchise disebut sebagai franchisor.
2) pihak yang mejalankan bisnis franchise yang disebut sebagai franchisee.
3) adanya bisnis franchise itu sendiri.
b. Produk Bisnisnya Unik.
c. Konsep Bisnis Total yaitu penekanan pada bidang pemasaran dengan konsep P4 yakni Product, Price, Place serta Promotion.
d. Franchise Memakai / Menjual Produk.
e. Franchisor Menerima Fee dan Royalty.
f. Adanya pelatihan manajemen dan skill khusus.
g. Pendaftaran Merek Dagang, Paten atau Hak Cipta.
h. Bantuan Pendanaan dari Pihak Franchisor.
i. Pembelian Produk Langsung dari Franchisor.
j. Bantuan Promosi dan Periklanan dari Franchisor.
k. Pelayanan pemilihan Lokasi oleh Franchisor.
l. Daerah Pemasaran yang Ekslusif.
m. Pengendalian / Penyeragaman Mutu.
n. Mengandung Unsur Merek dan Sistem Bisnis.69
Setelah memiliki dan memenuhi karakteristik tersebut maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah :
1. pemberi waralaba atau pemberi waralaba lanjutan harus menyampaikan prospektus penawaran waralaba kepada calon penerima waralaba atau calon penerima waralaba lanjutan paling lambat 2 minggu sebelum penandatanganan perjanjian waralaba.
Prospektus penawaran waralaba adalah keterangan tertulis dari pemberi waralaba yang paling sedikit menjelaskan tentang identitas, legalitas, sejarah kegiatan, struktur organisasi, laporan keuangan, jumlah tempat usaha, daftar penerima waralaba, hak dan kewajiban pemberi waralaba dan penerima waralaba, serta kekayaan intelektual pemberi waralaba. Bagi prospektus berbahasa asing harus diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Indonesia. Pemberi
69 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005,
waralaba atau pemberi waralaba lanjutan wajib mendaftarkan prospektus penawaran waralaba sebelum membuat perjanjian waralaba.
2. Mendaftarkan perjanjian waralaba. Perjanjian waralaba adalah dasar penyelenggaraan waralaba yang dibuat antara para pihak yang mempunyai kedudukan hukum yang setara dan terhadap mereka berlaku hukum Indonesia yang harus ditulis menggunakan bahasa Indonesia. perjanjian waralaba dibuat berdasarkan hukum Indonesia yang harus disampaikan kepada calon penerima waralaba atau penerima waralaba lanjutan paling lambat 2 minggu sebelum penandatanganan perjanjian waralaba.
3. Setelah mendaftarkan prospektur penawaran waralaba dan perjanjian waralaba maka selanjutnya Direktorat Bina Usaha dan Pelaku Distribusi akan memproses permohonan bukti pendaftaran prospektus penawaran waralaba bagi pemberi waralaba dan pemberi waralaba lanjutan serta bukti pendaftaran perjanjian waralaba bagi penerima waralaba dan penerima waralaba lanjutan atau disebut juga dengan STPW dan diajukan melalui lembaga Online Single Submission (OSS) yang terdiri atas :
a. STPW Pemberi Waralaba berasal dari luar Negeri.
b. STPW Pemberi Waralaba berasal dari dalam Negeri.
c. STPW Penerima Waralaba dari Waralaba luar Negeri.
d. STPW Pemberi Waralaba Lanjutan dan Waralaba luar Negeri.
e. STPW Pemberi Waralaba Lanjutan dan Waralaba dalam Negeri.
Dinas yang membidangi Perdagangan atau Unit Terpadu Satu Pintu di wilayah Provinsi DKI Jakarta atau Kabupaten/Kota di seluruh wilayah Indonesia memproses permohonan STPW terdiri atas :
a. STPW Penerima Waralaba dari Waralaba dalam Negeri.
b. STPW Penerima Waralaba Lanjutan dari Waralaba Luar Negeri.
c. STPW Penerima Waralaba Lanjutan dari Waralaba Dalam Negeri.
4. Setelah mendapatkan STPW maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah mengajukan Logo Waralaba secara tertulis kepada Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi. Logo Waralaba tersebut nantinya akan diletakkan di kantor pusat atau di setiap gerai Waralaba.
5. Penyelenggaraan Pembinaan, Evaluasi, dan Pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
6. Pelaporan kegiatan usaha waralaba setiap setahun sekali. Adapun pihak-pihak yang wajib melaporkan kegiatan usaha waralaba adalah sebagai berikut:
a. Pemberi Waralaba berasal dari dalam negeri, Pemberi Waralaba Lanjutan berasal dari luar negeri, Pemberi Waralaba Lanjutan berasal dari dalam negeri dan Penerima Waralaba berasal dari luar negeri yang memiliki STPW, wajib menyampaikan laporan kegiatan usaha Waralaba kepada Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi.
b. Penerima Waralaba berasal dari dalam negeri, Penerima Waralaba Lanjutan berasal dari luar negeri, dan Penerima
Waralaba Lanjutan berasal dari dalam negeri yang memiliki STPW, wajib menyampaikan laporan kegiatan usaha Waralaba kepada kepala dinas yang bertanggung jawab di bidang perdagangan di Provinsi DKI Jakarta atau kabupaten/kota setempat.70
D. Perlindungan Hukum Terhadap Pelaku Usaha Pasar Tradisional dengan Pesatnya Perkembangan Toko Modern dengan Pola Waralaba.
Perlindungan hukum bagi pelaku usaha kecil sesungguhnya telah diatur dalam Pasal 6 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Ketentuan Pasal 6 itu selengkapnya menyatakan pemerintah menumbuhkan iklim usaha bagi usaha kecil melalui kebijaksanaan melalui aspek:
a.Pendanaan, b.Persaingan, c.Prasarana, d.Informasi, e.Kemitraan, f.Perizinan usaha, g.Perlindungan.
1. Perlindungan melalui perizinan
Perizinan adalah pemberian legalitas kepada seseorang atau pelaku usaha/kegiatan tertentu, baik dalam bentuk izin maupun tanda daftar usaha. Izin ialah salah satu instrumen yang paling banyak digunakan dalam hukum administrasi, untuk mengemudikan tingkah laku para warga.71 Selain itu izin juga dapat diartikan sebagai dispensasi atau pelepasan/pembebasan dari suatu larangan.
Terdapat istilah lain yang memiliki kesejajaran dengan izin yaitu:72
70 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2019 Tentang Waralaba.
71 Philipus M.Hadjon, Pengantar Hukum Perizinan, (Surabaya: Yurudika, 1993,), hlm.2.
72 Rudwan HR, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), hlm.
196-197
a) Dispensasi ialah keputusan administrasi Negara yang membebaskan suatu perbuatan dari kekuasaan peraturan yang menolak perbuatan tersebut. Sehingga suatu peraturan undang-undang menjadi tidak berlaku bagi sesuatu yang istimewa (Relaxation legis).
b) Lisensi adalah suatu usaha izin yang memberikan hak untuk menyelenggarakan suatu perusahaan. Lisensi digunakan untuk menyatakan suatu izin yang memperkenankan seseorang untuk menjalankan suatu perusahaan dengan izin khusus atau istimewa.
c) Konsesi merupakan suatu izin berhubungan dengan pekerjaan yang besar di mana kepentingan umum terlibat erat sekali sehingga sebenarnya pekerjaan itu menjadi tugas pemerintah, tetapi pemerintah diberikan hak penyelenggaraannya kepada konsesionaris (pemegang izin) yang bukan pejabat pemerintah. Bentuknya bisa berupa kontraktual atau kombinasi antara lisensi dengan pemberian status tertentu dengan hak dan kewajiban serta syarat-syarat tertentu.
Secara umum tujuan dan fungsi dari perizinan adalah untuk pengendalian dari aktivitas pemerintah terkait ketentuan-ketentuan yang berisi pedoman yang harus dilaksanakan baik oleh yang berkepentingan ataupun oleh pejabat yang diberi kewenangan.
Tujuan dari perizinan dapat dilihat dari dua sisi yaitu:73 a) Dari sisi pemerintah
Melalui sisi pemerintah tujuan pemberian izin adalah:
1) Untuk melaksanakan peraturan
73 Adrian Sutedi, Hukum Perizinan Dalam Sektor Pelayanan Publik, (Jakarta: SInar
Apakah ketentuan-ketentuan yang termuat dalam peraturan tersebut sesuai dengan kenyataan dalam praktiknya atau tidak akan sekalipun untuk mengatur ketertiban.
2) Sebagai sumber pendapatan daerah
Dengan adanya permintaan permohonan izin, maka secara langsung pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap izin yang dikeluarkan pemohon harus membayar retribusi dahulu. Semakin banyak pula pendapatan di bidang retribusi tujuan akhirnya yaitu untuk membiayai pembangunan.
b) Dari sisi masyarakat
Adapun dari sisi masyarakat tujuan pemberian izin itu adalah sebagai berikut.
1) Untuk adanya kepastian hukum.
2) Untuk adanya kepastian hak.
3) Untuk mendapatkan fasilitas setelah bangunan yang didirikan mempunyai izin.
Dengan mengikatkan tindakan-tindakan pada suatu sistem perizinan, pembuatan undang-undang dapat mengejar berbagai tujuan dari izin.
Perizinan dapat berbentuk tertulis maupun tidak tertulis, dimana di dalamnya harus termuat unsur-unsur antara lain:74
a) Instrument yuridis
izin merupakan instrument yuridis dalam bentuk ketetapan yang bersifat konsititutif dan yang digunakan oleh pemerintah untuk menghadapi atau
74 Adrian Sutedi, op,cit, hlm. 201-202.
menetapkan peristiwa konkret, sebagai ketetapan izin itu dibuat dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku pada ketetapan pada umumnya.
b) Peraturan perundang-undangan
Pembuatan dan penerbitan ketetapan izin merupakan tindakan hukum pemerintahan, sebagai tindakan hukum maka harus ada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan atau harus berdasarkan pada asas legalitas, tanpa dasar wewenang, tindakan hukum itu menjadi tidak sah, oleh karena itu dalam hal membuat dan menerbitkan izin haruslah didasarkan pada wewenang yang diberikan oleh peruraturan perundang-undangan yang berlaku, karena tanpa adanya dasar wewenang tersebut ketetapan izin tersebut menjadi tidak sah.
c) Prosedur dan persyaratan
Pada umumnya permohonan izin harus menempuh prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin. Selain itu pemohon juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah atau pemberi izin. Prosedur dan persyaratan perizinan itu berbeda-beda tergantung jenis izin, tujuan izin, dan instansi pemberi izin. Menurut Soehino, syarat-syarat dalam izin itu bersifat konsitutif dan kondisional, konstitutif karena ditentukan suatu perbuatan atau tingkah laku tertentu yang harus (terlebih dahulu) dipenuhi, kondisional, karena penilaian tersebut baru ada dan dapat dilihat serta dapat dinilai setelah perbuatan atau tingkah laku yang disyaratkan itu terjadi.
A. Prosedur Pemberian Izin
a) Proses dan prosedur perizinan
Proses penyelesaian perizinan merupakan proses internal yang dilakukan oleh apparat/petugas. Pada umunya permohonan izin harus menempuh prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin serta pemohon izin juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditentukan secara sepihak oleh pemerintah atau pemberi izin. Prosedur dan persyaratan perizinan itu berbeda-beda tergantung jenis izin, tujuan izin, dan instansi pemberi izin.
Inti dari regulasi dan deregulasi adalah tata cara prosedur perizinan adalah tata cara dan prosedur perizinan. Isi regulasi dan deregulasi harus memenuhi nilai: sederhana, jelas, tidak melibatkan banyak pihak, meminimalkan kontak fisik antarpihak yang melayani dan dilayani, memiliki prosedur operasional standar, dan wajib dikomunikasikan secara luas.
b) Persyaratan
Merupakan hal yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin yang dimohonkan, yang berupa dokumen dan kelengkapan atau surat-surat.
Menurut Soehino, syarat-syarat dalam izin bersifat konstitutif dan kondisional.75
1) Konsititutif yaitu ditentukan suatu perbuatan tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu, yaitu dalam pemberian izin ditentukam suatu perbuatan konkret yang bila tidak dipenuhi dapat dikenai sanksi.
75Ibid, hlm. 187
2) Kondisional artinya penilaian tersebut baru ada dan dapat dinilai setelah perbuatan atau tingkah laku yang diisyaratkan terjadi.
c) Waktu penyelesaian izin
Waktu penyelesaian izin harus ditentukan oleh instansi yang bersangkutan.
Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan. Dengan demikian regulasi dan deregulasi harus memenuhi kriteria:
1) Disebutkan dengan jelas.
2) Waktu yang ditetapkan sesingkat mungkin.
3) Diinformasikan secara luas bersama-sama dengan prosedur dan persyaratan.
d) Biaya perizinan
Tarif pelayanan termasuk rinciannya ditetapkan dalam proses pemberian izin, dimana pembiayaan menjadi hal mendasar dari pengurusan perizinan.
Oleh karena itu harus memenuhi syarat-syarat:
1) Disebutkan dengan jelas.
2) Mengikuti standar nasional.
3) Tidak ada pengenaan biaya lebih dari sekali untuk setiap objek tertentu.
4) Perhitungan berdasar pada tingkat real cost.
5) Besarnya biasa diinformasikan secara luas.
Sebelum menjalankan usahanya, pasar modern yang akan didirikan harus memenuhi perijinan yang sudah ditetapkan. Untuk pertokoan, mall, plasa, dan pusat perdagangan wajib memiliki Izin Usaha Pusat Perbelanjaan (IUPP)
sedangkan minimarket, supermarket, department store, hypermarket, dan perkulakan wajib memiliki Izin Usaha Toko Modern (IUTM). Jenis-jenis izin diatas yaitu IUPP dan IUTM diterbitkan oleh Bupati/Walikota dan Gubernur untuk Pemerintah Provinsi. Disamping itu, setiap pedagang atau pelaku usaha pasar yang akan mengajukan izin usaha harus menyertai studi kelayakan (termasuk AMDAL) dan rencana kemitraan dengan usaha kecil.
Namun ketentuan-ketentuan peraturan diatas belum mampu mensinergikan antara pasar modern dengan pasar tradisional, sehingga perlu diupayakan cara lain agar sinergi keduanya dapat berjalan dengan baik. Hal ini, antara lain dapat dilakukan dengan cara meningkatkan peran pemerintah daerah.
Dalam era otonomi sekarang, pemerintah daerah mempunyai peran yangbesarkarenadiabertanggungjawabuntukmewujudkankeberlangsungan pasar tradisional di daerahnya dengan lebih memperhatikan lokasi dari ritel modern yang ingin melakukan kegiatan usahanya. Keberadaan pasar-pasar modern atau minimarket yang sangat berdekatan menunjukkan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap perkembangan pasar modern, oleh karena itu dalam hal jam operasional pasar modern baik hypermarket, departemen store maupun supermarket, sebagaimana disebutkan dalam Perpres No. 112 tahun 2007 bahwa;
a) Untuk hari Senin sampai dengan Jumat, pukul 10.00 sampai dengan pukul 22.00 waktusetempat.
b) Untuk hari Sabtu dan Minggu, pukul 10.00 sampai denganpukul 23.00 waktu setempat.
c) Untuk hari besar keagamaan, libur nasional atau hari tertentu lainnya, Bupati/Walikota atau Gubernur untuk Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dapat menetapkan jam kerja melampaui pukul 22.00 waktusetempat.
Pembatasan jam operasi pasar modern tersebut harus diperketat dan dilakukan pengawasan yang sungguh-sungguh. Berkaitan dengan kerjasama antara pasar modern dengan usaha kecil menengah, meskipun sudah ada upaya untuk mensinergikan antara pasar tradisional dengan pasar modern sebagaimana tercermin dalam Perpres 112 tahun 2007 yang mengamantkan keharusan bagi pasar modern untuk menyediakan tempat usaha dengan harga jual atau biaya sewa sesuai dengan kemampuan usaha kecil atau yang dapat dimanfaatkan oleh usaha kecil melalui kerjasama lain dalam rangka kemitraan (Pasal 6) belum berjalan dengan baik. Kerjasama yang selama ini antaralain diwujudkan dalam bentuk pemasokan yang dibingkai dalam bentuk perjanjian tertulis dengan ketentuan bahwa pasar modern tidak memungut biaya administrasi pendaftaran barang dari pemasok usaha kecil dan pembayaran kepada pemasok usaha kecil dilakukan secara tunai, atau dengan alasan teknis tertentu dapat dilakukan dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari setelah seluruh dokumen penagihan diterima.
Memperhatikan regulasi atau kebijakan di bidang perpasaran sebagaimana dikemukakan diatas, pada dasarnya mempunyai filosofi agar keberadaan pasar-pasar modern tidak menjadi ancaman bagi keberadaan pasar-pasar-pasar-pasar tradisional.
Dalam kaitan ini pemerintah berkewajiban untuk menciptakan level of playing field yang adil bagi para pelaku usaha, melindungi pihak yang lemah dari eksploitasi ekonomi pihak yang kuat, membuat peraturan yang tegas, jelas dan transparan,
memberikan sanksi yang tegas bagi para pelaku usaha yang melanggarnya baik sanksi pidana maupun sanksi administratif, bertindak sebagai wasit, jujur dan bertanggungjawab76
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Pentaan
Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Pentaan