ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A Deskripsi Data

B. Analisis Data

4. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang.

Rekonsiliasi fiskal laporan laba rugi tidak dilakukan untuk menganalisis data dalam penelitian ini, karena penelitian ini hanya berfokus pada satu akun saja dalam laporan laba rugi komersial, yaitu biaya penyusutan, sedangkan untuk melakukan rekonsiliasi fiskal laporan laba rugi tidak hanya berfokus pada biaya penyusutan saja, melainkan juga pada akun-akun lainnya yang memungkinkan adanya perbedaan antara peraturan perpajakan (Undang-Undang Pajak Penghasilan) dengan Standar Akuntansi Keuangan. Jadi, dalam penghitungan Pajak Penghasilan terutang akan diberikan asumsi bahwa akun-akun lainnya yang harus direkonsiliasi fiskal, yaitu semua biaya dan pendapatan dalam laporan laba rugi komersial selain biaya penyusutan yang dihitung dalam penelitian ini,

sudah sesuai dengan Undang-Undang Pajak Penghasilan, sehingga semua biaya dan pendapatan dalam laporan laba rugi komersial PT. Prima Dwi Utama, kecuali untuk biaya penyusutan yang dihitung dalam penelitian ini, bersifat tidak mengalami perubahan atau sesuai dengan kondisi pada saat laporan laba rugi komersial tersebut dibuat atau disusun oleh PT. Prima Dwi Utama.

Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode garis lurus dan metode saldo menurun. Berdasarkan tabel 17, 18, dan 19, diketahui besarnya laba PT. Prima Dwi Utama sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan. Laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menghitung besarnya Pajak Penghasilan terutang perusahaan setelah dikurangi dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan.

Penghitungan Pajak Penghasilan terutang dilakukan dengan menggunakan fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif pajak yang diterapkan atas Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), yang dapat dinikmati oleh Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000,00 (lima

puluh miliar rupiah). Ketentuan ini terdapat pada pasal 31 E Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Berikut ini penghitungan Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode garis lurus.

a. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2009 :

Peredaran bruto = Rp29.344.811.730,00 (dapat dilihat pada tabel 17) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp1.168.740.534,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 17) Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp1.027.497.955,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 27) Penghasilan Kena Pajak = Rp 141.242.579,00 Menurut ketentuan pasal 17 ayat (4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh, maka Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp141.242.579,00 dibulatkan menjadi sebesar Rp141.242.000,00. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang :

1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :

Rp4.800.000.000,00 x Rp141.242.000,00 = Rp23.103.287,00 Rp29.344.811.730,00

2) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Rp141.242.000,00 – Rp23.103.287,00 = Rp118.138.713,00

Pajak Penghasilan yang terutang :

(50% x 28%) x Rp23.103.287,00 = Rp 3.234.460,00

28% x Rp118.138.713,00 = Rp33.078.840,00 (+)

Pajak Penghasilan terutang = Rp36.313.300,00

b. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2010 :

Peredaran bruto = Rp20.598.452.432,00 (dapat dilihat pada tabel 18) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp1.919.232.029,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 18)

Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp1.655.747.955,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 27) Penghasilan Kena Pajak = Rp 263.484.074,00 Menurut ketentuan pasal 17 ayat (4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh, maka Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp263.484.074,00 dibulatkan menjadi sebesar Rp263.484.000,00.

Penghitungan Pajak Penghasilan terutang :

1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :

Rp4.800.000.000,00 x Rp263.484.000,00 = Rp61.398.943,00 Rp20.598.452.432,00

2) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Rp263.484.000,00 - Rp61.398.943,00 = Rp202.085.057,00

Pajak Penghasilan yang terutang :

(50% x 25%) x Rp61.398.943,00 = Rp 7.674.868,00

25% x Rp202.085.057,00 = Rp50.521.264,00 (+)

Pajak Penghasilan terutang = Rp58.196.132,00

c. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2011 :

Peredaran bruto =Rp26.739.497.624,00 (dapat dilihat pada tabel 19) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp2.001.389.717,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 19) Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp1.640.895.830,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 27) Penghasilan Kena Pajak = Rp 360.493.887,00

Menurut ketentuan pasal 17 ayat (4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh, maka Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp360.493.887,00 dibulatkan menjadi sebesar Rp360.493.000,00. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang :

1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :

Rp4.800.000.000,00 x Rp360.493.000,00 = Rp64.712.001,00 Rp26.739.497.624,00

2) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Rp360.493.000,00 – Rp64.712.001,00 = Rp295.780.999,00 Pajak Penghasilan yang terutang :

(50% x 25%) x Rp64.712.001,00 = Rp 8.089.000,00 25% x Rp295.780.999,00 = Rp73.945.250,00 (+) Pajak Penghasilan terutang = Rp82.034.250,00

Berikut ini penghitungan Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode saldo menurun.

a. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2009 :

Peredaran bruto = Rp29.344.811.730,00 (dapat dilihat pada tabel 17) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp1.168.740.534,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 17) Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp1.155.626.406,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 28) Penghasilan Kena Pajak = Rp 13.114.128,00 Menurut ketentuan pasal 17 ayat (4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh, maka Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp13.114.128,00 dibulatkan menjadi sebesar Rp13.114.000,00.

Penghitungan Pajak Penghasilan terutang :

1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :

Rp4.800.000.000,00 x Rp13.114.000,00 = Rp2.145.088,00 Rp29.344.811.730,00

2) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Rp13.114.000,00 - Rp2.145.088,00 = Rp10.968.912,00

Pajak Penghasilan yang terutang :

(50% x 28%) x Rp2.145.088,00 = Rp 300.312,00

28% x Rp10.968.912,00 = Rp 3.071.295,00 (+)

Pajak Penghasilan terutang = Rp 3.371.608,00

b. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2010 :

Peredaran bruto = Rp20.598.452.432,00 (dapat dilihat pada tabel 18) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp1.919.232.029,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 18)

Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp2.141.208.671,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 28) Kerugian Fiskal = (Rp 221.976.642,00)

Berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan pada tahun 2010, tidak dapat diperoleh Penghasilan Kena Pajak, karena diperoleh kerugian fiskal sebesar Rp221.976.642,00. Kerugian fiskal tersebut mengakibatkan tidak adanya Pajak Penghasilan terutang pada tahun 2010. Kerugian fiskal di tahun 2010 akan dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal di tahun 2011, karena sesuai

dengan ketentuan pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yaitu apabila penghasilan bruto setelah dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan lima tahun, yang dimulai sejak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian tersebut.

c. Penghitungan Pajak Penghasilan terutang tahun 2011 :

Peredaran bruto =Rp26.739.497.624,00 (dapat dilihat pada tabel 19) Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak = Rp2.001.389.717,00 Penghasilan (dapat dilihat pada tabel 19) Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan = Rp1.594.011.387,00 (-) Bangunan (dapat dilihat pada tabel 28) Penghasilan Neto Fiskal = Rp 407.378.330,00

Kompensasi Kerugian Fiskal = Rp 221.976.642,00 (-) Penghasilan Kena Pajak = Rp 185.401.689,00 Menurut ketentuan pasal 17 ayat (4) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh, maka Penghasilan Kena Pajak sebesar Rp185.401.689,00 dibulatkan menjadi sebesar Rp185.401.000,00.

Penghitungan Pajak Penghasilan terutang :

1) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang memperoleh fasilitas :

Rp4.800.000.000,00 x Rp185.401.000,00 = Rp33.281.283,00 Rp26.739.497.624,00

3) Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak memperoleh fasilitas :

Rp185.401.000,00 – Rp33.281.283,00 = Rp152.119.717,00 Pajak Penghasilan yang terutang :

(50% x 25%) x Rp33.281.283,00 = Rp 4.160.160,00 25% x Rp152.119.717,00 = Rp 38.029.929,00 (+) Pajak Penghasilan terutang = Rp 42.190.090,00

Berikut ini tabel yang menunjukkan hasil penghitungan Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode garis lurus dan metode saldo menurun.

Tabel 29. Penghitungan Pajak Penghasilan Terutang

Ta hun

Laba Sebelum Penyusutan dan Pajak Penghasilan (Rp)

Biaya Penyusutan Harta Berwujud Bukan Bangunan

(Rp)

Penghasilan Kena Pajak (Rp)

Pajak Penghasilan Terutang (Rp)

Garis Lurus Saldo

Menurun

Garis Lurus Saldo

Menurun

Garis Lurus Saldo

Menurun

Garis Lurus Saldo

Menurun

2009 1.168.740.534 1.168.740.534 1.027.497.955 1.155.626.406 141.242.579 13.114.128 36.313.300 3.371.608

2010 1.919.232.029 1.919.232.029 1.655.747.955 2.141.208.671 263.484.074 - 58.196.132 -

2011 2.001.389.717 2.001.389.717 1.640.895.830 1.594.011.387 360.493.887 407.378.330 82.034.250 42.190.090

Total 5.089.362.280 5.089.362.280 4.324.141.741 4.890.846.463 765.220.539 420.492.458 176.543.682 45.561.697

Tabel 29 menunjukkan bahwa Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode garis lurus dan metode saldo menurun, menghasilkan nilai yang berbeda. Perbedaan ini dikarenakan besarnya biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang juga berbeda dari kedua metode penyusutan tersebut.

Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode garis lurus, yaitu pada tahun 2009 sebesar Rp36.313.300,00, tahun 2010 sebesar Rp58.196.132,00, dan tahun 2011 sebesar Rp82.034.250,00. Pajak Penghasilan terutang, berdasarkan hasil pengurangan laba sebelum penyusutan dan Pajak Penghasilan dengan biaya penyusutan harta berwujud bukan bangunan yang dihitung menggunakan metode saldo menurun, yaitu pada tahun 2009 sebesar Rp3.371.608,00 dan tahun 2011 sebesar Rp42.190.090,00, sedangkan pada tahun 2010 tidak ada Pajak Penghasilan terutang, karena perusahaan mengalami kerugian fiskal.

5. Penghitungan nilai sekarang (present value) Pajak Penghasilan

Dalam dokumen Analisis ketepatan pemilihan metode penyusutan harta berwujud bukan bangunan sebagai salah satu cara untuk mengurangi beban pajak penghasilan : studi kasus di PT. Prima Dwi Utama. (Halaman 135-147)