• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguatan Ideologi Partai dan Kaderisasi

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 185-190)

PRAGMATISME POLITIK: RESPON PARTAI TERHADAP KONDISI ELECTORAL

B. Pendekatan Pada Pemilih

1. Penguatan Ideologi Partai dan Kaderisasi

Ideologi dan nilai-nilai merupakan pondasi hubungan partai politik dengan konstituen. Disamping itu ada tiga pilar yang dapat membangun partai, yaitu sumber daya manusia, prosedur dan mekanisme internal partai, dan sumber daya finansial. Partai harus membangun ideologi sebagai landasan pemikiran dan program partai. Kalau ada ideologi dan nilai-nilai yang jelas, partai dapat mengidentifikasi kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kurang lebih satu kesamaan dengan ideologi yang mau dikembangkan partai, kemudian pengembangan program dapat dijalankan. Ideologi dan nilai-nilai dihadapkan pada semua masalah untuk mengembangkan tawaran solusi atas masalah-masalah, baik masalah ekonomi, sosial, budaya, dan politik.307

306 Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari KPUD di Malang Raya, suara Gayus Lumbuun lebih rendah dibanding dengan suaranya Sri Rahayu yang nota bene sebagai caleg yang berdomisili di Malang.

307 Dalam pemetaan Ideologi politik di Indonesia kita bisa menelusurinya dengan memahami berbagai pemikiran yang telah dikemukakan oleh para tokoh politik maupun akademisi pada era tahun 1950-an. Dari kalangan politisi, Soekarno (1964) memetakan ideologi partai politik ke dalam Nasionalis-Agama-Komunis (Nasakom), dimana kelompok Nasionalis diwakili oleh PNI, Agama oleh Masyumi dan NU sedangkan Komunis direpresentasi oleh PKI. Dari kalangan akademisi, Feith dan Castles (1970) menyodorkan pembagian yang lebih kompleks untuk Sungai Budaya tahun 1950-an, yaitu, Nasionalisme radikal (PNI), Tradisionalisme Jawa PKI-NU), Islam (NU, Masyumi), sosialisme demokratis (PNI-Masyumi) dan komunisme (PKI). Mencoba mengikuti Feith dan Castles, Dhakidae (1999) membagi masyarakat ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok Nasionalis (PDI-P), Pembangunan (Golkar), Agama (PBB) dan Sosialisme (PRD). Sedangkan Suryadinata (2002)

Berbagai program dan kegiatan yang akan direalisasikan perlu direncanakan dan dipersiapkan dengan baik agar tidak terjadi kekacauan dalam pelaksanaannya. Hal ini merujuk pada apa yang dikemukakan partai politik, dimana secara konseptual apa yang mereka kemukakan baik yang tertulis maupun yang dikemukakan para elit politik sangat bagus, namun dalam tahap implementasi tidak sebaik gagasan dan konsep yang dikemukakan. Dengan demikian, kelemahan yang terjadi banyak pada tataran implementasi di lapangan, yang menyebabkan banyak masyarakat kecewa karena menganggap tidak sesuai dengan janji yang disampaikan.

Oleh karena itu, pengelolaan hubungan yang trasfaran dan konsisten dengan masyarakat menjadi penting bagi keberlangsungan dan survival partai politik. Hal ini membutuhkan hubungan dan komunikasi dengan masyarakat yang setara di bawah payung ideologi yang sama, agar masyarakat lebih akrab dan terikat pada partai dan akan memberikan kontribusi kepadanya. Dalam kenyataannya, partai politik tidak berusaha membangun hubungan dengan konstituen yang stabil dan berjangka panjang. Hubungan jangka panjang dengan konstituen dapat dicapai dan dikelola dengan cara mengembangkan pemahaman ideologi dan nilai-nilai dasar partai, termasuk membangun (infra-) struktur partai.308

Kejelasan ideologi partai politik dianggap memberikan kepastian bagi pemilih, terutama bagi oleh pemilih Santri Modernis. Selama ini ada kegamangan dari partai-partai yang cenderung menuju ke pusat/

tengah dalam ranah ideologi dengan alasan untuk dapat menjangkau konstituen yang lebih luas dan fleksibel. Akan tetapi bagi sebagian pemilih hal ini dirasakan membingungkan, karena pemilih tidak mempunyai keyakinan dan ketenangan ketika memutuskan partai apa yang harus menjadi pilihannya. Sebagai contoh adalah konstituen

mengkristalkan kembali pemikiran dan aliran politik yang ada ke dalam dua kategori besar, yaitu, Pancasila dan Islam Politik (Political Islam).

308 Yang dimaksud dengan Infra struktur partai adalah jaringan organisasi partai yang modern dan professional dari Pusat sampai ke Daerah. Walaupun demikian banyak yang mengidentikan bahwa organisasi partai politik modern lebih ditunjukan oleh partai elit dengan mengkreasi platform partai untuk dijual kepada masyarakat pemilih, namun demikian, partai massa yang cenderung mengutamakan ideologis dengan tanggung jawab untuk menyalurkan aspirasi dari bawah tetap membutuhkan infrastruktur partai yang kuat.

Salah satu hal penting dari terbangunannya infra struktur partai yang baik adalah akan berjalannya proses regenerasi dan meminimalkan konflik internal partai, serta konflik partai dengan konstieuennya.

yang berlatar belakang Muhammadiyah, di satu sisi PAN merupakan partai bentukan tokoh-tokoh Muhammadiyah, namun di sisi lain partai ini tidak mencantumkan Islam sebagai dasar ideologis partai. Oleh karena itu, sebagian warga Muhammadiyah menjadi gamang, terutama mereka yang Konservatif, dalam menentukan pilihan politik kepada PAN. Hal ini dibuktikan dengan ada sebagian kelompok pemilih dari warga Muhammadiyah yang merasa lebih pas dengan PKS atau PBB karena dianggap secara ideologi lebih jelas, dimana PKS maupun PBB Islam secara formal menjadi dasar ideologi partai.

Berkenaan dengan upaya penguatan ideologi hampir semua partai politik tidak punya agenda yang jelas,309 kecuali PKS yang memang melakukan pengkaderan dari bawah lewat aktivitas keagamaan yang dinamakan “tarbiyah”. Dalam perkembangannya partai politik kita sudah mengalami degradasi moral, tidak berani mengusun visi dan misi. Kalau partai yang berbasis Islam ingin maju dan mendapat perhatian serta dukungan dari kalangan umat Islam, maka partai Islam harus sungguh-sungguh memperjuangkan Islam. Partai Islam yang ada sekarang hanya partai Islam yang melulu mengejar kekuasaan.

Akan tetapi partai juga tidak boleh terjebak dengan ideologi. Artinya partai tidak hanya jualan ideologi saja kepada masyarakat tanpa ada upaya kongkrit untuk menyelesaikan persoalan riil yang dihadapi masyarakat.

Pandangan umum dalam masyarakat Malang Raya menunjukan bahwa walaupun penguatan ideologi itu penting terutama berkaitan dengan proses kaderisasi partai, namun ada hal yang mereka tidak setuju dengan praktek yang dijalankan partai sekarang ini yang berkaitan dengan penggunaan agama sebagai justifikasi partai politik. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan, Pimpinan Darah Muhammadiyah Kota Batu, yang menganggap partai Islam sekarang ini cuma formalitas saja karena dalam prakteknya antara partai Islam dan partai non-Islam

309 Hasil observasi terhadap parta-partai peserta pemilu 2004 maupun 2009, terutama partai-partai yang lolos electoral threshold, aktifitas partai-partai lebih menonjol hanya pada saat-saat mendekati pemilu. Sementara yang terkait kaderisasi, walaupun hasil wawancara dengan aktifis partai maupun anggota dewan, mengemukakan bahwa kaderisasi dilakukan, namun dalam prakteknya tidak bisa menunjukan bukti kongkrit yang sifatnya continue. Dengan demikian bisa dikatakan, kaderisasi yang dilakukan partai-partai hanya bersifat insidental, kecuali kaderisasi yang dilakukan oleh PKS. Kaderisasi yang dilakukan PKS, cukup intens, dengan sistem tarbiyah yang banyak dilaksanakan di kampus-kampus, sebagaimana penulis amati di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang.

sama saja. Partai Islam yang bagus tidak hanya menjual ideologi – justru harus memperjuangkan kepentingan riil kebutuhan masyarakat, karena masyarakat tidak memikirkan ideologi. Pada saai ini para pemilih melihat partai Islam hanya namanya saja, karena tidak ada yang bisa membedakan secara kongkrit dimata masyarakat. Partai Islam dan non Islam hampir sama saja, baik visi maupun misi tidak bisa secara tegas dibedakan, dalam keadaan tertentu partai sekuler lebih banyak perhatian pada masyarakat Islam, sementara di sisi lain partai yang mengatasnamakan Islam tidak atau jarang memperjuangkan kepentingan orang-orang Islam.

Dalam ceramah agama sering juga terdengar kalimat, “dalam Islam juga diajarkan kepada kita, sebagai pemeluk Islam harus memperhatikan masyarakat miskin.” Begitu juga, doa-doa yang disampaikan setelah menjalankan ibadah sholat banyak mendoakan fakir miskin. Akan tetapi sekali lagi dalam parkteknya kalangan umat Islam, termasuk mereka yang duduk di legislatif, kurang peduli dengan hal itu. Mereka baru datang hanya pada saat menjelang pemilu.

Walaupun demikian ada sebagian masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah yang ada di pedesaan, yang kurang peduli dengan pemberitaan mengenai citra negatif dari anggota legislatif dari partai mereka. Bagi mereka yang penting bukan kinerja dalam menjalankan peran dan fungsi partai, namun apakah calon anggota dewan tersebut punya kedekatan dengan mereka? dan apakah mereka punya karakteristik perilaku sosial yang sama dengan mereka?. Tidak bisa berbuat apa-apa ketika duduk jadi anggota dewan bukan kesalahan dimata masyarakat kecil, yang menjadi masalah apabila mereka tidak bisa menjadi bagian dari mereka. Oleh karena itu, bagi masyarakat Abangan, calon yang akan duduk di legislatif harus punya budaya Abangan, begitu pun calon dari partai Islam harus mempunyai karakteristik keislaman, atau kepekaan sosio-religiusitas.

Hal yang paling menarik, masyarakat Malang Raya punya identifikasi kuat terhadap partai yang mereka pilih, khususnya pemilih PDIP dan PKB pada pemilu 1999 dan 2004.310 Garis idologis yang

310 Hasil observasi selama penelitian ini dilaksanakan di Malang Raya, konstituen PDIP dan PKB menunjukan tingkat identifikasi yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari tingkat panatisme konstituen mereka pada partai, yang bisa dibuktikan dengan kebanggaan mereka dalam pemakaian kaos partai mereka masing-masing, khususnya pada pemilu 1999 dan 2004.

Pada pemilu 2009, tingkat identifikasi pemilih santri Tradisional terhadap PKB mengalami

dikemukakan Geertz (1960) yang jelas kelihatan dalam alur kehidupan politik masyarakat. Walaupun mereka banyak tahu dan tidak senang dengan perilaku anggota dewan yang suka melupakan janji-janjinya, namun mereka tetap berpegang pada partai yang telah dipilihnya.

Begitupun dalam soal berkomunikasi dengan anggota dewan dari parpol lain, menurut hasil pengamatan, mereka tidak merasa “sreg”

kalau yang diajak komunikasinya itu adalah mereka yang berlatar belakang berbeda. Hal ini sejalan dengan hasil pelitian perilaku pemilih di pedesaan Jawa oleh Afan Gaffar (1992), orientasi sosio-religious mempunyai korelasi terhadap perilaku pemilih PPP, Golkar dan PDI.

Santri cenderung memilih partai Islam dan kaum Abangan memilih partai yang tidak membela dan memajukan Islam.

Keberhasilan partai dalam mempertahankan massa lewat pendekatan ideologi bisa dibuktikan dari tetap bertahannya para pemilih mendukung partai politik mereka baik yang berasal dari segmen pemilih Santri, Abangan, maupun Piyayi.311 Keberhasilan partai-partai yang memperoleh dukungan pemilih bersumber dari ideologi bukan dari upaya sistem kaderisasi yang terprogram, namun umumnya lewat kaderisasi yang bersifat alami.312 Walau demikian, tidak semua partai mengandalakan sistem kaderisasi alami, karena ada juga dilakukan dengan sistem kaderisasi yang terpogram seperti Partai Golkar dan

penurunan yang sangat drastis. Hal ini disebabkan oleh karena PKB dilanda konflik, akibat rencana pemecatan Muhaimin Iskandar oleh Gus Dur, namun hal ini tidak bisa terlaksana.

Akibat peristiwa itu, muncul dua kubu kepemimpinan, yaitu kubu pro-Muhaimin dan kubu pro-Gus Dur, dan kubu Muhaimin memenangkan sengketa sehingga berhak untuk mengikuti pileg 2009. Namun akibat tidak adanya dukungan Gus Dur, maka konstituen yang pada pemilu 1999 dan 2004 memilih PKB, maka pada pemilu 1999 pada mengalihkan pilihan politiknya. Berdasarkan hasil analisi dokumen pemilu Malang Raya, umumnya daerah-daerah yang dulu menjadi pendukung kuat PKB menjadi pendukungnya Partai Demokrat.

311 Hasil analisis dokumen pemilu 1999 dan 2004, menunjukan bahwa PDIP, PKB, PAN dan Golkar memperoleh suara cukup signifikan. Keempat Partai tersebut, khususnya PDIP, PKB, dan Golkar pada pemilu 1999 merupakan partai yang paling dominan dalam perolehan kursi di DPRD baik Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

312 Sistem kaderisasi yang secara alami terjadi dalam masyarakat yang berperan dalam menumbuhkan identifikasi terhadap partai bisa dilihat dari kehidupan sosial masyarakat.

Pola kehidupan sosial rutin yang mewarnai aktivitas masyarakat pedesaan, seperti yang terjadi di kalangan Santri Tradisional tidak lepas dari aktivitas ritual keagamaan seperti pengajian, tahlilan, khajatan, yasinan dan lain-lain. Sementara bagi sebagian kelompok Abangan khajatan menjadi ciri khas mereka, ditambah dengan berbagai aktivitas kesenian yang merupakan ciri khas Abangan seperti jaranan (kuda lumping) dan Bantengan. Semua ini telah menumbuhkan identitas kelompok masing-masing, dan pada akhirnya berpengaruh pada identifikasi politik mereka.

PKS. Konsistensi pemilih terhadap partai politik yang punya program serta sistem kaderisasi yang jelas masih terbukti, terutama pada pemilu 1999 dan 2004. Salah satu partai yang masih punya sistem kaderisasi adalah golkar, dan pada setiap pemilu masih punya dukungan pemilih yang stabil, walau tetap mengalami penurunan.

Partai politik berusaha menguatkan ideologi partai dari mulai tingkat kader, simpatisan, sampai partisan. Pada tingkatan kader partai politik melakukannya dengan program kaderisasi, pada tingkatan partisan dilakukan dengan pelatihan, dan pada tingkat simpatisan dilakukan dengan sosialisasi.

Dalam dokumen SISTEM KEPARTAIAN INDONESIA (Halaman 185-190)