PRAGMATISME POLITIK: RESPON PARTAI TERHADAP KONDISI ELECTORAL
B. Pendekatan Pada Pemilih
2. Segmen Pemilih yang Dibidik
Strategi yang dikembangkan partai politik dengan menekankan pada ideologi telah melahirkan pola hubungan yang bersumber pada basis massa masing-masing, Partai Islam menjalin hubungan dengan Kelompok Santri dan Partai Nasionalis berhubungan dengan Kelompok Abangan.
Dalam rangka meningkatkan dan mempertahankan dukungan terhadap partai, banyak cara yang dilakukan baik yang dilakukan oleh Partai Nasionalis maupun Partai Islam. Partai Islam, dalam rangka memperkuat dukungan pemilihnya, cara yang sering dilakukan adalah dengan menanamkan doktrin-doktrin partai yang berasal dari ayat-ayat suci.313 Bahkan dalam kampanyenya pun, partai Islam seperti PKB, PPP, maupun yang lain di setting seperti acara pengajian. Para pendukung yang datang pun banyak berasal dari kalangan yang secara sosiologis sama, artinya kalau yang melakukan kampanye PKB atau PPP, maka partisipan kampanye yang datang adalah mereka yang berasal dari kelompok santri Tradisional atau NU.
Salah satu bukti bahwa tingkat fanatisme dari pemilih Santri Tradisional tinggi adalah kerelaan mereka untuk mengikuti setiap acara
313 Para tokoh politik dari partai Islam seperti PKB, PPP, PNU yang merupakan partai politik berbasis pemilih Santri Tradisional, umumnya berasal dari tokoh agama. Oleh karena itu dalam kampanya, lebih banyak di setting seperti pengajian, dengan demikian tidak bisa dibedakan antara pengajian dan kampanye politk. Tapi pada initinya, mencari pembenar untuk memilih partai, dengan agama (ayat) sebagai alat legimasi. Hasil wawancara dengan Muslimin, sebagai simpatisan PKB, menyebutkan bahwa PKB dilahirkan oleh NU, maka apabila membela PKB maka membela NU, dan membela NU sama dengan membela agama. Dengan demikian, menurut dia, untuk membela PKB apapun diberikan karena sama dengan membela agama.
Hasil wawancara dengan Muslimin, di Dusun Caru Pendem pada bulan Februari 2008.
kampanye yang dilakukan oleh partai yang punya hubungan historis dan sosiologis dengan NU, terutama PKB.314 Biasanya pemilih tradisional PKB bersedia datang ke tempat kampanye dengan biaya sendiri, salah satu alasan mengapa dia mau datang adalah untuk mendengarkan ceramah agama. Dalam tradisi di kalangan partai yang berbasis pemilih Santri Tradisional, kampanye biasanya di seting sesuai dengan kultur mereka.315
Di sisi lain, bagi Partai Nasionalis, kampanye yang dilakukan pada pemilu 1999 banyak melakukan kampanye terbuka dengan mendatangkan juru kampanye yang punya ikatan keluarga dengan mantan Presiden Soekarno.316 Lepas dari banyaknya partai yang mengatasnamakan pelanjut dari ideologi marhaen yang jadi ikon ideologis dari Partai Nasionalis, PDIP menjadi satu-satunya partai yang paling banyak mendapatkan saham politik dari PNI317 (parpol peserta pemilu 1955). Megawati yang merupakan anak sulung dari Soekarno, dan menjadi Ketua Umum PDIP, tidak bisa dipungkiri telah menjadi
314 Pemilu pasca reformasi di Malang Raya, partai politik yang menjadi pilihan masyarakat selain PDIP adalah PKB. Di lingkungan-lingkungan yang banyak pesantrennya, menunjukan fakta bahwa PKB mendapat dukungan masyoritas pemilih. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari hasil pemilu 1999, 2004. Namun pada pemilu 2009, PKB mengalami kemunduran, dan bahkan di Kota Batu PKB tidak mendapatkan wakilnya, justru yang dapat adalah PKNU.
315 Acara pengajian, Istighosah, tahlilan, maupun kegiatan ritual keagamaan kadang dijadikan sebagai media kampanye. Khusus pada acara kampanye akbar biasanya mendatangkan juru kampanye dari tingkat Nasional, dan Gus Dur menjadi “ikon” sekaligus daya tarik bagi jamaah NU. Kedatangan Gus Dur menjadi ajang dari pertemuan para pengikut setia dari kelompok Nahdilyin. Kedatangan mereka ke acara kampanye juga biasanya atas instruksi dari kyai lokal yang membina kehidupan sosial-religi yang sangat instens di lakukan.
316 Partai-partai nasionalis seperti PDIP, Partai Pelopor, dalam kampanye terbuka sering melibatkan tokoh-tokoh yang berasal dari keluarga Soekarno. Hasil observasi penulis selama penelitian ini dilaksanakan, di Malang Raya pada saat acara kampanye pemilu.
317 PNI didirikan di Bandung Tahun 1927 oleh para tokoh nasional seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini. Pada tahun 1928 berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia menjadi Partai Nasional Indonesia.1929-PNI dianggap membahayakan Belanda karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan kemerdekaan sehingga Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan perintah penangkapan pada tanggal 24 Desember 1929.
Penangkapan baru dilakukan pada tanggal 29 Desember 1929 terhadap tokoh-tokoh PNI di Yogyakarta seperti Soekarno, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja.
Pengadilan para tokoh yang ditangkap ini dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1930. Setelah diadili di pengadilan Belanda maka para tokoh ini dimasukkan dalam penjara Sukamiskin, Bandung. Dalam masa pengadilan ini Ir. Soekarno menulis pidato "Indonesia Menggugat"
dan membacakannya di depan pengadilan sebagai gugatannya. Pimpinan PNI, Ir. Soekarno diganti oleh Mr. Sartono. Mr. Sartono kemudian membubarkan PNI dan membentuk Partindo pada tanggal 25 April 1931. Moh. Hatta yang tidak setuju pembentukan Partindo akhirnya
representasi dari PDIP sebagai penerus ideologi marhaen yang banyak mendapat dukungan dari kalangan wong cilik.318
Dengan mengemas ideologi dalam strategi pemenangan pemilu pada pemilu 1999, telah menempatkan PDIP sebagai partai yang paling besar mendapatkan simpati dari pemilih. Di Malang Raya, PDIP mendominasi perolehan suara dengan jumlah 162.818 suara (41,22 persen) di Kota Malang, 510.450 suara (38,47 %) di Kabupaten Malang.
Partai Golkar yang pada saat Orde Baru selalu menjadi pilihan politik pemilih hanya mampu meraup suara sekitar 16,04 % di Kota Malang dan 18,32 % di Kabupaten Malang. Dengan perolehan suara tersebut, PDIP menempatkan diri sebagai peringkat pertama di Malang Raya.319
Tabel 5.2. Tujuh Partai Politik Pemilu 1999 yang Memperoleh Suara Cukup Signifikan di Kabupaten dan Kota Malang
Sumber: KPUD Malang Raya yang telah diolah penulis.
Keterangan: Pada pemilu 1999 Kota Batu masih berstatus Kota Administratif yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Malang.
Di sisi lain, Partai Kebangkitan Bangsa yang merupakan partai yang berbasis pemilih Santri menempati urutan kedua tersebesar setelah PDIP
membentuk PNI Baru. Ir. Soekarno bergabung dengan Partindo. Ir. Soekarno ditangkap dan dibuang ke Ende, Flores sampai dengan 1942. Pada tahun 1934 Moh. Hatta dan Syahrir dibuang ke Bandaneira sampai dengan 1942, dan pada tahun 1955 - PNI memenangkan Pemilihan Umum 1955. www.google.co.id.
318 Dalam rangka mempertegas akan keberpihakan pada wong cilik, PDIP selalu mencitrakan diri sebagai pembela wong cilik, terutama pada massa Orde Baru. Sebagai konsekuensi dari keberpihakannya pada wong cilik ini, PDI massa Orde Baru, dalam kepemimpin selalu menjadi target pemerintah untuk dilemahkan. Oleh karena itu, kejatuhan pemerintahan Orde Baru menjadi momentum baru bagi PDIP sebagai partai yang mengatasnamakan diri sebagai partainya wong cilik dalam rangka meneguhkan jati dirinya sebagai partai Nasionalis.
319 Hasil analisis dokumen pemilu di Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
yaitu 19,60 % untuk Kota Malang dan 29, 57 % untuk Kabupaten Malang, padahal secara nasional jumlah pemilih yang memberikan suaranya ke PKB ini pada tahun 1999 hanya 12,62 %. Hal ini bisa dipahami karena wilayah Jawa Timur, khususnya Malang Raya merupakan basis dari Partai NU yang pada pemilu 1955 merupakan pemenang kedua setelah Masyumi. Sementara dukungan pemilih pada partai Islam lainnya tidaklah signifikan, kecuali untuk PAN yang punya basis pemilih golongan Islam Modernis mendapat 10, 53 % di Kota Malang.
Masyarakat Abangan di Malang Raya yang cukup besar menunjukan identitas dirinya dengan memilih partai PDIP, begitupun mereka yang Santri menunjukan identitas ke-Santrian dengan memilih partai Islam.
Jika dibandingkan antara golongan pemilih Abangan dengan pemilih Santri, secara kuantitatif pemilih Abangan lebih besar, walaupun Malang ini terkenal juga dengan masyarakat Islami.320
Walaupun pada pemilu 1999, PPP, PBB, PKS, sangat getol menyuarakan syariat Islam dalam rangka meraih simpati pemilih, namun hasilnya tidak memuaskan. Berbeda dengan PKB yang tidak secara formal mencantumkan Islam sebagai asas partai, hasilnya bagi PKB cukup memuaskan karena menjadi terbanyak kedua setelah PDIP, dan yang ketiga dipegang Golkar. Artinya dalam pemilu 1999, di Malang Raya pilihan partai bukan persoalan ideologi saja, namun lebih terkait dengan persoalan identifikasi diri terhadap partai yang punya figur kharismatis dan sikap positif terhadap kinerja partai. Kalau dikaitkan dengan logika politik aliran, maka hasil pemilu 1999 masih mencermikan politik aliran seperti yang dikemukakan Geertz (1960).321 Dengan demikian, akibat dalam pemilu 1999 lebih menekankan pada ideologi, maka pilihan basis massa masing-masing sejalan dengan
320 Karena besarnya masyarakat Abangan ini, maka PDI-P Malang Raya memiliki pendukung cukup banyak yang dibuktikan dengan pilihan politik pemilih pada PDIP ketika pemilu 1999. Kemenangan PDIP di Malang Raya hampir merata di setiap daerah (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).
321 Salah satu kelemahan muncul dari penjelasan konsep aliran itu sendiri, dimana Geertz tidak konsisten memberikan definisi pada konsep yang ditemukannya itu. Dalam kontek ini Geertz di satu pihak melihat aliran sebagai sesuatu yang abstrak dengan apa yang disebut “cultural paradigm” yaitu sebuah struktur symbol yang merupakan sitem gagasan dan tingkah laku public. Namun pada saat lainnya, aliran disebutnya sebagai suatu yang bersifat riil. Lihat Joes S. Khan, Ideology and Social Structure in Indonesia, dalam Ben Anderson and Aundrey Kahin, Interpreting Indonesian politics: Thirteen Contributions to Debates, (Ithaca, Newyork: Cornell Modern Indonesia Project, South Asia Program, Cornell University, 1982), hlm. 96.
politik aliran. Partai Nasionalis, seperti PDIP, menggarap pemilih Abangan, dan Golkar menggarap pemilih Priyayi.322 Sementara Partai Islam, atau yang punya hubungan sosiologis dan historis dengan pemilih Islam menggarap pemilih Santri. PKB, PPP menggarap pemilih Santri Tradisional, dan PAN, PBB menggarap Santri Modernis.323
Memasuki pemilu 2004, sedikit terjadi perubahan dalam peta basis masa pemilih.324 Pengalaman pemilu 1999 dijadikan sebagai barometer dalam membangun strategi bagi pemenangan pemilu 2004.
Pemilih Santri yang pada pemilu 1999 cenderung fanatik dengan Partai Kebangkitan Bangsa, mulai mengalihkan pilihan politik ke partai lain pada pemilu 2004. Begitu juga dengan pemilih PDIP. Salah satu barometer yang bisa dijadikan indikator adalah menurunnya perolehan suara pada pemilu 2004 yang cukup besar di Malang Raya, khususnya yang dialami oleh PDIP dan PKB. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menjaring pemilih yang lebih luas spektrumnya, walau mereka tidak serta merta keluar dari basis tradisionalnya.
Dalam pemilu 2004 walaupun pola hubungan partai dan pemilih masih diwarnai politik aliran, namun sudah mengalami pergeseran perolehan suara yang tampak dari penururan suara PDIP, PKB, PAN maupun Golkar. Munculnya partai papan tengah baru sepeti PKS dan
322 Priyayi sebenarnya merupakan varian dari abangan, namun karena punya karakter berbeda dengan adanya “etiket” Priyayi seolah menjadi varian sendiri dalam aliran politik. Padahal Geertz, melakukan dasar analisisnya pada pola perilaku keberagaman bukan pada hubungan sosial, dengan demikian kalau Geertz menjadikan Priyayi sebagai varian tersediri di luar Abangan dan Santri itu tidak tepat. Pengukuhan kelompok Priyayi dalam konstelasi politik kepartaian muncul ketika rezim Orde baru. Masuknya pemilih Pegawai Negeri sebagai pendukung utama Golkar diasumsikan sebagai bagian dari konsekuensi dari afiliasi politik Priyayi. Orde Baru seolah menjadi legitimasi bagi kelompok Priyayi ini, dimana Golkar dijadikan sebagai penghubung bagi kelompok Priyayi untuk menjastifikasi mereka yang mengatakan bahwa aliran ini tercermin dalam kehidupan sosial maupun politik. Padahal ketika Geertz melakukan penelitiannya di Mojokuto, pare, Kota Kediri, pada saat itu yang dimaksud dengan Priyayi adalah mereka yang punya trah kerajaan (bangsawan) dan bekerja untuk pemerintah Belanda. Jelasnya mereka bukan birokrat atau pegawai negeri seperti sekarang yang diangkat dan dipilih berdasarkan rekruitmen profesional untuk kepentingan menjalankan birokrasi pemerintahan. Di simping itu konstelasi politik pada saat itu jauh berbeda dengan sekarang.
323 Hasil observasi yang dilakukan terhadap partai Amanat Nasional di Kota Malang dan Kota Batu. Hasil pemilu 1999 dan 2004, kedua daerah ini, PAN, mendapatkan suara yang cukup signifikan karena mengoptimalkan hubungan baik dengan konstituen yang berlatarbelakangan santri modernis Muhammadiyah.
324 Pada pemilu 2004, peta politik berubah seiring dengan adanya peningkatan perolehan suara dari Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. PDIP dan PKB di Malang Raya tidak lagi mendominasi perolehan suara seperti pada pemilu 1999.
Partai Demokrat menjadi indikasi adanya kecenderungan sebagian pemilih sudah meninggalkan identifikasi dirinya berdasarkan pada partai.
Gejala semakin ditinggalkannya partai oleh pemilih, lebih terang dalam pemilu 2009.325 Oleh karena itu, partai lebih mengedepankan pendekatan ekonomi daripada ideologis ketika memutuskan untuk meraih simpati pemilih. Partai lebih berpikir praktis pragmatis dalam membangun strateginya, dimana program jangka pendek yang bersifat karikatif dan berbiaya tinggi lebih menonjol ketimbang pendekatan yang bersifat ideologis. Oleh karena itu, basis massa yang digarap menjadi lebih lebar karena tidak ada hambatan ideologis. Program karikatif seperti batuan sosial seperti kesehatan, pembangunan sarana ibadah, dan lingkungan, dianggap bisa diterima oleh semua kalangan. Oleh karena itu, PKS yang merupakan partai Islam modernis, segmen massa yang di bidik pada pemilu 2009 tidak melulu kelompok massa Santri Modernis namun juga melebar ke segmen pemilih Satri Tradisional dan Abangan dengan lewat berbagai program sosialnya. Dan hasilnya pada pemilu 2009 PKS mengalami kenaikan signifikan dibanding dengan partai-partai Islam lainnya.