C. Partai Politik dan Perubahan Electoral
1. Perubahan dalam Electoral Market a. Perubahan Struktur Sosial
Perubahan electoral paling nyata datang dari adanya perubahan dalam struktur sosial masyarakat.35 Perspektif ini berawal dari loyalitas tradisional di antara kelompok sosial tertentu, seperti blue-colar worker atau petani dengan partai sosialis. Perkembangan ekonomi telah menyebabkan petani mengalami perubahan secara kuantitas sehingga mengurangi banyak pemilih dari kelompok petani. Di sisi lain perkerja kerah putih baik di sektor privat maupun publik bertambah secara dramatis. Kondisi ini mendorong lahirnya kelas menengah baru, yang memungkinkan jadi pendukung salah satu partai. Lebih jauh partai lama akan banyak ditinggalkan oleh pemilih yang telah banyak mengalami perkembangan, hal ini disebabkan oleh semakin sempitnya ruang ideologis yang diperlukan untuk memperjuangkan kepentingan dari kelompok sosial baru.
b. Structural Dealignment
Kalau perubahan struktur sosial bersandar pada asumsi mengenai kohesifitas kelompok sosial dan loyalitas kelompok pada partai politik tertentu, sementara sturctural dealignment terkait dengan hilangnya kohesifitas dari kelompok sosial tertentu. Sebagai contoh, Katolik tidak lagi memilih partai Demokrasi Kristen, dan pekerja kerah biru tidak lagi menunjukan dukungannya lagi pada Sosial Demokrat atau Partai Komunis.36 Oleh karena itu, ada kemungkinan mereka memilih partai lama yang pernah mereka dukung atau partai baru seperti Green Party atau Neo-Populis Party. Kalau kita analogkan dengan kasus di Indonesia, bisa terjadi kelompok Santri tidak lagi mendukung partai Islam, begitupun kelompok Abangan tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan partai Nasionalis. Terkait dengan kondisi electoral, kasus tersebut bisa dikatakan sebagai berikut: If these new pattern of support were to become stabilized, we could speak of realignment; were they to remain relatively unpredictable would to speak, we would to speak of dealignment.37
35 Peter Mair et.al., p. 3.
36 Peter Mair et al., hal 3-4.
37 Russell J. Dalton, Scott C. Flanagan, and Paul Alan Beck, Electoral Change in Advance Industrial Democracies, Realignment or Dealignment? Prencinton, NJ: Prencinton University Press, 1984.
Peter Mair et al. Hal 4.
c. Menurunnya Identifikasi Partai
Identifikasi partai merujuk pada ikatan pemilih pada level individu dari pada kelompok. Konsep identifikasi ini awalnya dikembangkan dalam kajian di Amerika yang berusaha mengukur keterikatan secara spikologis pada partai tertentu. Terbangunnya identifikasi partai berawal dari masa kecil yang terus berlanjut seumur hidup.38 Terjadinya perubahan identifikasi kepartaian sangat erat kaitannya dengan perubahan lingkungan sosial, yang memaksa orang untuk menyesuaikan nilai-nilai politik dari lingkungan baru.39 Oleh karena itu, menurut Campbel et al. bisa dikatakan .... The stronger the party identification, the more likely it was that the individual would remain a loyal partisan voter.40 Kasus yang terjadi di Indonesia, mereka yang punya tingkat kesantrian yang kuat akan cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan partai Islam, dan sebaliknya mereka yang punya tingkat kesantriannya rendah akan mengidentifikasikan dirinya dengan partai Nasionalis.41
d. Perubahan Orientasi Isu
Sejak tahun 1970-an, sejumlah literatur membahas mengenai orientasi nilai warga negara, dengan bertambahnya nilai post-materialisme (atau lebih kini, post modern). Dengan adanya perubahan orientasi nilai mungkin akan lebih menyulitkan bagi pemerintah, dalam menentukan pilihan umum kebijakan, jika dibdandingkan dengan partai politik yang hanya bergerak pada saat pemilu. Di satu sisi pemerintah harus bekerja dalam mayoritas agar pemerintahannya dapat survive dan bekerja dengan efektif, sementara parpol harus dapat memuaskan konstituennya dengan memenangkan koalisi seminimal mungkin.
Dengan semakin heterogennya nilai yang ada dalam masyarakat, pekerjaan pemerintah semakin sulit, karena harus mengurangi bobot masing-masing kelompok minoritas. Di samping itu juga, partai harus memperhatikan kelompok minoritas baru, dan ini artinya mereka harus hati-hati dari pada sebelumnya dalam menentukan target kelompok
38 Philip E. Converse, Of Time and Partisan Stability, Comparative Political Studies 2: 1969, 139-71.
Peter Mair et al.,4
39 Angus Campbell, Phillip E. Converse, Warren E. Miller and Donald E. Stokes, The American Voter. New York: Wiley, 1960.
40 Campbel et al, hal. 120-8
41 Lihat Afan Gaffar, Javanese Voters, A Case Study of Election Under Party a Hegemonic Party System, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992.
mereka untuk pemilu berikutnya, atau dalam pembentukan koalisi di parlemen.42
e. Kompetisi Isu
Partai politik tidak bisa hanya bergantung pada perubahan alamiah terkait dengan pemilu, mereka harus menentukan perubahan itu sendiri. Syaratnya adalah mereka harus mengidentifikasi sesuatu yang baru dan memenangkan isu, lantas mempopulerkan isu tersebut.
Keharusan partai dalam membangun isu baru untuk memenuhi harapan konstituen, telah menempatkan partai dalam kondisi di bawah tekanan, karena isu baru belum tentu bisa diterima. Oleh karena itu, tidak jarang, partai politik harus mempertahankan atau mengusung isu lama sambil memperhatikan perkembangan dan kemungkinan munculnya isu baru yang lebih relevan. Berkenaan dengan hal ini Mair et al., mengemukakan, “in order to avoid future defeat, these parties have to defend the importance of their old issues as well as to monitor development that may bring new issues on to the agenda.”43
f. Fluktuasi antara Partai Pemerintah dan Oposisi
Perubahan dukungan pemilih partai juga bisa dijelaskan dari apakah statusnya sebagai incumbent atau oposisi. Alasannya adalah partai pemerintah dapat berbuat lebih baik karena punya kesempatan untuk memanipulasi ekonomi, akses mereka kepada media, (dan di lain negara, dapat menentukan tanggal pemilihan umum).44 Partai berkuasa juga punya keuntungan terkait akses untuk patronase. Walaupun demikian, pandangan sebaliknya, yang menyebutkan bahwa partai berkuasa akan mendapat kritikan dari kebijakan jangka pendek dan kebijakan yang tidak populer.45
g. Krisis Partai
Krisis partai merupakan sumber penyebab utama terjadinya perubahan electoral market. Fungsi partai sebagai penghubung antara
42 Lihat Peter Mair, Wofgang C. Muller, dan Printz Plasser, Political Party and Electoral Change, London: SAGE Publications Ltd. 2004
43 Peter Mair et al., hal 7.
44 Kaare Strom and Swindel, Stephen M. Strategic Parliamentary Dissolution, American Political Science Review 96, 2002. Peter Mair et al, hal. 7.
45 Richard Rose and Thomas T. Mackie, Incumbency in Government: Assert or Liability? In Hans Daalder and Peter Mair (eds), Western Europen Party System: Continuity and Change, London:
Sage. Dalam Peter Mair et al., hal. 11.
warga negara dengan institusi politik dan proses pengambilan kebijakan.46 Jika warga negara merasa tidak bisa memilih partai yang dapat melayani kepentingan mereka dan mempengaruhi keputusan, hal ini akan menyebabkan “krisis partai”.47 Persoalan ini akan diikuti dengan tantangan besar, salah satunya adalah rendahnya partisipasi pemilih. Kekacauan electoral dan pengikisan afiliasi politik juga merupakan petunjuk dari krisis partai.