BAB IV PENGUJIAN MATERIAL ASPAL
4.7 Pengujian Kelarutan Bitumen Dalam Trichloroetylene (TCE)
Apabila suhu benda uji mencapai kira-kira 56 0C di bawah perkiraan titik nyala, turunkan kecepatan pemanasan sedemikinan rupa sehingga sejak suhu benda uji mencapai 28 0C di bawah perkiraan titik nyala, kecepatan pemanasan adalah sekitar 5 - 6 0C per menit (dapat ditetapkan 5 0C/menit). Catat pada Lampiran 2-4: waktu (pukul) pada saat benda uji mencapai suhu yang ditetapkan di catat pada Kotak F1 sampai dengan Kotak F11 dan ) dan suhu benda uji dicatat pada Kotak G1 sampai dengan Kotak G11.
Pada saat suhu benda uji kira-kira 28 0C di bawah perkiraan titik nyala,
sapukan/lewatkan penyulut secara bolak-balik pada permukaan benda uji dan baca suhu pada tiap kenaikan 2 0C. Dalam hal tersebut, satu kali penyapuan penyulut harus dilakukan dalam waktu sekitar 1 detik.
Catat (pada Kotak H Lampiran 2-4) suhu pada saat di suatu titik pada permukkan benda uji terlihat kilat (nyala api singkat).
Untuk mendapatkan titik bakar aspal, ulangi langkah penyapuan penyulut dan pencatatan suhu, sampai pada permukaan benda uji mulai nampak bara api dan sampai berlangsung pembakaran selama sekurang-kurangnya 5 detik.
Catat (pada Kotak M Lampiran 2-4) suhu pada saat di suatu titik pada permukkan benda uji terlihat bara api selama 5 detik.
Ulangi langkah-langkah di atas untuk benda uji yang lain dan catat data pengujian pada Kotak I1 sampai dengan Kotak I11, Kotak J1 sampai dengan Kotak J11, Kotak K, dan Kotak N.
Rata-ratakan nilai pada Kotak H dan Kotak K dan catat pada Kotak L sebagai titik nyala rata-rata; rata-ratkan pula nilai pada Kotak M dan Kotak N dan catat pada Kotak O sebagai titik bakar rata-rata.
4.6.3 Pelaporan Hasil Pengujian
Semua data yang terkait dengan contoh aspal dan pengujian harus dicatat dalam formulir yang telah disiapkan, yaitu dengan cara mengisi kotak-kotak seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2-4.
Titik nyala aspal yang dilaporkan adalah nilai rata-rata hasil pengujian dua benda uji, seperti yang tercatat pada Kotak L; sedangkan titik bakar aspal yang dilaporkan adalah nilai rata-rata hasil pengujian dua benda uji, seperti yang tercatat pada Kotak O.
4.7 Pengujian Kelarutan Bitumen Dalam Trichloroetylene (TCE)
Tujuan pengujian kelarutan adalah untuk mengetahui kemurnian aspal keras. Secara prinsip, pengujian kelarutan dilakukan dengan cara melarutkan aspal (mempunyai berat tertentu) dilarutkan dalam trichloroethylene (dapat melarutkan bahan perekat dalam aspal, tetapi tidak melarutkan garam, karbon bebas, dan bahan nonorganik). Aspal yang telah dilarutkan kemudian disaring dan bahan yang tertahan pada penyaring (bahan yang tidak larut) selanjutnya dicuci, dikeringkan, dan ditimbang. Bahan yang tidak larut
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 70
Buku Informasi Edisi 2013
merupakan kotoran dan dinyatakan sebagai proporsi (persentase) terhadap berat benda uji. Spesifikasi biasanya mensyaratkan bahwa porsi minimum kelarutan aspal dalam trichloroethylene adalah 99 persen.
Pengujian kelarutan mencakup hal-hal sebagai berikut:
Penyiapan formulir dan pencatatan informasi/data umum dalam formulir.
Penyiapan benda uji.
Prosedur pengujian.
Pelaporan hasil pengujian.
Informasi/data umum adalah informasi/data yang pencatatannya dalam formulir tidak didasarkan pada hasil pengujian dan dapat dilakukan menjelang pengujian.
Pencatatan informasi/data umum dan data hasil pengujian daktilitas dilakukan dengan cara mengisi kotak-kotak seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2-5. .
4.7.1 Penyiapan Contoh Uji Dan Gelas Gooch a. Penyiapan Contoh Uji
Ambil sebagian contoh aspal secukupnya sebagai contoh uji. Apabila contoh uji tidak cukup cair, panaskan contoh uji dengan hati-hati sehingga dapat dituangkan (pemanasan tidak boleh lebih dari 100 0C di atas titik lembek). Aduk benda uji secara hati-hati agar panas merata dan contoh uji homogen. Catat pada Lampiran 2-5: waktu mulai pemanasan contoh dicatat pada Kotak A1, waktu selesai pemanasan contoh dictatat pada Kotak A2, dan suhu pemanasan contoh dicatat pada Kotak A3.
b. Penyiapan Peralatan
Lakukan penyiapan cawan Gooch melalui langkah-langkah sebagai berikut:
Lakukan perakitan peralatan penyaring sehingga terbentuk susunan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 8.
Letakkan bantalan penyaring dalam cawan Gooch.
Lumuri bantalan penyaring dengan trichloroethylene dan dudukkan (melalui pengisapan ringan) bantalan pada dasar cawan Gooch.
Keringkan cawan Gooch dan isinya pada 110+5 0C selama sekurang-kurangnya 20 menit.
Masukkan cawan Gooch dan isinya ke dalam desikator selama sekurang-kurangnya 20 menit.
Timbang cawan Gooch dan isinya. Catat pada Lampiran 2-5: waktu mulai penimbangan dicatat pada Kotak B1 dan waktu selesai penimbangan dicatat pada Kotak B2.
Ulangi penimbangan cawan Gooch dan isinya sampai beratnya tetap, yaitu dalam rentang ketelitian +0,3 mg, misal beratnya sama dengan A, dan catat pada Kotak E5 Lampiran 2-5.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 71
Buku Informasi Edisi 2013
Masukkan cawan Gooch dan isinya ke dalam desikator agar siap digunakan untuk pengujian.
4.7.2 Prosedur pengujian
Dengan menggunakan Cawan Gooch dan menurut RSNI M-04-2004, pengujian kelarutan aspal secara lebih rinci dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Keluarkan cawan Gooch dan isinya dari desikator.
Masukkan kira-kira 2 gram benda uji ke dalam labu Erlenmeyer yang sebelumnya sudah ditimbang dengan ketelitian 0,001 gram. Catat pada Lampiran 2-5: berat labu Erlenmeyer kosong dicatat pada Kotak E2 dan berat aspal (misal B) dicatat pada Kotak E3.
Diamkan labu Erlenmeyer dan isinya sampai mencapai suhu ruang.
Timbang Erlenmeyer dan isinya dengan ketelitian 0,001 gram, misal beratnya sama dengan B, dan catat pada Kotak E1 Lampiran 2-5.
Tambahkan 100 ml trichloroethylene atau trichloroethane ke dalam labu Erlenmeyer.
Tutup labu Erlenmeyer dan goyangkan secara berputar sampai benda uji larut dan tidak ada bagian benda uji yang tidak larut menempel pada labu
Erlenmeyer. Catat pada Lampiran 2-5: waktu mulai pelarutan dicatat pada Kotak C1.
Diamkan labu Erlenmeyer sekurang-kurangnya selama 15 menit dan periksa keberadaan bagian yang tidak larut. Catat pada Lampiran 2-5: waktu selesai pelarutan dicatat pada Kotak C2.
Siapkan cawan Gooch di atas tabung penyaring.
Basahi saringan fiber glas atau asbestos dengan sedikit pelarut.
Tuangkan larutan melalui saringan fiber gelas atau asbestos dalam cawan Gooch dibantu vakum dari pompa aspirator, sampai semua larutan tertuang ke dalam cawan Gooch.
Biarkan bagian yang tidak larut tertinggal di dalam labu Erlenmeyer.
Cuci labu Erlenmeyer dengan sedikit pelarut dan pindahkan semua bagian yang tidak larut ke dalam cawan Gooch.
Gunakan batang pengaduk berujung karet jika dibutuhkan untuk memindahkan bahan yang tidak larut dan menempel pada labu Erlenmeyer ke dalam cawan Gooch; kemudian cuci batang pengaduk bersama labu Erlenmeyer.
Cuci bahan yang tidak larut dalam cawan Gooch dengan pelarut sampai bersih atau sampai larutan tidak berwarna.
Lepaskan cawan Gooch dari tabung penyaring dan cuci bagian bawah cawan Gooch hingga bebas dari bahan yang larut.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 72
Buku Informasi Edisi 2013
Keringkan cawan Gooch dan isinya pada suhu 110 ± 5 0C sekurang-kurangnya selama 20 menit.
Dinginkan cawan Gooch dan isinya di dalam desikator skurangnya selama 20 menit dan tentukan beratnya, misal sama dengan C. Berat cawan Gooch dan bahan tidak larut dicatat pada Kotak E4 Lampiran 2-5.
Ulangi langkah pengeringan, pendinginan dan penimbangan, sampai diperoleh berat yang konstan dengan ketelitian ± 0,0003 g. Catat sebagai berat cawan Gooch dengan bagian tidak larut (misal sama dengan C).
Hitung persentase bahan yang tidak larut dengan rumus 100
B x A C
dan catat hasilnya pada Kotak E6 Lampiran 2-5.
Hitung persentase bahan yang larut dengan rumus 100 - x100
B A C
dan catat hasilnya pada Kotak E7 Lampiran 2-5.
Ulangi langkah-langkah di atas untuk benda uji yang lain dan catat hasilnya pada kotak-kotak Kotak F1 sampai dengan Kotak F7 Lampiran 2-5.
Hitung nilai rata-rata persentase bahan yang tidak larut dan persentase bahan yang larut pada Kotak G1 dan Kotak G2 Lampiran 2-5.
4.7.3 Pelaporan Hasil Pengujian
Semua data yang terkait dengan contoh aspal dan pengujian (termasuk hasil perhitungan) harus dicatat dalam formulir yang telah disiapkan, yaitu dengan cara mengisi kotak-kotak seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2-5.
Laporkan persentase bahan yang tidak larut dan bahan yang larut. Apabila bahan yang tidak larut kurang dari 1,0 persen, laporkan persentase bahan yang tidak larut dan bahan yang larut sampai 0,01 persen terdekat; Apabila bahan yang tidak larut 1,0 persen atau lebih, laporkan persentase bahan yang tidak larut dan bahan yang larut sampai 0,1 persen terdekat.