• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENGUJIAN MATERIAL ASPAL

4.3 Pengujian Penetrasi

Apabila kemasan contoh yang diambil lebih dari satu buah, maka berat masing-masing contoh material aspal yang diambil dari tiap kemasan tidak boleh kurang dari 0,2 kg.

Apabila paket aspal terdiri atas beberapa kemasan yang berasal dari hasil produksi yang sama (single run), maka seluruh contoh harus dilelehkan dan kemudian dicampur dan diaduk secara merata. Untuk keperluan pengujian, selanjutnya diambil contoh sekurang-kurangnya 1 kg.

Apabila paket aspal berasal dari beberapa hasil pengiriman atau produksi yang berbeda-beda dan masing-masing pengiriman atau produksi dapat dikenali dengan mudah, maka contoh yang diambil dari masing-masing pengiriman atau produksi merupakan gabungan contoh dari masing-masing pengirman/produksi tersebut, dimana volume contoh gabungan adalah sekurang-kurangnya 1 kg.

Apabila masing pengiriman/produksi sulit dibedakan, maka masing-masing contoh dari setiap kemasan harus diuji secara sendiri-sendiri.

c. Cara Pengamanan Contoh

Agar contoh material aspal tidak tekontaminasi atau rusak, baik selama pengiriman maupun penyimpanan, maka contoh harus dimasukkan dalam wadah yang kokoh dan tidak mudah bocor. Disamping itu, wadah contoh perlu dibubuhi label yang tidak mudah rusak/lepas serta dibubuhi tulisan tentang, antara lain, nomor contoh, asal contoh, kelas aspal, tanggal pengambilan contoh.

d. Pencatatan Data Contoh

Untuk kelengkapan data pengujian, informasi/data tentang contoh harus dicatat pada formulir tiap pengujian dengan cara yang ditunjukkan pada Lampiran 2.

4.3 Pengujian Penetrasi

Dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi aspal keras, pengujian penetrasi pada prinsipnya dilakukan dengan cara meletakkan ujung jarum standar tepat pada permukaan benda uji yang mempunyai suhu 25 0C; selanjutnya jarum dilepaskan sehingga akibat berat jarum, batang pemegang jarum, dan pembeban (100 gram), jarum dibiarkan selama 5 detik menembus benda uji. Panjang jarum yang menembus benda uji dinyatakan dalam satuan 0,1 mm (dmm) dan merupakan angka penetrasi.

Pengujian penetrasi mencakup hal-hal sebagai berikut:

 Penyiapan formulir dan pencatatan informasi/data umum dalam formulir.

 Penyiapan benda uji.

 Prosedur pengujian.

 Pelaporan hasil pengujian.

Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal

Halaman 61

Buku Informasi Edisi 2013

Yang dimaksud informasi/data umum adalah informasi/data yang pencatatannya dalam formulir tidak didasarkan pada hasil pengujian dan dapat dilakukan menjelang pengujian.

Pencatatan informasi/data umum dan data hasil pengujian penetrasi dilakukan dengan cara mengisi kotak-kotak seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2-1.

4.3.1 Penyiapan Benda Uji

Agar hasil pengujian penetrasi akurat, maka penyiapan benda uji untuk pengujian penetrasi harus dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

 Panaskan sekitar 100 gram aspal sampai mencair.

 Sambil diaduk secara hati-hati (untuk menghindarkan pemanasan lokal),

naikkan suhu pemanasan aspal sampai tidak lebih dari 100 0C di atas perkiraan titik lembeknya. Pada saat pengadukan, hindarkan masuknya udara ke dalam benda uji. Untuk mencapai suhu penuangan, pemanasan aspal tidak boleh lebih dari 30 menit. Catat pada Lampiran L2-1: suhu pemanasan dicatat pada Kotak A1, waktu mulai pemanasan dicatat pada Kotak A2, dan waktu selesai pemanasandicatat pada Kotak A3.

 Tuangkan sebagian aspal ke dalam cawan benda uji sedemikian rupa sehingga tebal benda uji pada suhu pengujian sekurang-kurangnya 10 mm lebih besar dari perkiraan kedalaman masuknya jarum penetrasi.

 Ulangi penuangan di atas untuk benda uji yang lain, bila diperlukan.

 Tutup cawan benda uji agar benda uji tidak terkotori debu.

 Dinginkan benda uji pada ruang terbuka yang suhunya antara 20 dan 30 0C, selama sekitar 1½ sampai 2 jam (apabila digunakan cawan benda uji yang volumenya 175 ml), atau sekitar 1 sampai 1½ jam (apabila digunakan cawan benda uji yang volumenya 90 ml. Catat pada Lampiran 2-1: waktumulai pengkondisian benda uji dicatat pada Kotak B1 dan waktuselesai pengkondisian benda uji dicatat pada Kotak B2.

 Masukkan benda uji ke dalam penangas dan atur suhu penangas pada suhu pengujian (25 0C).

 Biarkan benda uji di dalam penangas selama sekitar 1½ sampai 2 jam (apabila digunakan cawan benda uji yang volumenya 175 ml), atau sekitar 1 sampai 1½ jam (apabila digunakan cawan benda uji yang volumenya 90 ml. Catat pada Lampiran 2-1: waktumulai perendaman dicatat pada kotak C1 dan waktuakhir perendaman dicatat pada Kotak C2.

4.3.2 Prosedur Pengujian

Pengujian penetrasi biasanya dilakukan terhadap dua benda uji dan untuk masing-masing benda uji, pengujian harus dilakukan pada sekurang-kurangnya tiga titik di permukaan benda uji.

Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal

Halaman 62

Buku Informasi Edisi 2013

Dengan peralatan yang ditunjukkan pada Gambar 1 dan mengacu pada SNI 06-2456-1991, langkah-langkah pengujian penetrasi adalah sebagai berikut:

Periksa batang pemegang jarum dan pengarah (guide) agar dipastikan bahwa pada bagian alat tersebut tidak terdapat air atau bahan lain yang mengganggu.

 Bersihkan jarum penetrasi dengan toluen atau pelarut lain yang cocok, kemudian keringkan dengan menggunakan lap bersih.

 Pasang jarum pada pemegangnya.

 Pasang beban yang beratnya 50 gram sehingga batang pemegang jarum, jarum, dan beban mempunyai berat total 100+0,1 gram, kecuali apabila ditetapkan lain.

 Apabila pengujian dilakukan dengan penetrometer yang diletakkan pada penangas, letakkan cawan benda uji pada dudukan benda uji; apabila

pengujian dilakukan dengan benda uji berada di dalam penangas sedangkan penetrometer berada di luar penangas, letakkan cawan benda uji pada rak penangas. Selama pengujian, cawan benda uji harus benar-benar terendam).

 Apabila pengujian dilakukan dengan menggunakan cawan pemindah dan penetrometer berada di luar penangas, masukkan cawan benda uji ke dalam cawan pemindah yang berisi air suling sehinggan cawan benda uji terendam.

Tempatkan cawan pemindah pada dudukan benda uji yang terdapat pada peralatan penetrasi.

 Turunkan jarum penetrasi sehingga ujungnya tepat menyentuh permukaan benda uji. Persentuhan antara ujung jarum dengan permukaan benda uji dinilai sudah tepat apabila ujung jarum sudah terlihat berimpit dengan bayangannya.

Bayangan ujung jarum pada permukaan benda uji dapat terbentuk melalui bantuan lampu yang ditempatkan secara tepat.

 Atur posisi jarum arloji penetrasi pada angka nol.

 Turunkan jarum sehingga menembus benda uji dan setelah 5 detik, baca (pada arloji penetrasi) kedalaman penetrasi. Apabila selama pengujian, wadah benda uji bergerak, maka pengujian dianggap gagal. Catat hasil pembacaan penetrasi pada Kotak E1 Lampiran L2-1.

 Ulangi pengujian penetrasi pada sekurang-kurangnya dua titik lain yang masing-masing terletak sekurang-kurangnya 10 mm dari tepi cawan benda uji dan jarak antara titik-titik pengujian sekurang-kurangnya 10 mm. Apabila pengujian dilakukan dengan menggunakan cawan pemindah, maka sebelum pengujian penetrasi pada titik yang lain, wadah benda uji harus dimasukkan terlebih dulu ke dalam penangas dan jarum penetrasi harus dibersihkan dengan cara yang telah disebutkan di atas. Apabila benda uji mempunyai penetrasi yang lebih dari 200, maka pengujian harus dilakukan dengan menggunakan sekurang-kurangnya tiga buah jarum, yang masing-masing dibiarkan tertancap pada benda uji sampai pengujian selesai. Catat Lampiran

Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal

Halaman 63

Buku Informasi Edisi 2013

L2-1: hasil pembacaan penetrasi titik-titik lain dicatat pada Kotak E2 sampai dengan Kotak E5 (untuk pengujian 5 titik). Catat pula nilai rata-ratanya pada Kotak E6.

 Ulangi langkah-langkah di atas untuk pengujian benda uji yang ke dua dan catat hasil pengujian pada Kotak F1 sampai dengan Kotak F5 Lampiran L2-1.

Catat pula nilai rata-ratanya pada Kotak G6.

4.3.3 Pelaporan Hasil Pengujian

Semua informasi/data umum dan data hasil pengujian penetrasi harus dicatat dalam formulir yang telah disiapkan, yaitu dengan cara seperti yang ditunjukkan pada Lampiran 2-1.

Hasil pengujian penetrasi yang dilaporkan adalah nilai rata-rata hasil pengujian dua benda benda uji (nilai rata-rata dinyatakan dalam angka bulat) dan dicatat pada Kotak G Lampiran 2-1. Dalam hal tersebut, hasil pengujian tiap benda uji adalah nilai rata-rata hasil pengujian pada sekurang-kurangnya 3 (tiga) titik yang dinyatakan dengan angka bulat. Nilai rata-rata hasil pengujian masing-masing benda uji dicatat pada Lampiran 2-1: Kotak E6 dan Kotak F6.

Perlu diperhatikan bahwa perbedaan antara nilai penetrasi pada titik-titik pengujian tidak boleh lebih dari nilai yang ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 4. Perbedaan maksimum ijin hasil penetrasi pada titik-titik pengujian Rentang angka penetrasi 0 - 49 50-149 150 - 249 >250 Perbedaan maksimum angka

penetrasi tertinggi dan terendah 2 4 6 8

Dokumen terkait