BAB IV PENGUJIAN MATERIAL ASPAL
4.2 Persiapan Pengujian Aspal
4.1.4 Tujuan Pengujian
Dapat dipahami bahwa salah satu faktor penting yang mempengaruhi mutu beton aspal adalah mutu aspal. Oleh karena itu, maka aspal yang akan digunakan untuk beton aspal harus terlebih dulu dipastikan bahwa mutu atau sifat-sifatnya telah memenuhi persyaratan/spesifikasi yang disepakati.
Mutu atau sifat-sifat aspal yang sebenarnya (sesuai dengan sifat-sifat di lapangan) hanya dapat diketahui melalui pengujian. Dengan demikian, maka tujuan pengujian aspal adalah untuk memastikan atau menjamin bahwa aspal yang digunakan sebagai beton aspal telah memenuhi persyaratan/spesifikasi yang disepakati. Disamping itu, tujuan pengujian aspal adalah untuk mengetahui sifat-sifat aspal yang diperlukan untuk menjamin keselamatan pada saat penanganan aspal dan produksi beton aspal; misal untuk pencampuran beton aspal di pusat pencampur aspal, aspal hanya boleh dipanaskan sampai suhu tertentu.
Dengan membandingkan sifat-sifat aspal keras hasil pengujian dengan sifat-sifat aspal keras yang disyaratkan (lihat Tabel 1), maka aspal keras dapat dinyatakan memenuhi atau tidak memenuhi untuk beton aspal.
4.1.5 Lingkup Pengujian Aspal Keras
Sesuai dengan Elemen Kompetensi yang disebutkan pada Angka 2.3.5, lingkup pengujian material aspal mencakup:
a. Persiapan pengujian.
b. Pengujian penetrasi.
c. Pengujian titik lembek.
d. Pengujian daktilitas.
e. Pengujian titik nyala.
f. Pengujian kelarutan.
g. Pengujian kehilangan berat.
h. Pengujian penetrasi setelah kehilangan berat.
i. Perangkuman hasil pengujian.
4.2 Persiapan Pengujian Aspal
Agar pengujian material aspal (selanjutnya disebut aspal) dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (standar) sehingga memberikan hasil yang akurat dan mewakili sifat-sifat aspal yang akan digunakan untuk beton aspal, maka terlebih dulu perlu dilakukan persiapan pengujian yang seksama.
Persiapan pengujian aspal mencakup empat kegiatan sebagai berikut:
a. Penyiapan buku pedoman pengujian aspal.
b. Penyiapan formulir pengujian aspal.
c. Penyiapan peralatan pengujian aspal.
d. Penyiapan contoh aspal.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 47
Buku Informasi Edisi 2013
4.2.1 Penyiapan Buku Pedoman
Untuk menunjang pelaksanaan pengujian aspal, maka di tiap instansi atau laboratorium pengujian aspal perlu tersedia buku-buku pedoman yang terkait dengan pengujian aspal. Hal tersebut dimaksudkan untuk menunjang para teknisi laboratorium aspal dalam melaksanakan pengujian aspal; misal, pada saat teknisi laboratorium lupa atau ragu-ragu tentang suatu hal, atau pada saat teknisi laboratorium ditanya dasar pengujian. Oleh karena itu, maka seorang teknisi laboratorium aspal harus mampu mengumpulkan buku pedoman dan selanjutnya memahami tujuan pengumpulan buku pedoman tersebut.
Buku pedoman pengujian yang perlu disiapkan atau dikumpulkan di laboratorium pengujian aspal sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. SNI 03-6399-2000 : Tata Cara Pengambilan Contoh Aspal.
b. SNI 06-2456-1991 : Metode Pengujian Penetrasi Bahan-Bahan Bitumen.
c. SNI 06-2434-1991 : Metode Pengujian Titik Lembek Aspal Dan Ter.
d. SNI 06-2432-1991 : Metode Pengujian Daktilitas Bahan-Bahan Aspal.
e. SNI 06-2433-1991 : Metode Pengujian Titik Nyala Dan Titik Bakar Dengan Cleveland Open Cup.
f. RSNI M-04-2004 : Metode Pengujia Kelarutan Aspal
g. SNI 06-2441-1991 : Metode Pengujian Berat Jenis Aspal Padat.
h. SNI 06-2440-1991 : Metode Pengujian Kehilangan Berat Minyak Dan Aspal Dengan Cara A.
Disamping buku-buku pedoman di atas, buku yang perlu disiapkan di laboratorium aspal adalah Buku Spesifikasi Umum Bina Marga 2010. Karena buku tersebut merupakan acuan untuk menilai bahwa aspal yang diuji memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat untuk beton aspal, maka teknisi laboratorium harus mampu menafsirkan dan mengaplikasikan spesifikasi aspal yang tercantum dalam buku spesifikasi (lihat Tabel 1).
4.2.2 Penyiapan Formulir Pengujian Aspal
Data tentang hasil pengujian aspal harus dicatat pada formulir yang sesuai dengan jenis pengujian. Disamping untuk mencatat data tentang hasil pengujian, dalam formulir perlu dicatat pula data/informasi lain yang terkait dengan pengujian;
misal tentang jenis dan nama pengirim contoh, nama teknisi laboratorium yang menguji, nama pejabat/petugas yang memeriksa hasil pengujian. Pencatatan tersebut dimaksudkan agar semua data/informasi yang terkait dengan pengujian dapat disajikan dalam formulir sehingga memudahkan penyerahan/pendistribusian hasil pengujian aspal kepada pihak-pihak yang terkait serta memudahkan penelusuran kembali data (bila sewaktu-waktu diperlukan) dan memudahkan pendokumentasian data.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 48
Buku Informasi Edisi 2013
Sehubungan dengan hal di atas, maka di laboratorium aspal harus selalu tersedia formulir pengujian dan menjadi tugas teknisi laboratorium untuk menyediakan formulir tersebut, sesuai dengan keperluan pengujian.
Dalam rangka menyiapkan formulir, tentunya seorang teknisi laboratorium aspal harus mampu menguasai hal-hal sebagai berikut:
Pengetahuan tentang tujuan penyiapan formulir.
Pengetahuan tentang informasi/data yang perlu dicatat dalam formulir.
Pengetahuan tentang cara menentukan jenis dan jumlah lembar formulir.
Keterampilan dalam menggunakan dan mengisi formulir secara teliti.
Keterampilan dalam menyimpan formulir.
Keterampilan dalam menyampaikan/mendistribusikan formulir yang sudah diisi lengkap.
Sesuai dengan jenis pengujian aspal keras, formulir pengujian yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:
a. Formulir pengujian penetrasi.
b. Formulir pengujian titik lembek.
c. Formulir pengujian daktilitas.
d. Formulir pengujian kelarutan.
e. Formulir pengujian berat jenis.
f. Formulir pengujian kehilangan berat.
g. Formulir rangkuman hasil pengujian.
Contoh-contoh formulir di atas ditunjukkan pada Lampiran 1.
4.2.3 Penyiapan Peralatan Pengujian Aspal
Agar pengujian aspal keras dapat dilakukan, maka peralatan dan bahan pengujian aspal keras mutlak harus sudah tersedia di laboratorium aspal.
Dalam rangka menyiapkan peralatan untuk pelaksanaan pengujian aspal keras, seorang teknisi laboratorium aspal dituntut untuk menguasai hal-hal sebagai berikut:
Pengetahuan tentang jenis, bagian, dan komponen peralatan pengujian.
Pengetahuan tentang jenis dan kuantitas bahan pengujian.
Pengetahuan tentang kegunaan tiap jenis peralatan dan bahan pengujian.
Keterampilan dalam menempatkan tiap jenis peralatan pengujian, termasuk bagian-bagiannya.
Keterampilan dalam menyimpan bagian peralatan dan bahan pengujian.
Keterampilan dalam melepas, menyimpan, dan merakit kembali komponen-komponen peralatan tertentu.
Jenis dan bagian/komponen peralatan serta bahan untuk pengujian aspal keras diuraikan lebih lanjut di bawah.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 49
Buku Informasi Edisi 2013
a. Peralatan Pengujian Penetrasi
Peralatan yang digunakan pada pengujian penetrasi aspal terdiri atas:
Peralatan penetrasi (penetration apparatus).
Jarum (needle).
Cawan benda uji (container).
Penangas atau bak perendaman (water bath).
Mangkuk pemindah benda uji (transfer dish), apabila diperlukan.
Pencatat waktu (timing device).
Pemanas (heater), dapat terdiri atas kompor listrik atau alat lain sejenis.
1) Peralatan Penetrasi (penetration apparatus)
Peralatan penetrasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Mempunyai susunan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1a.
Memungkinkan pemegang jarum (spindle) dapat bergerak secara vertikal tanpa hambatan yang berarti.
Terdiri atas komponen-komponen utama sebagai berikut:
Batang pemegang jarum (spindle) dan beban.
Dudukan/alas wadah benda uji.
Tombol – untuk melepas batang pemegang jarum.
Arloji penetrasi – untuk membaca penetrasi jarum.
Cermin – untuk membantu melihat persentuhan ujung jarum dengan permukaan benda uji.
Batang pemegang jarum – berat 47,5 + 0,05 gram (berat batang pemegang jarum dan jarum adalah 50,0 + 0,05 gram).
Beban – berat 50,0 + 0,05 gram.
2) Jarum Penetrasi (needle)
Jarum penetrasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Mempunyai sertifikat dari pabrik.
Terbuat dari baja yang tahan karat, Kelas 440 C atau setara, HRC 54 sampai 60.
Mempunyai panjang +50 mm dan diameter 1,00-1,02 mm, seperti ditunjukkan pada Gambar 1b.
Mempunyai ujung berbentuk kerucut terpancung bersudut 8,70 – 9,70 dan mempunyai ketajaman (diameter) ujung sekitar 0,14 – 0,16 mm.
Sumbu kerujut terletak satu garis dengan sumbu badan jarum.
Bagian jarum yang tampak pada saat terpasang mempunyai panjang sekitar 40 – 45 mm.
3) Cawan Benda Uji (container)
Cawan benda uji harus memenuhi sekurang-kuragnya persyaratan sebagai berikut:
Terbuat dari logam atau gelas dan berbentuk silinder.
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 50
Buku Informasi Edisi 2013
Mmempunyai dasar yang rata.
Mempunyai kapasitas nominal 90 ml.
Mempunyai diameter 55 mm dan tinggi 35 mm.
4) Bak Perendaman (waterbath)
Bak perendaman, atau biasa disebut juga penangas, harus memenuhi sekurang-kurangnya persyaratan sebagai berikut:
Dapat mempertahankan suhu pengujian (25 0C) dengan variasi yang tidak lebih dari 0,1 0C.
Mempunyai tinggi sedemikian rupa sehingga rak berlubang (perforated shelf) yang diletakkan di dalamnya berada pada posisi tidak kurang dari 50 mm di atas dasar penangas dan tidak kurang dari 100 mm di bawah permukaan air yang terdapat di dalam penangas.
Apabila pengujian dilakukan di dalam penangas, maka penangas harus dilengkapi dengan rak yang kuat untuk menyangga penetrometer.
Dilengkapi dengan termometer yang telah dikalibrasi.
Termometer harus mempunyai skala dengan penyimpangan yang tidak lebih dari 0,1 0C.
Termometer harus emenuhi persyaratan ASTM E 77 seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 2. Persyaratan termometer penangas SUHU
PENGUJIAN (0C)
JENIS TERMOMETER
RENTANG PEMBACAAN
(0C)
KEDALAMAN PENCELUPAN
(mm) 25
0 dan 4 46,1
ASTM 17C ASTM 63C ASTM 64C
+19 – +27 -08 – +32 +25 – +55
150 + 15 150 + 15 150 + 15
5) Mangkuk Pemindah Wadah Benda Uji (transfer dish)
Apabila digunakan, mangkuk pemindah cawan benda uji harus memenuhi sekurang-kurangnya persyaratan sebagai berikut:
Terbuat dari gelas, logam, plastik, atau bahan lain.
Berbentuk silinder dengan dasar yang rata.
Dilengkapi dengan dudukan yang dapat menyangga wadah benda uji tanpa bergoyang.
Berdiameter internal minimum 90 mm dan tinggi minimum 55 mm.
6) Pencatat Waktu (timing device)
Pencatat waktu harus memenuhi sekurang-kurangnya persyaratan sebagai berikut:
Untuk penetrometer yang dioperasikan secara manual, pengukur waktu dapat terdiri atas pengatur waktu elektrik (electric timer), stopwatch atau
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 51
Buku Informasi Edisi 2013
pengatur waktu jenis lain yang mempunyai ketelitian skala 0,1 detik untuk setiap interval waktu 60 detik.
Pengatur waktu otomatis yang dipasang pada penetrometer harus dikalibrasi sehingga untuk setiap interval waktu pengujian mempunyai penyimpangan yang tidak boleh lebih dari 0,1 detik.
7) Pemanas (heater)
Pemanas digunakan untuk pemanasan contoh uji, yang dapat terdiri atas oven, kompor gas atau kompor listrik (hot plate).
a. Alat uji penetrasi b. Jarum penetrasi Gambar 1. Sketsa alat penetrasi dan jarum penetrasi
b. Peralatan Dan Bahan Untuk Pengujian Titik Lembek
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, peralatan yang digunakan pada pengujian titik lembek aspal adalah sebagai berikut:
0,14 – 0,16 mm 1,00 – 1,02 mm
+6,35 mm +50,8 mm
8,70 – 9,70 ARLOJI
PENETRASI
TOMBOL
BEBAN
CERMIN JARUM
BENDA UJI WATERPAS
DUDUKAN BENDA UJI
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 52
Buku Informasi Edisi 2013
Cincin berbahu (shouldered ring) – terbuat dari kuningan dengan dimensi yang ditunjukkan pada Gambar 2a. Untuk pengujian ini diperlukan dua buah cincin.
Pelat dudukan (base plate) – harus terbuat dari bahan yang tidak menyerap aspal dengan tebal yang cukup untuk tidak mengalami deformasi, dan dengan ukuran yang mencukupi untuk meletakkan dua atau lebih cincin.
Disamping itu, permukaan pelat dudukan harus rata agar permukaan dasar tiap cincin seluruhnya bersentuhan dengan permukaan pelat dudukan.
Cincin pengarah bola (ball centering guide).
Dudukan cincin (ring holder).
Bola baja – mempunyai diameter 3,8 mm, berat (3,50 ± 0,05) gram.
Bejana gelas tahan panas – berkapasitas 800 ml dengan diameter tidak kurang dari 8,5 cm.
Termometer dengan rentang -2oC sampai dengan 80C untuk pengujian titik lembek rendah atau dengan rentang 30oC sampai dengan 200C untuk pengujian titik lembek tinggi.
Penjepit.
Kompor gas atau kompor listrik jenis lamban (low lag) dan keluaran yang bervariasi.
Disamping peralatan yang disebutkan di atas, pada pengujian titik lembek digunakan juga cairan untuk merendam benda uji. Bahan tersebut adalah air suling (untuk titik lembek 30-80 0C), glycerene (untuk titik lembek 80-157 0C), atau ethylene glycol (untuk titik lembek 30-110 0C).
a. Cincin berbahu b. Cincin pengarah bola Gambar 2. Sketsa peralatan pengujian titik lembek aspal
4,8 mm
4,4 mm 1,6 mm
3,2 mm
23,0 mm 24,6 mm 0,8 mm
1,6 mm 1200
1200
1200
23,0 mm 19,8 mm 15,9 mm
6,4 mm 2,0 mm
4,4 mm
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 53
Buku Informasi Edisi 2013
c. Pemegang cincin d. Susunan peralatan pengujian Gambar 2. Sketsa peralatan pengujian titik lembek aspal (lanjutan)
c. Peralatan Pengujian Daktilitas
Peralatan yang digunakan pada pengujian daktilitas aspal terdiri atas:
Cetakan (mold)
Harus mempunyai desain dan dimensi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.
Harus terbuat dari kuningan.
Pelat dasar (base plate)
Harus terbuat dari bahan yang tidak menyerap aspal.
Harus mempunyai tebal yang cukup untuk tidak mengalami deformasi.
Harus mempunyai ukuran yang mencukupi untuk meletakkan tiga cetakan.
Harus mempunyai permukaan yang rata agar permukaan dasar tiap cetakan seluruhnya bersentuhan dengan permukaan pelat dasar.
Penangas (water bath)
Harus dapat mempertahankan suhu pengujian (25 0C atau suhu lain) dengan variasi tidak lebih dari 0,1 0C.
Harus dapat menampung air yang tidak kurang dari 10 liter dan benda uji harus terendam pada kedalaman yang tidak kurang dari 10 cm.
Harus memiliki rak penyangga (perforated shelf) benda uji yang terletak tidak kurang dari 5 cm dari dasar penangas.
Sketsa penangas diilustrasikan pada Gambar 4.
Mesin penguji (testing machine)
76,2 mm
5,6 mm 19,0 mm 5,6 mm 5,6 mm
66,7 mm
23,8 mm
19,0 mm
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 54
Buku Informasi Edisi 2013
Harus dapat menarik benda uji dalam keadaan terendam terus pada kecepatan tetap yang ditentukan.
Harus tidak bergetar selama pengujian berlangsung.
Termometer – harus memenuhi persyaratan menurut ASTM 63C yang mempunyai rentang suhu antara –8 0C sampai +32 0C.
Pemanas (heater) – untuk pemanasan benda uji, pemanas yang digunakan dapat terdiri atas oven, kompor gas atau kompor listrik (hot plate).
Pengupas (trimmer) – dapat terdiri atas pisau dempul atau spatula yang mempunyai sisi pemotong tajam dan dan lebarnya tidak kurang dari 38 mm.
A B C D
E F G
H
I b b'
a' a
J
Gambar 3. Cetakan benda uji untuk pengujian daktilitas
Gambar 4. Ilustrasi penangas berisi benda uji d. Peralatan Pengujian Titik Nyala
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5, peralatan yang digunakan pada pengujian titik nyala aspal terdiri atas bagian utama sebagai berikut:
Cawan Cleveland Open Cup – cawan kuningan dengan bentuk dan dimensi seperti ditunjukkan pada Gambar 6.
Pemantik/penyulut – dapat memberikan nyala uji dengan diameter 3,2 sampai 4,8 mm dan mempunyai jari-jari putar 152 mm.
Termometer – memenuhi persyaratan menurut ASTM 11C serta posisinya harus dapat diatur sedemikian rupa sehingga dasar ujung bawahnya berada
A = 111,5-113,5 mm B = 74,5-75,5 mm C = 29,7-30,3 mm D = 6,8-7,2 mm E = 15,75-16,25 mm F = 9,9-10,1 mm G = 19,8-20,2 mm H = 42,9-43,1 mm I = 6,5-7,0 mm J = 9,9-10,1 mm a, a’ = bagian sisi b, b’ = penjepit (clip)
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 55
Buku Informasi Edisi 2013
pada jarak 6,4 mm dari permukaan dasar cawan dan porosnya berada di tengah-tengah antara pusat dan tepi cawan.
Pelat pemanas – pelat logam untuk meletakan cawan Cleveland (lihat Gambar 7).
Alat/sumber pemanas – dapat terdiri atas nyala api gas atau tungku listrik, atau alat lain yang tidak menimbulkan asap.
Penahan angin (shield) – diperlukan untuk mencegah hembusan yang dapat mengganggu uap di atas benda uji.
Rangka dudukan.
Gambar 5. Susunan peralatan pengujian titik nyala
Gambar 6. Cleveland Open Cup
TERMOMETER ASTM NO. 11 C; IP 28 C
CAWAN PENGUJI LUBANG UJUNG
= 1,6-5,0 mm
DIAMETER MULUT
= +0,8 mm
PELAT PEMANAS (HEATING PLATE)
PEMANAS (NYALA API ATAU PEMANAS
LISTRIK)
KE SUMBER GAS PEMANTIK/
PENYULUT
JARI-JARI PUTARAN
= 150 mm
JARAK DARI UJUNG TERMOMETER KE DASAR
CAWAN = +6,4 mm DIAMETER
BUTIR-BUTIR LOGAM (METAL BEAD) = 3,8-5,4 mm
DIAMTER UJUNG
= 1,6-5 mm
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 56
Buku Informasi Edisi 2013
69,5-70,5 mm (DIAMETER NOMINAL
54,5-56,5 m (DIAMETER)
150 mm (NOMINAL)
6,4 mm (NOMINAL) 6,4 mm (NOMINAL)
0,5-1,0 mm
Gambar 7. Pelat pemanas e. Peralatan Pengujian Kelarutan Dengan TCE
Pengujian kelarutan bitumen pada dasarnya dilakukan dengan cara meleburkan dan menyaring aspal. Peralatan yang digunakan untuk penyaringan pada pengujian tersebut mempunyai susunan yang ditunjukkan pada Gambar 8, dengan bagian-bagian utama sebagai berikut:
Cawan Gooch (Gooch Crucible) – bagian dalam dan luar gelas (kecuali permukaan bagian dasar) digelasir (glazed). Bagian atas Cawan Gooch mempunyai diameter sekitar 44 mm dan bagian dasar mempunyai diameter sekitar 36 mm, sedangkan tingginya adalah sekitar 28 mm.
Bantalan fiber gelas (glass fiber pad) – diameter 32, 35, atau 37 mm.
Labu penyaring (filter flask) – mempunyai dinding yang kuat dengan kapasitas 250 ml atau lebih dan memiliki pipa pengeluaran (side tube).
Tabung penyaring (filter tube) – bagian dalam berdiameter 40 mm - 42 mm.
Pipa atau sambungan karet (rubber tubing atau adapter) – mempunyai kegunaan untuk menahan Gelas Gooch di dalam tabung penyaring.
Labu Erlenmeyer –kapasitas 125 ml atau wadah lain yang sesuai.
Oven – mampu mempertahanan suhu pada 110 ± 5 0C.
Desikator – mempunyai ukuran yang sesuai dengan kebutuhan.
Timbangan analitis – jenis Kelas A dan memenuhi persyaratan menurut AASHTO M 231).
Pada pengujian ini, bahan yang digunakan untuk melarutkan aspal dalah trichloroethylene (TCE).
Gambar 8. Susunan peralatan penyaringan pada pengujian kelarutan aspal
CAWAN GOOCH
TABUNG PENYARING
LABU PENYARING
PIPA KARET KE PENGISAP
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 57
Buku Informasi Edisi 2013
f. Peralatan Dan Bahan Pengujian Berat Jenis
Peralatan yang digunakan pada pengujian berat jenis aspal terdiri atas:
Piknometer
Terbuat dari gelas.
Mempunyai bentuk tabung (silinder) atau konus, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9.
Dilengkapi dengan penutup.
Mempunyai kapasitas 24 mL sampai dengan 30 mL dan berat tidak lebih dari 40 gr.
Bak perendam (penangas) – harus dapat mempertahankan suhu pengujian dengan dengan vareasi tidak lebih dari 0,1 0C.
Termometer
Terbuat dari gelas.
Harus sudah dikalibrasi dan mempunyai kesalahan pembacaan tidak lebih dari 0,1 0C.
Umumnya digunakan termometer ASTM 63C sesuai ASTM E1 atau termometer lain yang setara.
Timbangan – harus memenuhi persyaratan AASHTO M 231 kelas B.
Gelas kimia – mempunyai volume sekurang-kurangnya 600 ml.
Untuk pengujian berat jenis aspal dperlukan juga air suling.
1-2 mm
4-18 mm
22-26 mm
1-2 mm
4-18 mm
22-26 mm
a. Piknometer bentuk silinder b. Piknometer bentuk konus Gambar 9. Sketsa piknometer untuk pengujian berat jenis aspal
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 58
Buku Informasi Edisi 2013
g. Peralatan Pengujian Kehilangan Berat Dengan Cara A (Thin Film Open Test)
Peralatan yang digunakan pada pengujian kehilangan berat aspal terdiri atas:
Oven – dilengkapi pengatur suhu sampai 180 0,1 0C serta rak yang dapat berputar dengan kecepatan 5-6 putaran per menit, yang tergantung dengan poros vertikal pada oven (lihat Gambar 10).
Neraca analitis – kapasitas 200 0,001 gram.
Piring/cawan baja – tahan karat atau aluminium berbentuk silinder dengan dasar rata; bagian internal mempunyai diameter 140 mm, tinggi 9,5 mm dan tebal 0,64 – 0,76 mm.
Termometer ASTM 13C atau yang setara – memiliki rentang skala antara155 sampai dengan 170 0C.
a. Oven b. Piringan/cawan baja
Gambar 10. Peralatan pengujian kehilangan berat aspal TFOT h. Peralatan Pengujian Penetrasi Aspal Setelah Kehilangan Berat
Peralatan yang digunakan pada pengujian penetrasi aspal setelah kehilangan berat adalah sama dengan peralatan yang digunakan pada pengujian penetrasi aspal yang disebutkan pada Huruf a di atas.
4.2.4 Penyiapan Aspal Untuk Pengujian a. Ketentuan umum
Penyiapan aspal untuk pengujian, atau biasanya disebut pengambilan contoh aspal, merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari pengujian untuk mencapai tujuan yang disebutkan pada Angka 4.1.4. Hal tersebut dikarenakan pengujian yang dilakukan terhadap benda uji yang berasal dari contoh yang
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 59
Buku Informasi Edisi 2013
diambil secara salah (tidak menurut ketentuan) kemungkinan besar akan sia-sia. Dalam hal tersebut, contoh yang diambil secara salah tidak akan mewakili bahan yang diambil contohnya, sehingga hasil pengujiannyapun tidak mewakili sifat-sifat bahan yang diambil contohnya.
Karena pengiriman aspal keras kepada pemesan biasanya dikirim dalam kemasan (misal drum), maka di bawah diuraikan ketentuan pengambilan contoh aspal keras yang dikemas dalam drum, berdasarkan SNI 06-6399-2002
“Tata Cara Pengambilan Contoh Aspal”.
b. Jumlah Kemasan Contoh Yang Perlu Diambil
Apabila paket aspal terdiri atas beberapa kemasan yang berasal dari hasil produksi yang sama (single run), maka kemasan contoh yang diambil cukup satu buah yang dipilih secara acak. Apabila paket material aspal terdiri atas beberapa kemasan yang tidak berasal dari produksi yang sama, atau apabila satu kemasan contoh yang dipilih secara acak gagal memberikan hasil pengujian yang tidak sesuai dengan persyaratan, maka kemasan contoh yang diambil perlu beberapa buah yang dipilih secara acak. Jumlah kemasan contoh yang dipilih/diambil pada dasarnya adalah akar pangkat tiga dari jumlah seluruh kemasan tiap paket pengirman, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 3. Jumlah kemasan contoh per paket JUMLAH KEMASAN
PER PAKET
JUMLAH KEMASAN CONTOH 2
9 28 65 126 217 344 513 730 1001
- - - - - - - - - -
8 27 64 125 216 343 512 729 1000 1331
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 c. Cara Pengambilan Contoh Dari Kemasan
Setelah kemasan contoh dipilih, selanjutnya dari tiap kemasan diambil contoh aspal. Dalam hal tersebut, contoh harus diambil dari posisi yang terletak sekurang-kurangnya 7,5 cm dari permukaan dan dari samping kemasan.
Apabila aspal dalam keadaan keras, pengambilan contoh dapat dilakukan dengan menggunakan alat pencungkil (misal kapak) yang bersih, atau apabila aspal dalam kedaan cukup lunak, pengambilan contoh dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang sesuai (misal pisau dempul).
Judul Modul: Melakukan Pengujian Material Aspal
Halaman 60
Buku Informasi Edisi 2013
Apabila kemasan contoh yang diambil lebih dari satu buah, maka berat masing-masing contoh material aspal yang diambil dari tiap kemasan tidak boleh kurang dari 0,2 kg.
Apabila paket aspal terdiri atas beberapa kemasan yang berasal dari hasil produksi yang sama (single run), maka seluruh contoh harus dilelehkan dan kemudian dicampur dan diaduk secara merata. Untuk keperluan pengujian, selanjutnya diambil contoh sekurang-kurangnya 1 kg.
Apabila paket aspal berasal dari beberapa hasil pengiriman atau produksi yang berbeda-beda dan masing-masing pengiriman atau produksi dapat dikenali dengan mudah, maka contoh yang diambil dari masing-masing pengiriman atau produksi merupakan gabungan contoh dari masing-masing pengirman/produksi tersebut, dimana volume contoh gabungan adalah sekurang-kurangnya 1 kg.
Apabila masing pengiriman/produksi sulit dibedakan, maka masing-masing contoh dari setiap kemasan harus diuji secara sendiri-sendiri.
c. Cara Pengamanan Contoh
Agar contoh material aspal tidak tekontaminasi atau rusak, baik selama pengiriman maupun penyimpanan, maka contoh harus dimasukkan dalam wadah yang kokoh dan tidak mudah bocor. Disamping itu, wadah contoh perlu dibubuhi label yang tidak mudah rusak/lepas serta dibubuhi tulisan tentang, antara lain, nomor contoh, asal contoh, kelas aspal, tanggal pengambilan contoh.
d. Pencatatan Data Contoh
Untuk kelengkapan data pengujian, informasi/data tentang contoh harus dicatat pada formulir tiap pengujian dengan cara yang ditunjukkan pada Lampiran 2.