BAB 4 : HASIL PENELITIAN
2.1.4 Pengukuran agresivitas
Menurut Leon, et. al. (2002) ada beberapa pengukuran yang digunakan dalam mengukur agresivitas, diantaranya adalah:
1. The Cook-Madley Hostility Scale. Skala ini terdiri dari 50 pernyataan benar-salah. Internal konsistensi pada skala ini dalam versi
Inggris dan Spanyol antara 0,75 dan 0,80 dan reabilitas skala test-retest menunjukkan nilai 0,75.
2. The Buss-Durkee Hostility Inventory. Instrumen ini terdiri dari 75 pernyataan benar-salah. Terdiri dari kriteria: assault, indirect, hostility, irritability, negativism, resentment, suspicion, verbal hostility, and gulit. Internal konsistensi antara 0,57 dan 0,78 dari versi original sedangkan versi Spanyol sebesar 0,86.
3. The Jenkins Activiiy Scale-Form H. Instrumen ini untuk evaluasi atau membandingkan tipe A secara global serta terdiri dari 32 pernyataan. Reabilitas versi Inggris dan Spanyol antara 0,75 dan 0,88 dan konsistensinya antara 0,84 dan 0,92.
4. The state-Trait Anger Expression Inventory. Instrumen ini terdiri dari 47 pernyataan, skala ini digunakan pada populasi Spanyol dan menghasilkan alpha cronbach antara 0, 63 dan 0,95.
5. Aggression Questionnaire (AQ). Instrument yang dikembangkan Buss & Perry (1992) ini terdiri 29 item atau pernyataan, pada standar psikometri menunjukkan reabilitas dan internal konsistensi yang adekuat. Instrument ini memiliki konsistensi yang adekuat. Instrument ini memiliki konsistensi internal antara 0,72 dan 0,89 dan reabilitas test-retest antara 0,72 dan 0,80.
Dari beberapa alat ukur diatas, peneliti memutuskan untuk mengadaptasi alat ukur agresivitas yang dikembangkan oleh Buss dan Perry (1992). Dalam jurnal penelitian The Aggression Questionnaire yang menggunakan empat faktor yaitu
agresi fisik, verbal, marah, dan permusuhan dan terangkum dalam 29 item skala baku. Hal ini karena skala yang dikembangkan oleh Buss dan Perry (1992) memiliki validitas yang baik dan reabilitas serta internal konsistensi yang adekuat. 2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi agresivitas
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi agresivitas, yaitu : 1. Kepribadian
Banyak trait kepribadian yang secara signifikan berkaitan dengan agresivitas. Sarwono (2002) dengan beberapa penelitian menyatakan bahwa salah satu teori sifat (trait) mengatakan bahwa orang-orang dengan tipe kepribadian A (yang bersifat kompetitif, selalu buru-buru, ambisius, cepat tersinggung, dan sebagainya) lebih cepat menjadi agresif daripada orang dengan tipe kepribadian B (ambisinya tidak tinggi, sudah puas dengan keadaannya yang sekarang, cenderung tidak buru-buru, dan sebagainya). Kemudian pengaruh lain dari sifat kepribadian terhadap agresif adalah sifat pemalu. Orang yang bertipe pemalu cenderung menilai rendah diri sendiri, tidak menyukai orang lain, dan cenderung mencari kesalahan orang lain. Oleh karena itu, tipe orang pemalu cenderung lebih agresif daripada yang tidak pemalu.
Selain kepribadian tipe A dan tipe B, bigfive personality juga mempengaruhi perilaku agresif seperti penelitian yang ditemukan dalam Caprara, et. al. (dalam DeWall, et. al, 2012) memaparkan bahwa dari lima kepribadian, hanya tiga yang paling terkait dengan agresi, yaitu yang mempunyai hubungan positif adalah neuroticism sedangkan yang mempunyai hubungan negatif, yaitu conscientiousness dan agreeableness.
Penelitian yang dilakukan oleh Trninić¹, et. al. (2008) menemukan pada sampel para tahanan agresivitas secara signifikan berkorelasi dengan bigfive personality yaitu agreeableness, conscientiousness dan emotional stability, sedangkan pada atlet remaja berkorelasi signifikan dengan extraversion, agreeableness dan emotional stability.
2. Hostile Attributional Bias
Atribusi berperan pada reaksi kita terhadap perilaku orang lain, terutama pada provokasi nyata yang mempengaruhi perilaku agresi. Hal ini mengacu pada tendensi untuk mempersepsikan maksud atau motif hostile dalam tindakan orang lain ketika tindakan ini dirasa ambigu. Ketika individu memiliki bias atribusional hostile yang tinggi, ia jarang mempersepsikan tindakan hostile yang dilakukan orang lain sebagai ketidaksengajaan, namun mengasumsikan bahwa tindakan provokasi tersebut memang sengaja dilakukan, dan individu tersebut segera melawan membalasnya (Baron & Byrne, 2005).
3. Narsisme
Individu yang memiliki tingkat narsisme yang tinggi, dapat menunjukkan perilaku agresi yang tinggi juga dibandingkan orang lain. Hal ini disebabkan karena ia memiliki keraguan yang mengganggu mengenai kebenaran ego mereka yang besar sehingga bereaksi pada tindakan kekerasan atau hinaan kepada individu lain sebagai bentuk rasa marah (Baron & Byrne, 2005).
4. Frustasi
Baron dan Byrne (2005) mengatakan bahwa Frustasi selalu memunculkan bentuk tertentu dari agresi, dan agresi selalu berasal dari frustasi. Singkatnya, orang yang frustasi selalu terlibat dalam suatu tipe agresi dan semua tindakan agresi, dan sebaliknya..
Meskipun frustasi biasanya membangkitkan amarah, namun adakalanya juga tidak, meningkatkan amarah tidak selalu menyebabkan orang berperilaku lebih agresif (Sears, Freedman & Peplau, 1985). Temuan penelitian juga menunjukan bahwa ketika merasa frustasi, individu tidak selalu merespons dengan melakukan agresi. Sebaliknya, mereka memperlihatkan banyak reaksi berbeda, mulai dari kesedihan, keputusasaan, dan depresi di satu sisi, sampai pada usaha langsung untuk mengatasi sumber frustasi mereka di sisi yang lain. Agresi bukanlah respons otomatis dari frustasi (Baron & Byrne, 2005).
5. Provokasi langsung
Baron & Byrne (2005) mendefinisikan provokasi merupakan tindakan oleh orang lain yang cenderung memicu agresi pada diri si penerima, sering kali karena tindakan tersebut dipersepsikan berasal dari maksud yang jahat. Kritik yang kasar serta tidak sopan yang dapat menyerang diri sendiri dan bukan merupakan kritik terhadap perilaku diri yang salah, merupakan provokasi yang kuat sehingga dapat memunculkan perilaku agresi. Kita cenderung untuk membalas, memberikan agresi sebanyak yang kita terima, terutama jika orang tersebut menyakiti diri kita.
6. Agresi yang Dipindahkan
Baron dan Byrne (2005) menyatakan bahwa agresi yang dipindahkan merupakan agresi terhadap seseorang yang bukan sumber dari provokasi yang kuat; agresi dipindahkan terjadi karena orang yang melakukannya tidak ingin atau tidak dapat melakukan agresi terhadap sumber provokasi. Agresi ini merupakan hasil provokasi yang ia tahan, kemudian sewaktu-waktu ia luapkan pada seseorang yang bukan sumber dari provokasi awal yang kuat.
7. Kekerasan pada Media
Baron & Byrne (2005) menyatakan bahwa makin banyak film atau program televisi dengan kandungan kekerasan yang ditonton partisipan pada saat kanak-kanak, makin tinggi tingkat agresi mereka ketika remaja atau dewasa. Misalnya, makin tinggi kecenderungan mereka untuk ditangkap atas tuduhan kriminal dengan kekerasan.
Selain film, dapat terjadi pula “copycat crimes”, dimana suatu kejahatan yang dilaporkan di media kemudian ditiru oleh orang lain di lokasi yang jauh, memperlihatkan bahwa dampak seperti itu nyata. Dampak lain dari kekerasan pada media ialah timbulnya efek disensitisasi. Setelah individu menonton banyak adegan kekerasan, individu tersebut menjadi acuh pada kesakitan dan penderitaan orang lain; mereka menunjukkan reaksi emosional yang lebih sedikit daripada yang seharusnya terhadap tanda-tanda kekerasan seperti itu. Dan hal ini kemungkinan mengurangi pertahanan mereka sendiri menolak terlibat dalam agresi (Baron & Byrne, 2005).
Menurut Sarwono (2002) dengan beberapa penelitian menyatakan bahwa siaran televisi dapat menjadi penyalur emosi agresi (katarsis) sehingga orang tidak perlu lagi melampiaskan agresivitasnya kepada orang lain, khususnya jika korban agresi tidak mempunyai kemungkinan untuk secara langsung melampiaskan pembalasannya kepada aggressor sebagimana terungkap dari sebuah penelitian di Jerman Barat.
8. Keterangsangan yang Meningkat
Keterangsangan dapat berasal dari sumber-sumber yang bervariasi seperti partisipan dalam permainan kompetitif, jenis olahraga yang keras, serta musik tertentu. Contoh lainnya adalah faktor keterangsangan seksual. Hubungan antara keterangsangan seksual dengan agresi bersifat curvilinear. Keterangsangan seksual ringan mengurangi agresi hingga tingkat yang lebih rendah daripada yang ditunjukkan oleh tidak adanya keterangsangan, sedangkan keterangsangan yang lebih tinggi malah meningkatkan agresi di atas tingkat ketiadaan keterangsangan. Hal ini disebabkan karena materi erotis yang ringan akan memunculkan perasaan-perasaan positif yang menghambat agresi, sedangkan stimulus seksual yang lebih eksplisit akan memunculkan perasaan negatif sehingga meningkatkan agresi (Baron & Byrne, 2005). 9. Alkohol
Dalam beberapa eksperimen, partsisipan yang mengonsumsi alcohol dengan dosis tinggi yang dapat membuat mereka mabuk ditemukan bertindak lebih agresif dan merespon provokasi secara lebih kuat, dibandingkan partsisipan yang tidak mengonsumsi alkohol (Baron & Bryne, 2005). Kemudian
penelitian Bushman dan Cooper (1990) menemukan bahwa ada pengaruh alkohol terhadap tindakan agresif seseorang.
Dalam Sarwono (2002) menjelaskan bahwa khusus pada negara-negara maju yang teletak di wilayah-wilayah musim dingin, alcohol bukan merupakan hanya saran penghangat tubuh, melainkan juga sebagai sarana pergaulan. Akan tetapi, pengaruh alkohol dapat memicu agresivitas. Karena itulah dalam kenyataannya bar-bar dan tempat-tempat minum lainnya merupakan tempat yang memiliki angka kekerasan dan agresi sangat tinggi. 10.Kondisi lingkungan
Rasa sesak berjejal/suasana yang ramai juga dapat memicu seseorang bertindak agresi. Sarwono (2002) dengan beberapa penelitian menyatakan bahwa di daerah perkotaan yang padat penduduk selalu lebih banyak terjadi kejahatan dan kekerasan serta peningkatan agresivitas di daerah yang sesak berhubungan penurunan perasaan akan kemampuan diri untuk mengendalikan lingkungan sehingga terjadi frustasi.
11.Attachment orang tua
Penelitian dalam journal of Youth and Adolescence (2000) menunjukkan bahwa attachment pada orang tua secara signifikan berhubungan dengan usia, depresi, dan agresi. Remaja yang tingkat attachment orang tua tinggi akan menunjukkan tingat agresi dan depresi yang rendah begitu pun sebaliknya (Laible, Carlo & Raffaelli, 1999). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Gallarin & Arbiol (2012) menyatakan bahwa faktor yang mampengaruhi agresivitas pada remaja adalah parenting practices, (praktek pengasuhan) dan
attachment (kelekatan) orang tua. Dari hasil penelitiannya hanya attachment pada ayah yang signifikan terhadap agresivitas remaja.
12.Pengaruh kelompok dan teman sebaya
Penelitian White, Gallup dan Gallup (2010) mengemukakan bahwa korban dari agresi teman sebaya tersebar luas pada anak-anak dan remaja antara 11 dan 16 tahun. Nansel, et. al. (dalam White, Gallup dan Gallup, 2010) menunjukkan bahwa dalam The multi-national Health Behavior in School Aged Children tidak kurang dari 9% dan sebanyak 54% dari anak usia sekolah dari 25 negara yang diteliti terlibat dalam tindakan agresif terhadap teman sebaya dan menjadi korban oleh teman sebayanya. Journal of Youth and Adolescence (2000) menunjukkan bahwa Attachment teman sebaya secara signifikan berhubungan dengan simpati, English efficacy, depresi dan agresi. Remaja yang tinggi attachment teman sebaya akan tinggi tingkat simpati dan English efficacy yang tingkat yang rendah pada depresi dan agresi.
Sarwono (2002) menyatakan bahwa gejala terpengaruh oleh kelompok terdapat pada pelajar SMA yang saling berkelahi di Jakarta dengan alasan membela teman. Inti dari agresivitas antarpelajar di Jakarta yaitu identitas kelompok yang sangat kuat yang menyebabkan timbul sikap negatif dan mengeksklusifkan kelompok lain.
13.Perbedaan Gender
Umumnya pria cenderung melakukan tindakan agresi secara langsung ditujukan kepada targetnya, seperti memaki, mendorong, berteriak, dan lain sebagainya. Sedangkan wanita cenderung melakukan agresi secara tidak
langsung, seperti bergunjing masalah orang lain. Tindakan ini memungkinkan individu menutupi identitasnya dari target yang dituju. Sehingga, target tidak dapat mengetahui siapa pelakunya (Baron & Byrne, 2005).
Penelitian serupa juga dijelaskan Sarwono (2002) yang menyatakan bahwa pria yang maskulin pada umumnya lebih agresif daripada wanita yang feminisim. Tentunya gejala ini ada hubungannya dengan faktor kebudayaan yaitu pada umumnya wanita diharapkan oleh norma masyarakat untuk lebih mengekang agresivitasnya. Namun, ada pergeseran peran jenis kelamin yang pada gilirannya juga akan meningkatkan agresivitasnya pada wanita. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari, agresivitas wanita kita saksikan misalnya pada pengemudi kendaraan pribadi wanita di Jakarta yang berani menantang pengemudi Metro Mini (pria) yang menyerempet mobilnya. Makin banyak wanita menjadi anggota ABRI dan polisi, atau makin banyaknya wanita yang terlibat dalam berbagai jenis olahraga agresif (balap mobil, sepak bola, karate, pencak silat atau gulat).
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi agresivitas yang telah dijelaskan, maka peneliti memutuskan untuk menggunakan faktor kepribadian dan attachment sebagai variabel independen. Hal ini dilakukan karena kepribadian diprediksi dapat mengetahui bagaimana tingkat agresivitas yang dialami oleh para remaja yang melakukan tawuran atau tidak. Kemudian attachment (kelekatan) dengan orang tua dianggap dapat mempengaruhi agresivitas karena seorang anak pertama kali meniru perilaku orang tuanya dan membutuhkan dukungan serta arahan dari orang tua untuk melakukan sesuatu hal yang positif.
2.2 Kepribadian (personality)