• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 85-89)

DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN 35 – 1 BAGIAN KEENAM PENUTUP

25. Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah

Adanya perbedaan dan keragaman potensi sumber daya alam, letak geografis, dan kualitas sumber daya manusia di berbagai wilayah Indonesia yang diikuti dengan perbedaan kinerja setiap daerah telah menyebabkan terjadinya ketimpangan pembangunan antarwilayah. Ketimpangan tersebut terjadi terutama antara kawasan pulau di Jawa-Bali dan kawasan pulau di luar Jawa-Bali, antara metropolitan, kota besar, menengah, dan kecil; antara perkotaan dan perdesaan; serta ketertinggalan juga dialami pada daerah terisolasi, perbatasan, dan pulau-pulau kecil terluar. Berbagai upaya pemerintah dalam mengurangi ketimpangan pembangunan antarwilayah telah dilakukan, yang mencakup hasil pelaksanaan pembangunan pada wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh, tertinggal dan terisolasi, perbatasan, dan pulau-pulau kecil terluar. Selain itu, telah dilakukan pula upaya mengurangi kesenjangan pembangunan antarkota, dan kesenjangan pembangunan antarwilayah perkotaan dan wilayah perdesaan, termasuk masalah yang terkait dengan penataan ruang dan pertanahan.

Percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis, wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang terintegrasi dan sinergis menghadapi berbagai permasalahan umum yaitu masih belum selesainya peraturan perundangan untuk kawasan khusus yang menjadi payung kebijakan sebagai dasar untuk memastikan langkah operasionalisasi serta masih belum berkembangnya kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas free trade zone (FTZ). Dalam konteks wilayah tertinggal masalah utama yang dihadapi adalah ketersediaan infrastruktur yang terbatas baik akses transportasi, listrik dan komunikasi. Sementara itu, permasalahan

01 - 65 yang masih dihadapi dalam pembangunan perkotaan dan upaya pengembangan keterkaitan pembangunan kota-desa adalah belum adanya pedoman yang mengatur jenis pelayanan perkotaan minimal yang harus disediakan untuk terlaksananya fungsi dan peran kawasan perkotaan, yang dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah dalam membangun kawasan perkotaan. Selain itu juga belum tersedia peraturan perundangan serta pedoman-pedoman sebagai acuan dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan kawasan perkotaan. Pada sektor transmigrasi masalah umum yang dihadapi antara lain adalah adalah belum optimalnya pembangunan kawasan dalam mengaitkan kawasan transmigrasi dengan wilayah sekitar, sehingga menghambat proses produksi-distribusi.

Dalam bidang Tata Ruang, berbagai permasalahan yang dihadapi meliputi aspek perencanaan tata ruang, aspek pemanfaatan ruang, dan aspek pengendalian pemanfaatan ruang, yaitu rendahnya kualitas Rencana Tata Ruang (RTR) yang telah disusun dan ditetapkan, sehingga RTR belum dapat digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan maupun dalam pemberian perizinan pemanfaatan ruang; masih terdapat konflik sektoral di dalam pemanfaatan ruang di daerah serta masih lemahnya penegakkan hukum (law enforcement) pelanggaran pemanfaatan ruang. Dalam bidang pertanahan, upaya mengurangi ketimpangan pembangunan wilayah masih terhambat dengan masih terkonsentrasinya penguasaan dan pemilikan tanah pada sebagian kecil masyarakat. Selain itu, masih lemahnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah juga masih menjadi permasalahan utama dalam bidang pertanahan.

Berbagai langkah-langkah kebijakan yang ditempuh dalam mengatasi permasalahan tersebut di atas untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah antara lain adalah melalui perumusan kebijakan pembangunan daerah tertinggal; koordinasi pelaksanaan kebijakan pembangunan daerah tertinggal serta operasionalisasi kebijakan dibidang bantuan infrastruktur perdesaan, pengembangan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, langkah-langkah kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan kawasan perbatasan antara lain melalui peningkatan keberpihakan pemerintah dalam pembiayaan pembangunan, terutama untuk

01 - 66

pembangunan sarana dan prasarana ekonomi di wilayah-wilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil melalui, antara lain, penerapan berbagai skema pembiayaan pembangunan seperti: pemberian prioritas dana alokasi khusus (DAK), public service obligation (PSO) dan keperintisan untuk transportasi, penerapan universal service obligation (USO) untuk telekomunikasi dan program listrik masuk desa.

Adapun langkah kebijakan yang ditempuh dalam pembangunan perkotaan dan usaha menciptakan keterkaitan antar desa telah dilaksanakan melalui tiga program yaitu Program Pengendalian Kota Besar dan Metropolitan, Program Pengembangan Keterkaitan Pembangunan Antar Kota dan Program Pengembangan Kota Kecil dan Menengah. Salah satu hasil yang telah dicapai saat ini adalah tersusunnya Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten/Kota di 33 provinsi yang sangat penting sebagai kerangka investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Sementara itu, kebijakan penyelenggaraan transmigrasi diarahkan kepada upaya pengembangan wilayah melalui penataan dan penggunaan lahan secara lestari dengan mendorong terwujudnya Kota Terpadu Mandiri sebagai kota penyangga yang mampu memberikan ruang bagi penduduk perkotaan bersama penduduk setempat untuk berproduksi.

Dalam bidang tata ruang, kebijakan yang dilakukan ditekankan pada hasil-hasil yang dapat ditinjau dari aspek peraturan perundangan penataan ruang, aspek pembinaan penataan ruang, aspek pelaksanaan penataan ruang, dan aspek pengawasan penataan ruang. Hal ini dikarenakan bahwa upaya pembangunan infrastruktur perlu direncanakan dengan matang sesuai dengan tingkat kebutuhan dan perkembangan suatu wilayah berdasarkan penataan ruang. Sementara itu, terkait dengan pertanahan, dalam rangka mengatasi timpangnya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, telah dilakukan upaya-upaya pengaturan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan dengan memperhatikan kepemilikan tanah untuk rakyat melalui redistribusi tanah; pendataan pertanahan; memberikan kepastian hukum hak atas tanah masyarakat, pemerintah, dan badan hukum; melakukan percepatan pendaftaran tanah dalam rangka turut

01 - 67 mendukung penanggulangan kemiskinan, serta penanggulangan bencana tsunami di Aceh melalui Reconstruction of Aceh Land Administration System (RALAS).

Ke depan, terdapat beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti dalam mencapai sasaran terwujudnya percepatan pembangunan dan pengurangan kesenjangan antarwilayah yaitu melalui Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) serta rencana tindak lanjut untuk memperlancar Kerjasama Ekonomi Sub-regional (KSER). Dalam upaya percepatan pembangunan daerah perlu dilakukan pengembangan sarana dan prasarana pelayanan sosial dasar di daerah tertinggal melalui pembangunan infrastruktur, penerapan keperintisan transportasi, program listrik masuk desa, pembangunan sumberdaya air baku dan penyediaan air minum di wilayah terisolir, serta pengembangan kota terpadu mandiri di wilayah tertinggal dan terisolir.

Untuk pembangunan perkotaan, arah kebijakannya adalah mengubah paradigma pembangunan perkotaan dengan melihat kota sebagai suatu kesatuan kawasan/wilayah. Dengan melihat kota sebagai kesatuan ini, maka kota harus dilihat dari dua sisi, yaitu kota sebagai “mesin” pertumbuhan nasional dan regional serta kota sebagai tempat tinggal yang nyaman, layak huni dan berkelanjutan. Sementara itu, pembangunan transmigrasi diarahkan untuk mencapai sasaran antara lain secara aspek fisik, yaitu terbangunnya sistem pembangunan pusat pertumbuhan dan kawasan sekitar; secara aspek ekonomi, yaitu terlaksananya pemilihan lokasi yang sesuai dengan kompetensinya dan pengembangan usaha ekonomi masyarakat transmigran untuk mewujudkan daya saing kawasan transmigrasi; dan secara aspek sosial dan SDM, yaitu terciptanya integrasi sosial dan kemandirian masyarakat di kawasan transmigrasi; serta meningkatnya peran dan kapasitas SDM masyarakat transmigrasi dan pemerintah daerah di wilayah perbatasan, wilayah tertinggal, dan wilayah strategis dan cepat tumbuh.

01 - 68

26. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pelayanan

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 85-89)