DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN 35 – 1 BAGIAN KEENAM PENUTUP
26. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan Yang Lebih Berkualitas
Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik lndonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk itu setiap warga negara lndonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, ras, etnis, agama, dan gender. Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional sehingga merupakan salah satu penentu kemajuan bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan sarana paling efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesejahteraan masyarakat, serta yang dapat mengantarkan bangsa Indonesia mencapai kemakmuran. Untuk itu, pemerintah tetap menjadikan bidang pendidikan sebagai agenda penting dalam pembangunan nasional.
Permasalahan yang masih dihadapi dalam pembangunan pendidikan pada awal RPJMN 2004-2009 adalah masih relatif rendahnya tingkat pendidikan penduduk, pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu mengikuti dinamika perubahan struktur penduduk, kesenjangan tingkat pendidikan yang cukup lebar antarkelompok masyarakat, masih belum meratanya fasilitas layanan pendidikan khususnya untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi, masih relatif rendahnya kualitas pendidikan yang relatif masih rendah, masih kurangnya penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi di perguruan tinggi, dan belum efektif dan efisiennya manajemen dan tata kelola penyelenggaraan pendidikan, dan rendahnya alokasi anggaran pendidikan.
Kesungguhan pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan yang baik kepada seluruh anak bangsa telah dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan yang meliputi perluasan akses dan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, dan peningkatan manajemen pelayanan pendidikan. Dalam kurun waktu pelaksanaan RPJMN 2004-2009, pembangunan pendidikan telah berhasil meningkatkan taraf pendidikan penduduk yang tercermin pada meningkatnya rata-rata lama sekolah dari tahun 2003 sebesar 7,1 tahun menjadi 7,47 tahun pada tahun 2007 serta menurunnya angka buta aksara penduduk usia di atas 15 tahun dari
01 - 69 10,21 persen (Susenas, 2003) pada tahun 2004 menjadi 6,21 persen pada tahun 2008 (Depdiknas, 2008).
Pada awal RPJMN 2004-2009, kondisi APK dan APM jenjang SD/MI masing-masing sebesar 107,13 persen dan 94,12 persen, serta APK SMP sebesar 81,22 persen. Pada tahun 2009, APK dan APM SD/MI/sederajat diharapkan mencapai 115,76 persen dan 95 persen dan APK SMP/MTs/sederajat diharapkan mencapai 98,09 persen. Di samping itu, terjadi penurunan disparitas partisipasi pendidikan yang signifikan untuk jenjang SMP/MTs antara kabupaten dan kota secara umum yaitu dari 25,14 persen pada tahun 2005, menjadi 23,44 persen pada tahun 2006, turun menjadi 23,00 persen pada tahun 2007 dan kemudian turun lagi menjadi 20,18 persen pada tahun 2008.
Dalam mendukung penuntasan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, Pemerintah terus meningkatkan penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005. Pada tahun 2009 BOS diberikan bagi 42,9 juta siswa pada jenjang pendidikan dasar, yang mencakup SD, MI, SDLB, SMP, MTs, SMPLB, dan Pesantren Salafiyah (Ula dan Wustha), serta satuan pendidikan keagamaan lainnya yang menyelenggarakan pendidikan dasar sembilan tahun, dengan total anggaran Rp 19,2 trilyun. Untuk membantu siswa miskin dalam mengakses pendidikan dasar pada tahun 2009 disediakan beasiswa yang dimaksudkan untuk membantu keluarga miskin dalam menyediakan biaya sekolah anaknya. Jumlah beasiswa yang disediakan pada tahun 2009 menjangkau lebih dari 2,43 juta siswa jenjang SD/MI dan lebih dari 1,53 juta siswa jenjang SMP/MTs.
Pada jenjang pendidikan menengah, angka partisipasi kasar SMA/SMK/MA/ sederajat mengalami peningkatan dari 52,20 persen pada tahun 2005 menjadi 56,22 persen pada tahun 2006, meningkat lagi pada tahun 2007 menjadi 60,51 persen dan pada tahun 2008 mencapai 64,28 persen. Usaha yang lebih keras lagi diperlukan untuk dapat mencapai APK sebesar 69,34 persen pada akhir tahun 2009. Di samping itu, disparitas APK SMA/MA/SMK/SMALB antara kabupaten dan kota yang cenderung menurun dari 33,13 persen pada tahun 2005 menjadi 31,44 persen pada tahun 2006, 31,20 persen pada tahun 2007 dan kemudian turun lagi menjadi 29,97 pada tahun 2008.
01 - 70
Berbagai upaya peningkatan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan menengah selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 antara lain dilaksanakan melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan berupa pembangunan 237 USB SMA dan 466 USB SMK, 7.051 RKB SMA dan 6.918 RKB SMK. Pada tahun 2009 penyediaan sarana dan prasarana pendidikan dilakukan antara lain melalui pembangunan 50 USB SMA, pembangunan lanjutan 100 USB SMK dan pembangunan baru 225 USB SMK, serta pembangunan 1.000 RKB SMA dan 5.000 RKB SMK. Untuk mendukung upaya peningkatan partisipasi pendidikan menengah khususnya untuk masyarakat miskin, pada tahun 2009 telah disediakan beasiswa siswa miskin bagi 1,22 juta siswa jenjang SMA/SMK/MA. Penyediaan beasiswa ini diharapkan dapat membantu orangtua dalam menyediakan biaya pendidikan anaknya pada jenjang SMA/SMK/MA.
Pada jenjang pendidikan tinggi (PT), APK PT telah mencapai 18,29 persen (Depdiknas 2007) melampaui sasaran RPJMN 2004- 2009, yaitu sebesar 18,00 persen. Pencapaian APK tersebut masih perlu ditingkatkan, utamanya untuk pendidikan vokasi. Untuk itu, pada tahun 2009 telah dialokasikan anggaran untuk melakukan pendirian dan peningkatan kapasitas 41 politeknik negeri baru, pembangunan gedung dan laboratorium baru seluas 175.000 ribu m2, serta pengembangan rumah sakit pendidikan di 13 PTN. Di samping itu, untuk mengatasi kesenjangan partisipasi pendidikan tinggi antar kelompok masyarakat, pemerintah memberikan beasiswa untuk mahasiswa miskin yang 314,2 ribu mahasiswa PT/PTA pada tahun 2009.
Partisipasi anak usia dini dalam mengikuti pendidikan anak usia dini telah mengalami peningkatan dari kondisi awal RPJMN 2004-2009 yang baru tercatat sekitar 25,99 persen anak usia 5-6 tahun menjadi 50,62 persen pada tahun 2008 dan diharapkan meningkat lagi menjadi 53,90 persen pada akhir tahun 2009.
Kualitas dan relevansi pendidikan pada semua jenjang pendidikan terus ditingkatkan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan (SNP) yang mencakup standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar
01 - 71 pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan pada jenjang pendidikan dasar, selama kurun waktu tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan rehabilitasi dan revitalisasi 318,8 ribu ruang ruang kelas SD/MI. Disamping itu disediakan pula anggaran dana alokasi khusus (DAK) bidang pendidikan sebesar Rp 9,3 triliun pada tahun 2009.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, pada tahun 2008 Pemerintah menyediakan BOS Buku bagi 19,6 juta siswa SD, 6,7 juta siswa SMP, dan 6,1 juta siswa MI/MTs. Di samping itu, sejak tahun 2008 Pemerintah membeli hak cipta naskah buku mata pelajaran dari para penulis buku pelajaran untuk diunggah di website Depdiknas dalam bentuk buku elektronik (e-book) yang bebas diunduh dan dicetak oleh siapapun juga. Adapun, untuk meningkatkan mutu pendidikan menengah, pada tahun 2009 telah dialokasikan bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) untuk 2,48 juta siswa sekolah SMA dan pemberian BOMM bagi 3,29 juta siswa SMK.
Selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2008, telah dilaksanakan pembangunan 1730 perpustakaan SMA dan 357 perpustakaan SMK, telah dirintis 259 SMA dan 300 SMK bertaraf internasional, serta 100 SMA dan 341 SMK berbasis keunggulan lokal atau rintisannya. Pada tahun 2008 telah dilakukan pula rehabilitasi 2500 ruang kelas MA, pembangunan 100 unit sekolah baru MA, pengembangan 60 lokasi pendidikan keterampilan, pembangunan 1000 ruang laboratorium dan perpustakaan MA, pengembangan 10 MA unggulan berstandar internasional, dan penyediaan bantuan peningkatan mutu madrasah bagi 120 MA dan pemberian operasional manajemen mutu MA swasta kepada 447 lembaga.
Peningkatan mutu pendidikan tinggi terus dilakukan melalui pembangunan dan pengadaan peralatan laboratorium, pengembangan perpustakaan, pengadaan buku, jurnal ilmiah, serta pengadaan peralatan pendidikan. Pada tahun 2008 dan 2009 dilakukan kegiatan pengembangan UIN bertaraf internasional, serta pengembangan perguruan tinggi agama (PTA) melalui rehabilitasi sarana prasarana, pengembangan Ma’had Aly, pembangunan laboratorium, penyediaan biaya operasional, pemberian bantuan pengembangan PTA swasta,
01 - 72
serta pengembangan kerjasama internasional. Di samping itu, upaya peningkatan mutu pendidikan terus dilakukan antara lain melalui penyediaan hibah penelitian kompetitif pengabdian dan hibah kompetitif unggulan strategis nasional.
Untuk pelaksanaan standar nasional pendidikan telah dilakukan ujian nasional (UN) bagi siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK tahun pelajaran 2007/2008 dengan penetapan batas nilai kelulusan di atas 5,25 dan tahun pelajaran 2008/2009 dengan penetapan batas nilai kelulusan dinaikkan menjadi di atas 5,50 yang sudah terlampaui dengan adanya rerata hasil UN SMP/MTS sebesar 7,02 pada tahun 2007. Rerata hasil UN SMA/SMK/MA sebesar 7,17 pada tahun 2008 sementara batas nilai kelulusan UN SMA/SMK/MA ditargetkan sebesar 7,3 pada tahun 2009. Disamping itu, pada jenjang SD/MI mulai tahun 2008 dan 2009 telah dilakukan juga Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yang diikuti sekitar oleh 5,1 juta siswa kelas VI SD/MI. Dalam keikutsertaan di berbagai olimpiade dan ajang kompetisi internasional pada semua jenjang pendidikan pada tahun 2008 kontingen Indonesia memperoleh 117 medali emas.
Pada jenjang pendidikan tinggi dilaksanakan penelitian hibah bersaing, pemberian block grant penelitian pada beberapa perguruan tinggi, serta kerja sama penelitian antar perguruan tinggi, dunia industri, dunia usaha, dan pemerintah daerah yang diarahkan pada sektor strategis, teknologi tepat guna, dan menghasilkan paten yang 50 paten pada tahun 2009.
Untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan, ketersediaan pendidik yang berkualitas merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi. Sampai tahun 2008 guru yang memenuhi kualifikasi S1/D4 telah mencapai 47,04 persen dan jumlah guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik telah mencapai 15,19 persen. Untuk meningkatkan persentase guru yang memenuhi kualifikasi akademik, pada tahun 2009 dilakukan pendidikan jenjang S1/D4 bagi lebih dari 191,2 ribu orang guru. Sementara itu uji sertifikasi profesi guru pada tahun yang sama direncanakan menjangkau sekurang-kurangnya 318 ribu orang. Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah terus meningkatkan kesejahteraan pendidik melalui penyediaan tunjangan fungsional bagi 1,9 juta guru pegawai
01 - 73 negeri sipil (PNS) dan 1.039,6 ribu guru non PNS, tunjangan profesi bagi 416,9 ribu guru, dan tunjangan khusus bagi 20,9 ribu guru yang bekerja di daerah terpencil pada tahun 2009.
Upaya penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun juga dilakukan melalui jalur nonformal sehingga tingkat keaksaraan penduduk Indonesia terus membaik, ditandai dengan angka buta aksara penduduk usia 15 tahun ke atas pada tahun 2008 mencapai 6,21 persen. Angka tersebut menurun dari kondisi awal sebesar 10,21 persen pada tahun 2004 menjadi 9,55 persen pada tahun 2005, turun lagi menjadi 8,07 persen pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 menjadi 7,20. Dalam rangka memelihara dan melestarikan kemampuan keaksaraan, upaya pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan melalui penyelenggaraan layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi dan pengembangan e-library di perpustakaan provinsi dan perpustakaan umum kabupaten/kota.
Pengembangan PAUD mendapat perhatian yang cukup besar karena peranannya dalam mempersiapkan anak untuk memasuki bangku sekolah dan perannya meningkatkan kinerja pembangunan pendidikan secara keseluruhan. Upaya perluasan dan pemerataan pelayanan serta peningkatan kualitas PAUD pada tahun 2009 dilakukan antara lain melalui kegiatan pembangunan 710 taman kanak-kanak/raudhatul athfal (TK/RA) pembina di tingkat kecamatan yang tersebar di 33 provinsi, pemberian subsidi rintisan PAUD untuk 5.784 lembaga, pengembangan lembaga pusat unggulan PAUD tingkat provinsi dan tingkat Kabupaten/Kota, serta Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) sebagai pusat percontohan PAUD. Sementara itu, kegiatan pemberian subsidi juga diberikan kepada raudhatul athfal/bustanul athfal (RA/BA) di 30 lokasi, rehabilitasi RA/BA di 28 lokasi dan pengadaan alat pendidikan di 100 lokasi, bantuan operasional dan pemeliharaan fasilitas RA/BA di 548 lokasi, serta pengembangan manajemen tanam kanak-kanak Al Quran/taman pendidikan Quran (TKA/TPQ) dan RA/BA bagi 354 lembaga. Sedangkan untuk meningkatkan mutu pendidik RA/BA dilakukan pendidikan dan pelatihan di 440 lembaga pendidikan keagamaan dan 2.000 lembaga pendidikan PAUD.
01 - 74
Upaya penguatan manajemen dan tata kelola pelayanan pendidikan terus dilakukan untuk dapat mewujudkan pengelolaan pembangunan pendidikan yang lebih efisien, efektif, dan akuntabel. Pada tahun 2009 terus dilakukan berbagai kegiatan pelatihan dan sosialisasi MBS agar sistem tersebut dapat diterapkan di seluruh daerah. Selain itu, pemerintah juga terus berupaya untuk meningkatkan anggaran pendidikan dari tahun ke tahun dan pada tahun 2009 anggaran pendidikan mencapai 20 persen dari APBN sebagaimana diamanatkan dalam Amandemen UUD 1945. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sektor pendidikan telah dilakukan oleh Depdiknas melalui e-pembelajaran dan e-administrasi, yang ditandai dengan dioperasikannya Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas). Hingga akhir tahun 2008 Depdiknas telah berhasil menyelesaikan 14 aplikasi Sistem Informasi dan Manajemen (SIM). Selain itu, Jardiknas telah berhasil menghubungkan 16.072 titik yang terdiri dari 869 titik pada zona kantor, 203 titik pada zona perguruan tinggi, dan 15.000 titik pada zona sekolah. Zona kantor meliputi: 12 unit Depdiknas Pusat, 34 Dinas Pendidikan Provinsi, 461 Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, 17 Balai Bahasa, 17 Balai Tekkom, 7 Balai Pendidikan Non Formal (PNF), 16 Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB), 7 Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BPPLSP), 4 Kantor Bahasa, 31 Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), 12 Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), 60 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), 161 ICT Center, 20 Perpustakaan, dan 10 Museum Nasional. Zona Perguruan Tinggi meliputi: 154 Perguruan Tinggi (INHERENT), 37 Unit Pendidikan Belajar Jarak Jauh – Universitas Terbuka (UPBJJ-UT), dan 12 Kopertis. Sementara itu, zona sekolah menghubungkan 10.502 SMA/SMK Sederajat, 3.996 SMP Sederajat, 464 SD dan 38 SLB. Sementara itu, kualitas manajemen pelayanan pendidikan terus ditingkatkan. Mulai tahun 2007 Departemen Agama telah melakukan pengembangan education management information system (EMIS), pendataan dan pemetaan pendidikan agama dan keagamaan, pengembangan TIK bagi pengelolaan pendidikan, serta pembinaan manajemen berbasis madrasah (MBM).
01 - 75