B. PENILAIAN RISIKO SOSIAL
122. Risiko sosial bagi Transfer Tunai Bersyarat PKH adalah menengah (medium). Program ini mendorong inklusi dengan memperluas cakupan pada kelompok populasi yang paling rentan (seperti kelompok difabel, masyarakat adat). Risiko sosialnya umumnya terkait dengan kapasitas program dalam menentukan target dengan tepat pada penerima manfaat keluarga miskin, pelibatan masyarakat dan penggunaan jalur komunikasi yang sesuai, penerapan Sistem Penanganan Keluhan (Grievance Redress System, GRS) serta penetapan lingkungan yang kondusif untuk membantu keluarga PKH dalam memanfaatkan bantuan tunai untuk meningkatkan kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan mereka.
42 Banarjee A, Hanna R, Kreindler G, Olken BA (2015), “Debunking the Stereotype of the Lazy Welfare Recipient: Evidence from Cas h Transfer Programs Worldwde”, Center for International Development, Harvard University.
48 Tabel 8: Risiko Utama dan Usulan Langkah Mitigasi
No. Deskripsi Risiko Langkah Mitigasi 1. Penyertaan kelompok yang
termarginalisasi, terutama di daerah-daerah terpencil yang memiliki keterbatasan dalam pasokan
Kenaikan skala PKH dari 3,5 juta menjadi 6 juta keluarga
menyediakan risiko implementasi mengenai inklusi kelompok rentan, kualitas pelaksanaan program serta fasilitasi, kelengkapan, penanganan keluhan, pengawasan, dll. Masalah ini lebih relevan di lokasi terpencil, tujuan perluasan PKH . Kurangnya akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar mungkin dapat merugikan penerima PKH karena pendaftaran mereka dapat diberhentikan jika mereka terus-menerus gagal memenuhi
persyaratan-persyaratan. Isu tersebut kemungkinan akan menjadi lebih besar dalam konteks manajemen program yang lemah, koordinasi serta pengawasan yang kurang.
- Sebuah tinjauan atas persyaratan dan protokol verifikasi terutama di daerah terpencil dan daerah kurang layak untuk mengakomodasi kendala dalam persediaan. Saat ini, sebuah road map untuk inklusi sosial sedang dibahas di bawah Sub Direktorat penerima manfaat. Bahasan ini mencakup penguatan sistem MIS dan peran fasilitator agar memiliki kapasitas yang memadai untuk mengakomodasi kebutuhan baru.
- Memperjelas peran dan tanggung jawab dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah lokal untuk mendukung akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar, operasi program, dan pengawasan; - Membangun kapasitas fasilitator agar dapat bekerja
dengan masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang sosial, ekonomi dan budaya yang berbeda. dan merampingkan peran fasilitator dan sistem manajemen kinerja dengan penekanan pada kerja sosial dan tanggung jawab fasilitasi.
- Memperkuat fungsi GRS (poin 2) dan strategi komunikasi (poin 3).
2. Sistem Penanganan Keluhan (GRS) yang lemah dan tidak efektif.
Saat ini, program GRS sedang dalam pengembangan dan sebuah
perbaikan besar sedang
direncanakan. Sampai saat ini, GRS belum efektif akibat kurangnya otoritas dan kapasitas untuk mengatasi keluhan pada tingkat lokal.
- Mengembangkan dan menguji model-model sistem penanganan keluhan (GRS) yang mudah diakses dan dapat menjaga kerahasiaan pelapor (confidentiality); - Mengembangkan dan menguji modul GRS dan
manual operasi di MIS untuk memastikan bahwa keluhan direkam dan dianalisis secara konsisten; - Merancang dan merumuskan sebuah unit atau mitra,
yang secara idealnya independen dari fungsi implementasi dengan pengaturan struktur dan koordinasi yang jelas dengan JSK dan UPPKHs lokal;
- Memperkuat peran fasilitator dan operator dalam operasi GRS;
- Mengembangkan dan menerapkan strategi komunikasi dan sosialisasi yang komprehensif di GRS. Sarana dan pendekatan komunikasi harus memperhatikan tingkat literasi, bahasa yang lazim/dialek, frekuensi, waktu, dll agar inklusif, dapat diakses, dan sesuai secara sosial serta budaya; - Memperjelas dan menyepakati struktur GRS yang
mencakup aspek serta kasus yang harus diselesaikan secara lokal. Ini termasuk pelimpahan peran dan
49 wewenang kepada badan pelaksana lokal yang
termasuk pemerintah sub-nasional dan tim konsultasi;
3. Kurangnya kepekaan terhadap norma-norma lokal dan
pelaksanaan (delivery) program yang kurang baik.
Pengadaan yang terpusat dilaporkan telah mengakibatkan kasus-kasus penempatan fasilitator yang kurang cocok, misalnya fasilitator tidak tahu tentang konteks lokal atau tinggal di lokasi yang terlalu jauh.
- Melatih dan membimbing para fasilitator mengenai pemahaman lintas budaya
- Saat memungkinkan, pekerjakan orang lokal yang memiliki tingkat kompetensi yang cukup atau orang-orang yang cukup mengerti konteks lokal untuk memfasilitasi program;
- Memasukkan konsultasi dan latihan inventarisasi dalam kegiatan M&E demi mendapatkan masukan dan saran dari penerima manfaat tentang pelaksanaan program.
4. Komunikasi program yang tidak efektif
Akses terhadap informasi dianggap kurang di semua tingkatan, dan ini seringkali dikaitkan dengan kurangnya kesadaran dan
pemahaman khususnya ada isu-isu penentuan target, pemilihan penerima bantuan, dan persyaratan keikutsertaan dalam PKH.
- Mengembangkan dan menguji strategi komunikasi demi memastikan bahwa ada sosialisasi, diseminasi informasi program, dan dokumentasi yang
berkelanjutan. Informasi tentang penentuan target, termasuk proses dan kriteria, harus dikomunikasikan ke tingkat masyarakat secara jelas. Ini berpotensi mengurangi pengaduan dan keluhan yang seringkali terkait dengan pemilihan penerima manfaat;
- Merekrut tim spesialis komunikasi untuk
mengembangkan modul pelatihan juga memfasilitasi sesi pelatihan tentang strategi komunikasi kepada pihak pelaksana;
5. Kesalahan dalam penentuan target
Dengan perluasan program, eksklusi program diperkirakan akan menurun. Akan tetapi, risiko terkait kesalahan dalam penentuan target dan
pengawasan teknik yang lemah dapat membesar saat JSK menjalani reformasi kelembagaan.
- Memperkuat pengawasan dan keahlian teknis dalam tim penentuan target;
- Memperkuat pelaksanaan GRS (poin 2) dan menguji strategi komunikasi program (point3) didukung dengan pembangunan kapasitas dan sosialisasi untuk pihak pelaksana;
- Memfasilitasi koordinasi dan memperkuat keterlibatan dengan pemerintah sub-nasional dan pemangku kepentingan lokal lainnya baik negeri maupun swasta untuk memobilisasi upaya untuk memastikan inklusi kelompok marginal dan menjawab masalah eksklusi (misalnya kurangnya dokumentasi, tidak disurvei, tidak memiliki akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar )
6. Memperburuk konflik dan/atau ketegangan
Kendala utama dalam menegakkan pengawasan atas pelaksanaan adalah kurangnya sumber daya manusia dan dana finansial untuk menanggapi risiko dan dampak sosial. Peran fasilitator tidak didefinisikan dengan baik dan tidak ada sarana yang
- Meninjau persyaratan anggaran untuk M & E, termasuk personil, perjalanan, sosialisasi, peningkatan kapasitas, pelacakan keluhan, dan dokumentasi;
- Menugaskan tim spesialis sosial dalam JSK untuk mengawasi risiko dan dampak juga memberi nasihat tentang tanggapan dan langkah-langkah mitigasi; - Penguatan fungsi M&E dengan tanggung jawab GRS
50 efektif untuk mengerjakan tanggung
jawab pekerjaan sosial, seperti sosialisasi program dan menanggapi pertanyaan serta keluhan.
pelaksana. Fungsi tersebut juga perlu dicerminkan di UPPKHs lokal;
- Menetapkan protokol untuk pengawasan dan pelaporan dan pencatatan keluhan di MIS GRS; - Memperkuat kapasitas fasilitator dan operator agar
dapat melakukan fungsi pengawasan dan menanggapi dan/atau meningkatkan keluhan pada waktu yang tepat.
51