• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penokohan Ibu Kandung Nayla

BAB II: ANALISIS STRUKTUR TOKOH, PENOKOHAN SERTA LATAR

2.2 Analisis Penokohan

2.2.3 Penokohan Ibu Kandung Nayla

Ibu kandung Nayla adalah seorang peragawati terkenal. Ia digambarkan sebagai seorang wanita yang cantik, pandai dan mandiri. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(69) Ibu adalah perempuan cantik dan mandiri. Ibu bisa menjadi seorang ibu sekaligus ayah. Sebagai seorang peragawati ternama di jamannya, Ibu mampu membagi waktu antara pekerjan dan mengurus rumah. (hlm 95) (70) Bahkan Ibunya yang mengaku sudah sedemikian cantik, sedemikian

terkenal, sedemikian tegar, sedemikian mapan dan sedemikian pandai…(hlm 142)

Kecantikan yang dimiliki ibu kandung Nayla membuatnya banyak disukai laki-laki. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(71) Lihat betapa banyak laki-laki yang takluk kepadaku. Lihat betapa mereka rela menyerahkan jiwa dan raganya hanya untukku. (hlm.8)

Selain cantik, pandai dan mandiri, ibu kandung Nayla merupakan wanita yang kuat dan tegar dalam menghadapi masalah. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(72) Ibu memang orang yang kuat…. Tak pernah saya saksikan air mata meleleh di pipinya seperti teman-teman arisan Ibu yang berkumpul di rumah ketika sedang membicarakan perselingkuhan suaminya. Tak pernah saya menyaksikan Ibu mengurung diri di kamar seperti Tante Ira tetangga sebelah rumah yang dicerai tanpa diberi hak perwakilan anak. (hlm.111-112)

Ibu kandung Nayla juga mempunyai sifat tegas dan tidak suka berbasa-basi. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(73) Saya ini orangnya straight to the point. Saya gak suka basa-basi. Dan sebenarnya, saya sudah tidak mau tahu lagi apa pun tentang Nayla. bukan karena saya tidak peduli, tapi saya harus mengajar Nayla untuk menerima konsekuensi semua perbuatannya. (hlm.139)

Dalam mendidik Nayla, ibu kandungnya sangat keras dan disiplin. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(74) Harusnya kamu tahu, sikapku tak bisa ditawar. Aku tak akan menjilat ludahku sendiri. (hlm.17)

(75) Kita semua tahu ia adalah orang yang sangat keras kepala dan memegang teguh prinsipnya. Ia adalah perempuan terhebat yang pernah saya kenal. Ia laksana matahari yang tak akan pernah terjamah dan terjangkau. (hlm.57) (76) Ibu tidak mendidik Nayla layaknya ibu-ibu lain. Ibu adalah orang yang

sangat rapi dan disiplin. (hlm 96)

Walaupun selalu mendidik Nayla dengan disiplin dan keras, ibu kandung Nayla selalu berusaha memenuhi kebutuhan materi Nayla. hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini. (77) Aku menafkahimu. Aku memberimu tempat berteduh yang nyaman. Aku

(78) Kusekolahkan kamu di sekolah yang cukup mahal. Kamu tinggal menghempaskan pantatmu di atas jok mobil yang berpendingin dan sampailah kamu di sekolah dalam sekejap. Kamu tinggal membuka mulut dan menyuap makanan bergizi penuh variasi tanpa perlu susah-susah memutar otak. (hlm.7)

Ibu kandung Nayla sangat membenci mantan suaminya karena merasa ditinggalkan saat mengandung Nayla. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(79) Kamu tak akan pernah tahu, anakku, seberapa dalam ayahmu menyakiti hatiku. Ia menyakiti kita dengan tidak mengakui janin yang kukandung adalah keturunannya… Kamu milikku, bukan milik ayahmu. (hlm 6)

(80) Di saat ayahmu meninggalkan. Di saat ayahmu enak-enakan. Di saat ayahmu seenak udel kawin dengan perempuan yang lebih cocok menjadi kakakmu. (hlm.154)

(81) Ayahmu yang tidak bertanggung jawab. Ayahmu yang bejat. Ini semua salahnya. Bukan aku! Jika ia tidak meninggalkan kita, Nayla, tidak akan ada nama Om Indra. Tidak akan ada nama siapa pun! Demi Tuhan, Nayla. sadarlah, ini semua salah ayahmu. Ayahmu. (hlm.156)

Kebencian ibu kandung Nayla terhadap mantan suaminya, membuat Nayla tidak diijinkan oleh ibunya untuk mengenal ayah kandungnya. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(82) Begitu pula dengan sikapku dengan tidak mengijinkanmu mengenalnya…. Kelak kamu akan sadar, bahwa ayahmu sama sekali tak mencintaimu. Dan dengan sendirinya kamu tak akan sudi mencarinya. Kamu akan memilih lebih baik hanya punya aku, ibumu, ketimbang punya ayah yang tega meninggalkan anaknya. (hlm8)

(83) Untukmu kembali dengan kesadaran bahwa aku tidak layak kamu tinggal. Apalagi kamu tinggal hanya untuk seorang ayah yang begundal…. Apakah kamu tidak bisa melihat tanda-tanda? Bahkan alam pun tidak sudi mempersatukan kalian. Kenapa? Karena bajingan itu tidak layak mendapatkanmu! (hlm 155)

(84) Padahal menurut Ibu, Ayah bukan ayah teladan. (hlm.168)

Kebencian ibu kandung Nayla terhadap suaminya, membuatnya tidak ingin menggantungkan hidupnya kepada mantan suaminya tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(85) Akan kubuktikan kepadanya, anakku, bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa perlu ia mengulurkan tangan. (hlm.6)

Setelah berpisah dengan ayah Nayla, ibu kandung Nayla menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki dengan tujuan untuk mendapatkan uang dan materi. Hal ini ditunjukkan oleh pengarang dengan menggunakan metode analitik dalam kutipan di bawah ini.

(86) Tapi Ibu tidak mengagumi Om Billy. Ibu hanya menginginkan uang Om Billy. Maka ketika Om Billy yang jadwalnya sebagai birokrat begitu padat itu harus segera pergi setelah memasukkan sejumlah uang ke dalam tas Nayla, Ibu sama sekali tak peduli. Ibu peduli pada berapa banyak uang yang sudah tersimpan di dalam tas Nayla. Karena itu tak lama setelah tubuh Om Billy menghilang dari hadapan mereka, Ibu mengambil tas Nayla. Mengeluarkan uangnya. Menghitung di bawah meja. Memasukkan ke dalam tasnya. Dan rasa puas terpancar di wajahnya. (hlm 95)

(87) Om Deni segera membayar semua barang termasuk belanjaan Ibu. Setelah pembayaran selesai, Om Deni menghampiri Nayla. sekali lagi menjabat tangannya dan tak lupa memasukkan sejumlah uang ke dalam tasnya sambil berbisik, “Ini untuk jajan ya, sayang…” (hlm.97)

Dokumen terkait