Transparansi dan Keadilan Pengawasan dan Peraturan
Penyelenggaran
Layanan
• Transparansi: Informasi harus mengalir secara bebas dalam masyarakat. Segala proses dan keputusan harus bersifat transparan dan terbuka untuk pengawasan publik.
• Akuntabilitas: Pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil harus bertanggung jawab kepada masyarakat atau kepentingan yang mereka wakili.
• Partisipasi: Semua penduduk, baik laki-laki maupun perempuan, harus memiliki suara – secara langsung atau melalui organisasi perantara yang mewakili
kepentingan mereka – dalam seluruh proses pengambilan kebijakan dan keputusan. Partisipasi yang lebih luas bergantung pada seberapa jauh Pemerintah Pusat dan Daerah menerapkan suatu pendekatan inklusif.
• Kesetaraan: Semua kelompok masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, harus memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
• Koherensi: Dengan munculnya permasalahan sumber daya air minum yang semakin rumit, maka kebijakan dan tindakan yang sesuai harus dilaksanakan, sehingga menjadi koheren, konsisten, dan mudah dipahami. Amankah untuk diminum? Indeks Layanan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi tampak baik
pada hard data tentang kualitas air minum maupun pada persepsi pelanggan.
Gambar 2: Komponen-Komponen Indeks Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Sub-Indeks Dimensi Indikator
1. Perencanaan dan
Penganggaran a) Proses-proses Perencanaan 1.1 Ketersediaan tujuan Pemda terkait penyediaan air minum dan sanitasi publik dalam rencana kerja tahun berjalan yang diketahui oleh publik. 1.2 Rencana Perusahaan PDAM disusun menurut utilitas secara transparan dan konsultatif,
dengan dukungan resmi yang diperoleh dari Badan Pengawas dan Pelaksana Kabupaten. 1.3 Pemda memanfaatkan kelompok kerja sanitasi untuk memfasilitasi perencanaan dan
penganggaran sanitasi yang terintegrasi. b) Alokasi
Anggaran 1.4 Ketersediaan alokasi anggaran tahunan Pemda untuk layanan penyediaan air minum dan sanitasi selama tahun fiskal berjalan yang diketahui oleh publik. 1.5 Pemda berinvestasi secara langsung dalam perusahaan daerah air minumnya. 1.6 Total nilai aset PDAM sebagai suatu fungsi dari masyarakat yang dilayani. 1.7 Pemda mengalokasikan pendanaan untuk pembangunan dan pengoperasian
prasarana air limbah. 2. Peraturan dan
Pengawasan 2.1 Dewan Pengawas PDAM memiliki peran dan serangkaian tanggung jawab yang telah ditentukan secara jelas dan mengadakan pertemuan secara teratur untuk memenuhi tugas-tugas tersebut.
2.2 Laporan Kemajuan Manajemen Tahunan diberikan kepada Pelaksana Kabupaten/Kota oleh Direktur dan Dewan Pengawas PDAM.
2.3 Pemda menunjuk Direksi PDAM sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan untuk keperluan “uji kepatutan dan kelayakan.”
2.4 Pemda telah memberlakukan perjanjian manajemen berbasis kinerja dengan Direksi PDAM. 2.5 Pemda menyetujui penyesuaian kenaikan bertahap tarif reguler untuk PDAM.
2.6 Pemda mengatur pembuangan limbah sistem septik rumah tangga. 3. Sosialisasi
dan Pelibatan Masyarakat
a) Kesadaran
Masyarakat 3.1 Pemda telah melaksanakan kampanye sosialisasi ke publik tentang pentingnya peningkatan sanitasi dan kebersihan. 3.2 Persentase rumah tangga yang telah melihat atau mendengar kampanye kesadaran
tentang isu-isu air minum, sanitasi, dan kebersihan.
3.3 Persentase rumah tangga yang mengetahui bahwa Pemda bertanggung jawab atas penyediaan air minum di lingkungan sekitar mereka.
3.4 Persentase rumah tangga yang mengetahui bahwa Pemda bertanggung jawab untuk melindungi sungai dan air bawah tanah dari polusi saluran pembuangan.
b) Pelibatan
Pelanggan 3.5 PDAM secara teratur melakukan survei kepuasan pelanggan independen.
3.6 PDAM secara teratur melibatkan para pelanggannya melalui pertemuan terencana, forum pelanggan, open house, atau sarana serupa lainnya.
4. Layanan
Pelanggan a) Ketepatan Waktu dan Akurasi Informasi
4.1 PDAM memberikan informasi penting dan terkini tentang layanannya kepada pelanggan melalui situs web atau sarana lainnya.
4.2 Persentase pelanggan yang menyatakan bahwa tagihan mereka mencerminkan pemakaian air aktual.
b) Mekanisme
• Daya tanggap: Lembaga-lembaga dan proses harus melayani semua pemangku kepentingan dan menanggapi dengan baik perubahan permintaan dan preferensi atau kondisi baru lainnya.
Apa yang dapat dilakukan oleh para pembuat kebijakan untuk meningkatkan tata kelola air minum yang baik dan membantu menjamin bahwa Indonesia akan mampu mencapai tujuannya secara berkelanjutan terkait
Sub-Indeks Dimensi Indikator
c) Layanan yang Berpihak kepada Masyarakat Miskin
4.5 Ketersediaan program amortisasi untuk biaya koneksi.
4.6 Pemanfaatan fasilitas air minum alternatif untuk melayani masyarakat berpenghasilan rendah.
5. Administrasi
Internal PDAM 5.1 PDAM memanfaatkan teknologi terkini untuk mengelola/melacak keuangan, aset, dan basis pelanggannya. 5.2 PDAM telah menetapkan kebijakan pengadaan yang jelas.
5.3 PDAM telah menetapkan Prosedur Operasional Standar yang mengatur fungsi-fungsi utama teknis, keuangan, dan sumber daya manusia.
5.4 PDAM memberlakukan kode etik resmi yang diakui oleh semua staf.
5.5 PDAM memiliki rencana pelatihan/pengembangan profesional untuk para stafnya. 6. Kinerja PDAM a) Kualitas
Layanan 6.1 Persentase pelanggan yang melaporkan sejumlah kecil masalah atau tidak adanya masalah terkait kualitas air leding. 6.2 Persentase pelanggan yang melaporkan bahwa tekanan air leding cukup memadai. 6.3 Persentase pelanggan yang melaporkan bahwa air leding tersedia secara terus-menerus. 6.4 Persentase pelanggan yang melaporkan bahwa penyediaan air leding dilakukan secara
terjadwal.
6.5 Kekeruhan air yang mengalir dari keran air leding rumah tangga.
6.6 Tingkat residu klorin dari air yang mengalir dari keran air leding rumah tangga. 6.7 Tekanan air yang mengalir dari keran air leding rumah tangga.
b) Teknis dan
Keuangan 6.8 Nilai kinerja teknis dan keuangan PDAM tahunan dari Badan Pengawas Keuangan tingkat Provinsi. 7. Akses dan
Penggunaan Layanan
7.1 Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap peningkatan sumber daya air minum.
7.2 Persentase rumah tangga berpenghasilan rendah yang membayar kurang dari 5% dari penghasilan bulanan mereka untuk akses terhadap air bersih.
7.3 Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap peningkatan fasilitas sanitasi. 7.4 Persentase rumah tangga yang memiliki sistem septik yang dapat disedot pada saat dikuras. 8. Kepuasan
Masyarakat 8.18.2 Persentase rumah tangga yang puas dengan akses terhadap air bersih.Persentase rumah tangga yang puas dengan kualitas air minum dari sumber daya air daerahnya.
penyediaan layanan? Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini. Prakarsa Infrastruktur Indonesia (IndII) yang didanai oleh Pemerintah Australia telah menerapkan strategi-strategi yang dapat meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik, seperti program-program bantuan berbasis keluaran, yang tidak hanya memberi penghargaan terhadap keluaran kasat mata, seperti meningkatnya jumlah sambungan air minum untuk masyarakat miskin di daerah perkotaan, melainkan juga meningkatnya hubungan antara Pemda, PDAM, dan masyarakat.
Untuk melengkapi upaya tersebut, digunakan suatu perangkat lain rintisan IndII yang saat ini tengah diterapkan sepenuhnya, yaitu: Indeks Layanan Air Minum dan Sanitasi
(Water and Sanitation Services Index, WSSI). Indeks ini merupakan gabungan dari delapan sub-indeks yang terkait dengan tata kelola pemerintahan dan kinerja sebagai tolok ukur sederhana, berdampak besar terkait bagaimana Pemda menjalankan sektor air minum dan sanitasi. Model ini meniru indeks-indeks tata kelola pemerintahan yang telah berhasil diterapkan di beberapa wilayah lain di Asia Tenggara dan dunia.
WSSI dirancang untuk mendukung peningkatan terus-menerus terhadap transparansi, akuntabilitas, kesetaraan, daya tanggap, dan partisipasi. Program ini secara langsung menyertakan pandangan-pandangan dan tingkat kepuasan para anggota masyarakat yang paling utama, Gambar 3: Uji Coba WSSI: Pemeringkatan Kabupaten
Perencanaan dan Penganggaran Peraturan dan Pengawasan Jangkauan Publik dan Keterlilbatan Layanan Pelanggan Medan Nilai Tertinggi Kendal Binjai Salatiga Makassar Parepare Takalar Semarang Jeneponto Pekalongan Deli Serdang Tanjung Balai 30.00 10.00 20.00 40.00 5.00 15.00 25.00 35.00 0.00
Administrasi Internal PDAM Kinerja PDAM
Akses Layanan dan Penggunaan Kepuasan Warga
yaitu para pengguna akhir dari layanan penyediaan air minum dan sanitasi.
Hal yang penting adalah pendekatan WSSI berbeda dengan sistem penetapan tolok ukur penyediaan air minum dan sanitasi yang ada, yang cenderung menekankan indikator-indikator kuantitatif (teknis, keuangan, dan operasional) yang diperoleh dari audit eksternal PDAM sendiri. WSSI dirancang untuk melengkapi dan menambah nilai terhadap pendekatan pemantauan yang berlaku saat ini.
Empat aspek desain inti dari WSSI (persaingan antar Pemda, pemberdayaan warga, identifikasi praktik-praktik terbaik, dan pemantauan) menyentuh dan menggarap tujuan keseluruhan untuk mendorong Pemda agar lebih bertanggung jawab terhadap warga mereka dan melakukan reformasi dan peningkatan berkelanjutan dalam penyediaan layanan air minum dan sanitasi:
Persaingan antar Pemda: WSSI dapat digunakan sebagai perangkat bagi Pemda untuk membandingkan dan memantau kinerja mereka sendiri dalam hal-hal yang terkait dengan Pemda di daerah sekitar wilayah mereka. Peringkat kabupaten dirancang untuk menumbuhkan persaingan positif di antara kabupaten-kabupaten guna meningkatkan kinerja mereka, saling mengukur satu sama lain bukan terhadap praktik terbaik eksternal yang tidak dapat dicapai, melainkan terhadap kabupaten berkinerja terbaik dan terburuk di dalam negeri. Dengan demikian, tercipta praktik-praktik dan kebijakan terbaik yang spesifik dari sisi daerah dan budaya yang dapat dipelajari dan diadaptasi oleh kabupaten-kabupaten di Indonesia.
Pemberdayaan Warga: Masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan hasil WSSI untuk membandingkan kinerja kabupaten mereka terhadap kabupaten-kabupaten lain dan menggunakan suara dan perangkat advokasi (seperti kelompok masyarakat sipil setempat) untuk menekan Pemda guna meningkatkan kualitas layanan mereka menjadi lebih setara. Masyarakat Indonesia seringkali tidak menyadari kualitas penyediaan air minum yang seharusnya mereka peroleh. Melalui keterlibatan media dan kelompok masyarakat sipil secara teratur, WSSI diperkirakan akan menjadi perangkat yang berharga bagi warga untuk
memperoleh informasi yang lebih baik tentang kualitas layanan yang menjadi tanggung jawab Pemda mereka serta bagaimana perbandingannya dengan kabupaten tetangga. Lebih lanjut, rumah tangga-rumah tangga yang termasuk dalam sampel juga akan menerima umpan balik langsung terkait kualitas layanan melalui pengujian kualitas air dari keran air rumah tangga mereka masing-masing.
Identifikasi Praktik-Praktik Terbaik: WSSI dapat mengidentifikasi dan memberikan contoh-contoh praktik terbaik Pemda yang menonjol di Indonesia. Praktik-praktik tersebut dapat diadaptasi dan diteruskan kepada Pemerintah Kabupaten yang memiliki kesamaan untuk meningkatkan kinerja mereka sendiri.
Pemantauan Intervensi dan Kemajuan: Sebagai sebuah proses berulang, WSSI memungkinkan kita untuk menetapkan tolok ukur kondisi awal pada tahun pertama dan mengukur peningkatan dari tahun ke tahun. Indeks ini juga membantu warga, media, masyarakat sipil, dan Pemda sendiri untuk secara langsung mengidentifikasi peningkatan yang telah dicapai dari waktu ke waktu. Selanjutnya, mengingat rencana untuk mempublikasikan hasilnya di media massa, Indeks tersebut berpotensi membawa tingkatan transparansi yang baru menuju penelusuran kemajuan, termasuk sejauh mana realisasi aktual dari tingkat cakupan yang ditargetkan.
WSSI ini disusun menjadi dua komponen, yaitu: lima sub-indeks tata kelola pemerintahan dan tiga sub-sub-indeks “berbasis warga”. Komponen ini menggabungkan hard data yang diperoleh dari dokumen resmi, wawancara dan uji fisik air dengan soft data berdasarkan persepsi pelanggan. Lihat Gambar 2 untuk perincian masing-masing komponen indeks. Melalui pengumpulan dan analisis data, perangkat statistik canggih diterapkan untuk menjamin bahwa data yang diperoleh cukup baik dan setiap kesalahan dikoreksi atau ditiadakan.
Pada putaran pertama secara lengkap, yang saat ini sedang dilaksanakan, WSSI akan mencakup antara 100 hingga 150 Pemda, termasuk survei terhadap 300 rumah tangga per kabupaten, mencakup sampai dengan 45.000 rumah tangga.