• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyusunan bobot butir dan bobot komponen (standar)

Dalam dokumen LAPORAN CAPAIAN KINERJA BAN-S/M (Halaman 84-91)

PELAKSANAAN PROGRAM KERJA

H. Pembinaan dan Persiapan Akreditasi Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN)

I. Pengembangan Perangkat Akreditasi

3. Penyusunan bobot butir dan bobot komponen (standar)

Penyusunan bobot butir dan bobot komponen melibatkan pakar dan stakeholders pendidikan. Beberapa Pakar yang dilibatkan dalam penetapan bobot untuk instrumen akreditasi sekolah/madrasah yaitu Burhanudin Thola (UNJ), Suprananto (Puspendik Kemendikbud), Nanang Arif Guntoro (BSNP), dan Urip Purwono (Unpad). Poin-poin yang disampaikan oleh para pakar dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Burhanudin Thola

1) Perangkat yang ada sekarang pada prinsipnya tidak berbeda. Kecuali pada beberapa perubahan suasana kurikulum dan pembelajaran.

2) Cut-off score memiliki banyak model, akan tetapi muarannya adalah dalam menentukan skala harus ada reasoning yang dipakai dalam menetapkan objek yang akan ditetapkan.

3) Dalam Standar setting selalu berangkat dari nilai yang paling minimum. Jika akan ditetapkan skala maksimal 100, perlu dicari, yang minimum di tingkat mana? Misalnya di angka 40 atau 50?

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

80

Dalam hal ini, makin tinggi yang ditetapkan makin baik. Pada prinsipnya, dalam standar setting, perlu ada dasar di mana nilai harus dipotong, dan ini juga bisa dilihat dari data empiris.

4) Instrumen akreditasi minimal 5 tahun baru bisa ditinjau ulang karena kondisi di lapangan yang senantiasa bersifat dinamis. Dalam setiap perubahan yang dilakukan, BAN-S/M harus punya argumentasi, terkait apa reasoning-nya. Reasoning cut-off score itu harus memenuhi tiga kriteria seperti reasonbale, memadai, dan dapat dipercaya.

5) Dalam revisi perangkat, setiap standar dari 8 standar harus diberi labelling. Misalnya untuk standar Isi, perolehan nilainya perlu disandingkan dengan peringkatnya. Dengan demikian, akan banyak info yang diberikan ke sekolah/madrasah, dan hal ini juga memudahkan pemerintah untuk melakukan intervensi kebijakan. Hal ini penting sebab akreditasi berfungsi untuk melihat kelemahan sekolah/madrasah dan muaranya adalah pemerintah agar bisa membantu untuk memperbaikinya. Penggunaan label harus dimanfaatkan secara baik sehingga pemerintah terketuk hatinya dan sensitif terhadap hasil akreditasi.

6) Akreditasi diupayakan jangan hanya mengukur fisik semata. Sebagai contoh, di AS tidak lagi mempersoalkan fisik tapi lebih pada lulusannya sehingga dibuat penilaian terhadap mutu sekolah/madrasah yang dilakukan oleh National Assessment for Educational Progress (NAEP) dan hal tersebut selalu dipantau oleh pemerintah.

b. Nanang Arif G. (BSNP)

1) Bobot butir mudah untuk menjelaskan ke audiens. Misalnya lebih penting mana antara ruang kelas dan toilet untuk mendukung proses pembelajaran. Masalah yang sulit adalah menetapkan bobot komponen dan reasoningnya. Misalnya kenapa dalam standar isi bobotnya di semua jenjang berbeda?

2) Dalam beberapa tahun terakhir, kepedulian pemda sangat besar terhadap akreditasi. Hanya saja, banyak daerah selama ini masih kurang menggunakan bahan akreditasi sebagai pijakan dalam

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

81

kebijakan. BSNP selalu mendorong pemerintah agar akreditasi bisa dijadikan sebagai dasar kebijakan.

3) BAN-S/M perlu meningkatkan standar yang ada karena apa yang diukur pada 5 tahun sebelumnya sangat berbeda dengan yang terjadi saat ini. BSNP akan mendorong dengan membuat rambu-rambu yang bisa membantu.

4) Standar jangan sampai menggunakan bahasa langit sehingga susah dijabarkan ke dalam indikator-indiaktor. Misalnya guru harus sehat jasmani dan rohani. Ini sulit untuk mengukurnya. Sehingga hal semacam ini bisa dirubah dengan penilaian terhadap daftar hadir.

5) Akreditasi diupayakan jangan hanya terkait pada label nya saja tetapi upaya untuk melakukan perbaikan pendidikan.

6) Akreditasi diupayakan jangan hanya menekankan pada dokumen, tetapi pada outcome, yakni terkait pemanfaatannya seperti apa? Misalnya tentang Laboratorium, apakah ada fungsinya atau tidak. Ini harus dengan instrumen kualitatif.

c. Suprananto (Puspendik Kemendikbud)

1) Analogi dari penilaian untuk individu satuan pendidikan prinsipnya mulai bergeser. Dari sebelumnya tentang menilai achievement (seperti pencapaian standar dalam akreditasi) telah bergeser ke asessment for learning dan assessment as learning. Dalam kaitan ini, akreditasi menjadi bagian dari diagnosa bagi satuan pendidikan untuk bercermin. Satuan Pendidikan berarti harus meningkatkan mutu, dalam waktu berapa tahun sekolah akan meningkatkan kekurangan yang ada dalam standar tertentu. 2) Akreditasinya bukan semata-mata berkaitan dengan label untuk

perbandingan antar-sekolah/madrasah atau siswa, tetapi lebih pada upaya untuk peningkatan mutu dari waktu ke waktu. Artinya adalah bahwa akreditasi bukanlah punishment terhadap satuan pendidikan. Tetapi menjadi titik tolak perbaikan bagi satuan pendidikan. Jika sekarang sekolah/madrasah dapat nilai (C), dan 5 tahun lagi akan sejauhmana perbaikannya. Jadi

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

82

akreditasi bukan sekedar label tetapi maknanya adalah fungsi perbaikan.

3) Berkaitan dengan Pembobotan, data BAN-S/M sebenarnya bisa dianalisis untuk menentukan bobot, misalnya dengan menggunakan analisis faktor dll, sehingga data tersebut terbukti berdasarkan data empiris. Dengan analisis faktor, akan diketahui seberapa besar kontribusi item tertentu pada setiap komponen tersebut.

d. Urip Purwono (UNPAD)

1) Penentuan bobot dari masing-masing pernyataan itu paralel dengan proses penilaian buku teks pelajaran. Dalam penilaian buku teks, ada 4 kriteria agar buku teks dapat dikatakan memenuhi standar, di antaranya ada kelayakan isi, kelayakan bahasa, dan penyajian. Setelah itu kemudian diturunkan indikatornya. Semua itu dibobot dan ditetapkan skor nya apakah buku teks tersebut memenuhi kelayakan atau tidak.

2) Dalam penilaian buku teks, ada yang disebut peformance based assessment. Yang dituju pada akhirnya adalah bahwa asesor yang berbeda ketika memakai instrumen tersebut untuk menilai sekolah/madrasah yang sama hasilnya harus sama.

a) Instrumen Penilaian harus dilengkapi dengan deksriptor (juknis). Setiap pernyataan harus ada juknis untuk setiap standar dan setiap item sehingga setiap asesor akan menangkap hal yang sama dari setiap pernyataan. Deskriptor untuk masing-masing indikator berbeda-beda pada setiap jenjang.

b) Perangkat harus dilengkapi dengan Rubrik. Rubrik adalah hal terkait dengan bagaimana cara menilainya. Misalnya skor dengan rentang yang ditetapkan adalah 1—4. Harus ada rubrik untuk setiap pernyataan, kapan mendapatkan satu, dua, tiga dan empat. Rubrik bersifat analitik atau komprehensif dan rubrik bisa generik bisa spesifik. Semakin spesifik dan analitik semakin kecil unsur subjektifitasnya tetapi semakin lama membuatnya.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

83

c) Setiap opsi jawaban dalam item A, B, C, dan D harus

observable bagi asesor.

d) Penentuan bobot sifatnya adalah judgemental. Judgmental bisa didasari dengan metodologi yang defendable. Metodologi yang defendable bisa dilakukan secara bersama-sama/stakholders. Secara teknis, Perlu diundang panel dari stakeholders, dan ditanyakan, untuk mengurutkan dari yang paling penting sampai tidak penting untuk memberikan bobot baru dirata-ratakan. Hasil rata2 disampaikan, sudah betul atau belum? Jika belum, perlu ada alasan dari expert tetapi tidak perlu diperdebatkan. Jika cukup, buat putaran kedua. Jika masih ada angka yang berbeda. Jika ada yang keberatan buat putaran tiga dan setelah jadi putaran berikutnya adalah Pernyataan di bawah setiap standar. Ketika bobot jadi, maka kita bisa mengatakan bahwa ini diputuskan bersama2 dengan stakeholders, ada BAN-S/M, sekolah/madrasah, ahli, atau subject matters expert.

e) Panelis dipilih, dan jumlahnya harus manageable bagi fasilitatornya. Semakin besar jumlah orangnya semakin sukar dikelola. Semakin kecil, semakin tidak defendable ketika ditanya orang. Panelis diupayakan jangan terlalu banyak sebab susah untuk memanajnya. Misalnya 15 orang cukup yang mewakili semua unsur, ada dari Kepsek, guru, policy makers dan lain-lain. Ini harus dikelola secara cair dijelaskan tujuannya apa dan putaranya bagaimana, selangkah demi selangkah sehingga semua orang lihat. Terakhir, kalau standar biasanya semua orang diberi kuoseniner. Salah satu isi kuosioer adalah, seberapa konfiden anda terhadap hasil akhir? Jika 90% menyatakan konfiden terhadap hasil, berarti ini sudah OK tetapi jika lebih dari 50% tidak konfiden maka harus diulang. Semua panelis harus satu sepemahaman bahwa instrumen ini dibuat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan dari waktu ke waktu.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

84

f) Dalam 2 tahun harus ada evaluasi dan perbaikan, baik terhadap bobot maupun rubrik. Jika sekarang 71 = C bisa jadi ke depan 71 adalah D. Jadi rubrik dan bobot harus selalu dire-evaluasi. Standar harus ditingkatkan. Ini yang disebut sebagai reformasi berbasis standar.

g) Berkaitan dengan penentuan bobot apakah bisa menggunakan alternatif data empiris, seperti berdasarkan analisis faktor, disampaikan bahwa data empirik tidak bisa menentukan bobot tetapi hanya untuk menentukan potongannya ada di mana itu bisa. Dengan demikian, confirmatory analisis digunakan hanya untuk bobot standar tetapi untuk bobot butir tidak bisa.

Dalam kesempatan ini, para pakar juga diminta untuk memberikan bobot pada setiap komponen dari 8 standar. Mekanisme ini dilakukan dengan cara masing-masing pakar ditanya satu per satu. Setelah semua pakar memberikan pendapatnya tentang bobot dari 8 standar, dua anggota BAN-S/M juga diberi kesempatan yang sama yaitu bu Tita Lestari dan Bpk Jafriansen Damanik.

Setelah semua pakar dan dua anggota BAN-S/M memberikan bobot pada 8 standar, langkah berikutnya mencari standar deviasi pada masing-masing standar yang telah diberi bobot. Dari 8 Standar Nasional Pendidikan tersebut, terdapat satu standar dengan deviasi sangat tinggi dibanding standar lainnya, yaitu Standar Kompetensi Lulusan dengan deviasi 5,47.

Selain para pakar, BAN-S/M juga mengundang narasumber dari Direktorat Kementerian Pendidikan. Pada kesempatan tersebut, hanya dua orang yang hadir, yaitu Bpk Waluyo mewakili Ditjen Dikdas (PSD) dan Bpk Ihsan dari Ditjen Dikmen (PSMA). Garis besar poin-poin yang disampaikan narasumber sebagai berikut.

a. Waluyo (Ditjen Dikdas (PSD) Kemendikbud)

1) Dalam pernyataan mengenai Perpustakaan, di nomor 58 jenjang SD/MI, berdasarkan temuan di lapangan, dijumpai bahwa

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

85

terdapat Pustakawan dan Pustakawati yang telah memiliki latarbelakang Pendidikan Ilmu Perpustakaan, seperti di Wonosobo. Di lapangan pendidikan pustakwan paling tinggi DIII, dan belum ada yang Sarjana. Kalau bisa dimasukkan juga bagi tanaga perpustakaan yang bukan dari latarbelakang pustakawan, paling tidak pernah dapat bekal perpustakaan (melalui Pelatihan) karena ada program tersebut di Direktorat.

2) Di Lapangan, SD banyak yang belum memiliki Perpustakaan, ini perlu menjadi perhatian. Bagi sekolah/madrasah yang tidak punya perpustakaan, ada sekolah/madrasah yang mengisiasi melalui pembuatan sudut-sudut baca (di pojok ditaruh buku dan kursi), seperti kelompok Diskusi Kecil. Hal ini sejalan dengan kebijakan Kemendikbud, di mana Dikdasmen sedang melakukan penguatan literasi.

3) Terkait Sarpras tadi, banyak butir yang orientasinya kepada sekolah/madrasah kepemilikan. Untuk pemanfaatan, apakah masuk dalam bagian dari butir? Pemanfaatan, misal kunjungan dari siswa ke perpus, jadwal kunjungan dan hal lain yang berkaitan dengan pembelajaran, selain dari keberadaan perpustakaanya.

4) Untuk pengembangan silabus dalam standar isi, sekolah/madrasah dibolehkan mengembangkan sesuai dengan karakteristiknya.

b. Ihsan (Dikdmen (PSMA) Kemendikbud)

1) Ruang perpustakaan wajib ada, sesuai ketentuan sarpras. Sekarang ini PSMA sedang memperkuat sekolah/madrasah yang belum memiliki perpustakaan, dan hal tersebut dibangun berdasarkan data Dapodik.

2) Terkait sarpras, di Subdit Kelembagaan dan Sarpras, sudah ada bantuan pemerintah dalam bentuk kantin, taman dan toilet (KTT). Sekolah/madrasah unggulan mengajukan proposal, dan sekolah/madrasah beberapa diantaranya menggambarkan sendiri desainnya. Beberapa daerah sudah diberi bantuan sesuai

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

86

kebutuhan mereka. Di lapangan, Jamban sudah ada yang lebih dari ukuran standar sarpras, seperti toilet di Hotel dan Bandara. 3) Berkaitan dengan istilah Perangkat Pembelajaran, di lapangan

tetap dipakai, jadi bukan menggunakan istilah program.

Dalam dokumen LAPORAN CAPAIAN KINERJA BAN-S/M (Halaman 84-91)