PELAKSANAAN PROGRAM KERJA
C. Rapat Koordinasi Pimpinan I
Rapat Koordinasi Pimpinan BAP-S/M dan BAN-S/M ke-1 diselenggarakan untuk mengevaluasi capaian program kerja BAP-S/M pada termin I, dan
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016
45
sosialisasi terkait perubahan kebijakan strategis akreditasi sehubungan terjadinya perubahan anggaran (efisiensi) yang ditetapkan oleh pemerintah yang berimplikasi terhadap anggaran BAN-S/M; termasuk sasaran akreditasi pada tahun 2016.Evaluasi capaian kinerja BAN-S/M dan BAP-S/M dilakukan dengan mendengarkan laporan singkat masing-masing BAP-S/M, terkait program yang sudah dicapai dan akan dilaksanakan. Secara umum, kegiatan di BAP-S/M untuk TUP tahap I sudah terlaksana dengan lancar. Beberapa kegiatan yang telah selesai dilakukan, meliputi: a) Pelatihan Asesor, b) Pembekalan asesor yang akan melaksanakan visitasi, c) Rapat Koordinasi UPA-S/M dan S/M, d) Rapat Berkala S/M, dan e) beberapa BAP-S/M bahkan telah melaksanakan visitasi untuk sebagian sasaran.
Dari hasil laporan masing-masing BAP-S/M, terdapat beberapa keterbatasan dan permasalahan yang disampaikan sebagai berikut:
a. BAP-S/M menghadapi keterbatasan karena tidak adanya sosialisasi perangkat akreditasi terutama pada jenjang SD/MI yang mayoritas berada di pedesaan. Untuk mengatasinya, BAP-S/M menggunakan beberapa strategi, antara lain dengan memanfaatkan UPA-S/M, MKKS dan lain-lain. Mereka diminta untuk dapat mendampingi SD/MI sosialisasi perangkat akreditasi. BAP-S/M mengusulkan agar tahun 2017 bisa diadakan sosialisasi sebab BAP-S/M sulit untuk terus menggantungkan kepada UPA-S/M.
b. Akses terhadap Perangkat Akreditasi melalui online dirasakan masih sulit dilakukan sebab banyak sekolah/madrasah tidak tahu bagaimana cara mengunduh perangkat dll. Hal ini diperkuat dengan keberadaan SDM dan akses internet di pelosok desa yang masih terbatas.
c. Saat ini anggaran untuk penggandaan Perangkat Akreditasi tidak ada sehingga sekolah/madrasah kesulitan untuk bisa memperoleh perangkat.
d. Program BAN-S/M tentang Satgas 3T disambut baik di beberapa daerah. Salah satunya dari Sulawesi Utara yang siap memberikan
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016
46
support melalui program penanggulangan Kemiskinan di 3T oleh Disdik setempat.e. Dalam perubahan Prosedur Operasional Standar (POS), ada hal-hal yang perlu dicermati terutama terkait dengan proses kerja yang dilakukan top down sebab BAP-S/M menghadapi masalah seperti sekolah/madrasah yang mengundurkan diri padahal sudah diberikan SK.
f. Mekanisme akreditasi diusulkan untuk diubah, sekolah/madrasah tidak perlu mengisi instrument evaluasi diri. Jika Instrumen Akreditasi (IA) masih diisi sekolah/madrasah sebelum visitasi, maka Asesor tidak lagi bekerja keras sebab asesor hanya tinggal mencocokkan saja.
g. Asesor yang telah dilatih agar segera diberikan Sertifikat oleh BAN-S/M.
Pemotongan anggaran BAN-S/M disampaikan oleh Bpk Candra, S.Kom, Bidang Perencanaan Balitbang Kemendikbud. Narasumber menyampaikan bahwa 2016 akan ada APBNP. Namun, APBNP tahun ini lebih menekankan pada pengurangan anggaran. Dampak dari efisiensi anggaran yang telah diputuskan dalam rapat Kabinet tersebut, khusus untuk Kemdikbud akan terkena potongan sebanyak 6,5 T. Namun penting dicatat bahwa sampai saat ini Inpres APBNP tersebut belum keluar, dan masih ada kemungkinan bisa mencapai 7 T.
Pemotongan anggaran untuk BAN-S/M, dari total anggaran sebesar 240,6 M untuk 51.250 sasaran, menjadi 43.224. Hal ini nanti akan diputuskan, apakah efisiensi dilakukan terhadap volume atau pada satuan biaya. Artinya, dengan satuan biaya sebelumnya 4.695.594, setelah dilakukan efisiensi menjadi 3.960.197, jika sasaran tetap pada kuota awal sebanyak 51.250. Opsi kedua, bisa dengan menetapkan Satuan Biaya tetap sama yaitu 4.695.594, maka volume (sasaran) menjadi 43.224.
Sesuai RPJMN 2015-2019, prioritas akeditasi ulang harus meningkatkan peringkat dari sebelumnya C dan T menjadi B dan C. BAN-S/M perlu
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016
47
melakukan identifikasi Sekolah/madrasah mana saja yang pernah dapat C dan TT untuk diprioritaskan dalam akreditasi tahun ini.Dalam sesi diskusi, sebagian besar BAP-S/M memberikan tanggapan/pertanyaan. Rangkuman tanggapan/pertanyaan BAP-S/M dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pemotongan anggaran membuat dilema BAP-S/M sebab kondisi saat ini hampir semua wilayah-wilayah di Kabupaten/Kota sudah dibagi kuota.
b. Beberapa BAP-S/M sudah bekerja keras melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah agar dapat mengalokasikan anggaran APBD. Pemotongan anggaran dari APBN dapat melemahkan Pemda.
c. Latarbelakang efisiensi anggaran harus dijelaskan kepada BAP-S/M sebab dalam perubahan efisiensi biasanya karena ada policy changes. d. Rencana memotong anggaran, harus diambil resiko yang paling kecil,
sebab ada provinsi yang sudah visitasi.
e. Sebagian besar BAP-S/M mengharapkan kuota dipertahankan sebesar 51.000 dengan alasan kegiatan sudah berjalan dan sebagian Sekolah/madrasah sudah mengisi Isian Instrumen.
Menanggapi pertanyaan peserta, narasumber menyampaikan bahwa pemotongan anggaran dilakukan karena sudah menjadi keputusan pemerintah. Selain itu, efisiensi dilakukan karena anggaran memang tidak ada bukan karena ada relokasi. Pemotongan berlaku secara nasional bukan hanya di pusat melainkan di daerah. Komposisi pemotongan itu 35% di pusat dan 65% di daerah. Mendikbud berharap program prioritas harus dilaksanakan, dan ditegaskan bahwa kunci revisi tidak boleh memotong volume output sehingga peluang untuk mengakreditasi sasaran sebesar 51.000 masih ada.
Mengacu kepada RPJMN dengan prioritas akreditasi C dan TT, jika sekolah/madrasah yang diakreditasi A kemudian direakreditasi lagi, maka dalam RPJMN tidak akan muncul capaiannya. Padahal target RPJMN adalah
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016
48
peningkatan mutu pendidikan, jika semua sasaran diprioritaskan untuk peringkat A, maka tidak ada peningkatan.Untuk prioritas C dan TT, ini akan bermasalah sebab jika ada sekolah/madrasah yang sudah habis. Untuk itu, perlu ada payung hukum yang menyatakan status. Namun hal tersebut ditanggapi narasumber bahwa prioritas tetap pada sekolah/madrasah yang sudah 5 tahun, sedangkan yang belum 5 tahun, perlu disisir, mana A yang prioritas untuk diakreditasi, tentunya yang jumlah tahunnya lebih banyak.
Dalam upaya merespon kebijakan efisiensi, BAP-S/M disarankan agar memiliki strategi seperti: BAP-S/M yang kelebihan kuota bisa sharing ke Provinsi lain. Pengalaman 2015 bisa menjadi lessson learned untuk menanggulangi problem pemotongan kuota. Selanjutnya, efisiensi bisa disiasati dengan memanfaatkan alokasi dari APBD.
BAP-S/M mengusulkan agar efisiensi dapat dilakukan dengan relokasi sasaran yang diturunkan dari SMA ke SD sehingga Satuan Biaya bisa dikurangi, dan dengan cara audit dokumen secara ketat, di mana ada sekolah/madrasah yang tidak layak. BAP-S/M mengusulkan bahwa BAN-S/M perlu menetapkan saja tanpa ada voting dari BAP-S/M sebab hal tersebut sudah menjadi ranah nasional dan BAP-S/M juga berharap kebijakan ini ada Surat resmi.
Paparan perangkat akreditasi 2016 lebih menitikberatkan kepada pengenalan perangkat 2016 yang masih dalam penyusunan. Bahan yang disampaikan adalah instrumen dan Juknis yang telah final. Sedangkan untuk data pendukung dan teknik penskoran belum dipaparkan karena Penskoran belum diputuskan rentang nilai A, B dan C. Sebagian informasi jumlah sekolah/madrasah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sebanyak 17.300, termasuk 6.500 S/M yang menjadi piloting pada 2015.
Dalam sesi tanya Jawab, beberapa peserta menanggapi/menanyakan hal-hal berikut:
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016
49
a. Apakah mungkin instrumen lebih best practices? Dalam visitasi asesor dapat masuk kelas padahal dalam 1 sekolah bisa saja ada 27 rombel. Secara purposive sampling, hal ini sudah memadai, tapi ini perlu dipertimbangkan.b. Wawancara lebih rumit sebab perlu pemahaman komprehensif asesor, apalagi ada konsep metakognitif yang membutuhkan pemahaman mendasar.
c. Perlu ada Pelatihan Asesor secara khusus agar asesor dapat memahami instrumen baru (tahun 2016).
d. Dengan peningkatan kualitas dalam perangkat baru, peringkat A = 91 dan nilai di bawah 71 tidak terakreditasi akan dapat membuat takut sekolah/madrasah. Banyak sekolah/madrasah akan minta diakreditasi dengan KTSP.
e. Beberapa BAP-S/M mengusulkan agar akreditasi tahun 2016 menggunakan KTSP saja. Masalahnya tidak mungkin lagi melatih asesor.
f. BAN-S/M perlu memberikan surat edaran (SE) ke BAP-S/M bahwa instrumen baru akan diberlakukan pada tahun 2017.
g. Kelemahan perangkat BAN-S/M adalah document based. Dengan observasi dll berarti ada perubahan. Harus ada pemikiran bahwa akreditasi ada balancing antara dokumen dan non dokumen.
h. Apa pun yang dilakukan sekolah/madrasah BAN-S/M harus hati-hati mengukurnya. Item harus dikurangi dan tidak disamakan. Dalam Observasi kelas, dicermati, berapa sampel kelas yang harus diobservasi dan berapa lama? Kalau visitasi diperlama memang sulit. Paling tidak ke depan perlu ada wacana agar ditambah durasi waktunya seperti akreditasi di negara-negara maju.
Dalam tanggapannya, narasumber mengatakan bahwa presentasi ini hanya pengenalan instrumen. Untuk Skoring, BAN-S/M akan diskusi lagi sebab menyangkut peningkatan peringkat. Selama ini belum ada keputusan final berapa rentang skornya. Penskoran nanti ditentukan berdasarkan hasil analisis data.
Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016