• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rapat Koordinasi Pimpinan II

Dalam dokumen LAPORAN CAPAIAN KINERJA BAN-S/M (Halaman 55-67)

PELAKSANAAN PROGRAM KERJA

D. Rapat Koordinasi Pimpinan II

Rapat Koordinasi Pimpinan BAP-S/M dan BAN-S/M ke-2 diselenggarakan untuk mengevaluasi capaian program kerja BAP-S/M pada termin II, dan sosialisasi terkait perubahan kebijakan strategis akreditasi.

Pembukaan Rakorpim ke-2 dihadiri oleh Mendikbud Prof. Dr. Muhajir Efendi, M.AP., Kabalitbang Kemdikbud Totok Suprayitno, Ph.D., Direktur PSMA, Ketua BAN-Paud dan PNF, BSNP (Sekretaris dan 1 Anggota Nanang AG), dan Jajaran Staf Ahli Mendikbud.

Dalam Pengantarnya, Ketua BAN-S/M menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mendikbud dan seluruh peserta. Juga ucapan terima kasih kepada Direktur SMA atas kerjasamanya yang telah menyediakan ruang sidang sebagai tempat acara rakorpim II BAN-S/M. Rakorpim merupakan program rutin BAN-S/M yang diselenggarakan dalam rangka memastikan bahwa program akreditasi yang diselenggarakan oleh BAP-S/M dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Ketua BAN-S/M menyampaikan bahwa agenda rakorpim II adalah: Laporan Capaian pelaksanaan program oleh BAP-S/M; penyampaian laporan kegiatan bulan Januari s.d. Agustus 2016; dan rencana Kegiatan bulan Agustus s.d. Desember 2016. Ketua BAN-S/M menyampaikan bahwa selama ini BAN-S/M selalu menyelesaikan program kerja dengan daya serap di atas 90%. Ketua BAN-S/M menyampaikan terima kasih atas kehadiran Mendikbud, dan memberikan kesempatan kepada Mendikbud untuk memberikan Pengarahan.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

51

Pengarahan Mendikbud (Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.AP)

Pengarahan Mendikbud dapat diuraikan bahwa terdapat Tiga isu besar yang akan dikerjakan Mendikbud dan merupakan pesan Presiden sebagaimana tercantum dalam NawaCita, meliputi:

1. Kartu Indonesia Pintar (KIP):

Mendikbud menyampaikan KIP belum berjalan sebagaimana diharapkan. KIP telah bergulir sejak Mei 2016, namun distribusinya belum sampai 40%. Dari 18.000 KIP yang beredar, masih terhenti di kantor kelurahan, dan belum sampai di tangan siswa. Beberapa problem yang dihadapi adalah, data tidak valid, distributor kurang bertanggungjawab, dan beberapa aparat desa (Pamong) seringkali bermasalah.

Terkait data, Mendikbud menyampaikan jika dapodik yang dipakai, bisa dieliminir eksternal negatifnya sehingga masalah KIP dapat segera tuntas. Saat ini KIP sudah berada di desa dan tidak mungkin bisa ditarik. Opsi terakhir, yang harus dilakukan adalah bagaimana mempercepat agar KIP terserap sampai akhir tahun 2016. Oleh karena itu, Kemdikbud telah melakukan koordinasi dengan Mendagri dan akan mengundang Gubernur serta Bupati untuk memastikan percepatan penyaluran KIP. Tahun 2017 akan ditempuh cara yang lebih efektif dan efisien untuk memastikan agar KIP sampai ke siswa.

Problem Kemdikbud adalah, tidak memiliki aparat di bawah, sebab Lurah/kepala desa merupakan milik Kemdagri. Untuk itu, yang terpenting adalah koordinasi Kemdagri dan Kemdikbud saat ini sudah cukup baik.

2. Pendidikan vokasi

Tantangan berat saat ini dengan akan diberlakukannya program sertifikasi internasional. Presiden menekankan pendidikan vokasi perlu digalakkan, dan perlu didorong agar ada hubungan melekat antara

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

52

sekolah/madrasah dengan pihak-pihak terkait sebagai pengguna (DUDI/Jasa dll).

Presiden menekankan dua Sektor yang perlu menjadi konsen, yaitu industri agriculture dan maritim. Ke depan, Kemdikbud akan memperkecil SMK yang generik dan pada saat bersamaan sektor yang dibutuhkan pasar perlu diperkuat terutama Maritim dan pertanian. Misalnya, ada SMK sudah memproduksi mesin pertanian, dan prestasi akan dikembangkan terus. Program pengembangan SMK harus spesifik, misalnya ada SMK bidang otomatif, bisa menjalin kerjasama dengan pabrik mobil tertentu dll. Ini tentunya lebih riil, dan tidak generik.

Industri maritim sangat menantang. Program Keahlian harus disediakan. Aspek manajemen tenaga terampil sampai penyaluran, pemasaran hasil dituntut harus spesifik. Tantangan SMK berikutnya sangat minimnya guru produktif. Kemdikbud tidak memiliki target 70% harus SMK dan 30% SMA sebab ke depan tidak menutup kemungkinan dual sistem (dua jalur) masih digunakan, sebab tidak ada jaminan anak-anak SMU lanjut, juga lulusan dari SMK ada jaminan kerja. Broad based education (pendidikan berbasis luas) harus tetap dilakukan. Selain itu, sektor pendidikan non formal perlu disiapkan untuk anak-anak yang tdk sanggup mengikuti jalur formal.

3. Pendidikan Karakter.

Amanat Nawacita sesuai visi presiden adalah pendidikan karakter harus ditekankan pada pendidikan dasar. Pada jenjang SD proporsinya 70% untuk unsur karakter dan 30% untuk pengetahuan, dan untuk SMP 60% untuk karakter dan 40% untuk pengetahuan. Komposisi ini harus diterjemahkan secara riil ke dalam kurikulum. Ide full day School muncul beranjak dari pendidikan karakter itu meskipun belakangan banyak mendapatkan kritik dari masyarakat. Namun, Presiden mendukung ide full day untuk dilakukan. Pembentukan karakter perlu dilakukan sejak dini. Tidak ada pilihan lain, harus ada kesadaran

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

53

untuk menata secara fundamental masalah karakter di pendas. Pendidikan karakter bisa dilakukan melalui proses pembelajaran yang membekali siswa dengan pengalaman pembelajaran seperti misalnya proses belajar moving class, siswa diajak berinteraksi, aktif dll, dan ini semua bisa membuat anak-anak kritis.

Ke depan perlu dikurangi model-model soal mutiple choice sebab mematikan kreatifias anak. LKS juga sebaiknya dihapus, sebab yang mengerjakan orang tuanya dan ini tidak mendidik. Tugas juga kalau bisa dikerjakan di sekolah/madrasah saja, termasuk untuk guru. Anak tidak perlu ada PR.

Terkait Guru, guru profesional tidak perlu mempersoalkan fasilitas dll. Masalah sapras dan SDM guru tidak perlu dirisaukan. Dalam Pendidikan karakter perna Guru menjadi faktor terpenting. Pendidikan karakter dapat diwujudkan dengan penggalian karifan lokal, kecerdasan lokal, ini perlu menjadi muatan kurikulum. Ke depan, kemdikbud akan meningkatkan peran asosiasi-asosiasi. Lembaga ini perlu didorong, sebab murni pada peningkatan keahlian bukan politik. Profesi harus diamati bukan sekedar portofolio. Seorang profesional harus mengabdi kepada profesinya. Seorang profesi harus memiliki panggilan jiwa dan diikat dalam asosiasi profesi. Asosiasi ini yang menentukan kode etik, mengawasi jangan sampai ada mal-praktik dll. Guru harus punya tanggungjawab sosial, jiwa korsa dll. Tanggung jawab guru lebih besar daripada dokter. Dokter tanggungjawabnya hanya bersifat asosiasional. Sedangkan guru tanggungjawabnya besar sebab kalau salah diagnosa, siswa nantinya juga akan menerapkan turun temurun ke generasi berikutnya sehingga masa depan anak bangsa rusak.

Beban anggaan pemerintah terhadap profesi guru sangat berat. Tunjangan guru telah membebani APBN. Jika dulu hanya ada 30% guru memperoleh sertifikasi, sekarang 80% guru dengan total

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

54

anggaran pertahun 80 T, digunakan hanya untuk tunjangan profesi, bukan untuk gaji.

Beberapa pertanyaan dalam sesi tanya jawab dapat dirangkum sebagai berikut:

1. Perlu ada standar yang menitikberatkan pada karakter. Selama ini belum ada standar yang khusus menekankan karakter terutama di SD dan SMP. Ini bisa digiring oleh akreditasi sehingga lembaga-lembaga pendidikan akan mengikuti.

2. Dalam standar proses, peran guru sangat penting menjadi kunci keberhasilan pendidikan. Masukan dalam KTSP, perlu ada pelatihan guru terkait standar proses. Bukan hanya fokus membuat RPP dan silabus, tetapi perlu memperbanyak pelatihan guru untuk mendorong siswa aktif dll.

3. Terkait efisiensi, mohon agar tidak memangkas akreditasi sebab banyak sekolah/madrasah menjadi korban terutama yang sudah antrian sejak 3 tahun sebelumnya.

4. Fullday school bagus, tetapi perlu dibuat rambu-rambu, sehingga tidak terkesan uniformitas. Masyarakat perlu diberi opsi dan juga perlu disusun kriteria.

5. Menteri kabarnya akan membuat permendikbud tugas guru. Tugas ini sudah diatur dalam UU sebanyak 24 jam. Bisa saja ini dikembangkan dalam bentuk team teaching sebab jika mengandalkan tatap muka, quality assurancenya sulit.

6. Terkait vokasi, tantangan di daerah adalah guru profesional sulit ditperoleh, karena spektrum pada vokasi perkembangannya luar biasa padahal SDM guru terbatas.

7. Mohon diterapkan bahwa rombel 32 diterapkan sampai ke bawah. Jika tidak, Sekolah/madrasah swasta akan mati, sebab sekolah/madrasah negeri rame-rame menerima murid baru sampai memanfatkan lab utk ruang kelas. Motivasi Sekolah/madrasah hanya untuk memanfaatkan dana BOS.

8. Pendidikan karakter, fullday school perlu diujicoba di sekolah/madrasah kota dan desa.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

55

9. Keluhan Kepsek di SMK negeri bahwa fasilitas negara tidak boleh digunakan untuk bisnis. Di Kaltim, bisnis Center tidak dapat berjalan karena ketentuan itu. Ini perlu diatur ulang ketentuannya.

10. Kondisi di lapangan, Permendikbud tentang mekanisme pengangkatan kepsek tidak dilaksanakan. Contoh, Guru SMP jadi kepsek SMK. Tim sukses jadi Kepsek. Banyak kepala daerah tidak mengindahkan.

11. Masalah KIP bisa selesai jika Dewan Pendidikan dan Komite difungsikan. Ini amanah UU, dan jika difungsikan akan efektif untuk membantu program KIP.

12. Masalah Vokasi: Pada era Mendikbud Wardiman, ada 3 prinsip seperti pemerataan akses, perluasan kesempatan, dan relevansi pendidikan. Ini penting, tetapi mau dikaburkan. Dulu ada link and match. Jadi prinsip ini harus tetap ada.

13. Full day, Menteri perlu menantang masyarakat siapa berani jadi pilot project full day.

14. Bagaimana kalau ijin perusahaan yang akan berdiri di suatu tempat ditambahkan persyaratannya, yakni ijin diberikan jika ada MoU dengan SMK terdekat.

Mendikbud memberikan tanggapan bahwa proses pembelajaran perlu memberi penekanan pada penguatan karakter, dengan membuat kegiatan di luar kelas sehingga memberikan pengalaman siswa untuk meningkatkan kreatifias dan daya kritis siswa. Selanjutnya ketentuan 24 jam bagi guru tidak dihapus sebab ini amanah UU. Mendikbud menekankan bahwa sekolah/madrasah harus tanggungjawab terkait pendidikan karakter, yang harus diterapkan melalui pengembangan kreatifitas sekolah/madrasah. Selanjutnya, Mendikbud menyatakan bahwa Komite Sekolah/madrasah akan dihidupkan kembali melalui Komite gotong royong sekolah/madrasah.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

56

Arah Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Paparan ini disampaikan oleh Kabalitbang Kemdikbud Totok Suprayitno Ph.D. Dalam paparannya, beliau menyampaikan Kebijakan Umum Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015-2019 yang tertuang dalam Nawacita yang menjadi prioritas agenda pemerintahan. Dalam RPJMN 2015-2019, Nawa Cita di bidang pendidikan adalah:

1. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. 2. Melakukan revolusi karakter bangsa.

3. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional.

4. Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Sementara Sasaran Strategis Kemendikbud 2015-2019 di Bidang Akreditasi yaitu Meningkatkan jumlah minimum persentase sekolah yang terakreditasi B pada tahun 2019 meliputi:

1. menaikkan jumlah persentase akreditasi jenjang SD/SDLB sekurang-kurangnya 84,2%;

2. menaikkan jumlah persentase akreditasi jenjang SMP/SMPLB sekurang-kurangnya 81%;

3. menaikkan jumlah persentase akreditasi jenjang SMA/SMALB sekurang-kurangnya 85%; dan

4. menaikkan jumlah persentase akreditasi Program Keahlian jenjang SMK sekurang-kurangnya 65%.

Kabalitbang menyampaikan perlunya revitalisasi akreditasi melalui strategi Keterbukaan Informasi. Hal ini dapat dilakukan dengan strategi menginformasikan hasil akreditasi sekolah/madrasah baik peringkat, nilai standar, maupun kelemahan dan kelebihan sekolah/madrasah. Kabalitbang memberikan catatan bahwa Sekolah yang akreditasinya kadaluarsa lebih dari 2 tahun, ada teguran/sanksi; Sekolah pada saat mengajukan akreditasi dilampiri "surat pernyataan tanggungjawab mutlak"; dan Sekolah yang

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

57

memanipulasi data pada "evaluasi diri" dan diketahui pada saat visitasi, maka diberikan sanksi.

BAN-S/M perlu memikirkan bagaimana Nawacita juga dapat di-incorporate ke dalam akreditasi (Nawacita perlu diformulasi masuk ke dalam perangkat akreditasi). Tantangan Kemdikbud adalah bagaimana anak dapat survive di abad 21, dan perlu dibekali 4C: Critical thinking, creativitas, collaboration, and communication. Critical thingking, contohnya dalam proses pembelajaran, belajar sejarah diajak ke muesum. Lapangan sebagai sumber belajar, ini bagian dari critical thinking. Siswa harus diajarkan melek informasi, dan pandai memilah dan memilih informasi yang benar dan tidak. Masalah Caracter, 70% bobot kurikulum harus menekankan pada pendidikan karakter.

Ranah pendidikan karakter spektrumnya luas, dan ke depan, esensi nawacita harus ada dalam perangkat. Begitupun dalam visitasi, asesor di lapangan harus mengamati hal-hal yang menjadi cerminan karakter. Kurikulum adalah written document, oleh karena itu dalam implementasi harus jauh melebihi dokumen (goes far beyon written).

Proses dan tata kehidupan di sekolah/madrasah menjadi kunci keberhasilan pendidikan. Ini juga hasil dari ketika guru memiliki kualitas baik. Menurutnya guru selama ini melakukan pembelajaran di dalam wrong direction. Beliau mencontohkan ketika UN menjadi UNBK, banyak guru-guru mengadopsi UNBK sebagai Ujian Kelas, padahal ini pendekatan yang membahayakan. Hal tersebut karena seringkali jalan pikir siswa tidak bisa ditelusuri melalui UN melainkan juga bisa

dicapai melalui essay.

Paradigma yang perlu dikembangkan adalah bagaimana assessment drive learning and assessment drive behaviour learning. Berdasarkan hal tersebut, Balitbang sekarang melatih guru untuk membuat soal yang berbasis penalaran tingkat tinggi. Penilaian perlu dikembangkan untuk melihat kinerja, bukan sebatas berapa lama di kantor.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

58

Akreditasi perlu memberikan prioritas di daerah-daerah pinggiran. Sekolah/madrasah sering tidak tahu prioritas mereka, pagar atau laboratoriumnya? Sekolah/madrasah sering kali memahami mutu pendidikan dengan mengutamakan membangun pagar lebih dulu. Terkait akreditasi, pesan Mendikbud ada dua bagaimana inkorporasi karakter dalam perangkat, dan hasil akreditasi supaya dipertanggujawabkan kepada publik. Tantangan BAN-S/M ke depan adalah bagaimana mencari proxi variabel dengan keterbatasan anggaran, dan mencari informasi sebesar-besarnya.

Dalam rangka akuntabilitas publik, seluruh informasi akreditasi masuk ke Dapodik. Perlu ada sistem yang membuat akreditasi dapat diketahui masyarakat dan menjadi bahan informasi tentang mutu sekolah/madrasah.

Tantangan Kemdikbud adalah bagaimana pendidikan karakter juga masuk dalam dokumen kerja. Paradigma yang dibangun adalah bahwa pendidikan is not about building, but journey of learning. Berikutnya, hasil kerja harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Selanjutnya, proses pembelajaran perlu dipertimbangkan. Setelah guru memiliki komptensi yang baik, maka prosesnya juga harus baik.

Kabalitbang menguraikan terkait efisiensi, bahwa selama ini akreditasi porsi anggarannya cukup besar di Balitbang. Terkait efisiensi tahap II, pemotongan di lingkungan Kemdikbud total 3,9 Triliun.

Dalam kesempatan tanya jawab, beberapa peserta mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

1. Prof. Ani Gorontalo

Akreditasi sudah ada di Prosedur Operasional Standar (POS) UN. Tetapi masih terdapat Kadis tidak peduli.

2. Prof. Jam’an Satori Jabar

Kualitas guru harus menjadi bahan perhatian serius. Guru harus 100% on top sebab sudah digaji mahal. Jangan sampai guru kapasitasnya rendah.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

59

Akreditasi: data akreditasi harus direspon dalam sistem. Akhir tahun ada seminar. Undangan biasanya diwakilkan kepada staf, yang kapasitasnya berfikirinya belum kuat.

3. Suparno Jatim

Menyusun instrumen berbasis proses sampai sekarang masih sulit. Sementara dalam K-13 masih bersifat kognitif. Penilaian memang perlu dikembangkan dengan mangakomodir kegiatan/aktivitas anak (ada penilaian karakter dll).

Instrumen sekarang masih administratif. Contoh, jika 90% guru memiliki RPP itu A. padahal banyak RPP hasil copy paste. Oleh karena itu, kalau ada revisi difokuskan ke arah implementatif.

4. Himawan Babel

Terkait bagaimana cara menilai, ada beberapa prinsip ekologi meliputi: interaksi (antara guru-murid dll), dependensi (faktor paling berpengruh—keberagaman model penilaian), diversity, harmonisasi dan sutainability.

5. Simon (NTT)

Koordinasi Direktorat dan LPMP perlu dilakukan dengan BAP-S/M ketika ada program berbau akreditasi. Hasil akreditasi perlu didorong untuk ditindaklanjuti oleh Pemda.

NTT mayoritas 3T, mohon dipercepat realisasi programnya. UPA-S/M membutuhkan anggaran untuk operasional.

Tanggapan Kabalitbang sebagai berikut:

Prosedur Operasional Standar (POS) UN: persoalan komunikasi belum jelas. Nanti akan dikirim surat ke Disdik. Masalah perpanjangan SPK yang sudah expired akreditasinya, itu menjadi wewenang BAN-S/M. Untuk SPK, boleh menggunakan akreditasi dari organisasi induknya (Cambridge) bagi SPK yang sebelumnya LPA.

Masalah daerah 3T, Kabalitbang menyampaikan pernah memperjuangkan melalui program SM3T. Dalam implementasinya, banyak anak-anak dari

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

60

LPTK se Indonesia yang bagus-bagus dan melamar menjadi guru di daerah 3T. Peran mereka bukan hanya mengajar, tetapi menjadi penggerak masyarakat lokal. Rata-rata mereka ingin kembali ke daerah ketika kontrak mereka selesai. Program SM3T hanya 2 tahun. Mereka adalah orang-orang terpilih dan digmebleng melalui pelatihan “ketahan malangan”.

Hasil akreditasi harus jadi rujukan kebijakan. Misalnya UN, kalau tidak terakreditasi, tidak bisa UN. Maka akreditasi bisa menjadi kebutuhan. Perkembangan akreditasi dari tahun ke tahun perlu disusun dan menjadi neraca Pendidikan Kabupaten/Kota. Harapannya publik sadar bahwa akreditasi menjadi rubrik penilaian kinerja pemda masing-masing. Jalur komunikasi harus bersifat transaksional sehingga ada pressure dari public terhadap pemerintah daerah.

Terkait UPA-S/M, solusinya harus masuk dalam OTK Kementerian. Ini akan diperjuangkan. Untuk masalah efisiensi, anggaran yang dipotong adalah yang belum committed. Dengan demikian, untuk program-program yang sudah berjalan, akan diusahakan untuk tidak dipotong. Selanjutnya hasil akreditasi tinggal diperkuat supaya hasilnya lebih diperhatikan. Misalnya, penyebaran informasi melalui kebijakan yang membuat pemda terpaksa menggunakan akreditasi perlu dipikirkan. Ke depan perlu kerjasama antara BAN-S/M sebagai quality control dengan LPMP sebagai maintainance mutu. Kolaborasi antara dua lembaga yang memiliki peran hampir sama perlu dilakukan.

Laporan Perkembangan BAP-S/M

Laporan perkembangan dari 34 BAP-S/M dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Sumber dana akreditasi dari APBN, APBN Kemenag dan APBD Kota. 2. BAP-S/M mengalami pengurangan kuota sehubungan dengan adanya

efisiensi anggaran.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

61

4. Beberapa BAP-S/M telah menyelesaikan visitasi dan mengadakan rapat pleno penetapan hasil akreditasi seperti BAP-S/M NTT dan BAP-S/M Sulawesi Tenggara.

5. BAP-S/M telah membuat perencanaan program kerja dari September-Desember.

6. BAP-S/M membuat rencana rapat pleno penetapan di bulan September-Oktober.

7. BAP-S/M mengajukan pertanyaan terkait bagaimana penulisan Ijasah bagi sekolah/madrasah yang sudah expired sertifikat akreditasinya? 8. BAP-S/M menyampaikan kendala yang dialami oleh sekolah dan

madrasah dalam visitasi yaitu singkatnya waktu untuk menyiapkan bukti fisik. Terkait dengan pelaksanaan visitasi, yang menjadi kendala adalah bersamaan waktunya dengan kegiatan Ulangan dana tau Ujian. 9. BAP-S/M mengusulkan guna penguatan manajemen pendidikan dan

Sekolah/Madrasah, maka perlu ada regulasi daerah sebagai panduan. 10. Perlu memaksimalkan standarisasi 8 Standar Nasional Pendidikan

dalam membangun dan mengembangkan profil Sekolah/Madrasah 11. Perlunya komitmen Pemerintah Daerah kabupaten/Kota (kebijakan dan

Anggaran) yang mendukung pengelolaan Sekolah/Madrasah yang berpihak pada standard an mutu pendidikan.

12. Setiap Pelaksanaan Akreditasi S/M, hendaknya dilakukan kegiatan Sosialisasi, agar S/M mencapai kesiapan yang memadai walaupun S/M tersebut mengulang (Re-Akreditasi).

13. BAP-SM selalu khawatir tentang keterlaksanaan apa yang telah diumumkan kepada S/M, UPA-SM dan Dinas Terkait berkaitan dengan turunnya dana yang tidak menentu.

14. Publikasi Hasil akreditasi lebih dilakukan dilakuikan secara Masif agar Civil Efect Hasil Akreditasi dapat dirasakan oleh Masyarakat.

15. Prosedur Operasional Standar (POS) pencairan dana agar tepat waktu. Tahap II dikirim akhir Juli, dana cair pertengahan Agustus dan di SPJ kan tanggal 20 Agustus.

16. Ada Pemda yang mengurangi APBD karena berlakunya UU 23 2014. Mereka berpendapat bahwa akreditasi tidak dibenarkan menggunakan dana APBD. Mohon ada kebijakan BAN-S/M.

Laporan Kinerja BAN-S/M Tahun 2016

62

17. Bagi sekolah/madrasah yang sudah menggunakan Kurikulum 2013 tetapi pelaksanaan akreditasi menggunakan instrumen 2014, terjadi kendala bagi sekolah/madrasah dan asesor. BAP-S/M mengusulkan agar segera diterbitkan instrumen yang sesuai dengan kurikulum 2013 agar akreditasi 2017 sudah menggunakan instrumen yang syah.

18. Syarat Pelatihan Asesor berbeda, sehingga berdampak: Kepsek, guru dapat mengikuti Pelatihan Asesor, padahal Kepsek jadi asesor seperti jeruk makan jeruk. Kalau asesor dari Guru SD disuatu kecamatan, pada saat visitasi di kecamatan berbeda tetapi berdekatan. Kepsek di sekolah/madrasah tsb mengetahui persis karakter asesor itu, ini menjadi masalah.

Dalam dokumen LAPORAN CAPAIAN KINERJA BAN-S/M (Halaman 55-67)