• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN FEEDBACK (MASUKAN) DALAM MENULIS TESIS DAN DISERTAS

Dalam dokumen Tesis Dan Disertasi (Halaman 95-107)

Pendahuluan

Bab ini akan membahas salah satu aspek yang sangat penting peranannya dalam membantu mahasiswa menyelesasikan tesis atau disertasinya. Tidak seperti bab-bab lain dalam buku ini, bab ini tidak hanya penting untuk mahasiswa, tetapi juga untuk para dosen yang menjadi pembimbing tesis atau disertasi.

Peran

feedback

dalam penulisan tesis dan disertasi

Pemberian feedback terhadap tulisan mahasiswa merupakan praktek pedagogis yang sangat penting dalam pendidikan tinggi (Coffin dkk, 2003:102, lihat juga Murray, 2002; Johnson, 2003; Beach & Friedrich, 2006; Murphy, 2007; Paltridge & Satirfield, 2007), dan di dalam konteks pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing, pemberian feedback sering dianggap sebagai salah satu tugas guru yang paling penting (Hyland, 2003:177). Hyland mengatakan:

Providing feedback is often seen as one of the ESL writing teacher‟s most important tasks, offering the kind of indovidualised attention that is otherwise rarely possible under normal classroom conditions. Writers typically intend their texts to be read, and in the classroom feedback from readers provides opportunities for them to see how others respond to their work and to learn from these responses. This kind of formative feedback aims at encoutaging the development of students‟ writing and is regarded as critical in improving and consolidating learning (Hyland, 2003:177).

Pentingnya peran feedback terhadap tulisan siswa atau mahasiswa, di Australia misalnya, diperlihatkan dengan ditulisnya sebuah buku yang berjudul Responding to students‟ writing yang diedit oleh Brenton Doecke (1999) dimana dalam buku ini dibahas mengenai berbagai cara memberikan masukan atau merespon tulisan siswa. Selain itu beberapa buku juga memberikan

perhatian yang cukup besar terhadap cara memberikan feedback kepada tulisan siswa atau mahasiswa (lihat Kress, 1982, 1985; Moore, 1999; Nunan, 1999).

Dalam proses menulis tesis atau disertasi khususnya, Murray (2002: 16-17, lihat juga Brown, 2006; Paltridge & Stairfield, 2007) menegaskan pentingnya pembimbing memberikan feedback terhadap tulisan mahasiswa bimbingannya, terutama bagi mahasiswa yang menulis dalam bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. Feedback ini akan sangat menolong kalau diberikan sejak awal tahap penulisan tesis atau disertasi, walaupun mahasiswa belum menulis banyak. Murray (2002) menegaskan:

Supervisors should give you feedback on your writing. ...This will be variable. It might be helpful to discuss feedback on writing at an early stage, even if you have not written much. The discussion will give (students) insights into what supervisor is looking for and, perhaps equally importantly, it will give them (supervisor) insight into how (students) see writing.

Supervisor should help their students set writing goals from the start of the doctorate (or masters degree) and all the way through to the end. This will help students to see the stages ahead of them. The long term goals can help students to plan their writing, while the short term goals make it manageable. Whatever the goals, the key point is that they are discussed and agreed by student and supervisor. Otherwise everything remains undefined, many aspects of writing are unspoken and the students may form the impression that they just cannot write well enough.

Supervisors should try to motivate you (students) to start writing and to keep writing throughout the project. However, they may not want to put you under too much pressure. They may feel that you ha ve enough to do setting up the research or reading piles of books and papers and may agree to defer writing to a later stage. This may be a mistake. If writing is part of learning, you will miss out on an opportunity to develop your understanding. If writing is a test of learning, you may have no measure of how you are building up your knowledge (2002: 16-17).

Murray (2002: 70) juga menambahkan bahwa sebagai immediate audience dari tesis atau disertasi yang ditulis oleh mahasiswa bimbingannya, pembimbing mempunyai tanggung jawab untuk membaca tulisan mahasiswanya dan memberi masukan dalam jangka waktu yang bisa diterima. Pembimbing juga bisa memberi masukan tidak hanya berkaitan dengan isi, tetapi membuat tulisannya lebih “writerly, lively and interesting” (Kamler & Thomson, 2006:143).

Peran feedback dalam membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan menulisnya telah pula ditegaskan oleh Cafarella dan Barnett (2000) yang dikutip oleh Paltridge dan Stairfield (2007:53) bahwa feedback yang diberikan oleh pembimbing merupakan elemen yang paling signifikan dalam membantu mahasiswa yang menulis tesis dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing untuk memahami proses scholarly writing dan dalam meningkatkan atau memperbaiki kemampuan menulis akademiknya. Paltridge dan Stairfield (2007), dengan mengikuti Asmar (1999) menegaskan bahwa mahasiswa penting mendengarkan saran-saran dari pembimbing dalam tahap-tahap awal dari proses penulisan. Paltridge dan Stairdfield juga mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Riazi (1997) yang menemukan bahwa mahasiswa Iran yang menulis tesis bahasa Inggris menemukan feedback dari pembimbing sangat membantu mengembangkan kemampuan bahasa Inggris mereka dan komentar dari pembimbing merupakan sumber yang sangat penting untuk memperbaiki tidak hanya isi dan gagasan, tetapi juga penggunaan bahasa dan organisasi retorik dari tulisan itu.

Bagi mahasiswa yang menulis tesis atau disertasi dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing, seperti mahasiswa bahasa Inggris di Indonesia, bantuan atau feedback yang diperlukan mungkin lebih banyak ketimbang mahasiswa penutur asli (Murray, 2003:17; Brown, 2006). Untuk itu, dalam proses penulisan tesis atau disertasi, pembimbing seyogianya mengetahui sejak dini kemampuan menulis mahasiswanya, dengan cara meminta mahasiswa untuk menulis. Hal ini, menurut Murray, akan membantu pembimbing menilai standar tulisan mahasiswanya. Walaupun menekankan pentingnya teman atau peers sebagai sumber feedback, Hyland (2003:178) menegaskan bahwa tanggapan tertulis dari guru memainkan peranan penting dalam tulisan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing. Hyland mengatakan:

Many teachers do not feel that they have done justice to students‟ efforts until they have written substantial comments on their papers, justifying the grade they have given and providing a reader reaction. Similarly, many students see their teachers‟ feedback as crucial to their improvement as writers (2003:178).

Manfaat feedback yang diberikan selama proses penulis tesis atau disertasi atau proses menulis pada umumnya telah pula dibahas oleh Beach dan Friedrich (2006: 222-230). Beach dan Friedrich menegaskan bahwa feedback yang diberikan oleh guru atau dosen akan menentukan apakah mahasiswa akan melakukan revisi terhadap tulisannya, suatu proses yang sangat penting untuk memperbaiki tulisan atau tesis atau disertasinya. Feedback yang diberikan pada draftt terakhir saja tidak memperbaiki kualitas tulisan mahasiswa. Beach dan Friedrich (2006:223) mengatakan, “It also beca me clear that the nature and quality of the teachers‟ feedback during the composing process is critical to whether students revise.

Kapan bisa mulai mendapat

feedback

?

Feedback terhadap tesis atau disertasi sebaiknya didapat sejak awal penulisan tesis atau disertasi. Menurut Hamilton dan Clare (2003c), Allison dan Race (2004), Paltridge dan Stairfield (2007), serta Wellington dkk (2005), bimbingan dari tutor atau pembimbing sangat penting mulai dari tahap perencanaan sampai pada tahap-tahap selanjutnya dari proses penelitian. Mahasiswa disarankan untuk membicarakan topik penelitiannya dengan calon pembimbing, dan yang lebih penting lagi adalah “mendengar apa yang dikatakannya ketika kita berinteraksi dengan mereka” (Hamilton & Clare, 2003c:192, lihat juga Paltridge & Stairfield, 2007).

Pentingnya masukan atau feedback, khususnya yang berkaitan dengan topik penelitian diperlukan mulai dari awal penelitian (Paltridge & Stairfield, 2007:58). Dengan mengutip Stevens dan Asmar (1999), Paltridge dan Stairfield mengatakan bahwa peneliti awal (novice

resea rcher) ada kecenderungan untuk terlalu ambisius dalam menentukan topik penelitian (lihat juga pembahasan mengenai memilih topik di Bab Tiga dari buku ini).

Dengan nada yang sama, Allison dan Race (2004:3) mengatakan bahwa untuk mendapatkan feedback, mahasiswa harus memperlihatkan tulisannya dari awal. Allison dan Race mengatakan: Keep showing people your draftt. It‟s never too early to get feedback in your early draftts. In fact

it‟s much better to get feedback on your first thought rather than on your twenty first thought

(2004:3).

Selain itu, selama proses penulisan tesis atau disertasi, feedback mungkin sebaiknya difokuskan pada isi ketimbang pada hal-hal yang bersifat mekanik (surface matters) (Beach & Friedrich, 2006:223). Dengan mengutip hasil penelitian yang dilakukan oleh Mylnarczyk (1996), Beach dan Friedrich menegaskan:

When a teacher shifted away from a focus on surface matters to provide open-ended comments on content, the college student in one study made more substantive revisions than when the teacher commented only on form (2006:223).

Selain dari manfaat di atas, feedback (terutama yang positif) juga penting untuk meningkatkan harga diri mahasiswa, yang merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam mendorong mahasiswa untuk dapat menyelesaikan studinya (Goldwasser, 2006:57). Goldwasser, dengan mengutip Maslow mengenai hierarki kebutuhan, mengatakan bahwa “Giving and receiving feedback, whether it is personal or professional helps people to feel appreciated for what they

know, what they do and perhaps above all, who they are” (Golswasser, 2006:57).

Berkaitan dengan jenis feeedback yang bagaimana yang perlu diberikan kepada mahasiswa, penelitian yang dilakukan oleh Ivanic dkk (2000), serta Lea dan Street (2000) yang dikutip oleh Coffin dkk (2003: 118) menemukan bahwa fedback untuk tulisan mahasiswa memiliki beberapa ciri, yang kalau digabung, bisa mendorong terciptanya hubungan kolegial antara mahasiswa dan dosen. Ciri-ciri ini adalah:

Pertanyaan yang melibatkan mahasiswa dalam debat, misalnya:

Why do you think ...?”, “What would happen if …?” “What do you think the

implications would be …?”

Komentar yang agak halus, seperti “Perhaps …you may like to consider …” “A fuller explanation might help here”, mungkin lebih baik dibanding dengan kalimat direktif

“Explain”, “Linkage”.

Penggunaan kata ganti pertama seperti I: (I‟d suggest here …) yang menunjukkan bahwa ada banyak kemungkinan jenis feedback sebagai pendapat penulis (Coffin dkk, 2003:118, lihat juga pembahasan yang hampir sama dari Hyland, 2003:179 mengenai preferensi siswa dan penggunaan feedback).

Namun demikian, seperti aspek feedback yang lain, menurut Coffin dkk (2003: 118) penggunaan bahasa juga perlu diperhatikan dalam konteks dan tujuan pengajaran yang khusus. Selain itu, komentar yang diberikan juga mungkin perlu dipertimbangkan sesuai dengan tahap penulisan tertentu. Misalnya, pertanyaan yang mengundang mahasiswa dalam debat yang kadang-kadang disebut dengan open questions mungkin bisa digunakan dalam penulisan draftt pertama untuk mendorong munculnya gagasan, daripada dalam draftt terakhir.

Coffin dkk (2003) juga menegaslan bahwa cara memberi feedback sangat berkaitan dengan konsepsi belajar dan mengajar dan hubungan antara dosen dan mahasiswa. Bahasa feedback yang digunakan dapat menunjukkan hubungan hierarkikal antara dosen dan mahasiswa, yang menunjukkan adanya perbedaan “power” antara dosen dan mahasiswa atau bahasa yang dapat menciptakan adanya hubungan kolegial dimana dosen berusaha untuk “membangun rasa dalam mahasiswa sebagai masyarakat akademis” (Ivanic dkk, 2000, dikutip oleh Coffin, 2003:118).

Dalam memberikan feedback, Hyland (2003:183), dengan mengutip Zamel (1985) memperingatkan bahwa supervisor harus berperan tidak hanya sebagai guru bahasa, tetapi juga sebagai guru menulis. Mengingat kesalahan grammar atau tata bahasa merupakan masalah yang paling nyata dalam tulisan bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua, maka sering dosen menanggapi kesalahan itu, sehingga lebih fokus pada form. Dengan mengutip Truscott (1966), Hyland mengatakan bahwa error corerrection tidak effektif dalam membantu memperbaiki tulisan siswa atau mahasiswa.

Feedback tertulis dosen atau guru, menurut Hyland (2003:185) hendaknya menanggapi semua aspek dari tulisan mahasiswa, yang meliputi: struktur, organisasi, gaya atau cara penulisan, isi dan cara penyajian. Namun, tambah Hyland, dosen atau pembimbing tidak perlu menekankan semua aspek dalam setiap draftt dari setiap tahapan penulisan.

Ada beberapa asumsi yang sering terjadi dalam menghadapi mahasiswa pascasarjana yang kadang-kadang membuat pembimbing merasa tidak perlu memberi feedback. Untuk mahasiswa

pascasarjana, khususnya mahasiswa doktor, Murray (2003:13) mengatakan bahwa asumsi- asumsi itu di antaranya adalah:

Mahasiswa doktor (atau magister) sudah bisa menulis. Semua usaha untuk memperbaiki tulisan bersifat remedial.

Tulisan pertama yang diberikan kepada pembimbing oleh mahasiswa merupakan bab draftt.

Kemajuan mahasiswa diindikasikan dengan jumlah bab yang ditulisnya.

Mahasiswa pascasarjana (khususnya mahasiswa Doktor) merupakan ‟natural loner‟ dan

‟independent thinker‟.

Dengan mahasiswa yang pintar, dosen atau pembimbing memberi sedikit komentar terhadap tulisannya.

Masalah yang berkaitan dengan written expression dapat ditunjukkan kepada mahasiswa. Mahasiswa akan tahu bagaimana membetulkannya.

Menulis draftt merupakan kunci (tetapi jarang dibahas).

Menurut Murray (2003) asumsi seperti ini mungkin bisa berlaku dalam beberapa kasus, dan beberapa dari asumsi ini bahkan mungkin mendekati kebenaran. Namun demikian, Murray menambahkan bahwa asumsi-asumsi seperti ini tidak semuanya membantu mahasiswa dalam menulis tesisnya. Hal-hal seperti ini lebih baik dibicarakan dengan pembimbing.

Menurut pengalaman penulis dalam menulis disertasi, walaupun mahasiswa S3 atau S2 itu sudah dewasa dan mandiri, bimbingan secara eksplisit sangat dibutuhkan dalam kelancaran membuat

prinsip explicit teaching dalam mengajar menulis (termasuk dalam membimbing tesis dan disertasi), seperti yang ditekankan oleh para pendukung pendekatan genre-ba sed (Christie, 1990, 2005; Derewianka, 1990; Christie & Joyce, 2000; Feez, 2002; Gibbons, 2002; Martin & Rose, 2005, 2007) dalam mengajar menulis perlu juga ditekankan. Mungkin pembimbing perlu secara eksplisit memberikan arahan yang jelas dan eksplisit tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh mahasiswa supaya mahasiswa tidak kehilangan arah dan tahu apa yang harus dilakukan.

F eedback

dari teman

Dewasa ini saran tentang pentingnya feedback yang diberikan oleh teman (peer) semakin marak. Kenyataan bahwa para guru atau dosen kadang-kadang sangat sibuk sehingga tidak mempunyai waktu untuk memberi feedback terhadap tulisan mahasiswanya (Hyland 2003; Beach & Friedrich, 2006:229), sering membuat dosen menyarankan mahasiswa untuk mendapat feedback dari teman. Manfaat peer feedback dalam pembelajaran menulis dalam bahasa Inggris sebagai bahasa kedua telah dilaporkan dalam beberapa penelitian (lihat misalnya Leki, 1992, 2001). Manfaat itu di antaranya adalah bahwa siswa/mahasiswa dapat menerima feedback dalam situasi yang tidak menakutkan, dan membuat mereka bisa memahami bagaimana orang lain membaca gagasannya dan apa yang perlu mereka perbaiki; mereka juga bisa mendapatkan keterampilan tentang menganalisis dan merevisi tulisan mereka sendiri (lihat juga Hyland, 2003; Beach & Frierdrich, 2006 untuk pembahasan yang sama).

Namun demikian, menurut Beach dan Friedrich (2006:229) siswa atau mahasiswa yang memberi feedback perlu latihan dalam strategi memberikan feedback spesifik dan deskriptif serta keterampilan dalam kerja kelompok untuk bekerja sama dengan teman. Kalau tanpa pelatihan,

mahasiswa mungkin hanya bisa memberikan feedback yang sifatnya judgmental atau feedback negatif atau hanya memberikan pujian hanya untuk menghindari hubungan sosial yang kurang baik di antara mereka.

Dengan nada yang sama, Hyland (2003) juga menegaskan kenyataan bahwa mahasiswa atau siswa pada umumnya kurang berpengalaman secara retorik (rhetorically inexperienced). Hal ini, tambah Hyland, bisa membuat mahasiswa mungkin hanya memfokuskan perhatiannya pada masalah-masalah pada tingkat kalimat ketimbang masalah gagasan dan organisasi. Selain itu, karena teman itu bukan guru yang terlatih, komentar mereka terhadap tulisan temannya mungkin tidak jelas dan kurang membantu atau bahkan terlalu kritis dan sarkastik (Leki, 1992; lihat juga Hyland, 2003) dan menurut Hyland (2003), revisi yang dilakukan oleh siswa yang mendapat feedback dari teman hanya dilakukan dalam hal-hal yang bersifat “surface changes”. Berdasarkan pengamatan penulis dalam membimbing tesis, hal ini memang terjadi dan mahasiswa sering mengatakan bahwa kalau kurang merasa terbantu kalau mereka meminta saran dari temannya tentang tulisan yang mereka buat.

Pemberian feedback, seperti dikatakan oleh Paltridge dan Stairfield (2007:58), dengan mengutip Stevens dan Asmar (1999), sebaiknya diberikan sejak awal penulisan tesis. Sebabnya adalah, seperti telah dikemukakan beberapa kali dalam buku ini, bahwa peneliti baru cenderung memulai penelitian dengan proyek penelitian yang terlalu besar dan ambisius (lihat bagian tentang memilih topik). Sementara itu, menurut Stevens dan Asmar (1999),wiser heads know that a

Feedback yang diberikan pembimbing akan banyak jenisnya, mengenai tulisan kita, dan ini akan menuntut revisi dan perubahan yang berbeda pula (Brown, 2006:102). Kita mungkin akan menemukan bahwa sebagian dari komentar atau saran yang diberikan oleh pembimbing menjengkelkan, tetapi, menurut Brown, kita sebaiknya jangan lupa bahwa pembimbing bermaksud membantu, membuat kita memikirkan kembali apa yang kita tawarkan ke pembaca dan bagaimana kita melakukannya. Brown menambahkan bahwa tidak ada gunanya kalau kita mengharapkan feedback, tetapi kemudian kita mengabaikannya. Kalau kita tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan, tambah Brown, maka kita sebaiknya kembali bertanya kepada pembimbing tentang apa yang dimaksudkannya. Tetapi yang harus diingat, menurut Brown adalah bahwa pembimbing bukan editor, walaupun pembimbing yang ideal, seperti dikatakan di Bab Tiga, adalah mereka yang juga mau membaca secara seksama tesis atau disertasi yang kita tulis.

Selain itu, kalau kita belum jelas tentang masukan yang kita dapat, menurut Brown (2006:103), mungkin kita juga belum menjelaskan kepada pembimbing jenis feedback yang kita perlukan. Walaupun tidak ada jaminan bahwa kita akan mendapatkannya, tetapi paling tidak kita bisa memperjelas kepada diri kita sendiri tentang apa yang mau kita lakukan.

Kesimpulan

Bab ini telah memaparkan dan menekankan manfaat serta peran feedback dalam membantu mahasiswa menyelesaikan tesis dan disertasinya. Bab ini juga telah menekankan bahwa masukan yang didapat dari pembimbing tentang tulisan mahasiswa seyogianya diberikan sejak awal penulisan tesis dan disertasi.

Bab ini juga telah mengemukakan bahwa walaupun masukan dari teman penting, dalam kasus pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau bahasa kedua, yang juga berlaku untuk mahasiswa Indonesia yang menulis tesis dan disertasi dalam bahasa Inggris, masukan dari dosen pembimbing merupakan masukan yang paling diperlukan. Jenis masukan yang diberikan seyogianya disesuaikan dengan tahapan penulisan tesis dan disertasi. Untuk draftt awal, misalnya, masukan yang berkaitan dengan isi serta gagasan mungkin sebaiknya ditekankan, kemudian dalam tahap-tahap selanjutnya bisa bergerak pada masukan yang bersifat teknis, seperti tata bahasa, ejaan dan sebagainya.

Setelah kita yakin akan mendapat bimbingan dari pembimbing, maka sekarang kita bisa mulai memikirkan apa itu tesis dan disertasi serta bagaimana menulisnya, di bawah bimbingan dari pembimbing. Dengan demikian, bab selanjutnya dari buku ini, yakni Bab Lima, akan membahas tesis serta beberapa hal terkait cara penulisannya.

BAB 5: TESIS DAN DISERTASI: DEFINISI DAN

Dalam dokumen Tesis Dan Disertasi (Halaman 95-107)

Dokumen terkait