BAB III ANALISIS KELOMPOK KECIL
III.1 Peran Kelompok Kecil dalam Perumusan
Mundurnya Mahmud Abbas sebagai Perdana Menteri Palestina menjadikan Israel tidak memiliki pasangan dalam melakukan proses perdamaian; sedangkan tekanan domestik maupun internasional untuk adanya proses menuju perdamaian semakin besar ditandai dengan munculnya rancangan-rancangan baru akan perdamaian oleh organisasi diluar pemerintahan Israel dan Palestina. Shalom Tourgeman, penasihat kebijakan luar negeri Perdana Menteri Israel mengungkapkan bahwasanya setelah ditunjuknya Mahmud Abbas sebagai Perdana Menteri Palestina, Perdana Menteri Ariel Sharon telah ingin memberikan kesempatan nyata terhadap proses perdamaian yang diajukan Quartet melalui Roadmap Peace. Akan tetapi kemudian Mahmud Abbas mengundurkan diri dan digantikan oleh
Abu Ala‟a yang menerapkan kebijakan berbeda baik dalam domestik maupun terhadap Israel. Baik Dov Weissglass maupun Shalom Tourgeman keduanya telah
bertemu dengan Perdana Menteri Abu Ala‟a dalam beberapa kali kesempatan,
tetapi berujung pada kesimpulan bahwa kedua belah pihak tidak akan mencapai titik temu dan jalan keluar. Baik Israel maupun Palestina kemudian berada pada
160Dawn, “Bush backs Powell talk with authors: Geneva Initiative” (online),
Dawn, 5 December 2003. Available: http://www.dawn.com/news/128014/bush-backs-powell-talks-with-authors- geneva-initiative (18 May 2014).
161
periode dimana semua proses terhentikan. Selama Sukkot162 berlangsung, 11 – 18 Oktober 2003, negara-negara di Eropa beserta beberapa tokoh Israel dan Palestina mencoba membentuk inisiatif baru, Geneva Initiatives, yang menurut Israel akan membawanya kembali ke masa pemerintahan Presiden Clinton dan permasalahan terakhir saat Camp David mengalami kegagalan pada Juli 2000. Tidak hanya itu, Perdana Menteri Ariel Sharon juga mendapatkan banyak surat dari petugas, pilot, dan para komando Israel yang berisikan mengenai ponalakan mereka untuk melayani penjagaan di wilayah Gaza.163
Situasi yang kesemuanya berada dalam posisi deadlocked kemudian membawa Dov Weissglass untuk menemui Perdana Menteri Ariel Sharon dan
mengatakan padanya, “Look, if you don‟t want any of those initiatives (Geneva Initiative and People‟s Choice) to take over, you should find another initiative.”164
Menteri Pertahanan Condoleeza Rice, di saat kunjungan Dov Weissglass ke Washington, mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui bagaimana atau kapan atau apa, tapi menurutnya sesuatu harus dilakukan untuk menenangkan situasi Israel – Palestina.165 Sepulang dari Washington, Dov Weissglass merasa perlu untuk mendiskusikan kekhawatiran Amerika Serikat dengan Perdana Menteri Ariel Sharon serta menekannya untuk menarik diri dari Gaza. Dov Weissglas menekankan kepada Perdana Menteri Ariel Sharon bahwasanyaa seluruh struktur yang ada, seluruh Roadmap Peace yang ia banggakan, yang dianggap aset politik paling penting, sedang berada pada posisi bahaya. Lebih dari 100 warga Israel
162
Salah satu hari raya keagamaan kaum Yahudi
163
Tourgeman in Abrams, pp. 191-192
164 Weissglass in Abrams, p. 192. 165
menjadi korban di Gaza;166 Perdana Menteri Ariel Sharon pun memahami bahwa
Israel tidak dapat tinggal di Gaza dalam jangka panjang; sehingga menurut Dov Weissglass untuk apa mengorbankan rakyat Israel di Gaza? Dan untuk situasi internal, dukungan publik dan opini publik mengenai pemerintah berada dalam bentuk yang paling buruk selama Perdana Menteri Ariel Sharon memerintah.167
Perdana Menteri Ariel Sharon yang paham betul bahwa status quo adalah suatu situasi yang tidak dapat memberikan keuntungan bagi Israel kemudian dalam waktu yang berbeda memanggil Sekretaris Militer Israel, Moshe Kaplinsky. Pada kesempatan itu pun Perdana Menteri Ariel Sharon menanyakan pendapat Moshe Kaplinsky mengenai bagaimana Israel dapat memulai semacam proses ditengah-tengah kemandekan rencana perdamian Roadmap. Moshe Kaplinsky kemudian menanyakan Perdana Menteri Ariel Sharon kembali, apakah ia dapat menyampaikan pendapatnya secara terbuka; sebab Kaplinsky memahami betul bahwa pendapatnya akan membawa kemarahan Perdana Menteri Ariel Sharon.
Sharon: “You know, the status quo is very, very bad. The
situation, when it‟s frozen, it‟s very, very bad. What do you think? How can we initiate some kind of process?” Kaplinsky: “Can I be open with you?”
Sharon: “Sure you can .That‟s why I called you.”
166 Weissglass in Abram, p. 193. 167
Kaplinsky: “Let‟s leave Netzarim.168 Let‟s remove Netzarim. By a small step, you can initiate a process where the entire world will support you and understand that you
are serious.”169
Dov Weissglass mengungkapkan bahwasanya putra-putra dari Perdana Menteri Ariel Sharon telah memberikan peran penting sejak awal perumusan kebijakan Disengagement Plan, “The first four people who spoke about „disengagement plan‟ were me, him, and his two children – his two sons.”170
Besarnya pengaruh orang terdekat juga diungkapan oleh Perdana Menteri Ariel
Sharon dalam wawancaranya dengan Uri Dan, “I might listen to the opinion of my son...or consult various experts. But I alone will make the decisions...”.171
Menanggapi situasi yang stagnan di tengah-tengah tekanan yang tetap mengalir, pada awal bulan Oktober 2003 terdapat diskusi kecil di ruang makan kediaman sekaligus perkebunan Perdana Menteri Ariel Sharon di Kfar Malal.172
Pertemuan di kediaman Perdana Menteri Ariel Sharon ini dihadiri oleh beberapa orang lingkar dalam (inner circle) Perdana Menteri Ariel Sharon seperti: Omri Sharon putra sulung Perdana Menteri Ariel Sharon yang juga anggota Knesset; Gilad Sharon putra bungsu Perdana Menteri Ariel Sharon; Dov Weissglass kepala staf, orang terdekat sekaligus penasihat Perdana Menteri Ariel Sharon serta orang yang paling berpengaruh dalam proses negosiasi dan diplomasi Israel dengan Amerika Serikat; Eyal Arad penasihat strategi Perdana Menteri Ariel Sharon;
168
Pemukiman Israel yang terisolir ditengah-tengah Jalur Gaza; kurang dari seratus keluarga yahudi, akan tetapi beberapa batalion tentara yang berjaga-jaga untuk mengamankan keluarga yahudi yang kurang dari seratus keluarga tersebut.
169
Kaplinsky and Sharon in Abrams, pp. 190-191.
170
Weisglass in Abrams, p. 193.
171 Ariel Sharon in Dan, p. 234. 172
Reuven Adler menejer kampanye, eksekutif periklanan, dan teman lama Perdana Menteri Ariel Sharon; dan Yoram Raved pengacara pribadi Perdana Menteri Ariel Sharon.
Dalam pertemuan kecil tersebut topik pembicaraan sering diangkat oleh Omri Sharon yang mengarah pada kurang adanya harapan bagi Israel dalam menjalin hubungan dengan Palestina. Di tengah-tengah perbincangan, Gilad Sharon pun kemudian berpaling kepada ayahnya, Perdana Menteri Ariel Sharon, dan mengungkapkan ketidakpahamannya akan posisi Perdana Menteri Ariel Sharon di jalur Gaza yang menurutnya adalah tidak jelas dan tidak sepenuhnya terbentuk. Gilad Sharon berpandangan bahwasanya hidup di jalur Gaza adalah sesuatu yang tidak mungkin dengan kenyataan sehari-hari yang tidak tertahankan,
“teror” yang tidak ada henti-hentinya dimana roket, mortir, bom, penembak jitu berkeliaran di jalan-jalan jalur Gaza. Banyak pemukim Israel di Gaza yang meninggal dunia termasuk wanita dan anak-anak. Situasi yang terjadi menurutnya adalah situasi yang tidak memiliki akhir; yang mana dalam waktu jangka panjang hanya akan ada dua kemungkinan yakni: bangsa Israel tidak akan berada di jalur Gaza atau bangsa Palestina yang tidak akan berada di jalur Gaza. Menurut Gilad Sharon, bangsa Israel dan bangsa Palestina tidak dapat hidup bersama di jalur Gaza.173
Ketidakpercayaan Israel terhadap pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat, menjadikan kemuduran diri Mahmud Abbas dari Perdana Menteri Palestina sebagai momen yang dianggap tidak ada orang yang dapat diajak bicara di pihak Palestina. Gilad Sharon pun menyampaikan pandangannya kepada
173
Perdana Menteri Ariel Sharon bahwasanya untuk menghadapi apa yang ada di depan, Israel perlu menempuh jalan melalui pendekatan unilateral, yang mana menurut Gilad Sharon akan membawa posisi Israel ke arah yang lebih baik.
“The way forward is via a unilateral approach, actions that
will better our position. It doesn‟t matter if it‟s seen as
something good or bad for the Palestinians; what‟s important is that it‟s good for us. And for that reason our unilateral approach shouldn‟t be dependent upon any Palestinian actions.”174
Mendengar pandangan Gilad Sharon, mengenai situasi Israel Palestina di tengah-tengah stagnasi dan tekanan internasional, Perdana Menteri Ariel Sharon pun menemukan ketertarikan atas ide Gilad Sharon dan memerintahkan penasihatnya untuk mencatatnya. Sejak saat itu untuk pertama kalinya Perdana Menteri Ariel Sharon secara serius mempertimbangkan evakuasi komunitas- komunitas Israel di Gaza.175
Sesulit resiko serangan “terror” bagi keseluruhan hidup masyarakat Israel,
bagi Gilad Sharon konsep hidup saling berdampingan bangsa Yahudi dan Palestina di Gaza adalah suatu hal yang tidak tertahankan. Menurutnya terdapat dua opsi yakni mengevakuasi sekitar satu setengah juta warga Palestina ke tempat lain atau mengevakuasi delapan ribu orang Yahudi dari Gaza.176 Sejak lama telah
ada konsesus Israel yang menekankan pada pencapaian kesepakatan damai di antara Israel dan Palestina, ditandai dengan perlunya Israel menarik diri dari Gaza. Maka dari itu menurut Gilad Sharon satu-satunya yang membuat berbeda adalah
174 Sharon, p. 609. 175 Sharon, p. 609. 176 Sharon, p. 609.
Israel akan menarik diri hanya pada kerangka kesepakatan bersama dengan Palestina.
Pada pertemuan di ruang makan kediaman Perdana Menteri Ariel Sharon tersebut, Dov Weissglass seorang kepala staf, penasihat, orang terdekat Perdana Menteri Ariel Sharon serta orang yang bertanggung jawab dari semua hubungan dengan pemerintah Amerika Serikat, tertarik dengan gagasan penarikan secara unilateral. Eyal Arad pun kemudian turut berkomentar dengan mengatakan
bahwasanya “It‟s possible you could do it, but not with this (Israeli) government”.177
Pada 16 Oktober 2003, Gilad Sharon menuliskan kertas posisi dan memberikannya pada Perdana Menteri Ariel Sharon.178 Isi dari kertas posisi Gilad
Sharon tidak secara eksplisit menyebutkan penarikan diri atau menspesifikasikan Gaza secara khusus, akan tetapi lebih menguraikan mengenai prinsip tindakan unilateral. Perdana Menteri Ariel Sharon mempertimbangkannya dan menerima ide Gilad Sharon. Perdana Menteri Ariel Sharon paham betul bahwasanya kekuatan internasional tidak akan mentolerir vakumnya hubungan diplomatik vis- a-vis konflik Israel – Palestina, sedangkan di satu sisi ia pun khawatir dengan adanya pengenalan rencana perdamaia baru, yang berkemungkinan untuk membahayakan Israel dan kepentingannya. Perdana Menteri Ariel Sharon menginginkan Israel untuk dapat memutuskan masa depannya sendiri. Baginya lebih baik menentukan nasib bangsa sendiri dari pada ditentukan oleh pihak eksternal, dan apabila harus ada proses perdamaian, maka proses perdamaian itu
177 Arad in Sharon, p. 609.
178
harus berdasarkan Roadmap Peace, dengan mematuhi setiap fase yang ada,
dimulai dengan perang melawan “terror”, dan penumpasan organisasi “terror”.179
Dukungan rencana penarikan diri secara unilateral juga diadopsi oleh Eival Gilad, Jenderal IDF yang kemudian memimpin Divisi Perencanaan Strategis IDF. Ketika Roadmap Peace tampak mengalami kemandekan, Eival Giladi bekerja keras untuk mengembangkan alternatif. Ia bersama staf IDF melakukan kesepakatan baik dalam menganalisa serta dalam merencanakan penarikan diri. Eivel Gilad pun turut mengungkapkan pandangannya kepada Perdana Menteri Ariel Sharon,
“OK, we understand that we cannot achieve final status
agreement. But are we in the best possible point? OK, we
move to something which is not perfect, but it‟s much better; politically, security, economically. You know instead of complaining all the time there is no partner, why
don‟t we take advantage of the fact that there is no partner and shape the future unilaterally.”180
Menurut Eival Giladi, Perdana Menteri Ariel Sharon dapat melakukan apa saja apabila ia memiliki kekuatan. Akan tetapi apabila Perdana Menteri Ariel Sharon melakukan sesuatu yang benar, yang mana benar secara moral, benar secara legal, masyarakat Israel akan menerimanya dan begitu pula dengan komunitas internasional, dan semuanya akan berjalan baik.
Menanggapi situasi yang stagnan ditandai dengan vakumnya hubungan diplomatik Israel – Palestina oleh karena pengunduran diri Mahmud Abbas,
179Sharon, p. 610.
180
terdapat respon besar dari pihak internasional, salah satunya dari Amerika Serikat sebagai aktor utama di dalam perumusan Roadmap Peace. Amerika Serikat melalui Condoleeza Rice menanyakan pandangan dan posisi Israel kepada Dov Weissglass, “we need to shake up the dynamics. What might it be? Is anything possible between Israel and Syria?”181 Menanggapi pertanyaan Amerika Serikat, Dov Weissglass pun menyarankan Condoleeza Rice agar mengutus Elliott Abrams ke Roma, Italia untuk bertemu dengan Perdana Menteri Ariel Sharon secara rahasia.182 Dengan tujuan untuk menemukan rencana Perdana Menteri
Ariel Sharon dalam menghadapi Syria setelah serangan udara Israel pada “basis pelatihan teroris” Palestina di Damaskus utara183
dan dalam menghadapi Palestina184 paska pengunduran diri Mahmud Abbas, maka Elliott Abrams pun
diutus untuk menemui Perdana Menteri Ariel Sharon ke Roma.
Kunjungan Perdana Menteri Ariel Sharon ke Roma dari 17 November 2003 hingga tiga hari setelahnya menjadi momen dimana Perdana Menteri Ariel Sharon mendiskusikan rencana pengunduran diri Israel secara unilateral dari Gaza untuk pertama kalinya.185 Pada 18 November Elliot Abrams pun secara rahasia
menemui Perdana Menteri Ariel Sharon di hotel dimana ia menginap.186
Menanggapi serangan Israel kepada Syria, Perdana Menteri Ariel Sharon menekankan dalam pertemuannya dengan Elliott Abrams bahwa tidak perduli dengan apapun yang diinginkan oleh Amerika Serikat, Israel tidak akan
181 Rice in Abrams, p. 188. 182 Abrams, p. 188. 183
Chris McGreal, “Israeli Jets Hit Syria Camp in Blast Revenge” (online), The Guardian, 6 October 2003. Available: http://www.theguardian.com/world/2003/oct/06/syria.israel3 (6 May 2014).
184
Abrams, p. 188.
185 Sharon, p. 610. 186
bernegosiasi dengan Syria. Menurutnya Israel dan Amerika Serikat harus menangani permasalahan Palestina terlebih dahulu dengan tidak berbalik arah kepada front lain dengan meninggalkan upaya perdamaian dengan Palestina di belakang.
“We should stick to the Palestinian issue; Israel cannot
take another heavy burden on shoulders. We cannot take it.
It would be a major mistake. Don‟t drag Israel now into a new internal struggle. We don‟t trust the Palestinians and
we are not sure something will happen. But we have to try
and do that.”187
Setelah menanggapi hubungan Israel – Syria, untuk pertama kalinya Perdana Menteri Ariel Sharon mengungkapkan pendekatan barunya dalam menanggapi hubungan Israel – Palestina.
“We might say that if it is quiet for a time we will
dismantle some settlements. But this dismantlement would not be the product of a negotiation with the Palestinian. I will take these new steps as unilateral steps. I do not want to be in their hands, because they may not perform or there
may be acts of terror.”188
Pertemuan di Roma secara rahasia ini kemudian menjadi perkenalan pertama kepada Amerika Serikat dari apa yang kemudian disebut dengan kebijakan
Disengagement Plan.
Mengkoordinasikan suatu langkah baru dengan Amerika Serikat menjadi sangat penting bagi Perdana Menteri Ariel Sharon. Perdana Menteri Ariel Sharon
187 Sharon in Abrams, p. 189. 188
kemudian mengirim Dov Weissglass ke Washington D.C., dimana Dov Weissglass bertemu dengan Condoleeza Rice dan Elliott Abrams. Dari hasil pertemuannya dengan Condoleeza Rice dan Elliott Abrams, Dov Weissglass menyampaikan kepada Perdana Menteri Ariel Sharon bahwa Amerika Serikat memiliki perhatian utama mengenai penarikan diri secara unilateral dengan mengkhawatirkannya sebagai rencana yang dapat memicu konflik atau bertolak belakang dengan Roadmap Peace atau membahayakan prospek perdamaian kedepannya.189
Selama bulan Desember 2003 dan January 2004, Dov Weissglass bersama dengan Shalom Tourgeman, telah melakukan pembicaraan dengan pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat Steve Hadley, Elliott Abrams, dan terkadang juga dengan Condoleeza Rice. Apa yang menjadi sangat jelas dari pembicaraan tersebut yakni Amerika Serikat tidak akan memberikan suatu penghargaan apapun pada inisiatif Israel dan tidak akan mendukung Israel apabila Disengagement Plan tidak mengikutsertakan beberapa wilayah di Judea dan Samaria atau yang kita kenal dengan West Bank.190 Oleh karena itu, Perdana Menteri Ariel Sharon menyadari
bahwa kebijakan Disengagement Plan harus mencakup empat pemukiman Israel yang terisolasi di wilayah West Bank.