• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS KELOMPOK KECIL

III.2 Window of Opportunity oleh Kelompok Kecil

Dov Weissglass, seorang penasihat terdekat yang juga menjabat sebagai kepala staf dalam pemeritahan Perdana Menteri Ariel Sharon adalah salah satu orang

yang menjadi “ujung tombak” dalam membangun hubungan pemerintah Perdana

189 Sharon, pp. 611-612. 190

Menteri Ariel Sharon dengan Washington.191 Dov Weissglass melalui

wawancaranya dengan jurnalis media Haaretz, Ari Shavit, memaparkan kontradiksi yang sangat tajam antara kebijakan penarikan diri yang diumumkan dengan niatan mengapa rencana penarikan diri menjadi kebijakan alternatif ketika hubungan Israel dan Palestina mengalami kebuntuan dalam proses perdamaian.

Mundurnya Mahmud Abbas sebagai Perdana Menteri Palestina pada 2003, membawa pada kesimpulan bahwasanya tidak ada pihak di Palestina yang dapat diajak bicara maupun diajak untuk bernegosiasi. Israel memahami bahwa semua proses mengalami kemandekan. Walaupun Israel membaca posisi Amerika Serikat lebih mempersalahkan Palestina dan bukan kepada Israel, akan tetapi Israel sangat menyadari bahwa keadaan yang mendukung Israel tidak akan bertahan lama; menurutnya Amerika Serikat dan komunitas internasional tidak akan lepas tangan dalam konflik Israel – Palestina.

Menurut Dov Weissglass, waktu sedang tidak berpihak pada Israel. Terdapat erosi internasional dengan ditandai adanya Geneva Initiative yang telah mendapatkan banyak dukungan internasional dan erosi internal yang secara domestik, keadaan Israel secara keseluruhan telah mengalami keruntuhan, ditandai dengan stagnasi perekonomian yang diakibatkan oleh konflik kompleks Intifada Kedua. Tidak hanya itu, Perdana Menteri Ariel Sharon juga mendapatkan banyak surat dari petugas, pilot, dan para komando Israel yang berisikan mengenai ponalakan untuk melayani penjagaan di wilayah Gaza. Oleh sebab itu perlu ada inisiatif secara unilateral dari Israel dengan merumuskan kebijakan penarikan diri

191Anoymous, “Sharon Advisor Dov Weisglass, Remarks on Relations with the United Sat

es,

Disengagement, the Road Map, the Possibilities of a Palestinian State”, Journal of Palestinian Studies, vol. 34, no.2, 2005, p. 203.

dari seluruh pemukiman di Gaza dan sebagian wilayah pemukiman Israel di West Bank. Hal tersebut menurut Dov Weissglass dikarenakan ketika kita bermain kartu dan tidak ada seorang pun yang duduk di seberang meja kita, maka kita tidak memiliki pilihan lain selain mengocok kembali kartunya sendiri.192 Ketika suatu

formula tidak dapat bekerja baik pada suatu realita, kita tidak dapat mengubah realita tersebut akan tetapi kita perlu mengubah formulanya.193

Dov Weissglass mengungkapkan bahwasanya Disengagement Plan dalam rangkaian prinsip adalah suatu bahan pengawet atau formalin. Disengagement Plan digambarkan sebagai botol formaldehida yang diletakkan pada formula kebijakan Presiden Bush sehingga kemudian situasi politik yang dihasilkan akan dipertahankan untuk jangka waktu yang sangat panjang. Disengagement Plan

memberikan suatu pengawetan pada kondisi stagnan yang diperlukan untuk kemudian memungkinkan Israel untuk tidak melakukan proses politik dengan Palestina.

Disengagement Plan memberikan kemungkinan bagi Israel untuk menempatkan diri secara nyaman dalam kondisi sementara yang menjauhkan Israel sejauh mungkin dari tekanan politik. Menarik diri secara unilateral akan melegitimasi anggapan Israel bahwa tidak ada negosiasi dengan Palestina oleh karena tidak adanya lagi orang di pihak Palestina yang dapat diajak bernegosiasi. Menanggapi situasi yang deadlocked di antara Israel dan Palestina, terdapat keputusan di Israel untuk melakukan sesuatu seminim mungkin agar menjaga situasi politik Israel. Keputusan tersebut memberikan beberapa bukti dalam

192Ari Shavit, “The Big Freeze” (online),

Haaretz, 7 October 2004. Available: http://www.haaretz.com/the-big-freeze-1.136713 (8 May 2014)

193

menguntungkan posisi Israel, yang mana secara tidak langsung memaksa dunia untuk berurusan dan menerima inisiatif Israel dengan skenario yang ditulis dalam

Disengagement Plan.

Disengagement Plan memposisikan Palestina di bawah tekanan yang besar dengan menekan Palestina ke dalam posisi yang paling tidak disukai atau dibenci oleh Palestina. Disengagement Plan menyodorkan Palestina ke dalam situasi dimana mereka harus membuktikan keseriusan mereka. Menurut Dov Weissglass,

tidak ada alasan lagi bagi Palestina untuk tidak menuntaskan “terorisme” karena

tidak ada lagi tentara Israel yang mengganggu hari-hari rakyat Palestina.

Dov Weissglass juga mengungkapkan bahwa Israel mengadopsi keinginan Amerika Serikat untuk memasukkan West Bank dalam Disengagement Plan

dengan pertimbangan agar Israel tidak disimpulkan telah mengakhiri kewajibannya di Gaza.194 Ia menambahkan bahwasanya Perdana Menteri Ariel

Sharon tidak melihat Gaza sebagai kepentingan nasional, akan tetapi melihat Judea dan Samaria atau West Bank sebagai kepentingan nasional Israel dan Perdana Menteri Ariel Sharon memahami bahwa Israel masih akan sangat lama untuk dapat mencapai status final di West Bank. Berkenaan dengan blok pemukiman yang besar, menurut Dov Weissglass Israel perlu berterimakasih pada kebijakan Disengagement Plan, karena untuk pertama kalinya Amerika Serikat memberikan pernyataan bahwa pusat populasi Israel yang berada di wilayah

194

pendudukan Palestina akan menjadi bagian dari Israel dalam perjanjian status permanen.195

Perdana Menteri Ariel Sharon bersama orang-orang terdekatnya paham betul bahwa Disengagement Plan sebagai kebijakan adalah langkah serius yang mana dari 240.000 pemukiman Israel, terdapat 190.000 pemukiman yang tidak akan dipindahkan dari tempat mereka. Dov Weissglass menyatakan bahwa Perdana Menteri Ariel Sharon adalah orang pertama yang berhasil mengambil ide dan inisiatif dari kamp nasional dan mengubahnya menjadi sebuah realitas politik yang diterima oleh seluruh dunia.

Prestasi besar Israel dari kebijakan Disengagement Plan menurut Dov Weissglass adalah secara sah menghentikan proses politik. Istilah “proses politik” adalah tumpukan konsep dan komitmen. Proses politik adalah pembentukan negara Palestina dengan seluruh resiko keamanan yang membuntutinya. Proses politik juga dipahami sebagai evakuasi pemukiman, pengembalian pengungsi, petisi Yerusalem, dan seluruh proses yang terhentikan setelah Mahmud Abbas mengundurkan diri. Dan ketika Israel menghentikan proses-proses tersebut maka Israel akan mencegah pembentukan negara Palestina dan mencegah adanya diskusi mengenai pengungsi Palestina, batas wilayah, dan Yerusalem. Secara efektif kemudian seluruh rencana yang memanggil terbentuknya negara Palestina dan segala bentuk yang ada dibelakangnya, telah dihapus dari agenda Israel.

Dov Weissglass mendefinisikan bahwa melalui Disengagement Plan, Israel telah menciptakan status quo dalam berhubungan dengan Palestina. Ada

195George W. Bush, “Statement by the President” 14 April 2004. Available: http://georgewbush- whitehouse.archives.gov/news/releases/2004/04/20040414-2.html (8 April 2014).

beberapa paket komitmen yang sangat sulit untuk diterima oleh Israel, dan paket tersebut adalah proses politik. Hal tersebut termasuk unsur Israel yang tidak akan pernah setuju untuk menerima dan belum siap untuk menerima terbentuknya negara Palestina di saat Perdana Menteri Ariel Sharon memerintah Israel. Melalui

Disengagement Plan Dov Weissglass mengungkapkan bahwa Israel telah berhasil menerima suatu paket persetujuan (berdirinya negara Palestina) dan kemudian mengirimkannya ke luar ruang waktu, sehingga paket persetujuan tersebut terhapuskan dari agenda Israel.

Dov Weissglass menyimpulkan bahwa melalui Disengagement Plan, Israel mendidik dunia internasional untuk memahami bahwa tidak ada pihak Palestina yang dapat diajak bernegosiasi, dan Israel mendapatkan sertifikat “no- one-to-talk-to” tersebut. Sertifikat tersebut mengungkapkan beberapa hal: pertama, tidak ada satu pun di pihak Palestina yang dapat diajak bernegosiasi; kedua, selama tidak adanya pihak yang dapat diajak bernegosiasi, maka geografis status quo tetap utuh; ketiga, sertifikat akan dicabut hanya jika beberapa hal terjadi – ketika Palestina menjadi Finlandia.196

Dokumen terkait