BAB II ANALISIS LEVEL INTERNASIONAL
II. 2 11 September 2001
II.4 Roadmap Peace
Roadmap Peace yang secara formal berjudulkan, A Performance-Based Roadmap to a Permanent Two-State Solution to the Israel – Palestinian Conflict, bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Palestina. Tujuan untuk mencapai sebuah negara Palestina tercantum jelas pada pembukaan draft Roadmap Peace:
“The destination is a final and comprehensive settlement of
the Israeli-Palestinian conflict by 2005, as presented in
President Bush‟s speech of 24 June.”118
Isi draft Roadmap Peace tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan pidato Presiden Bush pada 24 Juni 2002. Terdapat tiga fase di dalam Roadmap Peace 116 Abrams, p. 114. 117 Weissglass in Abrams, p. 114. 118
Roadmap Peace Plan, “A Performance-Based Roadmap to a Permanent Two-State Solution to the Israel-Palestinian Conflict”, United Nations, 2002. Available:
untuk mencapai perdamaian. Pertama, kekerasan dan “terorisme” Palestina harus
dihentikan; kedua, akan ada konstitusi baru Palestina dan adanya pemilihan umum yang demokratis; ketiga, Israel akan menarik diri dari wilayah-wilayah Palestina di West Bank, dan Israel akan menghentikan seluruh aktivitas penyebaran kependudukan serta membongkar pembangunan pemukiman yang terjadi setelah Maret 2001.119 Proses pengimplementasiannya kemudian bertahap dari satu fase
ke fase berikutnya.
Draft akhir Roadmap Peace telah selesai disusun pada musim gugur tahun 2002; Israel pun tidak menanggapinya melalui komen resmi pemerintahan, akan tetapi dengan permohonan untuk adanya pengunduran tanggal penerbitan teks
Roadmap Peace. Permohonan pengunduran tanggal penerbitan teks Roadmap Peace oleh Israel dilatarbelakangi oleh situasi politik domestik yang sedang tidak stabil ditandai dengan keluarnya Partai Buruh dari barisan koalisi Perdana Menteri Ariel Sharon yang disebabkan oleh konflik anggaran. Sehingga Perdana Menteri Ariel Sharon berpandangan bahwasanya mengangkat isu Roadmap Peace akan semakin memperburuk situasi politik domestik serta akan merugikannya di pemilihan umum tahun 2003. Tanpa adanya perdebatan, pemerintahan Presiden Bush dan Quartet pun menyetujui penundaan tanggal terbit teks Roadmap Peace
yakni hingga Israel memiliki pemerintahan yang baru.120
Ariel Sharon pun terpilih kembali menjadi Perdana Menteri Israel pada 29 Januari 2003 dengan mengalahkan lawan politiknya dari Partai Buruh. Pada akhir Februari 2003 Perdana Menteri Ariel Sharon memperkenalkan kabinet barunya ke
119 Roadmap Peace Plan
120
Knesset; termasuk di dalamnya adalah Benjamin Netanyahu sebagai Menteri Keuangan dan Ehud Olmert sebagai Menteri Perdagangan dan Industrial, dengan merangkap jabatan sebagai wakil Perdana Menteri.121 Pada saat yang bersamaan
Perdana Menteri Ariel Sharon mengirimkan ketua staf Israel, Dov Weissglass ke Washington untuk melakukan negosiasi serta menyampaikan beberapa kondisi dalam menerima Roadmap Peace122, dalam hal ini keraguan Israel terhadap pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat sangatlah besar, oleh karena penolakannya untuk melakukan perubahan dalam konstitusi Palestina seperti yang ada pada Roadmap Peace.123
Melalui tekanan Eropa, pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat pun menyetujui dan memperbolehkan adanya penunjukan Perdana Menteri Palestina, yang mana kemudian dijabat oleh Mahmud Abbas atau yang dikenal dengan “Abu
Mazen”.124
Condoleeza Rice memandang keputusan tersebut sebagai suatu kemajuan besar dalam usaha perdamaian. Bagi Presiden Bush, reformasi di Palestina menjadi persoalan yang sangat fundamental. Presiden Bush percaya bahwasanya Israel akan mendukung solusi dua-negara apabila pemimpin Otoritas Palestina, Yasser Arafat tidak diikutsertakan dan digantikan dengan struktur politik Palestina yang baru.125 Penerbitan teks formal Roadmap Peace kembali ditunda. Uni Eropa dan Amerika Serikat menyetujui adanya penundaan penerbitan teks formal Roadmap Peace hingga pemimpin Otoritas Palestina, Yasser Arafat menepati janjinya dan Perdana Menteri Palestina diposisikan pada tempatnya.
121 Sharon, pp. 578-579. 122 Dan, p. 219. 123 Abrams, p. 136. 124 Abrams, p. 137. 125 Abrams, p. 138.
Pada 19 Maret 2003, sehari sebelum invasi Amerika Serikat ke Iraq, pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat pun akhirnya tunduk pada tekanan internasional dengan menyetujui penunjukan Mahmud Abbas sebagai perdana menteri dari Otoritas Palestina.126
Pada pertemuan Gedung Putih yang dipimpin oleh Condoleeza Rice pada tanggal 9 April dan 11 April 2003, Condoleeza Rice menekankan pada proses perdamaian Israel – Palestina setelah perang Iraq selesai.
“we‟ve broken the Middle East with this war, and now we
need to show we know how to put it together again. The Israeli-Palestinian conflict is at the center of this effort.”127
Kekuatan tekanan Amerika Serikat lebih terlihat pada Saddam Hussein daripada melawan Yasser Arafat. Mahmud Abbas telah ditunjuk untuk menempati posisi Perdana Menteri Palestina, akan tetapi pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat menghalangi kemampuan Mahmud Abbas sebagai Perdana Menteri Palestina untuk memilih kabinetnya. Pada 14 April 2003, Presiden Bush kembali menghubungi Presiden Hosni Mubarak dan Putra Mahkota Saudi Arabia, Pangeran Abdallah, meminta bantuan keduanya untuk menekan pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat agar menyerah dengan memberikan otoritas kepada Perdana Menteri Mahmud Abbas.128 Melalui tekanan yang diberikan oleh
Uni Eropa dan negara-negara Arab, pada 29 April 2003 pemimpin Otoritas Palestina Yasser Arafat melantik Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas
126CNN Library, “Yasser Arafat Fast Facts” (online),
CNN, 8 November 2013. Available: http://edition.cnn.com/2013/09/10/world/meast/yasser-arafat-fast-facts/ (30 April 2014).
127 Abrams, p. 142. 128
beserta kabinet barunya. Teks formal Roadmap Peace pun kemudian diterbitkan pada 30 April 2003.129
Setelah Otoritas Palestina memiliki pemimpin baru dengan ditunjuknya Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas, Presiden Bush mengirim Steve Hadley dan Elliott Abrams pada 1 Mei 2003130 ke Israel untuk melihat dan memastikan
Perdana Menteri Ariel Sharon benar-benar ingin melangkah ke arah perdamaian. Dalam perjalanan tugas menemui Perdana Menteri Ariel Sharon, Steve Hadley berinisiasi untuk melakukan pengertian mendalam terhadap sosok Ariel Sharon.
“Instead of the usual 45-60 minute meetings in his office,
let‟s really listen to him. Let‟s go to his residence for some sessions that can last for hours and hours. Let him talk, let him explain himself. This is a man who has been a war hero and a pariah. This guy is one of the last of his
generation of leaders. Let‟s hear him out.”131
Strategi pendekatan Steve Hadley pun berhasil; di tambah dengan apresiasi Presiden Bush terhadap Perdana Menteri Ariel Sharon dan hubungan dekat Condoleeza Rice dan Elliott Abrams dengan Dov Weissglass, pertemuan oleh Steve Hadley dan Elliot Abrams telah membantu untuk meyakinkan Perdana Menteri Ariel Sharon bahwasanya Presiden Bush dan orang-orangnya adalah berbeda, bahwasanya mereka benar-benar ingin memahami Israel. Elliott Abrams melalui bukunya pun memberikan gambaran kepribadian Perdana Menteri Ariel Sharon yang sangat suka apabila ia disukai; menurutnya di bawah eksterior kasar sosok, Ariel Sharon adalah seseorang yang peduli apa yang orang pikirkan
129 Sharon, p. 586. 130 Sharon, p. 587. 131 Hadley in Abrams, p. 144.
mengenai dirinya, yang dapat terluka, yang menanggapi bentuk penghormatan dan kasih sayang. Pada pertemuan itu pula, Steve Hadley memberikan surat Presiden Bush kepada Perdana Menteri Ariel Sharon, yang berisikan ucapan terima kasih karena telah bersedia untuk mengambil resiko demi perdamaian. Setelah membaca surat Presiden Bush, Perdana Menteri Ariel Sharon memberikan monolog panjang mengenai pandangannya tentang Israel, situasi yang dihadapi Israel, dan permintaan Internasional terhadap Israel.
“I took risks personally, but never took any risks with the
security of the State of Israel. I appreciate Arab promises but will take seriously only tangible performance. For tangible performance I will take tangible steps.... I am a Jews above all. After what happened in the past, I will not let the future of the Jewish people depend on anyone, even our closest friends...”132
Pada 20 Mei 2003, Presiden Bush menghubungi Perdana Menteri Mahmud Abbas dan mengungkapankan bahwasanya Amerika Serikat akan mendukung Perdana Menteri Mahmud Abbas apabila ia berkehendak menyelesaikan
permasalahan “terorisme” Palestina.133 Pada hari yang sama Presiden Bush pun menghubungi Perdana Menteri Ariel Sharon dan mengungkapkan pandangannya akan Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas.
Bush: “The United States would never jeopardize Israeli
security, but we should help Abu Mazen; there is a chance
for progress”
132 Sharon in Abrams, p. 144-145. 133
Sharon: “Not if the terror continues; and Abu Mazen, whatever his intentions, was doing nothing to stop it” Bush: “Well, he just got there; he means well and we should help him succeed”
Sharon: “I would not compromise on security”
Bush: “I agreed, but we had a chance to marginalize Arafat
now if we could empower Abu Mazen. You can be a man
of security and a man of peace.”134
Pada 25 Mei 2003, pemerintahan Israel pun menyetujui Roadmap Peace dengan hasil pemilihan di Knesset: 12 memilih mendukung, 7 memilik menolak, dan 4 memilih abstain.135 Hal tersebut menandai untuk pertama kalinya dalam sejarah,
bangsa Yahudi menyetujui prinsip pendirian negara Palestina.
Kabinet Perdana Menteri Ariel Sharon menerima Roadmap Peace dengan beberapa persyaratan, akan tetapi perasaan Perdana Menteri Ariel Sharon yang sebenarnya digemakan oleh Uri Dan dengan mengatakan bahwasanya Perdana
Menteri Ariel Sharon mencoba untuk menerima “Roadmap Shmord Map”.136
Walaupun Perdana Menteri Ariel Sharon melihat Roadmap Peace adalah suatu usaha yang sia-sia, ia tidak menampiknya begitu saja. Hal tersebut dikarenakan
hubungan Amerika Serikat dan Israel yang sangatlah dekat, “I will not harm the
deep strategic understandings with the United States, and the special relationship
formed with the American administration”.137
Perdana Menteri Ariel Sharon adalah seorang pragmatis yang paham bahwa Amerika Serikat adalah kepala
134
Bush and Sharon in Abrams, pp. 152-153.
135 Dan, p. 220.
136Yael S. Aronoff, “Warfare to Withdrawal: The Legacy of Ariel Sharon”,
Israel Studies, vol. 15, no. 2, 2010, p. 161.
137
polisi dunia dan Israel tentu sangat membutuhkan bantuan Amerika Serikat, “We have only one friend in the world...The plan will allow us to harmonize our
position with that of the United States”.138
Presiden Bush, Perdana Menteri Ariel Sharon, Perdana Menteri Mahmud Abbas, dan petinggi negara-negara Arab lain bertemu bersama pada 4 Juni 2003 di Konferensi Aqaba, Jordan, membahas proses perdamaian seperti yang tercantum dalam Roadmap Peace.139 Sebelum pertemuan tersebut berlangsung, Presiden Bush melakukan pertemuan secara rahasia dengan Perdana Menteri Ariel Sharon dan Perdana Menteri Mahmud Abbas secara terpisah. Sebelum pertemuan pribadinya dengan Perdana Menteri Mahmud Abbas, Presiden Bush bertemu dengan Perdana Menteri Ariel Sharon yang saat itu hanya ditemani oleh Dov Weissglass.
Bush: “ I called you a man of peace, I meant it, and today you are proving me right... I am never going to deal with him (Yasser Arafat). He is no good; he has failed. Do not worry about that (Israeli Security); in fact, if you are really
worried about my commitment to Israel‟s security, which you keep mentioning over and over, take your plane and
go home.”140
Perdana Menteri Ariel Sharon dalam pertemuan rahasia dengan Presiden Bush tidak lupa mengucapkan terima kasih karena telah memanggilnya dengan sebutan
man of peace. Perdana Menteri Ariel Sharon mengungkapkan pula bahwa perdamaian adalah tujuannya. Akan tetapi menurutnya perdamaian dan keamanan
138
Ariel Sharon in Dan, p. 237.
139CNN, “Sharon, Abbas Pledge Action at Summit” (online),
CNN, 4 June 2003. Available: http://edition.cnn.com/2003/WORLD/meast/06/04/bush.jordan/ (30 April 2014).
140
adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Untuk perdamaian yang sejati dan perdamaian yang dapat membawa keamanan, ia siap untuk mengambil “kompromi yang menyakitkan”. Perdana Menteri Ariel Sharon kemudian kembali
menekankan bahwasanya Palestina harus memahami apabila “teror” tetap
berlanjut, maka Palestina tidak akan mendapatkan apa-apa. Mendengar pernyataan Perdana Menteri Ariel Sharon, Presiden Bush tidak membantahnya, akan tetapi
menanyakan kembali akan bagaimana proses dapat bergerak maju, “how could we make this work?”141
Perdana Menteri Ariel Sharon yang telah lama menolak
Roadmap Peace, kemudian mengadopsi tahapan-tahapannya dalam menjawab pertanyaan Presiden Bush.
Sharon: “If the terror ends in Phase I, we will move to an „interim‟ Palestinian state in Phase II and then can begin discussing the final phase”142
Perdana Menteri Ariel Sharon dalam hal ini secara jelas telah memahami apa yang dimaksud dengan kedekatan pada sebuah negara Palestina, dimana dengan sangat menyakitkan ia harus melakukan penghapusan pemukiman yang selalu disebut
sebagai “kota Israel”.
Di sisi lain, terdapat serangan serius di Palestina yang menentang penyataan Perdana Menteri Mahmud Abbas di Aqaba. Setelah dua hari pertemuan di Aqaba, pemimpin Hamas Abdel Aziz Rantisi mengkritisi Perdana Menteri Mahmud Abbas dan berkata bahwasanya tidak akan ada perdamaian sampai
141 Bush in Abrams, p. 161.
142
zionisme dimusnakan dari tanah Palestina.143 Pada 12 Juni 2003, Israel mencoba
melakukan pembunuhan terhadap Rantisi yang dianggap bertanggug jawab pada
penyerangan “teror” yang terjadi pada 8 Juni 2003. Hal tersebut menimbulkan
komen tajam dari Presiden Bush kepada pemerintahan Israel:
“I am troubled by the recent Israeli helicopter gunship attacks. I regret the loss of innocent life. I‟m concerned
that the attack will make it more difficult for the Palestinian leadership to fight off terrorist attacks. I also
don‟t believe the attacks help the Israeli security.”144
Israel diminta untuk berhati-hati dalam bertindak. Amerika Serikat menekan Perdana Menteri Mahmud Abbas untuk segera mengatur kendali pasukan
keamanan dan menggunakannya untuk menghentikan aksi “teror”. Melalui
teleponnya dengan Condoleeza Rice, Perdana Menteri Mahmud Abbas memberikan sebuah proposal yang menekankan perlunya IDF untuk menarik diri dari Gaza dan akan digantikannya dengan tentara keamanan Palestina.145 Israel
melalui tekanan Amerika Serikat pun menyetujuinya dengan ditandai penarikan IDF dari Gaza pada 27 Juni 2003.146
Pada akhir Juni 2003, Condoleeza Rice melakukan kunjungan ke Israel. Pesan utama dalam kunjungannya kepada Perdana Menteri Ariel Sharon adalah untuk memberikan Otoritas Palestina kesempatan; Perdana Menteri Ariel Sharon pun menyetujuinya – akan tetapi hanya dalam kurun waktu tertentu. Dalam
143
BBC, “Profile: Hamas Leader Rantissi” (online), BBC, 17 April 2004. Available: http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/2977816.stm (30 April 2014). 144 Bush in Abrams, p. 166 145 Abbas in Abrams, p. 166. 146 Abrams, p. 168.
kunjungannya, Condoleeza Rice juga mengangkat isu tembok pembatas yang dibangun oleh Perdana Menteri Ariel Sharon.147
Rice: “We are very concern about the fence. The plans show it going farther and farther in the West Bank, cutting off Palestinian villages and lands. It would be a real problem and would not help security because it would undercut political progress. It looks like it will be a huge political problem in the United States, and we cannot and will not remain silent if the fence cuts Palestinian lands
and villages”
Sharon: “the only goal is to stop terror. We have to defend ourselves”
Rice: “You need to defend yourselves, but we are all going to try to deal with terrorism another way, to get the Palestinian to be active against terrosism. If the political situation is made more difficult by the route of the fence,
we all lose.”
Sharon: “We hope the United States will understand our
problems and not pressure us not to defend ourselves.”
Setelah kunjungan Condoleeza Rice, pada 25 Juli 2003, Perdana Menteri Mahmud Abbas mengunjungi Washington untuk pertama kalinya sebagai Perdana Menteri Palestina. Melalui kunjungannya Perdana Menteri Mahmud Abbas menyampaikan bahwasanya demi perdamaian dan demi masa depan Palestina dan generasi Israel, ia meminta segala bentuk aktivitas pemukiman untuk dihentikan saat itu juga, tembok pembatas oleh Israel harus dihancurkan, dan tahanan
147
Palestina harus dibebaskan.148 Empat hari setelah kunjungan Perdana Menteri
Mahmud Abbas, Perdana Menteri Ariel Sharon mengunjungi Washington pada 29 Juli 2003. Dalam pertemuan kedua kepala negara, Presiden Bush menekan Israel secara halus melalui pidato dengan menekankan bahwasanya untuk mencapai perdamaian, pemimpin dari semua pihak harus melakukan tanggung jawabnya. Perlu ada progres nyata untuk menuju solusi dua negara. Presiden Bush mendorong Perdana Menteri Ariel Sharon untuk mengambil langkah lebih jauh untuk meningkatkan kondisi yang dihadapi Palestina. Presiden Bush menekankan juga bahwasanya baik Israel dan Palestina, keduanya memiliki hak untuk hidup normal, bebas dari takut, bebas dari benci dan kekerasan, dan bebas dari gangguan.149 Presiden Bush juga mendesak Perdana Menteri Ariel Sharon untuk
secara hati-hati mempertimbangkan semua konsekuensi dari tindakan Israel dalam perjalanan menuju perdamaian.150
148Mahmud Abbas, “President Bush Welcomes Prime Minister Abbas to the White House”, The White House: President George W. Bush, 25 Juli 2003. Available: http://georgewbush-
whitehouse.archives.gov/news/releases/2003/07/20030725-6.html (30 April 2014).
149George W. Bush, “President Discusses Middle East Peace with Prime Minister Sharon”, The White House: President George W. Bush, 29 juli 2003. Available: http://georgewbush-
whitehouse.archives.gov/news/releases/2003/07/20030729-2.html (30 April 2014).
150