• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Orangtua dalam Optimalisasi Perkembangan Anak Usia SD 1. Karakteristik Anak Usia SD

Tahap Perkembangan Anak

A. Peran Orangtua dalam Optimalisasi Perkembangan Anak Usia SD 1. Karakteristik Anak Usia SD

2. Tugas Perkembangan Anak Usia SD B. Penguatan Identitas Diri Anak

1. Pengenalan Sejarah Keluarga 2. Nilai‐nilai Dalam Keluarga 3. Anak dan Lingkungan Masyarakat C. Peran Anak dalam Keluarga

1. Penanaman Tanggung Jawab Anak dalam Keluarga 2. Penanaman Disiplin pada Anak Usia Sekolah Dasar 3. Masa Pubertas yang Sehat Fisik, Mental, dan Spiritual

Ceramah, tanya‐jawab, diskusi kelompok, latihan, roleplay, dan menonton video.

V. METODE PEMBELAJARAN IV. BAHAN BELAJAR

Flip chart, spidol, LCD proyektor, alat peraga.

VI. LANGKAH‐LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN

Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 4 jam pelajaran (T=2jp, P=2jp, PL=0jp) dengan masing‐masing JP sepanjang 45 menit. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan keaktifan peserta, dilakukan langkah‐langkah pembelajaran sebagai berikut:

A. Langkah 1: Pengkondisian (30 menit) 1. Penyegaran dan pencairan suasana.

2. Fasilitator meminta peserta untuk menyampaikan refleksinya atas materi yang telah diberikan sebelumnya.

3. Fasilitator menyampaikan materi yang akan dibahas serta tujuan pembelajaran dan pokok bahasannya.

B. Langkah 2: Penyampaian Pokok Bahasan (135 menit) 1. Fasilitator menyampaikan pokok bahasan:

a. Peran orangtua dalam optimalisasi perkembangan anak usia SD b. Penguatan identitas diri anak

c. Peran anak dalam keluarga

2. Fasilitator memandu diskusi kelompok tentang peranan anak daam keluarga.

3. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal‐hal yang kurang jelas dan membuka diskusi atas masalah‐masalah yang dikemukakan peserta.

C. Langkah 3: Rangkuman (15 menit)

1. Fasilitator meminta komentar, penilaian, saran dan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan.

2. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan bahwa TPU dan TPK sesi telah tercapai.

VII. URAIAN MATERI

A. Peran Orangtua dalam Optimalisasi Perkembangan Anak Usia SD 1. Karakteristik Anak Usia SD

Setelah anak mencapai usia enam tahun atau tujuh tahun, perkembangan jasmani dan rohaninya mulai sempurna. Anak keluar dari lingkungan keluarga dan memasuki lingkungan sekolah. lingkungan sekolah dianggap lingkungan yang membawa pengaruh cukup besar terhadap perkembangan jasmani dan mental anak. Anak akan mengenal lebih banyak teman dalam lingkungan sosial yang lebih luas, sehingga peranan sosial anak semakin berkembang.

Anak ingin mengetahui segala sesuatu di sekitarnya sehingga pengalaman anak semakin bertambah. Pengalaman‐pengalaman baru akan membantu dan mempengaruhi kemampuan berfikir anak.

2. Tugas Perkembangan Anak Usia SD

Anak‐anak yang berumur enam tahun atau tujuh tahun dianggap matang untuk belajar di sekolah dasar, apabila memenuhi persyaratan‐persyaratan. Syarat‐syarat tersebuat antara lain:

a. Kondisi jasmani cukup sehat dan kuat untuk melakukan tugas di sekolah.

b. Ada keinginanbelajar.

c. Fantasi tidak lagi leluasa atau liar.

d. Perkembangan perasaa nsosial yang telah memadai.

Selain itu, masih ada beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi untuk mengikuti pelajaran, yaitu:

a. Fungsi‐fungsi jiwa (daya ingatan, cara berfikir, daya pendengaran) harus sudah berkembang baik karena kematangan fungsi‐fungsi tersebut diperlukan untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.

b. Anak telah memperoleh cukup pengalaman dalam keluarga untuk dipergunakan sebagai dasar bagi pengajaran permulaan karena pengajaran berpangkal pada apa yang diketahui oleh anak‐anak.

Kekurangan dari salah satu syarat tersebut akan menimbulkan beberapa kesukaran dan hambatan pada anak ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Oleh karena itu orangtua diharapkan memperhatikan kondisi (tumbuh kembang) anaknya, apakah sudah siap atau belum dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Kesiapan tersebut dikenal dengan istilah kematangan. Ada tiga kematangan yang harus dimiliki oleh seorang anak antara lain sebagai berikut:

a. Matang untuk mulai belajar menulis, di mana kegiatan menulis adalah cara untuk menyatakan pikiran dan perasaan dengan menggunakan tanda‐tanda tulis. Oleh karena itu, seorang anak memiliki persyaratan berikut:

1) Memiliki perbendaharaan bahasa secukupnya.

2) Perkembangan motorik yang memadai.

b. Matang mulai belajar membaca

Kemampuan membaca dan menulis termasuk keterampilan yang harus dipelajari dengan sengaja. Tidak sama halnya dengan belajar berbicara. Kemampuan mendengarkan dan berbicara termasuk kemampuan yang diperoleh dengan sewajarnya, artinya anak mempelajari fungsi tersebut dengan sendirinya. Anak dikatakan matang untuk mulai belajar membaca jika memiliki persyaratan berikut:

1) Anak mampu menangkap perkataan orang lain.

2) Anak mampu mengungkapkan isi hatinya.

3) Anak menguasai teknik berbicara sekadarnya.

4) Anak mengerti bahwa coret‐coretan dan gambar itu memiliki arti bunyi tertentu.

c. Matang untuk mulai belajar menghitung

Pada umumnya anak yang berumur enam tahun itu belum dapat berhitung dengan konsep abstrak. Oleh karena itu, guru dituntut untuk menyajikan pembelajaran berhitung dengan mempergunakan benda‐benda konkret sebagai contohnya. Kelak konsep berhitung konkrit yang sederhana telah dikuasai dengan baik akan membantu anak nantinya dalam mempelajari konsep berhitung abstrak.

Sejalan dengan itu, orangtua harus memahami tugas perkembangan anaknya pada usia SD.

Tugas perkembangan yang harus ditempuh oleh anak usia SD ialah:

a. Perkembangan Fisik

Perkembangan fisik anak memengaruhi prestasinya di sekolah. Perkembangan fisik terkait dengan kondisi kesehatan, materi, dan ekonomi. Tugas orangtua untuk membantu perkembangan fisik anak antara lain:

1) Membiasakan anak peduli terhadap fisik dan tenaga (makanan, minuman, tidur, dan sebagainya).

2) Mengusahakan makanan yang memiliki nutrisi sempurna dan cukup secara kuantitas.

3) Membiasakan olahraga dan memotivasi anak mengikuti pelatihan pendidikan maupun kegiatan Pramuka.

4) Memberikan pengobatan dan memfasilitasi pendidikan yang sesuai bagi anak dengan cacat fisik.

b. Perkembangan Berpikir/Kognitif

Umumnya, pikiran individu berkembang secara berangsur‐angsur sampai anak mencapai usia delapan tahun sampai dengan 12 tahun, ingatan anak semakin kuat.

Biasanya anak melakukan proses menghapal yang banyak dan mengalami proses belajar yang berkesinambungan. Pada masa belajar ini anak menambah pengetahuannya, kemampuannya, dan mencapai kebiasaan‐kebiasaan yang baik.

Anak tidak lagi bersifat egosentris, artinya anak tidak lagi memandang diri sendiri sebagai pusat perhatian lingkungannya. Anak mulai memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan objektif. Rasa ingin tahu anak yang begitu besar mendorong anak untuk menyelidiki segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Minat anak pada masa ini tertuju pada benda‐benda bergerak. Anak yang sehat secara fisik akan seuka bergerak, selalu giat, dan berbuat sesuatu. Hal‐hal yang mengarah ke suatu aktivitas sangat menarik perhatian anak.

c. Perkembangan Pengamatan

Pada masa anak sekolah, anak‐anak masih kurang memperhatikan bentuk yang digambarnya dan anak‐anak juga belum mengamati sebuah benda dengan detail. Anak masih cenderung melihat sebuah objek atau benda secara keseluruhan. Hal tersebut sesuai dengan konsep gestalt, di mana individu akan melakukan pengamatan terlebih dahulu secara keseluruhan baru kemudian memperhatikan bagian‐bagiannya. Proses pengamatan yang dimulai dari gestalt menuju ke struktur meliputi proses perkembangan yang dimulai dari masa kanak‐kanak sampai dengan masa dewasa.

d. Perkembangan Perasaan/Emosi

Anak‐anak memiliki perasaan yang kuat pengaruhnya dibandingkan dengan perasaan orang dewasa. Akan tetapi pengaruh tersebut lebih rendah dibandingkan perasaan anak kecil. Anak sekolah lekas merasa puas. Tampaknya anak selalu gembira, jarang bahkan tidak pernah menyesali perbuatannya.

e. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial anak usia mulai dari 6 tahun yang memadai ditandai dengan sikap kooperatif yang dimiliki oleh anak terhadap teman sebaya, memiliki sikap toleran,

mengekspresikan emosi dalam berbagai situasi, memahami peraturan dan disiplin, memahami peraturan dan disiplin, mengenal tatakrama dan sopan‐santun sesuai dengan norma yang berlaku ditempat anak berada.

f. Perkembangan Minat

Masa sekolah adalah masa yang sangat baik untuk pembentukan minat. Anak usia sekolah suka dan rela tunduk kepada sosok yang lebih dewasa, kuat, dan tegas. Anak sudah pandai memberik kritikan walaupun bersifat sederhana. Pada dasarnya anak usia sekolah menunjukkan tanda‐tanda bahwa dirinya menaruh perhatian terhadap dunia luar, selalu aktif dalam kegiatan lingkungan, namun suka bertanya‐tanya karena perhatiannya sangat tajam.

B. Penguatan Identitas Diri Anak