a. Modul B2.a Persiapan Kehamilan (Prekonsepsi) b. Modul B2.b Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan c. Modul B2.c Menyambut Kelahiran Anak
d. Modul B2.d Pendidikan Anak Usia Prasekolah e. Modul B2.e Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
f. Modul B2.f Pengembangan Karakter Anak Usia Sekolah Dasar g. Modul B2.g Penguatan Karakter Anak Usia Remaja
h. Modul B2.h Pendampingan Anak Menjelang Dewasa i. Modul B2.i Mempersiapkan Anak Menikah
7 25 41 61 81 93 103 113 121
I. DISKRIPSI SINGKAT
Modul Persiapan Kehamilan ini disusun untuk membekali konselor keluarga agar mampu memahami dan menjelaskan persiapan kehamilan. Bagi para calon ayah dan ibu, salah satu fungsi keluarga adalah reproduksi. Fungsi ini merupakan fungsi yang paling hakiki dalam sebuah keluarga karena dengan pernikahan maka keluarga dapat melanjutkan keturunan dan melahirkan generasi yang berkualitas. Selain itu, memelihara, membesarkan anak, dan merawat keluarga juga termasuk dalam fungsi reproduksi ini. Suami dan istri diharapkan dapat bekerjasama dalam rangka persiapan kehamilan dan menjaga potensi baik yang dimiliki anak‐anak.
Pemahaman utuh terkait persiapan kehamilan serta peran keluarga akan hal ini perlu dipahami dan dikuasai para konselor keluarga yang akan menjadi fasilitator dalam pelatihan dan pembinaan keluarga di masyarakat.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti materi ini, Konselor Keluarga mampu mengajarkan kepada masyarakat bagaimana mempersiapkan kehamilan.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus:
Setelah mengikuti materi ini peserta mampu:
1. Memahami dan menjelaskan pentingnya persiapan kehamilan.
2. Memahami dan menjelaskan pentingnya peran keluarga dalam mempersiapkan kehamilan.
3. Membantu sebuah keluarga membuat rencana kehamilan.
III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN
A. Persiapan Kehamilan (Prakonsepsi) 1. Persiapan fisik.
2. Persiapan mental.
3. Persiapan spiritual.
4. Persiapan ekonomi.
B. Peran Keluarga dalam Mempersiapkan Kehamilan 1. Peran calon ayah dalam mempersiapkan kehamilan.
2. Penyiapan kakak untuk menyambut calon adik.
C. Perencanaan Kehamilan 1. Siklus reproduksi wanita.
2. Proses terjadinya pembuahan.
3. Perencanaan jarak kelahiran.
V. METODE PEMBELAJARAN
Ceramah, tanya‐Jawab, diskusi, dan latihan.
VI. LANGKAH‐LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 4 jam pelajaran (T=2jp, P=2jp, PL=0jp) dengan masing‐masing JP sepanjang 45 menit. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan keaktifan peserta, dilakukan langkah‐langkah pembelajaran sebagai berikut:
A. Langkah 1: Pengkondisian (30 menit)
1. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana di kelas.
2. Fasilitator menyampaikan salam dengan menyapa peserta dengan ramah dan hangat serta memperkenalkan diri.
3. Fasilitator menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang apa yang dimaksud dengan persiapan kehamilan.
4. Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok bahasan.
B. Langkah 2: Penyampaian Pokok Bahasan (135 menit)
1. Fasilitator mengarahkan peserta untuk berdiskusi secara berkelompok mengenai hal‐hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi kehamilan. Kemudian setiap kelompok mempresentasi‐
kan hasil diskusi masing‐masing.
2. Fasilitator menyampaikan pokok bahasan:
a. Persiapan kehamilan.
b. Peran keluarga mempersiapkan kehamilan.
c. Perencanaan kehamilan.
3. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal‐hal yang kurang jelas dan membuka diskusi atas masalah‐masalah yang dikemukakan peserta.
4. Menonton video.
C. Langkah 3: Rangkuman (15 menit)
1. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan atau mendiskusikan beberapa hal yang dianggap belum jelas.
2. Fasilitator memberikan tanggapan balik kepada peserta.
3. Fasilitator meminta komentar, penilaian, saran dan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan.
4. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan bahwa TPU dan TPK sesi telah tercapai.
IV. BAHAN BELAJAR
Video, flip chart, spidol, LCD proyektor, worksheet, kertas plano, dan modul.
VII. URAIAN MATERI
A. Persiapan Kehamilan (Prakonsepsi) 1. Persiapan calon ayah dan ibu
Adalah hal yang sangat penting dalam mempersiapkan kehamilan bagi calon ayah juga ibu.
Tujuannya agar kelak pada saat Tuhan YME memberi amanah berupa anak kepada kita, kita bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin, ibu tetap sehat hingga proses persalinan berlangsung.
Beberapa aspek yang perlu disiapkan oleh calon ayah dan ibu adalah sebagai berikut:
a. Persiapan Fisik
Persiapan bagi calon ibu:
1) Menjaga pola makan yang sehat
Persiapan nutrisi menjelang kehamilan merupakan salah satu hal yang tidak boleh terlewatkan. Sebaiknya calon ibu membiasakan untuk senantiasa menjaga pola makan yang sehat dengan asupan makanan yang mengandung gizi seimbang. Bagi calon ibu yang sedang mempersiapkan kehamilan disarankan untuk mengkonsumsi makanan seperti sayuran hijau, buah‐buahan segar, kacang‐kacangan, minyak zaitun, sereal serta tingkatkan asupan kalsium, asam folat, vitamin B, C, D dan E.
2) Hindari makan makanan yang mentah dan kurang matang seperti daging, telur, dan makanan yang menggunakan bahan telur mentah. Potensi penyakit yang mengancam antara lain toxoplasmosis (TORCH) dan salmonella.
3) Hindari konsumsi kafein, minuman beralkohol dan rokok
Hal tersebut dapat menurunkan kesuburan dan berisiko terhadap kehamilan.
4) Memperhatikan berat badan
Sebaiknya memperhatikan berat badan ideal, artinya proporsional. Pasalnya, kondisi seperti ini menjadi salah satu hal yang menyebabkan wanita sulit hamil. Selain itu, ketika merencanakan kehamilan, disarankan untuk menghindari mengurangi/
membatasi makan misalnya karena ingin mempertahankan tubuh agar tetap langsing, padahal dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral yang sudah pasti akan sangat dibutuhkan ibu dan janin.
5) Pemeriksaan kehamilan secara teratur
Memasuki usia kehamilan pertama sebaiknya calon ibu melakukan pemeriksaan secara teratur. Pemeriksaan kehamilan salah satu bagian dari Antenatal Care (ANC) yang akan mencegah masalah yang terjadi selama kehamilan dan menurunkan resiko kematian pada ibu hamil. Dalam melakukan pemeriksaan kehamilan akan berbeda beda sesuai dengan usia kehamilan. Semakin tua usia kehamilan anda maka semakin sering anda harus melakukan pemeriksaan kehamilan.
b. Persiapan bagi calon ayah:
1) Temui dokter
Para calon ayahpun perlu menjalani pemeriksaan kesehatan sebab bagaimanapun, upaya untuk memiliki bayi yang sehat memerlukan partisipasi dua tubuh yang sehat.
Pemeriksaan fisik menyeluruh dapat mendeteksi gangguan kesehatan (seperti buah zakar yang tidak berada di tempat semestinya serta kista atau tumor pada buah zakar) yang dapat mengganggu upaya istri untuk hamil atau menganggu kesehatan janin yang akan dikandungnya kelak. Bila perlu lakukan pemeriksaan genetis. Jika istri perlu menjalani pemeriksaan genetis, mungkin calon Ayah juga perlu menjalani pemeriksaan genetis, mungkin juga perlu menjalaninya terutama jika dalam keluarga memiliki riwayat penyakit menurun atau persoalan genetis lainnya.
2) Memperbaiki pola makan
Semakin baik gizi calon Ayah, semakin sehat sel sperma, dan semakin tinggi pula kemungkinan istri untuk hamil. Pola makan yang seimbang dan sehat meliputi banyak buah‐buahan dan sayur‐sayuran segar, biji‐bijian utuh, dan protein tanpa lemak. Penuhi asupan zat gizi yang paling penting dalam meningkatkan kesuburan dan kesehatan sel sperma (khususnya vitamin C, vitamin E, vitamin D, seng dan kalsium) beserta suplemen vitamin dan mineral. Suplemen tersebut sebaiknya mengandung asam folat karena rendahnya asupan asam folat calon ayah terbukti dapat menurunkan kesuburan dan meningkatkan risiko cacat lahir.
3) Perhatikan gaya hidup calon ayah
Penelitian mulai menunjukkan bahwa penggunaan obat‐obatan‐termasuk alkohol dalam jumlah besar oleh pria dapat mencegah kehamilan atau mengakibatkan kondisi kehamilan yang buruk. Mekanismenya masih belum jelas, tetapi konsumsi obat‐obatan dan alkohol dalam jumlah besar tampaknya dapat merusak sel sperma dan menurunkan jumlahnya, serta mengubah fungsi buah zakar/testis dan menurunkan kadar testosteron (bukan hal baik ketika Anda tengah mengupayakan kehamilan). Jika sulit berhenti, carilah pertolongan sekarang.
4) Kendalikan berat badan
Indeks massa tubuh (IMT) adalah salah satu tolok ukur untuk menentukan tingkat kegemukan berdasarkan berat dan tinggi badan seseorang. Pria dengan IMT yang sangat tinggi cenderung kurang subur daripada pria dengan berat badan normal.
Menurut hasil penelitian, peningkatan berat badan sebanyak 9 kilogram dapat meningkatkan peluang ketidaksuburan 10%. Maka kendalikanlah berat badan calon ayah.
5) Berhenti merokok
Wajib dan mutlak. Merokok menurunkan jumlah sel sperma dan membuat kehamilan lebih sulit terjadi. Selain itu, dengan berhenti merokok, akan memperbaiki kesehatan orang‐orang serumah, karena perokok pasif terancam bahaya yang hampir sama dengan perokok aktif. Merokok juga dapat meningkatkan risiko kematian bayi akibat sindrom kematian bayi mendadak (Sudden Infant Death Syndrome/SIDS).
6) Menghindari bahan‐bahan beracun
Timbal dan beberapa pelarut organik (seperti pelarut yang terdapat dalam cat, lem, pernis, dan penghilang oli) dapat mengganggu kesuburan pria. Hindarilah sedapat mungkin, setidaknya hingga istri hamil.
7) Mempertahankan kesejukan
Produksi sel sperma akan terganggu jika buah zakar terlalu panas. Faktanya, buah zakar baru dapat berfungsi dengan baik jika suhunya beberapa derajat lebih dingin daripada bagian tubuh yang lain. Oleh karena itulah posisinya tergantung, sehingga lebih jauh dari tubuh. Maka, jangan berendam di dalam air panas, pergi ke sauna, menggunakan selimut listrik, dan memakai celana yang terlalu ketat.
8) Memilih olahraga yang aman
Jika Anda melakukan olahraga keras (antara lain sepakbola, bisbol atau menunggang kuda), kenakan alat pelindung untuk mencegah cedera pada organ kelamin. Terlalu banyak bersepeda pun dapat menimbulkan masalah sebab menurut beberapa orang ahli, tekanan sadel sepeda pada organ kelamin secara terus‐menerus dapat merusak pembuluh nadi dan saraf pada bagian tersebut.
b. Persiapan Mental
Untuk menghadapi kehamilan yang tidak sebentar lamanya dan dalam perjalanannya nanti akan banyak hal yang baru, maka seorang calon ibu perlu persipan mental yang baik dengan memperbanyak wawasan mengenai kehamilan. Dengan itu diharapkan para calon ibu lebih siap lahir dan batin untuk menjalani perjuangan selama 9 bulan ke depan. Ia tidak akan lagi merasa khawatir ataupun panik ketika pada trimeter pertama banyak merasakan mual dan muntah karena sudah mengetahui ilmu bagaimana mengatasinya. Justru dengan merasakan hal itu seorang calon ibu akan bersyukur dengan segala keluhan dan hal baru yang dihadapinya terkait kehamilan tersebut. Seorang calon ibu yang sedang hamil adalah pejuang tangguh, berjuang melewati masa‐masa yang berbeda.
c. Persiapan Spiritual
Kita sebagai umat yang beragama mengetahui bahwa anugerah seorang anak adalah hak mutlak Yang Mahaesa. Sebagai manusia kita hanya wajib berikhtiar dan berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada‐Nya. Caranya adalah dengan senantiasa melaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diperintahkan‐Nya dan juga berdoa supaya diberikan keturuanan. Selain dengan cara itu, mempercepat terkabulya doa bisa juga dengan bersedekah. Inilah upaya spiritual yang harus dilakukan oleh calon ayah maupun calon ibu.
d. Persiapan Ekonomi
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kesiapan ekonomi harus dimiliki oleh keluarga yang akan merencanakan untuk memiliki anak. kehamilan akan merubah alokasi anggaran dana di setiap bulannya bagi calon ayah dan ibu. Pasti akan ada kebutuhan baru bagi ibu hamil seperti cek kesehatan bulanan, pembelian nutrisi, kebutuhan baju ibu hamil dsb. Dan kelak kebutuhan akan bertambah lagi ketika pendekati persalinan seperti harus mempersiapkan biaya persalinan, baju‐baju calon bayi, dsb. Kemudian bagi yang beragama Islam perlu juga mempersiapkan untuk aqiqah. Namun tentu semua kebutuhan dipenuhi atas kemampuan yang ada, tidak dengan memaksakan diri namun proporsional.
B. Peran Keluarga dalam Mempersiapkan Kehamilan 1. Peran calon ayah dalam mempersiapkan kehamilan
Penelitian telah membuktikan bahwa hubungan baik antara ayah dan bayi sangat berkaitan dengan perkembangan kemampuan sosial anak. Terdapat banyak pendidikan pra lahir yang dapat dilakukan dengan mudah oleh ayah, dan sang bayi akan lebih menanggapi nada dalam suara ayah. Oleh karena itu sangat disarankan keikutsertaan ayah dalam mempersiapkan kehamilan dan pendidikan pra lahir sang anak.
Peran calon ayah lainnya adalah membimbing, membantu sang istri memenuhi segala persiapan yang dibutuhkan. Baik dalam aspek kesehatan, spritual, finansial, serta mental.
2. Penyiapan kakak untuk menyambut calon adik
Kakak adalah anak yang lebih dulu dilahirkan oleh ibu. Ia adalah anak pertama yang lebih dahulu mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari orangtuanya. Untuk mempersiapkan anak pertama menjadi kakak diperlukan adanya pembagian peran antara ayah dan ibu. Sebab umumnya ketika anak pertama belum siap untuk bermain sendiri, ia akan mengalami kecemburuan pada adik baru. Yakni di mana ibu harus membagi kasih sayangnya dengan si adik, dan sang kakak merasa sudah tidak mendapatkan perhatian sebagaimana pada saat sebelum hadirnya adik baru. Pada akhirnya sang kakak melampiaskan rasa cemburunya dengan
merengek, manja, menangis, mencari perhatian sang ibu, berlaku menjadi anak kecil sebagaimana adiknya yang baru seolah‐olah dengan seperti itu ia akan mendapatkan kembali perhatian ibunya. Hal ini akan menjadi masalah jika tidak ada pembagian peran antara ayah dan ibu. Bahkan pernah terjadi kasus di daerah Jawa Timur seorang kakak menyayat tangan si adik dengan silet oleh sebab timbul tingginya kecemburuan. Tidak ada satupun orangtua yang menginginkan hal ini terjadi. Maka dirasa penting dalam menyiapkan kakak menyambut calon adik.
Upaya lain dalam menyiapkan kakak menyambut calon adik adalah dengan melibatkannya di pendidikan pralahir. Misalnya ketika ibu dan ayah mengenalkan suara mereka pada bayi.
Kakak bisa diajak untuk menyapa sang adik pada masa prakonsepsinya. Dengan seperti ini kakak akan merasa penting dan tidak diabaikan. Kakak akan merasa yakin bahwa posisinya di dalam keluarga adalah aman meski waktu yang diberikan oleh ayah dan ibunya kelak akan berkurang.
Upaya‐upaya tersebut tentu tidak spontan dalam pelaksanaanya, namun membutuhkan perencanaan dan persiapan dari kedua pihak ayah dan ibu, seperti apa konsep pembagian peran antara keduanya serta di bagian mana, kapan dan seperti apa kakak kelak akan dilibatkan dalam pendidikan prakonsepsi sang adik. Sehingga dalam pelaksanaan kelak tidak ada kegagapan atau ketidakselaasan antara apa yang diinginkan ayah juga ibu.
C. Perencanaan Kehamilan 1. Siklus reproduksi wanita
Salah satu hal penting untuk dapat memahami dengan baik mengenai sistem reproduksi adalah dengan mengetahui dengan benar anatomi dan fungsi organ reproduksi yang kita miliki.
Dengan memahami anatomi dan fungsi organ reproduksi yang kita miliki, maka kita akan dapat merawat dan menjaganya dengan cara yang benar.
Mengenal ovarium
Organ reproduksi utama pada perempuan adalah ovarium. Ovarium sering disebut sebagai indung telur. Perempuan memiliki sepasang ovarium yang terletak di dalam rongga panggul kanan dan kiri. Ovarium bertugas memproduksi sel‐sel telur selama masa reproduksi perempuan dan melepaskan hormon‐hormon yang berkaitan dengan fungsi sistem reproduksi.
Setiap bulan sekali, ovarium kanan dan kiri akan melepaskan satu sel telur secara bergantian.
Hormon‐hormon dari ovarium ini juga mempengaruhi perkembangan tanda‐tanda kelamin sekunder, seperti penumpukan lemak pada payudara, panggul, dan pantat perempuan. Akibat pengaruh hormon tersebut, setelah memasuki masa pubertas seorang perempuan akan mengalami perubahan pada bagian tertentu tubuhnya. Perubahan itu antara lain adalah:
payudara yang mulai tumbuh dan membesar, panggul yang mulai membentuk lekukan khas pada perempuan, dan pantat yang lebih berisi.
a. Sel telur (Oocytes) dan perkembangannya (Oogenesis)
Sel‐sel telur yang diproduksi oleh ovarium disebut juga sebagai oocytes. Sel telur yang dilepaskan dari ovarium akan bergerak melewati saluran telur (disebut juga tuba fallopii, tuba uterina, atau oviduct). Proses pembuahan oleh sperma biasanya terjadi ketika sel telur ini berada di bagian ampula (bagian yang paling luas) saluran telur. Setelah itu, sel telur akan menyusuri saluran telur dan menuju ke rahim (uterus). Apabila sel telur tersebut dibuahi, maka hasil pembuahan akan berkembang di dalam rahim. Akan tetapi, apabila pembuahan tidak terjadi maka sel telur akan ikut keluar dan meluruh pada saat menstruasi.
Sel telur mengalami perkembangan di dalam ovarium. Proses pembentukan dan perkembangan perkembangan sel telur disebut sebagai oogenesis. Oogenesis telah
berlangsung jauh sebelum bayi perempuan dilahirkan. Pada saat dilahirkan, seorang bayi perempuan telah memiliki sekitar 200.000‐2.000.000 oocytes primer pada masing‐masing ovarium. Akan tetapi, hanya sekitar 40.000 oocytes saja yang tetap bertahan hingga masa pubertas. Dari 40.000 oocytes, hanya sekitar 400 oocytes yang telah berkembang menjadi folikel primordial. Folikel primordial akan mengalami pematangan lebih lanjut dan dilepaskan satu per satu tiap bulannya dari ovarium sepanjang masa reproduktif perempuan. Sisa oocytes di luar itu akan mengalami penghancuran diri secara alamiah.
Hal tersebut berarti bahwa, seorang perempuan kira‐kira akan mengalami masa reproduktif sepanjang 400 bulan atau sekitar 35 tahun. Apabila menstruasi pertama terjadi pada usia 12 tahun, maka seorang perempuan akan mengalami menopause sekitar usia 47 tahun. Menopause adalah terhentinya menstruasi karena ovarium tinggal memiliki sedikit sel telur dan tidak lagi sensitif terhadap pengaruh hormon reproduksi. Selama kurun waktu sekitar 35 tahun tersebut, seorang perempuan memungkinkan untuk hamil atau bereproduksi.
b. Oocytes primer
Oocytes primer diselubungi oleh selapis sel, yaitu sel folikuler. Keseluruhan struktur oocytes primer beserta sel‐sel folikuler yang menyelubunginya disebut sebagai folikel primordial. Bagian cortex ovarium di sekitar folikel primordial akan membentuk sel‐sel stromal. Setelah memasuki pubertas, folikel primordial berkembang menjadi folikel primer.
Setiap folikel primer terdiri atas oocyte primer yang diselubungi oleh sel‐sel granulosa.
Folikel primer terus mengalami perkembangan dan pematangan menjadi folikel sekunder.
Folikel sekunder akan terus membesar dan berkembang membentuk folikel de‐Graaf.
Folikel de‐Graaf kemudian segera hancur dan mengalami ovulasi (pelepasan sel telur menuju ke saluran telur) dengan melepaskan sel telur (oocyte) di dalamnya. Sisa folikel de‐
Graaf yang telah ruptur itu membentuk corpus luteum. Corpus luteum inilah yang akan menghasilkan estrogen dan progesteron. Estrogen dan progesteron diperlukan untuk mempersiapkan endometrium sebagai tempat berkembang bagi sel telur yang telah dibuahi. Apabila pembuahan tidak terjadi, corpus luteum akhirnya akan berubah menjadi corpus albicans hingga akhirnya terdegradasi atau hancur dengan sendirinya.
c. Saluran Telur (Tuba Fallopii)
Saluran telur atau tuba fallopii (biasa juga disebut sebagai oviduct atau tube uterina) adalah saluran di sebelah kanan dan kiri rahim (uterus). Saluran ini akan dilalui sel telur dari ovarium (lebih tepatnya, dari folikel de Graaf di ovarium) menuju rahim atau uterus. Ujung saluran telur membentuk fimbriae yang berbentuk seperti jari‐jari atau umbai. Fimbriae bertugas untuk menangkap sel telur yang dilepaskan dari ovarium. Pertemuan sperma dengan sel telur pada pembuahan biasanya terjadi pada bagian ampula tuba. Ampula tuba merupakan bagian yang paling luas dari tuba fallopii atau saluran telur.
d. Uterus, tempat yang kokoh dengan 3 lapis kegelapan
Uterus atau rahim merupakan ruangan tempat tumbuh dan berkembangnya janin hasil pembuahan. Dinding uterus tersusun atas 3 lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan paling luar yang berhubungan dengan rongga perut, disebut sebagai parametrium. Lapisan kedua adalah lapisan tebal otot polos, disebut sebagai miometrium. Miometrium inilah yang berkontraksi untuk membantu mendorong keluarnya bayi dari rahim ibu pada proses persalinan. Lapisan ketiga adalah lapisan tipis otot polos, disebut sebagai endometrium.
Endometrium merupakan tempat menempelnya sel telur yang telah dibuahi. Pada
endometrium terdapat sel‐sel epitel, jaringan pengikat, kelenjar‐kelenjar, dan banyak pembuluh darah yang penting dalam menjaga kesejahteraan janin apabila terjadi kehamilan.
e. Cervix uteri
Bagian paling bawah dari uterus adalah cervix. Cervix dikenal juga sebagai leher rahim.
Pada saat persalinan, cervix akan membuka dan memberikan jalan bagi bayi sehingga dapat keluar dari rahim. Bagian di bawah serviks berbatasan dengan vagina.
f. Vagina
Vagina berperan penting sebagai jalan lahir bagi bayi, jalan keluarnya menstruasi, dan juga berfungsi menerima sperma dari penis pada saat terjadi hubungan seksual. Vagina berbentuk sebuah saluran yang melipat‐lipat berbentuk silinder dan bersifat elastis. Sel‐sel di dinding vagina akan mengeluarkan lendir pelumas saat terdapat rangsangan erotis seksual. Lendir tersebut dikeluarkan di bawah pengaruh hormon esterogen. Oleh karena itu, pada perempuan yang mengalami menopause, di mana kadar hormon esterogen telah menurun drastis, proses pelumasan tersebut menjadi lebih sedikit atau memerlukan waktu lebih lama. Perlu foreplay yang cukup agar proses lubrikasi oleh sel‐sel di dinding vagina tersebut menjadi optimal.
Selaput lendir vagina banyak mengandung glikogen. Dekomposisi dari glikogen akan menghasilkan asam. Suasana asam inilah yang akan menghasilkan pH (kadar keasaman) yang rendah dan bersifat asam dari vagina. Suasana asam di dalam vagina berguna untuk memberikan tempat hidup bagi bakteri yang menguntungkan (flora normal) bagi organ reproduksi. Keberadaan flora normal akan menghambat perkembangan bakteri yang merugikan bagi saluran reproduksi. Dengan demikian, bakteri yang merugikan dan menyebabkan gangguan tidak dapat menempati saluran reproduksi karena diserang oleh flora normal maupun karena suasana asam itu sendiri.
g. Hymen “selaput perawan”
Bagian paling bawah atau paling luar vagina ditutup oleh selaput bernama hymen.
Hymen sering diistilahkan sebagai selaput dara atau selaput keperawanan. Hymen biasanya akan ruptur pada saat melakukan hubungan seksual pertama kali. Meskipun demikian, karena sifat elastisitasnya berbeda‐beda, ada juga hymen yang tidak rusak atau robek pada saat melakukan hubungan seksual pertama kali.
Orang‐orang sering menandai keperawanan seorang perempuan dengan adanya darah yang keluar pertama kali ketika melakukan hubungan seksual. Padahal, jumlah pembuluh darah hymen pada sebenarnya bervariasi pada setiap perempuan. Apabila pembuluh darahnya hanya sedikit, maka belum tentu menampakkan darah pada saat hubungan seksual pertama kali. Pengetahuan ini penting untuk kita ketahui karena seringkali banyak orang terjebak pada 'mitos keperawanan' yang (karena sedikitnya pengetahuan), pihak perempuan ditempatkan sebagai pihak yang disudutkan. Beberapa perempuan dianggap suami mereka tidak lagi perawan karena tidak ada darah keluar pada malam pertama.
Padahal, masalahnya terletak pada variasi hymen atau hymen tidak rusak saat itu. Bisa juga karena aktivitas tertentu yang dilakukan remaja putri, seperti terjatuh, sehingga hymen robek sejak sebelum menikah.
Jadi, pada kasus yang jarang, hymen juga dapat rusak atau robek karena kecelakaan atau olah raga yang berat (berkuda, jatuh dari sepeda, dan sebagainya). Olah raga berat maupun kecelakaan dapat menyebabkan robeknya hymen apabila menimbulkan luka penetrasi ke dalam hymen.
Meskipun hymen menutup vagina, akan tetapi tidak seluruh lubang vagina tertutupi oleh hymen tersebut. Artinya, ada bagian hymen yang terbuka atau berlubang. Jenis lubang ini dibagi menjadi bermacam‐macam. Ada anular hymen (selaput yang melingkari lubang vagina, paling sering ditemukan), separated hymen (selaput yang memiliki beberapa lubang terbuka), cribiform hymen (selaput yang memiliki beberapa lubang terbuka dengan ukuran lubang yang lebih kecil dan jumlahnya lebih banyak, seperti saringan), atau microperforated hymen (selaput yang hanya memiliki satu lubang kecil). Bagian atau lubang ini justru berguna untuk keluarnya menstruasi.
Letak lubangnya juga bervariasi, dapat di tengah, di pinggir, atau berlubang‐lubang seperti saringan. Hymen yang tertutup sama sekali disebut sebagai hymen imperforata (imperforated hymen). Pada kasus hymen imperforata, darah menstruasi tidak dapat keluar dan menimbulkan masalah. Tindakan pembedahan mungkin diperlukan pada kasus tersebut.
Ovarium, tuba fallopii, uterus, cervix, dan vagina termasuk organ reproduksi yang berada di dalam tubuh. Keberadaannya tidak dapat kita amati secara langsung. Meskipun demikian, kita harus mengenalinya dengan baik agar mengerti kegunaannya. Dengan mengenali sifat‐sifatnya, kita akan dapat menjaga dan merawatnya dengan tepat.
h. Vulva
Organ reproduksi perempuan bagian luar dikenal sebagai kemaluan. Kemaluan perempuan disebut sebagai vulva dalam bahasa Latin dan istilah kedokteran. Vulva tersusun atas labia mayora, labia minora, dan clitoris.
i. Labia Mayora
Labia mayora (labia = bibir, mayora = besar, lebih besar) merupakan sepasang bantalan lemak yang membentuk lipatan kulit dan merupakan bagian paling luar yang paling nampak pada kemaluan. Selain lemak, labia mayora juga kaya akan kelenjar minyak dan kelenjar keringat. Pada masa pubertas, labia mayora akan ditumbuhi rambut kemaluan.
j. Labia Minora
Labia mayora menutupi lipatan yang lebih kecil di dalamnya, disebut sebagai labia minora (labia = bibir, minora = kecil, lebih kecil). Tidak seperti labia mayora, labia minora tidak ditumbuhi rambut kemaluan, tidak memiliki lemak, dan hanya sedikit mengandung kelenjar keringat. Akan tetapi, labia minora mengandung banyak kelenjar minyak.
k. Clitoris yang sensitif
Clitoris terletak di sebelah dalam dari vulva tertutupi oleh bagian dari labia minora.
Clitoris adalah organ kecil yang banyak mengandung serabut saraf dan pembuluh darah.
Banyaknya serabut saraf dan pembuluh darah menyebabkan clitoris menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan, terutama rangsangan seksual.
l. Lubang saluran kemih
Lubang saluran kemih perempuan terletak di antara lubang vagina dan clitoris. Berbeda dengan lubang saluran kemih pada laki‐laki, saluran kemih (uretra) pada perempuan hanya dilewati oleh air seni dan tidak sekaligus menjadi saluran reproduksi. Sementara itu, pada laki‐laki saluran kemih menjadi saluran pengeluaran air seni maupun sperma.
2. Proses terjadinya pembuahan
Tahapan‐tahapan dalam kehidupan reproduksi biologis perempuan Bayi Perempuan
Kita telah mempelajari pada saat membahas organ‐organ reproduksi, bahwa pembentukan organ‐organ reproduksi telah dimulai sejak dalam kandungan ibu. Bahkan oogenesis (proses
pembentukan dan pematangan sel telur) telah berlangsung sejak dalam kandungan. Pada saat dilahirkan, seorang bayi perempuan telah memiliki sekitar 200.000‐2.000.000 oocytes primer pada masing‐masing ovarium. Jumlah tersebut tidak akan bertambah lagi setelah lahir. Saluran telur (tuba fallopii), uterus, vagina, dan organ genital bagian luar (kemaluan, organ genitalia eksterna) sudah terbentuk.
Pada minggu‐minggu pertama kehidupan di luar kandungan ibu, bayi masih mendapatkan pengaruh estrogen yang diperoleh dari ibu semasa berada berada dalam kandungan dulu.
Estrogen ibu memasuki tubuh bayi melalui plasenta dan masih akan ada di tubuh bayi setelah dilahirkan. Oleh karena pengaruh estrogen itu, uterus bayi yang baru lahir justru relatif lebih besar dibandingkan uterus anak kecil. Selain itu, secara kasat mata kita sering menjumpai payudara yang seperti membengkak pada bayi perempuan maupun laki‐laki. Bahkan sekitar 10‐
15% bayi perempuan dapat mengalami keluarnya darah dari kemaluannya. Hal tersebut tidak perlu dirisaukan. Semuanya akibat pengaruh hormon estrogen yang dibawa dari tubuh ibu.
Lambat laun ketika kadar hormon estrogen menurun, hal‐hal tersebut tidak akan ditemui lagi.
Masa Kanak‐Kanak atau Juvenile
Selama 10 tahun pertama kehidupan, seorang perempuan masuk dalam masa juvenile atau kanak‐kanak. Yang khas pada masa kanak‐kanak adalah bahwa pada masa ini pengaruh hormon‐hormon reproduksi dan respons terhadap hormon‐hormon reproduksi masih sangat minimal. Apabila dilakukan pengukuran, akan terlihat bahwa kadar hormon estrogen dan hormon‐hormon lain yang berpengaruh terhadap alat kalamin berada dalam kadar yang rendah. Oleh karena itu, alat‐alat genital (alat kelamin) dan tanda‐tanda kelamin sekunder tidak menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang berarti hingga masa pubertas nantinya.
Pada masa ini, pengaruh hormon dari hypophysis lebih dominan ke pertumbuhan badan.
Meskipun demikian, perbedaan antara anak laki‐laki dan perempuan sudah mulai nampak.
Kemungkinan hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan pendidikan.
Masa Pubertas
Setelah melewati masa kanak‐kanak, seorang perempuan akan masuk dalam masa pubertas. Masa pubertas adalah masa peralihan antara masa kanak‐kanak menuju masa dewasa. Pada saat pubertas, dari sekitar 200.000‐2.000.000 oocytes primer pada masing‐
masing ovarium hanya sekitar 40.000 oocytes saja yang tetap bertahan.
Pada masa ini, mulai muncul sinyal dari hormon yang berasal dari hypothalamus dan hypophysis yang akan diterima oleh folikel‐folikel di ovarium. Dengan adanya sinyal ini, aktivitas sistem reproduksi dimulai.
Masa Reproduksi
Masa reproduksi dapat dikatakan sebagai masa yang paling penting dalam kehidupan perempuan. Masa reproduksi dimulai sejak berakhirnya masa pubertas, yaitu sekitar 2 tahun setelah menarche. Pada masa ini, organ dan fungsi reproduksi seorang perempuan telah mencapai kematangan dan kesiapan.
Dari sekitar 40.000 oocytes, hanya sekitar 400 oocytes yang akan mengalami pematangan dan dilepaskan satu per satu tiap bulannya dari ovarium sepanjang masa reproduktif perempuan. Sisa oocytes di luar jumlah 400 itu akan mengalami penghancuran diri secara alamiah.
Itu artinya, seorang perempuan kira‐kira akan mengalami masa reproduktif sepanjang 400 bulan atau sekitar 33‐35 tahun. Apabila menstruasi pertama terjadi pada usia 12 tahun, maka seorang perempuan akan mengalami menopause (terhentinya haid karena ovarium tidak lagi melepaskan sel telur dan tidak lagi sensitif terhadap hormon gonadotropin) sekitar usia 47
tahun. Selama kurun waktu tersebut, seorang perempuan memungkinkan untuk hamil atau bereproduksi.
Masa Menopause dan Klimakterium
Menopause adalah menstruasi terakhir atau saat terjadinya menstruasi terakhir kali.
Diagnosis menopause ditegakkan setelah seorang perempuan mengalami amenorea sekurang‐
kurangnya 1 tahun. Klimakterium berarti masa peralihan. Masa klimakterium ini berlangsung beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Lebih tepatnya lagi sekitar 6‐7 tahun sebelum (pre‐menopause) dan sesudah menopause (post‐menopause).
Berhentinya menstruasi dapat didahului oleh siklus menstruasi yang lebih panjang dari biasanya disertai berkurangnya jumlah cairan menstruasi. Usia saat menopause juga dipengaruhi oleh genetis, kualitas kesehatan, dan pola hidup seseorang. Usia menopause juga berhubungan dengan usia menarche. Semakin awal usia menarche seorang perempuan, maka semakin lambat terjadinya menopause. Sebaliknya, semakin lambat usia menarche, semakin cepat terjadinya menopause.
Secara hormonal, klimakterium ditandai dengan mulai menurunnya kadar hormon estrogen dan meningkatnya kadar hormon gonadotropin. Kita ingat bahwa masa pubertas disebabkan mulai diproduksinya hormon gonadotropin dari hypophysis dan direspons oleh folikel ovarium. Sebaliknya, masa klimakterium adalah masa di mana ovarium tidak lagi berespons (tidak lagi sensitif) terhadap rangsang hormon gonadotropin. Masa klimakterium biasanya diikuti dengan berbagai gejala klinis.
Menurunnya kadar dan produksi estrogen kadang menimbulkan keluhan ringan hingga berat pada perempuan yang mengalaminya. Keluhan‐keluhan itu antara lain: fluktuasi mood (perasaan), susah tidur (insomnia), dan hot flushes (perasaan panas yang tidak nyaman dan berlebihnya produksi keringat). Perubahan fisiologis lain yang dialami perempuan menopause antara lain adalah menipisnya dinding vagina dan hilangnya lubrikasi alami (lendir pada saluran reproduksi). Hal tersebut mempengaruhi kondisi hubungan seksual seseorang. Pada saat siklus menstruasi berhenti atau menopause, seorang perempuan menjadi tidak subur atau memasuki fase infertil.
Masa Senium
Masa senium adalah masa setelah klimakterium atau masa setelah post‐menopause. Masa senium merupakan masa ketika telah tercapai keseimbangan baru (khususnya keseimbangan hormonal) dalam kehidupan perempuan sehingga tidak ada lagi gangguan atau keluhan fisik maupun psikis seperti yang dialami sebelumnya pada masa klimakterium. Yang dominan pada masa senium ini adalah kemunduran organ‐organ tubuh serta kemampuan fisik seorang perempuan. Semuanya diketahui sebagai proses menjadi tua. Pada masa senium sering sekali ditemui kasus osteoporosis atau pengeroposan tulang. Kasus osteoporosis kemungkinan dipengaruhi oleh semakin menurunnya kadar hormon estrogen. Kita telah mengetahui bahwa hormon estrogen juga berperan untuk membentuk tulang yang kuat.
Pada fase reproduksi, setiap bulan sekali, ternyata ada proses penting yang dialami oleh perempuan. Ya, setiap bulannya organ reproduksi perempuan menjalani siklus rutin yang sangat kompleks. Dari proses yang rumit itu, mungkin perempuan baru akan menyadarinya setelah keluar darah dari kemaluan yang dikenal sebagai menstruasi.
Menstruasi memiliki banyak istilah. Ada yang menyebutnya sebagai haid, mens, datang bulan, bulanan, berhalangan, tanggal merah, palang merah, sedang ada tamu, atau mengistilahkannya sebagai 'sedang M' (mungkin kependekan dari menstruasi). Tiap‐tiap kelompok dan masing‐masing lingkungan memiliki istilah tertentu untuk mengistilahkan kata menstruasi.
Perempuan setelah fase pubertas akan mengalami siklus menstruasi. Menstruasi umumnya mulai terjadi pada usia 8‐13 tahun. Menstruasi yang pertama dialami oleh seorang perempuan disebut sebagai menarche. Menarche termasuk dalam tanda pubertas seorang perempuan.
Menstruasi sendiri sebenarnya adalah peristiwa luruhnya lapisan dinding rahim (endometrium) yang telah menebal sebelumnya dan banyak mengandung pembuluh darah.
Penebalan endometrium ini terbentuk sebagai persiapan untuk tumbuh dan berkembangnya sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma. Apabila sel telur tidak dibuahi, lapisan yang menebal ini akan meluruh. Siklus ini akan senantiasa berulang tiap‐tiap bulannya dan dikenal sebagai siklus menstruasi.
Siklus menstruasi adalah jarak antara hari pertama menstruasi ke hari pertama menstruasi berikutnya. Satu siklus menstruasi umumnya berlangsung sekitar 28 hari meskipun dapat bervariasi dari bulan ke bulan. Variasi lamanya satu siklus juga dapat terjadi pada satu perempuan dengan perempuan yang lain. Satu perempuan mungkin berlangsung selama 28 hari sedangkan perempuan yang lain membutuhkan 35 hari untuk menyelesaikan satu siklus menstruasi. Normalnya, satu siklus menstruasi berkisar antara 24 hari sampai 35 hari. Siklus menstruasi dapat dipengaruhi oleh kondisi tertentu, seperti: stres, penyakit, obat‐obatan, aktivitas, dan olah raga dengan intensitas tertentu.
Selama siklus menstruasi, satu sel telur (oocyte primer) yang telah sempurna mengalami pematangan hingga membentuk folikel de‐Graaf siap untuk dilepaskan dari ovarium melalui proses ovulasi. Sementara itu, hormon‐hormon ovarium juga akan bekerja mempersiapkan endometrium untuk menerima dan memberikan tempat hidup yang sesuai bagi embrio apabila pembuahan terjadi. Dinding endometrium menjadi lebih menebal dan berisi banyak pembuluh darah. Apabila sel telur tidak dibuahi, dinding endometrium yang menebal tersebut akan meluruh sebagai darah menstruasi. Hari pertama peluruhan darah menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama siklus menstruasi.
Siklus menstruasi terdiri atas empat fase, yaitu: fase menstrual, fase pre‐ovulasi, fase ovulasi, dan fase post‐ovulasi. Ovarium dan uterus mengalami berbagai perubahan pada masing‐masing fase tersebut. Uraian selanjutnya akan membawa kita untuk memahami berbagai peristiwa yang terjadi di ovarium dan uterus selama fase‐fase tersebut.
Pada berbagai fase dari siklus menstruasi, peran hormon‐hormon reproduksi sangatlah penting. Untuk dapat memahami dengan baik mengenai siklus menstruasi, ada baiknya kita segarkan ingatan kita mengenai hormon‐hormon dan organ reproduksi dengan membaca kembali bab sebelumnya. Berikut penjelasan masing‐masing fase dengan mengambil asumsi bahwa siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari.
a. Fase menstrual
Fase menstrual inilah yang lazim kita kenali sebagai menstruasi (tentu dengan berbagai sebutan yang telah kita bahas sebelumnya). Fase menstrual berlangsung sekitar 5 hari, dengan berbagai variasi dari bulan ke bulan maupun dari satu perempuan dengan perempuan yang lain. Sesuai kesepakatan bersama, hari pertama menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama dari siklus menstruasi.
Pada ovarium, proses pematangan sel telur terus terjadi selama fase menstrual. Di bawah pengaruh FSH, beberapa folikel primordial berkembang menjadi folikel primer.
Folikel primer berkembang menjadi folikel sekunder. Proses perkembangan dari folikel primordial menjadi folikel sekunder mungkin memerlukan waktu beberapa bulan.
Pada uterus, fase menstrual adalah fase meluruhnya endometrium. Peluruhan endometrium terjadi akibat menurunnya kadar progesteron dan estrogen. Progesteron dan estrogen yang dihasilkan oleh corpus luteum diperlukan untuk menjaga endometrium sehingga siap menerima hasil pembuahan. Apabila tidak terjadi pembuahan, corpus lutem akan terdegradasi menjadi corpus albicans. Dengan demikian, kadar hormon progesteron dan estrogen menjadi menurun sehingga tidak mampu lagi menjaga endometrium.
Penurunan progesteron dan estrogen juga menyebabkan keluarnya zat prostaglandin.
Prostaglandin menyebabkan pembuluh darah menjadi menyempit. Akibatnya, suplai oksigen ke sel‐sel endometrium akan menurun dan akhirnya mati. Sel‐sel yang mati akhirnya meluruh sebagai menstruasi.
Luruhan endometrium mengandung sekitar 50‐150 ml darah, cairan jaringan endometrium, mukus (lendir), selaput lendir, dan sel‐sel epitel dan jaringan endometrium.
Bagian jaringan dan selput lendir kadang‐kadang terlihat dalam daah menstruasi sebagai gumpalan dan jaringan‐jaringan kecil. Menstruasi mengalir melalui rongga uterus melewati cervix, vagina, dan akhirnya keluar.
b. Fase pre‐ovulasi
Fase pre‐ovulasi adalah waktu antara hari terakhir menstruasi dengan ovulasi. Lama fase pre‐ovulasi pada satu siklus menstruasi dapat bervariasi dan sangat menentukan variasi lamanya satu siklus menstruasi. Fase pre‐ovulasi dapat berlangsung dari hari ke‐6 hingga hari ke‐13 pada siklus 28 hari.
Inilah yang dialami ovarium pada fase pre‐ovulasi. Pada fase pre‐ovulasi, beberapa folikel sekunder mulai mengeluarkan hormon estrogen. Sekitar hari ke‐6, satu folikel sekunder dari salah satu ovarium akan berkembang lebih pesat dari folikel sekunder yang lainnya. Folikel ini disebut sebagai folikel dominan. Folikel dominan inilah yang akan berkembang menjadi folikel de‐Graaf (folikel yang matur atau matang). Folikel de‐Graaf akan terus membesar dan siap untuk dilepaskan dari ovarium.
Berdasarkan siklus yang terjadi di ovarium, fase menstrual dan fase pre‐ovulasi disebut sebagai fase folikuler. Dinamakan sebagai fase folikuler karena pada fase ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel yang berada di ovarium di bawah pengaruh follicle stimulating hormone (FSH).
Inilah yang terjadi di uterus selama fase pre‐ovulasi. Pada fase pre‐ovulasi, estrogen yang dihasilkan oleh folikel ovarium akan menstimulasi perbaikan endometrium yang sebelumnya meluruh. Akibatnya, endometrium mulai menebal kembali. Selain itu, kelenjar‐kelenjar pada endometrium juga kembali mengalami perkembangan. Pembuluh darah endometrium akan memanjang dan berkelok‐kelok. Kesemuanya ditujukan untuk mempersiapkan diri apabila terdapat sel telur yang dibuahi oleh sel sperma.
Berdasarkan siklus yang terjadi di uterus, fase pre‐ovulasi disebut sebagai fase proliferatif karena pada fase ini endometrium mengalami proliferasi sehingga menjadi lebih tebal.
c. Fase Ovulasi
Fase ovulasi adalah fase rupturnya folikel de‐Graaf dan lepasnya oocyte sekunder dari ovarium. Ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke‐14 siklus menstruasi untuk siklus 28 hari.
Akan tetapi, sebenarnya lebih tepat dikatakan bahwa ovulasi terjadi 14 hari sebelum hari pertama menstruasi siklus berikutnya. Dengan demikian, apabila seorang perempuan memiliki siklus menstruasi 35 hari maka ovulasi akan terjadi pada hari ke‐21. Demikian pula, apabila seorang perempuan memiliki siklus menstruasi 30 hari, maka ovulasi akan terjadi pada hari ke‐16.
Hitungan inilah yang sering digunakan untuk memperkirakan masa subur seseorang.
Artinya, pada saat terjadi ovulasi, apabila pasangan suami istri melakukan hubungan seksual maka kemungkinan bertemunya antara sel telur dan sperma menjadi lebih besar.
Dengan demikian, kemungkinan terjadinya kehamilan juga akan besar juga. Demikian pula sebaliknya, apabila pasangan tersebut hendak menunda kehamilan, maka dapat dilakukan dengan menghindari hubungan seksual pada masa ovulasi tersebut. Inilah dasar dari kontrasepsi kalender. Masa subur biasanya dinyatakan sebagai tanggal ovulasi + 2 hari.
Rentang 5 hari tersebut juga bersesuaian dengan kemampuan bertahan hidup dari sperma suami di rongga cervix istrinya.
d. Fase post‐ovulasi
Fase post‐ovulasi adalah fase antara ovulasi dengan hari pertama menstruasi siklus berikutnya. Lama fase post‐ovulasi cenderung konstan atau tetap pada siklus repoduksi perempuan. Fase post‐ovulasi selalu berlangsung selama 14 hari sebelum hari pertama menstruasi siklus berikutnya. Dengan demikian, pada siklus 28 hari, fase post‐ovulasi akan berlangsung pada hari ke‐15 hingga hari ke‐28.
Setelah oocyte sekunder lepas dari ovarium, folikel menjadi kolaps. Folikel yang ditinggalkan oleh oocyte sekunder akan menjadi corpus hemorrhagicum. Corpus hemorrhagicum berubah menjadi corpus luteum di bawah pengaruh hormon luteal (LH).
Masih di bawah pengaruh LH, corpus luteum mememproduksi estrogen dan progesteron.
Berdasarkan siklus ovarium, fase ini disebut sebagai fase luteal.
Apa yang terjadi di ovarium selanjutnya tergantung apakah oocyte dibuahi oleh sel sperma atau tidak. Apabila tidak terjadi pembuahan maka corpus luteum hanya akan bertahan sekitar 2 minggu saja. Setelah 2 minggu, aktivitas corpus luteum untuk mengeluarkan hormon‐hormon akan menurun. Selanjutnya corpus luteum berdegenerasi menjadi corpus albicans dan akhirnya menghilang.
Penurunan hormon estrogen dan progesteron menimbulkan umpan balik negatif kepada hypothalamus dan hypophysis. Hypothalamus dan hypophisis akan menerima pesan bahwa telah terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron. Sebagai respons atas pesan tersebut, GnRH dilepaskan dari hypothalamus dan memacu hypophysis melepaskan LH serta FSH. Kadar LH dan FSH yang meningkat menyebabkan perkembangan folikel dan dimulainya kembali siklus ovarium.
Apabila oocyte sekunder dibuahi oleh sel sperma, maka hasil pembuahan ini akan mulai membelah dan berkembang menjadi zygot. Apabila terjadi pembuahan, corpus luteum akan bertahan lebih lama dari 2 minggu. Hal ini disebabkan oleh adanya hormon human chorionic gonadotropin (hormon hCG). Hormon hCG diproduksi oleh chorion (cikal bakal plasenta) dari embrio sekitar 8 hari setelah pembuahan terjadi. Seperti LH, hCG juga menjaga dan menstimulasi corpus luteum untuk melepaskan hormon estrogen dan progesteron. Esterogen dan progesteron yang dilepaskan akan berguna untuk menjamin kesejahteraan rahim dan produk kehamilan yang Selanjutnya, setelah plasenta terbentuk.
Hormon progesteron dan estrogen yang diproduksi oleh corpus luteum menyebabkan kelenjar yang terdapat di endometrium semakin berkembang dan berkelok‐kelok. Selain itu, vaskularisasi (aliran darah) yang menuju ke endometrium juga semakin meningkat.
Endometrium semakin menebal dan siap menerima hasil pembuahan. Oleh karena aktivitas dari kelenjar di endometrium yang mulai mengeluarkan (mensekresi) zat‐zat seperti glikogen, periode ini disebut sebagai fase sekresi pada siklus uterus. Fase ini akan mencapai puncak sekitar 1 minggu setelah ovulasi di mana hasil pembuahan diperkirakan sampai di uterus (rahim).
Apabila pembuahan tidak terjadi, kadar hormon progesteron dan estrogen akan menurun disebabkan degenerasi corpus luteum. Penurunan kadar progesteron dan estrogen inilah yang menyebabkan endometrium meluruh sebagai menstruasi.
3. Perencanaan jarak kelahiran
Ketika anak pertama telah lahir dan beranjak tumbuh semakin besar, umumnya keluarga baru atau yang baru saja membesarkan anak pertamanya mungkin telah merencanakan untuk memiliki anak berikutnya untuk menjadikan suasana keluaga lebih hidup. Rencana untuk hamil lagi mungkin juga sudah didiskusikan oleh para ibu dan ayah. Dengan segera memberikan adik pada anak pertamanya orangtua berharap agar hubungan keduanya akan lebih dekat dan akrab satu sama lain.
Jika kondisi tersebut terjadi maka pasangan yang akan melahirkan dengan jarak yang terlalu dekat atau pun terlalu jauh perlu mengetahui bahwa hal tersebut akan beresiko terhadap fisik maupun psikologis dari anak dan ibu itu sendiri. Terutama dalam hal kesehatan. Jarak kehamilan yang terlalu dekat akan sangat berpengaruh terhadap pemulihan kesehatan ibu setelah menjalani proses melahirkan, terutama bagi ibu yang melahirkan dengan jalan operasi caesar.
Kondisi tersebut disebabkan oleh pemulihan pasca operasi caesar membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, akibat lain apabila melahirkan dengan jarak yang terlalu dekat dapat menciptakan ketidak damaian antara kakak dengan adik. Terutama pada saat anak pertama belum disapih dan belum siap untuk bermain sendiri. Akibatnya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya yaitu akan menibulkan kecemburuan dari anak pertama kepada anak berikutnya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi suami dan istri untuk merencanakan dan mengatur jarak kehamilan yang ideal. Jarak yang dapat dikatakan cukup ideal untuk perencanaan kehamilan berikutnya adalah 2 hingga 5 tahun setelah kelahiran anak sebelumnya. Pentingnya mengatur jarak kehamilan karena akan berpengaruh terhadap janin yang dikandung nantinya.
Selain itu, banyak pula manfaatnya bagi ibu dan anak apabila berhasil mengatur jarak kehamilan yang ideal. Berikut berbagai manfaat mengatur jarak kehamilan.
a. Memulihkan kesehatan ibu setelah melahirkan
Setelah melahirkan, kondisi fisik dan kesehatan ibu mengalami banyak perubahan.
Butuh waktu setidaknya 2 tahun untuk dapat memulihkannya kembali. Termasuk kesiapan rahim dan stamina ibu untuk kehamilan berikutnya, karena stamina ibu pasti berkurang setelah memiliki anak. Bagi ibu yang melahirkan anak sebelumnya dengan jalan operasi caesar, tentu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk proses pemulihannya. Perencanaan kehamilan berikutnya sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Ibu dengan riwayat penyakit seperti hipertensi dan diabetes sangat penting untuk menjaga kesehatan karena beresiko tinggi pada kehamilan nantinya.
b. Menghindari berbagai resiko kesehatan ibu dan janin pada kehamilan berikutnya Kondisi rahim dan stamina ibu yang telah siap untuk hamil lagi akan meminimalkan berbagai resiko kesehatan yang mungkin dialami bayi nantinya seperti kelainan pada janin dan resiko berat badan bayi lahir kurang dari normal. Adanya rentang waktu yang cukup untuk mempersiapkan kehamilan akan memungkinkan persiapan untuk produksi ASI lebih optimal juga nantinya. Kemungkinan resiko kekurangan zat besi bagi ibu pada kehamilan berikutnya yang menjadi penyebab terjadinya anemia akut saat hamil juga dapat dihindari. Kemungkinan stress saat hamil juga makin berkurang.
Bahkan menghindari terjadinya resiko sistem kardiovaskular menjelang proses persalinan akibat kondisi ibu yang belum benar‐benar pulih setelah proses melahirkan anak sebelumnya. Cadangan makanan untuk janin juga sudah dapat dibentuk dengan maksimal.
c. Mengurangi resiko kekurangan nutrisi pada anak sebelumnya
Jarak kehamilan yang terlalu dekat, apalagi saat kondisi anak sebelumnya masih menyusu akan membuat kualitas dari Air Susu Ibu yang diminum akan menurun.
Penyapihan mendadak yang dilakukan dan tidak diimbangi dengan pemenuhan nutrisi dari berbagai asupan makanan untuk anak sebelumnya juga dapat membuat anak kekurangan banyak zat gizi dan nutrisi penting yang dibutuhkan dalam masa tumbuh kembangnya. Proses penyesuaian diri anak untuk tidak lagi minum ASI juga berbeda‐
beda, terkadang dapat membuatnya rewel dan tidak mau makan.
d. Menjaga hubungan ibu dengan anak
Mengatur jarak kehamilan yang ideal juga mempengaruhi psikologis ibu dan anak.
Kehadiran adik yang terlalu cepat dapat membuat anak kehilangan sejumlah perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Anak yang belum siap menerima kehadiran adiknya juga akan membuat ibu kerepotan untuk menjaga keduanya. Di sisi lain, jarak yang terlalu jauh juga akan membuat hubungan kakak dan adik terjalin kurang erat.
Oleh karena itu, sangat penting mengatur jarak kehamilan ideal karena banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan oleh ibu dan anak. Kesiapan dari masing‐masing anggota keluarga serta faktor ekonomi juga termasuk hal yang harus dipertimbangkan untuk mengatur jarak kehamilan.
VIII. REFERENSI
Anonim. (2014). Persiapan Sebelum Kehamilan. Artikel. Diunduh pada tanggal 31 Mei 2016 dari http://www.akuhamil.com/persiapan‐sebelum‐kehamilan/
Dwi Rukma Santy. (2016). Mempersiapkan Kehamilan Bagi Calon Ayah. Artikel. Diunduh pada 31 Mei 2016 dari http://www.ummi‐online.com/tips‐sehat‐mempersiapkan‐kehamilan‐bagi‐calon‐
ayah.html dan http://www.ummi‐online.com/8‐tips‐sehat‐mempersiapkan‐kehamilan‐bagi‐
calon‐ibu.html
Ahnaf. (2015). Pentingnya Mengatur Jarak Kehamilan dan Manfaatnya. Artikel. Diunduh pada 31 Mei 206 pada http://ibumuda.com/2015/03/16/pentingnya‐mengatur‐jarak‐kehamilan‐dan‐
manfaatnya/
Baron, W. F., Boulpaep, E. L. 2012. Medical Physiology 2nd Ed. USA: Elsevier.
Despopoulos, A. & Silbernagl, S. 2003. Color Atlas of Physiology 5th Ed. New York: Thieme.
Guyton, A. C. & Hall, J. E. 2006. Textbook of Medical Physiology 11 Ed. Pennsylvania: Elsevier.
Hanifa, W., Saifuddin, A. B., Rachimhadhi, T. 2008. Ilmu Kandungan 6th Ed. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Heffner, L. J. & Schust, D. J. 2008. At A Glance: Sistem Reproduksi 2nd Ed. Jakarta: Erlangga.
Tortora, G. J. & Derrickson, B. H. 2009. Principles of Anatomy and Physiology 12th Ed. USA: John Wiley & Sons.
I. DISKRIPSI SINGKAT
Modul Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan ini disusun untuk membekali konselor keluarga agar mampu memahami dan menjelaskan Pedidikan Anak Sejak dalam Kandungan atau biasa juga disebut dengan Pendidikan Prakonsepsi.
Pilihan untuk Pendidikan Anak sejak dalam Kandungan semestinya disiapkan secara baik. Hal ini perlu dilakukan karena saat anak dalam kandungan, anak sudah dapat belajar menerima beragam sensasi indra dari luar rahim, mulai dari indra peraba (sentuhan dan rabaan orang tua, benda‐benda di sekitarnya), indra pendengaran (suara orang tuanya, benda‐benda di sekitarnya), indra penglihatan (melihat gelap dan terang). Pendidikan pralahir dapat melatih otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Dengan begitu anak bisa siap menerima respon yang ada di lingkungannya setelah dilahirkan.Oleh karena itu, upaya untuk menyiapkan Pendidikan Anak sejak dalam Kandungan menjadi prioritas kita bersama.
Pemahaman utuh terkait Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan perlu dipahami dan dikuasai para konselor keluarga yang akan menjadi fasilitator dalam pelatihan dan pembinaan pranikah di masyarakat.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti materi ini, Konselor Keluarga mampu mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara mendidik anak sejak dalam kandungan.
B. Tujuan Pembelajaran Khusus:
Setelah mengikuti materi ini peserta mampu:
1. Menjelaskan peran orangtua dalam pendidikan anak sejak dalam kandungan.
2. Menjelaskan kehamilan yang sehat secara fisik dan psikis.
3. Menjelaskan bagaimana cara memberikan latihan/stimulasi pada bayi dalam kandungan.
4. Menjelaskan persiapan keluarga sebelum proses melahirkan.
III. POKOK BAHASAN DAN SUBPOKOK BAHASAN
A. Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan 1. Pentingnya Pendidikan Pralahir.
2. Prinsip Dasar Pendidikan Pralahir.
3. Peran Ibu, Ayah, dan Anggota Keluarga Lain dalam Pendidikan Pralahir.
B. Kehamilan Sehat Untuk Bayi Sehat
V. METODE PEMBELAJARAN
Ceramah, tanya‐Jawab, dan diskusi.
VI. LANGKAH‐LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 2 jam pelajaran (T=2jp, P=2jp, PL=0jp) dengan masing‐masing JP sepanjang 45 menit. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan keaktifan peserta, dilakukan langkah‐langkah pembelajaran sebagai berikut:
A. Langkah 1: Pengkondisian (30 menit)
1. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana di kelas.
2. Fasilitator menyampaikan salam dengan menyapa peserta dengan ramah dan hangat serta memperkenalkan diri.
3. Fasilitator menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang apa yang dimaksud dengan persiapan kehamilan.
4. Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran dan pokok bahasan.
B. Langkah 2: Penyampaian Pokok Bahasan (135 menit) 1. Fasilitator menyampaikan pokok bahasan:
a. Peran orangtua dalam pendidikan anak sejak dalam kandungan.
b. Kehamilan sehat untuk bayi sehat.
c. Program pendidikan pralahir.
d. Persiapan kelahiran.
2. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya hal‐hal yang kurang jelas dan membuka diskusi atas masalah‐masalah yang dikemukakan peserta.
C. Langkah 3: Rangkuman (15 menit)
1. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya dan atau mendiskusikan beberapa hal yang dianggap belum jelas.
2. Fasilitator memberikan tanggapan balik kepada peserta.
3. Fasilitator meminta komentar, penilaian, saran dan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan.
4. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan bahwa TPU dan TPK sesi telah tercapai.
IV. BAHAN BELAJAR
Video, flip chart, spidol, LCD proyektor, worksheet, kertas plano, dan modul.
C. Program Pendidikan Pralahir 1. Pentingnya Stimulasi Pralahir.
2. Teknik Stimulasi Bayi dalam Kandungan Sesuai Usia Kehamilan.
D. Persiapan Kelahiran 1. Persiapan Fisik.
2. Persiapan Mental dan Spiritual.
VII. URAIAN MATERI
A. Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak Sejak dalam Kandungan
Pemberian stimulasi pralahir menunjukkan manfaat yang luar biasa pada bayi dan anak‐anak.
Oleh karena itu orangtua dalam hal ini ayah dan ibu memegang peran kunci akan proses pendidikan anak sejak dalam kandungan.
1. Pentingnya Pendidikan Pralahir
Berikut ini adalah hasil‐hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir dan bayi:
a. Program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan pada anak yang diteliti sejak masa bayi sampai usia 15 tahun dengan nilai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi.
b. Bayi yang diberi stimulasi pralahir cepat mahir berbicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum spontan, menolehkan kepala ke arah suara orangtuanya, lebih tanggap terhadap musik, dan juga mengembangkan pola sosial yang lebih baik saat dewasa.
c. Bayi‐bayi yang diberi stimulasi pra dan pascalahir dan diamati sampai usia 3 tahun, dibandingkan dnegan anak seusianya, menunjukkan kedekatan dengan ibu mereka, perkembangan bahasa lebih baik, koordinasi tangan‐mata lebih baik, kemampuan menyelesaikan masalah lebih baik dan lebih sedikit kasus hambatan perkembangan. Pada anak yang diamati sampai usia 6 tahun terlihat nilai kecerdasan mereka tetap meningkat dan lebih cerdas dibandingkan dengan teman‐teman tanpa stimulasi.
2. Prinsip Dasar Pendidikan Pralahir
Menurut Rene Van De Carr dkk (1990 terdapat 8 prinsip dasar yang membentuk filosofi dan prosedur pendidikan pralahir. Dengan memahami ke delapan prinsip tersebut akan memaksimalkan potensi bayi untuk belajar.
a. Prinsip Kerjasama
Permainan‐permainan belajar dan latihan‐latihan stimulasi membantu orangtua dan anggota keluarga lain belajar bekerjasama untuk mencapai kesejahteraan bayi sebelum ia dilahirkan sehingga mereka akan mengetahui bagaimana bekerja sama setelah bayi lahir.
Hal ini benar walaupun sebuah orangutua telah memiiki anak sebelumnya. Latihan‐latihan pralahir dapat meningkatkan kerja sama seluruh anggota keluarga yang ikut serta.
b. Prinsip Ikatan Cinta Pralahir
Latihan‐latihan Pendidikan Pralahir membantu mempersiapkan orangtua untuk menerima bayinya. Para psikolog dahulu berpendapat bahwa ikatan tidak akan terjalin sebelum bayi dilahirkan. Akan tetapi dengan memainkan permainan‐permainan belajar dan melakukan latihan‐latihan, orangtua dapat mengungkapkan dan mengembangkan ikatan cinta sebelum kelahiran.
c. Prisip Stimulasi Pralahir
Seorang bayi belajar dari stimulasi. Sudah jelas bagi setiap orangtua baru bahwa stimulasi indera peraba seperti gelitik, stimulasi indra pendengaran seperti suara ibu, dan stimulasi indera penglihatan seperti gerakan dan warna‐warna menjadi kesukaan bayi setiap hari dalam perkembangann kehidupannya. Latihan‐latihan Pendidikan Pralahir memberi stimulasi sistematis bagi otak dan perkembangan saraf bayi sebelum dilahirkan. Semakin banyak bukti ilmiah menunjukan bahwa kegiatan semacam itu membantu otak bayi menjadi lebih efisien dan menambah kapasitas belajar setelah ia dilahirkan. Masa pertumbuhan maksimal otak bayi terjadi sebelum kelahiran sampai ia berusia kira‐kira dua tahun.
d. Prinsip Kesadaran Pralahir
Latihan‐latihan pendidikan pralahir memiliki potensi mengajarkan bayi untuk menyadari bahwa tindakannya membuat efek. dalam permainan bayi menendang misalnya, ketika bayi menendang perut ibu di titik tertentu dan sang ibu merespon dengan menekan sdi titik yang sama. kenyataan bahwa stimulasi lingkunagn ini daoat diajarkan sebelum kelahiran mempunyai potensi besar dalam mempercepat bayi belajar tentang sebab akibat setelah ia dilahirkan.
e. Prinsip Kecerdasan
Albert Einsten dikabarkan telah menjawab sebuah pertanyaan mengenai kecerdasan bahwa “Rahasia kecerdasan saya yang tinggi adalah bahwa saya belajar sesuatu yang baru setiap hari dalam hidup saya.” Kecerdasan berkembang dari rasa tertarik pada hal yang terjadi dan mengapa terjadi. Program Pendidikan Pralair mencakup latihan‐latihan untuk menarik minat bayi yang sedang berkembang terhadap sensasi dan urutan yang dapat dipahami sebelum kelahiran. Setelah kelahiran, bayi mungkin lebih perhatian, artinya ia telah mengembangkan kecerdasannnya.
f. Prinsip Mengembangkan Kebiasan‐kebiasan Baik
Orangtua bisa mengembangkan kebiasaan‐kebiasaan baik seperti berbicara dengan jelas kepada bayi, berharap bayi menanggapi, dan mengulang‐ulang latihan Pendidikan Pralahir dengan perasaan senang. Kebiasaan‐kebiasaan ini kemudian dengan mudah diteruskan setelah bayi lahir.
g. Prinsip Melibatkan Kakak‐kakak Sang Bayi
Partisipasi saudara kandung (kakak) dalam pendidikan pralahir merupakan hal yang sangat penting. Seorang kakak akan berharap belajar dan bermain bersama dengan adiknya kelak.
Anak‐anak akan merasa yakin bahwa posisi mereka dalam keluarga aman sekalipun waktu ayah dan ibu mereka berkurang.
h. Prinsip Peran Penting Ayah dalam Masa Kehamilan
Penelitian membuktikan bahwa hubungan baik antara ayah dan bayi sangat berkaitan dengan perkembangan kemampuan sosial anak. karena banyak latihan Pendidikan Pralahir dapat dilakukan oleh ayah, dan sang bayi akan lebih menanggapi nada dalam suara ayah,sehingga sangat disarnkan dalam keikutsertaannya.
3. Peran Ibu, Ayah, dan Anggota Keluarga Lain dalam Pendidikan Pralahir
Pada dasarnya pendidikan pralahir hanya bisa dilakukan oleh orangtua saja, yakni ayah dan ibu. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan ini tidak menutup kemungkinan kehadiran anggota keluarga lainnya seperti kakak, atau bibi, paman, nenek bayi dll. Jika orangtuanya, terutama ibunya melakukan stimulasi edukatif, komunikasi dialogis interaktif yang dilakukan langsung dengan sang bayi yang berada di dalam perut, maka orang lain melakukannya melalui perantara, yaitu ibunya.
Keterlibatan ayah sangat penting dan berkaitan erat untuk perkembangan kemampuan sosial bayi. begitu pula keterlibatan kakak dan anggota keluarga lainnya. Hal tersebut selain meningkatkan kemampuan bersosial bayi, juga dapat meningkatkan efektifitas dan keterampilan bayi dalam berkomunikasi secara baik, fasih dan handal setelah kelak lahir, tumbuh hingga menjadi dewasa nanti.
B. Kehamilan Sehat untuk Bayi Sehat
Hal‐hal yang bisa dilakukan untuk mengupayakan kehamilan sehat adalah adalah dengan memperhatikan lingkungan yang sehat serta kesehatan fisik selama kehamilan. Berikut upaya‐
upaya yang dapat dilakukan:
a. Mandi
Ibu hamil sebaiknya mandi dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Adakalanya pagi hari ibu hamil malas mandi, namun sebaiknya tidak dituruti. Disarankan untuk senantiasa mandi agar badan segar. Seringkali pada siang hari udara terasa panas. Jika ingin mandi, maka disarankan untuk mandi agar rasa panas berkurang. Jika seorang ibu sukar tidur, diharapkan keluhan ini akan berkurang dan lambat laun akan menghilang.
b. Perawatan kulit
Sesudah selesai mandi disarankan untuk menyapukan pelembab kulit keseluruh permukaan tubuh, tangan, kaki, leher, dada, perut, dan sebagainya. Bagian paha, perut dan payudara adalah bagian yang perlu diperhatikan. Sebaiknya diberi baby oil saja agar terhindar dari kerutan yang biasanya tampak sesudah melahirkan.
c. Perawatan gigi
Terutama pada saat hamil gigi perlu betul‐betul diperhatikan. Setiap kali sesudah makan atau pada waktu mandi pagi dan sore hari adalah waktu yang tepat untuk menggosok gigi, agar sisa makan terbuang. Pada waktu hamil kalsium yang diperlukan tubuh berkurang karena sebagian masuk ke dalam tubuh bayi untuk pertumbuhan tulangnya. Itulah sebabnya ibu hamil harus mendapat perawatan khusus. Selain kebersihan gigi, pada waktu hamil sebaiknya dilakukan juga pemeriksaan gigi minimal enam bulan sekali. Dengan berkurangnya kalsium ada kemungkinan gigi ibu hamil lebih cepat berlubang. Oleh karena itu sebaiknya ibu hamil ke dokter gigi agar gigi lubang segera diatasi.
d. Perawatan rambut
Ibu hamil lebih banyak mengeluarkan keringat. Hal ini disebabkan perubahan kelenjar hormon, sehingga rambut menjadi lebih berminyak, atau sebaliknya menjadi lebih kering. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk lebih sering mencuci rambut, dua sampai tiga kali seminggu.
e. Olahraga
Sebaiknya selama hamil tubuh tetap dijaga agar tetap segar. Oleh karena itu sebaiknya ibu hamil berolah raga. Disarankan untuk memilih olahraga yang ringan, dan jangan terlalu lelah.
Olahraga yang dibolehkan adalah berjalan‐jalan.
f. Istirahat
Selama bulan‐bulan pertama kehamilan seorang ibu bisa jadi akan lebih sering mengantuk.
Disarankan kepada ibu hamil untuk berbaring dan meletakkan kaki lebih tinggi dari badan. Pada waktu malam hari ibu hamil memerlukan waktu istirahat delapan sampai sepuluh jam. Biasanya pada hari‐hari panas, badan akan lebih cepat merasa lelah. Oleh karena itu, pada siang ataupun sore hari ibu hamil memerlukan untuk istirahat kurang lebih satu jam. Istirahat yang cukup dapat menghilangkan kerut di bawah mata, dan kulit akan terasa lebih segar. Lama dan kapannya waktu beristirahat masing‐masing ibu dapat memperkirakannya sendiri, sebab masing‐masing memiliki kebutuhan waktu beristirahat yang berbeda. Pada intinya jika seorang ibu hamil merasa lelah, maka disarankan untuk beristirahat.
g. Mengenakan pakaian yang longgar
Wanita hamil banyak mengeluarkan keringat. Oleh karena itu diperlukan pakaian yang longgar. Bahkan dipergunakan sebaiknya adalah kain berbahan katun sebab lebih mudah menyerap keringat. Penggunaan pakaian dlam juga perlu diperhatian. Disarankan untuk memilih BH yang tidak ketat dan disesuaikan dengan besarnya payudara. Penggunaan celana dalam sebaiknya dipilih yang berukuran lebih besar, agar kulit tidak mengalami gangguan atau iritasi.
Waktu Pemeriksaan Kehamilan Usia Kehamilan
1‐28 Minggu 28‐36 Minggu 36‐40 Minggu
Waktu Pemeriksaan Empat minggu sekali Dua minggu sekali Seminggu sekali m. Imunisasi tetanus bagi ibu hamil
Imunisasi tetanus bagi ibu hamil bertujuan agar kelak bayi yang dilahirkan tidak terserang penyakit tetanus tali pusat yang mematikan. Imunisasi dilakukan pada usia kehamilan tiga sampai delapan bulan sebanyak tiga kali.
n. Tidak meminum obat sembarangan
Disarankan bagi ibu hamil untuk tidak meminum obat tanpa resep atau petunjuk dokter, karena obat yang biasa dijual di pasaran biasa mengandung obat penenang. Jika jenis obat tersebut sering masuk ke dalam plasenta bayi, tentu akan memiliki akibat. Obat penenang jenis thalidomid misalnya, memiliki pengaruh sangat besar terhadap bayi sehingga merusak dan mencacatkannya. Begitu pula penggunaan obat‐obat di awal kehamilan dideteksi sebagai kelaianan jantung yang akan dialami oleh bayi kelak.
o. Hubungan suami‐istri selama hamil
Disarankan untuk berhati‐hati melakukan hubungan suami‐istri. Sebab akan sangat berbahaya baik di waktu awal kehamilan atau sebelum kelahiran. Hubungan suami‐istri jika tidak dilakukan dengan hati‐hati bisa menyebabkan keguguran dan menimbulkan rasa nyeri di dalam rahim. Disarankan mencari posisi yang baik dan sesuai untuk menghindari penekanan perut terlalu berat. Posisi yang paling baik adalah miring atau dari belakang.
h. Tidak bekerja terlalu berat
Pekerjaan sehari‐hari ibu rumah tangga sangatlah banyak. Mulai dari menyediakan sarapan untuk suami dan anak, memasak, dan membersihkan. Akan sangat berat jika semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh ibu hamil. Maka kegiatan fisik ini sebaiknya dibatasi pada yang ringan‐
ringan saja.
Perlu diperhatikan bahwa sebaiknya ibu hamil tidak mengangkat benda yang berat, sebab akan menyebabkan kelahiran dini pada sang bayi. Oleh karena itu jika pekerjaan menumpuk, dan sang ibu sudah merasa lelah sebaiknya segera untuk beristirahat minimal satu jam.
i. Tidak mengunjungi orang sakit
Jika terdapat sanak saudara atau rekan yang sakit sebaiknya ibu hamil tidak mengunjunginya. Terutama bila sanak saudara yang dikunjungi berpenyakit menular.
Seandainya suami dari ibu hamil terkena influenza sebaiknya keduanya berpisah kamar, agar sang ibu tidak tertular. Bagi ibu hamil harus diusahakan untuk senantiasa sehat. Sebab bagaimanapun penyakit yang diderita oleh wanita hamil akan sangat mempengaruhi pertumbuhan bayi yang belum lahir.
j. Menghindari minum kopi dan teh
Kopi mengandung zat racun yang disebut kafein. Zat ini memiliki daya untuk merangsang syaraf, agar tubuh tetap segar. Oleh karena itu rasa kantuk akan hilang bagi orang yang meminum kopi. Begitu juga teh, ia menganudng teanin, yang juga kurang baik bagi tubuh dan sebaiknya dihindari.
k. Menjauhi kucing
Berdasarkan penelitian di dalam usus kucing atau tikus hidup sejenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada darah.
l. Memeriksa kehamilan secara rutin