• Tidak ada hasil yang ditemukan

Problematika pengasuhan anak usia 0‐2 tahun

Tahap Perkembangan Anak

2. Problematika pengasuhan anak usia 0‐2 tahun

(Anak dalam pengasuhan orang lain: TPA, kakek‐nenek, pembantu, dll) a. Prinsip pengasuhan

1) Menjaga potensi baik

Manusia lahir dengan fitrah, artinya suci dan berporensi baik. Oleh karena itu, sebuah pemahaman yang kurang tepat jika mengibaratkan seorang bayi yang baru lahir sebagai kertas putih karena sesungguhnya bayi lahir dengan jiwa yang telah bersaksi akan keesaan Tuhan. Hal tersebut dapat terlihat pada bayi yang secara naluriah bayi menyukai kelembutan, takut pada suara keras, tenang ketika mendapat sentuhan kasih sayang, bersemangat, dan pantang menyerah. Selain itu kemampuan anak melakukan proses inisiasi menyusui dini mengga mbarkan bahwa sejak dini anak sudah memiliki naluri untuk bertahan hidup. Maka sudah menjadi tugas orangtua menjaga dan memelihara potensi baik tersebut agar tetap baik serta senantiasa mengupayakan agar menjadi lebih baik lagi.

Menjaga potensi baik ini tidak hanya menjadi tugas orangtua di rumah melainkan menjadi tugas tim yang solid meliputi orangtua, keluarga, orang lain dan lingkungan di mana anak melakukan interaksi. Adapun tiga pilar dasar yang perlu diperhatikan orangtua dalam menjaga potensi baik yang ada pada diri anak, yaitu:

a) Menjadi teladan

Hal tersebut berarti bahwa sebelum dan setelah menjadi orangtua, seseorang senantiasa memiliki dan mencontohkan perilaku yang dikehendaki oleh Tuhan agar menjadi sumber pengamatan anak yang tepat.

b) Megingatkan

Hal tersebut berarti bahwa orangtua perlu menegaskan pada dirinya bahwa proses mengingatkan anak tidak semata‐mata karena kehendak untuk dituruti oleh anak.

Melainkan proses mengingatkan bertujuan untuk menumbuhkan kembali kesadaran anak mengenai hal yang benar.

c) Memperbaiki

Hal tersebut berarti bahwa ketika anak melangkah dijalan yang keliru dengan segera orantua membimbing anaknya kembali ke jalan yang benar.

2) Kasih sayang

Beberapa penelitian menemukan bahwa sistem saraf pada bayi dan anak‐anak yaitu otak memiliki jutaan neuron yang belum tersambung. Suara keras serta perlakuan kasar dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang setara dengan anak yang mendapatkan siksaan fisik dan pelecehan seksual. Bahkan empat belas abad yang lalu, Nabi Muhammad saw mengingatkan seorang ibu yang secara kasar mengambil bayi dari gendongan Nabi karena bayi tersebut buang air kecil sehingga membasahi pakain Beliau. Beliaupun menegur “Pakaian basah ini dapat dibersihkan dnegan air, tetapi apa yang bisa mengilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutan yang kasar itu?”

Kasih sayang adalah dasar penanaman dan pembenahan akhlak anak. Banyak ayat dan hadits yang menyampaikan keutamaan dari kelembutan. Misalnya QS. Luqman: 19 yang artinya, “Dan sedehanalah kamu dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu.

Sesungguhnya seburuk‐buruknya suara ialah suara keledai.” HR. Bukhari juga menjelaskan bahwa “hendaklah kamu bersikap lembut, kasih‐sayang dan hindarilah sikap keras dan keji.”

3) Sabar

Proses mendidik bukanlah proses yang mendadak. Oleh karena itu sabar tidak hanya diartikan sebagai menahan amarah, melainkan sabar berarti tidak tergesa‐gesa dalam menjalani proses mendidik anak. Namun di masa sekarang ini yang serba instan, banyak orangtua juga ingin serba cepat jadi. Misalnya, orangtua baru mengajari anaknya membaca dan keinginan orangtua adalah anaknya bisa langsung bisa baca dalam satu minggu. Orangtua melihat tayangan televisi ada anak yang bisa menghafal Al‐Qur'an, orangtua sudah memiliki keinginan anaknya langsung mau menghafal setelah diajak nonton. Baru melihat anak tetangga pandai memainkan alat musik, lalu orangtua juga menuntut anaknya bisa seperti demikian. Anak dituntut cepat mandiri, berbicara, besar, rajin beribadah, pintar, dan dewasa. Tidak jarang anak menjadi bahan eksploitasi dari harapan‐harapan orangtuanya sendiri.

Kondisi demikian sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan oleh orangtua karena hal tersebut semata‐mata karena menuruti nafsu. Nafsu dan ketergesa‐gesaan membuat ornagtua menggunakan cara‐cara yang justruu menimbulkan kebencian dan antipati dalam diri anak. Mungkin belum terlalu parah jika objek kebencian anak adalah pelajaran sekolah yang diberikan dengan cara yang keras, tetapi yang parah adalah ketika objek kebencian adalah Tuhan yang digambarkan secara tidak proporsional oleh orangtua. Orangtua berulang‐ulang mencamkan ke anak bahwa Tuhan hanya suka menghukum dan memasukkan ke neraka, Orangtua lupa bahwa mengancam anak yang belum baliq masuk neraka adalahs sebuah kebohongan, karena anak yang belum baliq belum menanggung dosa.

Melalui kasih sayang dan kesabaran, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jiwanya penuh cinta sehingga mudah menyayangi dirinya dan sesama ciptaan Tuhan dan terpenting adalah anak mencitai Tuhannya. Anak yang pribadi dan jiwanya kering kasih sayang, hatinya akan menjadi keras, mudah putus asa, dan mendendam sehingga kepandaian dan kesuksesan justru akan berpotensi menimbulkan kerusakan karena digunakan sebagai pelampiasan hatinya yang keras.

4) Konsisten dan kongruen

Penggabungan kedua kata sifat tersebut bermakna bahwa orangtua harus berpegang teguh pada tujuan utama untuk menjaga potensi baik anak dengan cara menjadi teladan, senantiasa mengingatkan, serta memperbaiki. Sebagai teladan, tentu sikap dan perilaku orangtua harus selaras (kongruen) dengan nilai‐nilai yang ditanamkannya pada anak. Ketika anak dilarang untuk menonton tayangan kurang mendidik ditelivisi maka orangtua tentu tidak boleh asyik menonton sinetron yang pesan moralnya kerap kali tidak baik. Orangtua meminta anak untuk membaca buku maka orangtua harus menunjukkan minat kepada buku dan gemar membaca.

Sedangkan konsisten tidak berarti menggunakan cara yang sama melainkan tetap kreatif menggunakan berbagai cara untuk mencapai suatu tujuan.

b. Fokus Pengasuhan

Fokus pengasuhan dan pendidikan anak pada tiga hal penting, yaitu:

1) Bersyukur

Syukur adalah kunci dari kesehatan mental, perisai dari kesombongan, dan penyelamat dari rasa rendah diri.

2) Bertumbuh menjadi lebih baik

Bertumbuh dalam hal ini bukan untuk mengalahkan orang lain, melainkan kemauan dan kemampuan untuk berbuat lebih baik daripada yang sudah pernah dilakukan dan mengalahkan kemalasan diri sendiri. Pemahaman ini juga akan mengarahkan anak untuk berupaya lebih baik daripada kemarin dan esok lebih baik dari hari ini. Kemauan untuk bertumbuh dengan sendirinya akan menghasilkan pencapaian‐pencapaian yang baik dan menumbuhkan keinginan untuk bersinergi karena tidak didasari oleh dorongan iri hati, dendam, dan nafsu untuk merendahkan orang lain.

3) Kebermanfaatan

Ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat maka orangtua telah dikatakan memiliki keberhasilan pada tingkat tertinggi dalam melakukan pengasuhan dan mendidik anaknya. Sesungguhnya sebaik‐baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat untuk manusia lain dan alam semesta. Menumbuhkan kemauan untuk senantiasa menghadirkan kebahagiaan bagi sesama dan menghilangkan kesusahan pada sesama.

c. Kesalahan‐kesalahan Pengasuhan

Banyak calon orangtua bahkan yang telah menjadi orangtua tidak sungguh‐sungguh belajar dan menambah ilmu untuk mempersiapkan diri untuk menjalani peran menjadi ayah dan ibu. Kebanyakan calon orangtua dan orangtua hanya meniru kebiasaan‐kebiasaan pengasuhan dari orangtuanya terdahulu. Memang banyak hal baik yang bisa ditiru tetapi sebaiknya mendidik anak disesuaikan dengan zamannya. Berikut contoh‐contoh yang menggambarkan kesalahan‐kesalahan umum dalam pengasuhan.

1) Lantai yang nakal

Dahulu apabila seorang anak terjatuh dan menangis, maka dengan sigap ayah‐ibu, kakek‐nenek, atau pengasuhnya akan memukul lantai sambil berkata “Nakal ya lantainya... bikin jatuh” atau “Ada kodok lewat yah, jadi terjatuh.” Sekilas hal ini dianggap lucu dan bisa menghibur anak agar tidak menangis atau berhenti menangis.

Akan tetapi di dalam perkataan tersebut sebenarnya telah mengajarkan anak untuk tidak bertanggungjawab atas peristiwa yang terjadi pada dirinya. Kondisi tersebut seakan‐akan mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain, dan sekaligus berbohong. Satu peristiwa kecil yang menanamkan banyak nilai yang salah tersebut akan membuat anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sulit mengakui kesalahan dan suka mencari kambing hitam.

Adapun cara tepat yang bisa dipraktekkan dan juga bersifat menghibur adalah ketika anak terjatuh, orangtua, kakek‐nenek, dan pengasuh menghampiri anak sambil mengatakan “Ayo nak berdiri, kita obati bagian yang sakit sambil mainan dokter‐

dokteran yuk, siapa dokternya? Ibu atau kamu?” Lalu setelah menangis, anak diajak mengevaluasi peristiwa yang dialami oleh anak, “Menurutmu, apa yang perlu kamu lakukan supaya tidak jatuh seperti tadi?” Mungkin dia akan menjawab, “Aku akan berjalan pelan‐pelan,” atau “hati‐hati ke depan.” Apapun jawabannya, biarkan anak mengeksplorasi sendiri dengan memulai dari kata, “Saya/Aku/menyebut namanya sendiri...” Cara seperti ini akan membiasakan akan untuk mengambil tanggungjawab atas perilakunya sendiri.

2) Kancil, pintar itu harus “minterin” orang lain

Mendongeng adalah sebuah proses pembelajaran metaforis yang banyak manfaatnya (hikmah, pujian, teguran yang diselipkan dalam cerita). Maka kepiawaian penngasuh atau orangtua dalam memilih cerita yang penuh hikmah sangat diperlukan.

Kisah kehidupan tokoh‐tokoh yang patut diteladani dan dicontoh perilakunya adalah pilihan cerita yang baik. Kemampuan bermain intonasi, suara, dan gaya bahasam menjadikan mendongeng sebuah kegiatan belajar yang menyenangkan.

Namun tidak bisa dipungkiri para pengasuh atau orangtua masih sering menyajikan dongeng‐dongeng yang makna ceritanya seperti cerita “Si Kancil”. Cerita tersebut mengisahkan si kancil yang menipu buaya, anjing, dan banyak versi yang lainnya lagi.

Kisah dengan makna demikian yaitu keberhasilan menipu dianggap sebagai prestasi dan tanda kecerdasan. Padahal sesungguhnya, dari makna kisah tersebut dapat menumbuhkan bibit anak yang nantinya ketika besar dan memiliki jabatan dapat berbuat selicik seperti yang dilakukan oleh si kancil untuk mencapai sebuah kesuksesan.

3) Berbohong

Berbohong adalah sebuah kesalahan seriuas yang kadang dianggap sepele oleh pengasuh dan orangtua. Seringkali orangtua mengambil langkah untuk berbohong agar anak tidak menangis. Misalnya ketika orangtua akan pergi tetapi mengatakan ke anak bahwa dirinya tidak akan ke mana‐mana, tetapi kemudian diam‐diam pergi. Orangtua beralasan akan pergi ke rumah sakit padahal ke Mall. Contoh yang paling keliru adalah menyuruh anak mengatakan bahwa ayah‐ibunya tidak ada di rumah ketika ada tamu atau panggilan telepon yang tidak diinginkan. Orangtua juga perlu mengingat janji yang diucapkan ke anaknya agar anak merasa tidak dibohongi. Contoh‐contoh tersebut adalah contoh pengasuhan yang menanamkan nilai buruk yaitu berbohong kepada anak.

4) Labelling

Labelling adalah menempelkan kata sifat tertentu sebagai identitas. Selama ini banyak yang mengetahui bahwa labelling negatif seperti lelet, malas, ngeyel, dll harus dihindari. Padahal adanya labelling positif seperti anak hebat, si pemenang, si cantik, dll sama berbahanya dengan labelling yang negatif. Memberikan labelling positif ke anak akan membuat anak menjadi sombong, terlalu fokus kepada hal, dan suka menyalahkan orang lain ketika mengalami kesulitan. Oleh karena itu solusi yang dapat ditempuh oleh pengasuh atau orangtua dalam mengasuh anaknya adalah dengan memberikan pujian yang efektif kepada anak. Pujian yang efektif meliputi:

Puji perilaku, usaha, dan sikapnya, bukan karakteristik orangnya.

Nyatakan konsekuensi positif dari perilaku tersebut.

Nyatakan dalam kalimat sederhana yang mudah dipahami.

Tampak keimanan untuk siapa/apa anak memelihara perilaku tersebut.

Berikut dipaparkan contoh pujian yang efektif:

Bagus sekali kakak sudah meletakkan sepatu di rak sepulang sekolah, rumah kita jadi rapi, Allah suka pada keindahan.

Wah... kalian berdua bermain dengan akur dan berbagi, mama bahagia kalian saling menghargai dan menyayangi, Tuhan menyayangi orang yang menyayangi sesama.

Di sisi lain, berikut juga dipaparkan contoh pujian yang tidak efektif:

Duh... hebatnya anak ibu yang paling keren sedunia. Sudah besar, pintar merapikan kamar. Jangan seperti kemarin‐kemarin ya, berantakan di mana‐mana, sakit mata ayah melihatnya.

Perlu diperhatikan bahwa dari pujian yang tidak efektif di atas terdapat tiga kesalahan yaitu:

X Memuji karaketristik orangnya bukan perilakunya.

X Berlebihan.

X Diikuti dengan kritikan dan mengungkit kesalahan anak yang telah lalu.

5) Orangtua pelit untuk meminta maaf, berterima kasih, menunjukkan kasih sayang, dan memuji

Anak yang jarang dimintai maaf juga akan sulit meminta maaf. Begitupun pada anak yang tidak pernah mendapatkan ucapan terima aksih dari lingkungannya akan membuat anak sulit menghargai kebaikan ornag lain dan bersyukur atas hal baik yang dialaminya. Selain itu, anak yang tumbuh dengan miskin kasih sayang akan tumbuh menjadi anak dengan jiwa tidak percaya diri dan memiliki empati yang rendah.

Selanjutnya anak yang jarang diberikan pujian akan membuat anak tidak terdorong untuk melakukan hal‐hal baik dan anak merasa berharga di lingkungannya.

6) Fokus pada kekurangan, suka mencela dan mengeluh

Kekeliruan ini sangat berkaitan erat dengan pelitnya ornagtua untuk meminta maaf, berterimakasih, menunjukkan kasih sayang, dan memuji kepada anaknya. Berawal dari kondisi tersebut akhirnya orangtua menjadi cenderung berfokus pada kekurangan dan menyampaikannya dalam bentuk celaan dan keluhan. Tidak jarang keluhan orangtua seperti nyanyian yang membuat anak tidak nyaman dengan situasi di rumah.

Kondisi tersebut, dapat mendorong seisi rumah mencari komunitas di luar rumah . Khususnya anak yang dikhawatirkan akan bergabung dengan komunitas yang dapat memberikan pengaruh negatif kepada anak.

7) Ancaman kosong

Ancaman kosong yang sering dilontarkan oleh pengasuh atau orangtua kepada anak tidak disadari akan menghancurkan nilai pengasuh dan orangtua di mata anaknya sendiri. Jika hal tersebut terjaid maka kata‐kata yang diucapkan oleh pengasuh atau orangtua tidak berharga lagi. Bahkan anak akan tumbuh menjadi anak yang abai, tidak sopan, dan suka melanggar aturan.

Disini dapat dicamkan bahwa kebiasaan mengacam tapi tidak melakukan ancaman tersebut sama parahnya ketika berjanji tetapi tidak ditepati. Sebuah kombinasi berbohong, tidak konsisten, dan lalai menegakkan hukuman atau ancaman akan melahirkan figur pengasuh dan orangtua yang tidak bisa dipercaya sekaligus tidak pantas disegani oleh anak.

Sebenarnya perilaku mengancam bukanlah perilaku yang sebaiknya dilakukan.

Perilaku mengancam sebenarnya menunjukkan diri pengasuh dan orangtua yang lemah terhadap perencanaan membuat aturan. Aturan seharusnya disepakati di depan dan menjadi bagian dalam aturan umum keluarga. Sebainya kegiatan‐kegiatan yang telah direncanakan bersama (liburan, mudik, belanja bulanan, dll) perlu dilakukan briefing singkat sehingga secara mental seluruh keluarga siap menjalani kondisi yang dihadapi.

8) Suka menakut‐nakuti dan menularkan keyakinan yang salah

Kebiasaan pengasuh dan orangtua dalam mengasuh anak adalah suka menakut‐

nakuti anak. Kadang kebiasaan tersebut merupakan wujud rasa malas pengasuh dan orangtua untuk bertindak dan berfikir kreatif.

Pengasuh dan orangtua juga kadang tanpa disadari menularkan keyakinannya yang tidak mendukung optimalisasi kemampuan anak. Misalnya mengatakan “Ayo belajar, Matematika itu susah lho!” Sebenarnya pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pengasuh atau orangtualah yang menganggap matematika itu susah. Jika orangtua berulang‐ulang mengatakan demikian maka secara tidak disadari anak akan ikut meyakini keyakinan orangtuanya tersebut. Jadi kesimpulannya, jika anak dididik dengan cara menakut‐nakuti atau memberikan keyakinan yang keliru maka anak akan tumbuh dewasa dengan rasa takut terhadap banyak hal.

9) Disuapi solusi

Lemahnya kemampuan untuk membimbing anak dalam menemukan solusi membuat orangtua cenderung tergesa‐gesa memberikan solusi terhadap setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak. Anak akan tumbuh dewasa tanpa memiliki kemampuan memecahkan masalah. Ketika anak mengeluh gurunya galak, orangtua langsung menemui kepala sekolah untuk memprotes gurunya atau orangtua mengatakan dengan singkat kepada anak, “Sabar sajalah, guru memang begitu.” Ketika anak mengeluhkan kesulitan memahami pelajaran maka dengan cepat orangtua mencari guru les untuk anaknya di rumah. Ketika anak mulai masuk bangku kuliah, orangtuapun sibuk mencarikan tempat kos ke anak, menghitung jarak kos ke kampus, dll. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perhatian dan dukungan orangtua tersebut, namun orangtua harus membiasakan anaknya untuk melakukan sendiri aktivitas apa yang masih memungkinkan dilakukan oleh anak sendiri meskipun pelaksanaannya masih di bawah pengawasan orangtua.

10) Pembiaran

Orangtua perlu waspada dan tidak abai ketika anak mulai mencoba‐coba perilaku seperti suka mengeluarkan kata‐kata kotor atau makian, merusak, mengambil hak orang lain, hingga penyimpangan seksual. Sebaiknya orangtua menegur secara tegas namun tidak perlu marah‐marah berkepanjangan. Misalnya ketika anak bersikeras membawa pulang maianan temannya, orangtua harus dengan tegas meminta anak untuk mengalikan mainan tersebut walaupun si anak meraung‐raung. Kadang juga orangtua teman yang memiliki permaian tersebut tidak tega dan membiarkan mainannya di bawah pulang, namun orangtua disini harus tetap konsisten dengan tegurannya dan memberikan pengertian kepada orangtua teman bahwa jika ingin dibiarkan untuk membawa pulang mungkin dapat dilakukan pada pertemuan selanjutnya. Ketika saat itu juga anak langsung diiyakan untuk membawa pulang padahal sebelumnya sudah ditegur maka anak akan belajar untuk membentuk kebiasaan baru yaitu jika meminta sesuatu maka lakukan dengan meraung‐raung agar permintaanya dituruti.

11) Fokus pada dunia

Kekeliruan yang paling mendasar dalam pengasuhan lainnya adalah ketika mendidik anak dnegan berfokus pada dunia. Banyak orang tahu bahwa kehidupan akhirat lebih penting dan utama, tetapi kebanyakan baru sampai pada tataran tahu saja sehingga belum diaplikasikan dalam proses pengasuhan anak.

C. Mendidik Anak Prasekolah