Scene pertama adalah scene “Pengumuman Bangkrut”. Scene ini menunjukkan cara Abah memberitahu bahwa dirinya
bangkrut sehingga akan mempengaruhi kehidupan keluarganya. Termasuk akan pindah rumah dan anak-anaknya harus pindah sekolah. Diawal scene ini Euis sudah bertanya bahwa mereka sekeluarga akan tinggal di kampung selamanya serta Ara yang menanyakan maksud bangkrut. Ini menandakan bahwa Abah telah memberitahu soal kebangkrutannya (tidak ditunjukkan dalam scene ini) dan langsung kepada reaksi mereka semua setelah kabar kebangkrutan diberitahu.
Di shot pertama pada scene ini terlihat Abah sudah menampakkan muka yang kurang menyenangkan dan sempat melihat ke arah Emak. Ini petanda bahwa Abah khawatir dan takut tidak bisa menjalani momen ini (pengumuman kebangkrutan kepada anak-anaknya serta merespon atas reaksi mereka) dengan baik sehingga ia membutuhkan kekuatan (pegangan) dari Emak. Emak yang kemudian menatap Abah petanda ia memberi kekuatannya kepada Abah untuk tetap
tenang (tidak gegabah) agar anak-anaknya tetap tenang juga.
Straight angle yang digunakan di setiap shot pada setting 1
menghasilkan petanda tidak adanya penghakiman atas karakter sehingga menimbulkan makna bahwa tiap-tiap karakter yang muncul berperilaku sekehendaknya namun masih dalam tahap terkontrol karena pergerakan kamera yang statis (diam). Pergerakan kamera seperti ini menghasilkan petanda ketenangan, yang artinya adanya usaha Abah dan Emak (sebagai orang tua) untuk menciptakan suasana yang tenang (terkontrol) sebagai penanding momen yang cukup memukul bagi anak-anaknya, terutama Euis yang sudah mengerti bangkrut, sehingga terjadi keseimbangan.
Menurut Stoner, kepemimpinan itu adalah proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan.1 Penciptaan suasana ketenangan dengan sikap Abah seperti yang dijelaskan di atas, ditambah dengan dukungan Emak, adalah tujuan Abah untuk mengatur anak-anaknya sedemikian baik agar tetap stabil dalam menghadapi kondisi keluarganya yang sedang signifikan berubah. Disini usaha Abah untuk mencontohkan kepada anak-anaknya agar bisa bersabar dan menerima keadaan dengan baik adalah untuk kebaikan anak-anaknya. Berarti usaha Abah ini merupakan usaha sebagai pemimpin yang bertanggungjawab untuk kebaikan anak-anaknya. Sebagaimana perintah sabar dalam surat Luqman ayat 17:
1 T. Hani Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, (Yogyakarta: BPFE, 2008), hal. 28.
...
َو
ِروُمُْلْا ِمََْع ْنِم َكِلَٰذ َّنِإ ۖ َكَباَصَأ اَم ٰىَلَع ِْبِْصا
Artinya: “…Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Q.S. Luqman [31]: 17)
Shot ketiga dari scene ini adalah reaksi pertama kedua putri
Abah, Euis (13 tahun) dan Ara (6 tahun). Ada dua reaksi yang berbeda. Ara yang polos, bisa tenang namun bingung karena Euis yang bereaksi terkejut. Dua reaksi yang bertolak belakang membuat Abah memutuskan untuk memberitahu Ara terlebih dahulu soal apa yang akan terjadi padanya, yakni ia akan pindah sekolah.
Memberi penjelasan Ara cukup mudah. Beda dengan Euis. Abah tahu bahwa pada usianya, Euis punya potensi untuk memiliki pendirian yang bisa saja membawanya kepada pemberontakan. Oleh sebab itu, saat Ara sudah ke kamarnya, Abah dan Emak, masing-masing di close-up untuk menunjukkan ekspresi ketegangan dan juga persiapan diri untuk memberitahu satu hal ke Euis.
Abah dan Emak sudah memutuskan Euis untuk sekolah di sekolah yang tidak sebagus Ara (namun tidak buruk juga). Keputusan ini diambil karena dirasa Euis sudah lebih dewasa, lebih bisa beradaptasi dan lebih bisa memahami keadaan ekonomi keluarganya saat ini, dibanding Ara. Hal ini seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada putranya Nabi Ismail yang tercantum dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 102:
َم ْرُظْناَف َكَُبَْذَأ ِ نَّأ ِماَنَمْلا ِفِ ٰىَرَأ ِ نِّإ ََّنَُ ب َيَ َلاَق َيْعَّسلا ُهَعَم َغَلَ ب اَّمَلَ ف
اَذا
َمْؤُ ت اَم ْلَعْ فا ِتَبَأ َيَ َلاَق ۚ ٰىَرَ ت
يِرِباَّصلا َنِم َُّللَّا َءاَش ْنِإ ِنُّدِجَتَس ۖ ُر
َن
Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (Q.S.
Ash-Shaffat [37]: 102)
Ayat di atas menceritakan bahwa Nabi Ibrahim mendapat perintah Allah lewat mimpi untuk menyembelih Ismail. Namun, dalam proses pemberitahuannya, Nabi Ibrahim menunggu hingga waktu yang tepat dan dengan metode dialog. Sama seperti Abah yang menunggu waktu yang tepat untuk memberi kabar yang kurang menyenangkan, baik bagi dirinya maupun Euis. Selain itu, metode dialog sebenarnya juga Abah terapkan. Karena Abah sempat membiarkan anak-anaknya bereaksi dan tidak menahan maupun menyalahkan reaksi mereka. Karena tujuan metode dialog ini adalah untuk memberi kesempatan yang sama dari semua pihak untuk mengatakan pendapatnya. Namun memang Euis tak banyak bicara. Pun hal ini karena Abah dan Emak yang memberitahu mengenai kebangkrutan dan kepindahan sekolah Euis dengan tutur kata yang tepat.
Jika dilihat dari konteks scene ini, Abah menggunakan teknik qaulan baligha (ااغيِلَب الً ْوَق) dan qaulan layyinan (اانِ يَل الً ْوَق).
dan tidak berbelit-belit.2 Sedangkan qaulan layyinan memiliki makna kata-kata yang lemah lembut, suara yang enak didengar, sikap yang bersahabat, dan perilaku yang menyenangkan. 3
Qaulan baligha ada pada saat Abah berkata “kita akan menetap disini” dan “keadaan kita kan lagi susah, jadi Abah sama Emak minta Euis buat ngalah dulu sama Ara”. Ini adalah dua pesan
penting yang ingin Abah sampaikan. Tanpa bertele-tele, Abah menyampaikan dua hal tersebut diawal. Kemudian qaulan
layyinan ada pada kelemah-lembutan Abah dan Emak saat
berbicara serta kata-kata yang mendukung seperti “Abah sama
Emak yakin kalo Euis itu pinter, jadi Euis bisa dimana aja”, “Emak sama Abah juga liat sekolahnya ya Bah ya? sekolahnya bagus, guru-gurunya juga baik.”, dan “ya teh ya?”.
Di paradigma setting 2, diperlihatkan bahwa hari pertama Euis masuk sekolah barunya ditemani Abah. Dengan ukuran
frame FS-Two Shot, (ini) petanda bahwa dua subjek (Abah dan
Euis) ini sedang terkoneksi, yakni Abah sedang memberi kekuatan kepada Euis. Hari pertama sekolah di sekolah baru bagi remaja adalah suatu tantangan yang cukup mengkhawatirkan. Dan turunnya hujan adalah penanda atas tantangan tersebut. Namun Euis sudah sedia payung. Payung ini menghasilkan petanda kesiapan Euis ditambah dengan elusan
2 Mubasyaroh, “Strategi Dakwah Persuasif dalam Mengubah Perilaku”, Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol. 11 No. 2, 2017, hal. 320.
3 Mubasyaroh, “Strategi Dakwah Persuasif dalam Mengubah Perilaku”, Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol. 11 No. 2, 2017, hal. 319.
Abah sebagai dukungan. Selain itu, kesiapan Euis ditandai juga dengan sedikit low angle yang memberi kesan subjek (Euis) memiliki sedikit kekuatan dalam menghadapi tantangan ini.
Kesiapan Euis sebelum memasuki sekolah baru ini sebenarnya ditunjukkan pada paradigma setting 1 yang ketiga. Saat Emak menanyakan kesiapan Euis, muncul frame MCU untuk menangkap ekspresi Euis yang semula termenung kemudian mengangguk. Hal ini menandai Euis masih dalam proses menerima (ikhlas). Kemudian straight angle pada
one-shot Euis ini menghasilkan petanda bahwa Abah dengan
bantuan Emak yang berhasil membuat suasana tetap tenang dan Euis bisa mengendalikan emosinya (stabil).
Scene selanjutnya adalah scene “Euis Izin Main di Kota”.
Sebagai pemimpin keluarga yang baru saja mengalami penurunan kondisi ekonomi secara mendadak, ternyata mempengaruhi Abah menjadi pemimpin yang kurang demokratis dan pemarah. Contohnya saat Euis izin ingin ke Kota bertemu teman-teman Jakartanya di scene “Euis Izin Main di Kota”. Euis sudah sangat sopan di awal. Ia bahkan izin sebulan sebelumnya. Serta Euis juga berjanji akan jualan lebih rajin. Namun tanpa alasan yang jelas, Abah menolak perizinan Euis.
Dari scene “Euis Izin Main di Kota”, shot pertama adalah MS-three shot, yang mana memberikan petanda bahwa adanya dialog antar Abah, Emak dan Euis. Three-shot ini (di scene ini) selalu dalam keadaan straight angle yang menghasilkan petanda tidak ada penghakiman kepada siapapun. Hal ini
dikarenakan adanya Emak sebagai penengah (penyeimbang) atas ketimpangan kekuatan antara Abah yang (di scene ini) selalu merasa lebih berkuasa dibanding anaknya, Euis. Ketimpangan ini diperkuat (dalam scene ini) ketika single-shot Euis yang menghadap Abah selalu dengan high angle, beda dengan single-shot Euis yang menghadap Emak (straight
angle). Single-shot Abah yang menghadap ke Euis pun selalu
dengan low angle.
Alasan pertama Abah menolak perizinan Euis masih bisa ditepis dengan jawaban Euis dan solusi dari Emak. Sehingga
straight angle masih bertahan di shot ini. Akan tetapi saat di shot selanjutnya, Abah mulai melarang dengan alasan yang
tidak bisa Euis terima sehingga Euis sudah mulai kesal dengan sikap Abah. Drama sudah meningkat. Euis dan Abah sudah sama-sama di close-up. Euis di shot dengan high angle dan Abah di shot dengan low angle. Ini petanda kalau adanya ketimpangan kekuatan antara Abah dan Euis serta penunjuk bahwa keputusan ada di tangan Abah sebagai pemimpin keluarga. Sampai akhirnya Euis terdiam dan pergi ke kamarnya. Di shot terakhir, diperlihatkan Emak dengan CU untuk menunjukkan bahwa Emak kasihan pada Euis dan heran terhadap Abah. Ini berarti ada ketidaksamaan pendapat antara Emak dan Abah. Ternyata di adegan selanjutnya, alasan Abah tidak ingin mudah menuruti kemauan anaknya untuk mencegah kemanjaan sekaligus, di kondisi Abah yang sedang tidak bisa mencari nafkah (karena sedang tidak bisa berjalan), sehingga Emak (lagi hamil) yang menggantikan, membuat Abah merasa
lalai menjadi pemimpin keluarga. Namun Emak kemudian berhasil menenangkan Abah dan berkata “Emak ga pernah
nyesel”. Emak disini menstabilkan Abah yang sedang dalam
kondisi labil atas identitasnya sebagai pemimpin keluarga yang mempengaruhi sikapnya terhadap anak-anaknya.
Dari dua scene (“Pengumuman Bangkrut” dan “Euis Izin Main di Kota”) di atas dapat dilihat bahwa peran ayah sebagai pemimpin digambarkan dengan pemegang atas keputusan yang terjadi pada keluarga. Namun, menjadi yang demokratis dan dengan menggunakan perkataan-perkataan serta cara berbicara yang tepat (seperti qaulan baligha dan qaulan layyinan di pembahasan sebelumnya, maupun lainnya) adalah ciri peran ayah yang sejalan dengan ajaran Islam. Dan dari dua scene ini pun terlihat perbedaan reaksi dari sang anak bahwa ketika sang ayah berperan sebagai pemimpin baginya dengan cara yang islami (sesuai ajaran Islam), maka potensi reaksi anak ke arah yang lebih baik lebih besar dibandingkan jika sang ayah menjadi pemimpin yang tanpa aturan atau sekehendaknya (tidak islami)
B. Peran Ayah sebagai Penyedia Kebutuhan Ekonomi