BAB IV KONSEKUENSI HUKUM DARI PERATURAN OTORITAS
B. Peranan Notaris sebagai profesi penunjang Pasar Modal dalam
1. Notaris sebagai Profesi Penunjang dalam Pasar Modal
Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 dikenal adanya profesi penunjang pasar modal. Profesi penunjang pasar modal memiliki fungsi untuk memberikan pendapat dan penilaian bagi pemodal atau investor dalam mengambil keputusan investasinya. Pasal 63 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 menyebutkan, profesi penunjang pasar modal terdiri dari akuntan, konsultan hukum, penilai dan notaris. Sesuai dengan konteks penulisan tesis ini maka yang menjadi fokus utama adalah notaris namun oleh karena itu untuk profesi penunjang pasar modal lainnya tidak lagi dijelaskan dalam penulisan tesis ini.
Notaris merupakan profesi hukum dan dengan demikian profesi notaris adalah suatu profesi mulia (nobile officium). Disebut sebagai nobile officium dikarenakan profesi notaris sangat erat hubungannya dengan kemanusiaan karna akta yang dibuat oleh notaris dapat menjadi alat bukti hukum atas status harta benda, hak dan kewajiban seseorang. Kekeliruan dalam pembuatan akta tersebut dapat menyebabkan hilangnya hak seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban.296
294Pasal 21 ayat (5) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
295Pasal 21 ayat (9) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
296 Abdul Ghofur Anshori, Lembaga Kenotariatan Indonesia: Prespektif Hukum dan Etika, (Yogyakarta: UII Press, 2009), hal. 7.
Bedasarkan pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 2 Tahun 2014, disebutkan bahwa “notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan memiliki kewenangan lainnya berdasarkan undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.”
“Definisi pasal tersebut terlihat jelas bahwa kewenangan utama dari notaris adalah membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik.”297
Istilah akta otentik dapat ditemukan dalam pasal 1867 dan 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Yang dimaksud dengan akta otentik yaitu:298
a. Akta itu harus dibuat oleh (door) atau di hadapan (ten overstaan) seorang pejabat umum.
b. Akta itu harus dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang.
c. Pegawai umum (pejabat umum) oleh atau di hadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta tersebut.
Dalam kaitannya dengan pasar modal, notaris sebagai profesi penunjang dalam pasar modal mempunyai tugas dan fungsi yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan profesi penunjang lainnya.Notaris sebagai salah satu profesi penunjang pasar modal diberi kewenangan untuk membuat akta otentik apapun yang berkaitan dengan kegiatan pasar modal seperti penyesuaian anggaran dasar perseroan terbatas terbuka atau emiten, perusahaan efek serta kontrak-kontrak penting seperti Kontrak Insvestasi Kolektif (KIK), kontrak penjaminan emisi atau akta penting seperti Akta Pembubaran dan Likuidasi Reksa Dana.
297 Herlien Budiono, Dasar Teknik Pembuatan Akta Notaris, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013), hal. 1.
298Pasal 1867 dan 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
“Selain itu, jasa Notaris sebagai profesi penunjang pasar modal, dalam aktivitas pasar modal, diperlukan pula dalam hal-hal antara lain :
a. Membuat berita acara Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan menyusun pernyataan keputusan RUPS, baik untuk persiapan go public maupun RUPS setelah go public.
b. Meneliti keabsahan hal-hal yang menyangkut penyelenggaraan RUPS, seperti kesesuaian dengan anggaran dasar perusahaan, tata cara pemanggilan untuk RUPS dan keabsahan dari pemegang saham atau kuasanya untuk menghadiri RUPS.
c. Meneliti perubahan anggaran dasar tidak terlepas materi pasal-pasal dari anggaran dasar yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan diperlukan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian pasal-pasal dalam anggaran dasar agar sejalan dan memenuhi ketentuan menurut peraturan di bidang pasar modal dalam rangka melindungi investor dan mayarakat.”299
Untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai notaris pasar modal, Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 telah mensyaratkan untuk dapat melakukan kegiatan di pasar modal profesi penunjang pasar modal tersebut wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepem (saat ini Otoritas Jasa Keuangan).
Pendaftaran notaris sebagai profesi penunjang pasar modal ini merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu dengan beberapa persyaratan sebagaimana surat keputusan yang dikeluarkan oleh Peraturan Nomor VIII.D.1 lampiran Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-37/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996.
Dalam peraturan tersebut telah ditetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi notaris yakni antara lain:
a. telah diangkat sebagai Notaris oleh Menteri Kehakiman dan telah diambil sumpahnyasebagai Notaris dari instansi yang berwenang;
b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukantindak pidana di bidang keuangan;
299Tan Thong Kie, Serba Serbi Praktek Notaris, (Jakarta: Ichtiar Baru, 2001), hal. 30.
c. memiliki akhlak dan moral yang baik;
d. wajib memiliki keahlian di bidang Pasar Modal, dan persyaratan keahlian dapat dipenuhimelalui program latihan yang diakui Bapepam;
e. sanggup secara terus menerus mengikuti program Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL)di bidang kenotariatan dan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal;
f. sanggup melakukan pemeriksaan sesuai dengan Peraturan Jabatan Notaris (PJN) danKode Etik Profesi, serta senantiasa bersikap independen;
g. telah menjadi atau bersedia menjadi anggota Ikatan Notaris Indonesia (INI); dan
h. bersedia untuk diperiksa oleh Ikatan Notaris Indonesia atas pemenuhan Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi dalam rangka melaksanakan kegiatannya.
Permohonan notaris sebagai profesi penunjang pasar modal diajukan kepada BAPEPAM-LK (saat ini Otoritas Jasa Keuangan) dalam rangkap 4 (empat) dengan menggunakan formulir yang telah ditentukan dalam peraturan, dimana permohonan sebagaimana tersebut diatas harus disertai dengan dokumen sebagai berikut:
a. Nomor Pokok Wajib Pajak;
b. Surat keputusan pengangkatan selaku Notaris dari Menteri Kehakiman dan Berita Acara Sumpah Notaris dari instansi yang berwenang;
c. Surat pernyataan bahwa Notaris tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan;
d. Sertifikat program pelatihan di bidang Pasar Modal yang diakui Bapepam;
e. Surat pernyataan bahwa Notaris sanggup mengikuti secara terus menerus programPendidikan Profesi Lanjutan (PPL) di bidang kenotariatan dan peraturan perundangundangandi bidang Pasar Modal;
f. Surat pernyataan bahwa Notaris sanggup melakukan pemeriksaan sesuai dengan PeraturanJabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi, serta senantiasa bersikap independen dalammelakukan kegiatannya;
g. Bukti keanggotaan Ikatan Notaris Indonesia (INI), (jika ada);
h. Surat pernyataan bahwa Notaris bersedia menjadi anggota Ikatan Notaris Indonesia (INI)setelah memperoleh Surat Tanda Terdaftar (STTD) dari Bapepam dan akan menyampaikanbukti keanggotaan tersebut kepada Bepapam; dan
i. Surat pernyataan bahwa Notaris bersedia diperiksa oleh Ikatan Notaris Indonesia (INI)atas pemenuhan Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan Kode Etik Profesi dalam rangkan melaksanakan kegiatannya.
2. Peran Notaris dalam Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Secara umum salah satu kewenangan utama seorang notaris adalah dalam pembuatan akta otentik. Namun seperti yang telah dijelaskan bahwa akta otentik tersebut bukan hanya dapat dibuat oleh notaris namun oleh pejabat umum.Berdasarkan ketentuan dalam pasal 21 ayat (4) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 telah mensyaratkan bahwa setiap perubahan anggaran dasar perseroan tebatas baik tertutup maupun terbuka harus dimuat atau dinyatakan dalam akta notaris dalam bahasa Indonesia.
Bahwa disebut akta notaris, karena akta tersebut sebagai akta otentik yang dibuat di hadapan atau oleh notaris bukan pejabat umum lainnya.300 Dengan demikian sudah dapat dipastikan bahwa setiap akta otentik terkait perubahan anggaran dasar harus dibuat di hadapan atau oleh notaris dan notaris adalah pejabat umum yang diharuskan atau dikehendaki oleh Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 untuk membuat akta otentik terkait perubahan anggaran dasar tersebut.
Dalam bunyi Pasal 21 ayat (4) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 terdapat pula frasa kata “muat” menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) adalah berada di dalamnya, berisi, mengandung. Dengan demikian, bentuk suatu risalah rapat umum pemegang saham perubahan anggaran dasar dapat dibuat dalam bentuk akta relaas atau akta partij.
300 Habib Adjie, Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris, (Bandung: Refika Aditama, 2011), hal. 8.
Akta relaas adalah akta yang dibuat oleh notaris yang berisi berupa uraian notaris yang dilihat dan disaksikan oleh notaris sendiri atas permintaan para pihak, agar tindakan atau perbuatan para pihak yang dilakukan dituangkan ke dalam bentuk akta notaris.Dalam praktek perseroan terbatas terkait risalah RUPS sering disebut akta berita acara rapat dimana notaris yang bersangkutan menyaksikan jalannya RUPS serta menuangkan segala sesuatu yang dibicarakan dan diputuskan dalam RUPS tersebut.301
Akta partij adalah akta yang dibuat di hadapan (ten overstaan) notaris yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak yang diberikan atau yang diceritakan di hadapan notaris.Para pihak berkeinginan agar uraian atai keterangannya dituangkan ke dalam bentuk akta notaris. Dalam praktek perseroan terbatas terkait risalah RUPS sering disebut akta pernyataan keputusan rapat dimana notaris yang bersangkutan tidak menyaksikan jalannya RUPS melainkan hanya menuangkan hasil keputusan RUPS yang dibuat di bawah tangan dalam bentuk akta notaris.302
Peran Notaris di bidang pasar modal di Indonesia diperlukan terutama dalam hubungannya dengan pembuataan dokumen-dokumen tertentu untuk kepentingan pasar modal, termasuk mengenai penyusunan dan perubahan anggaran dasar emiten atau perseroan terbatas terbuka.
Bentuk konkret peranan notaris dalam anggaran dasar emiten atau perseroan terbatas terbuka bukan hanya sebatas dalam menuangkan keinginan para pemegang saham yang kemudian disusun dalam akta anggaran dasar
301G.H.S Lumbang Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, (Jakarta: Erlangga, 1983), hal. 51.
302Ibid.
tersebut. Melainkan notaris berperan penting untuk ikut meneliti anggaran dasar agar tidak terdapat materi pasal-pasal dalam anggaran dasar yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.303
Selain itu notaris juga berperan dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian pasal-pasal dalam anggaran dasar tersebut apabila dikemudian hari terdapat ketentuan-ketentuan baru di bidang pasar modal Indonesia.304
Peran notaris berikutnya adalah mengajukan permohonan persetujuan dan/atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar kepada Menteri Hukum dan HAM RI. Sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa setiap perubahan anggaran dasar mulai berlaku sejak diperolehnya keputusan dan/atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar dari Menteri Hukum dan HAM RI.
Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum Dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar Dan Perubahan Data Perseroan Terbatas (Permen No. 4 Tahun 2014) telah menetapkan bahwa notaris bertidak selaku kuasa dari direksi perseroan untuk mengajukan permohonan persetujuan dan/atau pemberitahuan perubahan anggaran dasar kepada Menteri Hukum dan HAM RI melalui Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) secara elektronik.305
303Irsan Nasrudin, et.al., Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Kencana Media Group, 2004), hal. 94-95.
304Ibid.
305Pasal 1 angka 4 Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014.
Notaris juga berperan dalam melakukan pencetakan, menandatangani dan membubuhi cap jabatan notaris dalam terhadap keputusan menteri mengenai persetujuan perubahan anggaran dasar dan/atausurat penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar.306
3. Tanggungjawab Notaris dalam Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas
Notaris dalam melaksanakan kegiatannya sebagai profesi penunjang pasar modal tidak terlepas dari kewajiban untuk menaati kode etik dan standar profesi.
Hal ini penting karena notaris sebagai individu adalah bagian dari kelompok profesi yang mempunyai norma yang telah ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi tersebut. Kode etik ini ditujukan untuk mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi tersebut.307
Sebagai profesi penunjang pasar modal, salah satu peran notaris yakni terkait perubahan anggaran dasar suatu perseroan yang dilakukan dengan membuat akta notaris. Notaris sebagai pejabat yang berwenang untuk membuat akta terkait perubahan anggaran dasar perseroan terbatas harus dapat mempertimbangkan dan menganalisa dengan cermat dalam proses pembuatan akta tersebut berupa syarat-syarat baik formil maupun administrasi sampai dengan tanggung jawab notaris terhadap bentuk akta tersebut. Selain daripada itu notaris juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta tersebut.308
306Pasal 22 dan 26 Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014.
307Abdulkadir Muhammad, Etikda Profesi Hukum, (Bandung: Citra Aditnya Bakti, 2006), hal. 77.
308Pasal 15 ayat (2) Undang No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
Sehubungan dengan itu, dalam pembuatan akta terkait perubahan anggaran dasar sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) jenis yakni akta relaas dan akta partij. Pertanggung jawaban notaris terhadap kedua jenis akta tersebut sangatlah berbeda.
Dalam jenis Akta relaas, notaris berkewajiban untuk mencatat semua hal yang terjadi dari terkait pelaksanaan RUPS tersebut dan dimuat dalam bentuk akta notaris yang dalam prakteknya dinamakan akta berita acara rapat artinya dapat di simpulkan bahwa risalah RUPS tersebut dibuat oleh notaris. Oleh karena itu notaris bertanggung jawab penuh atas isi dari akta berita acara rapat tersebut.
Terlebih lagi atas pembuatan risalah RUPS dalam bentuk akta notaris tidak disyaratkan untuk ditandatangani oleh ketua rapat dan pemegang saham.309
Berbeda dengan akta relaas, pada akta partij notaris hanya menuliskan keterangan-keterangan dari pihak(-pihak) yang menghadapnya. Dalam prakteknya pembuatan akta jenis relaas ini dilakukan karena risalah RUPS telah dibuat secara bawah tangan dan memberikan kuasa kepada orang tertentu untuk menyatakan kembali isi dari risalah RUPS tersebut ke dalam akta notaris.
Dalam pembuatan akta relaas ini notaris hanya bersifat pasif artinya notaris tidak bertanggung jawab terhadap data-data dan/atau keterangan yang diberikan penghadap dan notaris tidak berwenang untuk menyelidiki keterangan yang disampaikan oleh penghadap.Namun bukan berarti notaris serta merta menuangkan keterangan yang disampaikan oleh penghadap tanpa mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Jika ternyata terdapat keterangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka notaris wajib untuk menolak untuk membuat aktanya.
Penolakan pembuatan akta yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku juga merupakan kewajiban bagi notaris. Dalam
309Pasal 90 ayat (2) Undang-Undang No, 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
pasal 16 ayat (1) huruf e Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (UUJN) telah disebutkan bahwa “Notaris wajib memberi layanan membuat akta sesuai dengan kemauan para pihak karena sudah menjadi kewajiban dan wewenang notaris kecuali ada alasan yang menurut undang-undang untuk menolaknya.”
Apabila notaris membuat akta perubahan anggaran dasar yang terdapat ketentuan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau perubahan anggaran dasar yang dibuat oleh notaris tersebut tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan maka notaris terlah melanggar 2 (dua) peraturan, yaitu UUJN dan kode etik notaris yakni sebagai berikut:
1. Pelanggaran terhadap UUJN a. Pasal 4 ayat (2)
Notaris wajib mengucapkan sumpah/janji di hadapan Menteri Hukum dan HAM RI sebelum menjalankan jabatannya. Dalam sumpah/janji jabatan notaris tersebut, salah satu bunyinya “bahwa saya akan patuh dan setia kepada Negara Republik Indonesia, Pancasila dan Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, Undang-Undang tentang Jabatan Notaris serta peraturan perundang-undangan lainnya”.
b. Pasal 15 ayat (2) huruf e
Notaris mempunyai kewenangan untuk “memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta”.
c. Pasal 16 ayat (1) huruf a
Notaris dalam menjalankan jabatannya wajib bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.
d. Pasal 16 ayat (1) huruf e
Notaris wajib memberi layanan membuat akta sesuai dengan kemauan para pihak karena sudah menjadi kewajiban dan wewenang notaris kecuali ada alasan yang menurut undang-undang untuk menolaknya.
2. Pelanggaran terhadap kode etik notaris
Pasal yang dilanggar dalam kode etik adalah pasal 3 angka 4 yaitu
“bertindak jujur, amndiri, tidak berpihak, penuh rasa tanggung jawab, berdasarkan peraturan perundang-undangan dan isi sumpah jabatan notaris”.
Apabila ada oknum notaris yang dalam membuat perubahan anggaran dasar perseroan terbatas dengan sengaja atau sepengetahuan yang bersangkutan telah melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan maka akibat hukum bagi notaris yang telah melanggar pasal UUJN dikenai sanksi.
Sanksi-sanksi yang diberikan mengacu pada ketentuan pasal 16 ayat (11) UUJN yaitu berupa:
1. Peringatan tertulis;
2. Pemberhentian sementara;
3. Pemberhentian dengan hormat; atau 4. Pemberhentian dengan tidak hormat.310
310 Pasal 16 ayat (11) Undang-Undang No. 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (UUJN)
Pelanggaran terhadap pasal 3 angka 4 kode etik menyebabkan diberinya sanksi-sanksi oleh dewan kehormatan ikatan notaris Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam pasal 6 ayat (1) kode etik yaitu berupa:
a. Teguran;
b. Peringatan;
c. Schorzing (pemecatan sementara) dari keanggotaan perkumpulan;
d. Onzetting (pemecatan) dari keanggotaan perkumpulan;
e. Pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan.
C. Konsekuensi Hukum dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor