BAB III PERUBAHAN PENGATURAN DIREKSI DAN DEWAN
A. Kedudukan Direksi Sebagai Organ Perseroan Terbatas
3. Tugas, wewenang dan Tanggungjawab Direksi
Tugas, wewenang dan tanggug jawab direksi kepada perseroan dan pemegang saham perseroan telah dimulai sejak perseroan memperoleh status badan hukum. Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, direksi harus bertitik
148Pasal 106 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
149Pasal 107 huruf aUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
150 Penjelasan Pasal 107 huruf aUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
tolak dari landasan bahwa tugas dan kedudukan yang diperolehnya adalah berdasarkan prinsip kepercayaan atau fiduciary duty.151 Dalam prinsip fiduciary duty ini sendiri terdapat 2 prinsip utama yang harus selalu menjadi pedoman bagi
direksi perseroan yakni kepedulian dan loyalitas.152
“Teori fiduciary duty adalah suatu kewajiban yang ditetapkan
undang-undang bagi seseorang yang memanfaatkan seseorang dimana kepentingan pribadi seseorang yang diurus oleh pribadi lainnya yang sifatnya hanya hubungan atas-bawahan sesaat.”153
Berdasarkan pasal 92 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 pengurusan perseroan dipercayakan kepada direksi agar dijalankan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan dan lebih jelasnya pasal 97 ayat (1) dan 98 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa “direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun diluar pengadilan”.
Tugas direksi untuk mengurus kegiatan keseharian perseroan memberikan kedudukan unik untuk direksi selaku organ perseroan.Dalam menjalankan tugas tersebut wajib dilakukan dengan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.
Makna dari itikad baik dan penuh tanggung jawab tersebut dalam pelaksanaan pengurusan perseroan dalam doktrin dan praktek hukum memiliki jangkauan yang luas.
151Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 120.
152Julian Velasco, How Many Fiduciary Duties Are There in Corporate Law, dalam Southern California Law Review Vol. 83, University of Southern California.
153 Bismar Nasution, Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Dalam Pengelolaan Perseroan Terbatas Bank, Makalah disajikan dalam seminar sehari “Tanggung Jawab Pengurus Bank dalam Penegakan dan Penanganan Penyimpanan di Bidang Perbankan Menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang-Undang-Undang Perbankan”, diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan Perbankan, Surabaya, 21 Februari 2008.
“Prinsip itikad baik sendiri sering juga disebut dengan istilah The Duty of Good Faith. Dalam konsepsi The Duty of Good Faith terdapat 4 elemen dasar yakni:
1. Subjektif kejujuran atau ketulusan;
2. Tidak adanya pelanggaran terhadap norma kesopanan yang berlaku dalam pelaksanaan bisnis;
3. Tidak adanya pelanggaran terhadap norma-norma dasar perusahaan;
4. Kesetiaan atau loyalitas kepada perusahaan.”154
Sedangkan menurut penjelasan pasal 97 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 yang dimaksud dengan “penuh tanggung jawab” adalah memperhatikan perseroan dengan “saksama dan tekun”. Bertitik tolak dari penjelasan tersebut, kewajiban melaksanakan pengurusan dengan penuh tanggung jawab dapat meliputi aspek sebagai berikut:
1. Wajib saksama dan berhati-hati melaksanakan pengurusan (the duty of the due care)
2. Wajib melasanakan pengurusan secara tekun dan cakap (duty to be diligent and skill).155
Direksi dalam menjalankan pengurusan perseroan harus dilakukan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Pelanggaran terhadap hal ini dapat menyebabkan direksi harus bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan yang timbul akibat kelalaiannya dalam menjalankan tugas pengurusan perseroan156 dan apabila dalam hal anggota direksi terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih, pasal 97 ayat (4) menegakkan prinsip penerapan tanggung jawab secara tanggung renteng.157
154Melvin A. Eisenberg, The Duty of Good Faith in Corporate Law, dalam 31 Del. J.
Corp.L.1, Berkeley Law Scholarship Repository.
155Yahya Harahap, Ibid, hal. 378-382.
156Pasal 97 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
157Pasal 97 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
Apabila salah seorang anggota direksi lalai atau melanggar kewajiban pengurusan, maka setiap anggota direksi sama-sama ikut memikul tanggung jawab secara renteng terhadap kerugian yang dialami perseroan.158
“Namun penerapan prinsip ini dapat disingkirkan bagi anggota direksi perseroan bilamana direksi yang bersangkutan dapat membuktikan hal-hal sebagai berikut:
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan d. telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.”159
Secara umum ketentuan diatas merupakan prinsip business judgment rule yang ditemukan di negara common law. Prinsip ini mendalilkan bahwa seorang direksi tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pribadi atas tindakannya sebagai direksi perseroan apabila direktur tersebut meyakini bahwa tindakan yang dilakukan adalah yang terbaik untuk perseroan dan dilakukan secara jujur, beritikad baik demi kepentingan perseroan.160
Penerapan teori ini mempunyai misi utama yaitu untuk mencapai keadilan khususnya bagi para direksi sebuah perseroan dalam melakukan suatu keputusan bisnis. Selama dan sepanjang direksi melakukan pengurusan dengan itikad baik dan dalam batasan atau koridor serta menurut ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya maka direksi senantiasa dilindungi oleh business judgment rule.161
158Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 384.
159Pasal 97 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
160Binoto Nadapdap, Op. Cit, hal. 97.
161Bismar Nasution, Op. Cit, hal. 10.
Selanjutnya dalam menajalankan pengurusan perseroan kewenangan direksi dalam mewakili perseroan tidak berlaku untuk segala kondisi atau keadaan. Dalam keadaan tertentu, direksi tidak berhak bertindak untuk dan atas nama perusahaan.
“Adapun keadaan di mana direksi tidak berwenang untuk mewakili perseroan terbatas adalah apabila:
b. Terjadi perkara di pengadilan antara perseroan terbatas dengan anggota direksi yang bersangkutan, atau
c. Anggota direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan terbatas.”162
Bagi perseroan terbatas yang memiliki direksi lebih dari 1 (satu) orang, dalam hal ada pertentangan kepentingan antar perseroan terbatas dengan salah satu direksi, maka yang berhak untuk mewakili perseroan terbatas adalah direksi yang tidak mempunyai benturan kepentingan dalam perseroan terbatas.163
Dalam keadaan perseroan terbatas hanya memiliki direksi 1 (satu) orang direksi dan mempunyai benturan kepentingan maka yang berhak mewakili perseroan adalah dewan komisaris atau apabila seluruh anggota direksi dan dewan komisaris mempunyai benturan kepentingan maka yang berhak mewakili perseroan adalah pihak lain yang ditunjuk oleh rapat umum pemegang saham.164
Tanggung jawab anggota direksi selanjutnya ditegaskan kembali pada pasal 104 ayat (2), khususnya dalam hal kepailitan perseroan, di mana hal tersebut terjadi akibat dari kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak cukup
162Pasal 99 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
163Pasal 99 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
164Pasal 99 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
untuk menutupi seluruh kewajiban perseroan maka setiap anggota direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.165
Menurut pasal 104 ayat (3) tanggung jawab tersebut juga berlaku bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.166
“Anggota direksi tidak bertanggung jawab atas kepailitan perseroan bilamana dapat membuktikan bahwa:
a. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.”167
“Berkenaan dengan tanggung jawab direksi ini ditegaskan oleh pasal 97 ayat (6) dan (7) bahwa atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada perseroan. Selain itu, angota direksi lain dan/atau anggota dewan komisaris dapat mengajukan gugatan atas nama perseroan kepada anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada perseroan.”168
B. Kedudukan Dewan Komisaris Sebagai Organ Perseroan Terbatas