TESIS
Oleh
FENDY KUSUMA 147011053/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
FENDY KUSUMA 147011053/M.Kn
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
NO.33/POJK.04/2014 Nama Mahasiswa : FENDY KUSUMA Nomor Pokok : 147011053
Program Studi : KENOTARIATAN
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH)
Pembimbing Pembimbing
(Dr. Mahmul Siregar, SH, MHum) (Dr.T.Keizerina Devi A,SH,CN, MHum)
Ketua Program Studi, Dekan,
(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN) (Prof.Dr.Budiman Ginting,SH,MHum)
Tanggal lulus : 17 Januari 2017
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH Anggota : 1. Dr. Mahmul Siregar, SH, MHum
2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN 4. Dr. Dedi Harianto, SH, MHum
Nim : 147011053
Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU
Judul Tesis : PENYESUAIAN ATAS ANGGARAN DASAR
PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIKELUARKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO. 32/POJK.04/2014 DAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO.33/POJK.04/2014 Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan,
Yang membuat Pernyataan
Nama : FENDY KUSUMA Nim : 147011053
i
dengan diundangkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 32/POJK.04/2014 tentang Rencana dan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Terbuka dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emitmen atau Perusahaan Publik. Kedua Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tersebut dapat dikatakan merupakan penyempurnaan dari Peraturan BAPEPAM-LK Nomor IX.J.1 karena dalam kedua Peraturan Otoritas Jasa Keuangan telah mengakomodir berbagai ketentuan terkait rapat umum pemegang saham, direksi dan dewan komisaris secara detail dan teknis. Dengan diundangkannya kedua peraturan tersebut sudah dapat dipastikan terdapat perubahan ketentuan dalam peraturan tersebut terhadap Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 yang akibat hukumnya perseroan terbatas terbuka harus menyesuaikan anggaran dasarnya terhadap kedua peraturan Otoritas Jasa Keuangan tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam tesis ini adalah tentang perubahan mengenai penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham perseroan terbatas terbuka pasca diundangkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.
32/POJK.04/2014, perubahan pengaturan mengenai direksi dan dewan komisaris pada perseroan terbatas terbuka pasca diundangkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014 dan konsekuensi hukum dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 32/POJK.04/2014 dan No. 33/POJK.04/2014 terhadap anggaran dasar perusahaan terbatas terbuka.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yang bersifat deskriptif analisis. Sumber data yang diperoleh dengan mengumpulkan data sekunder yakni data yang bersumber dari bahan pustaka yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 32/POJK.O4/2014 dan No. 33/POJK.O4/2014 jika dibandingkan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 terdapat beberapa perubahan. Perubahan tersebut dibuat karena menyesuaikan dengan kebutuhan- kebutuhan saat ini dengan tujuan untuk meningkatkan level good corporate governance perusahaan publik dan juga dimaksudkan agar dapat lebih memaksimalkan peranan dari direksi dan dewan komisaris emiten sehingga dengan demikian diharapkan dapat diharapkan akan membawa dampak positif pada keberlangsungan emiten atau perusahaan publik. Konsekuensi dari diundangkannya kedua peraturan tersebut yakni perusahaan publik wajib untuk menyesuaikan kembali anggaran dasarnya dalam kurun waktu 1 (satu) tahun sejak kedua peraturan tersebut diundangkan.
Kata Kunci : Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, Perusahaan Publik
ii
Commisioners by enacting the Financial Service Authority Regulation No.
32/POPJK.04/2014 on the Planning and Organizing Open General Shareholders’
Meeting and the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014 on Board of Directors, and Board of Commisioners of issuer or Public Corporation. The two regulations can be asserted as the completion of BAPEPAM-LK Regulation No.
IX.J.1 because they have accommodated various regulations concerning detailed and technical General Meeting of Shareholders, Board of Directors, and Board of Commisioners. By enacting both regulations, it is certain that there is the amendment in both regulations on Law No. 40/2007; its legal consequence is that a public corporation must adjust its Article of Association both Financial Service Authory regulations. The research problem was about the amendment of Organizing Open General Shareholders’ Meeting of public corporation after the Financial Service Authority Regulation No. 32/POPJK.04/2014 was enacted, the amendment of the regulation on Board of Directors, and Board of Commisioners of public corporation after the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014, and legal consequence of both regulations on the Article of Association of a public corporation.
The method used in this research is judicial normative and descriptive analysis. Sources of data obtained by collecting secondary data including data sourced from library materials that comprise a primary law, secondary law, and tertiary legal materials.
It can be concluded that there are some changes in the the Financial Service Authority Regulation No. 32/POPJK.04/2014 and the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014 when they are compared with Law No. 40/2007.
The changes are made to adjust them to the current needs in order to increase the level of good corporate governance of issuer or public corporation, to maximize the role of board of directors and board of commissioners of issuer or public corporation so that corporation can run positively. The legal consequence od enacting both regulations is that public corporation must readjust it Article of Association within 1 (one) year after both regulations are enacted.
Keywords: Financial Service Authority Regulation, Public Corporation
iii
mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Tesis ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada program studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Adapaun judul tesis yang penulis angkat adalah “PENYESUAIAN ATAS ANGGARAN DASAR PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIKELUARKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO.32/POJK.04/2014 DAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NO.33/POJK.04/2014”.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan di dalam penulisan tesis ini, untuk itu dengan hari terbuka selalu menerima saran dan kritikan dari semua pihak, agar dapat menjadi pedoman di masa yang akan datang.
Selain itu dalam penulisan tesis ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, pengarahan serta saran-saran dari berbagai pihak. Maka daripada itu adalah bijakasana bila pada kesempatan ini saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H.
selaku ketua komisi pembimbing, Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum. dan Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., CN., M.Hum., masing-masing selaku
iv
Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S, C.N, dan Bapak Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum, yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif untuk memperkaya tesis ini.
Rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga juga penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S, C.N, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., CN., M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak dan Ibu Dosen dan seluruh staf/pegawai di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikna bantuan kepada penulis selama ini dalam menjalani pendidikan;
v Corporate Finance Department;
7. Rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi di Magister Kenotariatan, khususnya Group A Reguler angkatan tahun 2014 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Terakhir penulis tidak dapat menyembunyikan rasa syukur atas dukungan penuh keluarga yakni Ayah Iminto Kusuma, Ibu Musika Kirana, Adik Angel Irene Kusuma, S.ST. dan Felix Kusuma yang selalu mendoakan saya dan memberikan dorongan kepada saya untuk terus menggali ilmu pengetahuan.
Akhirnya, tanpa pengertian dan dukungan penuh dari teman teristimewa penulis yakni Christin, B. Biomed Sci akan sulit memastikan selesainya penulisan tesis ini.
Medan, Januari 2017 Penulis
(Fendy Kusuma)
vi
Tempat/Tanggal Lahir : Pematang Siantar, 12 Oktober 1991 Jenis Kelamin : Laki – Laki
Alamat : Jalan Sunggal Komplek Green Mediterania No.
38-I, Kel. Sunggal, Kec. Medan Sunggal Medan- Sumatera Utara
Agama : Buddha
Email : [email protected]
II. DATA ORANG TUA
Ayah : Iminto Kusuma
Ibu : Musika Kirana
III. PENDIDIKAN
Sekolah Dasar : 1997-2002 SD Methodist Pematang Siantar Sekolah Menegah Pertama : 2003-2006 SMP Methodist Pematang Siantar Sekolah Menegah Atas : 2007-2009 SMA Methodist Pematang Siantar Strata – 1 : 2009-2014 Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara
Strata – 2 : 2014-2017 Program Studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara IV. RIWAYAT PEKERJAAN
2014 : PT Medan Fantasi, Medan
2015 – Sekarang : PT Musim Mas, Medan
vii
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR... iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Keaslian Penelitian... 11
F. Kerangka Teori dan konsepsi... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konsepsi... 17
G. Metodologi Penelitian ... 20
1. Jenis Dan Sifat Penelitian ... 21
2. Jenis Data Dan Bahan Hukum ... 22
3. Teknik Pengumpulan Data... 23
4. Analis Data... 24
BAB II PERUBAHAN MENGENAI PENYELENGGARAAN RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIUNDANGKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32/POJK.O4/2014 TENTANG RENCANA DAN PENYELENGGARAAN RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM PERSEROAN TERBATAS TERBUKA ... 26
viii
2. Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham Dalam Pengelolaan Perseroan Terbatas... 29 3. Tanggung Jawab Rapat Umum Pemegang Saham ... 30 B. Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ... 33 1. Tempat, Waktu, dan Pimpinan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham... 33 2. Pemberitahuan, Pengumuman dan Pemanggilan
Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham ... 35 3. Hak Pemegang Saham dan Kehadiran Pihak Lain Dalam
Rapat Umum Pemegang Saham... 37 4. Keputusan, Kuorum Kehadiran dan Kuorum Keputusan
Rapat Umum Pemegang Saham... 38 5. Risalah Rapat Umum Pemegang Saham, Ringkasan
Risalah Rapat Umum Pemegang Saham dan Pengambilan Keputusan di luar Rapat Umum Pemegang Saham ... 43 C. Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan
Terbatas Terbuka Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.O4/2014... 45 1. Tempat, Waktu, dan Pimpinan Penyelenggaraan Rapat
Umum Pemegang Saham ... 48 2. Pemberitahuan, Pengumuman dan Pemanggilan
Penyelenggaraan RUPS ... 50 3. Hak Pemegang Saham dan Kehadiran Pihak Lain Dalam
Rapat Umum Pemegang Saham... 56
ix
D. Perbedaan Pengaturan Penyelenggaraan RUPS Berdasarkan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.O4/2014.... 63
1. Perbedaan Pengaturan Tempat, Waktu, dan Pimpinan Penyelenggaraan RUPS ... 63
2. Perbedaan Pengaturan Pemberitahuan, Pengumuman dan Pemanggilan Penyelenggaraan RUPS ... 64
3. Perbedaan Pengaturan Hak Pemegang Saham dan Kehadiran Pihak Lain Dalam Rapat Umum Pemegang Saham... 65
4. Perbedaan Pengaturan Kuorom Kehadiran dan Kuorum Keputusan RUPS... 66
5. Perbedaan Pengaturan Risalah RUPS dan Ringkasan Risalah RUPS... 67
BAB III PERUBAHAN PENGATURAN DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS PADA PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIUNDANGKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 33/POJK.O4/2014 TENTANG DIREKSI DAN PERSEROAN TERBATAS TERBUKA ... 87
A. Kedudukan Direksi Sebagai Organ Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 ... 87
1. Kedudukan Direksi ... 87
2. Pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi ... 88
3. Tugas, wewenang dan Tanggungjawab Direksi ... 91
B. Kedudukan Dewan Komisaris Sebagai Organ Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 ... 96
1. Kedudukan Dewan Komisaris ... 97
x
C. Pengaturan Direksi dan Dewan Komisaris pada Perseroan Terbatas Terbuka Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa
Keuangan Nomor 33/POJK.O4/2014... 106
1. Direksi... 106
2. Dewan Komisaris... 115
3. Pedoman dan Kode Etik Direksi dan Dewan Komisaris ... 122
D. Perubahan Pengaturan Direksi dan Dewan Komisaris pada Perseroan Terbatas Terbuka Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.O4/2014... 124
1. Direksi... 124
2. Dewan Komisaris... 127
BAB IV KONSEKUENSI HUKUM DARI PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32/POJK.O4/2014 DAN NOMOR 33/POJK.O4/2014 TERHADAP ANGGARAN DASAR PERSEROAN TERBATAS TERBUKA ... 144
A. Anggaran Dasar... 144
B. Peranan Notaris sebagai profesi penunjang Pasar Modal dalam Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Terbuka... 151
C. Konsekuensi Hukum dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 32/POJK.O4/2014 dan Nomor 33/POJK.O4/2014 terhadap Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Terbuka ... 162
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 168
A. Kesimpulan ... 168
B. Saran... 170
DAFTAR PUSTAKA... 173
ii
Commisioners by enacting the Financial Service Authority Regulation No.
32/POPJK.04/2014 on the Planning and Organizing Open General Shareholders’
Meeting and the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014 on Board of Directors, and Board of Commisioners of issuer or Public Corporation. The two regulations can be asserted as the completion of BAPEPAM-LK Regulation No.
IX.J.1 because they have accommodated various regulations concerning detailed and technical General Meeting of Shareholders, Board of Directors, and Board of Commisioners. By enacting both regulations, it is certain that there is the amendment in both regulations on Law No. 40/2007; its legal consequence is that a public corporation must adjust its Article of Association both Financial Service Authory regulations. The research problem was about the amendment of Organizing Open General Shareholders’ Meeting of public corporation after the Financial Service Authority Regulation No. 32/POPJK.04/2014 was enacted, the amendment of the regulation on Board of Directors, and Board of Commisioners of public corporation after the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014, and legal consequence of both regulations on the Article of Association of a public corporation.
The method used in this research is judicial normative and descriptive analysis. Sources of data obtained by collecting secondary data including data sourced from library materials that comprise a primary law, secondary law, and tertiary legal materials.
It can be concluded that there are some changes in the the Financial Service Authority Regulation No. 32/POPJK.04/2014 and the Financial Service Authority Regulation No. 33/POJK.04/2014 when they are compared with Law No. 40/2007.
The changes are made to adjust them to the current needs in order to increase the level of good corporate governance of issuer or public corporation, to maximize the role of board of directors and board of commissioners of issuer or public corporation so that corporation can run positively. The legal consequence od enacting both regulations is that public corporation must readjust it Article of Association within 1 (one) year after both regulations are enacted.
Keywords: Financial Service Authority Regulation, Public Corporation
BAB III
PERUBAHAN PENGATURAN DIREKSI DAN DEWAN KOMISARIS PADA PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA
DIUNDANGKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 33/POJK.O4/2014 TENTANG DIREKSI DAN PERSEROAN
TERBATAS TERBUKA
A. Kedudukan Direksi Sebagai Organ Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007
Sebagai salah satu organ perseroan terbatas, direksi mempunyai kedudukan, kewenangan dan tanggung jawab seperti yang akan dijelaskan berikut ini.
1. Kedudukan Direksi
“Direksi adalah organ perseroan yang diberikan kewenangan dan bertanggung jawab atas pengurusan perseroan serta bertindak atas nama perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.”135Sesungguhnya perseroan adalah sebab keberadaan (raison d’ etre) direksi karena apabila tidak ada perseroan maka tidak ada direksi.
Oleh karena itu sudah sepatutnya direksi mengabdi pada kepentingan perseroan bukan pada kepentingan satu atau beberapa pemegang saham.136 Direksi adalah wakil perseroan selaku persona standi in judicio atau subjek hukum mandiri.Direksi itu bukan wakil pemegang saham.137
Sebagaimana telah dikatakan diatas direksi hanya berhak dan berwenang untuk bertindak atas nama dan untuk kepentingan Perseroan dalam batas-batas yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku dan anggaran
135Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
136Fred B.G. Tumbuan, Mengenal Organ Perseroan Terbatas, (Jakarta: Ikatan Notaris Indonesia, 2007), hal.7.
137Ibid, hal. 10.
dasar. Dengan demikian direksi adalah salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk pengurusan perseroan sesuai dengan tujuan perseroan dan dapat dikatakan bahwa:
1. Direksi adalah trustee bagi perseroan. Sebagai trustee, direksi adalah pemegang kepercayaan dari perseroan sehingga direksi juga bertanggung jawab kepada perseroan sehubungan dengan berkurangnya nilai harta kekayaan perseroan yang dipercayakan untuk diurus olehnya.
2. Direksi adalah agen bagi perseroan dalam mencapai tujuan dan kepentingannya. Sebagai agen, direksi mewakili perseroan dalam setiap hubungan hukum perseroan dengan pihak ketiga. Direksi mengikat perseroan dan bukan pemegang saham perseroan.138
Direksi menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 merupakan suatu organ yang didalamnya terdiri dari satu atau lebih anggota yang dikenal dengan sebutan direktur. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mensyaratkan bahwa anggota direksi haruslah orang perseorangan.139 Ini berarti dalam sistem hukum perseroan Indonesia tidak dikenal adanya pengurusan perseroan oleh badan hukum perseroan lainnya maupun oleh badan usaha lain baik yang berbadan hukum maupun tidak.140
2. Pengangkatan dan pemberhentian anggota direksi
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 terdapat pasal-pasal yang mengatur tentang tata cara pengangkatan dan pemberhentian direksi sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
a. Pengangkatan anggota direksi
138 Gunawan Widjaja, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas: Risiko Hukum Pemilik, Direksi & Komisaris PT, (Jakarta: Forum Sahabat, 2008), hal. 41.
139 Pasal 97 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas..
140Ahmad Yani dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis: Perseroan Terbatas, (Jakarta:
Rajawali Pers, 1999), hal. 99.
Anggota direksi pada dasarnya diangkat oleh RUPS, namun untuk pertama kalinya pengangkatan anggota direksi dilakukan oleh pendiri dalam akta pendirian perseroan terbatas sedangkan untuk masa jabatan anggota direksi ditentukan dalam anggaran dasar perseroan, dan dimulai sejak tanggal ditetapkan dalam keputusan RUPS atau sejak ditutupnya RUPS.141
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 ditentukan bahwa yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah “orang perorangan yang cakap bertindak dalam hukum, tidak pernah dinyatakan pailit oleh pengadilan maupun menjadi anggota direksi atau komisaris perseroan lain yang pernah dinyatakan bersalah telah menyebabkan pailitnya perseroan tersebut dan belum pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan negara dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal pegangkatannya”.142
Direksi dapat diangkat dari pemegang saham ataupun bukan. Menurut Prasetya, pemegang jabatan direksi sekaligus adalah merupakan pemegang saham hanyalah suatu kebetulan. Bahkan di dalam praktik sering dijumpai direksi perseroan adalah orang luar yang benar-benar profesional dalam bidangnya dan bukan sebagai pemegang saham.143
b. Pemberhentian anggota direksi
Anggota direksi perseroan dapat diberhentikan sebelum masa jabatan yang ditentukan dalam anggaran dasar berakhir. Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenal 2 jenis pemberhentian direksi yakni pemberhentian anggota direksi oleh RUPS dan pemberhentian sementara oleh dewan komisaris.
141Pasal 94 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas..
142Pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas..
143Rudy Prasetya, Kedudukan Mandiri dan Pertanggungjawaban dari Perseroan Terbatas, (Surabaya: Airlangga University Press, 1983), hal 17.
Pemberhentian anggota direksi oleh RUPS dapat dilakukan sewaktu-waktu berdasarkan keputusan RUPS dengan menyebutkan alasannya144 “seperti yang bersangkutan tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai anggota direksi yang ditentukan dalam Undang-Undang karena melakukan tindakan yang merugikan perseroan atau karena alasan lain yang dinilai tepat oleh RUPS”145.
Meskipun RUPS mempunyai kewenangan untuk memberhentikan direksi, bukan berarti RUPS dapat semena-mena memecat direksi. Kepada direksi harus diberikan kesempatan untuk membela diri kecuali apabila yang bersangkutan tidak keberatan atas pemberhentian tersebut.146
Keputusan Pemberhentian anggota direksi dapat diambil setelah anggota direksi yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri dalam RUPS dan berlaku efektif sejak ditutupnya rapat atau tanggal keputusan RUPS atau tanggal lain yang ditetapkan dalam RUPS.147
Selain pemberhentian oleh RUPS tersebut di atas, dikenal pula pemberhentian sementara anggota direksi.pemberhentian sementara anggota direksi dilakukan oleh dewan komisaris dengan menyebut alasannya.Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pemberhentian sementara harus diselenggarakan RUPS untuk menentukan apakah RUPS menguatkan keputusan pembehentian tersebut menjadi pemberhentian
144Pasal 105 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
145Penjelasan Pasal 105 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
146Pasal 105 ayat (2) dan (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
147Pasal 105 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
permanen atau mencabut keputusan pemberhentian sementara tersebut. Jika dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari RUPS tidak diselenggarankan, maka pemberhentian sementara anggota direksi tersebut menjadi batal demi hukum dan anggota direksi yang diberhentikan sementara tersebut menjabat kembali sebagai anggota direksi perseroan dengan segala hak dan kewajibannya. Selama masa pemberhentian sementara tersebut, anggota direksi tidak diperkenankan untuk menjalankan tugasnya sebagai anggota direksi.148
c. Pengunduran diri anggota direksi
Pengunduran diri anggota direksi, dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 hanya diatur dalam satu pasal. Menurut pasal ini, tata cara pengunduran diri anggota direksi yang diatur dalam anggaran dasar yakni pengajuan permohonan pengunduran diri dalam jangka waktu tertentu.149 Dengan lampaunya kurun waktu tersebut anggota direksi yang bersangkutan berhenti dari jabatannya tanpa memerlukan persetujuan RUPS150. Dalam pasal ini Undang- Undang memberikan kebebasan kepada perseroan untuk menentukan sendiri jangka waktu tersebut serta tata cara lainnya yang ditentukan oleh RUPS dalam anggaran dasar perseroan.
3. Tugas, wewenang dan Tanggungjawab Direksi
Tugas, wewenang dan tanggug jawab direksi kepada perseroan dan pemegang saham perseroan telah dimulai sejak perseroan memperoleh status badan hukum. Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, direksi harus bertitik
148Pasal 106 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
149Pasal 107 huruf aUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
150 Penjelasan Pasal 107 huruf aUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
tolak dari landasan bahwa tugas dan kedudukan yang diperolehnya adalah berdasarkan prinsip kepercayaan atau fiduciary duty.151 Dalam prinsip fiduciary duty ini sendiri terdapat 2 prinsip utama yang harus selalu menjadi pedoman bagi
direksi perseroan yakni kepedulian dan loyalitas.152
“Teori fiduciary duty adalah suatu kewajiban yang ditetapkan undang-
undang bagi seseorang yang memanfaatkan seseorang dimana kepentingan pribadi seseorang yang diurus oleh pribadi lainnya yang sifatnya hanya hubungan atas- bawahan sesaat.”153
Berdasarkan pasal 92 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 pengurusan perseroan dipercayakan kepada direksi agar dijalankan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan dan lebih jelasnya pasal 97 ayat (1) dan 98 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 menyatakan bahwa “direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun diluar pengadilan”.
Tugas direksi untuk mengurus kegiatan keseharian perseroan memberikan kedudukan unik untuk direksi selaku organ perseroan.Dalam menjalankan tugas tersebut wajib dilakukan dengan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.
Makna dari itikad baik dan penuh tanggung jawab tersebut dalam pelaksanaan pengurusan perseroan dalam doktrin dan praktek hukum memiliki jangkauan yang luas.
151Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 120.
152Julian Velasco, How Many Fiduciary Duties Are There in Corporate Law, dalam Southern California Law Review Vol. 83, University of Southern California.
153 Bismar Nasution, Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris Dalam Pengelolaan Perseroan Terbatas Bank, Makalah disajikan dalam seminar sehari “Tanggung Jawab Pengurus Bank dalam Penegakan dan Penanganan Penyimpanan di Bidang Perbankan Menurut Undang- Undang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Perbankan”, diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan Perbankan, Surabaya, 21 Februari 2008.
“Prinsip itikad baik sendiri sering juga disebut dengan istilah The Duty of Good Faith. Dalam konsepsi The Duty of Good Faith terdapat 4 elemen dasar yakni:
1. Subjektif kejujuran atau ketulusan;
2. Tidak adanya pelanggaran terhadap norma kesopanan yang berlaku dalam pelaksanaan bisnis;
3. Tidak adanya pelanggaran terhadap norma-norma dasar perusahaan;
4. Kesetiaan atau loyalitas kepada perusahaan.”154
Sedangkan menurut penjelasan pasal 97 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 yang dimaksud dengan “penuh tanggung jawab” adalah memperhatikan perseroan dengan “saksama dan tekun”. Bertitik tolak dari penjelasan tersebut, kewajiban melaksanakan pengurusan dengan penuh tanggung jawab dapat meliputi aspek sebagai berikut:
1. Wajib saksama dan berhati-hati melaksanakan pengurusan (the duty of the due care)
2. Wajib melasanakan pengurusan secara tekun dan cakap (duty to be diligent and skill).155
Direksi dalam menjalankan pengurusan perseroan harus dilakukan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Pelanggaran terhadap hal ini dapat menyebabkan direksi harus bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan yang timbul akibat kelalaiannya dalam menjalankan tugas pengurusan perseroan156 dan apabila dalam hal anggota direksi terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih, pasal 97 ayat (4) menegakkan prinsip penerapan tanggung jawab secara tanggung renteng.157
154Melvin A. Eisenberg, The Duty of Good Faith in Corporate Law, dalam 31 Del. J.
Corp.L.1, Berkeley Law Scholarship Repository.
155Yahya Harahap, Ibid, hal. 378-382.
156Pasal 97 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
157Pasal 97 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
Apabila salah seorang anggota direksi lalai atau melanggar kewajiban pengurusan, maka setiap anggota direksi sama-sama ikut memikul tanggung jawab secara renteng terhadap kerugian yang dialami perseroan.158
“Namun penerapan prinsip ini dapat disingkirkan bagi anggota direksi perseroan bilamana direksi yang bersangkutan dapat membuktikan hal-hal sebagai berikut:
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan d. telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.”159
Secara umum ketentuan diatas merupakan prinsip business judgment rule yang ditemukan di negara common law. Prinsip ini mendalilkan bahwa seorang direksi tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pribadi atas tindakannya sebagai direksi perseroan apabila direktur tersebut meyakini bahwa tindakan yang dilakukan adalah yang terbaik untuk perseroan dan dilakukan secara jujur, beritikad baik demi kepentingan perseroan.160
Penerapan teori ini mempunyai misi utama yaitu untuk mencapai keadilan khususnya bagi para direksi sebuah perseroan dalam melakukan suatu keputusan bisnis. Selama dan sepanjang direksi melakukan pengurusan dengan itikad baik dan dalam batasan atau koridor serta menurut ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya maka direksi senantiasa dilindungi oleh business judgment rule.161
158Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 384.
159Pasal 97 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
160Binoto Nadapdap, Op. Cit, hal. 97.
161Bismar Nasution, Op. Cit, hal. 10.
Selanjutnya dalam menajalankan pengurusan perseroan kewenangan direksi dalam mewakili perseroan tidak berlaku untuk segala kondisi atau keadaan. Dalam keadaan tertentu, direksi tidak berhak bertindak untuk dan atas nama perusahaan.
“Adapun keadaan di mana direksi tidak berwenang untuk mewakili perseroan terbatas adalah apabila:
b. Terjadi perkara di pengadilan antara perseroan terbatas dengan anggota direksi yang bersangkutan, atau
c. Anggota direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan terbatas.”162
Bagi perseroan terbatas yang memiliki direksi lebih dari 1 (satu) orang, dalam hal ada pertentangan kepentingan antar perseroan terbatas dengan salah satu direksi, maka yang berhak untuk mewakili perseroan terbatas adalah direksi yang tidak mempunyai benturan kepentingan dalam perseroan terbatas.163
Dalam keadaan perseroan terbatas hanya memiliki direksi 1 (satu) orang direksi dan mempunyai benturan kepentingan maka yang berhak mewakili perseroan adalah dewan komisaris atau apabila seluruh anggota direksi dan dewan komisaris mempunyai benturan kepentingan maka yang berhak mewakili perseroan adalah pihak lain yang ditunjuk oleh rapat umum pemegang saham.164
Tanggung jawab anggota direksi selanjutnya ditegaskan kembali pada pasal 104 ayat (2), khususnya dalam hal kepailitan perseroan, di mana hal tersebut terjadi akibat dari kesalahan atau kelalaian direksi dan harta pailit tidak cukup
162Pasal 99 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
163Pasal 99 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
164Pasal 99 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
untuk menutupi seluruh kewajiban perseroan maka setiap anggota direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.165
Menurut pasal 104 ayat (3) tanggung jawab tersebut juga berlaku bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan.166
“Anggota direksi tidak bertanggung jawab atas kepailitan perseroan bilamana dapat membuktikan bahwa:
a. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.”167
“Berkenaan dengan tanggung jawab direksi ini ditegaskan oleh pasal 97 ayat (6) dan (7) bahwa atas nama perseroan, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari seluruh saham dengan hak suara dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan negeri terhadap anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada perseroan. Selain itu, angota direksi lain dan/atau anggota dewan komisaris dapat mengajukan gugatan atas nama perseroan kepada anggota direksi yang karena kesalahan atau kelalaianya menimbulkan kerugian pada perseroan.”168
B. Kedudukan Dewan Komisaris Sebagai Organ Perseroan Terbatas Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007
165Pasal 104 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
166Pasal 104 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
167Pasal 104 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
168Pasal 97 ayat (6) dan (7) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
1. Kedudukan Dewan Komisaris
Komisaris adalah suatu organ perusahaan yang mengawasi pelaksanaan tugas direksi dan jalannya perusahaan pada umumnya, serta memberikan nasehat kepada direksi maupun kepada pemegang saham/Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Keberadaan komisaris dalam setiap perseroan terbatas merupakan suatu keharusan dimana berdasarkan ketentuan pasal 108 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 dewan komisaris minimal terdiri dari 1 (satu) orang.
Bahkan terhadap perseroan terbatas tertentu, ada keharusan untuk memiliki paling sedikit 2 (dua) orang komisaris. Adapun perseroan terbatas yang wajib memiliki paling sedikit 2 (dua) orang komisaris adalah sebagai berikut:
a. Berkaitan dengan menghimpun dan/atau mengelola dana masyarakat;
b. Perseroan terbatas yang menerbitkan surat pengakuan utang kepada masyarakat;
c. Perseroan terbatas terbuka.169
Kewajiban bagi perseroan terbatas tertentu wajib memiliki komisaris lebih dari 1 (satu) orang, pertimbangannya adalah untuk mengimbagi antara jumlah anggota direksi yang diwajibkan dengan jumlah anggota komisaris yang diwajibkan pula oleh undang-undang, sehingga dapat memudahkan jalannya pengawasan.
Selain itu melalui pasal 120 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, dimungkinkan adanya 1 (satu) orang atau lebih komisaris independen dan 1 (satu)
169Pasal 108 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
orang komisaris utusan. Komisaris independen adalah komisaris dari pihak luar yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris lain. Komisaris utusan adalah anggota dewan komisaris yang ditunjuk berdasarkan keputusan dewan komisaris.170
Dewan komisaris yang terdiri atas lebih dari 1 (satu) orang anggota merupakan majelis. Ini yang membedakan dewan komisaris dengan prinsip kolegial pada direksi. Menurut pasal 108 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, setiap anggota dewan komisaris tidak dapat bertindak sendiri-sendiri ketika menjalankan tugasnya, melainkan harus berdasarkan keputusan dewan komisaris.171
Dewan komisaris berkedudukan sebagai badan supervisi atau non esekutif, yang tidak berhak mewakili perseroan. Meskipun anggaran dasar dapat menetapkan bahwa terhadap perbuatan hukum tertentu yang akan dilakukan direksi diperlukan persetujuan dewan komisaris, persetujuan tersebut bukan berarti pemberian kuasa dan bukan pula pengurusan.172 Keberadaan dewan komisaris harus dilihat sebagai alat perseroan untuk mengawasi tindakan direksi dalam menjalankan pengurusan, khususnya terkait dengan pengelolaan kekayaan perseroan.173
170Camelia Manik, “Implikasi Adanya Komisaris Independen dalam Perseroan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007”, dalam Jurnal Hukum Bisnis, Vol 26/No.1/Tahun 2007, (Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis), hal. 31.
171Sudargo Gautama, Komentar Atas Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995: Perbandingan dengan Peraturan Lama, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 98.
172Fred B.G. Tumbuan, Mencermati Kewenangan dan Tanggung Jawab Direksi, Komisaris dan Pemegang Saham Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1995, (Jakarta: Pusat pengkajian Hukum, 2006), hal 207.
173T. Gayus Lumbuun, Tanggung Jawab Direksi dan Komisaris dalam Hukum Korporasi, makalah pada seminar nasional “Pertanggungjawaban Hukum Korporasi dalam Konteks Good
Dewan komisaris diangkat oleh RUPS untuk jangka waktu tertentu dan dapat diberhentikan sewaktu-waktu oleh RUPS. Tata cara tentang pengangkatan, penggantian dan pemberhentian dewan komisaris diatur dalam anggaran dasar perseroan. Meskipun diangkat oleh RUPS, dewan komisaris tidak dapat diperintah oleh RUPS dan independensinya dijamin oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 serta keberadaanya untuk kepentingan perseroan dan bukan kepentingan pemegang saham.174
2. Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota Dewan Komisaris
Anggota dewan komisaris untuk pertama kalinya diangkat oleh pendiri dalam akta pendirian perseroan terbatas. Hal ini ditegaskan dalam pasal 111 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 di mana pendiri langsung menetapkan pengangkatannya dalam akta pendirian perseroan terbatas sesuai dengan ketentuan pasal 8 ayat (2)Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 dan untuk selanjutnya pengangkatannya akan dilakukan oleh RUPS.
Syarat untuk dapat diangkat menjadi anggota dewan komisaris yang paling utama adalah orang perorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum, bukan badan hukum seperti perseroan, koprasi atau yayasan. Syarat selanjutnya adalah dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatannya tidak pernah:
a. Dinyatakan pailit;
b. Menjadi anggota direksi atau anggota dewan komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau
Corporate Governance”, diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, di Jakarta, 24 April 2007, hal. 3.
174Fred B.G. Tumbuan, Presentation an Organs of the Perseroan Terbatas According to Law No. 40 Year 2007, makalah pada seminar sehari “Aspek-aspek penting Undang-Undang No.
40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas”, diselenggarakan oleh Peradi di Jakarta, 28 Novemeber 2007, hal 14.
c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan Negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.175
Anggota dewan komisaris diangkat untuk jangka waktu tertentu dan dapat diangkat kembali176 dengan tidak mengurangi kewenangan RUPS untuk memberhentikan anggota dewan komisaris pada setiap waktu sebelum masa jabatannya berakhir. Keputusan untuk memberhentikan anggota dewan komisaris diambil setelah yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri di depan RUPS.177
Keputusan RUPS mengenai pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris, ditentukan atau ditetapkan sendiri dalam keputusan RUPS yang bersangkutan. Apabila dalam keputusan RUPS tidak dicantumkan saat berlakunya pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris maka saat mulai berlakunya atau efektifnya adalah sejak ditutupnya RUPS.178
Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris maupun pencalonan anggota dewan komisaris dianjurkan oleh Pasal 111 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 agar diatur lebih lanjut dalam anggaran dasar untuk melengkapi atau menyempurnakan aturan pokok yang ditentukan dalam undang-undang ini.179
175Pasal 110 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
176Pasal 111ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
177Pasal 119 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
178Pasal 111 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
179Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 449.
Setiap pengangkatan, penggantian, dan pemberhentian anggota dewan komisaris, direksi wajib memberitahukan perubahan tersebut kepada Menteri untuk dicatat dalam daftar perseroan terbatas dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal keputusan RUPS tersebut. Jika telah lewat jangka waktu tersebut belum dilakukan pemberitahuan maka menteri menolak pemberitahuan perubahan susunan dewan komisari tersebut.180
Pengangkatan anggota dewan komisaris yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 110 ayat (1) dan ayat (2) batal karena hukum sejak saat anggota dewan komisaris lainnya atau direksi mengetahui tidak terpenuhinya persyaratan tersebut.181
Dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diketahui, direksi harus mengumumkan batalnya pengangkatan anggota dewan komisaris yang bersangkutan dalam surat kabar dan memberitahukannya kepada menteri.182
Perbuatan hukum yang telah dilakukan oleh anggota dewan komisaris untuk dan atas nama dewan komisaris sebelum pengangkatannya batal, tetap mengikat dan menjadi tanggung jawab perseroan terbatas.183
3. Tugas, Wewenang, dan Tanggungjawab Dewan Komisaris
“Sesuai pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, pada diri dewan komisaris melekat fungsi pengawasan dan fungsi penasihat. Fungsi pengawasan dari dewan komisaris diwujudkan dalam 2 (dua) level, yaitu :
180Pasal 111 ayat (7) dan (8) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
181Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
182Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
183 Pasal 112 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
a. Level performance
Fungsi pengawasan komisaris pada level performance adalah fungsi pengawasan di mana komisaris memberikan pengarahan dan petunjuk kepada direksi perusahaan dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
b. Level Conformance
Fungsi pengawasan komisaris pada level conformance adalah berupa pelaksanaan kegiatan melaksanakan pengawasan selanjutnya agar dipatuhi dan dilaksanakan, baik terhadap pengarahan dan petunjuk yang telah diberikan maupun terhadap ketentuan dalam perundang-undangan yang berlaku.”184
“Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tidak memperinci secara jelas arti kata pengawasan yang merupakan fungsi dari dewan komisaris. Langkah di dalam undang-undang tidak memperinci tersebut dapat dimengerti karena:
a. Makna dari konsep pengawasan itu sendiri by definition memang memiliki arti yang sangat luas;
b. Fungsi pengawasan komisaris berbeda-beda menuruti berbagai jenis perseroan yang masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda- beda;
c. Fungsi pengawasan komisaris berbeda menuruti berbagai jenis maksud dan tujuan perseroan.”185
Namun demikian, dapat disebutkan bahwa tugas utama dari dewan komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan baik mengenai perseroan maupun usaha perseroan dan memberi nasihat kepada direksi.186 Pengawasan dan pemberian nasihat dilakukan untuk kepentingan perseroan terbatas dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan terbatas.
“Dalam melaksankan tugasnya dewan komisaris tunduk pada beberapa prinsip yuridis yang digariskan oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, yaitu:
184Munir Fuady, Perseroan terbatas: Paradigma Baru, (Bandung: Citra Aditya, 2003), hal. 107-108.
185Ibid.
186Pasal 108 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas..
a. Dewan Komisaris merupakan badan pengawas, yaitu sebagai badan supervisi yang mengawasi tindakan direksi dan mengawasi perseroan secara umum.
b. Dewan komisaris merupakan badan independen, tidak tunduk pada kekuasaan siapapun dan melaksanakan tugas semata-mata untuk kepentingan perseroan.
c. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas manajemen (non executive) emskipun dalam batas-batas tertentu merupakan organ pengambil keputusan.
d. Dewan komisaris tidak bisa memberikan instruksi yang mengikat direksi.
Apabila menurut dewan komisaris tindakan direksi telah menyimpang, dewan komisaris berhak untuk memberhentikan sementara direksi.
e. Dewan komisaris tidak dapat diperintah oleh RUPS. Meskipuin diangkat oleh RUPS, independensinya dijamin oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.”187
Berkenaan dengan tanggung jawab dewan komisaris menurut pasal 114 ayat (3), (4), dan (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 setiap anggota dewan komisaris ikut bertanggung jawab atas kerugian perseroan yang timbul akibat lalai atau bersalahnya yang bersangkutan dalam melaksanakan tugasnya dan sebagai majelis berlaku tanggung jawab renteng bagi anggota dewan komisaris.
“Meski demikian, dimungkinkan seorang anggota dewan komisaris tidak bertanggung jawab apabila dia dapat membuktikan:
a. Telah melakukan pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
b. Tidak mempunyai kepentingan pribadi baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan direksi yang mengakibatkan kerugian; dan
c. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.”188
“Menurut pasal 115 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, dalam hal terjadi kepailitan perseroan akibat kesalahan atau kelalaian dewan komisaris menjalankan tugasnya dan kekayaan perseroan tidak cukup
187Munir Fuady, Perlindungan Pemegang Saham Minoritas, (Bandung: Utomo, 2005), hal. 76.
188Pasal 114 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
membayar seluruh kewajibannya, setiap anggota dewan komisaris secara tanggung renteng ikut bertanggung jawab dengan anggota direksi atas kewajiban yang belum dilunasi. Tanggung jawab ini juga berlaku bagi anggota dewan komisaris yang sudah tidak menjabat 5 (lima) tahun sebelum putusan pailit diucapkan.”189
“Tanggung jawab anggota dewan komisaris tersebut dapat terlepas jika dia dapat membuktikan:
a. Kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. Telah melakukan tugas pengawasan dengan itikad baik dan kehati- hatian untuk kepentingan perseroan serta sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan;
c. Tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan oleh direksi yang mengakibatkan kepailitan;
d. Telah memberikan nasihat kepada direksi untuk mencegah terjadinya kepailitan.”190
Apabila diperhatikan ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, adapun yang merupakan tugas dan tanggung jawab dari dewan komisaris adalah sebagai berikut:
a. Melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perseroan terbatas maupun usaha perseroan terbatas, dan memberi nasehat kepada direksi;191
b. Wajib dengan itikad baik, kehati-hatian, dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi;192 c. Ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan terbatas
apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya;193
189Pasal 115 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
190Pasal 115 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
191Pasal 108 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
192Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
193Pasal 114 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
d. Dalam hal dewan komisaris terdiri dari 2 (dua) orang anggota dewan komisaris atau lebih, bertanggung jawab secara tanggug renteng;194
e. Memberikan persetujuan atau bantuan kepada direksi dalam melakukan perbuatan hukum tertentu;195
f. Berdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS, dewan komisaris dapat melakukan tindakan pengurusan perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu.196
Syarat-syarat atau kondisi yang menghilangkan aspek pertanggungjawaban pribadi anggota dewan komisaris di atas bersifat kumulatif, artinya syarat dan kondisi itu harus dipenuhi semua serta tidak bisa hanya salah sebagian diantaranya.
Pemegang saham dapat mengajukan gugatan ke pengadilan negeri terhadap anggota dewan komisaris untuk bertanggung jawab atas kerugian perseroan akibat kesalahan dewan komisaris dengan ketentuan pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara, dan bertindak untuk dan atas nama perseroan.197 4. Hubungan Direksi dengan Dewan Komisaris
Disamping tugas pengawasan dan pemberian nasihat yang dimiliki dewan komisaris, oleh pasal 117 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, diberikan ruang bagi pemegang saham melalui RUPS untuk diatur dalam anggaran dasar bahwa dalam pelaksanaan tugas dan wewenang anggota direksi tertentu harus meminta
194Pasal 114 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
195Pasal 117 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
196Pasal 118 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
197Pasal 114 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
persetujuan dari dewan komisaris.198 Namun hal ini bukan berarti bahwa direksi secara hierarki berada di bawah dewan komisaris sehingga meniadakan kemandirian direksi untuk melakukan tugasnya.199
“Menurut Hasbullah F. Sjawie, kewenangan pemberian persetujuan kepada direksi yang dimiliki oleh dewan komisaris bukan berarti dewan komisaris mengambil alih atau ikut serta menjalankan tugas pengurusan dikarenakan sebagai berikut:
1. Pemberian persetujuan kepada direksi harus dilihat sebagai salah satu bentuk perwujudan pengawasan oleh dewan komisaris;
2. Direksi mempunyai hak untuk menentukan sendiri, apakah rencana perbuatan hukum ynag telah disetujui oleh dewan komisaris itu akan tetap dijalankan atau tidak;
3. Pemberian persetujuan oleh dewan komisaris itu tidak berarti mengambil alih tanggung jawab direksi atas perbuatan hukum yang dilakukannya berdasarkan persetujuan itu;
4. Sesuai ketentuan pasal 117 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 meski anggaran dasar menentukan bahwa suatu perbuatan hukum tertentu yang akan dilaksanakan direksi diperlukan persetujuan dewan komisaris terlebih dahulu dan apabila direksi melakukannya tanpa persetujuan dewan komisaris, perbuatan hukum itu tetap mengikat perseroan. Pemberian persetujuan dewan komisaris kepada direksi masuk kategori pengawasan sebab jika dianggap tindakan pengurusan, peruatanhukum oleh direksi tidak akan mengikat perseroan karena dilakukan dengan tidak sah.”200
C. Pengaturan Direksi dan Dewan Komisaris pada Perseroan Terbatas Terbuka Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.O4/2014
1. Direksi
a. Pengangkatan, Pengunduran Diri dan Pemberhentian Anggota Direksi Direksi Emiten atau perusahaan terbatas terbuka paling kurang terdiri dari 2 (dua) orang anggota direksi dan salah satu diantaranya diangkat menjadi direktur utama atau presiden direktur.201
198Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 2002), hal. 78.
199T. Gayus Lumbuun, Op. Cit, hal. 4.
200Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 139-140.
201Pasal 2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014
Anggota direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS. Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 33/POJK.O4/2014 (POJK No. 33/POJK.04/2014) ditetapkan bahwasannya masa jabatan anggota direksi dalam 1 (satu) periode paling lama 5 (lima) tahun atau sampai dengan penutupan RUPS tahunan pada akhir 1 (satu) periode masa jabatan dimaksud dan dapat diangkat kembali untuk masa jabatan tertentu202mana yang tercapai terlebih dahulu.
“Yang dapat diangkat menjadi anggota direksi adalah orang perorangan yang cakap melakukan perbuatan hukum serta mempunyai akhlak, moral, dan integritas yang baik dan dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatan dan selama menjabat:
i. tidak pernah dinyatakan pailit;
ii. tidak pernah menjadi anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perusahaan dinyatakan pailit;
iii. tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan Negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan; dan
iv. tidak pernah menjadi anggota direksi dan/atau dewan komisaris yang selama menjabat:
a. Pernah tidak menyelenggarakan RUPS tahunan;
b. Pertanggungjawabannya sebagai anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris pernah tidak diterima oleh RUPS atau pernah tidak memberikan pertanggungjawaban sebagai anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris kepada RUPS; dan
c. Pernah menyebabkan perusahaan yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan tidak memenuhi kewajiban menyampaikan laporan tahunan dan/atau laporan keuangan kepada Otoritas Jasa Keuangan.
v. Memiliki komitemen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan;
dan
vi. Memiliki pengetahuan dan/atau keahlian di bidang yang dibutuhkan emiten atau perusahaan publik.”203
202Pasal 3 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014
203Pasal 4 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014
Jangka waktu 5 (lima) tahun di atas menurut Gautama sepertinya merujuk pada suatu kurun waktu yang telah dianggap mampu untuk melupakan dan memaafkan (vergeten en vergeven) perbuatannya.204
Pemenuhan atas persyaratan tersebut wajib dimuat dalam surat pernyataan dan disampaikan kepada emiten atau perusahaan publik serta wajib diteliti dan didokumentasikan oleh emiten atau perusahaan publik.
Dicantumkannya kewajiban untuk menandatangani surat pernyataan yang menyatakan dirinya memenuhi persyaratan pengangkatan direksi pada dasarnya tidak membawa perubahan akibat hukum apa pun. Adanya surat pernyataan di atas adalah semata untuk lebih menguatkan bukti apabila dikemudian hari ditemukan yang bersangkutan tidak memenuhi persyaratan maka berartu yang bersangkutan dapat dinayatakan telah memberikan keterangan palsu.205
Pemenuhan atas syarat-syarat yang ditetapkan OJK bertujuan untuk meningkatakan profesionalitas dari seorang direksi. Tuntutan profesionalisme seorang direksi emiten atau perusahaan terbuka sudah merupakan suatu kebutuhan dalam rangka memberikan jaminan perlindungan kepada para investor.206
Direksi yang professional di bidangnya atau direksi yang mempunyai kemampua manajerial yang andal, diharapkan akan mampu memperjuangkan kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan, salah satu diataranya adalah meraih keuntungan yang diantaranya akan dibagikan kepada pemegang saham.207
204Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 102.
205Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 103
206Nindyo Pramono, Op. Cit., hal. 139.
207Ibid.
“Selain itu syarat tersebut diatas, juga ditentukan bahwasannya anggota direksi hanya dapat merangkap jabatan sebagai anggota direksi paling banyak pada 1 (satu) emiten atau perusahaan publik lain, anggota dewan komisaris paling banyak 3 (tiga) emiten atau perusahaan public lain, dan/atau anggota komite paling banyak pada 5 (lima) komite di emiten atau perusahaan publik dimana yang bersangkutan juga menjabat sebagai anggota direksi atau anggota dewan komisaris. Dengan catatan rangkap jabatan tersebut hanya dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lainnya.”208
Direksi sebagai jabatan yang tidak bersifat permanen. Ada masa untuk mulai menjabat dan ada pula masa untuk mengakhirinya. Selain dapat diberhentikan oleh RUPS, anggota direksi juga dapat mengajukan pengunduran diri atau diberhentikan sementara oleh dewan komisaris sebelum masa jabatannya berakhir.
“Dalam hal anggota direksi mengundurkan diri wajib menyampaikan permohonan pengunduran diri kepada emiten atau perusahaan publik dan emiten atau perusahan publik wajib menyelenggarakan RUPS untuk memutus permohonan pengunduran diri anggota direksi paling lambat 90 (Sembilan puluh) hari setelah diterimanya permohonan pengunduran diri tersebut.”209
Emiten atau perusahaan publik wajib melakukan keterbukaan informasi kepada masyarakat dan menyampaikan kepada otoritas jasa keuangan paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah diterimanya permohonan pengunduran diri direksi dan hasil penyelenggaraan RUPS.210
208Pasal 6 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014
209Pasal 8 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
210Pasal 9 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
Keterbukaan informasi kepada masyarakat bagi perusahaan publik yang sahamnya tercatat pada bursa efek paling sedikit dilakukan melalui situs web emiten atau perusahaan publikdan situs webbursa efek atau 1 (satu) surat kabat harian berbahasa indonesia yang berperedaran nasional sedangkan masyarakat bagi perusahaan publik yang sahamnya tidak tercatat pada bursa efek tidak perlu dilakukan dalam situs web bursa efek.211
“Pemberhentian sementara anggota direksi oleh dewan komisaris wajib diberitahukan secara tertulis kepada anggota direksi yang bersangkutan dengan menyebutkan alasannya.RUPS harus diselenggarakan dalam waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari setelah tanggal pemberhentian sementara untuk mencabut atau menguatkan keputusan pemberhentian sementara tersebut.Dalam RUPS tersebut anggota direksi diberi kesempatan untuk membela diri.”212
“Sejak keputusan pemberhentian sementara dewan komisaris berlaku sampai dengan terdapat keputusan RUPS yang menguatkan atau membatalkan pemberhentian sementara tersebut atau lampaunya jangka waktu keputusan tersebut, anggota direksi yang bersangkutan tidak berwenang untuk menjalankan pengurusan emiten atau perusahaan publik untuk kepentingan emiten atau perusahaan publik sesuai dengan maksud dan tujuan emiten atau perusahaan publik dan mewakili emiten atau perusahaan publik di dalam maupun di luar pengadilan.”213
“Emiten atau perusahaan publik wajib melakukan keterbukaan informasi kepada masyarakat dan menyampaikan kepada otoritas jasa keuangan paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah keputusan pemberhentian sementara dan hasil penyelenggaraan RUPS atau informasi mengenai batalnya pemberhentian sementara oleh dewan komisaris karena tidak terselenggaranya RUPS sampai dengan lampaunya jangka waktu.”214
b. Tugas, Wewenang, dan Tanggungjawab Direksi
Dalam POJK No. 33/POJK.04/2014 ditentukan bahwa direksi bertugas dan bertanggung jawab atas pengurusan emiten atau perusahaan publik untuk
211Pasal 4 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 31/POJK.04/2015.
212 Pasal 10 ayat (1), (2), (3), (4), (5), dan (6) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.
33/POJK.04/2014
213Pasal 10 ayat (7) dan (8) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014
214Pasal 11 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
kepentingan emiten atau perusahaan publik sesuai dengan maksud dan tujuan perusahaan publik yang ditetapkan dalam anggaran dasar dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan kehati-hatian.215
Seberapa jauh tugas direksi sendiri tidak dapat diketahui secara rinci baik dari Undang-Undang No, 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas maupun dalam POJK No. 33/POJK.04/2014 ini. “Peraturan-peraturan tersebut pada prinsipnya hanya RUPS membuat pembatasan kewenangan direksi secara umum sedangkan pengaturan tentang pembagian tugas dan wewenang setiap anggota direksi ditetapkan oleh RUPS”.216
I.G. Rai Widjaja berpendapat bahwa tugas kepengurusan perseroan yang ada pada direksi meliputi berbagai hak dan kewajiban. Pertama, untuk mengelola urusan perseroan. Kedua, menguasai, memindahtangankan, melakukan transaksi harta benda, atau mengelola kekayaan perseroan. Ketiga, mewakili untuk dan atas nama perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan.217
Untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab, direksi dapat membentuk komite seperti komite manajemen resiko. Dengan dibentuknya komite tersebut, direksi wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja komite setiap akhir tahun buku. Evaluasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan terkait dengan keberadaan komite dan anggota komite yang bersangkutan pada tahun selanjutnya.218
215Pasal 12 ayat (1), (2), dan (3) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
216Nindyo Pramono, Op.Cit., hal. 149.
217I.G. Rai Widjaja, Pedoman Dasar Perseroan Terbatas, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1994), hal. 11.
218Pasal 12 ayat (4) dan (5) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa direksi bertanggung jawab atas pengurusan emiten atau perusahaan publik maka apabila dalam menjalankan tugasnya terdapat kelalaian atau kesalahan maka anggota direksi bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian yang timbul akibat kelalaian tersebut.219
Dalam konteks ini, meskipun dikenal tanggung jawab renteng, dimungkinkan bagi seorang anggota direksi perseroan untuk dapat tidak dimintakan pertanggungjawabannya bilamana ia dapat membuktikan bahwa:
a. kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan d. telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya
kerugian tersebut.”220
“Ketentuan di atas ingin memberi kesempatan kepada direksi untuk membuat semacam “desenting opinion” atas keputusan perbuatan pengurusan atau penguasaan yang menurutnya tidak sejalan dengan kepentingan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.”221
Dalam menjalankan pengurusan emiten atau perusahaan publik, direksi berwenang untuk mengambil kebijakan yang dipandang tepat sesuai dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan dalam anggaran dasar.222
Dalam setiap RUPS Tahunan, sering kali pemegang saham memberikan pembebasan tanggung jawab yang dikenal dengan aquit et de charge. Pemberian
219Pasal 13 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
220Pasal 13 ayat (2) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014.
221Nindyo Pramono, Op. Cit., hal 166.
222Pasal 15 ayat (1) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 33/POJK.04/2014