• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 125-0)

BAB I PENDAHULUAN

G. Metodologi Penelitian

3. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dengan cara melakukan penelitian kepustakaan (library research).

Penelitian kepustakaan (library research) yaitu menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan hukum kepustakaan atau data sekunder yaitu mencari

konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.36

Pemikiran dan gagasan serta konsepsi tersebut dapat diperoleh melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku, khusunya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.32/POJK.04/2014, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.33/POJK.04/2014, buku-buku, literatur dari para pakar yang relevan dengan objek penelitian ini, artikel yang termuat dalam bentuk jurnal, Makalah ilmiah, ataupun yang termuat dalam data elektronik seperti pada website, dan sebagainya maupun dalam bentuk dokumen atau putusan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.

4. Analisis Data

Dalam suatu penelitian analisis data sangat diperlukan agar dapat memberikan jawaban yang tepat terhadap permasalahan yang diteliti.“ Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengatur urutan data ke dalam suatu pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.37

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode yang bersifat interaktif,38 yaitu dengan menggunakan analisis terhadap peraturan-peraturan dan bahan-bahan hukum yang

36Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hal. 39.

37Lexy J.Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hal.

101.

38Miles and Hubberman, Analisis Data Kualitaif, (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1992), hal. 15-20.

berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dengan cara menginterprestasikan semua peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan masalah yang dibahas, mengevaluasi peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan masalah yang dibahas, sehingga akhirnya dapat dilakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan logika berpikir secara deduktif yakni dari yang bersifat umum ke yang bersifat khusus, serta dapat dipresentasikan dalam bentuk deskriptif.

BAB II

PERUBAHAN MENGENAI PENYELENGGARAAN RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM PERSEROAN TERBATAS TERBUKA PASCA DIUNDANGKANNYA PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN

NOMOR 32/POJK.O4/2014 TENTANG RENCANA DAN PENYELENGGARAAN RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM

PERSEROAN TERBATAS TERBUKA

A. Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham Dalam Perseroan Terbatas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan salah satu organ dari perseroan terbatas.Menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tetang Perseroan Terbatas, organ perseroan terbatas terdiri dari RUPS, direksi, dan dewan komisaris.

“Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.”39

1. Hak dan Kewenangan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS adalah wadah perwujudan kepentingan para pemegang saham selaku pemilik modal. Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas menegaskanf bahwa kepada pemegang saham diberikan hak.

Pertama, untuk menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS. Kedua, untuk menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi. Ketiga, untuk menjalankan hak lainnya berdasarkan undang-undang ini.

39Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

26

Hak-hak yang dimiliki pemegang saham itu tidak menjadikannya organ perseroan. Para pemegang saham memiliki kewenangan bila berkumpul dalam RUPS.

Hanya pada hal-hal yang ditetapkan undang-undang pemegang saham dapat bertindak tanpa melalui RUPS.

“Kehendak para pemegang saham tersebut nantinya akan terjelma dalam keputusan RUPS tidak dapat ditentang dan dibatalkan oleh siapapun, kecuali oleh pengadilan dan oleh RUPS itu sendiri.”40 Hal ini agar pemilik modal melalui RUPS tetap mempunyai kontrol terakhir atas pengelolaan dananya oleh pengurus. Meski demikian, RUPS tidak boleh melanggar wewenang organ lain.

Kewenangan RUPS adalah sisa kewenangan, yang tidak diberikan oleh Undang-Undang dan anggaran dasar kepada direksi dan dewan komisaris.

Kewenangan RUPS akan tertuang dalam anggaran dasar perseroan terbatas namun tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang.

“Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas kewenangan RUPS yang paling utama antara lain sebagai berikut :

a. Menyatakan menerima atau mengambil alih semua hak dan kewajiban yang timbul dari perbuatan hukum yang dilakukan pendiri atau kuasanya (Pasal 13 ayat (1)).

b. Menyetujui perbuatan hukum atas nama perseroan yang dilakukan semua anggota direksi, semua anggota dewan komisaris bersama-sama pendiri dengan syarat semua pemegang saham hadir dalam RUPS, dan semua pemegang saham menyetujui RUPS tersebut (Pasal 14 ayat (4)).

c. Perubahan Anggaran Dasar ditetapkan oleh RUPS (Pasal 19 ayat (1)).

d. Memberi persetujuan atas pembelian kembali atau pengalihan lebih lanjut saham yang dikeluarkan oleh perseroan (Pasal 38 ayat (1)).

40Agus Budiarto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan, (Jakarta:

Ghalia Indonesia, 2002), hal. 57-58.

e. Menyerahkan kewenangan kepada dewan komisaris guna menyetujui pelaksanaan keputusan RUPS atas pembelian kembali atau pengalihan lebih lanjut saham yang dikeluarkan Perseroabn (Pasal 39 ayat (1)).

f. Menyetujui penambahan modal perseroan (Pasal 41 ayat (1)).

g. Menyetujui pengurangan modal perseroan (Pasal 44 ayat (1)).

h. Menyetujui rencana kerja tahunan apabila anggaran dasar menentukan demikian (Pasal 64 ayat (1) jo. ayat (3)).

i. Memberi persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan serta laporan tugas pengawasan dewan komisaris (Pasal 69 ayat (1)).

j. Memutuskan penggunaan laba bersih, termasuk penentuan jumlah penyisihan untuk cadangan wajib dan cadangan lain (Pasal 71 ayat (1)).

k. Menetapkan pembagian tugas dan pengurusan perseroan antara anggota direksi (Pasal 91 ayat (5)).

l. Mengangkat anggota direksi (Pasal 94 ayat (1)).

m. Menetapkan tentang besarnya gaji dan tunjangan anggota direksi (Pasal 96 ayat (1)).

n. Menunjuk pihak lain untuk mewakili perseroan apabila seluruh anggota direksi atau dewan komisaris mempunyai benturan kepentingan dengan perseroan (Pasal 99 ayat (2) huruh c).

o. Memberi persetujuan kepada direksi untuk : - Mengalihkan kekayaan pFterseroan, atau - Mejadikan jaminan utang kekayaan perseroan,

Persetujuan itu diperlukan apabila lebih dari 50% jumlah kekayaan bersih dalam 1 transaksi atau lebih baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak (Pasal 102 ayat (1)).

p. Memberi persetujuan kepada direksi untuk mengajukan permohonan pailit atas perseroan sendiri kepada pengadilan niaga (Pasal 104 ayat (1)).

q. Memberhentikan anggota direksi (Pasal 105 ayat (2)).

r. Menguatkan keputusan pemberhentian sementara yang dilakukan dewan komisaris terhadap anggota direksi (Pasal 106 ayat (7)).

s. Mengangkat anggota dewan komisaris (Pasal 111 ayat (1)).

t. Menetapkan tentang besarnya gaji atau honorarium dan tunjangan anggota dewan komisaris (Pasal 113).

u. Mengangkat komisaris independen (Pasal 120 ayat (2)).

v. Memberi persetujuan atas rancangan penggabungan (Pasal 123 ayat (3)).

w. Memberi keputusan atas penggabungan, peleburan, pengambilalihan atau pemisahan (Pasal 127 ayat (1)).

x. Memberi keputusan atas pembubaran perseroan (Pasal 142 ayat (1) huruf a).

y. Menerima pertanggungjawaban likuidator atas penyelesaian likuidasi (Pasal 143 ayat (1)).”41

41M. Yahya Harahap, Op Cit, hal. 307-308.

2. Kedudukan Rapat Umum Pemegang Saham Dalam Pengelolaan Perseroan Terbatas

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas, RUPS merupakan organ perseroan terbatas yang memegang kekuasaan tertinggi dan memegang segala kewenangan yang tidak diberikan kepada organ perseroan lainnya yakni direksi dan dewan komisaris.42Ketentuan mengenai RUPS sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam sebuah perseroan terbatas telah dihilangkan di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, kedudukan RUPS, direksi dan dewan komisaris sejajar, sederajat dan berdampingan sesuai dengan pemisahan kewenangan (separation of power) yang diatur dalam Undang-Undang dan/atau Anggaran Dasar. Yang membedakan ketiga organ tersebut adalah perihal pembagian wewenang. RUPS memiliki wewenang yang tidak dimiliki oleh direksi dan/atau dewan komisaris.43 Namun wewenang yang dimiliki oleh Direksi dan/atau dewan komisaris juga bukan merupakan pelimpahan wewenang dari RUPS melainkan diperoleh berdasarkan undang-undang dan/atau anggaran dasar.44

Dalam kaitannya dengan kedudukan RUPS dalam pengelolan perseroan terbatas, bedasarkan kewenangan RUPS diatas, terdapat tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh RUPS yang berkaitan dengan permintaan persetujuan kepadanya sebelum direksi bisa mengadakan perbuatan hukum tertentu, seperti diatur dalam

42Binotor Nadapdap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta: Penerbit Aksara, 2014), hal. 117.

43Ibid

44 Hasbullah F. Sjawie, Direksi Perseroan Terbatas Serta Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013), hal. 78.

29

pasal 102 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, bukan berarti RUPS mempunyai kewenangan pengurusan melainkan karena pemegang saham sebagai pemilik modal dan juga sebagai alat kontrol agar memastikan perseroan dijalankan direksi seperti yang direncanakan dalam rencana kerja.45Selain itu terdapat pula beberapa kewenangan RUPS yang oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dimungkinkan untuk dialihkan kepada dewan komisaris, yang setiap saat dapat dicabut kembali sebagaimana dalam pasal 39, pasal 41 ayat (2), dan pasal 96 ayat (2).

3. Tanggung Jawab Rapat Umum Pemegang Saham

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa RUPS merupakan kumpulan dari para pemegang saham perseroan yang telah memberikan konstribusi modal awal untuk menjalankan kegiatan usaha, sudah seyogiyanya setiap keputusan yang menyangkut tujuan awal para pendiri dalam mendirikan perseroan terbatas berada ditangan mereka. Walaupun demikian setiap keputusan yang diambil oleh pemegang saham melalui RUPS mempunyai batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.

“Keputusan RUPS dapat dianggap sewenang-wenang apabila antara lain : 1. Bertentangan dengan hukum;

2. Bertentangan dengan anggaran dasar;

3. RUPS tidak boleh mengambil keputusan yang merupakan kewenangan direksi dan dewan komisaris;

4. Bertentangan dengan kepentingan yang dilindungi hukum.” 46

45Ibid, hal. 86.

46 Munir Fuady, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hal. 154.

Berkaitan dengan hal di atas, Mahkamah Agung melalui putusannya No.

878K/Sip/1974 tanggal 23 Maret 1976 menyatakan bahwa anggaran dasar perseroan adalah yang selalu harus diperhatikan oleh semua pemegang saham. Anggaran dasar lebih tinggi daripada RUPS. Dalam perseron segala hal harus tunduk pada anggaran dasar, termasuk penyelenggaraan RUPS.RUPS yang diselenggarakan dengan tidak mengindahkan anggaran dasar adalah tidak sah.47

“Dalam perseroan terbatas dikenal adanya prinsip separate entity yang melahirkan tanggung jawab terbatas pemegang saham menimbulkan beberapa konsekuensi antara lain:

a. Perseroan sebagai badan hukum merupakan unit hukum dengan kewenangan dan kapasitas yang terpisah dari pemegang saham;

b. Harta kekayaan, hak dan kepentingan serta tanggung jawab perseroan terpisah dari pemegang saham;

c. Pemegang saham menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas mempunyai imunitas dari kewajiban dan tanggung jawab perseroan karena antara pemegang saham dengan perseroan terdapat perbedaan dan pemisahan personalitas hukum.”48

Prinsip separate entity yang dimiliki perseroan tidak bersifat mutlak dalam hal-hal tertentu pengadilan dapat meniadakan sifat kemandiriannya dan meminta pemegang saham harus bertanggung jawab atas kewajiban perseroan.49

Apabila terjadi penyalahgunaan hukum yang dilakukan para pemegang saham yang bertindak melalui RUPS, maka prinsip tanggung jawab terbatas tidak lagi

47Sudargo Gautama, Himpunan Jurisprudensi Indonesia Yang Penting Untuk Praktek Sehari-hariBerikut Komentar Jilid 4, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1992), hal. 417.

48 Sutan Remy Sjahdeni, Tanggung Jawab Pribadi Direksi dan Komisaris, (Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis Vol.14, 2001), hal. 108

49Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 140.

absolut dan dapat diminta pertanggungjawaban pribadi pemegang saham.50Dalam hal demikian pengadilan dapat meminta pertanggungjawaban pribadi pemegang saham yang dikenal dengan doktrin piercing the corporate veil.

Doktrin piercing the corporate veil diartikan sebagai suatu proses untuk membebani tanggung jawab ke pundak pemegang saham atas perbuatan hukum yang dilakukan oleh perseroan, tanpa melihat pada fakta bahwa perbuatan dimaksud sebenarnya dilakukan oleh perseroan.51

“Pencampuran hak dan tanggung jawab antara suatu perseroan dan pemegang saham terjadi disebakan hal-hal sebagai berikut:

1. Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;

2. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan untuk kepentingan pribadi;

3. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan perseroan; atau

4. Pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung atau tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan perseroan, yang mengakibatkan kekayaanya menjadi tidak cukup untuk melunasi utangnya.”52 RUPS dalam menjalankan tugasnya sebagai organ perseroan juga memiliki tanggung jawab dalam mengambil keputusan. Dalam hal terjadi penyalahgunaan kewenangan oleh RUPS yang menyebabkan terjadinya pelanggaran hukum maka pengadilan dapat mengabaikan prinsip tanggung jawab terbatas dan membebankan setiap kerugian yang timbul secara pribadi kepada pemegang saham.

50Ais Chatamarrasjid, Menyingkap Tabir Perseroan (Piercing The Corporate Veil): Kapita Selekta Hukum Perusahaan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hal.2-3.

51Hasbullah F. Sjawie, Op. Cit, hal. 142.

52Pasal 3 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.

B. Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

Rapat Umum Pemegang Saham adalah “Rapat” yang dilakukan oleh para pemegang saham dalam kedudukan hukum mereka sebagai pemilik perseroan.

Walaupun demikian tidak berarti bahwa pemegang saham mempunyai wewenang untuk melaksanakan rapat dimaksud. Pelaksanaan RUPS agar sah menurut hukum harus dilakukan berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas yang mana akan dijelaskan lebih lanjut melalui sub bab dibawah ini.

1. Tempat, Waktu, dan Pimpinan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham

a. Tempat penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham

Berdasarkan ketentuan dalam pasal 76 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, bahwa pada dasarnya tempat penyelenggaraan RUPS terdapat beberapa alternatif. RUPS dapat diadakan di tempat kedudukan perseroan atau di tempat perseroan melakukan kegiatan usaha utamanya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar sedangkan bagi perseroan terbatas terbuka dapat diadakan di tempat kedudukan bursa. Selain itu undang-undang mengharuskan tempat penyelenggaraan RUPS harus berada di wilayah negara Republik Indonesia. Ini erat kaitannya dengan kewarganegaraan perseroan sebagai badan hukum Indonesia.

Selain penyelenggaraan RUPS sebagaimana dijelaskan diatas, penyelenggaraan RUPS dapat dilakukan juga melalui media telekonferensi, video konferensi atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta

RUPS saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat.53

“Konsep telekonferensi atau video konferensi dapat dijelaskan sebagai pertemuan yang menggunakan basis elektronik secara langsung di antara dua atau lebih partisipan manusia atau mesin yang dihubungkan dengan suatu sistem telekomunikasi.“54

Dengan adanya konsep telekonferensi atau video konferensi tersebut dapat memberikan efisiensi waktu bagi para pemegang saham untuk mengadakan RUPS jika ada agenda tertentu yang harus segera dibahas dan tidak memungkinkan para pesertanya untuk berkumpul di tempat kedudukan perseroan RUPS tersebut.

Jika melihat konsep telekonferensi sebagaimana yang terdapat dalam pasal 77 dapat ditarik kesimpulan bahwa RUPS dapat diadakan dimana saja meskipun tidak berada dalam wilayah negara Republik Indonesia sepanjang para peserta RUPS dapat saling melihat dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi dalam rapat.

b. Waktu Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham

Ditinjau dari segi waktu penyelenggaraan RUPS, pasal 78 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengklasifikasi rapat perseroan menjadi 2 yakni Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Lainnya atau dalam praktiknya sering dikenal sebagai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.

53Pasal 77 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007.

54Ni Ketut Supasti, et al., Keberadaan Pemegang Saham Dalam RUPS Dengan Sistem Teleconference Terkait Jaringan Bermasalah Dalam Perspektif Cyber Law,dalam Jurnal Magister Hukum Udayana, Vol 4, No.1:190-202, Mei 2015, (Bali: Universitas Udayana), hal. 194.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan wajib diadakan setiap tahun dan diadakan dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sejak tahun buku berakhir dan bersifat imperative (mandatory rule). Hal tersebut dikarenakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan sudah terdapat agenda wajib yakni direksi wajib menyampaikan laporan tahunan mengenai keadaan dan jalannya perseroan selama tahun buku yang bersangkutan untuk disetujui dan disahkanoleh para pemegang saham.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dapat diadakan setiap waktu berdasarkan kebutuhan untuk kepentingan perseroan.55Artinya direksi dapat menyelenggarakan RUPS setiap waktu apabila terdapat kepentingan perseroan untuk diadakan RUPS.

c. Pimpinan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham

Pada dasarnya dalamUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatastidak diatur mengenai siapa yang menjadi pimpinan dalam penyelenggaraan RUPS atau biasa disebut “Ketua Rapat”. Siapa yang menjadi Ketua Rapat dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas memberikan keleluasaan bagi masing-masing perseroan terbatas untuk menentukan sendiri dan diatur dalam anggaran dasar perseroan terbatas. Biasanya yang menjadi ketua rapat adalah salah satu anggota direksi atau anggota dewan komisaris.

2. Pemberitahuan, Pengumuman dan Pemanggilan Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham

55M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 315-316.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas tidak ditemukan ketentuan mengenai pemberitahuan penyelenggaraan RUPS baik bagi perseroan terbatas tertutup maupun terbuka sedangkan untuk pengumuman mengenai akan diselenggarakan RUPS terdapat dalam pasal 83, dimana pasal ini mengharuskan perseroan terbuka untuk membuat pengumuman paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pemanggilan RUPS dilakukan.

Tata cara dan syarat pemanggilan rapat umum pemegang saham sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Direksi akan melakukan pemanggilan kepada pemegang saham sebelum menyelenggarakan RUPS, akan tetapi dalam hal tertentu dapat dilakukan oleh dewan komisaris atau pemegang saham berdasarkan penetapan ketua pengadilan negeri.56

b. Pemanggilan RUPS oleh dewan komisaris baru diperbolehkan apabila Pertama, direksi tidak melakukan pemanggilan RUPS dalam tempo 15 (lima belas) hari dari tanggal permintaan RUPS yang diajukan dewan komisaris diterima oleh direksi, Kedua, direksi berhalangan, Ketiga, terdapat pertentangan kepentingan antara direksi dan perseroan.57

c. Pemanggilan RUPS oleh pemegang saham dapat dilakukan berdasarkan penetapan ketua pengadilan negeri. Hal ini dapat terjadi apabila direksi atau

56Pasal 81 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

57 Pasal 79 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

dewan komisaris tidak melakukan pemanggilan dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari dari tanggal Direksi atau Dewan Komisaris menerima surat permintaan penyelenggaraan RUPS dari pemegang saham.58

d. Pemanggilan RUPS dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum tanggal RUPS diadakan dan dilakukan dengan surat tercatat dan/atau dengan iklan dalam surat kabar.59

Dalam Pasal 82 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 memberikan ruang untuk mengabaikan ketentuan terkait pemanggilan tersebut sepanjang semua pemegang saham dengan hak suara hadir atau diwakili dalam RUPS dan keputusan tersebut disetujui dengan suara bulat.60

3. Hak Pemegang Saham dan Kehadiran Pihak Lain Dalam Rapat Umum Pemegang Saham

Seperti yang telah dijelaskan diatas, sebelum RUPS diadakan, direksi memanggil pemegang saham. Berdasarkan pemanggilan tersebut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas memberi hak kepada pemegang saham dalam RUPS untuk menghadiri RUPS baik secara sendiri maupun diwakili berdasarkan surat kuasa dan menggunakan hak suaranya sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya.61

Ketentuan mengenai kehadiran pihak lain tidak ditemukan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Namun dalam

58 Pasal 80 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

59 Pasal 82 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

60 Pasal 82 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

61M. Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 329.

praktiknya kehadiran pihak lain ini dapat dijumpai dalam hal terkait mata acara rapat.

Misalnya Notaris.

4. Keputusan, Kuorum Kehadiran dan Kuorum Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham

a. Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham

Setiap pengambilan keputusan dalam RUPS mengedepankan atau berpegang pada asas musyawarah untuk mufakat. Selama para pemegang saham mampu mengambil keputusan dengan suara bulat, maka pengambilan keputusan melalui mekanisme voting tidak diperlukan.62

Hal ini sesuai dengan perintah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, dimana keputusan RUPS diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat dan apabila keputusan berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai maka keputusan adalah sah jika disetujui lebih dari ½ (satu per dua) bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan kecuali ditentukan undang-undang dan/atau anggaran dasar lebih besar.63

b. Kuorum Kehadiran dan Kuorum Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham

Ketentuan terkait kuorom RUPS diatur dalam pasal 86, pasal 88, dan pasal 89 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Berdasarkan pasal-pasal tersebut terdapat perbedaan perihal besarnya kuorum tergantung mata acara rapat yang dibicarakan dan akan diklasifikasikan sebagai berikut :

62Binoto Nadapdap, Op. Cit, hal. 124.

63 Pasal 87 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

i. Rapat Umum Pemegang Saham untuk mata acara biasa

Dalam RUPS ini kuorum kehadiran adalah sebesar ½ (satu per dua) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili dan keputusan sah apabila disetujui paling sedikit ½ (satu per dua) dari jumlah suara yang dikeluarkan kecuali ditentukan undang-undang dan/atau anggaran dasar lebih besar.64

Apabila kuorum tidak tercapai dapat dilangsungkan RUPS kedua dan ketiga. “RUPS kedua sah dan berhak mengambil keputusan jika dalam RUPS paling sedikit 1/3 (satu per tiga) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili”.65

RUPS ketiga dapat dilangsungkan apabila kuorum RUPS kedua tidak tercapai. Mengenai kuorum kehadiran dan keputusan dalam RUPS ketiga, perseroan dapat memohon kepada ketua pengadilan negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan perseroan agar ditetapkan kuorum untuk RUPS ketiga.66

ii. Rapat Umum Pemegang Saham untuk mengubah anggaran dasar

Kuorum kehadiran dalam RUPS dengan mata acara perubahan anggaran dasar adalah paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara hadir atau diwakili dalam RUPS dan keputusan sah apabila disetujui paling sedikit 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah

64 Pasal 86 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

65 Pasal 86 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

66 Pasal 86 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Dalam dokumen HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN (Halaman 125-0)