• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN KELEMBAGAAN KEHUTANAN 2020-202

Dalam dokumen Disiapkan Oleh Agus Setyarso (Halaman 46-52)

a. KESENJANGAN YANG DITEMUKAN

1. Perumusan Tata Kelembagaan Kehutanan

Kelembagaan kehutanan kurang terfokus pada lima pilar pada

penyelenggaraan sistem kehutanan yang menjadi mandat untuk dipedomani (keberadaan hutan dengan luasan cukup dan sebaran yang proporsional, optimalisasi aneka guna manfaat hutan, meningktkan daya dukung DAS, meningkatkan kemampuan dan keberdayaan masyarakat, menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan) . Ketika ini lepas dari pedoman, maka kelembagaan kehutanan itu tidak lagi melayani sistem kehutanan.

Efektivitas kelembagaan kehutanan semestinya ditunjukkan oleh kinerja dampak kebijakan, bukan berhenti pada hasil pelaksanaan kebijakan; dan itu artinya pada tingkat implementasi di tapak. Oleh karena itu azas desentraliasi kelembagaan kehutanan menjadi penting untuk mewujudkan kelembagaan kehutanan yang efektif.

2. Konstelasi KPH pada Kelembagaan Kehutanan

Azas desentralisasi kehutanan yang paling tepat adalah pada tataran difusi, yang berbarti peletakan kewenangan pengurusan dan pengelolaan

sumberdaya hutan pada tingkat tapak. Konstruksi yang paling tepat untuk merespon itu adalah KPH. Tanpa kehadiran KPH, maka kebijakan kehutanan tidak mempunyai kelembagaan pada tingkat pengelolaan hutan. Hampir semua peraturan yang berkaitan dengan operasi kehutanan di tingkat tapak

diselesaikan melalui skema perijinan, dan sebagian besar adalah perijinan pemanfaatan, bukan pengelolaan

3. Ruang Perubahan (Drivers for Change) Untuk Kelembagaan Kehutanan Analisis historis kelembagaan kehutanan menunjukkan bukti kuat bahwa tidak terjadi perubahan kelembagaan kehutanan selama ini. Nomenklatur boleh berbeda tetapi kandungan tugas, fungsi, dan bangun dasar struktur organisasi tidak beranjak dari sejak kehutanan diurus oleh lembaga setingkat

departemen/ kementerian. Artinya, kelembagaan kehutanan telah menjadi artefak yang stabil selama puluhan tahun. Di sisi lain, kelembagaan kehutanan berada pada posisi instrumen, dan bukan tujuan pembangunan, pengurusan kehutanan, dan pengelolaan sumberaya hutan. Kelembagaan kehutanan harus berubah.

Pertama, perlu pengembalian kelembagaan kehutanan untuk melayani penyelenggaraan sistem kehutanan. Kehutanan merupakan sistem terbuka dan memiliki kompleksitas tertinggi di antara sektor yang ada. Oleh karena itu fungsi koordinasi dan sinergi lintas sektor maupun fungsi koordinasi dan sinkronisasi internal kementerian tidak dapat sedikitpun diabaikan.

Kedua, perubahan hanya dapat dilakukan melalui “agen perubahan”. Agen perubahan ini berada pada posisi untuk memobilisasi faktor-faktor yang memiliki kekuatan untuk merubah (antara lain mobilisasi visi dan misi, faktor regulasi, faktor kompetensi SDM, faktor kewenangan dan porto folio

pemerintahan, faktor sumberdaya). Selama ini agen perubahan yang paling kuat pengaruhnya adalah Presiden, baru kemudian Menteri. Dengan demikian ruang perubahan sebenarnya tidak terlalu lebar, hanya berada pada dua agen yakni Presiden dan Menteri.

Peluang dapat sedikit terbuka ketika lingkungan penasehat (advisory environment) Presiden dan Menteri dapat diakses dan dapat diberikan masukan.

4. Kesenjangan pada Efektivitas dan Efisiensi Lembaga Kehutanan

• Hampir seluruh kelembagaan pada Eselon I (teknis)kehilangan orientasi untuk penyelenggaraan sistem kehutanan, atau kehilangan (sebagian atau sebagian besar) relevansi dengan UU41/1999).

• Koherensi baik pada jejaring regulasi maupun tata hubungan kerja kurang dapat ditunjukkan oleh paparan tugas, fungsi dan struktur organisasi pada Eselon I (teknis). Koherensi antara pusat dan daerah tidak banyak

dicakup oleh kelembagaan kementerian yang mengurusi kehutanan. Ruang manajemen kepemerintahan kehutanan yang konkuren antara pusat dan daerah, sebagaimana dimandatkan oleh UU 23/2014, tidak banyak direfleksikan oleh setting kelembagaan di kementerian

• Untuk menghadapi penyelenggaraan sistem kehutanan yang kompleks, berbagai ruang terobosan dan kreativitas perlu disediakan pada setting kelembagaan kehutanan. Ruang terobosan hanya disediakan pada kelembagaan Badan LBI, tetapi semestinya juga dilengkapi dengan arah makro terobosan agar tidak menyimpang dari fokus dukungan terhadap penyelenggaraan sistem kehutanan.

• Penyelenggaraan sistem kehutanan selalui memerlukan internaksi dengan sektor lain dan para pihak pada umumnya. Komunikasi menjadi sangat vital terutama dalam efisiensi pemenuhan dampak kebijakan dan

pelaksanaan kehutanan. Namun demikian, kelembagaan untuk mengelola komunikasi tidak tersedia. Maksimum yang tersedia pada beberapa kelembagaan Eselon I adalah pengelolaan informasi.

• Di samping komunikasi, kolaborasi selalu menjadi kebutuhan. Sistem kehutanan mempunyai beban pelayanan publik terbesar, dan pelayanan untuk memenuhi kepentingan publik ini tidak dapat ditangani sendirian oleh kelembagaan kehutanan. Faktanya, kolaborasi kurang dimunculkan pada setting kelembagaan yang ada. Maksimum yang tersedia adalah fungsi dan koponen struktur organisasi yang mengurusi kerjasama. Kolaborasi, adalah asosissi dengan pihak lainyang jauh lebih luas daripada kerjasama.

• Menyangkut kriteria kredibilitas lembaga, hal-hal berikut msih perlu dibenahi: (i) keterbukaan informasi dan keterlibatan para pihak untuk ikut dalam proses pengambilan keputusan/kebijakan; (ii) terwujudnya dampak positif sebagai hasil kinerja kelembagaan; (iii) konsistensi pelayanan – yang menyangkut standar kerja dan standar kompetensi SDM; (iv) terpenuhinya kebutuhan spesifik publik, terutama di daerah (pada lingkup KPH); dan (v) pemberian fasilitas para pihak (misalnya KPH) untuk berkreasi pada lingkup pemenuhan penyelenggaraan sistem kehutanan (NSPK yang luwes dan brsifat insentif bagi operator di tapak (KPH)

b. TANTANGAN BAGI KELEMBAGAAN KEHUTANAN 2020-2024

1. Tekanan Politik yang Sebagai Implikasi Pemilu 2019

2. Tekanan ekonomi global masih berlanjut, berporos pada ketegangan ekonomi USA-China.

3. Tekanan untuk konversi kawasan hutan untuk penggunaan di luar kehutanan masih berlanjut

4. Tekanan untuk mengedepankan masyarakat di dalam menikmati manfaat kehutanan terus berkembang

1. Pemerintahan desa makin baik kapasitasnya.

2. Sebagian besar Pemerintah Daerah masih belum mempunyai sumber daya logistik untuk mengelola sumber daya hutan

3. Tekanan berbasis pencapaian NDC makin besar, yang ditunjukkan oleh persiapan pertanggung-jawaban/ performa 29% penurunan laju emisi

4. Tindak lanjut PIPIB belum menunjukkan arah pengaturan berikutnya (pattern of regularity)

5. Kemungkinan cukup besar untuk merevisi UU 41/1999

6. KPH makin matang tingkat operasionalisasinya, paling kurang 30% KPH sudah mengarah pada pengelolaan yang profesional.

c. DISAIN KELEMBAGAAN KEHUTANAN YANG DIUSULKAN

1. Kandungan Tugas dan Fungsi

a. Tugas kementerian yang mengurusi bidang kehutanan Kementerian yang mengurusi Kehutanan mempunyai tugas

menyelenggarakan sistem kehutanan dan urusan pemerintahan di bidang kehutanan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan

pembangunan dan pemerintahan negara

b. Fungsi kementerian yang mengurusi bidang kehutanan

i. perumusan dan penetapan kebijakan penyelenggaraan sistem kehutanan

ii. perumusan dan penetapan kebijakan prioritas pembangunan nasional bidang kehutanan

iii. fasilitasi (komunikasi, koordinasi, sinkronisasi, pembinaan,

kerjasama, jejaring) pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan sistem kehutanan dan prioritas pembangunan di bidang kehutanan

iv. penguatan pendukung penyelenggaraan sistem kehutanan

(informasi, SDM profesional, pendanaan, pengembangan strategi dan teknologi, sarana-prasarana, dukungan administrasi)

2. Bangun Dasar Struktur Organisasi Kehutanan 2020-2024

c. Organisasi kehutanan bersifat matriks, yang mengutamakan efektivitas dan efisiensi fungsi di dalam melayani sistem kehutanan dan membantu Presiden untuk menjalankan kepemerntahan. Dengan demikian banhun

struktur organisasi tidak dapat menerapkan tipe departemantal dengan batas-batas kewenangan sebagai perangkat utamanya. Artinya, fungsi lebih diutamakan daripada kewenangan. Kewenangan berbasis fungsi kawasan hutan (konservasi, lindung, produksi) ditiadakan, tetapi

memperjelas dan memperkuat fungsi konservasi – ekologi, perlindungan DAS, fungsi produksi-ekonomi kehutanan, dan fungsi peningkatan keberdayaan masyarakat

d. Pelayanan terhadap penyelenggaraan sistem kehutanan diwujudkan dengan merumuskan visi dan misi pemerintahan bidang (sektor) kehutanan berdasar sistem kehutanan, dengan memperhatikan fokus kepemerintahan 2020-2024.

e. Koherensi dalam aspek regulasi, kebijakan, program, pembangkitan dukungan, dan tata pelaksanaan operasionalisasi sistem kehutanan dikawal Oleh Sekretariat Jenderal

f. Peningkatan fungsi DAS secara tegas disebut pada salah satu komponen penyelenggaraan sistem kehutanan

g. Ada lima fokus yang mendesak dan atau menjadi prasyarat keberlanjutan pembangunan. Kelima fokus tersebut diperlakukan sebagai kebijakan arus utama (streamlined policies). Setiap fokus yang streamlined

dikoordinasikan dan disinkronisasikan oleh salah satu Eselon I, tetapi implementasi kebijakan dan programnya berada pada setiap Eselon I teknis.Kelima fokus tersebut adalah:

i. Fokus pengembangan ekonomi kehutanan (untuk menghadapi kepanjangan ketegangan ekonomi global)

ii. Fokus peningkatan keberdayaan masyarakat hutan (bekerjasama dengan sistem kepemerintahan dan pengembangan ekonomi lokal berbasis desa)

iii. Fokus pelayanan kehutanan pada pengendalian perubahan iklim iv. Fokus fungsi konservasi dan ekologi

v. Fokus desentralisasi kehutanan melalui kerangka KPH

3. Komunikasi, keterbukaan informasi publik, dukungan jejaring, dan pemantauan serta pengawalan dampak kinerja berada pada fungsi dan struktur organisasi masing-masing Eselon I.

5. Struktur Utama i. Menteri

ii. Sekretariat Jenderal yang membidangi pengawalan koordinasi dan sinkronisasi penyelenggaran sistem kehutanan, serta

penyelenggaraan dukungan kesekretariatan bagi kementerian iii. Eselon I Teknis yang membidangi pengawalan keberadaan hutan dan

perencanaan penyelenggaraan sistem kehutanan

iv. Eselon I Teknis yang membidangi peningkatan fungsi/kinerja DAS v. Eselon I Teknis yang membidangi aneka guna manfaat kehutanan

pada kerangka ekonomi kehutanan yang tangguh, lestari dan berkelanjutan

vi. Eselon I Teknis yang membidangi pengelolaan dan pengembangan konservasi-ekologi

vii. Eselon I Teknis yang membidangi keberdayaan masyarakat dan distribusi manfaat kehutanan

viii. Eselon I Teknis yang membidangi operasionalisasi sistem kehutanan melalui kerangka KPH

6. Struktur Pendukung

i. Inspektorat yang mengawal kelancaran penyelenggaraan sistem kehutanan

ii. Eselon I Pendukung untuk pemenuhan SDM kehutanan profesional iii. Eselon I Pendukung untuk pengembangan pengelolaan dan manfaat

kehutanan

iv. Eselon I Pendukung untuk pelayanan fungsi penasehat sistem kehutanan (forestry advisory board)

5. Konstelasi dan Usulan Kelembagaan KPH 2020-2024 a. Penguatan kelembagaan di propinsi:

i. Tata hubungan kerja yang jelas antara gubernur dan “Kantor Wilayah Kehutanan”

ii. Ubah nomenklatur dan kelembagaan UPTD KPH menjadi Unit pelaksana pengelolaan hutan daerah (UPPHD)

b. Peningkatan kelembagaan fungsional/profesi menurut kebutuhan manajemen KPH, dengan tetap merampingkan sruktur.

c. Profesionalitas menjadi prasyarat utama untuk operator KPH – yang dibuktikan oleh sertifikat kompetensi/profesi

d. Perkuat tata hubungan kerja langsung antara KPH dengan Bappeda, Bidang perekonomian di Provinsi, dan DPR daerah yang membidangi kehutanan dan membidangi keuangan daerah

e. Perkuat tata hubungan kerja yang lebih facilitating antara KPH dengan sector lain, para pihak, dan bidang pemerintahan daerah yang lain (melalui penerbitan Permendagri, Perda, Pergub)

f. Periode 2020-2024: pengaturan regulasi dan kelembagaan KPH untuk isu wanatani sawit, karet, dan wanatani di lahan gambut berbasis masyarakat g. Perkuat pengelolaan keuangan KPH: (i) berbasis PERDA Retribusi, atau

(ii) berbasis PPK-BLUD

h. Perkuat kelembagaan KPH di tingkat resort

Dalam dokumen Disiapkan Oleh Agus Setyarso (Halaman 46-52)

Dokumen terkait