• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neo-Sufisme dan Gerakan Perlawanan Kaum Sufi

E. Perbedaan Ideologi Gerakan Sanusiyyah dan Wahabi

Secara diametral, antara tarekat Sanusiyyah dan Wahabi terdapat perbedaan fundamental, baik filsafat, keagamaan, maupun politik. Dalam kasus Perang Paderi maupun Perang Diponegoro, corak perlawanan mereka amat jauh dari cara kerja Wahabi. Kaum Tarekat Sanusiyyah tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sementara kaum Wahabi sebaliknya, mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka, terutama tatkala mengadakan penyerangan ke kota Mekah dan penyebaran ajaran-ajaran Wahabi sepanjang 1803- 1813 M. Dalam penyerangan itu semua lawan politik mereka yang mereka anggap menentang dan menghalangi langkah dan gerakan Wahabi, mereka dianggap kafir dan berhak dibunuh. Tindakan ini mendapat kecaman sangat keras dari Ahmad Ibn Idris, guru pendiri Tarekat Sanusiyyah yang pada saat itu berada di Mekah.

Di Indonesia, sikap keras kaum Wahabi dipraktikkan pula oleh kaum Tua (Kaum Tuo) di Sumatera Barat yang menyebarkan Islam sebelum kaum Paderi menjalankan dakwah mereka di Sumatera Barat.23 Kaum Tua (pengikut Wahabi) ini membunuhi mereka yang tidak menerima kebenaran Islam termasuk orang-orang tua yang masih suka

mengadu ayam, merokok, berjudi di Minangkabau waktu itu. Sikap Kaum Tua (kaum Wahabi yang keras dan rigid) ini mendapat protes keras dari Kaum Paderi yang dipimpin Syarif Peto (Tuanku Imam Bonjol). Dengan demikian praktik Kaum Wahabi (Kaum Tua) di Sumatera Barat sama-sama keras dan tak memiliki tenggang rasa terhadap lawan politik maupun masyarakat yang mau menerima ajakan mereka. Sedangkan pengikut tarekat Sanusiyyah, kaum Paderi, serta pasukan Diponegoro melakukan sikap keras hanya terhadap orang kafir yang memerangi mereka, yaitu penjajah Belanda.

Dalam bermazhab, kaum tarekat Sanusiyyah lebih mementingkan ketaatan kepada ajaran al-Qur’an dan al-Hadits, daripada fanatik terhadap satu mazhab. Sebab mazhab apapun yang muncul dalam Islam, selalu lahir dari dua kitab yaitu Al-Qur’an dan al-Hadits. Karena itu, mestinya bukan fanatik mazhab yang lahir dari umat Islam, tetapi fanatik terhadap al-Qur’an dan al-Hadits.

F. Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat disimpulan bahwa pada periode awal lahirnya tasawuf, konsentrasi sufi menitikberatkan pada aktivitas yang bersifat mistis metafisik, yang kemudian melahirkan gesekan-gesekan dari kaum ortodoks, yang menginginkan menjalankan agama Islam sesuai ajaran Rasulullah Saw. dan para sahabat. Pada awalnya, aktivitas tasawuf yang demikian itu adalah bentuk respon terhadap kondisi masyarakat Islam kala itu yang jauh dari agama dan lebih mementingkan duniawi. Namun pada perkembangannya, ajaran tasawuf kian tak terkontrol akibat mendapat pengaruh dari filsafat atau kebudayaan lokal.

Perbedaan pendapat—terutama ketika tasawuf memasukkan unsur filsafat di dalamnya yang menyebabkan lahirnya konsep seperti al-ittihâd, wihdah al-wujûd, dan lain sebagianya—semakin mempertajam perbedaan diantara kedua kelompok. Namun, mengalahkan salah satu, dan memenangkan satu lainnya bukanlah solusi yang terbaik. Apalagi,

tasawuf bukan lagi sesuatu yang ‘diada-adakan’, karena tasawuf memiliki legitimasi sendiri, yang dinisbatkan kepada praktik ahl as-suffah, para sahabat Nabi yang menghuni emperan masjid.

Upaya mendamaikan dua kubu ini sudah dilakukan. Puncaknya pada masa al-Ghazali. Tokoh besar yang dinilai mampu menjembatani kedua kubu ini. Namun sepeninggalnya, tidak ada tokoh lagi yang mampu merajut perdamaian antara ortodoks dan kaum sufi.

Gerakan Neo-Sufisme sebenarnya sebentuk gerakan yang mengajak kembali kepada ajaran al-Qur’an dan Hadis, dengan mengajak berpandangan positif terhadap dunia. Jika pada masa klasik, bertasawuf identik menjauhkan diri dari kehidupan dunia dan segala isinya, maka gerakan Neo-Sufisme menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam kasus tarekat Sanusiyyah, penganut tarekat ini bahkan melakukan perlawanan terhadap penjajah Prancis, Italia, maupun Inggris. Semangat perlawanan melawan penjajah adalah bentuk keperpihakan tarekat ini pada masa depan kaum Muslimin yang tertindas. Bahkan kiprah tarekat ini di negara dapat kita lacak dalam perjuangan kaum paderi di Indonesia. Benih-benih tarekat ini, terlihat nyata dalam perang melawan penjajah tersebut.

Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik, Islam dan Masyarakat - Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1987

Aceh, Abu bakar, Pengantar Ilmu Tarekat (Uraian tentang Mistik), Solo: Ramadhani, 1985

Ali, A. Mukti, Alam Pikiran Modern di Timur Tengah, Jakarta: penerbit Djambatan, 1995

Alief, Nasrullah, “Gerakan Neo-Sufisme Sanusiyah di Afrika Utara” Ulumul Quran, No.2 VII 1996

Al Jisri, Nadim, Wujud dan Ma’rifah, terj oleh Afrizal M., jakarta: Penerbit Pedoman Ilmu jaya, 1992

Ansari, Muhammad Abdul Haq, Sufisme and Shari’ah: A Study of Syaykh Ahmad Sirhindi’s Effoert to Reform Sufisme, London: Islamic Foundation, 1986

As, Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002

Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999

Baso, Ahmad, Plesetan Lokalitas; Politik Pribumiasasi Islam, Depok: Desantara, 2002

Dahlan, Daud, Sepintas Mengenal Tharekat al-Idrisiyyah, Pesantren Fathiyyah,

Dahlan, Muhamamd, Halaqatu ar-Riyahin, Tasikmalaya, Pesantren Fathiyyah.

Echols, John dan Syadily, Hasan, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1996

Van Bruinessen, Martin, The Origin s and Development of Sufi Order (Tarekat) in Southeast Asia, Studia Islamika, Volume I, No 1 (April-June) 1994)

Endnotes

1.

Lihat Asmaran. As, Pengantar Studi Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Per-sada, 1994. cet. Ke-2 h. 46.

2.

Asmaran. As, Pengantar Studi Tasawuf, h. 47

3.

Istilah ini memang belum banyak digunakan. Hanya Fazlur Rahman yang secara jelas menggunakannya (diikuti) J.O Voll, BG. Martin, JS. Trimigham, Azyumardi Azra. Untuk lebih detailnya lihat R.S. ‘O’ Fahey, Enigmatic Saint;

Ahmad Ibn Idris and the Idrisi Tradition, London: C. Hurst & Co, 1990,

teru-tama bagian I.

4.

Fazlur Rahman, ter. Ahsin Mohammad, Islam, Bandung: 2003 Cet ke-5 h. 302

5.

Azyumardi Azra, “Akar-akar Historis Pembaharuan Islam di Indonesia:

Neo-Su-fisme Abad ke11-12 H/17-18 M.,” dalam Din Syamsuddin (ed), Muhamadiyah Kini dan Esok, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990, h.6. lihat juga, Jaringan Ulama Timur tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan,

1994.

6.

Pengaruh asing ini misalnya pemujaan terhadap makam para wali; doktrin bersatunya manusia dengan Tuhan (monisme) yang terlihat sekali penga-ruh filsafatnya; tidak ketinggalan pengapenga-ruh budaya setempat, misalnya ordo yang bernama Jibawiyah yang melakukan tari-tarian. Ada yang bah-kan merobek-robek pakaian dan memabah-kan pecahan kaca yang disinyalir berasal dari Syammanistis yang dibawa oleh invasi Mongol. Lihat Fazlur Rahman, Islam, h. 221.

7.

Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997, cet. Ke-2 h. 31

8.

Lihat Rivay Siregar, Tasawuf; dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, dalam edisi revisi, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002, Cet ke-2 h. 305

9.

Doktrin ini menjelaskan pengalaman seorang Sufi yang mampu ‘bersatu’ dengan Tuhan. Dalam beberapa kasus seorang Sufi berbeda pengalaman-nya dalam ‘kebersatuan’ tersebut. Oleh karena itu, meskipun mempupengalaman-nyai kemiripan, antara al-Hallaj, Ibn ‘Arabi, ‘Abdul Karim al-Jilli, Jalaludin Rumi, Hamzah Fansuri, mereka tidak sama dalam merasakan ‘kebersatuan’ itu. Untuk lebih detail mengenai hal ini lihat Simuh, h. 5

10.

Siregar, Tasawuf, h. 301

11.

Fazlur Rahman, Islam, h. 208

13.

Al-Ghazali, al-Munqidz Min ad-Dhalal, (Kairo, 1316 H.)., h. 76 Sebagaimana yang dikutip oleh Rivay Siregar dalam Tasawuf, h. 305

14.

Fazlur Rahman, Islam, h. 285

15.

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Penerbit Djam-batan, 1995. h. 926

16.

Martin Van Bruinessen, The Origin s and Development of Sufi Order (Tarekat)

in Southeast Asia, Studia Islamika, Volume I, No 1 (April-June) 1994, h. 19

17.

R.S.O’Fahey “Enigmatic Saint – Ahmad Ibn Idris and The Idrisi Tradition” New York 1987

18.

W.F.Wertheim “Indonesia Society in Transition” tahun 1969.

19.

R.S.O’Fahey “Enigmatic Saint – Ahmad Ibn Idris and The Idrisi Tradition”

20.

Dalam perang Aceh juga ada laporan yang menyatakan bahwa para pejuang perang Sabil di Aceh pun sering terlihat berpakaian putih-putih, bersorban, bertopi putih dalam penyerangan terhadap posisi kolonial Belanda di tahun 1873 – 1910.

21.

Taufik Abdullah, “Islam dan Masyarakat - Pantulan Sejarah Indonesia” Jakarta: LP3ES, 1987.

22.

Perlu diingat bahwa pertentangan kaum adat dan kaum agama di Suma-tera Barat didahului oleh dakwah kaum tua (Pengikut kaum Wahabi) yang mempraktekkan hukum yang sangat keras seperti membunuh kaum adat, yang tidak menjalankan agama secara kaafah, menghukum keras orang yang berjudi, menyabung ayam, merokok dan makan sirih. Tetapi di kemu-dian hari, datang kaum muda yang berpakaian putih-putih yang berdak-wah secara lebih lembut dan tidak keras dan kaku sebagaimana kaum tua. Kalangan sejarawan sering mencampurkan dakwah gerakan kaum Paderi ini dengan dakwah kaum tua (Wahabi Minangkabau) yang sangat keras, memvonis hukum bunuh kepada kaum adat yang tak menjalankan agama secara kaffah dengan dakwah kaum Sanusiyyah Minangkabau.Padahal yang menjalankan praktik semacam itu bukan kaum Paderi, tetapi kaum Tua yang mendahului kedatangan kaum Paderi.