• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

5.2 Perburuan kalong kapauk .1 Alat dan cara perburuan

Alat yang digunakan untuk berburu kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT adalah: jaring (jala), senapan angin, dan rawe (mata kail pancing). Berdasarkan hasil wawancara dengan 69 responden pemburu kalong kapauk, 61 responden (88,41%) menggunakan jaring, 7 responden (10,14%) menggunakan senapan angin, dan 1 responden (1,45%) menggunakan rawe. Hasil tangkapan paling banyak adalah dengan menggunakan jaring. Penelitian ini lebih banyak mengamati perburuan dengan menggunakan jaring, karena jaring merupakan alat perburuan yang paling banyak digunakan, hasil tangkapan dalam jumlah besar, dan lokasi perburuannya dapat diamati.

(a)

5.2.1.1Jaring (jala)

Perburuan kalong kapauk dengan menggunakan jaring sudah lama diketahui dan terjadi secara turun-temurun. Salah satu responden sudah menggunakan alat ini sejak tahun 1980. Pada waktu itu jaring dibuat dengan menggunakan tali/benang pancing, berbeda dengan sekarang yang menggunakan benang nilon. Jaring yang digunakan saat ini merupakan hasil perbaikan dari jaring-jaring yang sebelumnya.

Cara perburuan kalong kapauk menggunakan jaring adalah dengan membentangkan jaring di tempat yang sudah disiapkan, kemudian menunggu sampai kalong kapauk menabrak jaring. Bila kalong kapauk sudah menyentuh jaring, maka jaring segera diturunkan agar kalong kapauk tidak dapat meloloskan diri. Di beberapa lokasi, perburuan kalong kapauk dilakukan dengan menggunakan suara pancingan (kalong kapauk yang disiksa agar mengeluarkan suara), untuk menarik perhatian kalong kapauk lain. Pemasangan jaring yang baik adalah apabila posisi jaring tegak lurus dengan arah datangnya kalong kapauk (jaring tidak mudah terlihat).

Bagian-bagian alat perburuan kalong kapauk dengan menggunakan jaring (Gambar 8), beserta kegunaannya:

a. Pohon tiang: pohon tinggi (20-40 m) dan kokoh yang digunakan sebagai tiang/penahan. Pohon tiang dipilih setelah menemukan lokasi perburuan kalong kapauk yang baik. Bagian-bagian pohon yang mengarah ke jaring dipangkas, karena dapat mengganggu proses naik turunnya jaring.

b. Paduk: dua buah batang bambu yang masing-masing pangkalnya diikatkan pada pohon tiang. Pengadaan dan ukuran paduk dibuat berdasarkan kondisi kedua pohon tiang. Ada kalanya paduk tidak diperlukan, karena kedua pohon tiang sudah cukup tinggi atau memiliki tinggi yang sama. Kegunaannya adalah: agar sisi kiri dan kanan jaring memiliki ketinggian yang sama; memberikan jarak antara jaring dengan dedaunan/ranting pohon, sehingga jaring tidak tersangkut; serta lebih kokoh (awet) bila dibandingkan dengan mengikatkan tali samping langsung ke batang/ranting pohon.

c. Hili-hilian: katrol dari bambu yang diikatkan di ujung paduk. Katrol berfungsi untuk menjaga tali samping agar berjalan/berputar dengan baik.

d. Tali samping: tali nilon berukuran kecil (tidak mudah terlihat oleh kalong kapauk), kuat, dan kedua ujungnya diikat/disatukan. Tali samping berputar pada katrol dan berfungsi sebagai tempat diikatkannya jaring, sehingga jaring dapat dinaikkan dan diturunkan. Jaring biasanya dilepas dan dibawa pulang oleh pemburu bila sudah selesai berburu kalong kapauk.

e. Jaring (rambang): benang nilon nomor 2 atau 3 yang dirangkai sedemikian rupa menyerupai net pada permainan bola voli. Mata jaring berukuran 11 × 11 cm2 sampai 13 × 13 cm2. Jaring dapat dibuat sendiri, tetapi juga dapat diperoleh dengan memesan kepada orang yang ahli membuat jaring. Jaring dapat dibeli dengan harga Rp 500.000-600.000. Tingginya harga jaring dipengaruhi oleh harga bahan baku dan lamanya waktu pembuatan yang dibutuhkan (8 bulan). Lamanya waktu pembuatan jaring disebabkan oleh pembuatan jaring hanya dilakukan pada waktu-waktu santai saja, sedangkan apabila dikerjakan dengan rutin dapat diselesaikan dalam 2 bulan. Ukuran panjang dan lebar jaring berbeda-beda berdasarkan kondisi di lokasi penjaringan dan selera pemburu. Jaring pada umumnya dibuat memanjang ke bawah, dengan lebar 10 m dan panjang 15 m. Bila disimpan dengan baik, jaring dapat dipergunakan lebih dari 10 tahun. Apabila ada bagian jaring yang rusak, maka bagian tersebut langsung diperbaiki dengan cara menyambung bagian yang terputus atau rusak.

f. Sasa nihe: tali nilon yang dirangkai (berbentuk kotak-kotak) secara horizontal dan berada 1-2 meter diatas tanah. Fungsinya adalah untuk menahan jaring agar tidak menyentuh tanah, atau tersangkut pada rerumputan maupun tanaman lainnya yang ada di lantai lokasi penjaringan. Sasa nihe berperan dalam menjaga keawetan jaring dan memudahkan pemburu selama perburuan berlangsung.

g. Basa-basa: kayu dengan panjang 30-40 cm dan berdiameter 3-4 cm, yang berfungsi sebagai pememukul kepala kalong kapauk sampai kalong kapauk mati. Basa-basa hanya dipakai di Desa Sipange, karena di desa ini kalong kapauk yang di dapat langsung dibunuh. Dalam bahasa lokal, basa-basa sama artinya dengan berkat.

h. Peralatan lain-lain. Peralatan pendukung lainnya yang dibutuhkan pada saat melakukan perburuan kalong kapauk adalah: pondok tempat istirahat, senter, anti nyamuk bakar, dan keranjang bambu (tempat penyimpanan kalong kapauk yang ditangkap dalam keadaan hidup).

Gambar 8 Alat perburuan kalong kapauk dengan menggunakan jaring.

Keterangan : a = pohon tiang; b = paduk; c = hili-hilian; d = tali samping; e = jaring; f = sasa nihe.

5.2.1.2Senapan angin

Senapan angin biasa digunakan oleh pemburu yang tidak memiliki jaring, atau pemburu yang ingin menangkap kalong kapauk dalam jumlah kecil untuk dikonsumsi sendiri. Perburuan dengan senapan angin dilakukan di sekitar pohon durian yang sedang berbunga. Kelemahan alat ini adalah hasil tangkapan sedikit, karena tidak jarang kalong kapauk yang sudah tertembak namun tidak mati. Selain itu gerombolan kalong kapauk juga akan segera pergi jika mendengar suara letusan senapan angin. Jumlah seluruh pemburu kalong kapauk yang menggunakan senapan angin sulit diketahui, karena kelompok pemburu ini tidak rutin melakukan perburuan dan tidak ada tanda-tandanya di lapangan.

5.2.1.3Rawe (mata kail pancing)

Perburuan kalong kapauk dengan menggunakan rawe hanya ditemukan di Desa Aek Horsik Kabupaten Tapanuli Tengah. Rawe merupakan alternatif lain bagi pemburu yang tidak memiliki biaya yang cukup untuk membeli jaring. Selain lebih murah harganya, perburuan dengan menggunakan rawe tergolong mudah

a b c f e d

dilakukan. Pemburu hanya perlu memasang rawe pada sore hari, kemudian sesekali diperiksa pada malam atau pagi hari. Rawe biasanya dipasang di sekitar pohon durian yang sedang berbunga (sumber pakan), dengan tujuan kalong kapauk yang sedang terbang dapat tersangkut sayapnya pada mata kail pancing.

Bahan yang diperlukan adalah mata kail pancing berukuran besar dan benang/tali pancing. Mata kail pancing diikatkan di masing-masing benang pancing (vertikal) dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Seluruh benang pancing tersebut kemudian diikatkan ke benang pancing yang panjang (horizontal) yang kedua sisi kanan dan kirinya akan dililitkan ke batang pohon (tiang), sehingga mata kail pancing dalam kondisi menggantung (Gambar 9). Sama halnya dengan perburuan menggunakan senapan angin, alat perburuan ini juga tidak mudah teramati di lapangan.

Gambar 9 Alat perburuan kalong kapauk dengan menggunakan rawe.

5.2.2 Daerah dan lokasi perburuan

Perburuan kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT terjadi di 42 desa/dusun (Lampiran 9). Dalam satu malam, sebanyak 367 kelompok pemburu kalong kapauk berburu dengan menggunakan jaring, 7 pemburu menggunakan senapan, dan 1 pemburu menggunakan rawe. Perburuan paling banyak terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, yaitu di 24 desa/dusun (265 kelompok pemburu menggunakan jaring dan seorang pemburu menggunakan rawe). Jumlah kedua terbesar berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, yaitu di 10 desa/dusun (51 kelompok pemburu menggunakan jaring dan 7 pemburu menggunakan senapan). Perburuan kalong kapauk di Kabupaten Tapanuli Utara terjadi di 8 desa/dusun (51 kelompok pemburu menggunakan jaring).

Perburuan kalong kapauk dengan menggunakan jaring dilakukan di atas sebidang tanah yang secara sengaja dipersiapkan untuk perburuan kalong kapauk. Berdasarkan kepemilikannya, lahan yang dijadikan lokasi penjaringan dibedakan atas perkebunan milik sendiri/keluarga, perkebunan milik orang lain, kawasan hutan, dan lahan orang lain yang sengaja disewa untuk perburuan kalong kapauk (Gambar 10). Pembuatan lokasi penjaringan di area perkebunan orang lain memerlukan persetujuan dan kesepakatan mengenai sistem pembagian hasil, sedangkan lahan yang disewa untuk dijadikan lokasi penjaringan kalong kapauk adalah sebidang tanah yang sengaja disewa (berkisar Rp 300.000-400.000 dalam satu musim) karena dipandang sangat strategis untuk berburu kalong kapauk.

Gambar 10 Persentase kepemilikan lahan yang dijadikan lokasi penjaringan kalong kapauk.

Jarak dari rumah masing-masing pemburu ke lokasi perburuan kalong kapauk berbeda-beda. Perburuan dengan menggunakan senapan dan rawe dilakukan di lokasi yang lebih dekat dengan rumah pemburu, sedangkan perburuan dengan menggunakan jaring dilakukan di tempat yang jaraknya lebih jauh. Jarak rumah responden ke lokasi penjaringan kurang dari 500 m sebanyak 7 responden (10,14%), 500-1000 m sebanyak 21 responden (30,43%), 1000-3000 m sebanyak 24 responden (34,78%), 3000-5000 m sebanyak 11 responden (15,94%), dan lebih dari 5000 m sebanyak 6 responden (8,70%).

Lokasi penjaringan kalong kapauk ditentukan berdasaran pengalaman pemburu yang sering melihat keberadaan kalong kapauk di sekitar lokasi tersebut. Menurut hasil wawancara, 41 responden (59,42%) memiliki lokasi penjaringan di punggung bukit (Gambar 11), 20 responden (28,99%) memiliki lokasi penjaringan di sekitar tumbuhan pakan, dan 8 responden (11,59%) memiliki lokasi penjaringan di kedua tempat tersebut. Lokasi penjaringan yang berada di

punggung bukit umumnya lebih tinggi (± 25-40 m) daripada lokasi penjaringan di sekitar tumbuhan pakan (± 15-20 m). Sumber pakan kalong kapauk berdasarkan hasil wawancara pemburu adalah bunga durian, buah-buahan seperti langsat, mangga, rambutan, dan buah beringin (Ficus).

Gambar 11 Beberapa lokasi penjaringan kalong kapauk di punggung bukit (a) dan salah satu lokasi penjaringan (b).

Jumlah lokasi penjaringan yang dimiliki masing-masing responden pemburu kalong kapauk berkisar 1-4 lokasi. Sebanyak 45 responden (65,22%) memiliki 1 lokasi, 18 responden (26,09%) memiliki 2 lokasi, 4 responden (5,80%) memiliki 3 lokasi, dan 2 responden (2,90%) memiliki 4 lokasi penjaringan. Lokasi penjaringan yang dimiliki masing-masing pemburu dijaga oleh anggota keluarga atau dikerjakan oleh pemburu lain dengan sistem bagi hasil.

5.2.3 Waktu perburuan

Perburuan kalong kapauk dilakukan pada malam sampai pagi hari, yaitu pada saat kalong kapauk mencari makan sampai kembali lagi ke pohon sarang. Perburuan kalong kapauk dengan menggunakan senapan angin berlangsung lebih singkat (pukul 19.00-23.00 WIB), sedangkan perburuan dengan menggunakan jaring dan rawe berlangsung sejak pukul 19.00-05.00 WIB. Jika lokasi penjaringan cukup jauh, maka pemburu sudah mulai berangkat dari rumah masing-masing pukul 15.00 WIB.

Perburuan kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT dilakukan secara musiman. Perburuan kalong kapauk diluar musim kalong kapauk hanya terjadi di Desa Sipange, Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah. Musim kalong

kapauk bersamaan dengan musim berbunga durian dan musim panen buah-buahan. Puncak musim kalong kapauk terjadi saat musim berbunga durian (secara serentak dan banyak), yang umumnya berlangsung selama 3 minggu. Perburuan kalong kapauk pada musim panen buah-buahan dapat berlangsung 3-4 bulan, namun jumlah tangkapan sedikit. Berdasarkan hasil wawancara, 24,64% responden berpendapat bahwa puncak musim berbunga durian terjadi dari bulan Juli-Agustus (Gambar 12).

Gambar 12 Persentase musim berbunga durian berdasarkan hasil wawancara pemburu (n = 69).

5.2.4 Frekuensi perburuan

Perburuan diluar musim kalong kapauk berlangsung pada waktu-waktu tertentu saja (2-3 kali dalam seminggu), sedangkan perburuan selama musim kalong kapauk berlangsung setiap malam. Bila musim kalong kapauk tiba, pemburu lebih memilih berburu kalong kapauk daripada mengerjakan pekerjaan sehari-hari. Pada perburuan diluar musim kalong kapauk, beberapa hal yang menjadi pertimbangan bagi pemburu kalong kapauk untuk pergi berburu adalah: sedang tidak hujan, tidak terang bulan, dan angin tidak terlalu kencang. Frekuensi perburuan kalong kapauk juga meningkat pada hari-hari libur sekolah, karena tidak jarang orang tua akan mengikut sertakan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah untuk berburu.

5.2.5 Estimasi jumlah tangkapan

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah hasil tangkapan baik pada saat musim maupun tidak musim kalong kapauk adalah: posisi lokasi penjaringan, tidak terang bulan, tidak hujan, angin tidak terlalu kencang, dan kemampuan yang dimiliki pemburu. Hasil tangkapan yang diperoleh pemburu di masing-masing

daerah dan lokasi perburuan berbeda-beda. Ketika musim kalong kapauk, pada kondisi yang kurang baik dalam satu malam jumlah tangkapan berkisar 2-10 ekor, sedangkan pada kondisi yang baik dapat mencapai 100 ekor per lokasi penjaringan. Kisaran jumlah seluruh tangkapan kalong kapauk di dalam dan di sekitar KHBT (375 lokasi penjaringan musiman) dalam satu malam adalah 9.041 ekor. Jika musim kalong kapauk berlangsung 3 minggu (21 malam) dalam setahun, maka kisaran jumlah tangkapan kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT dalam setahun adalah 189.861 ekor.

5.3 Perdagangan kalong kapauk