IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
5.10 Pembahasan umum .1Kalong kapauk .1Kalong kapauk
5.10.3 Implikasi terhadap pengelolaan
5.10.3.4 Upaya-upaya pemerintah
Berbeda dengan di Thailand, di Indonesia kalong kapauk tidak termasuk dalam jenis satwaliar yang dilindungi (Burns 2009). Berdasarkan CITES, kalong kapauk terdaftar pada Apendix II, yang artinya merupakan jenis yang pada saat ini tidak termasuk kedalam kategori terancam punah, namun memiliki kemungkinan untuk terancam punah bila perdagangannya tidak diatur (Brautigan 1992 diacu dalam Kunz & Jones 2000; Soehartono & Mardiastuti 2003). Berdasarkan Red List IUCN (2008) versi 3.1, kalong kapauk terdaftar sebagai Hampir Terancam (Near Threatened; NT), karena jenis ini menurun signifikan akibat pemanenan secara berlebihan untuk dikonsumsi, dan karena terus-menerus mengalami degradasi habitat di hutan primer (IUCN 2008).
Lalai kembang dan kusing dayak tidak termasuk dalam daftar CITES. Berdasarkan Red List IUCN (2008) versi 3.1, lalai kembang berstatus risiko rendah (Least Concern; LC), karena memiliki disribusi yang luas, diduga populasinya besar di sejumlah kawasan lindung, dapat mentoleransi sedikit banyak perubahan habitat, dan tidak mungkin mengalami penurunan populasi yang begitu cepat (IUCN 2008). Kusing dayak terdaftar sebagai hampir terancam (Near Threatened; NT), karena hutan tempat tinggal spesies ini mungkin mengalami penurunan yang signifikan akibat kehilangan habitat (IUCN 2008).
Perburuan kalong kapauk, lalai kembang dan kusing dayak di dalam dan sekitar KHBT secara ekonomi dapat meningkatkan perekonomian masyarakat tertentu (pemburu, pengumpul dan pedagang, serta pemilik rumah makan atau
warung tuak yang menyediakan kalong kapauk siap saji), bahkan menjadi matapencaharian utama ketika musim kalong kapauk tiba. Namun perlu dipertimbangkan bahwa perburuan kalong kapauk secara tidak lestari juga dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar baik dari segi ekologis maupun ekonomi (Struebig et al. 2007).
Upaya-upaya yang mungkin untuk dilakukan agar kalong kapauk, lalai kembang dan kusing dayak di dalam dan sekitar KHBT tetap lestari adalah:
1. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui penyuluhan
Penyuluhan dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai fungsi ekologi kelelawar. Meskipun belum termasuk dalam kategori dilindungi, intensitas perburuan kelelawar sebaiknya dikurangi demi keseimbangan ekosistem. Perburuan sebaiknya tidak dilakukan setiap malam dan perlu dilakukan pengaturan sistem berburu secara bergantian. Apabila populasi kalong kapauk di alam tetap lestari, tentunya merupakan keuntungan bagi masyarakat yang berburu kalong kapauk, karena pemburu akan tetap memperoleh hasil tangkapan yang cukup. Penyuluhan juga diperlukan untuk meluruskan pandangan sebahagian masyarakat (petani buah), yang masih mengganggap kalong kapauk sebagai hama pertanian.
2. Pendidikan konservasi di bangku sekolah. Pendidikan konservasi di bangku sekolah perlu dilakukan untuk mendidik anak muda sedini mungkin, agar peka terhadap kelestarian lingkungan khususnya terhadap kelestarian kelelawar. Program pendidikan yang menekankan peran kelelawar dalam memberikan jasa ekosistem kini sudah banyak dilaksanakan (Mickleburgh et al. 2009). 3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Mengingat sistem
matapencaharian sebahagian besar masyarakat di sekitar KHBT adalah bertani, maka perlu dilakukan penyuluhan pertanian oleh pemerintah daerah. Bila masyarakat sejahtera, maka masyarakat tidak akan terlalu bergantung pada perburuan kelelawar. Pemerintah juga dapat membantu dalam pengadaan bibit tanaman buah yang unggul seperti jenis durian, petai, cokelat, rambutan, dan langsat.
4. Kerjasama berbagai pihak, bahkan kerja sama internasional (Einstein 2009). Mengingat bahwa perburuan kalong kapauk berlangsung di banyak tempat
bahkan di banyak negara, serta tingginya mobilitas kelelawar, sebaiknya pemerintah daerah dari ketiga kabupaten yang ada di dalam dan sekitar KHBT ikut serta mendorong pelestarian kelelawar, khususnya jenis kalong kapauk. 5. Pengelolaan habitat dengan membuat habitat baru di pulau-pulau kecil namun
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1. Perburuan kelelawar di dalam dan di sekitar KHBT umumnya dilakukan dengan menggunakan jaring, karena hasil tangkapan lebih banyak, tangkapan khususnya jenis kalong kapauk didapat dalam keadaan hidup, dan jaring dapat digunakan secara turun temurun. Alat perburuan lainnya adalah senapan angin dan rawe.
2. Perburuan kalong kapauk terjadi di 42 desa/dusun, dan paling banyak berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, sedangkan perburuan lalai kembang dan kusing dayak hanya terjadi di salah satu habitat. Kalong kapauk lebih disukai daripada lalai kembang dan kusing dayak, sehingga perburuannya terjadi di banyak tempat.
3. Kecuali di Desa Sipange, perburuan kalong kapauk berlangsung musiman dan dilakukan di sekitar tumbuhan pakan (durian yang sedang berbunga) dan di punggung bukit. Perburuan lalai kembang dan kusing dayak terjadi langsung di gua (habitat) dan terjadi setiap 5-6 hari sekali.
4. Jumlah kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT yang diburu dalam setahun sekitar 189.861 ekor kalong kapauk, sedangkan lalai kembang dan kusing dayak sekitar 19.720 ekor.
5. Perburuan kelelawar telah mengakibatkan terjadinya penurunan populasi yang signifikan karena terjadi bersamaan dengan musim reproduksi dan perburuan berlangsung di setiap daerah yang dapat ditemukan kalong kapauk. Hasil tangkapan pemburu juga semakin berkurang.
6. Rantai perdagangan kalong kapauk, lalai kembang dan kusing dayak di dalam dan di sekitar KHBT bersifat lokal. Pemanfaatan kalong kapauk, lalai kembang dan kusing dayak adalah untuk dikonsumsi dagingnya sebagai sumber protein hewani, menu makanan ekstrim, dipercaya berkhasiat obat (asma), dan dijadikan tambul.
7. Diperkirakan dalam satu malam sebanyak 375 kelompok pemburu pergi berburu kalong kapauk ketika musim kalong kapauk tiba.
8. Pemanenan kalong kapauk, lalai kembang dan kusing dayak sebaiknya dilakukan secara lestari, karena dapat membantu perekonomian masyarakat setempat.
6.2 Saran
Beberapa saran yang dapat dipertimbangkan sebagai tindak lanjut dari penelitian ini adalah:
1. Dilakukannya survei lapangan saat musim perburuan kalong berlangsung, agar menghasilkan data yang lebih akurat.
2. Perlu dilakukan kajian mengenai populasi dan ekologi dari ketiga jenis kelelawar yang diburu di dalam dan di sekitar KHBT, sehingga bila diperlukan penentuan kuota tangkapan dapat dilakukan.
Institut Pertanian Bogor.
Andersen K. 1912. Catalogue of the chiroptera in the collection of the british museum. London: United Kingdom.
Azlan MJ, Zubaid A, Kunz TH. 2001. Distribution, relative abundance and conservation status of the large flying fox: Pteropus vampyrus, in Peninsular Malaysia: a preliminary assessment. Acta Chiropterologica, vol. 3, 149-162.
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2009. Tapanuli Selatan dalam angka. Sipirok: BPS Kabupaten Tapanuli Selatan.
2009. Tapanuli Tengah dalam angka. Pandan: BPS
Kabupaten Tapanuli Tengah.
2009. Tapanuli Utara dalam angka. Tarutung: BPS Kabupaten Tapanuli Utara.
Bungin B. 2003. Analisis data penelitian kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Burns J. 2009. 'Extinction threat' to flying fox. http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/ nature/8221132.stm [21 Juni 2010].
Dharmawan U. 1987. Studi prilaku persaingan burung-burung air dan Kalong (Pteropus vampyrus) di Cagar Alam Pulau Rambut [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Epstein JH, Olival KJ, Pulliam JRC,Smith C, Westrum J, Hughes T, Dobson AP, Zubaid A, Rahman SA, Basir MM, Field HE, Daszak P. 2009. Pteropus vampyrus. A hunted migratory species with a multinational home-range and a need for regional managemen. Journal of Applied Ecology. doi: 10.1111/j.1365-2664.2009.01 699.x
Fukuda D, Tisen OB, Momose K, Sakai S. 2009. Bat diversity in the vegetation mosaic around a lowland dipterocarp forest of Borneo. The Raffles Bulletin of Zoology. 57(1): 213-221
Feldhamer GA, CD Lee, HV Stephe, FM Joseph. 1999. Mammalogy: adaptation, diversity, and ecology. New York: McGraw Hill.
Fujita MS and Tuttle MD. 1991. Flying foxes (Chiroptera: Pteropodidae): threatened animals of key ecological and economic importance. Conserve. Biol. 5, 455-463.
Gauthreaux SA. 1980. Animal migration, orientation, and navigation. New York: Academic Press.
Gulo W. 2002. Metodologi penelitian. Jakarta: PT Grasindo.
Indra M, Fredriksson G. 2007. Hutan Batang Toru harta karun Tapanuli. Tapanuli: Yayasan Ekosistem Lestari.
[IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2008. The IUCN red list of Dyacopterus spadiceus. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/ 6931/0 [26 November 2010].
2008. The IUCN red list of Eonycteris spelaea. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/7787/ 0/ summary [26 November 2010].
2008. The IUCN red list of Pteropus vampyrus. http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/ 18766/0/ summary [26 November 2010].
Kencana BE. 2002. Rencana Aksi Konsevasi Kalelawar Indonesia. WARTA IWF/Vol. 6 No. 1 Januari 2002/ISSN 1411 -8076/D. Jakarta: Yayasan Pembinaan Suaka Margasatwa Indonesia (The Indonesian Wildlife Fund, IWF).
Khairulid. 2005. Kalong sebagai obat penyakit asma. http://khairulid.blogspot. com/2005_02_01_archive.html [2 Oktober 2009].
Kunz TH, Jones DP. 2000. Mammalian Species Pteropus vampyrus. No. 642, Pp. 1–6, 3 Figs. The American Society Of Mammalogists. http://www.science. smith.edu/departments/Biology/VHAYSSEN/msi/pdf/642_Pteropus_vamp yrus.pdf [7 Oktober 2009].
Lekagul B, JA McNeely. 1977. Mammals of Thailand. Bangkok: Sahakarnbhat. 758 p.
Liat LB. 1966. Abundance and distribution of Malaysian Bats in different ecologycal habitats. Kuala Lumpur: Federation Museums Journal XI. Institute for Medical Research.
Maharadatunkamsi, Kitchener DJ. 1997. Morphological variation in Eonycteris spelaea (Chiroptera: Pteropodidae) from the greater and Lesse Sundas Island, Indonesia and description of a new subspecies. Treubia Vol 31: 133-165.
Maharadatunkamsi, Hisheh S, Kitchener DJ, Schmitt LH. 2003. Relationships between morphology, genetics and geography in the cave fruit bat Eonycteris spelaea (Dobson, 1871) from Indonesia. Biological Journal of the Linnean Society. 79, 511-522.
Mickleburgh S, Kerry W, Paul R. 2009. Bats as bushmeat: a global review. Review. Fauna & Flora International, Oryx, 43(2), 217-234.
http://www.jurnalbogor.com/?p=46162 [7 Oktober 2009].
[MWBP] Mekong Wetlands Biodiversity Conservation and Sustainable Use Programme. 2006. Trade in natural resources in Attapeu Province, Lao PDR: an assessment of the wildlife trade.
Pakde. 2009. Menyulap kalong menjadi uang saku. http://inspirasipakde.com/ 2009/03/21/menyulap-kalong-menjadi-uang-saku/ [7 September 2009]. Soehartono T, Mardiastuti A. 2003. Pelaksanaan konvensi CITES di Indonesia.
Jakarta: JICA.
Standbury P. 1970. Looking at Mammals. Sydney: Angus and Robertson.
Struebig MJ, Harrison ME, Cheyne SM, Limin SH. 2007. Intensive hunting of large flying foxes Pteropus vampyrus natunae in Central Kalimantan, Indonesian Borneo. Oryx Vol 41 390-393.
Suratmo FG. 1979. Prinsip dasar tingkah laku satwaliar. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.
Susetyo SB. 2007. Burung blekok dan kalong ‘over’ populasi di Kebun Raya Bogor. http://www.kapanlagi.com/h/0000172115_print.html [7 September 2009].
Suyanto A. 1979. Mengenal kalong (Pteropus vampyrus L) dan peranannya. Buletin Kebun Raya 4(1): 1-5.
. 2001. Panduan lapang kelelawar di Indonesia. Bogor: Puslitbang Biologi-LIPI.
Vaughan TA. 1986. Mammalogy. Ed ke-3. Flagstaff, Arizona: Nothern Arizona University. hlm 96-137.
Yalden DW, Morris PA. 1975. The Lives of Bats. New York: The New York Times Book.
Zainuddin H. 2009. Makanan dari daging kalong disukai suku Dayak. http://www.news.id.finroll.com/news/14-berita-terkini/105129-makanan-dari-daging-kalong--disukai-suku-dayak.pdf [3 November 2009].
Lampiran 1 Panduan wawancara kepada pemburu kalong kapauk di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. KARAKTERISTIK PEMBURU
1. Sudah berapa tahun mulai berburu kalong?
[ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-9 tahun [ ] ≥ 10 tahun 2. Dari mana pengetahuan tentang perburuan kalong tersebut Bapak ketahui?
[ ] Dari orang tua (tradisi) [ ] Dari teman [ ] Tahu sendiri [ ] Lainnya: _______________
3. Mengapa berburu kalong?
[ ] Menambah pendapatan sehari-hari [ ] Adanya pesanan [ ] Lainnya: _______________
4. Kalong hasil tangkapan akan diapakan?
[ ] Dijual ke pengumpul [ ] Konsumsi sendiri [ ] Dijual ke rumah makan dan warung tuak
[ ] Lainnya: _______________
5. Berapakah jumlah orang yang ikut serta dalam 1 lokasi perburuan? [ ] 2-3 orang [ ] 3-5 orang [ ] > 5 orang 6. Bagaimana sistem pembagian hasilnya?
_______________
7. Apakah orang-orang tersebut biasanya memiliki hubungan kekeluargaan? [ ] Ya [ ] Tidak
[ ] Sebagai _______________
8. Apakah orang-orang dalam satu tim tersebut tetap? [ ] Ya [ ] Tidak
C. PERBURUAN
9. Apa saja alat yang dapat digunakan untuk berburu kalong?
[ ] Jaring [ ] Senapan [ ] Panah [ ] Ketapel [ ] Lainnya: _______________
10. Bapak berburu kalong di lahan siapa?
[ ] Kebun sendiri [ ] Kebun orang lain [ ] Hutan [ ] Lainnya: _______________
11. Dimana Bapak memasang jaring?
[ ] Di jalur terbang kalong (bukit) [ ] Di tempat kalong mencari makan [ ] Lainnya: _______________
12. Berapa jauh (km) jarak dan waktu yang diperlukan dari rumah ke lokasi perburuan? _______________
13. Berapa jumlah lokasi perburuan kalong yang Bapak miliki?
[ ] 1 [ ] 2 [ ] 3 [ ] > 3
[ ] Lainnya: _______________
14. Apakah Bapak rutin (setiap hari) berburu kalong? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________ 15. Adakah musim perburuan kalong?
16. Kalau musiman, pada saat kapan Bapak berburu kalong? (Bulan apa dan musim bunga/buah jenis tanaman apa?) _______________
17. Pukul berapa Bapak berburu kalong? _______________
18. Kalau sedang tidak musim kalong, dalam seminggu bisa berapa kali berburu kalong? [ ] 1-2 kali [ ] 2-3 kali [ ] > 3 kali
19. Apa saja faktor yang mempengaruhinya? _______________
20. Kalau sedang musim kalong, dalam seminggu bisa berapa kali berburu kalong? [ ] 1-3 kali [ ] 4-6 kali [ ] 7 kali
21. Jumlah kalong yang didapat (per malam) ketika tidak sedang musim perburuan kalong? _______________
22. Jumlah kalong yang didapat (per malam) ketika dalam kondisi sedang musim perburuan kalong?
_______________
23. Apakah jumlah hasil tangkapan kalong yang didapat dalam satu kali (malam) perburuan itu tetap?
[ ] Ya [ ] Tidak Alasannya : _______________
24. Apakah jumlah hasil buruan kalong dari tahun ketahun selalu sama? [ ] Tetap [ ] Berkurang [ ] Bertambah
Alasannya : _______________ D. PERDAGANGAN
25. Apakah kalong ditangkap dalam keadaan hidup? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
26. Bila kalong hasil buruan dijual, kepada siapakah kalong tersebut dijual? [ ] Pengumpul [ ] RM / warung tuak [ ] Tetangga [ ] Lainnya: _______________
Alasannya : _______________
27. Apakah ukuran kalong mempengaruhi besar harganya? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________ 28. Berapa harga jual satu ekor kalong?
[ ] Ukuran kecil : Rp _______________ [ ] Ukuran besar : Rp _______________ E. PERSEPSI MASYARAKAT DAN UPAYA PERLINDUNGAN
29. Jika mendapat kalong yang sedang bunting, apakah juga akan mengambil kalong tersebut? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
30. Jika mendapat anakan kalong, apakah juga akan mengambil anakan kalong tersebut? [ ] Ya [ ] Tidak Alasannya : _______________
31. Apakah ada aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan adat untuk melindungi kalong? Sebutkan! [ ] Ya [ ] Tidak
_______________
32. Apakah ada pembinaan dari pemerintah untuk melindungi kalong? Sebutkan! [ ] Ya [ ] Tidak
_____________
33. Apakah layak untuk mengambil kalong dari alam dengan adanya sistem kuota/pembatasan jumlah dan musim? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
34. Apa saja fungsi kalong yang Bapak ketahui?
[ ] Lainnya: _______________
35. Apa saja dampak buruk dari keberadaan kalong?
[ ] Hama buah langsat [ ] Hama buah rambutan [ ] Menularkan penyakit [ ] Lainnya: _______________
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 2 Panduan wawancara kepada pemburu lalai kembang dan kusing dayak di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. KARAKTERISTIK PEMBURU
1. Sudah berapa tahun mulai berburu lopong?
[ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-9 tahun [ ] ≥ 10 tahun 2. Dari mana pengetahuan tentang perburuan lopong tersebut Bapak ketahui?
[ ] Dari orang tua (tradisi) [ ] Dari teman [ ] Tahu sendiri [ ] Lainnya: _______________
3. Mengapa berburu lopong?
[ ] Menambah pendapatan sehari-hari [ ] Adanya pesanan [ ] Lainnya: _______________
C. PERBURUAN
4. Apakah Bapak rutin (setiap hari) berburu lopong? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________ 5. Adakah musim perburuan lopong?
[ ] Ya [ ] Tidak
6. Pada saat kapan Bapak berburu lopong? _______________
7. Jika melakukan perburuan, berapa lama (malam) Bapak berburu?
[ ] 1malam [ ] 2 malam [ ] Lainnya: _______________ 8. Hal apa saja yang mempengaruhi Bapak, sehingga Bapak pergi berburu lopong?
_______________
9. Hal apa saja yang dapat membuat hasil tangkapan menjadi lebih banyak? _______________
_______________
10. Jumlah lopong yang didapat (per malam) ketika dalam kondisi yang baik (menguntungkan)?
[ ] 40-60 ekor [ ] 60-80 ekor [ ] 80-100 ekor [ ] > 100 ekor [ ] Lainnya: _______________
11. Jumlah lopong yang didapat (per malam) ketika dalam kondisi yang tidak baik? [ ] 40-60 ekor [ ] 60-80 ekor [ ] 80-100 ekor [ ] > 100 ekor [ ] Lainnya: _______________
12. Apakah jumlah hasil tangkapan lopong yang didapat dalam satu kali (malam) perburuan itu tetap? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
13. Apakah jumlah hasil buruan lopong dari tahun ketahun selalu sama? [ ] Tetap [ ] Berkurang [ ] Bertambah
Alasannya : _______________
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 3 Panduan wawancara dengan pengumpul sekaligus pedagang kalong kapauk, di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. DATA PERDAGANGAN
1. Sudah berapa tahun Bapak/Ibu menjadi pengumpul/berjualan kalong? [ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-10 tahun 2. Dari daerah mana kalong diperoleh? _______________
3. Berapa ekor jumlah kalong yang diperdagangkan per harinya?
[ ] 60-70 ekor [ ] 71-100 ekor [ ] 101-150 ekor [ ] > 150 ekor [ ] Lainnya: _______________
4. Apakah dagangan Bapak/Ibu selalu habis? [ ] Ya [ ] Tidak Alasannya : _______________
5. Apakah menjual kalong dalam keadaan hidup? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
6. Apakah terjadi penurunan harga bila kalong mati? [ ] Ya [ ] Tidak 7. Apakah ukuran kalong mempengaruhi besar harganya? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
8. Berapa harga beli seekor kalong dari pemasok?
[ ] Ukuran kecil : Rp _______________ [ ] Ukuran besar : Rp _______________ 9. Berapa harga jual kalong per ekor?
[ ] Ukuran kecil : Rp _______________ [ ] Ukuran besar : Rp _______________ 10. Apakah terjadi penurunan harga bila jumlah kalong meningkat?
[ ] Ya [ ] Tidak
11. Bagai mana sistem penjualan kalong Bapak/Ibu?
[ ] Menetap di suatu tempat. (pasar/ pekan/ tepi jalan, lainnya: ____________*) [ ] Mendatangi/mencari pembeli dengan sepeda motor
[ ] Menghantar sesuai dengan pesanan pembeli (pemesanan melalui sms) [ ] Lainnya: _______________
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 4 Panduan wawancara kepada pembeli kalong kapauk (untuk konsumsi sendiri), di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. DATA PEMBELIAN KALONG KAPAUK 1. Dari Siapa Bapak/Ibu membeli kalong?
[ ] Pemburu [ ] Pengumpul [ ] Lainnya: _______________ 2. Sudah berapa tahun Bapak/Ibu mengkonsumsi kalong?
[ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-9 tahun [ ] 10-20 tahun [ ] 20-39 tahun [ ] ≥ 40 tahun 3. Untuk apa Bapak/Ibu membeli kalong? _______________
4. Apa saja khasiat kalong yang Bapak/Ibu rasakan? _______________ 5. Berapa harga seekor kalong dari pemasok?
[ ] Ukuran kecil : Rp _______________ [ ] Ukuran besar : Rp _______________ 6. Apakah harga kalong saat ini tergolong mahal?
[ ] Ya [ ] Tidak Alasannya : _______________
7. Adakah waktu-waktu tertentu harga kalong menjadi mahal? Sebutkan! [ ] Ya [ ] Tidak
_______________
8. Adakah waktu-waktu tertentu harga kalong menjadi murah? Sebutkan! [ ] Ya [ ] Tidak
_______________
9. Berapa jumlah kalong yang Bapak/Ibu beli untuk setiap satu kali pembelian? [ ] 1 ekor [ ] 2 ekor [ ] 3 ekor [ ] 4 ekor [ ] ≥ 5 ekor 10. Dalam seminggu, berapa kali Bapak/Ibu membeli kalong?
[ ] 1 kali [ ] 2 kali [ ] 3 kali [ ] > 3 kali 11. Dalam sebulan, berapa kali Bapak/Ibu membeli kalong?
_______________
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 5 Panduan wawancara kepada pemilik rumah makan dan warung tuak yang menyediakan kalong kapauk siap saji, di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. DATA PENJUALAN KALONG KAPAUK SIAP SAJI 1. Sudah berapa tahun Bapak/Ibu berjualan kalong siap saji?
[ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-9 tahun [ ] 10-20 tahun [ ] 20-39 tahun [ ] ≥ 40 tahun 2. Dalam seminggu, bisa berapa kali berjualan?
[ ] 1-2 kali [ ] 3-5 kali [ ] 6-7 kali
3. Selain kalong, apa saja jenis hewan lainnya yang menjadi menu makanan di warung Bapak/Ibu? _______________
4. Untuk menunjang usaha Bapak/Ibu, berapa ekor jumlah kalong yang dibutuhkan setiap harinya?
[ ] 2-4 ekor [ ] 5-7 ekor [ ] 8-10 ekor [ ] 10-20 ekor Alasannya : _______________
5. Apa upaya yang Bapak/Ibu lakukan agar mendapatkan kalong sesuai dengan jumlah yang diperlukan? _______________
6. Dari siapa kalong diperoleh?
[ ] Pemburu [ ] Pengumpul [ ] Tangkapan sendiri [ ] Lainnya: _______________
7. Berat rata-rata kalong yang dibeli dari pemasok?
[ ] 0,5-0,7 kg [ ] 0,8-1 kg [ ] 1,1-1,5 kg [ ] > 1,5 kg
[ ] Lainnya: _______________
6. Berapa harga seekor kalong dari pemasok?
[ ] Ukuran kecil : Rp _______________ [ ] Ukuran besar : Rp _______________ 7. Bagai mana sistem penjualan/penyajian kalong siap saji Bapak/Ibu?
[ ] Per potong [ ] Per ekor [ ] Per Piring (Cincang) 8. Berapa harga kalong siap saji per unit? _______________
9. Jika per potong, maka 1 ekor kalong dapat dibagi menjadi berapa potong (bagian)? _______________
10. Jika per piring (cincang), maka 1 ekor kalong dapat dibagi menjadi berapa piring? _______________
11. Apa saja jenis masakan kalong Bapak/Ibu?
[ ] Gulai rendang [ ] Goreng [ ] Sop [ ] Panggang [ ] Lainnya: _______________
12. Bagai mana jumlah pembeli kalong dari tahun-ketahun? [ ] Tetap [ ] Berkurang [ ] Bertambah Alasannya : _______________
13. Apakah ada hari-hari tertentu pembeli paling ramai? Sebutkan!
[ ] Ya [ ] Tidak
_______________
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 6 Panduan wawancara kepada pengkonsumsi di rumah makan dan warung tuak yang menyediakan kalong kapauk siap saji, di dalam dan sekitar KHBT
A. DATA RESPONDEN
Usia : (A/ B/ C/ D/ E/ F*) Pendidikan : (SD/ SMP/ SMA/ PT*) Jenis kelamin : L / P Pekerjaan : _______________ Asal suku : _______________ Asal desa : _______________ Agama : _______________
B. DATA PENKONSUMSIAN KALONG KAPAUK SIAP SAJI 1. Sudah berapa tahun Bapak/Ibu mengkonsumsi kalong siap saji?
[ ] < 1 tahun [ ] 1-4 tahun [ ] 5-9 tahun [ ] 10-20 tahun [ ] 20-39 tahun [ ] ≥ 40 tahun 2. Mengapa Bapak/Ibu mengkonsumsi kalong siap saji?
[ ] Obat [ ] Kesenagan/ ketagihan [ ] Lainnya: _______________
3. Apa saja khasiat kalong yang Bapak/Ibu rasakan? _______________
4. Apakah harga kalong siap saji saat ini tergolong mahal? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
5. Berapa biaya yang Bapak/Ibu keluarkan untuk satu kali (setiap kali) mengkonsumsi kalong? _______________
6. Dalam seminggu, berapa kali Bapak/Ibu mengkonsumsi kalong siap saji? [ ] 1 kali [ ] 2 kali [ ] 3 kali
[ ] > 3 kali
7. Apakah jenis masakan kalong yang paling Bapak/Ibu sukai?
[ ] Gulai rendang [ ] Goreng [ ] Sop [ ] Panggang [ ] Lainnya: _______________
Alasannya : _______________
8. Bila akan mengkonsumsi kalong siap saji, bersama siapakah Bapak/Ibu pergi mengkonsumsi?
[ ] Teman [ ] Keluarga [ ] Lainnya: _______________ Alasannya : _______________
9. Berapa jumlah orang yang pergi bersama Bapak/Ibu bila akan mengkonsumsi kalong siap saji? [ ] 1 orang [ ] 2 orang [ ] 3 orang [ ] 4 orang
[ ] 5 orang [ ] > 5 orang
Keterangan: Usia A: 5-15 tahun, usia B: 16-25 tahun, usia C: 26-35, usia D: 36-45 tahun, usia E: 46-55 tahun, usia F: ≥ 56 tahun
Lampiran 7 Panduan wawancara kepada petani durian yang ada di dalam dan sekitar KHBT
1. Berapa jumlah pohon durian yang Bapak/Ibu miliki? _______________ 2. Sudah berapa tahun Bapak/Ibu mengalami panen Durian?
[ ] 1-5 tahun [ ] 5-10 tahun [ ] 10-20 tahun [ ] 20-30 tahun 3. Pada saat bulan berapakah durian mulai berbunga? _______________
4. Apakah hasil panen buah durian Bapak/Ibu selalu sama setiap tahunnya? [ ] Ya [ ] Berkurang [ ] Bertambah
5. Bagai mana hasil panen buah durian Bapak/Ibu bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu? [ ] Tetap [ ] Berkurang [ ] Bertambah 6. Hal apa saja yang dapat mengakibatkan panen buah durian Bapak/Ibu berkurang?
_______________
7. Apakah panen buah durian sangat membantu perekonomian Bapak/Ibu? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________ 8. Apakah Bapak/Ibu mengenal kalong?
[ ] Ya [ ] Tidak
9. Apa saja fungsi kalong yang Bapak/Ibu ketahui?
[ ] Membantu penyerbukan tumbuhan [ ] Penyebar biji tumbuh-tumbuhan [ ] Lainnya: _______________
10. Apakah Bapak/Ibu setuju bila kalong tetap diburu? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
11. Apakah saat ini di kebun Bapak/Ibu semakin sulit untuk melihat kalong? [ ] Ya [ ] Tidak
Alasannya : _______________
12. Apa saja dampak buruk dari keberadaan kalong?
[ ] Hama buah langsat [ ] Hama buah rambutan [ ] Menularkan penyakit [ ] Lainnya: _______________
Australia
P. argentatus Gray, 1844 Kalong ambon Maluku dan Ambon
P. caniceps Gray, 1871 Kalong morotai Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara
P. chrysoproctus Temminck, 1837 Kalong maluku Maluku
P. conspicillatus Gould, 1850 Kalong kacamata Maluku, Papua Barat, Papua Nugini, dan Australia
P. griseus E. Geoffroy, 1810 Kalong kelabu Asia Tenggara benua, Fillipina dan sulawesi, Nusa Tenggara, P. Timor, Maluku
P. hypomelanus Temminck, 1853 Kalong kecil Asia Tenggara benua, Pulau-pulau kecil sekitar Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa
Tenggara, Papua Barat dan Papua Nugini sampai Solomon
P. lombocensis Dobson, 1878 Kalong lombok Nusa Tenggara dan Maluku
P. macrotis Peters, 1867 Kalong nissi P. Aru, Salawati, Wokam, Papua Barat, dan Papua Nugini
P. melanopogon Peters, 1878 Kalong awab P. Aru dan Maluku
P. melanotus Blyth, 1863 Kalong enggano Kep. Enggano, Kep. Andaman, dan Asia Tenggara benua
P. neohibernicus Blyth, 1876 Kalong bismark Papua Barat dan Papua Nugini
P. ocularis Peters, 1867 Kalong seram P. Buru, P. Seram, dan Maluku
P. personatus Temminck, 1825 Kalong manu Maluku
P. pohlei Kalong manguai P. Yapen dan P. Biak (Papua Barat)
P. pumilus Miller, 1910 Kalong talaud Filipina, P. Talaud, dan Sulawesi
P. scapulatus Peters, 1862 Kalong merah Papua Barat, Papua Nugini, dan Australia
P. speciosus Andersen, 1908 Kalong laut Kep. Talaud dan Filipina
P. temmincki Peters, 1867 Kalong temmincki Timor (keberadaannya diragukan oleh Goodwin 1979), Maluku, dan Papua Nugini
P. vampyrus Linnaeus, 1758 Kalong kapauk Tenasserim, Thailand, Indocina, Malaysia dan Filipina, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa
Lampiran 9 Lokasi perburuan, alat perburuan, jumlah kelompok pemburu, rata-rata tangkapan, dan total tangkapan kalong kapauk di