IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
5.5 Perburuan lalai kembang dan kusing dayak .1Alat dan cara perburuan .1Alat dan cara perburuan
Alat yang digunakan pemburu lalai kembang dan kusing dayak adalah jaring dan dua batang bambu (5-6 m). Selain buat sendiri, jaring juga dapat dibeli dengan harga Rp 300.000. Jaring diikatkan pada dua buah batang bambu yang pangkalnya disatukan/diikat, sehingga bila kedua batang bambu ditegakkan akan berbentuk huruf V (Gambar 19). Jaring dan bambu tidak diikat secara permanen, sehingga jaring dapat dilepas bila telah selesai berburu. Cara perburuannya adalah dengan mengayunkan batang bambu kearah datangnya lalai kembang dan kusing dayak. Kedua batang bambu kemudian disatukan, sehingga lalai kembang dan kusing dayak tidak dapat melepaskan diri. Lalai kembang dan kusing dayak diambil dengan menekan bagian kepalanya sampai mati.
Gambar 19 Alat perburuan lalai kembang dan kusing dayak.
Karena mulut gua tinggi dan lebar, maka perburuan dilakukan di atas patca (Gambar 20). Patca membuat posisi pemburu menjadi lebih tinggi dan lebih mudah untuk menjangkau lalai kembang dan kusing dayak. Patca dibuat dengan memanfaatkan pepohonan di sekitar mulut gua, tetapi juga dapat dibuat dengan menggunakan tiang-tiang kayu yang disusun sedemikian rupa. Bila menggunakan
pepohonan, pohon yang dijadikan patca adalah yang kokoh, tinggi, dan berada di sekitar jalur keluar masuknya lalai kembang dan kusing dayak. Perburuan dapat dilakukan dengan posisi duduk atau berdiri di patca.
Gambar 20 Tempat perburuan lalai kembang dan kusing dayak (patca) dengan memanfaatkan pohon hidup (a) dan menggunakan tiang kayu (b). 5.5.2 Daerah dan lokasi perburuan
Perburuan lalai kembang dan kusing dayak terjadi di salah satu gua yang ada di dalam KHBT blok barat. Posisi koordinat gua berada di 1o41’00” - 0o68’00” Lintang Utara dan 99o00’-06o26’ Bujur Timur. Secara administratif gua tersebut termasuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. Oleh masyarakat setempat gua ini dikenal dengan nama Gua Liang (Gambar 21 a). Di sekitar Gua Liang terdapat sebuah gua lainnya yang disebut-sebut sebagai Gua Anak Liang (Gambar 21 b). Dalam bahasa lokal (Batak Toba), ”liang” sama artinya dengan gua.
Gambar 21 Gua Liang (a) dan Gua Anak Liang (b) di dalam KHBT blok Barat, Kabupaten Tapanuli Utara.
Perburuan dilakukan di beberapa lokasi di sekitar mulut gua. Ada 14 lokasi yang sering dijadikan tempat beburu lalai kembang dan kusing dayak, yaitu 8 lokasi berada di depan mulut gua dan 6 lokasi berada di atas mulut gua. Perburuan awalnya terjadi di Gua Anak Liang, karena lalai kembang dan kusing dayak
(a) (b)
paling banyak ditemukan di gua tersebut. Seiring berjalannya waktu, lalai kembang dan kusing dayak di Gua Anak Liang mulai habis dan perburuan berpindah ke Gua Liang. Menurut pemburu, lalai kembang dan kusing dayak di Gua Anak Liang habis karena diburu dan sebahagian berpindah ke Gua Liang.
Gua Liang berada jauh dari tempat tinggal pemburu dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak Gua Liang dari Dusun Haramonting sejauh 12,39 km dan memerlukan waktu sekitar 6 jam, dari Dusun Badiri Pardomuan sekitar 5 jam, dari Tapian Nauli sekitar 7 jam, dan dari Lubuk Pariasan sekitar 8 jam bila berjalan kaki dengan cepat. Kondisi ini mengakibatkan pemburu harus menyediakan waktu paling sedikit 2 hari 1 malam, agar dapat berburu lalai kembang dan kusing dayak di Gua Liang.
5.5.3 Waktu perburuan
Perburuan lalai kembang dan kusing dayak dilakukan tanpa mengenal musim. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, perburuan berlangsung 2 kali dalam 1 malam. Perburuan pertama berlangsung pada saat lalai kembang dan kusing dayak keluar dari mulut gua untuk mencari makan, yaitu dari pukul 18.50-20.00 WIB. Perburuan pada waktu seperti ini dilakukan di depan mulut gua, baik di sisi kiri maupun sisi kanan gua. Perburuan kedua berlangsung ketika lalai kembang dan kusing dayak kembali ke dalam gua (pukul 23.00-06.00 WIB) dan perburuan dilakukan di atas mulut gua.
Berdasarkan hasil wawancara kepada 6 responden pemburu lalai kembang dan kusing dayak, 3 responden (50%) melakukan perburuan hanya dalam 1 malam, 2 responden (33,33%) 1-2 malam, dan 1 responden (16,67%) melakukan perburuan dalam 2 malam. Menurut responden, lamanya waktu perburuan dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan dan ketersediaan waktu yang dimiliki pemburu tersebut. Berdasarkan hasil pemasangan camera trap selama 12 bulan, lamanya waktu perburuan lalai kembang dan kusing dayak di Gua Liang dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Lamanya waktu perburuan lalai kembang dan kusing dayak di Gua Liang dalam 12 bulan, berdasarkan camera trap
Lama Perburuan (malam) Haramonting & H. Raja (kelompok) Tapian Nauli (kelompok) Lubuk Pariasan (kelompok) Badiri Pardomuan (kelompok) Jumlah (kelompok) Persen (%) 1 21 9 6 2 38 84,44 2 4 - 2 - 6 13,33 3 1 - - - 1 2,22 5.5.4 Frekuensi perburuan
Menurut hasil wawancara, perburuan lalai kembang dan kusing dayak sering dilakukan saat terang bulan. Meskipun demikian perburuan tidak berlangsung setiap terang bulan, karena lokasi perburuan jauh dari permukiman pemburu. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya perburuan lalai kembang dan kusing dayak adalah: (1) terlalu sering hujan, sehingga tidak bisa menyadap getah karet; (2) harga jual getah karet rendah; dan (3) hari libur. Berdasarkan hasil camera trap yang terpasang selama 12 bulan, setiap pemburu dari masing-masing desa/dusun melakukan perburuan sebanyak 1-21 kali (Gambar 22). Pemburu yang berburu hanya 1 kali diduga ikut-ikutan atau hanya ingin berpetualang saja.
Gambar 22 Jumlah perburuan yang dilakukan setiap pemburu dari masing-masing desa/dusun dalam 12 bulan, berdasarkan camera trap.
Berdasarkan hasil camera trap, 50 orang pemburu melakukan perburuan lalai kembang dan kusing dayak sebanyak 110 kali dalam 53 malam, baik itu berkelompok maupun individu (Gambar 23). Data frekuensi perburuan pada bulan Desember 2008 - Juni 2009 diperoleh dari data yang dikumpulkan oleh YEL, sedangkan data pada bulan Desember 2009 sampai awal Mei 2010 diambil selama penelitian berlangsung.
Pada bulan Juli - November 2009 tidak tersedia data karena tidak dilakukan pemasangangan camera trap. Pemasangan camera trap pada bulan Desember 2009 dimulai dari tanggal 24.
5.5.5 Sex ratio hasil buruan
Penghitungan jantan dan betina pada lalai kembang dan kusing dayak hasil buruan hanya dilakukan pada satu kali kejadian saja (Gambar 24). Hal ini terjadi karena jadwal perburuan yang sulit diketahui dan pemburu juga merasa kurang nyaman (tidak suka) jika aktivitas perburuan mereka terlalu diperhatikan.
Gambar 24 Sex ratio lalai kembang dan kusing dayak hasil buruan (n = 1). 5.5.6 Estimasi jumlah tangkapan
Hasil tangkapan pemburu akan lebih banyak jika pemburu memiliki kemampuan/pengalaman yang cukup, perburuan dilakukan saat terang bulan, dan sedang tidak hujan. Menurut responden (pemburu), jumlah hasil tangkapan pemburu yang sering berburu lalai kembang dan kusing dayak lebih banyak dibanding dengan pemburu yang hanya sesekali berburu lalai kembang dan kusing dayak. Oleh karena itu, pemburu yang melakukan 1 kali perburuan diperkirakan mendapat 60 ekor, pemburu yang melakukan 2-3 kali perburuan diperkirakan mendapat 120 ekor, pemburu yang melakukan 4-5 kali perburuan diperkirakan mendapat 200 ekor, dan pemburu yang melakukan perburuan lebih dari 5 kali diperkirakan mendapat 250 ekor dalam 1 malam. Jumlah tangkapan pemburu lalai kembang dan kusing dayak selama dilakukan pemasangan camera trap (12 bulan) diperkirakan sekitar 19.720 ekor (Lampiran 10).