1. Dalam sengketa tata usaha negara tidak dikenal perdamaian, karena yang disengketakan menyangkut kebijakan publik. Namun dalam praktek tidak menutup kemungkinan terjadinya perdamaian atas prakarsa kedua belah pihak yang bersengketa. Perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa tersebut tidak dilakukan di persidangan melainkan terjadi di luar persidangan.
2. Apabila ada perdamaian, pihak-pihak yang bersengketa menyampaikan kepada Majelis Hakim/Hakim yang memeriksa perkaranya.
3. Majelis Hakim/Hakim yang memeriksa perkaranya memerintahkan dalam sidang berikutnya agar hasil perdamaian tersebut dibacakan, dan Panitera Pengganti yang ditunjuk untuk mengikuti sidang mencatat di dalam berita acara sidang. Selanjutnya Penggugat mencabut gugatannya secara resmi dalam sidang terbuka untuk umum.
4. Majelis Hakim/Hakim menuangkannya dalam penetapan yang berisi memerintahkan agar Panitera mencoret gugatan tersebut dari register perkara. Perintah pencoretan tersebut diucapkan dalam persidangan terbuka untuk umum.
Q. EKSEPSI
1. Eksepsi tentang kewenangan absolut Pengadilan dapat diajukan setiap waktu selama pemeriksaan, dan meskipun tidak ada eksepsi tentang kewenangan absolut Pengadilan apabila Hakim mengetahui hal itu, ia karena jabatannya wajib menyatakan bahwa Pengadilan tidak berwenang mengadili sengketa yang bersangkutan.
2. Eksepsi tentang kewenangan relatif Pengadilan diajukan sebelum disampaikan Jawaban atas pokok sengketa, dan eksepsi tersebut harus diputus sebelum pokok sengketa diperiksa.
3. Eksepsi lain yang tidak mengenai kewenangan Pengadilan hanya dapat diputus bersama dengan pokok sengketa.
R. PEMBUKTIAN
1. Pembuktian di Pengadilan TUN mengarah pada asas pembuktian bebas terbatas, karena menurut Pasal 107 Undang-undang tentang PERATUN, Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian, dan untuk sahnya pembuktian diperlukan sekurang-kurangnya dua alat bukti berdasarkan keyakinan Hakim, akan tetapi dibatasi oleh sejumlah alat bukti yang telah ditentukan dalam pasal 100 undang-undang tentang PERATUN.
2. Menutut Pasal 100 undang-undang tentang PERATUN, alat bukti ialah :
a. Surat atau tulisan. b. Keterangan ahli. c. Keterangan saksi. d. Pengakuan para pihak. e. Pengetahuan Hakim.
S. SAKSI
1. Pemeriksaan saksi dilakukan oleh Majelis Hakim lengkap sekalipun para pihak tidak berkeberatan diperiksa dengan dua anggota majelis.
2. Apabila dalam pemeriksaan persidangan yang bukan menyangkut acara pemeriksaan saksi ternyata Ketua Majelis atau Anggota Majelis berhalangan, maka persidangan dapat dilakukan dengan dua orang Hakim, jika kedua pihak yang bersengketa tidak berkeberatan dan dicatat dalam Berita Acara Persidangan.
3. Pejabat yang dipanggil sebagai saksi wajib datang, namun secara kasuistis jika saksi yang akan diperiksa dipersidangan adalah menyangkut Pejabat tertentu yang karena tugas jabatannya tidak memungkinkan untuk hadir di persidangan, hendaknya Hakim dengan penuh kearifan mempertimbangkan perlunya kehadiran saksi tersebut. 4. Siapa yang harus diperiksa terlebih dahulu sebagai saksi
atau ahli supaya diperhatikan ketentuan Pasal 100 Undang-undang tentang PERATUN, namun dengan melihat situasi, sehingga tidak bersifat mengikat
T. DASAR PENGUJIAN DAN DASAR PEMBATALAN KEPUTUSAN TUN
1. Hakim TUN melakukan pengujian keabsahan (rechtmatigheidstoetsing) untuk menilai apakah Keputusan TUN yang digugat bersifat melanggar hukum atau tidak, dan apabila Keputusan TUN terbukti melanggar hukum, Hakim TUN membatalkan Keputusan tersebut.
2. Dasar pengujian/penilaian (toetsingsgronden) yang dipakai oleh Hakim TUN untuk membatalkan Keputusan TUN, sesuai Pasal 53 ayat (2) undang-undang tentang PERATUN adalah :
a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Asas-asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB). 3. Keputusan TUN yang berasal dari kewenangan terikat
(gebonden beschikking) diuji dengan hukum tertulis (peraturan perundang-undangan yang berlaku).
4. Keputusan TUN yang berasal dari kewenangan bebas (vrije beschikking) diuji dengan hukum tak tertulis (AAUPB).
5. Keputusan TUN dinilai “bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku”, apabila :
a. Bertentangan dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersifat prosedural/formal. b. Bertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang bersifat materiil/substansial.
c. Dikeluarkan oleh Badan/Pejabat TUN yang tidak berwenang.
Dari segi kompetensi suatu jabatan, hal tidak berwenangnya Badan/Pejabat TUN meliputi :
1) Tidak berwenang dari segi materi (onbevoegdheid ratione materiae), yaitu menyangkut kompetensi absolut.
2) Tidak berwenang dari segi tempat (onbevoegdheid ratione loci), yaitu menyangkut kompetensi relatif; dan
3) Tidak berwenang dari segi waktu (onbevoegdheid ratione temporis).
6. Apabila Keputusan TUN dinilai bertentangan dengan AAUPB, maka Hakim harus menentukan AAUPB yang dilanggar, selanjutnya Hakim memakai AAUPB tersebut untuk membatalkan atau menyatakan tidak sahnya Keputusan TUN yang digugat.
7. AAUPB menurut penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang-undang tentang PERATUN, meliputi :
a. Kepastian hukum.
b. Tertib penyelenggaraan negara. c. Keterbukaan.
d. Proporsionalitas. e. Profesionalitas. f. Akuntabilitas.
8. Dalam menemukan kebenaran materiil di dalam mengadili sengketanya, Hakim dapat mencari dan menemukan AAUPB selain yang ditentukan dalam penjelasan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang-undang tentang PERATUN, karena AAUPB adalah hasil yurisprudensi yang akan selalu berkembang melalui putusan Hakim.
9. Fungsi AAUPB :
a. Bagi Hakim sebagai dasar untuk menguji dan membatalkan Keputusan TUN yang digugat (toetsingsgronden).
b. Bagi Tergugat (Badan/Pejabat TUN) sebagai pedoman dalam menemukan atau menentukan hukum yang dipakai di dalam perbuatan pemerintahan (bestuursnormen).
c. Bagi Penggugat sebagai alasan untuk mengajukan gugatan (beroepsgronden).
10. Penerapan AAUPB dengan mengacu pada doktrin yang berkembang sudah diterapkan di dalam putusan-putusan Mahkamah Agung (yurisprudensi), yaitu antara lain : a. Asas persamaan.
b. Asas kepercayaan. c. Asas kepastian hukum. d. Asas Kecermatan/ketelitian.
e. Asas pemberian alasan atau motivasi.
f. Larangan penyalahgunaan wewenang (detournement de pouvoir).
g. Larangan bertindak sewenang-wenang (willekeur). h. Asas bahwa kesalahan yang dilakukan oleh Pejabat
TUN di dalam menerbitkan Keputusan TUN yang mengakibatkan kerugian bagi pencari keadilan/ masyarakat, tidak boleh dibebankan atau menjadi resiko yang bersangkutan.
U. PEMBACAAN, ISI, DAN AMAR PUTUSAN
1. Putusan Pengadilan dapat diucapkan pada hari dan tanggal yang sama dengan putusan hasil musyawarah majelis Hakim, atau ditunda pada hari lain yang harus diberitahukan kepada kedua belah pihak.
2. Putusan Pengadilan harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
3. Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak hadir pada waktu putusan Pengadilan diucapkan, atas perintah Hakim ketua sidang salinan putusan disampaikan dengan surat tercatat kepada yang bersangkutan.
4. Putusan Pengadilan dapat berupa : a. Gugatan ditolak.
b. Gugatan dikabulkan. c. Gugatan tidak diterima. d. Gugatan gugur.
5. Dalam hal gugatan dikabulkan, maka dalam putusan Pengadilan tersebut dapat ditetapkan kewajiban yang harus dilakukan oleh Badan/Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan TUN, berupa :
a. Pencabutan Keputusan TUN yang bersangkutan ; atau b. Pencabutan Keputusan TUN dan menerbitkan
Keputusan yang baru, atau
c. Penerbitan Keputusan TUN dalam hal gugatan didasarkan pada Pasal 3 Undang-undang tentang PERATUN.
6. Dalam hal gugatan dikabulkan, demi keseragaman amar putusan adalah :
MENGADILI
1. Mengabulkan gugatan Penggugat ;
2. Menyatakan tindakan Tergugat mengeluarkan Keputusan TUN yang disengketakan melanggar undang-undang (dicantumkan pasal/ayat peraturan perundang-undangan yang dilanggar), atau melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik (dicantumkan asas-asas umum pemerintahan yang baik yang mana yang dilanggar) ;
3. Membatalkan atau menyatakan tidak sah Keputusan TUN yang disengketakan/dikeluarkan oleh Badan/Pejabat TUN (dicantumkan secara lengkap tanggal, nomor, perihal, atau ciri-ciri/ identitas Keputusan TUN yang disengketakan) ; 4. Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Keputusan
TUN yang disengketakan ; atau
Mewajibkan Tergugat untuk mencabut Keputusan TUN yang disengketakan dan menerbitkan Keputusan TUN yang baru ; atau
Mewajibkan Tergugat untuk menerbitkan Keputusan TUN ;
5. Mewajibkan Tergugat yang tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif, serta diumumkan pada media massa cetak setempat.
Catatan : Amar putusan pada angka 5 tersebut di atas dikenakan hanya terhadap kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan c Undang-undang tentang PERATUN.
V. UPAYA HUKUM
1. Upaya Hukum terdiri dari :
a. Upaya hukum biasa, berupa banding dan kasasi. b. Upaya hukum luar biasa, berupa peninjauan kembali. 2. Putusan Pengadilan TUN dapat dimintakan pemeriksaan
banding oleh Penggugat atau Tergugat kepada Pengadilan Tinggi TUN. Putusan pengadilan yang bukan putusan akhir, hanya dapat dimohonkan pemeriksaan banding bersama-sama dengan putusan akhir.
3. Putusan Pengadilan Tinggi TUN dapat dimohonkan kasasi kepada Mahkamah Agung, demikian pula terhadap putusan Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama.
4. Putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.
W. EKSEKUSI
1. Putusan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu apabila para pihak menerima isi putusan, atau apabila sudah tidak diajukan upaya hukum banding maupun kasasi. Secara administrasi untuk menandai bahwa putusan telah
berkekuatan hukum tetap, Panitera membuat catatan pada halaman terakhir putusan asli.
2. Pelaksanaan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap ada pada Tergugat.
3. Pelaksanaan putusan yang telah memperoleh hukum tetap diawali dengan :
a. Ketua Pengadilan TUN/Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama membuat penetapan berisi perintah kepada Panitera agar mengirimkan salinan putusan kepada para pihak dengan surat tercatat selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja dihitung sejak putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Panitera Pengadilan mengirimkan salinan putusan Pengadilan tersebut kepada para pihak. Pengiriman dilaksanakan oleh Juru Sita atas nama Panitera.
c. Empat bulan setelah salinan putusan Pengadilan dikirimkan kepada Tergugat, dan ternyata Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a Undang-undang tentang PERATUN yaitu tidak mencabut Keputusan TUN yang bersangkutan, maka Ketua Pengadilan membuat surat yang menyatakan Keputusan TUN yang telah dibatalkan atau dinyatakan tidak sah oleh putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut tidak lagi mempunyai kekuatan hukum berlaku. Surat tersebut dikirimkan kepada para pihak oleh Panitera Pengadilan dengan surat tercatat, yang pelaksanaan pengirimannya dilakukan oleh Juru Sita Pengadilan.
d. Dalam hal Tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan c, yaitu pencabutan Keputusan TUN yang bersangkutan dan menerbitkan Keputusan TUN yang baru, atau penerbitan Keputusan TUN dalam hal gugatan didasarkan pada Pasal 3, kemudian setelah 3 (tiga) bulan ternyata kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, Penggugat mengajukan permohonan
agar Ketua Pengadilan TUN/Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama memerintahkan kepada Tergugat untuk melaksanakan putusan Pengadilan.
e. Dalam hal Tergugat setelah diperintahkan untuk melaksanakan putusan ternyata tetap tidak bersedia melaksanakannya, maka terhadap Pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif, serta diumumkan pada media massa cetak setempat oleh Panitera Pengadilan.
4. Apabila eksekusi yang menyangkut Kepegawaian sebagaimana dimaksud dalam pasal 97 ayat (11) undang-undang tentang PERATUN, maupun eksekusi selain yang menyangkut kepegawaian yang tidak dapat atau tidak sempurna dilaksanakan akibat berubahnya keadaan setelah putusan dijatuhkan, maka Tergugat wajib memberitahukan kepada Ketua Pengadilan dan Penggugat.
5. Ketua Pengadilan menerbitkan penetapan bahwa eksekusi tidak dapat dilaksanakan (non eksekutabel), dan memberitahukannya kepada Pemohon dan Termohon eksekusi sebagaimana dimaksud dalam pasal 116 ayat (1) Undang-undang tentang PERATUN.
6. Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah menerima pemberitahuan, pemohon eksekusi dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan agar terhadap termohon eksekusi dibebankan kewajiban membayar sejumlah uang atau kompensasi lain yang diinginkannya. 7. Ketua Pengadilan selanjutnya memerintahkan Panitera agar
memanggil kedua belah pihak untuk mengupayakan tercapainya kesepakatan tentang jumlah uang atau kompensasi lain yang harus dibebankan kepada Tergugat. 8. Apabila upaya untuk mencapai kesepakatan tidak berhasil,
maka Ketua Pengadilan dengan Penetapan disertai pertimbangan yang cukup menentukan jumlah uang atau kompensasi lain yang dimaksud.
9. Penetapan Ketua Pengadilan tentang jumlah uang atau kompensasi lain dapat diajukan baik oleh pemohon
eksekusi maupun termohon eksekusi kepada Mahkamah Agung untuk ditetapkan kembali.
10. Putusan Mahkamah Agung tentang penetapan kembali jumlah uang atau kompensasi lain, wajib ditaati kedua belah pihak.
X. GANTI RUGI DAN REHABILITASI
1. Tuntutan yang dapat diajukan di Pengadilan TUN terbatas pada satu macam tuntutan pokok, yaitu berupa tuntutan agar Keputusan TUN yang telah merugikan kepentingan Penggugat dibatalkan atau dinyatakan tidak sah. Tuntutan tambahan yang dibolehkan yaitu tuntutan ganti rugi, sedangkan tuntutan tambahan rehabilitasi hanya dibolehkan dalam sengketa kepegawaian.
2. Tata cara pembayaran ganti rugi diatur dalam PP No.43 Tahun 1991 tentang Ganti Rugi dan Tata Cara Pelaksanaannya pada Peradilan TUN.
3. Rehabilitasi adalah pemulihan kedudukan, harkat dan martabat Penggugat sebagai Pegawai Negeri.
Y. PEMBAYARAN UANG PAKSA, SANKSI ADMINISTRASI DAN PENGUMUMAN PEJABAT
1. PEMBAYARAN UANG PAKSA
a. Permohonan pembayaran uang paksa dapat diajukan bersama-sama dalam gugatan. Dalam hal gugatan Penggugat tidak mencantumkan pembayaran uang paksa, maka Hakim atau Majelis Hakim pada waktu pemeriksaan persiapan, memberitahu Penggugat bahwa ia dapat mencantumkan pembayaran uang paksa dalam gugatannya.
b. Pada saat Hakim atau Majelis Hakim mengabulkan gugatan, maka pengenaan pembayaran uang paksa sebaiknya diuraikan dalam pertimbangan hukum bersama-sama dengan pokok perkaranya.
c. Besarnya pembayaran uang paksa dapat dimohonkan oleh Penggugat dalam gugatannya, namun Hakim atau
Majelis Hakim secara kasus perkasus sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya menetapkan besarnya pembayaran uang paksa dengan memperhatikan kewajaran secara hukum dan tidak boleh menetapkan lebih besar dari yang dimohonkan oleh Penggugat. d. Sesuai ketentuan pasal 116 ayat (3) Undang-undang
tentang PERATUN, pembayaran uang paksa hanya dapat dikenakan jika gugatan Penggugat dikabulkan terhadap pokok perkaranya yang mewajibkan Tergugat untuk :
1) Mencabut Keputusan TUN obyek gugatan dan menerbitkan Keputusan TUN yang baru ; atau 2) Menerbitkan Keputusan TUN.
e. Pembayaran uang paksa sebagaimana dimaksud dalam pasal 116 ayat (4) Undang-undang tentang PERATUN adalah akibat Tergugat tidak bersedia menggunakan kewenangannya (jabatannya) untuk melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Oleh karena itu, pembayaran sejumlah uang paksa dikenakan terhadap jabatan Tergugat. Namun demikian, secara kasuistis Hakim diberi kebebasan melalui perkembangan dalam yurisprudensi.
f. Oleh karena pembayaran uang paksa belum diatur tata caranya, maka sementara secara analogi dapat mengacu pada ketentuan dalam PP No.43 Tahun 1991. g. Pembayaran uang paksa terhadap Tergugat dapat dikenakan dalam gugatan yang menyangkut kepegawaian, yaitu apabila Tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang mewajibkan kepadanya untuk melakukan rehabilitasi terhadap Penggugat.
h. Tenggang waktu pengenaan pembayaran uang paksa menurut Pasal 116 ayat (3) Undang-undang tentang PERATUN adalah setelah 3 (tiga) bulan putusan Pengadilan berkekuatan hukum tetap. Apabila setelah 3 (tiga) bulan putusan berkekuatan hukum tetap Tergugat tidak melaksanakan putusan tersebut,
Penggugat dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan TUN/Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama, agar Tergugat dikenakan pembayaran uang paksa.
i. Ketua Pengadilan TUN/Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai Pengadilan tingkat pertama melakukan tindakan :
1) Mengeluarkan surat menanyakan alasan Tergugat tidak melaksanakan putusan.
2) Mengeluarkan surat peringatan (somasi) kepada Tergugat sebanyak 3 kali agar Tergugat melaksanakan putusan apabila ternyata tidak ada keadaan yang menyebabkan putusan tidak dapat dilaksanakan.
3) Mengeluarkan penetapan berisi perintah agar Juru Sita/Juru Sita Pengganti mengenakan pembayaran uang paksa kepada Tergugat apabila Tergugat tetap tidak melaksanakan putusan.
j. Pembayaran sejumlah uang paksa terhenti secara hukum terhitung sejak Tergugat yang bersangkutan melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
k. Apabila pokok gugatan dikabulkan, tetapi Penggugat tidak mencantumkan pembayaran uang paksa di dalam gugatannya, dan Tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan, Ketua Pengadilan TUN/Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama dapat mengenakan pembayaran uang paksa dengan berpedoman pada ketentuan ini.
2. SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 116 ayat (4) Undang-undang tentang PERATUN mengatur sanksi administratif terhadap Pejabat (Tergugat) yang tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, namun undang-undang tidak mengatur tata cara penerapannya.
Sanksi administrasi kepada pejabat pemerintahan beserta jenis-jenis pelanggaran administrasi yang dapat dikenai sanksi administrasi dirumuskan/diatur di dalam RUU Administrasi Pemerintahan, sebagai berikut :
a. Jenis-jenis pelanggaran administrasi yang dilakukan oleh Badan/Pejabat TUN yang dapat dikenai sanksi administrasi, yaitu :
1) Melanggar AAUPB.
2) Memasukkan unsur-unsur kepentingan pribadi sebagai dasar dan pertimbangan dalam pengambilan Keputusan ; mengabaikan larangan bahwa atas setiap Keputusan yang dibuatnya tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. 3) Mengabaikan larangan bahwa setiap Keputusan
yang dibuatnya, Badan/Pejabat TUN tersebut tidak merupakan :
- Pihak yang terlibat.
- Kerabat dan keluarga pihak yang terlibat. - Wakil pihak yang terlibat.
- Pihak yang bekerja dan mendapat gaji dari pihak yang terlibat.
- Pihak yang memberikan rekomendasi terhadap pihak yang terlibat ; dan/atau
- Pihak-pihak lain yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan ; dan
- Yang dimaksud dengan kerabat dan keluarga pihak yang terlibat, meliputi para pihak yang mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ke tiga.
4) Keputusan yang diterbitkan tidak memenuhi syarat formal, yaitu :
- Tidak dibuat oleh Pejabat yang berwenang. - Isinya tidak jelas, tidak pasti, dan tidak dapat
dimengerti.
- Tidak mengikuti tata naskah dinas sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
- Ditetapkan tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
5) Keputusan yang diterbitkan tidak memenuhi syarat materiil, yang meliputi :
- Tidak didasarkan pada pertimbangan atau penilaian dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan orang per orang, keseimbangan antara orang per orang dengan pihak lain yang terkena akibat dan terkait dengan Keputusan yang dibuat.
- Tidak didasarkan atas kepastian hukum, keadilan, kepatutan, dan kewajaran serta aturan permainan yang lazim berlaku dan menjadi kebiasaan dalam masyarakat yang bersangkutan.
- Melanggar asas kesamaan bertindak dan/atau memutus, apabila fakta-fakta, keadaan dan situasi yang berkaitan dengan Keputusan yang sebelumnya adalah sama dengan fakta, keadaan yang telah pernah diputus oleh Badan/Pejabat TUN yang bersangkutan. - Tidak memperhatikan akibat pembatalan suatu
keputusan, terutama yang mengakibatkan kerugian yang diderita oleh pihak Pemohon, dan yang harus ditanggung oleh Negara/ Pemerintah.
- Tidak menjelaskan pertimbangan-pertimbangan apa yang menghasilkan Keputusan yang diambil oleh Badan/Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan TUN tersebut.
- Tidak boleh bertentangan dan/atau melampaui kewenangan Badan/Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan.
- Tidak boleh bertentangan dengan kewajiban hukum Badan/Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan.
- Tidak boleh bertentangan dengan kepatutan dan/atau kewajiban yang berlaku di dalam masyarakat yang bersangkutan ; dan
- Tidak boleh menggunakan wewenang yang dimiliki untuk tujuan yang lain daripada tujuan untuk mana kewenangan itu diberikan kepada Badan/Pejabat TUN yang mengeluarkan Keputusan.
6) Melanggar tujuan pemberian diskresi dan batas-batas hukum yang berlaku serta kepentingan umum.
Yang dimaksud dengan batas-batas hukum yang berlaku adalah :
- Tidak bertentangan dengan hukum dan Hak Asasi Manusia.
- Tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
- Wajib menerapkan AAUPB.
- Tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan.
b. Sanksi administrasi yang dapat diberikan berupa : 1) Teguran lisan.
2) Teguran tertulis.
3) Pemberhentian sementara.
4) Pemberhentian dengan hormat ; atau 5) Pemberhentian dengan tidak hormat ;
6) Dikurangi dan/atau dicabut hak-hak jabatan dan pensiun.
7) Pembayaran kompensasi dengan ganti rugi. 8) Publikasi melalui media massa.
c. Sanksi yang berupa pembayaran kompensasi dan ganti rugi hanya diberlakukan kepada Badan, dan terhadap pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara.
1) Atasan Pejabat yang mengeluarkan Keputusan. 2) Kepala daerah, jika menyangkut Pejabat daerah. 3) Presiden, jika menyangkut para Menteri/Pejabat
setingkat Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah, atau Kepala Daerah.
Catatan : Di dalam RUU Administrasi Pemerintahan tidak diatur siapa yang melaksanakan pengenaan sanksi administrasi terhadap Presiden yang terbukti melakukan pelanggaran administrasi.
Namun demikian, Presiden dapat dikenai impeachment sesuai ketentuan hukum yang berlaku (Pasal 7A, 7B Perubahan Ketiga UUD Negara RI Tahun 1945 Jo. Pasal 10 ayat 2 dan 3), jika melakukan pelanggaran administrasi yang sifatnya sudah melanggar konstitusi.
3. PENGUMUMAN PEJABAT (TERGUGAT)
a. Pejabat (Tergugat) yang tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap diumumkan pada media massa cetak setempat oleh Panitera (Pasal 116 ayat 3, 4 dan 5 Undang-undang tentang PERATUN).
b. Pengumuman pada media massa cetak dilakukan oleh Panitera dan/atau Juru Sita Pengadilan atas perintah Ketua Pengadilan TUN atau Ketua Pengadilan Tinggi TUN sebagai pengadilan tingkat pertama, dengan biaya dibebankan kepada pemohon eksekusi atau atas biaya negara bagi perkara prodeo.
Contoh Pengumuman sebagaimana dimaksud oleh Pasal 116 ayat (5) Undang-undang tentang PERATUN.
P E N G U M U M A N
Juru Sita/Juru Sita Pengganti Pengadilan TUN Jakarta, berdasarkan Penetapan Ketua Pengadilan
TUN Jakarta Nomor : …...Tanggal : ...…... Tahun : ….., dengan ini mengumumkan bahwa :
1. ……….. (Nama Jabatan Tergugat) telah dihukum ………., berdasarkan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (dalam hal ini Putusan Pengadilan TUN Jakarta No. ...…. Jo. Putusan Pengadilan Tinggi TUN Jakarta No. ...… Jo. Putusan Mahkamah Agung RI No. …...…), yaitu : ... 2. Amar putusan Pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap menyatakan :
... ; ... ; ... . 3. Putusan Pengadilan tersebut sampai dengan lewat
batas tenggang waktu sebagaimana dimaksud oleh Pasal 116 Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 Tentang PERATUN belum dilaksanakan oleh ………... (Nama Jabatan Tergugat).
Demikian agar diketahui oleh masyarakat luas.
Jakarta, ………. 20... JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI PENGADILAN TUN JAKARTA NIP. CAP DINAS