• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pergumulan Wacana dalam Pemikiran Pendidikan Indonesia: Pemimpin Pancasilais

Pendapat kedua mengatakan bahwa sebenarnya manusia menggantikan manusia lain, jadi bukan

C. Pergumulan Wacana dalam Pemikiran Pendidikan Indonesia: Pemimpin Pancasilais

Negara Kesatuan Republik Indonesia melauli konstitusi Pancasila dan UUD Tahun 1945 dalam reformasi pendidikan bertujuan menciptakan kepemimpinan generasi penerus yang Pancasilais. Kepemimpinan (leadership)menurut Sutarto Wijono mengutip Griffin dan Ebert adalah rangkaian proses yang dilakukan untuk mempengaruhi orang lain.115 A. M. Mangunhardjana berpendapat, inti dari kepemimpinan terletak pada fungsi atau tugas. Tugas kepemimpinan adalah pengabdian untuk melayani masyarakat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi demi tercapainya tujuan dan cita-cita yang telah ditetapkan bersama.116 Kepemimpinan yang baik menurut Syaiful Sagala adalah kepemimpinan efektif yang menginspirasi dan memenangkan komitmen.117 Dalam pandangan Ibn Khaldun118 dan al-Mawardi119, adanya seorang pemimpin dalam suatu kelompok merupakan kewajiban. Seorang pemimpin dalam ‚bingkai‛ kepemimpinan adalah figur yang mengembang tugas fungsional untuk ‚mengawal‛ proses dalam rangka mempengaruhi pikiran, perilaku dan perasaan orang lain, baik kelompok maupun perorangan untuk menuju tujuan bersama.120 Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang penting untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama suatu masyarakat, kepemimpinan yang baik akan berjalan secara efektif untuk memberikan inspirasi dan dapat memenangkan komitmen.

Dalam konteks Indonesia, terdapat ideologi pancasila yang mengatur dasar kehidupan rakyat dalam berbangsa dan bernegara dan ditetapkan melalui dialog pemikiran ‚bapak bangsa‛.121

115Sutarto Wijono, Kepemimpinan dalam Perspektif Organisasi (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), 1.

116A. M. Mangunhardjana, Kepemimpinan, (Yogyakarta: Kanisius, 1976), 12.

117Syaiful Sagala, Pendekatan dan Model Kepemimpinan, ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), 1.

118Abd al-Rahman Ibn Khaldun, Muqaddimah, (Mesir: Maktabah Mustafa Muhammad, t.t), 190.

119Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad ibn Habib al-Bashri al-Baghdadi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah wa al-Wilayat al-Diniyyat (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyyah, 2006), 5.

120Khatib Pahlawan Karyo, Kepemimpinan Islam dan Dakwah (Jakarta: Amzah, 2005), 9.

121Burhanuddin Salam, Filsafat Pancasilaisme (Bandung: Rineka Cipta, 1994), 5.

Koentjaraningrat berpendapat pancasila merupakan tata nilai yang tertanam dalam alam pikiran manusia Indonesia berupa gagasan-gagasan untuk dijadikan pegangan hidup tertinggi manusia Indonesia.122 Karenanya, pancasila harus terimplementasikan dalam segala sendi kehidupan bersama rakyat Indonesia yang tidak tergantikan.123 Soekarno berpendapat pancasila merupakan landasan cita-cita bangsa Indonesia yang ideal untuk membumikan moralitas keluhuran bangsa.124 Cita-cita suatu bangsa menurut Gadner adalah suatu hal yang penting, karena cita-cita adalah sumber keyakinan dan harapan menuju kebesaran, tanpa cita-cita suatu bangsa akan terpontang-panting diterpa badai perubahan dan perkembangan zaman.125 Pancasila sebagai landasanreformasi pendidikan memiliki nilai-nilai yang tertuang pada 5 (lima) sila, yaitu: 1) Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini meurpaka nilai tertinggi dikarenakan didasarkan atas hukum Tuhan untuk menilai baik atau buruknya tingkah laku.126 2) Sila Kemanusian Yang Adil dan Beradab, sila ini mencerminkan nilai pengakuan manusia harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang harus diperlakukan secara sama dan tidak dibeda-bedakan.127 3) Sila Persatuan Indoneisa, sila ini mengandung pengertian bahwa perilaku dianggap baik jika bertujuan dan memberi manfaat untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa.128 4) Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat, Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, sila ini merupakan dasar filosofis bagi negara Indonesia sebagai negara demokratis.129 5) Sila Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sila ini merupakan wujud visi bangsa Indonesia yang hendak dicapai, misalnya dalam bidang keagaaman adalah mencetak masyarakat yang beriman dan bertakwa,

122Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1974).

123Hariyono, Ideologi Pancasila: Roh Progesif Nasionalisme Indonesia

(Malang: Intrans Publishing, 2014), 154.

124Soekarno, Pancasila dan Perdamaian Dunia (Jakarta: CV. Haji Masagung, 1989), 64.

125Y. Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), 42.

126Rahman, dkk, Pancasila dalam Makna dan Aktualisasi (Yogyakarta: Andi Offset, 2015), 180.

127T. Taniredja dan M. Y. Haryono, Pemimpin Berkarakter Pancasila

(Bandung: Alfabeta, 2014), 10.

128Rahman, dkk, Pancasila dalam Makna dan Aktualisasi, 180.

129

mewujudkan kehidupan yang penuh toleransi dan mewujudkan sikap menghormati martabat manusia.130 Dengan demikian, kepemimpinan pancasilais adalah model kepemimpinan yang mengacu kepada sila-sila Pancasila. Seorang pemimpin berbagai level dan bidang harus mengacu kepada sila-sila

Seorang pemimpin yang berjiwa pancasilais selalu berupaya menerapkan fungsi kepemimpinannya dengan berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai-nilai Pancasila yang diterapkan oleh seorang pemimpin, pada nantinya akan diinternalisasi kepada segenap bawahannya. Nilai-nilai Pancasila menjadi parameter dalam berperilaku setiap warga negara. Nilai-nilai Pancasila menjadi seperangkat moral dan etika bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karenanya, Pancasila sebagai ideologi alternatif dari perlawanan dua Ideologi: Negara Agama dan Negara Sekular. Negara Sekular, di mana Agama benar-benar berpisah dari Negara. Negara Agama, di mana Negara diatur berdasarkan satu Agama tertentu. Dalam ideologi Pancasila, Agama bangsa Indonesia didorong untuk berkontribusi nyata pada kehidupan publik Indonesia. Dalam ide sekuler, agama seolah-olah menjadi penyebab dan terjadinya konflik manusia dalam bernegara. Agama dalam pandangan sekulerisme merupakan otoritas yang perlu dipisahkan dalam kehidupan bernegara. Maka muncullah gagasan sekulerisme dalam tata kehidupan negara, yang diharapkan dapat meminimalisir terjadinya hegemoni agama atas negara.

Pengamalan kembali nilai-nilai Pancasila semestinya dimulai dari pengamalan sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dengan mendekatkan kembali agama delam kehidupan bernegara. Kita harus merekatkan kembali kehidupan agama untuk dapat memberikan nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa, mulai dari pendidikan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dengan merekatnya nilai agama dan negara diharapkan akan menjadi sebuah transformasi nilai moral dalam memunculkan etika bernegara.

Selepas era Orde Baru, pada masa era Reformasi, khusus di bidang pendidikan sebagai bagian dari peningkatan sumber daya manusia berdasarkan Visi dan Arah Pembangunan Jangka Panjang/PJP Nasional Tahun 2005 sampai dengan 2015 difokuskan pada beberapa hal, yaitu:131

130T. Taniredja dan M. Y. Haryono, Pemimpin Berkarakter Pancasila, 15.

131Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Visi dan Arah Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Tahun 2005 – 2025, (Jakarta: Bappenas, t.t.), 28.

Pertama, peningkatan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan yang bermutu dan terjangkau dengan memperhatikan penduduk miskin, melalui peningkatan pelayanan pendidikan prasekolah dalam rangka meningkatkan tumbuh kembang anak dan meningkatkan kesiapan anak untuk mengikuti pendidikan persekolahan; pelaksanaan program Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun sebagai kelanjutan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, dan peningkatan pelayanan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi, serta pemenuhan kebutuhan belajar dan perbaikan tingkat keniraksaraan orang dewasa, melalui penyediaan pelayanan yang merata dan berkeadilan terhadap pendidikan berkelanjutan, yang didukung oleh penyediaan informasi pendidikan yang akurat dan tepat waktu, serta pemantapan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan untuk semua dan sepanjang hayat.

Kedua, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan dan pelatihan yang mampu merespon globalisasi dan kebutuhan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, melalui pengembangan kurikulum pendidikan yang dapat melayani keberagaman peserta didik, jenis, dan jalur pendidikan, serta kebutuhan pasar kerja dan pembangunan wilayah; peningkatan kualitas dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan lainnya; penyediaan sarana pendidikan yang bermutu; peningkatan penelitian dan penyebarluasan hasil penelitian, serta pelaksanaan pengabdian pada masyarakat. Ketiga, pelaksanaan paradigma baru pendidikan tinggi, melalui pemberian kewenangan yang lebih luas pada perguruan tinggi dalam pengelolaan pendidikan secara bertanggungjawab dan terakunkan, sebagai aktualisasi otonomi keilmuan. Keempat, pengembangan minat dan gemar membaca guna membangun masyarakat pembelajar dan kritis (learning and critical society), demi terwujudnya bangsa yang cerdas dan maju.132

132Tentang learning and critical society lihat Rafikul Islam, "Critical Success Factors of the Nine Challenges in Malaysia’s Vision 2020." Socio-Economic Planning Sciences 44.4 (2010): 199-211; Umid Khodjamkulov, et al, "Bases of Organizing Cooperation between Educational Institutions through Clusters (on the Example of the Education System of Uzbekistan)," Journal of Critical Reviews 7.12 (2020): 243-247; Hakimov Nazar Hakimovich, et al, "Education System Mission in The Conditions of Civil Society Development." Journal of Critical Reviews 7.5 (2020): 832-837; Beverley Oliver dan Trina Jorre de St Jorre, "Graduate attributes for 2020 and beyond: Recommendations for Australian higher education providers," Higher Education Research & Development 37.4 (2018): 821-836.

Masih di RJP yang sama, dalam bidang agama dijelaskan bahwa kesadaran melaksanakan ajaran agama dalam masyarakat tampak beragam. Pada sebagian masyarakat, kehidupan beragama belum menggambarkan penghayatan dan penerapan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya. Kehidupan beragama pada masyarakat itu masih pada tataran simbol-simbol keagamaan dan belum pada substansi nilai-nilai ajaran agama. Akan tetapi, ada pula sebagian masyarakat yang kehidupannya sudah mendekati, bahkan sesuai dengan ajaran agama. Dengan demikian, telah tumbuh kesadaran yang kuat di kalangan pemuka agama untuk membangun harmoni sosial dan hubungan internal dan antarumat beragama yang aman, damai, dan saling menghargai. Namun, upaya membangun kerukunan intern dan antarumat beragama belum juga berhasil dengan baik, terutama di tingkat masyarakat. Ajaran agama mengenai etos kerja, penghargaan pada prestasi, dan dorongan mencapai kemajuan belum bisa diwujudkan sebagai inspirasi yang mampu menggerakkan masyarakat untuk membangun. Selain itu, pesan-pesan moral agama belum sepenuhnya dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.133

Melansir data Bank Dunia (World Bank) pada tahun 2018, kualitas pendidikan Indonesia masih rendah, meski perluasan akses pendidikan untuk masyarakat sudah meningkat cukup signifikan. Dalam laporan berjudul "The Promise of Education in Indonesia", Bank Dunia menyebut Indonesia telah meraih kemajuan penting dalam meningkatkan akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak kurang beruntung. Namun, sayangnya kualitas pendidikan Indonesia masih menjadi masalah.134 Merujuk pada survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada Desember 2019 di Paris, Indonesia disebut menempati peringkat ke-72 dari 77 negara. PISA adalah survei evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yakni literasi, matematika dan sains. Dalam survei itu, Malaysia menempati peringkat ke-56, sedangkan Singapura berada di puncak dengan menempati peringkat nomor dua teratas.135

133Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Visi dan Arah Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Tahun 2005 – 2025, 29.

134World Bank, The Promise of Education in Indonesia 2018: Overview Consultation Edition (Washington DC: World Bank, 2018).

135Mark Bray, Magda Nutsa Kobakhidze, and Larry E. Suter, "The Challenges of Measuring Outside-School-Time Educational Activities: Experiences and Lessons

Pendidikan agama diharapkan berperan dalam peningkatan kualitas kehidupan dan kerukunan hidup intern dan antarumat beragama, menuju terwujudnya manusia yang berakhlak mulia, melalui peningkatan pelayanan termasuk pemberian fasilitas kemudahan umat dalam menjalankan ibadahnya, peningkatan kualitas pendidikan agama, dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan agama.136

Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa arah RJP Nasional sebenarnya selaras dalam tradisi peradaban Pendidikan Islam. Al-Tsu’ālabī menyatakan, Allah Swt menciptakan manusia dengan bentuk paling sempurna, baik secara fisik, intelektual, dan psikis.137 Dengan kemampuan demikian, tegas al-Aqqād, manusia ‚berani‛ memikul beban dan tanggung jawab yang tidak bisa ditanggung oleh makhluk lain. Kenyataan tersebut, sambung ‘Abbās al-Aqqād, mengharuskan manusia untuk memberikan ‚laporan pertanggungjawaban‛, kepada Allah Swt, atas ‚alokasi‛ penggunaan kapasitas kemampuannya dalam menjalankan ‚mandatori‛ tanggungjawab mereka hidup di dunia‛ sebagai khalifah.138 Lain halnya dengan konsepsi manusia versi Barat, misalnya, yang diutarakan oleh Nietzsche ‚sang pembunuh tuhan‛, bahwa manusia unggul (ubermensch) akan lahir dari mereka yang mempunyai kehendak untuk berkuasa (will to power).139 Sementara itu, Pancasila

from the Programme for International Student Assessment (PISA)," Comparative Education Review 64.1 (2020): 87-106; Hsiao‐Ching She, Huann‐shyang Lin, and Li‐Yu Huang, "Reflections on and implications of the Programme for International Student Assessment 2015 (PISA 2015) Performance of Students in Taiwan: The Role of Epistemic Beliefs about Science in Scientific Literacy." Journal of Research in Science Teaching 56.10 (2019): 1309-1340; Fieka Nurul Arifa dan Ujianto Singgih Prayitno, "Peningkatan Kualitas Pendidikan: Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan dalam Pemenuhan Kebutuhan Guru Profesional di Indonesia," Jurnal Aspirasi 10.1 (2019): 1-17.

136Kantor Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Visi dan Arah Pembangunan Jangka Panjang (PJP) Tahun 2005 – 2025, 7.

137‘Abd Rahmān ibn Muhammad ibn Makhlūf ‘Abī Zaid Tsu’ālabī al-Mālikī, Tafsīr al-Tsu’ālabī, (Beirut: Dār ‘Ihyā al-Turāts al-‘Arabī, t.t ), juz 5, 606

138Abbās al-Aqqad, Al-Insān fi al-Qur’ān, (Mesir: Dār al-Islām, 1973), 21.

139Fredrich Wilhelm Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra: A Book for Everyone and Nobody (Oxford: Oxford University Press, 2008), Daniel W. Conway, Nietzsche & The Political (London: Routledge, 1997), 21, Nocholas K. Lory, On The Accusastion of Negativity in Nietzsche’s Ethics: A Refutaion (Hamburg: Achor Publishing, 2013),

meletakkan konsepsi manusia dalam posisi monodualitas, sekuler-religius dan individual-sosial.

28, Christa Davis Acampora (ed), Nietzsche’s on The Genealogy of Morals (New York: Rowman & Littlefield Publishers, t,t), 163, Frabz zu Solms-Laubach, Nietzsche and Early German and Austrian Sociology (Berlin: Walter de Guyter, 2012), 145, Christopher Hauke, Jung and The Postmodern: The Intrepretation of Realities

57

Pada bab sebelumnya, telah dijelaskan perihal paradigma