• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjanjian + antara + Manusia + dengan + Tuhan

telah diakui kiprah dan karyanya oleh berbagai kalangan civitas akademika, lembaga pendidikan, bahkan oleh negara-negara dari

D. Perjanjian + antara + Manusia + dengan + Tuhan

Hasan Langgulung menjelaskan bahwa perjanjian antara manusia dan Tuhan berdasarkan firman Allah, ‚Sesungguhnya dahulu Kami membuat perjanjian kepada Adam, tetapi ia lupa dan tidak memiliki ketetapan hati (QS. Taha/20: 115).‛ Firman Allah tersebut, menurut pendapat Langgulung mensyiratkan bahwa perjalanan hidup manusia sebenarnya sudah terperinci. Semua awal kehidupan dimulai dari alam ruh, kehidupan dunia dan berakhir di surga atau neraka. Sebelum akhirnya dilahirkan ke dunia, manusia sebenarnya melakukan perjanjian dengan Allah SWT. Jika manusia menyanggupi, maka Ia akan lahir dan hidup di dunia, namun jika tidak, Allah tidak akan menakdirkannya menjalani kehidupan di muka bumi. Hal ini dijelaskan dalam AlQuran dan hadist-hadist yang diriwayatkan Nabi Muhammad SAW. Sebelum setiap manusia lahir ke dunia, Allah telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia.126

Langgulung secara rinci menjelaskan bahwa perjanjian itu juga dinyatakan juga dalam Alquran sebagaimana ayat Al-Hadid ayat 8. ‚Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia (Allah) telah mengambil perjanjianmu, jika kamu adalah orang-orang yang beriman‛. (QS. Al Hadid/57: 8). Dalam sebuah hadist riwayat Iman Tirmidzi Rasulullah SAW bersada bahwa saat penciptaan adam Allah mengusap punggung Adam lalu dari punggung tersebut keluar setiap ruh yang menyerupai biji atom yang berjatuhan. Ruh tersebut kemudian dijadikan berpasangan-pasangan lalu diambil janji dan kesaksiannya.127

Hal ini diperkuat dalam QS Al A’raf Ayat 172 tentang Syahadatnya jiwa manusia sebelum ke Alam Dunia. ‚Dan (ingatlah),

126Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 7. 127Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 8.

ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‚Bukankah Aku ini Tuhanmu?‛ mereka menjawab, ‚Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi‛. (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‚Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)‛. (QS. Al A’raf/7 : 172). Dari ayat tersebut diketahui bahwa ruh manusia sudah mengakui keesaan Allah SWT. Ini disaksikan oleh Nabi Adam dan penduduk langit sebagai saksi. Perjanjian ini tidak akan pernah diingat manusia karena fitrah manusia sebenarnya adalah pelupa. Manusia kemudian lahir dalam keadaaan suci. Orang tuanya lah yang membuatnya beragama selain Islam.128

Namun ini, menurut Langgulung, bukan alasan manusia bisa mengelak atas janjinya kepada Allah SWT di akhirat kelak. Karena manusia dibekali akal dan pikiran untuk menentukan jalan kebenaran. Allah SWT juga sudah mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk mengingatkan kembali tentang perjanjian tersebut. Namun manusia tetap saja ingkar. Manusia secara fitrah memang melupakan perjanjian tersebut. Karena itu kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap manusia adalah sesungguhnya tidak ada satu jiwa pun yang lahir ke dunia ini, kecuali Allah telah mengambil perjanjian dan kesaksian mereka ketika di alam ruh bahwa, Allah adalah Rabb mereka, dan Allah melakukan hal ini agar mengujinya dalam kehidupan dunia agar pada hari akhirat nanti tidak ada satupun manusia yang akan mengingkari tentang keEsaan Allah.129

Zakir Naik, seorang ulama asal India mengatakan hidup ini seperti ujian di sekolah. Manusia menjalani kehidupan setelah setuju dengan perjanjian yang dibuatnya dengan Allah SWT. Saat menjalani kehidupan, manusia seperti sedang ujian, Guru tidak akan memberitahu jawaban meski sebelumnya apa yang diuji telah diajarkan. Jawabannya baru akan diberitahu saat ujian telah selesai. Setelah hari kiamat, Allah barulah akan memberikan jawaban atas apa perjanjian yang sudah kita buat dengannya sebelum lahir ke dunia.130

128Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 8. 129Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 8.

130Tahir Sadiq, "The role of Islamic Studies in Education (An Analytical Study in Perception of Educational Goals)." American Scientific Research Journal for

Langgulung menjelaskan bahwa dari segi pandangan falsafah, wajar pada manusia atau sekurang-kurangnya sebagian dari pada watak manusia (nature) adalah menerima Tuhan sebagai Tuhan dan Penguasa. Malah ahli-ahli fikir Islam melangkah lebih jauh lagi dan menyatakan bahwa sebab kelemahan manusia, Tuhan sebagai penguasa yang telah diakui telah memberi manusia wahyu sebagai petunjuk. Selanjutnya, Dia berjanji membela orang-orang yang percaya kepada-Nya (QS. 30: 47). Supaya mendapat petunjuk yang sempurna dalam ibadah, menguruskan amanah, melaksanakan tugas dan kewajiban, dan terutama mengingatkan manusia kepada perjanjiannya dengan Tuhan, maka Tuhan sendiri mengutus wahyuNya kepada manusia. Jadi wahyu itu merupakan peringatan untuk mengimbangi kelemahan manusia, yaitu sifat suka lupa. Oleh sebab itu, al-Qur’an dianggap oleh Islam sebagai peringatan (QS. 15: 6 dan QS 38: 8). Al-Qur’an menceritakan bagaimana Tuhan menaruh kasihan kepada Adam dan Hawa ketika meminta ampunan dan menjanjikannya petunjuk untuk menghindarkan rasa takut, duka-cita dan nestapa (QS. 2: 37) dan (QS. 20: 122-123). Jadi Adam dianggap seorang Nabi orang Islam, sebab nabi-nabi adalah penerima wahyu dan bila wahyu itu mengandung perutusan untuk umat manusia, maka nabi-nabi itu juga disebut Rasul.131 Namun demikian, Nabi atau Rasul tersebut tetaplah sebagaimana insan manusia biasa lainnya, bukan Tuhan.

Quraish +Shihab132

+berpendapat +bahwa +kata +‚al-insan‛ +berasal +dari +kata +‚nasiya‛ +yang +berarti +lupa, +Jalaluddin133

+berpendapat +bahwa +manusia +di +samping +memiliki +potensi +berkembang +secara +fisik, +ia +juga +berpotensi +untuk +berkembang +secara +mental +spiritual. +Menurutnya, +perkembangan +dalam +hal +ini +meliputi +kemampuan +untuk +berbicara, +menguasai +ilmu +pengetahuan, +dan +mengenal +Tuhan +atas +dasar +perjanjian +keimanan +sejak +zaman +ruh. +Pendapat Engineering, Technology, and Sciences (ASRJETS) 52.1 (2019): 37-48; Prabin Narzary, "Influence of Christianity on Bodo Culture: A Case Study of the Bodo Christians in Assam." Proceedings of Re-Learning to Be Human for Global Times: The Role of Hermeneutics in Philosophy and Religious Studies (2019): 122; Ali Imron, "The Millenial Generation, Hadith Memes, and Identity Politics: The New Face of Political Contestation in Contemporary Indonesia." Ulul Albab 20.2 (2019): 255.

131Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, 9.

132M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Permasalahan Umat, 60.

+Jalaluddin +sangat +bersifat +teologis. +Meskipun +demikian +pendapat +ini +dapat +ditelusuri +kebenarannya +melalui +pendekatan +ayat-ayat + al-Qur'an. +Allah +SWT +berfirman:

+

ُهَمَّلَع

+

َناَيَب لا

‚mengajarnya +pandai +berbicara‛

Ayat +ini +memberikan +petunjuk +bahwa +satu-satunya +makhluk +yang +dibekalai +dengan +kemampuan +berkomunikasi +secara +verbal +adalah +manusia. +Kata +al-insân +juga +mengandung +makna +kesempurnaan +sesuai +dengan +tujuan +penciptaannya dan +keunikan +manusia +sebagai +makhluk +Allah +yang +ditinggikan +derajatnya. +Meskipun +demikian, +manusia +juga +memiliki +sifat +keterbatasan, +tergesa-gesa, +resah, +gelisah, +dan +lain +sebagainya. +Dari +pemaknaan +al-insân, +terlihat +bahwa +manusia +merupakan +makhluk +Allah +yang +memiliki +sifat-sifat +manusiawi +yang +bernilai +positif +dan +negatif, +serta +menunjuk +kepada +manusia +dengan +seluruh +totalitasnya, +jiwa +dan +raga.134

+Oleh +karena +itu, +manusia +harus +senantiasa +mengarahkan +seluruh +aktivitasnya, +baik +fisik +maupun +psikis +sesuai +dengan + nilai-nilai +ajaran +Islam.

Dalam pandangan Harun Nasution, hakekat manusia perspektif Islam mempunyai dua unsur, materi yaitu tubuh yang mempunyai hayyat dan unsur non-materi yaitu ruh yang mempunyai dua adaya yaitu daya rasa di dada dan daya pikir di kepala.135 ‘Âisyah bint Syâthi’ mengkatagorisasikan penyebutan manusia di dalam al-Qur’an menjadi tiga macam, basyar, insân dan al-Nâs, di man ketiganya mempunyau makna yang berbeda. Basyar, disebut 27 kali dalam al-Qur’an.136 Secara tematis, al-Qur’an menyebut manusia sebagai basyar untuk mengindikasikan manusia sebagai makhluk biologis. Basyar, mempunyai pengertian etimologis penampakan sesuatu yang indah dan kulit,137 ‚petanda‛ bahwa manusia mempunyai kulit yang tidak terlihat secara jelas, hal ini, membedakan manusia dengan kera, sapi, kuda ayam dan lain sebagainya. Oleh karena itu, basyar mereferensikan

134 M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Permasalahan Umat, 280.

135Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), 36.

136Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Bâqî, Al-Mu’jam al Mufahras li Fazh al-Qur’ân al-Karîm, (Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H), 119.

manusia dalam aspek biologis dengan sifat-sifat biologis, seperti makan, minum dan seks.

Al-Qur’an menyebut kata insân, digunakan untuk menunjukkan manusia sebagai makhluk yang bisa mengoptimalkan kemampuan akalnya, dalam aktualisasi kehidupan nyata. Lebih lanjut, Insân merupakan ‚makhluk‛ yang bisa membuat perencenaan, menimbang baik dan buruk, kegiatan yang dilakukannya memanfaatkan kapasitas akal.138 Jalaludin Rahmat menambahkan, al-Qur’an menyebutkan kata insân dalam tiga konteks. Pertama, menunjukkan keistimewaan manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah. Kedua, dihubungkan dengan predisposisi negative dari manusia. Ketiga, konteks proses penciptaan manusia.139 Manusia dalam konteks sebagai khalifah dan pemikul amanah manusia dianugerahi ilmu pengetahuan, diberi kemampuan discovery dan menguasai hukum alam. Dengan demikian, pada pundak manusia terdapat tanggung jawab untuk menjaganya.140

Adapun dalam konteks penciptaan manusia insan dan basyar dinisbahkan sekaligus, yakni diciptakan dari tanah liat, sari pati tanah.141 Pada konteks insân yang sebagai petanda predisposisi negative manusia, manusia digambarkan mempunyai kecenderungan berbuat aniyaya dan ingkar, tergesa-gesa, kikir, bodoh, suka membantah dan berdebat, dan lain sebagainya.142

Kata al-Nâs, digunakan untuk menunjukkan dimensi sosial manusia di dalam kelompok masyarakat. Manusia adalah makhluk bebas, tetapi kebebasan manusia adalah ‚bebas untuk‛ bukan ‚bebas dari‛. Dalam konteks ini, ‘Ibn ‘Abî Zamanîn, berpendapat, sebagai makhluk sosial manusia agar senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Swt, agar terhindar dari godaan setan yang bersemayam di dalam diri manusia, dan bisa mengakibatkan ekses negatif di dalam kehidupan sosial mereka.143

138Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam Al Qur’an, (Yogyakarta: LESFI, 1992), 30.

139 Jalaluddin Rahmat, Psikologi Sufistik, (Bandung: Misykat, 1996), 77-99. 140 Lihat QS. Al-aAlaq : 1-5, Al-Najm : 1-3, 39, Al-Ahzâb : 72, al-Muzammil : 36, dan al-‘Ankabût : 8.

141Fazlur Rahman, Major Themes of The Qur’ân, 21

142Amie Primarni dan Khairunnas, Pendidikan Holistik: Format Baru Pendidikan Islam Membentuk Karakter Paripurna, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2013),

110.

143 ‘Abû ‘Abdullâh ibn ‘Abdullâh ibn ‘Abû Zamanîn, Tafsîr Qur’ân al-‘Azhîm, (T.tp: Al-Fârûq al-Hadîtsah, 2002), jilid 5, 175.

M. +Quraish +Shihab +mengatakan +bahwa +kata ‚al-ins‛ +adalah +berakar +dari +kata +‛al-nisyân‛ +yang +memiliki +arti +"lupa" +dan +dari +akar +kata‛naus‛ +yang +berarti +"pergerakan +atau +dinamis". +Dalam +konteks +ini, +kata‚al-ins‛ +dilawankan +dengan +kata +‛al-jin‛ +dan +‛ al-nufûr +yang +berarti +"menetap.‛144

+Pendapat +Quraish +Shihab +ini +dapat +dikatakan +rasional +jika +dilihat dari +kenyataan +bahwa +manusia +sangat +labil +dalam +segala +perbuatannya. +Mereka +tidak +pernah +menetap +dalam +satu +kondisi, +akan +tetapi +mereka +akan +berubah +(bergerak) +dari +satu +keadaan +keadaan +lainnya. +Dalam +hakikat +penciptaannya, +manusia +memiliki +kewajiban +yang +sama +dengan +jin, +yakni + sama-sama +diperintah +untuk +beribadah. +Pada +kenyataannya +manusia +akan +mengalami +pergolakan +batin +dalam +menjalankan +kewajiban +tersebut. +Kadang +kala +ia +akan +merasa +semangat, +dan +pada +kondisi +lain +ia +akan +merasa +malas. +Kondisi +internal +dan +eksternal +mereka +akan +sangat +berpengaruh +pada +aktivitas +ibadah +mereka. +

Hal +ini +memberikan +pemahaman +bahwa +manusia +memiliki +lingkungan sosial +yang +skalanya +dimulai +dari +skala +rumah +tangga, +masyarakat +sekitarnya +dan +msyarakat +secara +luas +yaitu +sebagai +warga +negara. +Dalam +setiap +lingkungan +tersebut +hubungan +manusia +lebih +ditekankan +pada +hubungan +antar +sesamanya. +Sesuai +dengan +fitrahnya +manusia +dijadikan +dengan +perpedaan-perbedaan +yang +menyertainya. +Perbedaan +tersebut +meliputi +perbedaan +jenis +kelamin, +suku +bangsa, +bahasa, +adat +istiadat, +dan +sebagainya. +Dalam +hal +ini +Allah +SWT. +berfirman: ‚Wahai +manusia! +Sungguh, +Kami +telah

+menciptakan +kamu +dari +seorang +laki-laki +dan +seorang +perempuan,

+kemudian +Kami +jadikan +kamu +berbangsa-bangsa +dan +bersuku-suku

+agar +kamu +saling +mengenal. +Sesungguhnya +yang +paling +mulia +di

+antara +kamu +di +sisi +Allah +ialah +orang +yang +paling +bertakwa.

+Sungguh, +Allah +Maha +Mengetahui, +Maha Teliti.‛ +

Ayat +ini +menggambarkan +dinamika +kehidupan +manusia. +Pada +dasarnya +kemajemukan +yang +terdapat +pada +manusia +memiliki +kesamaan +dalam +pandangan +Allah +SWT. +Satu-satunya +yang +menyebabkan +perbedaan +di +antara +mereka +adalah +nilai +ketakwaan +kepada +Allah +SWT. +Dalam +konteks +sosial, +meskipun +manusia +pada +hakikatnya +sama, +namun +di +antara +mereka +pasti +ada +yang +lebih +baik

144M. Quraish Shihab, Tafsir al-Amanah (Jakarta: Pustaka Kartini, 1992), 19-20.

+dibandingkan +dengan +yang +lain. +Indikasi +kebaikan +tersebut +terletak +pada +sejauh +mana +seseorang +dapat +memberikan +manfaat +bagi +manusia +yang +lain. +Indikasi +ini +juga +merupakan +implementtasi +dari +kata +‚takwa‛ +yang +dimaksud +dalam +ayat +tersebut +di +atas. +Ali +Shariati +mengatakan +bahwa +interaksi +sosial +yang +diciptakan +manusia +akan +mewujudkan +sikap +ta'assub +yang +berarti +pula +terciptanya +akar +yang +menghubungkan +individu-individu +dengan +kelompoknya +yang +manusiawi +dan +akan +segera +bangkit +untuk +menjaga +dan +menolong +kelompok +tersebut. +Sikap +ini +yang +membedakan +interaksi +sosial +manusia +dengan +interaksi +sosial +hewan. +Ia +mengatakan +mengatakan +meskipun +hewan +hidup +secara +berkelompok, +akan +tetapi +sikap +fanatisme +tidak +terdapat +dalam +kelompok +tersebut, +sehingga +masing-masing +dari +hewan +tersebut +tidak +memiliki +sifat +membela +kelompoknya. +Sebaliknya +dalam +kelompok +manusia, +sikap +ta'âsub +akan +melahirkan +rasa +manusia +yang +bukan +individual, +tidak +pula +merasakan +diri +sebagai +"saya" +yang +terpisah, +akan +tetapi +akan +merasakan +esensi, +masa +depan, +perasaan, +akidah +"saya" +dan +‚anda" +yang +sama +yang +menyatu +dalam +derita, +nasib, +dan +pikiran.145

+

Lebih +lanjut, +Hasan +Langgulung +melihat +potensi +yang +ada +pada +manusia +sangat +penting +sebagai +karunia +yang +diberikan +Allah +untuk +menjalankan +tugasnya +sebagai +khalifah +di +muka +bumi. +Suatu +kedudukan +yang +istimewa +di +dalam +alam +semesta +ini. +Manusia +tidak +akan +mampu +menjalankan +amanahnya +sebagai +seorang +khalifah, +tidak +akan +mampu +mengemban +tanggung +jawabnya +jikalau +ia +tidak +dilengkapi +dengan +potensi-potensi +tersebut +dan +mengembangkannya +sebagai +sebuah +kekuatan +dan +nilai +lebih +manusia +dibandingkan +makhluk +lainnya.146

+Artinya, +jika +kualitas +SDM +manusianya +berkualitas +maka +ia +dapat +mempertanggungjawabkan +amanahnya +sebagai +seorang +khalifah +dengan +baik. +

Kualitas +SDM +ini +tentu +saja +tak +hanya +cukup +dengan +menguasai +ilmu +pengetahuan +dan +teknologi +(IPTEK), +tetapi +juga +pengem- +bangan +nilai-nilai +rohani-spiritual, +yaitu +berupa +iman +dan +takwa +(IMTAQ). +Walaupun +manusia +sudah +diberikan +beberapa

145Ali Shariati, Ummah dan Imamah, terj. Muhammad Faishal Hasanuddin (Jakarta: YAPI, 1990), 64-65.

+potensi +dan +‚lahan +amanah‛ +yang +cukup +bisa +dibanggakan, +namun +manusia +juga +dianugerahi +kemampuan +dasar +untuk +memilih +atau +mempunyai +‚kebebasan‛, +sehingga +walaupun +sebagian +dari +roh +ilahi +(sifat-sifat +spiritual) +yang +melekat +pada +tubuh +material +manusia +telah +melakukan +perjanjian +dengan +Tuhannya +(untuk +bersedia +patuh, +tunduk +dan +taat +kepada-Nya), +tetapi +ketundukan +kepada +Tuhan +itu +tidaklah +terjadi +secara +otomatis +dan +pasti +sebagaimana +robot, +melainkan +karena +pilihan +dan +keputusannya +sendiri. +Bahkan, +dalam +perkembangannya +dari +waktu +ke +waktu, +manusia +suka +melupakan +perjanjian +tersebut, +sehingga +timbullah +cercaan +dan +celaan +yang +mencerminkan +kekurangan +dan +kelemahan +manusia. +Dalam + al-Qur'an +digambarkan +tentang +kelemahan +tersebut, +di +antaranya: +(1) +Manusia +adalah +amat +dhalim +dan +amat +bodoh, +(2) +manusia +adalah +makhluk +yang +lemah, +(3) +manusia +banyak +membantah +dan +membangkang +ajaran +Allah, +(4) +manusia +bersifat +tergesa-gesa, +(5) +manusia +mudah +lupa +dan +banyak +salah, +(6) +manusia +sering +mengingkari +nikmat, +dan +(7) manusia +itu +mudah +gelisah, +banyak +keluh +kesah +dan +kikir.147

Dengan +adanya +berbagai +sifat +negatif +atau +kelemahan +yang +dimiliki +manusia, +maka +diperlukan +langkah-langkah +efektif +dan +upaya +solutif +untuk +meminimalkan +potensi +negatif +sekaligus +berusaha +untuk +memaksimalkan +potensi +positif +melalui +pendidikan. +Oleh +karena +itu, +tugas +dan +fungsi +pendidikan +dalam +Islam +adalah +untuk +membimbing +dan +mengarahkan +manusia +agar +menyadari +esensi +dan +eksistensi +dirinya; +menumbuh-kembangkan +sifat, +sikap +dan +perilaku +positif, +mengendalikan +dan +menghilangkan +sifat, +sikap +dan +perilaku +negatif. +Apabila +berhasil, +maka +secara +esensial +ia +akan +mampu +untuk +memposisikan +diri +sebagai+‘abd +Allâh, +dan +secara +eksistensial +ia +mampu +mewujudkan +tugas +sebagai +khalîfah +yang +semuanya +merupakan +amanah +dari +Allah +Swt. +

Karena +itu, +sistem +pendidikan +Islam +harus +mampu +menjadi +piranti +dan +sekaligus +wahana +pembudayaan +manusia, +memberdayakan +manusia +sesuai +dengan +kodratnya, +dan +mengukuhkan +masyarakat, +di +mana +pendidikan +itu +dilaksanakan. +Agar +pendidikan +tersebut +mampu +memainkan +peranannya,

147Zainul Hasan, ‚Islam dan Pendidikan‛, Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 2, Nomor 2,2007, 233.

+diperlukan +desain +pendidikan +insânîyah-islâmî +yang +lebih +adaptik. +Kesemua +komponen +pendidikan +seperti +guru, +materi, +metode, +evaluasi, +dan +sebagainya, +dituntut +untuk +mampu +menumbuhkan +seluruh +potensi +yang +ada +pada +peserta +didik +seoptimal + mungkin--dengan +tidak +mengenyampingkan +aspek +sosio-kultural +di +mana +ia +dibesarkan--sehingga +terbina +sosok +pribadi +muslim +yang +berkualitas, +yaitu +sosok +intelektual +ulama +dan +ulama-intelektual. +Dengan +demikian, +proses +pendidikan +Islam +harus +mampu +menyentuh +totalitas +potensi +yang +dimiliki +peserta +didik +yang +meliputi +pertumbuhan +fisik, +intelektual, +emosional, +sosial, +moral, +dan +keimanan +Ilahiyah +yang +merupakan +fitrah +manusia +yang +hanîf, +sebagai +upaya +mewujudkan +tingkat +kematangan +optimal +dalam +totalitas +struktur +individual +peserta +didik.

Dengan +menyadari +hakikat +dari +penciptaannya, +manusia +diharapkan +mampu +menyadari +kewajiban +dan +tanggungjawabnya +dalam +seluruh +aspek +kehidupan. +Al-Qur’an +dengan +bahasanya +yang +beragama +tentang +penyebutan +manusia, +memberikan +rambu-rambu +tentang +peran +manusia +dalam +kehidupan +individu +dan +sosial. +Pendidikan +sebagai +aspek +yang +akan +mengantarkan +manusia +pada +kesadaraanya +tentang +hak +dan +kewajibannya +tersebut, +semestinya +mendapatkan +prioritas +dalam +menerima +perhatian +manusia. +Demikian +pula +semestinya +manusia +memberikan +sebagian +besar +waktu +dan +pikirannya +untuk +memperbaiki +pendidikannya.

berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inti dasar dari ajaran Islam dari segi agama dan falsafah, yang tidak dapat tidak, harus diketahui untuk dapat memahami falsafah pendidikan Islam tentang Khalifah dari Hasan langgulung terutama adalah: 1) Konsep keesaan Tuhan, Ciptaan, dan wahyuNya; 2) Cerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tujuan hidupnya, penderitaan jiwa dan nasibnya. Di sini, juga terdapat kisah tentang perjanjian, petunjuk asal kepada Adam, ketergelincirannya, dan kemudian ingatannya kembali; 3) Peringatan bahwa manusia bertanggungjawab terhadap segala tindakannya dan hidup kecerdasan, kekuasaan, hak milik, dan lain-lain diberikan kepadanya oleh Tuhan sebagai amanah; 4) Perincian ajaran-ajaran termasuk tugas kewajiban dan hak-hak yang ahli fikih rumuskan dalam syari’ah; 5) Peranan Nabi Muhammad dan rentetan wahyu-wahyu Tuhan kepada umat manusia.

135

Setelah membahas filosofis pendidikan khalifah dari Hasan Langgulung, pada bab inti kedua ini dibahas teori dan aplikasi peranan pendidikan khalifah. Pembahasan diperinci dengan membahas subbab, yaitu: tujuan pendidikan, kandungan/kurikulum pendidikan, dan metode pendidikan.