• Tidak ada hasil yang ditemukan

IK 0.684 0.421 0.632 0.474 0.421 0.842 Kriteria Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Mudah

4. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal

D = 0,356

Karena D = 0,356 maka dapat disimpilkan daya beda soal nomor satu termasuk dalam kriteria cukup.

4. Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal

Rumus:

Kriteria :

a. Soal dengan 0.00 < IK ≤ 0.30 adalah soal sukar b. Soal dengan 0.30 < IK ≤ 0.70 adalah soal sedang c. Soal dengan 0.70 < IK ≤ 1.00 adalah soal mudah Perhitungan: B B A A

J

B

J

B

D  

B B A A J B J B D   B A B A

JS

JS

JB

JB

IK

B A B A

JS

JS

JB

JB

IK

IK = 0,632

Karena IK = 0,632 maka dapat disimpilkan tingkat kesukaran soal nomor satu termasuk dalam kriteria sedang.

Kelas Eksperimen

Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 2 Sawangan Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / semester : VII / II

Standar Kompetensi : 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu – Budha sampai masa kolonial Eropa.

Kompetensi Dasar : 5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat , kebudayaan dan pemerintah pada masa kolonial Eropa

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran.

Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, siswa dapat,

1. Menguraikan proses masuknya bangsa – bangsa Eropa ke Indonesia.

2. Mengidentifikasi cara – cara yang digunakan bangsa Eropa untuk mencapai tujuannya.

Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect ) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) Ketelitian ( carefulness)

B. Materi Pelajaran.

1. Proses masuknya bangsa – bangsa Eropa ke Indonesia. A. Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia

Kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia mempunyai tiga tujuan sebagai berikut.

harga tinggi di Eropa.

b. Tujuan agama, yaitu menyebarkan agama Nasrani. c. Tujuan petualangan, yaitu mencari daerah jajahan. Tujuan tersebut lebih dikenal dengan gold, glory, gospel.

a. Gold, yaitu mencari emas dan mencari kekayaan.

b. Glory, yaitu mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan. c. Gospel, yaitu tugas suci menyebarkan agama Kristen.

B. Kedatangan bangsa Spanyol di Indonesia

Tujuan kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia sama dengan tujuan bangsa Portugis, yaitu mencari kekayaan, menyebarkan agama Nasrani, dan mencari daerah jajahan. Pada tanggal 8 Nopember 1521, kapal dagang Spanyol berlabuh di Maluku, setelah melalui Filipina, Kalimantan Utara, kemudian langsung ke Tidore. Di sini bangsa Spanyol diterima baik oleh rakyat Tidore. Namun Portugis yang ada di Ternate merasa terancam dan tidak mau disaingi sesame bangsa Eropa, yang dianggap akan mengganggu monopolinya. Kemudian mereka bersengketa, dan dibuatlah perjanjian di Saragosa pada tahun 1526, yang menyebabkan Spanyol harus meninggalkan Tidore.

C. Kedatangan bangsa Inggris di Indonesia

Inggris mendirikan kongsi dagang yang diberi nama East Indian Company (EIC) pada tahun 1600. Pemerintah Inggris memberikan hak-hak istimewa kepada EIC. Pada abad ke-18, para pedagang Inggris juga sudah banyak yang berdagang di Indonesia. Bahkan sejak Belanda menjadi sekutu Perancis, Inggris selalu mengancam kedudukan Belanda di Indonesia. Pada tahun 1811, Thomas Stamford Raffles telah berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Raflles yang diangkat sebagai pemimpin Inggris atas wilayah Indonesia, memberikan kesempatan pada penduduk Indonesia untuk melaksanakan perdagangan bebas. Namun, kekuasaan Inggris tetap bersifat menindas bangsa Indonesia.

datang ke Indonesia, sama dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya, yaitu mencari kekayaan, monopoli perdagangan, dan mencari daerah jajahan. Belanda datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, dan berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Namun kedatangan Belanda diusir penduduk pesisir Banten karena mereka bersikap kasar dan sombong. Belanda datang lagi ke Indonesia dipimpin Jacob van Heck pada tahun 1598. Pada tanggal 20 Maret tahun 1602, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), dengan tujuan sebagai berikut.

a. Menghilangkan persaingan yang merugikan para pedagang Belanda.

b. Menyatukan tenaga untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Portugis dan pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.

c. Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.

VOC menerapkan beberapa aturan paksa yang harus dilaksanakan oleh Indonesia. Bentuk-bentuk aturan paksa VOC yang diterapkan di Indonesia tersebut sebagai berikut.

a. Monopoli dagang.

b. Pajak yang harus dibayar dengan hasil bumi. c. Penjualan paksa hasil bumi kepada VOC.

d. Pelayaran Hongi, yaitu wajib mendayung perahu VOC di perairan Maluku. e. Aksi penebangan tanaman rempah-rempah milik rakyat.

f. Wajib menanam kopi di wilayah rakyat Priangan.

g. Wajib menyerahkan upeti berupa hasil bumi kepada kepala daerah yang telah menandatangani perjanjian dengan VOC.

2. Cara – cara yang digunakan bangsa Eropa untuk mencapai tujuannya. a. Membangun Benteng Pertahanan

Semula untuk mengelola urusan dagangnya, VOC mendirikan factorij di Maluku dan Banda. Selain untuk berunding dengan penguasa setempat, pos itu juga menjadi gudang dan permukiman para pedagang utama. Dalam perkembangan selanjutnya karena didesak oleh kepentingan dan konflik dengan penduduk Indonesia

Dengan begitu, mereka bisa memungut pajak, memonopoli pembelian dan penjualan rempah, mengendalikan penghasil rempah Maluku, bahkan bisa mengusir Portugis dan Spanyol keluar dari pusat-pusat perdagangan Asia.

b. Membuat Perjanjian dengan Para Raja

Salah satu kelihaian yang dimiliki oleh VOC adalah kemampuannya dalam bernegosiasi dan berdiplomasi dengan para raja di Nusantara. Namun, di balik kelihaian itu juga tersimpan kelicikan. Pada tahun 1637 armada VOC di bawah van Diemen berhasil diperdaya oleh persekutuan anti-VOC yang dipimpin Kakiali (murid Sunan Giri yang berasal dari Hitu). Persekutuan ini terdiri atas orang-orang Hitu, Ternate/Hoalmoal, dan Gowa. Maksud persekutuan ini adalah mendorong dilakukannya perdagangan rempah secara ‘gelap‘. Secara lihai, VOC juga berhasil masuk di dalam kemelut yang melanda Kerajaan Mataram. Mereka mau mengakui Adipati Anom sebagai Amangkurat II yang sedang berperang dengan Trunojoyo untuk memperebutkan takhta Mataram. Sebuah kesepakatan akhirnya ditandatangani antara VOC dengan Amangkurat II pada tahun 1678.

Isinya antara lain Amangkurat II diakui sebagai raja di Mataram, VOC mendapat pelabuhan Semarang dan hak-hak untuk berdagang, serta Mataram harus mengganti biaya perang yang dikeluarkan VOC. Sebuah pukulan yang telak bagi kerajaan terbesar di Jawa, yang membuatnya limbung. Oleh karena itu, setapak demi setapak, Mataram masuk dalam perangkap VOC.

c. Monopoli Perdagangan

Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah monopoli. Itulah salah satu ciri khas VOC yang mereka terapkan di mana pun mereka berada. Salah satu faktor kuncinya karena mereka mengacu pada Regerings - Reglement (asas tujuan perkumpulan) yang dibuat tahun 1650. Apabila diringkas, isi asas itu antara lain melenyapkan semua persaingan dengan jalan apa pun juga asal tercapai maksudnya, serta membeli semurahmurahnya dan menjual semahal-mahalnya. Pada tahun 1652– 1653 VOC mengeluarkan kebijakan extirpatie yaitu pemusnahan semua pohon rempah Maluku dengan tujuan agar bisa mengendalikan hasil dan menjaga harga tinggi rempah di Eropa. Kebijakan ini mendapat reaksi dari para pedagang Nusantara

penduduk yang berasal dari pulau lain.

Dalam melakukan kegiatan monopolinya, VOC menerapkan beberapa aturan. Aturan-aturan tersebut sebagai berikut:

1) Petani rempah-rempah hanya boleh bertindak sebagai produsen. Hak jual beli hanya dimiliki VOC.

2) Panen rempah-rempah harus dijual kepada VOC dengan harga yang ditentukan oleh VOC.

3) Barang kebutuhan sehari-hari, seperti peralatan rumah tangga, garam, dan kain harus dibeli dari VOC dengan harga yang ditentukan oleh VOC.

d. Devide et Impera

Kamu tentu sudah sering mendengar istilah devide et impera, yaitu salah satu politik VOC untuk dapat menguasai suatu wilayah dengan cara pecah belah lalu kuasai. Sebagai contoh konkret, VOC menggunakan keperkasaan orang-orang Bugis untuk menghadapi kerajaan lain di Indonesia. Misalnya Aru Palaka (Raja Bone) digunakan Belanda untuk melakukan intervensi ke Kerajaan Mataram di bawah Sultan Amangkurat I. Untuk menghadapi Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa tahun 1825–1830, Belanda menggunakan Legiun Mangkunegaran yang dibentuk tahun 1808 oleh Daendels dan Mangkunegoro II.

E. Metode Pembelajaran.

Model pembelajaran : Learning Cycle berbantuan CD interaktif.

F. Langkah – langkah. a. Pendahuluan.

 Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.  Guru menyiapkan kondisi fisik kelas.

 Guru memeriksa kehadiran siswa sebelum materi disampaikan.  Guru meminta siswa untuk menyiapkan perangkat belajar.  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

 Apersepsi : Berdialog tentang arti penting Indonesia sebagai penghasil rempah – rempah.

b. Kegiatan Inti

a) Fase Engagement

 Guru menggugah minat siswa dengan memberi wawasan tentang bangsa Eropa dalam kehidupan sehari-hari.

 Guru menanyakan kepada siswa apa yang siswa ketahui tentang proses masuknya bangsa Eropa.

 Meminta siswa lain untuk menanggapi penjelasan dari temannya. b) Fase Exploration

 Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan.

 Guru melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang proses masuknya bangsa Eropa ke Indonesia dan cara bangsa Eropa mencapai tujuannya melalui CD Pembelajaran dan buku pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial kelas VII materi masa kolonial bangsa Eropa.

 Siswa berdiskusi tentang materi proses masuknya bangsa Eropa ke Indonesia yang sudah mereka lihat di CD sebagai tugas terstruktur.

 Guru berperan sebagai fasilitator saat siswa dalam kelompok melaksanakan diskusi.

c) Fase Explanation

 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan materi proses masuknya bangsa Eropa ke Indonesia dan cara bangsa Eropa mencapai tujuannya yang sudah didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing.  Meminta siswa untuk menanggapi penjelasan temannya.

d) Fase Elaboration

 Siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru yaitu problem solving.

e) Fase Evaluation

c. Kegiatan Penutup

 Guru bersama – sama siswa membuat simpulan atas materi masuknya bangsa eropa ke Indonesia atau Nusantara yang telah dipelajari.

 Guru meminta siswa mempelajari materi untuk pertemuan minggu depan yaitu masa kolonialisasi bangsa eropa di Nusantara.

G. Sumber Belajar.

1. Didang. 2008. Pengetahuan Sosial 1 untuk SMP/MTs kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

2. CD Interaktif materi masa kolonial bangsa Eropa oleh Annisaak S.F

H. Penilaian.

1. Penilaian keaktifan siswa dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung (terlampir). 2. Penilaian terhdap hasil belajar dilaksanakan setelah pembahasan materi perkembangan

masyarakat, kebudayaan dan pemerintah pada masa kolonial Eropa selesai dengan instrumen penilaian soal tes akhir.

Mengetahui, Guru Mapel IPS

( Muslikhah Ardani ) NIM. 1013257 Sawangan, 5 April 2013 Peneliti ( Annisaak Sholikhatun F) NIM 3101409094

Kelas Eksperimen

Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 2 Sawangan Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / semester : VII / 2

Standar Kompetensi : 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu – Budha sampai masa colonial Eropa.

Kompetensi Dasar : 5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat , kebudayaan dan pemerintah pada masa colonial Eropa

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

I. Tujuan Pembelajaran.

Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, siswa dapat  Mengidentifikasi reaksi bangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa.

 Mendeskripsikan perkembangan kehidupan masyarakat, kebudayaan , dan pemerintahan pada masa colonial Eropa.

Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect ) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) Ketelitian ( carefulness)

A. Materi Pelajaran.

 Reaksi bangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa.

Kedatangan bangsa Eropa ke berbagai wilayah di Indonesia mengundang beragam reaksi. Ada yang mau menerima dan bekerja sama, ada pula yang justru mengadakan perlawanan. Perlawanan kebanyakan dipimpin oleh penguasa lokal yang terdesak kepentingan politik dan ekonominya.

penguasa Aceh Sultan Mahmud, Pate Kadir, Alaudin tahun 1511–1537. Penguasa Jepara Demak juga 1513 hingga 1575 seperti Adipati Unus juga melawan Portugis dengan menyerang pusat kedudukan mereka di Malaka. Perlawanan terhadap Portugis juga dilakukan oleh penguasa lokal di Maluku. Pada tahun 1512, Alfonso de Albuquerque mengirim ekspedisi ke kawasan Maluku. Kesamaan kepentingan perdagangan menyebabkan kehadiran Portugis diterima dengan baikPerlawanan baru dilakukan setelah Portugis mulai mencampuri urusan internal kerajaan dan terjadinya konflik agama. Ternate, Tidore, Jilolo, dan Bacan adalah pusat-pusat penyebaran agama Islam, sementara itu Portugis mengembangkan agama Kristen

b. Perlawanan terhadap Spanyol

Kedatangan bangsa Spanyol semula diterima dengan baik oleh para penguasa lokal, Sultan Almansur dari Maluku. Hal ini karena sultan merasa dikesampingkan oleh Portugis. Namun, kehadiran Spanyol diprotes oleh Portugis. Alasannya hal itu merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Tordesillas yang dibuat pada tahun 1494. Portugis dan Spanyol pun terlibat konflik dan peperangan. Salah satu benteng di Tidore yang dibangun Spanyol pada tahun 1527 diserang dan direbut Portugis. Konflik segitiga antara Portugis, Spanyol, dan Maluku pun pecah hingga beberapa tahun. Pada tahun 1529 Portugis dan Spanyol membuat Perjanjian Saragosa yang menyatakan bahwa Maluku menjadi wilayah perdagangan Portugis, sementara itu Spanyol mendapatkan Filipina.

c. Perlawanan terhadap VOC

Perlawanan terhadap VOC dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Di Indonesia bagian timur seperti Maluku dan Makassar perlawanan dilakukan sejak tahun 1630–1800. Perlawanan dilakukan terhadap kepentingan VOC berlangsung sampai dengan meninggalnya Kakiali (tokoh penggerak perlawanan terhadap VOC di Hitu) pada tahun 1643. VOC memanfaatkan La Tenritatta to ‗Unru atau Arung Palakka (1634–1696) untuk bisa menguasai Makassar. Meskipun penguasa Gowa memberikan otonomi yang luas pada daerah-daerah yang dikuasainya, hal itu tetap menimbulkan kebencian di kalangan daerah-daerah taklukan. Inilah yang mendasari Bugis mau menerima ajakan VOC untuk menghancurkan Makassar (Gowa).

pun menjadi orang terkuat yang menguasai Sulawesi Selatan di bawah monopoli VOC. Perlawanan terhadap VOC di Jawa dilakukan oleh Kerajaan Mataram. Selama pemerintahan Sultan Agung, awalnya memberikan keleluasaan pada VOC untuk berdagang. VOC diberi izin mendirikan loji di Jepara. Namun, Mataram kemudian menolak keberadaan VOC di Jawa. Upaya untuk melawan VOC di Batavia dilakukan Sultan Agung tahun 1628–1629, tetapi mengalami kegagalan. Hal yang sama dilakukan oleh Amangkurat I (1646–1677) sebagai pengganti Sultan Agung. Keberadaan VOC pun masih sangat dibatasi dan VOC bisa masuk ke wilayah Jawa dengan ditarik pajak.

VOC berhasil menguasai Jawa setelah Amangkurat II menjadi raja. Sejak saat itu, konflik berkepanjangan terjadi di antara sesama elite Mataram. VOC berhasil mencampuri kekuasaan hingga memecah Mataram menjadi empat kerajaan. Itulah beberapa contoh perlawanan rakyat kepada bangsa Eropa. Tentu masih banyak reaksi dan perlawanan yang dilakukan rakyat terhadap dominasi bangsa Eropa.

 Perkembangan kehidupan masyarakat, kebudayaan , dan pemerintahan pada masa kolonial Eropa.

Perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan sistem pemerintahan di Indonesia ada masa kolonial Eropa sangat dipengaruhi oleh keberadaan bangsa asing tersebut. Pada awalnya, bangsa Eropa datang untuk membeli rempah-rempah yang tidak dihasilkan di negaranya. Namun, karena mendatangkan keuntungan luar biasa, mereka menerapkan semangat kolonialis dan imperialis. Semangat kolonialis ialah semangat penguasaan oleh suatu negara atas bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu. Imperialis ialah memperluas daerah jajahannya untuk kepentingan industri dan modal. Akibatnya, masyarakat yang semula adalah pemilik berbalik menjadi budak. Masyarakat kehilangan hak atas milik mereka sendiri melalui berbagai kebijakan, seperti monopoli, tanam paksa, sewa tanah, penyerahan wajib, dan lain-lain yang diterapkan oleh kolonial.

Di bidang pemerintahan, para pemimpin kita tidak berdaya menghadapi para pedagang yang licik. Para pemimpin kita dengan mudah termakan oleh politik adu domba yang dijalankan oleh para penjajah. Jika pun para pemimpin mencoba untuk melawan, kebanyakan mereka terpaksa menyerah karena lemahnya persenjataan atau karena kelicikan Belanda. Akibatnya, Belanda berhasil menguasai kerajaan yang dipimpinnya.

menerapkan hukum seperti yang berlaku di Belanda. Sistem pemerintahan yang

diterapkan mengikuti ajaran Trias Politica. Sistem ini mengenal pemisahan antara

lembaga legislatif (pembuat undang-undang), eksekutif (pelaksana undang-undang), dan yudikatif (pengawas pelaksanaan undang-undang).

B. Metode Pembelajaran.

a. Metode pembelajaran : pemberian tugas, tanya jawab, dan diskusi. b. Model pembelajaran : Learning Cycle.

c. Media Pembelajaran : CD interaktif.

C. Langkah – langkah. a. Pendahuluan.

 Siswa duduk rapi di dalam kelas dan menjawab salam guru ketika guru masuk kelas.

 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.  Siswa mengingat kembali materi prasyarat.

 Guru melakukan apersepsi: Mengingatkan kembali pelajaran yang lalu tentang perdagangan antar pulau, Asia Tenggara dan kedatangan bangsa Barat ke Asia.  Guru memberikan Motivasi: Menampilkan peta pelayaran samudra Bangsa

Eropa ke Asia. b. Kegiatan Inti

a. Fase Engagement (10 menit)

 Mereview tugas terstruktur (CD interaktif) yang diberikan dengan menanyakan rangkuman materi proses masuknya bangsa Eropa ke Indonesia dan cara –cara yang digunakan bangsa Eropa untuk mencapai tujuannya dan pertanyaan yang dibuat oleh siswa.

 siswa menanggapi penjelasan dan pertanyaan dari temannya. b. Fase Exploration (25 menit)

dan buku pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial kelas VII.

 Siswa berdiskusi tentang latihan soal materi tentang reaksi Bangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa yang sudah mereka lihat di CD sebagai tugas terstruktur.

 Siswa bertanya pada guru jika ada yang mengalami kesulitan dalam berdiskusi.

c. Fase Explanation( 10 menit)

 Siswa mempresentasikan jawaban latihan soal materi tentang reaksi Bangsa Indonesia terhadap Bangsa Eropa yang sudah didiskusikan dengan kelompoknya masing-masing .

 Siswa menanggapi penjelasan temannya. d. Fase Elaboration (15 menit)

 Siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru yaitu problem solving dengan mengerjakan soal nomor 3 dan nomor 4 secara individu. e. Fase Evaluation (10 menit)

 Evaluasi jawaban soal pada fase elaboration. c. Kegiatan Penutup

 Siswa membuat simpulan atas materi yang dipelajari.

 Melakukan penilaian dan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.

D. Sumber Belajar.

1. Didang. 2008. Pengetahuan Sosial 1 untuk SMP/MTs kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

2. Peta Dunia.

E. Penilaian.

1.Penilaian keaktifan siswa dilaksanakan pada saat pembelajaran berlangsung (terlampir). 2.Penilaian posttest (terlampir).

( Muslikhah Ardani ) NIM. 1013257

( Annisaak Sholikhatun.F ) NIM 3101409094

Kelas Kontrol

Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 2 Sawangan Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas / semester : VII / II

Standar Kompetensi : 5. Memahami perkembangan masyarakat sejak masa Hindu – Budha sampai masa kolonial Eropa.

Kompetensi Dasar : 5.3 Mendeskripsikan perkembangan masyarakat , kebudayaan dan pemerintah pada masa kolonial Eropa

Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran ( 1 x pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran.

Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, siswa dapat,

1. Menguraikan proses masuknya bangsa – bangsa Eropa ke Indonesia.

2. Mengidentifikasi cara – cara yang digunakan bangsa Eropa untuk mencapai tujuannya.

Karakter siswa yang diharapkan : Disiplin ( Discipline )

Rasa hormat dan perhatian ( respect ) Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility ) Ketelitian ( carefulness)

B. Materi Pelajaran.

1. Proses masuknya bangsa – bangsa Eropa ke Indonesia. A. Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia

Kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia mempunyai tiga tujuan sebagai berikut.

harga tinggi di Eropa.

b. Tujuan agama, yaitu menyebarkan agama Nasrani. c. Tujuan petualangan, yaitu mencari daerah jajahan. Tujuan tersebut lebih dikenal dengan gold, glory, gospel.

a. Gold, yaitu mencari emas dan mencari kekayaan.

b. Glory, yaitu mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan. c. Gospel, yaitu tugas suci menyebarkan agama Kristen.

B. Kedatangan bangsa Spanyol di Indonesia

Tujuan kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia sama dengan tujuan bangsa Portugis, yaitu mencari kekayaan, menyebarkan agama Nasrani, dan mencari daerah jajahan. Pada tanggal 8 Nopember 1521, kapal dagang Spanyol berlabuh di Maluku, setelah melalui Filipina, Kalimantan Utara, kemudian langsung ke Tidore. Di sini bangsa Spanyol diterima baik oleh rakyat Tidore. Namun Portugis yang ada di Ternate merasa terancam dan tidak mau disaingi sesame bangsa Eropa, yang dianggap akan mengganggu monopolinya. Kemudian mereka bersengketa, dan dibuatlah perjanjian di Saragosa pada tahun 1526, yang menyebabkan Spanyol harus meninggalkan Tidore.

C. Kedatangan bangsa Inggris di Indonesia

Inggris mendirikan kongsi dagang yang diberi nama East Indian Company (EIC) pada tahun 1600. Pemerintah Inggris memberikan hak-hak istimewa kepada EIC. Pada abad ke-18, para pedagang Inggris juga sudah banyak yang berdagang di Indonesia. Bahkan sejak Belanda menjadi sekutu Perancis, Inggris selalu mengancam kedudukan Belanda di Indonesia. Pada tahun 1811, Thomas Stamford Raffles telah berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Raflles yang diangkat sebagai pemimpin Inggris atas wilayah Indonesia, memberikan kesempatan pada penduduk Indonesia untuk melaksanakan perdagangan bebas. Namun, kekuasaan Inggris tetap bersifat menindas bangsa Indonesia.

Belanda datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, dan berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Namun kedatangan Belanda diusir penduduk pesisir Banten karena mereka bersikap kasar dan sombong. Belanda datang lagi ke Indonesia dipimpin Jacob van Heck pada tahun 1598. Pada tanggal 20 Maret tahun 1602, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), dengan tujuan sebagai berikut.

a. Menghilangkan persaingan yang merugikan para pedagang Belanda.

b. Menyatukan tenaga untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Portugis dan pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.

c. Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.

VOC menerapkan beberapa aturan paksa yang harus dilaksanakan oleh Indonesia. Bentuk-bentuk aturan paksa VOC yang diterapkan di Indonesia tersebut sebagai berikut.

a. Monopoli dagang.

b. Pajak yang harus dibayar dengan hasil bumi. c. Penjualan paksa hasil bumi kepada VOC.

d. Pelayaran Hongi, yaitu wajib mendayung perahu VOC di perairan Maluku. e. Aksi penebangan tanaman rempah-rempah milik rakyat.

f. Wajib menanam kopi di wilayah rakyat Priangan.

g. Wajib menyerahkan upeti berupa hasil bumi kepada kepala daerah yang telah menandatangani perjanjian dengan VOC.

2. Cara – cara yang digunakan bangsa Eropa untuk mencapai tujuannya.

a. Membangun Benteng Pertahanan

Semula untuk mengelola urusan dagangnya, VOC mendirikan factorij di Maluku dan Banda. Selain untuk berunding dengan penguasa setempat, pos itu juga menjadi gudang dan permukiman para pedagang utama. Dalam perkembangan selanjutnya karena didesak oleh kepentingan dan konflik dengan penduduk Indonesia

Dengan begitu, mereka bisa memungut pajak, memonopoli pembelian dan penjualan rempah, mengendalikan penghasil rempah Maluku, bahkan bisa mengusir Portugis dan Spanyol keluar dari pusat-pusat perdagangan Asia.

b. Membuat Perjanjian dengan Para Raja

Salah satu kelihaian yang dimiliki oleh VOC adalah kemampuannya dalam