• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Perhitungan Uji Akurasi Hasil Klasifikas

Penghitugan uji akurasi dilakukan untuk melihat keakuratan atau ketelitian hasil dari klasifikasi objek pada citra. Dalam melakukan uji akurasi, dibutuhkan data atau referensi untuk membandingkan hasil klasifikasi yang dihasilkan. Data yang digunakan adalah data keadaan sebenarnya di lapangan dalam bentuk peta atau titik- titik ground check lapangan. Untuk menguji tingkat akurasi klasifikasi objek pada citra, idealnya data yang menjadi acuan adalah data keadaan sebenarnya di lapangan

pada tahun yang sama dengan tahun perekaman citra yang diklasifikasi. Data acuan yang digunakan untuk menguji akurasi citra pada tahun yang lampau dapat juga menggunakan data tahun ini, namun nilai hasil klasifikasi yang dihasilkan akan cenderung kurang akurat karena adanya perbedaan tahun tersebut memiliki kemungkinan terjadinya perubahan tutupan lahan sebenarnya di lapangan sehingga nilai penghitungan akurasi pembuat (producer’s accuracy), akurasi pengguna (user’s accuracy), akurasi umum (overall accuracy), dan akurasi kappa yang dihasilkan menjadi kurang akurat.

Dalam pengujian hasil akurasi pada citra tahun perekaman tahun 1994, 2000, 2005, 2010 dilakukan dengan menggunakan data acuan titik-titik ground check lapangan tahun 2012. Hasil uji akurasi selengkapnya disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Matrik kesalahan hasil klasifikasi citra Landsat tahun 1994, 2000, 2005, dan 2010

Tahun Akurasi

Kappa (%) Overall (%) User (%) Producer (%)

1994 89,03 90,32 90,93 84,45

2000 89,6 90,44 91,88 85,86

2005 93,03 95,45 92,62 97,39

2010 97,21 98,18 96,66 97,85

Sumber : Analisis akurasi citra Landsat tahun perekaman 1994, 2000, 2005, 2010

Berdasarkan Tabel 13, pada uji akurasi citra Landsat tahun 1994, nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) terbesar terdapat pada 3 kelas yaitu kelas badan air, awan, dan bayangan awan. Pada kelas tersebut diperoleh nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) sebesar 100 %. Sedangkan untuk nilai yang terkecil terdapat pada kelas lahan terbuka, yaitu sebesar 33,33 %. Hal ini dikarenakan adanya piksel kelas lain yang masuk kelas lahan terbuka, yaitu 1 piksel kelas pertanian lahan kering dan 11 piksel kelas hutan tanaman.

Pada klasifikasi ini juga diperoleh nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) terbesar yang terdapat pada 3 kelas, yaitu kelas awan, bayangan awan, dan rawa semak. Pada kelas tersebut diperoleh nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) sebesar 100 %. Sedangkan untuk nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) terkecil terdapat pada kelas semak belukar, yaitu sebesar 78,57 %. Hal ini dikarenakan dari total 42 piksel yang digunakan sebagai training area pada kelas semak belukar,

terdapat 2 piksel pada kelas pertanian lahan kering, 4 piksel pada kelas pemukiman, dan 3 piksel pada kelas sawah. Untuk keterangan yang lebih lengkap terdapat pada lampiran 1, sedangkan untuk melihat keakuratan dari hasil klasifikasi, diperoleh nilai overall accuracy yang diperoleh sebesar 90,32 % dengan tingkat kesalahan klasifikasi 9,68 % dan diperoleh nilai akurasi kappa sebesar 89,03 % dengan tingkat kesalahan akurasi sebesar 10,97 %.

Berdasarkan Tabel 13, diperoleh nilai akurasi kappa sebesar 87,6 % pada citra tahun 2000. Nilai ini dapat menunjukkkan bahwa tingginya nilai keakuratan klasifikasi yang dilakukan karena tingkat kesalahan dari klasifikasi adalah sebesar 12,4 %. Sedangkan nilai overall accuracy yang diperoleh sebesar 89,14 % dengan tingkat kesalahan klasifikasi 10,86 %. Kelas lahan terbuka mempunyai nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) terkecil yaitu sebesar 60 %. hal ini disebabkan karena adanya sejumlah piksel dari kelas lain yang masuk ke dalam kelas lahan terbuka, yaitu 1 piksel dari kelas hutan tanaman dan 3 piksel dari kelas pertanian lahan kering. Sedangkan kelas pemukiman mempunyai nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) terbesar yaitu sebesar 95,52 %. nilai ini menunjukkan bahwa terjadi kesalahan klasifikasi sebesar 4,48 %.

Pada klasifikasi ini, nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) terbesar yang didapatkan terdapat pada kelas badan air yaitu sebesar 100 %. Sedangkan untuk nilai terkecil terdapat pada kelas pertanian lahan kering yaitu sebesar 70 %. hal ini dikarenakan adanya piksel kelas pertanian lahan kering yang masuk ke kelas lain seperti pada kelas lahan terbuka sebanyak 3 piksel, kelas semak belukar sebanyak 1 piksel, kelas hutan tanaman sebanyak 6 piksel, dan kelas hutan rakyat sebanyak 5 piksel. Untuk keterangan lebih lengkap terdapat pada lampiran 2.

Pada analisis uji akurasi citra Landsat tahun 2005, nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) kelas badan air, hutan tanaman, pemukiman, kebun campuran, pertanian lahan kering, rawa semak, semak belukar adalah sebesar 100 %. Sedangkan kelas lahan terbuka memiliki nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) paling kecil, yaitu sebesar 80 %. Dari lima titik pengamatan ground check lapangan, terdapat satu titik pengamatan yang masuk ke dalam kelas pemukiman. Kesalahan klasifikasi

juga terjadi pada kelas hutan rakyat yang memiliki nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) sebesar 93,85 %. Dari total 65 titik pengamatan ground check lapangan, terdapat dua titik pengamatan yang masuk ke dalam kelas kebun campuran.

Dalam penghitungan nilai akurasi pengguna (user’s accuracy), kelas kebun campuran dan kelas semak belukar memiliki nilai terkecil, yaitu sebesar 71,43 %. Sedangkan kelas pemukiman memilki nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) sebesar 83,33 %. Adanya kesalahan klasifikasi yang terlihat nilai yang dihasilkan dari penghitungan diakibatkan oleh adanya kesamaan penampakan visual dari beberapa objek yang diamati seperti kelas pemukiman dengan kelas lahan terbuka. Sedangkan untuk kelas-kelas yang lain seperti kelas badan air, hutan tanaman, lahan terbuka, hutan rakyat, pertanian lahan kering, rawa semak, dan sawah memiliki nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) sebesar 100 %. Untuk keterangan lebih lengkap terdapat pada lampiran 3. Nilai overall accuracy yang didapatkan pada uji akurasi citra ini adalah sebesar 95,45 % dengan nilai kesalahan klasifikasi sebesar 4,15 % dan nilai akurasi kappa sebesar 93,03 % dengan nilai kesalahan klasifikasi sebesar 7,97 %.

Pada citra Landsat tahun perekaman 2010 diperoleh nilai akurasi kappa sebesar 97,21 %. Nilai ini dapat menunjukkkan bahwa tingginya nilai keakuratan klasifikasi yang dilakukan karena tingkat kesalahan dari klasifikasi yang dilakukan hanya sebesar 2,79 %. Nilai overall accuracy diperoleh sebesar 98,18 % dengan tingkat kesalahan klasifikasi 1,82 %. Terjadinya kesalahan klasifikasi pada citra diakibatkan oleh adanya commission error atau akurasi pengguna (user’s accuracy) akibat adanya area yang diklasifikasi pada kelas yang salah dan omission error atau akurasi pembuat (producer’s accuracy) akibat adanya area yang tidak diklasifikasi pada kelas yang benar. Tingginya nilai akurasi didapatkan dikarenakan hasil analisis visual yang dihasilkan dilakukan koreksi terlebih dahulu dengan bantuan software google earth pada citra GeoEye dengan tahun 2010.

Kelas pemukiman dan semak belukar memiliki nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) paling kecil yaitu sebesar 83,33 %. Hal ini diakibatkan karena adanya kemiripan penampakan visual antara kelas pemukiman dengan kelas lahan terbuka dan kelas hutan rakyat dengan kelas semak belukar sehingga menimbulkan kesalahan

saat melakukan analisis visual citra. Sedangkan untuk kelas yang lain memiliki nilai akurasi pengguna (user’s accuracy) sebesar 100 %. Sedangkan untuk nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy), Kelas lahan terbuka memiliki nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) paling kecil yaitu sebesar 80 %. Adanya kesalahan tersebut karena adanya kesamaan penampakan visual citra antara kelas lahan terbuka dan kelas pemukiman sehingga menyulitkan dalam melakukan analisis visual. Dari total lima titik pengamatan ground check lapangan pada kelas lahan terbuka, terdapat satu titik yang masuk kedalam kelas pemukiman.

Adanya kesalahan akurasi juga terjadi pada kelas hutan rakyat. Kelas hutan rakyat mempunyai nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) sebesar 98,46 %. Adanya kesamaan penampakan visual antara kelas hutan rakyat dan kelas semak belukar menyebabkan terjadinya kesalahan klasifikasi sebesar 1,54 %. Dari total 65 titik pengamatan ground check lapangan, ada satu titik pengamatan yang masuk dalam kelas semak belukar. Untuk nilai kelas-kelas yang lain mempunyai nilai akurasi pembuat (producer’s accuracy) sebesar 100 %. Untuk keterangan lebih lengkapnya terdapat pada lampiran 4.

Dokumen terkait