Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberi-kan pengalaman belajar atau menciptamemberi-kan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalan komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pe-ngetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan, bina suasa-na dan pemberdayaan masyarakat sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatan-an masing-masing, agar dapat menerapktatan-an cara-cara hidup sehat, dalam rangka menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatan.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga adalah se-mua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehat-an dkesehat-an berperkesehat-an aktif dalam kegiatkesehat-an-kegiatkesehat-an kesehatkesehat-an di masyarakat. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang Gizi: makan beraneka ragam makanan, minum tablet tambah darah, mengonsumsi garam beryodium, memberi bayi dan balita kapsul vitamin A. Tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan. Setiap rumah tangga dianjurkan untuk melaksanakan semua perilaku kesehatan.
Program Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi
bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pim-pinan (advokasi), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masya-rakat (empowerment). Dengan demikian masyamasya-rakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dan dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatannya.
Menerapkan Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di rumah tang-ga tentu akan menciptakan keluartang-ga sehat dan mampu meminimalisasi masalah kesehatan. Manfaat PHBS di Rumah tangga antara lain, setiap anggota keluarga mampu meningkatkan kesejahteraan dan tidak mudah terkena penyakit, rumah tangga sehat mampu meningkatkan produktivi-tas anggota rumah tangga dan manfaat PHBS rumah tangga selanjutnya adalah anggota keluarga terbiasa untuk menerapkan pola hidup sehat dan anak dapat tumbuh sehat dan tercukupi gizi.
Gambar 5. 1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan ak-tif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. PHBS di rumah tangga dila-kukan untuk mencapai rumah tangga sehat. Rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang melakukan 10 PHBS di rumah tangga, yaitu:
1. Persalinan Ditolong Oleh Tenaga Kesehatan
Persalinan yang ditolong tenaga kesehatan yaitu persalinan yang di-tolong oleh tenaga kesehatan (bidan, dokter, dan tenaga para medis lain-nya). Seorang tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinanan, sehingga keselamatan Ibu dan bayi lebih terja-min. Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera ditolong atau dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit. Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih, dan steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.
Tanda-tanda seseorang yang merasa akan mengalami persalinan yaitu Ibu mengalami mulas-mulas yang timbulnya semakin sering dan semakin kuat. Rahim terasa kencang bila diraba, terutama pada saat mulas. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir. Keluar cairan ketuban yang ber-warna jernih kekuningan dari jalan lahir. Merasa seperti mau buang air besar. Jika seorang merasakan salah satu tanda persalinan tersebut, yang harus dilakukan, yaitu; segera hubungi tenaga kesehatan (bidan/dokter); tetap tenang dan tidak bingun; Ketika merasa mulas bernapas panjang, mengambil napas melalui hidung dan mengeluarkan melalui mulut untuk mengurangi rasa sakit.
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi adalah faktor pelayanan yang sangat dipengaruhi oleh ke-mampuan dan keterampilan tenaga kesehatan sebagai penolong pertama pada persalinan tersebut, di mana sesuai dengan pesan pertama kunci MPS yaitu setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Di samping itu, masih tingginya persalinan di rumah dan masalah yang terkait budaya dan perilaku dan tanda-tanda sakit pada neonatal yang sulit dikenali, juga merupakan penyebab kematian bayi baru lahir.
Sampai saat ini di wilayah Indonesia masih banyak pertolongan per-salinan dilakukan oleh dukun bayi yang masih menggunakan cara-cara tradisional, sehingga banyak merugikan dan membahayakan keselamatan ibu dan bayi baru lahir. Di beberapa daerah, keberadaan dukun bayi seba-gai orang kepercayaan dalam menolong persalinan, sosok yang dihormati dan berpengalaman, sangat dibutuhkan oleh masyarakat keberadaannya. Berbeda dengan keberadaan bidan yang rata-rata masih muda dan belum seluruhnya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Sehingga perlu dicari suatu kegiatan yang dapat membuat kerja sama yang saling meng-untungkan antara bidan dan dukun bayi, dengan harapan pertolongan persalinan akan berpindah dari dukun bayi ke bidan. Dengan demikian,
kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi risiko yang mungkin terjadi bila persalinan tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun.
Berdasarkan data SDKI 1990 memperlihatkan bahwa Angka Kemati-an Ibu (AKI) mengalami penurunKemati-an dari 390 per 100. 000 kelahirKemati-an hi-dup pada tahun, data SUPAS 2015 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 305 per 100. 000 per kelahiran hidup (SUPAS, 2015). Penurunan AKI dan AKB terjadi karena beberapa faktor, yakni hampir seluruh Puskesmas yaitu 9456 telah melaksanakan kelas ibu hamil, 96, 1 persen ibu hamil pernah mendapatkan pelayanan antenatal sekali selama kehamilannya, 86 persen ibu hamil periksa sekali sewaktu trimester I, dan 74, 1 persen ibu hamil periksa sesuai standar, serta persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan telah mencapai 86 persen. Beberapa program pro-mosi kesehatan di rumah tangga, yaitu:
2. Kemitraan Tenaga Kesehatan dan Dukun Bayi
Program kemitraan bidan dan dukun bayi adalah bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya menyelamatkan ibu dan bayi. Untuk menyuk-seskan program kemitraan di masyarakat maka harus memperoleh du-kungan dari lintas sektoral atau kelompok pendukung seperti pemerin-tahan desa (Pemdes), tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Tim Penggerak PKK, karena juga memegang peranan penting, mengingat basis program tersebut berada langsung di tengah-tengah masyarakat.
Program kemitraan bidan dan dukun bayi dilakukan pada beberapa kabupaten/kota yang memiliki angka Kematian Ibu dan Anak (KIA) yang tinggi dan memiliki angka cakupan pertolongan persalinan tenaga kese-hatan yang rendah namun angka persalinan pada dukun bayi masih sa-ngat tinggi seperti di daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Aceh, dan beberapa daerah di Kepulauan Riau. Program kemitraan bidan dan dukun bayi menjadi salah satu terobosan yang bermuara untuk menu-runkan AKI dan AKB. Metode yang dilakukan adalah melalui pendekatan holistik, lintas sektoral, lintas program, dan multidisiplin. Program kemit-raan bidan dan dukun bayi juga merupakan metode yang tepat karena permasalahan kesehatan merupakan permasalahan yang multi dimensi.
Kemudian, program kesehatan bisa berjalan tanpa harus meninggalkan unsur kebudayaan setempat atau dengan pendekatan kearifan lokal, pe-ran dukun bayi yang masih dipercayai oleh masyarakat dan dengan pro-gram kemitraan bidan dan dukun bayi ini memiliki peran masing-masing peran, yaitu bidan sebagai penolong persalinan dan dukun bayi sebagai pendamping.
Kemitraan tenaga kesehatan dan dukun bayi memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan persalinan dan perawatan bayi baru lahir oleh tena-ga kesehatan melalui kemitraan bidan dan dukun bayi. Sehingtena-ga setiap ibu bersalin dan bayi baru lahir memperoleh pelayanan serta pertolongan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dalam persalinan. Seluruh dukun bayi yang ada dilibatkan dalam satu bentuk kerja sama dan menandata-ngani kesepakatan atau setuju bermitra yang saling menguntungkan anta-ra bidan dan dukun bayi.