Dalam tahapan tumbuh kembang remaja terjadinya kematangan serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormon seks baik pada laki-laki maupun pada perempuan yang akan menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Pada kehidupan psikologis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam sikap remaja terhadap lawan jenis. Terjadinya
peningkatan perhatian remaja terhadap lawan jenis sangat dipengaruhi oleh faktor perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas (Santrock, 2003).
Secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan yang sehat adalah bilamana anak tumbuh menjadi seorang remaja yang sehat fisik, maupun psikologis serta terhindar dari cacat sosial seperti kecanduan narkoba, cacat kriminal dan lain-lainnya. Secara seksual perkembangan yang dianggap berhasil meliputi membangun hubungan antar mereka yang akrab dan kasih tanpa terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki atau terjangkit penyakit menular seksual (Sarwono, 2010).
Menurut L’Engel, dkk (2006) perilaku seksual terbagi atas dua aktifitas yaitu aktivitas seksual ringan dan berat, yang dimulai dari menaksir seseorang, sesekali pergi berkencan, pergi ke tempat yang bersifat pribadi, berciuman ringan (french kiss), sampai melakukan aktivitas seksual berat seperti meraba payudara, meraba vagina atau penis, oral seks dan melakukan hubungan seksual. Adanya persepsi yang berbeda-beda mengenai seksualitas akan menyebabkan sikap yang berbeda-beda terhadap seks itu sendiri, yang selanjutnya mempengaruhi perilaku seksualnya. Cara-cara yang biasa dilakukan dalam mengatasi dorongan seksual: basah, menahan diri dengan berbagai cara: menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, menghabiskan tenaga dengan berolah raga, memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sarwono (2010) menyebutkan yang dimaksud dengan perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini bisa bermacam-macam,
mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan. Objek seksualnya bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan atau diri sendiri.
Berikut beberapa faktor eksternal dan internal (Sarwono, 2010) yang memengaruhi perilaku seksual remaja:
a. Perspektif biologis; perubahan biologis yang terjadi pada masa pubertas dan pengaktifan hormonal dapat menimbulkan perilaku seksual.
b. Hubungan dengan orang tua; kurangnya komunikasi yang terbuka antara remaja dan orang tua dalam masalah seputar seksual dapat memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual berfungsinya keluarga dalam menjalankan fungsi kontrol afeksi/kehangatan penanaman nilai moral dan keterbukaan komunikasi dapat membantu remaja untuk menyalurkan dorongan seksualnya dengan cara yang selaras dengan norma dan nilai yang berlaku serta menyalurkan energi psikis secara produktif.
c. Pengaruh teman sebaya; pada masa remaja pengaruh teman sebaya sangat kuat sehingga munculnya penyimpangan perilaku seksual dikaitkan dengan norma kelompok sebaya.
d. Perspektif akademik; remaja dengan prestasi yang rendah dan tahap aspirasi yang rendah cenderung lebih sering memunculkan aktivitas seksual dibanding remaja yang memiliki prestasi lebih baik di sekolah.
e. Perspektif sosial kognitif; kemampuan sosial kognitif diasosiasikan dengan pengambilan keputusan yang menyediakan pemahaman perilaku seksual di kalangan remaja.
f. Pengalaman seksual; makin banyak pengalaman mendengar, melihat, mengalami hubungan seksual makin kuat stimulasi yang dapat mendorong munculnya perilaku seksual, misalnya media massa, obrolan dari teman sebaya/pacar tentang pengalaman seks melihat orang-orang yang sedang berpacaran atau melakukan hubungan seksual.
g. Faktor-faktor kepribadian; seperti harga diri, kontrol diri, tanggung jawab, tolerance for stress, coping stress dan kemampuan membuat keputusan.
h. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, remaja yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memiliki resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksual.
i. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai keagamaan, integrasi yang baik (konsistensi antara nilai, sikap dan perilaku) akan cenderung menampilkan perilaku seksual yang selaras dengan nilai yang diyakininya serta mencari kepuasan dari perilaku yang produktif.
2.3.1. Dampak Hubungan Seks dalam Kesehatan Reproduksi
Salah satu perilaku remaja yang dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan remaja adalah perilaku hubungan seksual pranikah. Hubungan seksual pranikah (premarital sex) adalah kontak seksual yang dilakukan remaja dengan lawan jenis atauteman sesama jenis tanpa ikatan pernikahan yang sah (Ghuman, dkk., 2006).
Perilaku hubungan seksual pranikah dapat menyebabkan berbagai masalah bagi kesehatan, sosial dan ekonomi bagi remaja itu sendiri maupun keluarganya.
Mekenzie, dkk (1997) mengemukakan beberapa dampak dari perilaku hubungan seksual pranikah, diantaranya adalah:
1. Hubungan seksual pranikah rentan terhadap penyakit menular seksual. Hal ini disebabkan karena remaja cenderung memiliki pasangan seksual lebih dari 1 (multiple partners), melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kondom (unprotected sex) dan memilih pasangan seksual risiko tinggi (high risk partners). Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dan menyerang organ reproduksi seseorang. PMS meliputi sifilis, gonorhea, herpes genitalis dan AIDS. Penyakit menular seksual pada remaja dapat memiliki dampak serius bagi kesehatannya, yaitu ketidaksuburan (infertility), kanker reproduksi, kehamilan dan proses melahirkan dengan risiko tinggi dan infeksi HIV.
2. Kedua, hubungan seksual pranikah pada remaja dapat menyebabkan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Kehamilan pada remaja dapat menimbulkan masalah bagi remaja itu sendiri, keluarga maupun lingkungan sosial. Kehamilan tidak diinginkan pada remaja dapat memiliki beberapa dampak, yaitu:
a) Dampak fisik, status kesehatan fisik rendah, perdarahan, komplikasi dan kehamilan yang bermasalah
b) Dampak psikologis, tidak percaya diri, stres, malu
c) Dampak sosial, prestasi sekolah rendah atau drop out dari sekolah, penolakan atau pengusiran oleh keluarga, dikucilkan oleh masyarakat, tingkat ketergantungan keuangan yang tinggi bahkan kemiskinan
d) Dampak bagi anak yang dilahirkan, anak yang dilahirkan oleh ibu diusia remaja akan mengalami status kesehatan yang rendah, keterlambatan perkembangan intelektualitas dan masalah sosial lainnya (Mekenzie, dkk 1997).
3. Kehamilan yang disebabkan oleh hubungan seksual dapat menyebabkan aborsi spontan atau aborsi buatan pada remaja. Aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan remaja, karena memiliki beberapa dampak yaitu:
a) Dampak fisik, aborsi yang dilakukan secara sembarangan atau oleh tenaga tidak terlatih dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis atau bahkan kematian. Beberapa dampak fisik dari tindakan aborsi tidak aman antara lain:
perdarahan yang terus menerus, infeksi alat reproduksi karena kuretasi yang tidak steril, risiko rupture uterus akibat kuretasi atau fistula genitalis traumatis yaitu terbentuknya suatu saluran antara genital dan saluran kencing atau anus.
b) Dampak psikologis, seperti perasaan bersalah.
c) Dampak sosial, seperti dikucilkan oleh masyarakat, teman dan keluarga.
Kecenderungan sikap permisif remaja terhadap perilaku seks bebas atau perilaku seks pranikah dapat menimbulkan risiko terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan tertular penyakit menular seksual (PMS). Angka infeksi menular seksual (IMS) tertinggi terdapat pada usia 15-23 tahun dan kehamilan tidak diinginkan yang diakhiri dengan aborsi sebanyak 2,4 juta jiwa per tahun 700 ribu di antaranya adalah remaja.
Menurut WHO, 45 juta kehamilan yang tidak diinginkan terjadi setiap tahunnya. Sebanyak 19 juta wanita hamil melakukan aborsi yang tidak aman, 40%
dari aborsi yang tidak aman tersebut dilakukan oleh wanita berumur antara 15-24 tahun. Berdasarkan data perkumpulan keluarga berencana Indonesia (PKBI), dari 37 ribu perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), sebanyak 30% adalah remaja. Menurut survei dari Indonesian Planned Parenthood Association (IPPA) tahun 1994, lebih dari setengah (58% dari 2.558) kasus aborsi dilakukan oleh perempuan dengan usia 15-24 tahun yang mayoritas (62%) belum menikah (WHO, 2003).
Diri manusia terdapat semacam keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal. Kebutuhan ini melebihi kebutuhan-kebutuhan lainnya, bahkan mengatasi kebutuhan akan kekuasaan. Keinginan akan kebutuhan tersebut merupakan kodrati, berupa keinginan untuk mencinta dan dicintai Tuhan. Fitrah beragama ini merupakan kemampuan dasar (disposisi) yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat berpengaruh dipengaruhi proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW: ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena orangtuanyalah anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Dengan demikian perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor bawaan (internal) dan lingkungan (eksternal). Faktor eksternal itu tiada lain adalah lingkungan dimana individu itu hidup. Lingkungan itu adalah keluarga, sekolah dan masyarakat (Yusuf, 2004).
Dari pernyataan beberapa remaja ditemui pada umumnya mereka antusias dan semangat mengikuti pembinaan Islam, menyadari pentingnya pembinaan kepribadian dan keterampilan agar dapat bermanfaat pada hari depan dan mendapatkan rezeki yang halal dan baik melalui keterampilan yang mereka dapat selama dibina.
Religiusitas adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang komprehensif, yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang beragama (being religious) dan bukan sekadar mengaku mempunyai agama (having religion). Religiusitas meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, pengamalan ritual agama, pengalaman agama, perilaku (moralitas) agama, dan sikap sosial keagamaan Dalam Islam, religiusitas pada garis besarnya tercermin dalam pengamalan akidah, syariah, dan akhlak, atau dengan ungkapan lain: iman, Islam, dan ihsan. Bila semua unsur itu telah dimiliki oleh seseorang, maka dia itulah insan beragama yang sesungguhnya (Al Gifari, 2004).
2.4. Khalwat
Dalam buku Dinas Syariat Islam Aceh edisi kedelapan ( 2010 ) pada butir ke 16 qanun Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 14 tahun 2003 tentang khalwat (mesum) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan khalwat/mesum adalah perbuatan bersunyi-sunyi antara dua orang mukallaf atau lebih yang berlainan jenis yang bukan muhrim atau tanpa ikatan perkawinan. Sepanjang sejarah, masyarakat Aceh telah menjadikan Agama Islam sebagai pedoman dalam kehidupannya. Melalui penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dalam rentang sejarah yang cukup panjang
(sejak abad ke VII M) telah melahirkan suasana masyarakat dan budaya Aceh yang Islami. Budaya dan adat Aceh yang lahir dari renungan para ulama, kemudian dipraktekkan, dikembangkan dan dilestarikannya. Dalam ungkapan bijak disebutkan
“Adat bak putroe Meuruhom, Hukum bak Syiah Kuala, Qanun bak Puroe Phang, Reusam bak Lakseumana”. Ungkapan tersebut merupakan pencerminan bahwa syariat Islam telah menyatu dan menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Aceh melalui peranan ulama sebagai pewaris para Nabi. Dengan munculnya era reformasi pada tahun 1998, semangat dan peluang yang terpendam untuk memberlakukan Syariat Islam di bebarapa daerah di Indonesia muncul kembali, terutama di Aceh yang telah lama di kenal sebagai Serambi Mekkah. Semangat dan peluang tersebut kemudian terakomodir dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Peluang tersebut semakin di pertegas dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Propinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di samping itu pada tingkat daerah Nomor 4 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan Syariat Islam. Sistem hukum Islam terdapat dua jenis sanksi yaitu sanksi yang bersifat definitive dari Allah dan Rasul dan sanksi yang ditetapkan manusia melalui kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kedua jenis sanksi tesebut mendorong masyarakat untuk patuh pada ketentuan hukum. Islam dengan tegas melarang melakukan zina. Sementara khalwat/mesum merupakan washilah atau peluang untuk terjadinya zina, maka khalwat/mesum juga termasuk salah satu jarimah (perbuatan pidana) dan di ancam dengan ‘uqubat ta’zir , sesuai kaidah syari’at. Qanun
tentang larangan khalwat/mesum ini dimaksudkan sebagai upaya promotif, preventif dan pada tingkat optimum remedium sebagai usaha represif melalui penjatuhan
‘uqubat dalam bentuk ‘uqubat ta’zir yang dapat berupa ‘uqubat cambuk dan ‘uqubat denda (gharamah).
Perkembangan moral yang sesuai dengan Syariat Islam merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral dan syariat Islam bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa.
Dengan demikian remaja tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan masyarakat. Disisi lain, tiada moral dan religi ini sering kali dituding sebagai faktor penyebab meningkatnya kenakalan remaja (Sarwono, 2010).
Setiap manusia memiliki naluri keagamaan, yaitu naluri untuk berkepercayaan. Naluri itu muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya yang menjadi lingkungan hidup, karena itu setiap manusia pasti memiliki keinsyafan tentang apa yang dianggap makna hidup. Remaja lebih tertarik kepada agama dan keyakinan spiritual dari pada anak-anak. Pemikiran abstrak mereka yang semakin meningkat dan pencarian identitas yang mereka lakukan membawa mereka kepada masalah-masalah agama dan spiritual (Soetjiningsih, 2004).
Nilai keagamaan adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang komprehensif, yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang beragama (being religious). Religiusitas meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, dan sikap sosial keagamaan. Dalam
Islam, religiusitas pada garis besarnya tercermin dalam pengamalan aqidah, syariah dan akhlak, atau dengan ungkapan lain, iman, Islam dan ihsan. Bila semua unsur itu telah dilimiliki oleh seseorang maka dia itulah insan yang telah beragama dengan sesungguhnya (Jalaluddin, 2004).
Ajaran agama yang diterima remaja pada waktu kecilnya akan berkembang dan bertambah subur apabila remaja dalam menganut kepercayaan itu tidak mendapat kritikan-kritikan, dalam hal agama apa yang bertumbuh dari kecil itulah yang menjadi keyakinan melalui pengalaman-pengalaman yang dipercaya (Soetjiningsih, 2004).
Isu-isu agama merupakan hal yang penting bagi remaja dan memiliki sejumlah dampak positif bagi remaja. Mengunjungi tempat beribadah dan terlibat dalam aktivitas keagamaan dapat menguntungkan remaja, karena komunitas religius mendorong sikap dan perilaku remaja yang dapat di terima secara sosial dan memberikan model-model peran yang positif bagi remaja. Teori perkembangan kognitif Jean Peaget dalam Santrock (2003), memberikan latar belakang teoritis untuk memahami perkembangan religius perkembangan religius pada remaja yang di kategorikan kedalam tiga tahapan yaitu: tahap pertama; usia 7-8 tahun pemikiran religius intuitif pra operasional (preoperational intuitive religious thought) yaitu pemikiran religius anak-anak masih belum sistematis dan terpenggal-penggal. Anak-anak sering kali tidak memahami materi dalam kisah-kisah atau tidak mempertimbangkan semua fakta. Tahap kedua (dari usia 7-8 tahun hingga 13-14 tahun), disebut dengan pemikiran “pemikiran religius operational konkret” (concrete operational religious thought). Anak mulai fokus pada detil khusus mengenai gambar
atau kisah. Tahap ketiga (usia 14 hingga sisa masa remaja) disebut “pemikiran religius operational formal” (formal operational religious thought). Remaja mengungkapkan pemahaman religius yang lebih abstrak, lebih banyak memberikan komentar yang mengungkapkan kebebasan, makna dan harapan, konsep-konsep abstrak, ketika membuat penilaian religius.
2.5. Kegiatan Keagamaan Syari’at Islam di SMA Negeri 2 Peusangan