• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perintah Berzikir, Tasbih dan Manfaatnya

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 38-49)

Bab II Landasan Teoritis

D. Perintah Berzikir, Tasbih dan Manfaatnya

Dinamisasi dakwah artinya menghargai segala bentuk budaya di masyarakat dan dijadikan sebagai sarana dakwah untuk pemngembangan sekaligus untuk memperkokoh pengamalan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan makna purifikasi adalah pemurnian terutama untuk melihat budaya mana yang bertentangan atau tidak dengan ajaran Islam. Andainya bertentangan dengan ajaran Islam maka budaya itu ditolak dan tidak boleh dianut oleh masyarakat. Alasannya karena mengotori kesucian akidah Islam.

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa manusia harus terlebih dahulu mengingat Allah swt baru kemudian Allah mengingatnya. Perintah berikutnya adalah manusia disuruh untuk bersyukur atas segala nikmat-Nya dan tidak boleh melanggar segala bentuk larangan-Nya. M. Quraish Shihab menjelaskan kata ingat di sini dalam bentuk ucapan lidah, pikiran, hati dan anggota badan (2011: 433).

Ucapan lidah yaitu menyucikan dan memuji menggunakan kalimat Subhanallah, Al-Hamdulillah, Allahu akbar dan Lailaha illallah. Pikiran dan hati dalam bentuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta di antaranya tentang penciptaan langit, bumi, bulan, bintang, pergantian siang, malam, awan, hujan, angin, pergantian musim dan penciptaan manusia. Anggota badan yakni melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Jika semua bentuk zikir itu dilaksanakan maka Allah swt mengingat para hamba-Nya. Sementara itu, perintah bersyukur adalah untuk tidak melupakan segala bentuk nikmat yang telah diberikan pada manusia misalnya umur, kesehatan, reski, anak, dan hidup.

Semua nikmat dijadikan sebagai sarana ibadah sepanjang hidup.

Sedangkan Q.S. Al-Baqarah/2: 203 yaitu berkaitan dengan zikir pada hari tasyrik selama tiga hari dalam bentuk membaca takbir, tahlil dan tahmid. Ungkapan zikir ini adalah bentuk kegembiraan dan mengagungkan hari raya Idul Adha. Sementara itu, kaum muslimin yang lain sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci Mekkah untuk memperoleh haji mabrur.

2. Q.S. Ali Imran/3: 190-191.

ٌَِِرَّىٱ ِتََٰجۡىَ ۡلۡٱ ًِى ُْٗ ِّلۡ ٖذٌََٰٓ َلۡ ِزبََّْٖىٱ َٗ ِوٍَّۡىٱ ِفََٰيِز ۡخٱ َٗ ِض ۡزَ ۡلۡٱ َٗ ِد ََٰ٘ ََََّٰسىٱ ِقۡيَخ ًِف َُِّإ ِض ۡزَ ۡلۡٱ َٗ ِد ََٰ٘ ََََّٰسىٱ ِقۡيَخ ًِف َُٗ ُسَّنَفَزٌَ َٗ ٌِِٖۡثُُْ٘ج َٰىَيَع َٗ اٗدُ٘عُق َٗ ب ٍَََِٰٗق َ َّللَّٱ َُٗ ُسُمۡرٌَ

ۡقَيَخ بٍَ بََّْث َز ِزبَّْىٱ َةاَرَع بَِْقَف َلَْ ََٰحۡجُس ٗلَِطََٰث اَرََٰٕ َذ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang menginagt Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami,

tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Ayat tersebut di atas menginformasikan tentang ciri-ciri orang yang Ulul Albab yaitu laki-laki dan perempuan yang selalu berzikir pada Allah swt dalam bentuk lisan, hati, di waktu lapang, susah, saat bekerja, istirahat, sambil berdiri, duduk dan berbaring, sambil berpikir mengenai penciptaan langit, bumi dan pergantian siang dan malam.

Doanya ialah Maha Suci Allah, peliharalah kami dan dijauhkan dari siksa api neraka. Shihab (2011), menjelaskan bahwa objek zikir adalah Allah swt dan objek pikirnya adalah makhluk-makhluk-Nya yang senantiasa memuji fenomena alam semesta yang luar biasa indahnya. Cara berzikir yaitu dalam bentuk pernyataan akal dan hati bahwa kami beriman, tunduk dan patuh kepada-Mu. Kedua bentuk zikir ini tidaklah terpisah tetapi satu sama lain berkaitan.

3. Q.S. Al-A‟raf/7: 205.

ِهبَصٓ ۡلۡٱ َٗ ُِّٗدُغۡىٱِث ِه َۡ٘قۡىٱ ٍَِِ ِس َٖۡجۡىٱ َُُٗد َٗ ٗخَفٍ ِخ َٗ ب ٗع ُّسَضَر َلِسۡفَّ ًِف َلَّث َّز سُمۡذٱ َٗ

ٍَِِيِفََٰغ ۡىٱ ٍَِِّ ُِنَر َلَ َٗ

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendahkan hati dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.

Shihab (2011) menjelaskan bahwa membaca Al-Qur‟an juga termasuk bagian dari berzikir karena itu ketika dibacakan ayat-ayat Al-Qur‟an dengarlah dengan khidmat dan diamlah agar kamu mendapat hidayah. Berikutnya rendahkanlah hati, penuh rasa takut dan tidak mengeraskan suara. Laksanakanlah zikir tersebut di waktu pagi dan petang sehingga manusia tidak termasuk orang yang lalai.

Para ulama membagi dua bentuk zikir (1). Dalam hati (2).

Dengan lisan. Kedua bentuk zikir tersebut diperintahkan oleh Allah swt dalam ayat ini. Praktek zikir di masyarakat terbagi dua (1). Lisan dengan suara keras (2). Lemah lembut. Berkaitan dengan zikir suara keras di malam hari sungguh dilarang oleh Nabi Muhammad saw karena Allah swt tidak buta dan tidak tuli. Hal inilah salah satu makna kamu termasuk orang yang lalai.

Belakangan praktek zikir terus berkembang dalam kehidupan sosial misalnya zikir akbar, Indonesia Berzikir, Medan Berzikir,

disponsori oleh pemerintah, ketua-ketua partai, para ulama dan para da‟i. Terjadilah pengerahan masa dalam jumlah besar. Bahkan sering juga diadakan pada menjelang pemilihan umum, pemilihan gubernur, bupati dan wali kota. Tempatnya berpindah-pindah dari suatu masjid ke masjid lain bahkan dilaksanakan dalam lapangan terbuka, diiringi dengan selawat, tausiyah agama dan doa. Bentuk zikir ini sebenarnya tidak salah namun kadang-kadang pelaksanaan tidak mencerminkan akhlak mulia seperti mengarahkan dukungan politik pada partai tertentu, terkontaminasi dengan sifat riya dan mengganggu ketertiban umum. Andainya dilakukan dalam rangka syiar Islam maka tentu saja mengandung nilai positif agar umat dakwah tertarik dengan dakwah Islam.

Syahrin Harahap (2016), melihat bahwa zikir yang dilaksanakan dalam kehidupan agama dan sosial terbagi dua. Pertama, sebagai bentuk realisasi manusia sebagai makhluk terbaik di muka bumi, karena itu dia berzikir. Kedua, Al-Qur‟an menyebut dirinya sebagai az-zikru. Oleh sebab itu pula manusia selalu berzikir bukan hanya dalam bentuk lisan, hati tetapi terkait dengan seluruh kehidupan manusia.

4. Q.S. An-Nisa//4: 103.

ٍَُِقَأَف ٌُۡزَّْۡأََ ۡطٱ اَذِئَف ٌُۡۚۡنِثُُْ٘ج َٰىَيَع َٗ اٗدُ٘عُق َٗ ب ٍَََِٰٗق َ َّللَّٱ ْاٗ ُسُمۡذٱَف َح ََٰ٘يَّصىٱ ٌُُزٍَۡضَق اَذِئَف ْا٘

َُِّإ َۡۚح ََٰ٘يَّصىٱ بٗرُ٘ق ٍَّۡ٘ ب ٗجََٰزِم ٍٍَِِِْ ۡؤَُۡىٱ ىَيَع ۡذَّبَم َح ََٰ٘يَّصىٱ

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan (shalatmu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring.

Kemudian apabila kamu merasa aman maka laksanakanlah shalat itu.

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.

Setelah menyelesaikan kewajiban shalat maka dianjurkan untuk berzikir; di waktu berdiri, duduk dan berbaring. Shihab (2011), menginformasikan bahwa zikir tidak hanya dilakukan ketika waktu normal saja tetapi usai berperang melawan musuh maka berzikirlah memuji Allah swt. Karena keberhasilan melawan musuh adalah hidayah atau anugerah dari Allah swt.

5.

Q.S. Al-Anfal/8: 45.

َُُ٘حِي ۡفُر ٌُۡنَّيَعَّى ا ٗسٍِثَم َ َّللَّٱ ْاٗ ُسُمۡذٱ َٗ ْاُ٘زُجۡثٱَف ٗخَئِف ٌُۡزٍِقَى اَذِإ ْا ٍَُْٓ٘اَء ٌَِِرَّىٱ بٌََُّٖأٌََٰٓ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh) maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung.

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa andainya pasukan muslim bertemu dengan pasukan musuh di medan perang maka tidak boleh takut, mundur, harus berteguh hati, atur strategi dan sabar menghadapi mereka. Sebutlah nama Allah swt sebanyak-banyaknya dan berdoalah agar diberi kekuatan pikiran dan hati untuk dapat mengalahkan musuh. Untuk menghadapi musuh diperlukan kesatuan, senjata perang unggul, tidak boleh saling menyalahkan dan saling berbantah yang menyebabkan pasukan muslim lemah, dan takut menghadapi musuh (Shihab, 2011). Bentuk zikir menghadapi musuh yaitu zikir lisan dan hati, hidup dan mati adalah karena Allah.

Berikutnya istilah yang identik dengan zikir adalah tasbih, artinya memuji, dan menyucikan Allah swt dari segala keburukan dan dari segala sifat yang tidak sesuai dengan keagungan, dan kemahakuasaan-Nya. Kata tasbih banyak disamakan artinya dengan kata zikir, sebenarnya tidak jauh berbeda maknanya. Namun, andainya ingin juga dibedakan jauh lebih umum makna kata zikir dari kata tasbih.

Beberapa ayat Al-Qur‟an yang berkaitan dengan tasbih sebagai berikut:

1.

Q.S. Al-Baqarah/2: 30.

ُدِس ۡفٌُ ٍَِ بٍَِٖف ُوَع ۡجَرَأ ْا ُٓ٘ىبَق ٗۖٗخَفٍِيَخ ِض ۡزَ ۡلۡٱ ًِف ٞوِعبَج ًِِّّإ ِخَنِئََٰٓيََۡيِى َلُّثَز َهبَق ۡذِإَٗ

َلَ بٍَ ٌَُي ۡعَأ ًِِّّٓإ َهبَق َٗۖلَى ُسِّدَقُّ َٗ َكِد ََۡحِث ُحِّجَسُّ ُِ ۡحَّ َٗ َءٓبٍَِّدىٱ ُلِف ۡسٌَ َٗ بٍَٖ ِف َََُُ٘يۡعَر

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Mereka berkata, apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama Mu? Dia berfirman, sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

2. Q.S. Ali Imran/3: 41.

َق ٗۖ ةَياَء ٓ ِ ّ

لّ لَعۡجٱ ِّبَر َلاَق رُلۡذٱَو ۗا زۡمَر لَِإ ٍما ي َ

أ َةَثََٰلَث َسا لنٱ َمِّلَكُث لَ َ

أ َكُجَياَء َلا

ِرَٰ َكۡبِ ۡلۡٱَو ِّ ِشَعۡلٱِب ۡحِّبَسَو ا يرِثَل َك ب ر

Dia (Zakaria) berkata, Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda. Allah berfirman, tanda bagimu adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) pada waktu petang dan pagi hari.

3. Q.S. Al-Isra/17: 44

ٍِِٖف ٍَِ َٗ ُض ۡزَ ۡلۡٱ َٗ ُعۡجَّسىٱ ُد ََٰ٘ ََََّٰسىٱ َُٔى ُحِّجَسُر ۦِِٓد ََۡحِث ُحِّجَسٌُ َّلَِإ ٍء ًَۡش ٍِِّ ُِإ َٗ َِّۡۚ

ا ٗزُ٘فَغ بًٍَِيَح َُبَم ۥَُِّّٔإ ٌَُٖۡۚۡحٍِج ۡسَر ََُُٖ٘قۡفَر َّلَ ِِنََٰى َٗ

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun dan Maha Pengampun.

4. Q.S. Al-Hijr/15: 98.

ٌَِِد ِجََّٰسىٱ ٍَِِّ ُِم َٗ َلِّث َز ِد ََۡحِث ۡحِّجَسَف

Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang bersujud.

5. Q.S. An-Nasr/110: 1-3.

ِد ََۡحِث ۡحِّجَسَف ب ٗجا َ٘ۡفَأ ِ َّللَّٱ ٌِِِد ًِف َُُ٘يُخۡدٌَ َسبَّْىٱ َذٌَۡأ َز َٗ ُحۡزَفۡىٱ َٗ ِ َّللَّٱ ُس ۡصَّ َءٓبَج اَذِإ َةا ََّ٘ر َُبَم ۥَُِّّٔإ ُۡۚٓ ۡسِفۡغَز ۡسٱ َٗ َلِّث َز

ا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonkanlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha penerima taubat.

Kaum muslimin secara umum sudah mengetahui makna tasbih dan tatacaranya. Karena senantiasa dipraktekkan usai shalat wajib, usai shalat tahajjud, ketika majelis taklim, sebelum tidur, peringatan hari-hari besar Islam, istighasah dan kegiatan zikir akbar. Kalimat tasbih yaitu subhanallah, alhamdulilllah, dan Allahu akbar serta dirutup dengan kalimat tahlil; lailaha illlah (tiada Tuhan selain Allah).

Sarana zikir yaitu batu tasbih, tasbih latiful qalbi, tasbih kayu, tasbih kaukah, tasbih digital premium, batu balancing putih, dan

menggunakan ruas jari-jari tangan. Bentuk batu tasbih banyak dijumpai di beberapa masjid dekat mimbar jumat, dan dekat imam shalat. Zikir Batu balancing putih digunakan pada upacara kematian di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas Selatan, Padang Lawas Utara dan Kabupaten Madina. Sedangkan zikir menggunakan ruas jari tangan ditemukan hampir pada semua jamaah shalat wajib di masjid. Mereka duduk dan berdiam diri sebentar sambil berzikir, bertasbih dan berdoa.

Di berbagai masjid ditemukan tatacara bertasbih yaitu menguatkan suara secara bersama-sama, dipimpin oleh imam shalat lalu diikuti oleh jamaah. Usai bertasbih maka berdoa bersama dan salam-salaman sambil mengucapkan selawat pada Nabi Muhammad saw. Pada jamaah lain, justru imam, jamaah bertasbih secara individu dan tidak mengeraskan suaranya karena dikhawatirkan akan mengganggu kekhusukan ibadah jika ada jamaah shalat masbuk.

Kemudian berdoa secara individu dengan bahasa sendiri dan tidak mau berdoa bersama-sama karena permintaan antara jamaah berbeda beda.

Pada kegiatan Wirid Yasin di setiap Serikat Tolong Menolong (STM), Kamis malam atau Jumat malam di masjid, di rumah dan paguyuban sering diadakan zikir bersama dengan menguatkan zikir dengan suara keras sehingga kadang-kadang hilang makna kalimat lailaha illallah. Harus disadari bahwa tidak semua kelompok masyarakat memahami tatacara berzikir dengan baik sesuai tuntunan Al-Qur‟an dan Sunnah tetapi hanya sebatas semangat dan ikut-ikutan saja. Karerna itu, zikir dengan suara keras baginya bagian dari tatacara untuk mententeramkan batin. Uniknya, usai zikir dan bertasbih pada umumnya jamaah diberi bingkisan nasi berkah untuk dinikmati bersama dengan keluarga di rumah. Tradisi ini adalah warisan para orang tua dahulunya, belakangan tetap dilaksanakan karena dipandang mempunyai nilai-nilai kebaikan paling tidak adalah untuk merajut silaturrahim dan ukhuwah di kalangan jamaah, etnik, tetangga dan kelompok-kelompok sosial.

Bentuk tasbih yang belakangan yang lebih modern dan banyak dilakukan di kantoran adalah bertasbih dengan kerja. Konsepnya

adalah kerja itu ibadah. Apapun profesi yang digeluti harus dasarnya ibadah. Mengapa muncul bertasbih dengan kerja? Karena banyak di kalangan karyawan, dosen, Pegawai Negeri Sipil, TNI/POLRI, anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan pejabat pemerintah melakukan tindak korupsi, atau tidak jujur mengambil harta yang bukan miliknya. Salah satu solusinya adalah pentingnya diri dihiasi dengan tasbih dengan kerja. Mulai pekerjaan dengan kalimat bismillah, ucapkan salam ketika saling bertemu, usai shalat diadakan tausiyah agama dan pulang kerja diakhiri dengan ucapan doa Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Cara-cara ini dipandang cukup baik untuk meningkatkan spiritual para abdi negara dan karyawan sehingga ia merasa dekat dengan Allah swt dan dia yakin bahwa apapun yang dikerjakan setiap hari diawasi oleh para malaikat dan semua perbuatan yang dilakukan akan dipetanggung jawabakan di hadapan Allah swt.

Tujuan bertasbih adalah untuk memuji, memuliakan, medekatkan diri dan untuk mententramkan batin. Hal itu seperti dalam firman Allah swt hanya dengan berzikir hati akan tenteram. Manfaat zikir adalah lebih banyak pada aspek spiritual untuk memuji, mententramkan batin dan mencari rida Allah swt.

Berdasarkan tujuan dan manfaat zikir dan tasbih manusia bisa mengembangkan potensi positif dalam dirinya. Potensi positif itu di antaranya (1). Manusia diciptakan Allah swt adalah sebaik-baik bentuk (Q.S. Tin/95: 4). (2). Manusia dimuliakan Allah (Q.S. Al-Isra‟/17: 70). (3). Manusia punya kelebihan dari segi akal dan ilmu pengetahuan (Q.S. Al-Baqarah/2: 31. (4). Manusia sebagai makhluk beragama (Q.S. Ar-Rum/30: 30 (5). Manusia punya program hidup (Q.S. Al-Baqarah/2: 210). (6). Memiliki kehendak dan bertangung jawab (Q.S. At-Tuur/52: 21). (7). Manusia memiliki kesadaran moral (Q.S As-Syams/91: 7-8).

Sebaliknya manusia dapat mengendalikan potensi negatif dalam dirinya. Potensi negatif tersebut (1). Manusia bersifat keluh kesah, kikir dan gelisah (Q.S. Al-Maarij/70: 17-24). (2). Makhluk lemah, berbuat aniya dan mengingkari nikmat (Q.S. Ibrahim/14: 34).

(3). Bersifat tergesa-gesa (Q.S. Al-Anbiya/21: 37). (4). Suka melampau batas (Q.S. „Alaq/96: 6). (5). Pelupa (Q.S.

Al-Baqarah/2: 44). (6). Menuruti nafsunya (Q.S. Ali Imran/3: 14). (7).

Merugi (Q.S. Al-„Asr/103: 1-3). (8). Bermegah-megahan (kaya) (Q.S.

At-Takasur/102: 1-2). (9). Ingkar (Q.S. Al-„Adiyat/100: 6). 10. Zalim dan bodoh (Q.S. Al-Ahzab/33: 72).

Potensi negatif berkeluh kesah, misalnya mendapat kebahagian hidup, kaya, punya jabatan terhormat, pendidikan anak berhasil, justru bersifat kikir. Ketika ditimpa musibah, kemiskinan dan kematian maka juga galau. Pada dasarnya kata Allah swt manusia adalah makhluk lemah, kekuatan akal, pikiran, fisik terbatas, punya umur dan kesehatan terbatas dan tidak bisa hidup tanpa bantuan pihak lain.

Berikutnya manusia selalu berbuat aniaya, merusak alam dan lingkungannya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, pada kenayataannya juga manusia selalu mengingkari nikmat yang dianugerahkan kepadanya dan tidak pandai bersyukur. Bahkan manusia kata Allah swt selalu tergesa-gesa dalam bentuk beribadah, berzikir, bertasbih dan berdoa. Ketika usai shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid tidak sempat lagi berzikir berdoa dan langsung meninggalkan tempat shalatnya. Adalalah bentuk manusia paling sombong dalam kehiduapannya.

Manusia melampuai batas dan suka berlebih-lebihan, termasuk di dalamnya berlebih-lebihan dalam beribadah disebut ghuluw. Islam sebagai agama wasatiyyah mengajarkan jalan tengah. Misal sedekahlah pada fakir dan miskin sesuai dengan kadar kemampuan dan tidak boleh di luar kemampuan diri anda. Demikian pula makan dan minumlah tidak boleh berlebih-lebihan. Sungguh tepat kiat makan minum dalam Islam yakni makanlah anda sebelum lapar dan berhentilah sebelum anda kenyang. Ungkapan ini bukanlah hadis tetapi ungkapan seorang dokter yang diminta oleh raja tentang kiat menjaga kesehatan.

Manusia itu pada dasarnya pelupa, lupa terhadap nikmat yang dia peroleh, lupa atas jasa-jasa kedua orang tua, lupa tentang musibah yang pernah menimpanya, lupa atas kebaikan saudaranya, lupa kebaikan istri, lupa terhadap kesusahan dari kampung halaman dahulunya dan lupa kebaikan tetangga. Suatu hal yang harus menjadi

catatan adalah lupakan kesalahan orang lain pada dirimu dan tetapi ingat kebaikan orang lain pada dirimu.

Al-Qur‟an menginformasikan dua hal yang yang membuat manusia ingat pada penciptanya. Pertama, ketika manusia mendapat musibah, bencana, merasa sulit dan bahaya (Q.S. Yunus/10: 12), artinya; Dan apabila manusia ditimpa musibah dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia seolah-olah tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Ayat berikutnya yang terkait Q.S. Fussilat/41: 50.

ِنٓاَق َةَعا سلٱ ُّوُظَأ ٓاَنَو ِلّ اَذََٰه وَلوُقَ َلَ ًُۡج سَم َءٓا َضَ ِدۡعَب ۢوِن ا يِّن ةَ ۡحَۡر ًََُٰنۡقَذَأ ۡوِهَلَو ةَه

َٰ َ

لِّإ ُتۡعِجُّر وِه َلَو ْاوُلِهَع اَهِب ْاوُرَفَك َويِ لَّٱ َئَِّبَنُيَلَف َٰٰۚ َنۡسُحۡلَل ۥُهَديِع ِلّ نِإ ٓ ِّبَّر

ٖظيِلَغ ٍبا َذَع ۡوِّن مُه يَقيِذُ َلنَو

Dan jika kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata; ini adalah hakku dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya akun akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya. Maka sungguh akakn Kami beritahukan pada orang-orang kafir tentang apa yang telah mereka kerjakan dan sungguh akan Kami timpakan kepada mereka azab yang berat.

Kedua, manusia melupakan amal kebaikannya dan ingat kelalaiannya. Contoh, ketika menjelang kematian manusia ingin berinfak dan sedekah.

Manusia menuruti hawa nafsunya artinya menuruti keinginan atau dorongan hati untuk melakukan perbuatan buruk, serakah, melakukan fitnah, tidak mau beribadah, tidak mau bersyukur, berlaku tidak adil, tidak jujur dan suka berbohong. Berkaitan dengan hal tersebut Allah swt berfirman pada Q.S. Asy-Syams/7-8. Artinya;

Sesungguhnya manusia diciptakan dengan potensi keinginan yang baik dan keinginan buruk. Kedua keinginan tersebut menujukkan sifat

keseimbangan dan kemanusiaan dalam diri manusia. Oleh karena itu, nafsu adalah fitrah manusia sebagaimana takwa juga.

Seandainya manusia tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya maka dapat dibayangkan akan terjadi konflik sosial, saling membunuh, berperang dan berbuat kerusakan di muka bumi.

Sebaliknya jika manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya maka terbentuk manusia bertauhid, beribadat dan berakhlak mulia dan dalam kehidupan sosial saling menghormati, bersikap toleran, ramah, sopan dan terjadilah kerukunan sosial yang baik.

Manusia merugi dan bermegah-megah. Pada dasarnya manusia dalam keadaan merugi kecuali orang yang beriman, beramal saleh, memberi tausiyah agama dan selalu berbuat sabar. Mengapa manusia kategori merugi? Karena kelalaiannya, lebih mencintai kehidupan dunia dari pada hari akhirat dan terpengaruh terhadap godaan setan.

Bermegah-megah maksudnya membangggakan harta, boros, dan menyombongkan diri. Bahaya bermegah-megah adalah lalai dari mengingat Allah swt akhirnya masuk neraka. Harus disadari bahwa dunia ini adalah permainan, fatamorgana, sendau gurau dan bagaikan air hujan yang turun dari langit. Suatu ketika akan berakhir dan seluruh manusia akan mati menuju sang pencipta-Nya.

Manusia ingkar, zalim dan bodoh. Makna kata ingkar adalah membantah atau tidak mengakui; secara lisan dalam bentuk pernyataan dan dalam hati yaitu tidak diucapkan secara nyata, rahasia.

Perilaku orang munafik biasanya ucapan berbeda dengan kata hatinya.

Kata zalim adalah berkaitan dengan ketidakmampuan memikul amanah yang diberikan Alah swt dan bodoh maksudnya mau menerima amanah lalu mengkhianatinya (Shihab, 2011). Sifat ingkar, zalim dan bodoh adalah berkaitan dengan karakter manusia; pada suatu sisi manusia bisa berbuat baik, bersyukur dan beribadah tetapi pada sisi lain berlaku tidak amanah, mengingkari perintah dan mengerjakan larangan-Nya. Di sinilah letak bedanya dengan para malaikat, langit, bumi dan gunung-gunung mereka tidak mau khianat atas amanah yang diberikan kepadanya. Karena itu, ketika Allah swt menawarkan amanah kepada mereka maka cukup wajar mereka tolak karena khawatir tidak sanggup mengemban amanah.

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 38-49)

Dokumen terkait