Bab II Landasan Teoritis
C. Relasi Agama dan Budaya
Kata agama dan budaya adalah dua kata yang berbeda.
Meskipun demikian banyak di kalangan para ahli agama dan sosiologi agama yang menjelaskan bahwa agama dan budaya punya hubungan erat. Sebaliknya juga muncul pendapat bahwa antara agama dan budaya sama sekali tidak punya hubungan karena posisi agama jauh lebih tinggi dari budaya. Agama adalah agama dan budaya adalah budaya.
Di dunia Barat, agama dipandang adalah bagian dari budaya karena manusia yang menciptakan agama dan menolak adanya kepercayaan pada yang ghaib. Di antara pendapat yang paling populer seperti dikatakan oleh Geertz (2014) agama adalah sistem budaya, murni buatan manusia. Alasan penolakan kepercayaan terhadap yang ghaib karena tidak kelihatan wujudnya dan tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Dalam dunia Islam agama adalah aturan Allah swt yang diturunkan kepada para nabi melalui malaikat Jibril dan diberikan
kitab suci sebagai pedoman dasar untuk mengatur seluruh tata kehidupan manusia baik dan buruk sehingga memperoleh kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Dengan demikian agama adalah keyakinan pada yang ghaib di luar diri manusia; Allah, wahyu, para malaikat, alam kubur, hari kiamat, sorga dan neraka.
Munculnya perbedaan pemahaman tersebut di atas karena pendekatannya berbeda disatu sisi menggunakan pendekatan akal semata dan pada sisi lain menggunakan pendekatan kewahyuan.
Karena itu, sampai sekarang perdebatan mengenai agama dan budaya terus menerus terjadi, sulit dicari kata sepakat.
Dalam upaya memperkecil perdebatan mengenai hubungan agama dan budaya ada tiga istilah yang selalu muncul di masyarakat (1). Istilah agama (2). Agama budaya (3). Kebudayaan agama. Istilah agama adalah inklud dalam pengertian agama di atas, agama budaya adalah petunjuk hidup manusia berdasarkan hasil olah pikir manusia, tradisi-tradisinya dan tidak ada hubungan sama sekali dengan wahyu.
Sedangkan budaya agama hasil kreatif dan inovatif manusia beragama seperti tafsir Al-Qur‟an, pemahaman hadis, fikih dan kaligrafi Islam.
Merujuk pada ketiga istilah agama tersebut di atas, memang belum terlihat di mana letak integrasi agama dan budaya? Untuk menjawab pertanyaan itu cukup penting didudukkan terlebih dahulu unsur-unsur agama (1). Ghaib yang diyakini dan disembah (2). Wahyu (3). Pembawa wahyu (4). Para nabi sebagai penerima wahyu (5).
Kitab suci (6). Jelas tatacara beribadat (8). Punya umat (9). Hari kiamat (9). Balasan baik dan buruk; sorga dan neraka.
Sementara itu, budaya adalah gagasan, karakter, praktek ritus, simbol, seni, estetika, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Koentjaraningrat budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia.
Unsur-unsur budaya terdiri dari (1). Bahasa (2). Sistem pengetahuan (3). Organisasi sosial (4). Sistem peralatan hidup dan teknologi (5).
Sistem mata pencaharian (6). Sistem religi dan (7). Kesenian (Kontjaraningrat, 2000).
Berdasarkan unsur-unsur agama, para kaum agamawan tidak mengakui bahwa agama adalah sistem budaya karena bukan hasil cipta, rasa dan karya manusia. Pemahaman ini dinilai benar tetapi
yang harus bisa dipahami bahwa tidak semua dalam kehidupan manusia merupakan wahyu Allah swt justru banyak ditemukan penafsiran manusia dari wahyu Allah sesuai dengan kemampuan akalnya sehingga disebut dengan budaya. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad saw bersabda kamu lebih tahu tentang urusan duniawimu.
Dari hadis ini mengindikasikan bahwa wilayah budaya diberi hak otonom untuk diatur oleh manusia dalam arti tidakla sebebas-bebasnya tetap di dalamnya unsur agama harus menjadi patokan dasar.
Merujuk pada pemahaman ini maka agama dan budaya bukanlah sesuatu yang terpisah tetapi memiliki hubungan yang erat.
Wahyuni (2018), menjelaskan bahwa hubungan agama dan budaya terletak pada posisi agama dapat mempengaruhi sistem kepercayaan dan praktek-praktek kehidupan sebaliknya budaya dapat mempengaruhi agama khususnya tentang bagaimana agama ditafsirkan dan bagaimana pula ritual-ritual agama dipraktekkan.
Bustanuddin Agus (2006), hubungan agama dan budaya, agama adalah sebagai pondamen utama, sumber ajaran moral dan etika sementara itu budaya yang dihasilkan oleh manusia tidaklah boleh bertentangan dengan ajaran agama. Perintah shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah qurban adalah ajaran qat‟i tetapi ketika menafsirkan ajaran agama dan melaksanakan tafsirannya adalah budaya. Contoh lain takbir ketika akan memotong hewan qurban adalah ajaran tetapi ketika takbir menggunakan mikropon adalah budaya. Demikian pula misalnya gerakan amal saleh di berbagai masjid dan majelis taklim adalah ajaran tetapi ketika mengutip uang menggunakan kotak infak atau peci adalah budaya. Menutup aurat itu adalah ajaran Islam tetapi menutup aurat dengan pakaian adalah budaya atau hasil budaya.
Sahrul (2021), menjelaskan bahwa hubungan agama dan budaya, agama adalah sumber ajaran tauhid dan landasan moral dan etika dalam pengembangan budaya. Fungsi agama terhadap budaya adalah pemurni dan pembersih mana budaya yang bisa diterima dan mana budaya yang bisa ditolak karena bertentangan dengan tauhid.
Jika suatu budaya mengandung unsur-unsur syirik maka dengan
sendirinya budaya itu ditolak dan tidak dibenarkan terjadi singkritisme antara ajaran tauhid dengan budaya.
Fernan Rahadi integrasi agama dan budaya yaitu agama memberi ruh religius pada budaya dan budaya ruang kontekstualisasi ajaran agama. Keduanya tidak bisa dicampuradukkan tetapi tidak bisa pula dipisahkan apalagi untuk dipertentangkan. Menjadi agamais bukan berarti meninggalkan budaya dan menjadi berbudaya bukan berarti merendahkan nilai-nilai agama. Budaya itu berisi nilai-nilai spiritualitas dan agama itu memerlukan budaya sebagai ruang aktualisasi, demikian penjelasan Lukman Hakim Syaifuddin.
Berkaitan dengan pendapat tersebut di atas, Kuntowijoyo menjelaskan bahwa fungsi agama terhadap budaya adalah tazkiah (pembersih) karena esensi ajaran Islam adalah wahyu Allah swt yang sempurna dan tidak dapat dibandingkan dengan budaya manusia.
Haedar Nasir agama dan budaya bersenyawa satu sama lain saling mengisi dan memperkuat meskipun diyakini bahwa ajaran Islam berada di atas budaya. Keberhasilan dakwah di Mekkah dan Madinah justru Nabi Muhammad saw mengakomodasi berbagai bentuk budaya.
Demikian pula dakwah Muhammadiyah di Indonesia juga tidaklah anti terhadap budaya tetapi mengembangkan dakwah kultural sebagai salah satu bentuk strategi dakwahnya.
Dakwah kultural adalah bentuk upaya untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
Dengan cara memperhatikan potensi dan kecenderungan manusia sebagai makhluk Allah swt terbaik dan makhluk budaya dalam rangka membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (PP Muhammadiyah, 2004).
Makna memahami potensi dan kecenderungan manusia adalah bahwa manusia sebagai makhluk budaya berarti memahami gagasan-gagasan, adat istiadat, norma-norma, nilai-nilai, karakter, simbol, ilmu pengetahuan dan teknologi. Bingkai dari pemahaman ini adalah Al-Qur‟an dan Sunnah, sasaran utamanya adalah menjadikan Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Dengan demikian dakwah kultural adalah dalam bentuk purifikasi (pemurnian) dan dinamisasi dakwah.
Dinamisasi dakwah artinya menghargai segala bentuk budaya di masyarakat dan dijadikan sebagai sarana dakwah untuk pemngembangan sekaligus untuk memperkokoh pengamalan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan makna purifikasi adalah pemurnian terutama untuk melihat budaya mana yang bertentangan atau tidak dengan ajaran Islam. Andainya bertentangan dengan ajaran Islam maka budaya itu ditolak dan tidak boleh dianut oleh masyarakat. Alasannya karena mengotori kesucian akidah Islam.