• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan Khusus Penelitian

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 74-118)

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

C. Temuan Khusus Penelitian

dari anak perempuan, bisa juga pemilik pesta. Kahanggi adalah saudara sepupu atau semarga dan anak boru adalah menantu laki-laki dan perempuan. Pentingnya tiga tungku sejarangan ini agar seseorang dapat memahami posisinya dalam adat dan mengetahui pula tentang partuturon (tutur) pada seseorang. Misalnya, dewasa ini di kalangan para remaja dan pemuda memanggil orang yang lebih tua darinya adalah abang, om, tante (bibi), kakak atau uwak. Dari segi adat diperkenalkan cara bertutur misalnya pada adik ibu laki-laki dipanggil tulang atau paman. Jika adik ibu perempuan dipanggil etek (bibi) dan bujing. Abang dari ayah dipanggil uwak atau amang tua (orang yang lebih tua), adik ayah yang laki-laki dipanggil pakcik atau paman.

Orang tua dari ayah disebut ompung atau kakek, kalau ibu dari ayah disebut nenek. Dalam bahasa Melayu dipanggil atok dan nenek.

Tujuan dari partuturon (tutur) ini adalah agar saudara, keluarga dan anak-anak memahami tarombo (silsilah), panggilan pada seseorang dan akhlak atau etika. Artinya budaya mengatur tatacara santun sosial pada seseorang. Dalam Islam tentu sangat diatur berkaitan dengan sopan santun sosial agar seseorang mengetahui dan diajarkan berkata sopan pada orang lebih tua, teman sebaya dan pada orang lebih muda darinya. Bagi masyarakat yang sangat kuat adat istiadat menyebut orang yang tidak memahami tutur disebut orang yang tidak beradat. Pepatah etnik Minangkabau menyebut di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Artinya di mana pun kita berada ikutlah pada aturan yang berlaku dan mentradisi.

Merujuk pada penjelasan Marwan Lubis, guru MAN 1 (Madrasah „Aliyah Negeri) Panyabungan, orang pertama yang menggunakan zikir batu balancing putih pada upacara kematian adalah Syekh Mustafa Husein, pendiri pesantren Purba Baru, sekarang lebih dikenal pesantren Mustafawiyah. Kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh para muridnya dan sekarang tetap dipertahankan oleh masyarakat etnik Mandailing pada setiap upacara kematian di Kabupaten Madina. Tradisi ini banyak juga dikembangkan oleh para muridnya di berberbagai provinsi lain. Karena para muridnya banyak tersebar di seluruh Indonesia, mengingat pesantren ini adalah tertua di Sumatera Utara.

Pendapat yang agak berbeda justru dijelaskan oleh Pidoli Nasution adalah tradisi para orang tua dahulunya, termasuk para malim (ustad) kampung dan para ulama. Tradisi ini dipandang baik dan memiliki nilai ibadah. Karena yang dibaca adalah kalimat-kalimat zikir dan Q.S. Al-Ikhlas secara berulang-ulang, isinya tiga ayat tetapi punya makna mendalam. Karena itu, jadilah tradisi ini tetap diamalkan oleh masyarakat Madina yang madani.

Pelaksanaan zikir batu balancing putih dahulu di Madina tergolong cukup ketat, namun dewasa ini cukup longgar. Perbedaan ini diyakini karena perubahan zaman, pengaruh lingkungan, beragam paham yang dimiliki oleh para murid, dan pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang dan maju. Pada sisi lain, karena dipengaruhi oleh perubahan sosial yang menyentuh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Beberapa dalil yang dirujuk untuk pelaksanaan zikir batu balancing putih yaitu:

a. Q.S. Al-Jumu‟ah/62:1 sebagai berikut:

َِّ ِللَّ ُحِّجَسٌُ

ٌٍِِنَحۡىٱ ِيٌ ِيَع ۡىٱ ِسُّٗدُقۡىٱ ِلِيََۡىٱ ِض ۡزَ ۡلۡٱ ًِف بٍَ َٗ ِد ََٰ٘ ََََّٰسىٱ ًِف بٍَ

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah. Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

b. Q.S. Al-Isra‟/17: 44 sebagai berikut:

ۦِِٓد ََۡحِث ُحِّجَسٌُ َّلَِإ ٍء ًَۡش ٍِِّ ُِإ َٗ ٍَِِِّٖۡۚف ٍَِ َٗ ُض ۡزَ ۡلۡٱ َٗ ُعۡجَّسىٱ ُد ََٰ٘ ََََّٰسىٱ َُٔى ُحِّجَسُر ا ٗزُ٘فَغ بًٍَِيَح َُبَم ۥَُِّّٔإ ٌَُٖۡۚۡحٍِج ۡسَر ََُُٖ٘قۡفَر َّلَ ِِنََٰى َٗ

Langit yang ketujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih pada Allah. Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujinya tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.

Sungguh, Dia Maha Penyantun dan Maha Pengampun

Mengutip penjelasan Marwan Lubis, makna apa yang ada di langit dan bumi senantiasa bertasbih termasuk di dalamnya bebatuan di daratan, air dan laut. Karena itu, batu balancing putih sungguh tepat digunakan sebagai sarana zikir termasuk pada setiap upacara kematian di Kabupaten Madina. Penjelasan yang sama juga dikatakan oleh Alpin Aziz Nasution bahwa semua makhluk dan seisi alam bertasbih memuji pencipta-Nya. Karena itu, tidak salah jamaah takziyah juga menggunakan batu balancing putih sebagai sarana zikir.

Dalil hadis yang digunakan adalah berkaitan dengan kisah Nabi Muhammad saw lewat dalam sebuah kuburan dan tidak ada tandanya maka nabi menyuruh para sahabat untuk memberi tanda pengenal dari sebuah batu atau kayu. (Hr. Ibnu Majah). Dalil berikutnya ketika nabi melewati sebuah kuburan dan jenazah di dalamnya sedang diazab. Para sahabat bertanya pada Rasul saw apa yang menyebabkan seseorang diazab kubur? Karena tidak bersuci ketika buang air kecil. Pada saat ini jenazah sedang diazab dalam kubur maka rasul mengambil pelepah kurma dan ditancapkan di atas tanah kuburan. Di Mekkah tentu ada pohon kurma, di Madina tidak ada maka diqiyaskan pada batu balancing putih dan hal itulah yang dipraktekkan secara turun temurun hingga sekarang.

2. Proses Pelaksanaan Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat Madina

Di Kabupaten Madina, takziah atas wafatnya seseorang dilaksanakan tiga malam berturut-turut. Pada malam pertama, dalam bentuk membaca wasilah pada Nabi Muhammad saw dan para sahabat, membaca takhtim, tahlil, qari membaca Q.S. Al-Baqarah/2:

152-156, ditutup dengan doa. Pada proses tersebut dipimpin oleh empat orang imam. (1). Imam pertama bertugas untuk membacakan wasilah (penghubung). (2). Imam kedua untuk membaca takhtim dan

diikuti secara bersama-sama oleh jamaah. (3). Imam ketiga untuk membaca tahlil, diikuti oleh jamaah dengan suara agak keras. (4).

Imam keempat bertugas untuk membaca Qur‟an Q.S Al-Baqarah/2: 152-156 dan sekaligus membaca doa penutup. Keempat orang imam itu dipandang alim (berilmu) oleh masyarakat, fasih bacaan, makhraj al-huruf (cara membunyikan huruf) bagus dan berakhlak mulia. Artinya benar-benar dijadikan panutan karena laku kata dan perbuatan sejalan.

Para imam memakai baju rapi, pakai peci, serban, dan kain sarung. Mencerminkan ahli agama dan menempatkan posisinya adalah orang yang sangat dihormati di masyarakat. Posisi duduk mereka diatur di tempat khusus, berbeda dengan jamaah pada umumnya.

Posisi ini sengaja diatur oleh pengurus Serikat Tolong Menolong (STM) sebagai pelaksana takziah. Tujuannya adalah agar kegiatan pelaksanaan takziah tertib dan lancar. Bagi para jamaah disediakan tempat duduk dalam bentuk tikar dan kursi. Para jamaah seluruhnya memakai pakaian rapi dan khusuk mengikuti seluruh rangkaian takziah.

Pada malam kedua, tertib acara sama dengan tertib acara pada malam pertama takziah. Perbedaannya pada malam kedua telah disediakan batu balancing putih sebagai sarana zikir, ditumpuk di hadapan jamaah. Dijelaskan oleh imam pembaca silsilah hahwa seusai membaca takhtim maka akan dilanjutkan dengan zikir batu balancing putih dan dimohon pada seluruh jamaah untuk tetap berada di tempat duduk masing-masing sebelum usai seluruh rangkaian acara takziah.

Kemudian batu zikir tersebut ditumpukkan dihadapan jamaah. Tata caranya usai membaca satu kali Q.S. Al-Ikhlas maka diambil satu batu.

Pada malam ketiga takziah, prosesnya sama dengan malam kedua. Perbedaannya yakni durasi zikir batu balancing putih agak lama dilaksanakan sampai seluruh batu dihadapan jamaah habis.

Sebelum habis maka tidak dihentikan zikirnya. Usai zikir maka diadakan doa bersama, batu balancing putih yang dijadikan sebagai sarana zikir dimasukkan ke dalam goni plastik atau ember. Diakhiri dengan tausiyah agama, kata-kata ucapan terimakasih mewakili dari

jamaah dan keluarga musibah. Isi tausiyah agama tentang kematian dan mengingatkan jamaah agar senantiasa mempersiapkan diri dan memperbanyak ibadah sebelum datang ajal menjemput. Semua makhluk yang bernyawa akan merasakan kematian dan tidak bisa ditunda meskipun belindung dalam gedung dan benteng kokoh.

Pelaksanaan takziah malam pertama, kedua dan ketiga tidaklah digabungkan antara kaum ibu, kaum bapak dan naposo bulung (pemuda) serta nauli bulung (remaja putri). Di kalangan kaum ibu dilaksanakan pada sore hari menjelang waktu Maghrib dan untuk kaum bapak dilaksanakan usai shalat Isya. Sedangkan naposo bulung (pemuda) dan nauli bulung (remaja putri) pada sore hari. Pemisahan pelaksanaan karena di Kabupaten Madina masih sangat kental pemahaman agama, adat dan tidak boleh bercampur antara laki-laki dan perempuan. Istilah yang dijelaskan oleh M. Daud Batubara, Madina adalah negeri berakhlak, beradat dan taat beribadat. Ungkapan ini juga ditulis dengan huruf kapital pada spanduk atau baleho di dekat Masjid Agung Madina.

Zikir menggunakan batu balancing putih juga dilaksanakan oleh pengajian ibu-ibu, bapak-bapak dan para pemuda. Berarti setiap ada musibah kematian tiga tahapan zikir batu balancing (batu qulhu) dilaksanakan. Batu balancing tersebut diambil di sungai oleh keluarga atau ahli bait dengan cara dimasukkan ke dalam goni plastik Namun, sekarang justru lebih mudah bisa dibeli pada kedai penjual perlengkapan jenazah di Kabupaten Madina. Bahkan mengutip penjelasan Abdul Hakim Nasution, sekarang boleh digunakan selain batu balancing putih karena agak sulit mendapatkannya maka bisa digunakan batu yang lain misal batu kerikil ukuran sebesar jempol tangan kanan atau jempol kaki orang dewasa.

Ukuran besar batu balancing putih sangat penting, sebab, kalau agak besar ukurannya kesulitan mengambil atau menggeser posisi batu. Proses pelaksanaan pada umumnya diletakkan dihadapan jamaah dengan cara tiga atau empat tempat tumpuk, sangat tergantung pada jumlah jamaah takziah. Ketika imam sudah memulai membaca Q.S. Ikhlas maka jamaah bisa memulai dengan membaca Q.S. Ikhlas pula dan mengambil satu batu, ketika selesai membaca Q.S.

Al-Ikhlas kedua kali maka diambillah batu kedua, demikianlah proses seterusnya. Mengutip penjelasan Marwan Lubis, jumlah batu tidaklah ditentukan jumlahnya, artinya sehabis batu yang ditumpukkan itu maka itulah batas selesai zikir batu balancing putih.

Batu balancing putih yang telah dibacakan Q. S. Al-Ikhlas dikumpulkan oleh ahli bait (keluarga) dan dimasukkan ke dalam goni atau ember plastik. Pada hari keempat atas meninggalnya seseorang disusunlah batu balancing tersebut di atas kuburan jenazah. Prosesnya seperti dijelaskan oleh Marwan Lubis dimulai dari pembuatan bedengan kubur dan lalu diserakkan batu balancing putih tersebut dari bagian arah kepala jenazah sampai kea rah bagian kaki. Prosesnya sama dengan ketika menyiram air bidara putih di atas kuburan ketika selesai jenazah dikuburkan.

Pada saat meletakkan batu balancing putih di atas kuburan maka dimulai membaca Bismillahi milata ‘ala rasulillah. Artinya;

dengan nama Allah dan atas agama Nabi Muhammad saw. Bacaan doa yang diucapkan sama dengan bacaan doa ketika memasukkan jenazah ke dalam liang lahat kuburan. Mengapa bacaannya sama?

Karena kita sedang meletakkan batu balancing putih di atas kuburan maka seolah-olah sedang meletakkan jenazah ke liang lahat. Demikian kata Marwan Lubis.

Khusus pada jenazah anak-anak, semua praktek zikir batu balancing putih sama kecuali doa yang dibacakan berbeda. Doa tersebut seperti dalam Hadis Nabi Muhammad saw; Ya Allah, jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala dan simpanan bagi kedua orang tuanya dan pemberi syafaat, simpanan, pelajaran, contoh dan penolong. (Hr. Muslim).

3. Menelusuri Jenis-jenis Norma Dalam Zikir Batu Balancing Putih Pada Upacara Kematian Masyarakat Kabupaten Madina

Masyarakat Mandailing di Kabupaten Madina memberi nama lain dari zikir batu balancing putih adalah batu qulhu, diambil dari pangkal Q.S. Al-Ikhlas. Nama ini hingga sekarang cukup populer di seluruh lapisan masyarakat. Karena dilaksanakan pada setiap malam kedua dan ketiga takziah kematian. Pada daerah lain tidak pernah dikenal istilah ini karena tidak membudaya.

Zikir batu qulhu dipersepsi oleh masyarakat punya jenis-jenis norma dan norma ini tidaklah sembarangan norma tetapi mengikat pada setiap individu, keluarga, jamaah dan telah membudaya di masyarakat. Di antara jenis-jenis norma tersebut sebagai berikut:

1) Batu qulhu diambil dari sungai dan dimasukkan ke dalam goni atau ember plastik

Sebelum dilaksanakan zikir batu balancing putih pada malam kedua dan ketiga takziah keluarga ahli musibah yang mengambil batu di sungai dan dimasukkan ke dalam goni atau ember plastik. Jika kelihatan agak berlumut dan kotor maka dicuci bersih sehingga kelihatan warna putihnya. Lalu di bawa pulang dan diletakkan pada tempat yang aman supaya tidak dilangkahi oleh para tetamu maupun tidak dimainkan oleh anak-anak menjadi batu senggek (congkak) atau dhakon. Andainya dilangkahi dan dimainkan oleh anak-anak maka dinilai dapat mengurangi kesucian batu tersebut karena berkaitan dengan keyakinan.

Sekarang, seiring dengan perkembangan masyarakat yang lebih maju dan cara berpikir lebih simpel bahwa batu balancing putih sudah banyak di jual di toko perlengkapan jenazah maupun toko bunga. Dengan demikian mempermudah cara kerja untuk menemukan batu balancing putih sebagai sarana zikir dan tidak perlu ke sungai untuk mengutipnya.

2) Batu balancing putih sebesar jempol tangan atau jempol kaki orang dewasa

Besaran ukuran batu balancing putih adalah sebesar jempol tangan atau jempol kaki orang dewasa. Jika lebih kecil atau lebih besar ukurannya maka dimungkinkan kesulitan untuk memegang ketika zikir. Satu hal yang harus dihindari bahwa ketika zikir yakni tidak ada jamaah yang mengeluh, memberi kritik, dan komentar negatif misalnya ukuran batu terlampau besar atau kecil. Pada prinsipnya semua harus menyenangkan hati jamaah sehingga timbullah rasa ikhlas yang bersumber dari hati nurani yang paling dalam.

3) Batu balancing putih ditumpukkan dihadapan jamaah takziyah

Ketika acara zikir dimulai maka batu balancing putih ditumpuk di hadapan jamaah. Banyaknya tumpukan cukup tergantung pada banyaknya jumlah jamaah. Semakin banyak jamaah maka semakin diperbanyak tumpukannya. Orang yang diberi tugas untuk menumpukkan batu adalah dari keluarga ahli musibah atau seseorang yang diamanahi oleh pengurus Serikat Tolong Menolong (STM).

Berdasarkan pengamatan ketika berlangsung zikir batu balancing putih di Kecamatan Panyabungan Kota lebih 30 tumpukan batu zikir dihadapan jamaah takziyah. Cara meletakkan sebatas ditumpuk saja dan tidak mempunyai aturan tertentu. Pada prinsipnya dapat dijangkau jamaah dengan menggunakan tangan kanan.

Berikut poto dalam gambar batu balancing putih sebagai berikut:

1. Poto acara zikir batu balancing putih mau dimulai 2. Poto batu balancing putih yang ditumpuk-tumpukan

3. Poto batu balancing putih sedang dimasukkan ke dalam goni.

4) Imam fasih bacaan Al-Qur‟an, alim dan bersikap tawaduk

Syarat menjadi imam pembaca zikir bukanlah karena faktor ada hubungan kekeluargaan dengan ahli musibah, rajin ke masjid, status sosial terhormat, ekonomi dan tingkat pendidikan. Syarat itu merujuk pada kriteria (a). Fasih bacaan Al-Qur‟an (b). Tepat makhraj al-huruf, (cara mengeluarkan huruf) (c). Suara bagus, dan merdu (d).

Tergolong alim (taat beragama) (e). Berakhlak mulia dan berpakaian rapi (f). Berilmu pengetahuan agama yang luas dan dalam. Urgensi dari syarat ini agar zikir yang dilantunkan menembus hati dan seolah-olah menyatu dengan sang pencipta.

Syarat lain yang diperlukan adalah mengedepankan sikap tawaduk terhadap sesama ustad terutama jika ada ustad yang lebih senior hadir pada acara zikir. Terlebih dahulu minta izin dan mohon bimbingannya, jika salah bacaan dan kurang tepat doa yang dibaca.

Sikap tawaduk (rendah hati) benar-benar direalisasikan sehingga tidak ada kesan bahwa antara satu ustad dan ustad lainnya saling tidak menghormati. Salah satu bentuk ungkapan yang sering dikatakan pada ustad senior adalah mangido izin parjolo tu tuan guru (minta izin terlebih dahulu pada tuan guru). Biasanya dijawab oleh tuan guru olo (ok) silakan acara dilanjutkan, marimom mau au (mengikutilah saya).

Dari ungkapan tersebut terlihat sikap tawaduk dan tidak ada sikap menyombongkan diri dan lebih hebat dari orang lain. Santun kata dan santun perbuatan tetap senantiasa dijaga dalam kehidupan keagamaan.

5) Sebaiknya beruwuduk, bersih dari hadas besar dan kecil

Merujuk pada hasil wawancara dengan para imam pembaca zikir batu balancing putih tidak ada dalil sebaiknya wuduk dan bersih dari hadas. Oleh karena berzikir menyebut nama-nama Allah swt yang amat mulia tentu perlu para jamaah wuduk dan dalam keadaan suci.

Hadas besar maksudnya keadaan tidak suci bagi orang yang telah baligh (dewasa) dan berakal. Contoh; junub, keluar air mani, nifas, dan haid. Cara membersihkan adalah mandi wajib. Dalil Q.S. Al-Baqarah/2: 222 dan Al-Maidah/5: 6. Hadas kecil misalnya buang air kecil, kentut, buang air besar dan air mazi yang keluar dari lobang kemaluan. Cara membersihkan cukup dengan taharah (bersuci).

Syarat-syarat tersebut di atas, adalah bentuk ajakan atau himbauan tetapi dinilai cukup penting dan mulia karena membaca zikir dengan mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah; bismillah, istigfar, takbir, tahmid dan tahlil. Mengutip penjelasan Pidoli Nasution, jika memenuhi kriteria tersebut maka zikir dimulai dengan sistematika. (a). Diawali dengan membaca kalimat Bismillahirrahmanirrahim. Maknanya adalah manusia memohon dan berserah diri kepada Allah, semoga manusia memperoleh bingkai kasih sayang dan rido dari-Nya. (b). Membaca istighfar (mohon ampun kepada Allah swt) tiga kali. Maknanya karena manusia tidak pernah luput dari kekhilafan dan dosa maka disarankan meminta ampun terlebih dahulu pada-Nya. (c). Membaca silsilah dan selawat pada Nabi Muhammad saw (d). Diikuti secara bersama-sama oleh jamaah. (e). Jamaah tidak dibolehkan untuk mendahului bacaan imam agar lebih tertib dan lebih khusyuk.

6) Memakai gundal (tanda)

Istilah gundal hanya ditemukan dalam bahasa etnik Mandailing Panyabungan, Kabupaten Madina artinya tanda bacaan.

Di daerah lain seperti di Sidempuan, Sipirok Padang Lawas dan Pasaman Barat tidak ditemukan istilah tersebut. Pada mulanya istilah ini diambil dari tradisi nenek moyang kalau berzikir gunakanlah gundal; ruas-ruas jari-jari tangan, batu tasbih dan batu kerikil kecil.

Tradisi inilah yang masih tetap dipraktekkah oleh masyarakat Mandailing. Namun, seiring dengan kemajuan masyarakat dan zaman justru masyarakat beralih pada bentuk-bentuk tasbih modern misalnya tasbih zikir batu alam, batu giok, batu pasir emas, tasbih batu Yaman dan tasbih muslim kayu.

Beberapa poin penting terkait gundal (tanda). (a). Menghindari jamaah tidak membaca berulang-ulang Q.S. Al-Ikhlas terhadap batu yang sama. (b). Kebiasaan jamaah sering lupa dan tidak mengetahui pasti berapa jumlah batu yang telah diambilnya. (c). Jamaah zikir batu balancing putih beragam strata umur, tingkat pendidikan dan daya ingat bahkan berusia lanjut. Mengutip penjelasan Pidoli Nasution tanda baca tersebut bukanlah menggunakan sipidol, pulpen, pensil dan ditulis dalam selembar kertas putih tetapi cukup batu yang diambil

diletakkan di samping kanan atau kiri individu setiap peserta zikir.

Selesai zikir dihitung secara pribadi dan tidak perlu dilaporkan pada pimpinan zikir.

7) Mengambil satu batu usai membaca Q.S. Al-Ikhlas

Aturan ini termasuk poin terpenting untuk dipedomani oleh jamaah zikir batu balancing putih. Usai membaca satu kali Q.S. Al-Ikhlas ambillah satu batu, dua kali membaca ambillah dua batu, tiga, empat, lima, enam, tujuh atau seterusnya maka ambil sesuai dengan jumlah bacaan sampai batu tersebut habis dihadapan jamaah. Harus diingat bahwa tidak boleh mengambil dengan cara yang lebih ringkas misalnya supaya lebih cepat selesai cukup satu kali baca semuanya.

Andainya di antara jamaah ada yang terlambat hadir dan agak lamban membaca maka jamaah lain tetap sabar menunggu dan tidak boleh didesak agar cepat selesai. Diberi waktu sesuai dengan kemampuan jamaah karena yang diharapkan adalah sifat ikhlas. Merujuk pada hasil pengamatan kebiasaan jamaah zikir batu balancing putih ditemukan sifat tergesa-gesa, lebih meringkas zikir dan menyerahkan sepenuhnya pada imam zikir batu balancing putih.

8) Tidak dibolehkan saling berbicara dan tegur sapa ketika zikir Pentingnya aturan ini karena ketika takziyah berlangsung banyak di antara jamaah misal ngobrol sesama, ketawa, merokok, bicara mengenai politik dan ekonomi bukan mengenai kematian.

Perilaku takziyah ini mirip dengan perilaku masyarakat jahiliyah dan kini agak sulit dihilangkan di masyarakat. Mengingat banyak terjadi pelanggaran etika takziyah maka ketika zikir batu balancing putih maka diumumkan oleh imam zikir sebelum dimulai agar jamaah menghindari bicara sesama jamaah, tegur sapa tetapi fokus pada kegiatan zikir. Usai kegiatan zikir maka jamaah diberi kebebasan untuk saling menyapa dan bicara antara sesama. Berdasarakan pengamatan di Kecamatan Panyabungan Utara ketika berlangsung kegiatan zikir, jamaah tertib dan sungguh menghormati himbauan imam zikir.

9) Menggunakan batu balancing warna putih

Cukup menarik ketika terjadi dialog dengan para informan penelitian. Mengapa ketika zikir menggunakan batu balancing putih?

Mengapa tidak menggunakan benda lain seperti batu tasbih? Mengapa memilih warna batu putih? Batu dipersepsi adalah benda keras, padat, tahan lama dan tidak mengalami kelapukan walaupun terkena cahaya matahari dan diguyur hujan. Selama manusia hidup maka selama itu pula batu itu utuh. Batu itu terbentuk dari berbagai komposisi dari butir batu pasir terbaik. Selain itu, batu diproses oleh seleksi alam yang cukup ketat sehingga menjadi padat.

Ketika zikir tidaklah menggunakan benda lain karena dikhawatirkan tidak tahan diterpa panasnya udara, cahaya matahari dan hujan. Seterusnya tidak kelihatan indah ketika diletakkan di atas kuburan. Filosofi warana putih adalah bersih, suci, sejuk dan indah dipandang mata. Atas dasar pertimbangan tersebut maka dijadikanlah batu balancing warna putih sebagai media zikir pada upacara kematian. Kelihatan indah bukan? Justru amat menyenangkan hati.

Pada sisi lain warna putih adalah pilihan Rasul saw; warna baju kalian yang paling baik adalah warna putih dan jadikanlah ia sebagai kain kapan ketika kalian meninggal dunia. (Hr. Ibn Majah). Hadis berikutnya; pakailah baju berwarna putih karena lebih suci dan lebih baik (Hr. Ibn Majah). Atas dasar pertimbangan hadis tersebut maka ketika diadakan zikir maka dipilihlah warna batu balancing putih.

10) Usai zikir dimasukkan ke dalam goni atau ember plastik

Begitu usai zikir batu balancing putih petugas dari Serikat Tolong Menolong (STM) dan keluarga musibah memasukkan batu ke dalam goni plastik atau ember plastic khusus. Berikutnya disimpan baik oleh ahli musibah. Pada hari keempat atas kematian diletakkan di atas kuburan jenazah, meliputi beberapa cara (a). Tanah badan kuburan terlebih dahulu ditinggikan dari permukaan tanah sehingga kelihatan agak tinggi (b). Dibuat tanda batu keliling agar tanah kuburan tidak ambrol dan tergerus air hujan. (c). Diberi tanda batu nisan atau tulisan atas nama jenazah; tanggal lahir dan wafat. (d).

Berikutnya diletakkanlah batu balancing putih di atas kuburan dimulai dari arah bagian kepala hingga ke bagian kaki. Tujuannya agar lebih sistematis dan tertib saja dan tidak memiliki filosofi lain. Merujuk pada hasil pengamatan hampir seluruh kuburan di wilayah Kabupaten Madina terdapat batu balancing putih di atasnya. Hal tersebut

mengindikasikan bahwa zikir batu balancing putih sudah berlangsung lama dan membudaya yang sampai kini tetap dipertahankan oleh masyarakat Madina. Bahkan dapat dianggap aib dan menyalahi kebiasaan kalau keluarga ahli musibah tidak melaksanakan zikir batu balancing putih.

11) Bentuk keyakinan yang dianut oleh masyarakat

Meskipun zikir batu balancing putih tidak pernah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat tetapi dikerjakan oleh para ulama dan tuan guru. Atas dasar pemahaman inilah maka diyakini benar tanpa ada keraguan di dalamnya. Karena itu, setiap ada musibah kematian diadakan zikir batu balancing putih oleh para ustad, keluarga musibah, masyarakat dan tidak pernah diverifikasi apakah dalilnya benar atau tidak? Dipandang sebagai bentuk ketaatan kepada Allah swt dan rasul-Nya sekaligus sebagai upaya menolong jenazah dilepaskan dari siksa kubur. Persepsi inilah yang berlaku di masyarakat dan dilaksanakan secara turun temurun dan yang melakukan itu adalah para malim kampung yang pengetahuan agamanya jauh lebih dalam dari masyarakat pada umumnya.

Merujuk pada penjelasan Bahauddin Nasution praktek zikir batu balancing putih di Kabupaten Madina adalah sebuah keyakinan, kebiasaan masyarakat dan prakteknya tidak sama antara satu desa dan desa lainnya. Di kota Panyabungan misalnya karena wilayah kota dan agak sulit mencari batu balancing putih maka dibolehkan mengganti dengan batu agak warna kehitam-hitaman. Dapat dibeli di toko bunga, tidak semua batu harus habis dibaca zikir, cukup secara simbolis dan dianggap telah mewakili batu secara keseluruhan. Karena yang melakukan zikir adalah orang-orang saleh, alim, fasih bacaan dan hafal Al-Qur‟an. Senantiasa menjaga ketaatan dan kemulian dirinya di hadapan Allah swt.

Pada daerah lain seperti di Kecamatan Ranto Baek, batu yang digunakan dalam zikir batu balancing putih tetap warna putih karena dianggap suci, sejuk dipandang dan masih mudah ditemukan di sungai Batang Natal dan sungai Muara Bangko. Tata tertib membaca harus selesai sesuai dengan jumlah batu dan jamaah harus bersifat sabar dan

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 74-118)

Dokumen terkait