• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Masyarakat Madina

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 67-74)

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

B. Profil Masyarakat Madina

B. Profil Masyarakat Madina

Berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten Madina terdapat 605 masjid, 100 mushalla, 62 gereja Protestan dan 14 gereja Katolik. Masjid terdapat di seluruh desa, kelurahan, kecamatan dan kota. Jumlah masjid tergolong banyak dan para masjid tersebut pada umumnya dibangun dari infak, sedekah dan wakaf umat Islam artinya swasta murni dan sangat sedikit bantuan dana diperoleh dari pemerintah kecuali pembangunan masjid Agung Madina yang tepat berada di pinggir sungai Batang Gadis.

Bangunan masjid pada umumnya bagus, indah dan permanen.

Tanahnya adalah wakaf individu, keluarga dan masyarakat. Kini menjadi tanah milik wakaf meskipun ditemukan bahwa masih banyak masjid belum memiliki sertifikat wakaf dari Badan Pertanahan Nasional maupun dari Badan Wakaf Indonesia, khususnya Kabupaten Madina. Masalahnya karena banyak tidak ditemukan surat wakaf pertama dari ahli waris atau orang yang mewakafkan tanah sehingga kesulitan untuk menerbitkan sertifikat wakaf tanah. Terutama di desa-desa, sebab, bagi masyarakat desa tidak begitu penting mengenai surat wakaf tanah, hanya dalam bentuk ikrar dan diketahui oleh kepala desa, imam khatib, dan tokoh masyarakat maka dianggap sah sebagai bentuk wakaf. Tradisi ini masih banyak berlaku di desa-desa hanya atas dasar ikhlas semata dan mengharap rida Allah swt.

Mengenai mazhab yang dianut oleh masyarakat Kabupaten Madina pada umumnya penganut Imam Syafii diorganisir dalam organisasi Nahdhatul Ulama (NU) dan Al Jam‟iyatul Washliyah.

Sedangkan Muhammadiyah adalah persyarikatan non mazhab (independen), meskipun pada dasarnya menganut mazhab Imam Hanafi. Untuk merealisasikan gerakan Islam dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar Muhammadiyah mendirikan masjid Taqwa Muhammadiyah di setiap ranting, cabang dan daerah. Untuk mendukung jalannya kegiatan operasional dan ketertiban administrasi Muhammadiyah mendirikan gedung pusat dakwah Muhammadiyah, sering disebut kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah.

Merujuk pada Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Muhammadiyah, masjid Taqwa Muhammadiyah boleh didirikan andainya memiliki 15 orang anggota di desa, kelurahan, kecamatan,

kabupaten kota dan memiliki amal usaha. Kalau tidak terpenuhi syarat tersebut maka tidak dibolehkan mendirikan masjid Taqwa.

Uniknya seluruh masjid yang didirikan diberi nama masjid Taqwa Muhammadiyah, dipodium ditulis Islam adalah agamaku dan Muhammadiyah adalah gerakanku. Masjid tersebut dikelola oleh persyarikatan dan jamaah Muhammadiyah. Di sinilah bedanya antara jamaah Nahdhatul Ulama (NU) dan Al Jam‟iyatul Washliyah tidak mendirikan masjid atas nama organisasinya. Untuk menandai perbedaan masjid Taqwa Muhammadiyah dan masjid Nahdhatul Ulama serta Al Jam‟iyatul Washliyah adalah qunut dan tidak qunut.

Kalau ketika shalat Shubuh menggunakan qunut maka identik dengan masjid kaum tua atau Nahdhatul Ulama dan Al Jam‟iyatul Washliyah.

Jika tidak menggunakan qunut pada waktu shalat Subuh maka berarti masjid Taqwa Muhammadiyah. Pada kenyataannya belum tentu semua ciri-ciri ini bisa dikatakan masjid Taqwa, bisa juga masjid yang dikelola jamaah tabligh dan jamaah salafi atau penganut sunnah lainnya.

Tanda lain, pada umumnya jamaah Nahdhatul Ulama baca kaum tua ketika shalat menggunakan kain sarung, peci atau serban, usai shalat berzikir dan berdoa bersama. Beserta salam-salaman sambil membaca selawat pada Nabi Muhammad saw. Tanda berikutnya ketika menjelang azan dibunyikan kaset mengaji dan ketika mau mengumandangkan azan maka membaca Q.S. Al-Ahzab/33: 56 sebagai berikut:

ْاَُِّ٘يَس َٗ ٍَِٔۡيَع ْاُّ٘يَص ْاٍَُْ٘اَء ٌَِِرَّىٱ بٌََُّٖأٌََٰٓ ًِِّۡۚجَّْىٱ ىَيَع َُُّ٘يَصٌُ ۥَُٔزَنِئََٰٓيٍََٗ َ َّللَّٱ َُِّإ بًٍَِي ۡسَر

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk nabi.

Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Di kalangan pengurus, warga dan simpatisan Muhammadiyah tidak mentradisi memakai atribut-atribut keagamaan misalnya menggunakan kain sarung, lobe, baju gamis maupun peci. Para ustadnya cukup sederhana yakni memakai peci, celana panjang, baju batik dan sejenisnya. Namun, belakangan di kalangan warga Muhammadiyah ketika ke masjid dan majelis taklim para kaum bapak

dan ibu-ibu Aisyiyah memakai baju batik Muhammadiyah dan peci hitam berlambang persyarikatan Muhammadiyah.

Ketika akan mengumandang azan tidaklah membaca ayat Al-Qur‟an cukup membaca kalimat bismillahirrahmanirrahim karena dalam bentuk perbuatan. Usai shalat berjamaah zikir dan doa sendiri saja. Karena kalau berdoa bersama permintaan tidak sama dan selawat lebih bersifat minimalis dan individual, artinya tidak secara bersama-sama (jamaah) dan tidak menggunakan suara jahar (keras).

Selanjutnya, di kalangan jamaah organisasi Nahdhatul Ulama (NU) dan Al Jam‟iyatul Washliyah tergolong fanatis terhadap tradisi-tradisi keagamaan seperti tepung tawar, dan marhaban. Karena itu, ketika lahiran anak, aqiqah, pesta pernikahan, masuk rumah baru, berangkat dan pulang menunaikan ibadah haji dari Mekkah melakukan tepung tawar. Pada peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad saw, dan Isra‟ Mi‟raj Nabi Muhammad saw diadakanlah marhaban. Berikutnya satu bentuk tradisi yang tidak dapat dilupakan oleh etnik Mandailing adalah upah-upah. Sebenarnya tradisi ini adalah tradisi umat Hindhu kini telah diadopsi menjadi tradisi-tradisi umat Islam.

Tradisi agama lain yang sampai kini disebagian masih membudaya adalah pada malam ketiga takziah di rumah ahli musibah pulang membawa nasi berkah untuk keluarga. Kebiasaan ini telah turun temurun di masyarakat kalau tidak dilaksanakan ada sesuatu yang kurang afdal (sempurna) ke para pentakziyah. Sebab, mereka telah membacakan Q.S. Yasin, takhtim, tahlil dan doa secara ikhlas untuk almarhum. Atas keikhlasan mereka ketika pulang dari takziyah tidak salah diberi nasi berkah yang tidak diambil dari harta anak yatim tetapi murni dari sedekah keluarga, tetangga, jamaah pengajian dan masyarakat.

Merujuk pada hasil observasi di Kabupaten Madina tradisi nasi berkah bersifat variatif sebagian tetap melaksanakan makan bersama.

Pada sisi lain sudah mulai berkurang karena dianggap menambah beban ekonomi pada keluarga musibah dan belum tentu mereka termasuk orang yang mampu secara ekonomi. Kini, pengamalan sunnah yang dilaksanakan dalam bentuk membantu keluarga yang

meninggal dunia; sumbangan beras, uang infak, makanan dan membantu jika ada utang almarhum semasa hidup. Pengamalan ini dinilai cukup efektif dalam meringankan beban keluarga musibah.

2. Pendidikan

Masyarakat Madina adalah berpendidikan karena ditemukan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari PIAUD (Pendidikan Islam Anak Usia Dini), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas), Madrasah

„Aliyah (MA), pesantren hingga perguruan tinggi.

Merujuk pada data Kementerian Agama Kabupaten Madina 2021, ditemukan 258 PAUD, 40 Taman Kanak-kanak, 30 Madrasah Ibtidaiyah, 409 Sekolah Dasar (SD), 40 Madrasah Tsanawiyah, 3 Sekolah Luar Biasa (SLB), 50 Madrasah „Aliyah (MA), 12 pesantren, 24 SMA (Sekolah Menengah Atas), 17 SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan), dan 6 perguruan tinggi terdiri atas Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), STIKES (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan) Namira Madina, Akademi Kebidanan Madina Husada, dan Akademi Kebidanan Armina Centre.

Merujuk pada data tersebut di atas, bahwa jumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Madina sudah hampir mencukupi jika dibanding dengan jumlah penduduk. Dari segi jumlah kelihatan jauh lebih banyak sekolah berbasis umum dari pada sekolah-sekolah agama. Meskipun demikian para orang tua masih tinggi minatnya untuk menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah agama.

Berdasarkan penjelasan Datuk Imam Marzuki, dosen STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam), Panyabungan, ada beberapa faktor penyebabnya; karena anak dipandang sebagai investasi akhirat, pelajaran agama mendidik anak bagus akhlak, dan moralnya, diajari membaca Al-Qur‟an, di sekolah diwajibkan memakai pakaian Islami, pendidikan shalat, mengetahui tentang taharah, batasan halal dan haram, tidak dibolehkan bebas bergaul antara siswa laki-laki dan perempuan, dan diajarkan fardhu kifayah dan usai tamat dapat menjadi malim (ustad) kampung. Ke depan diperkirakan sekolah-sekolah agama masih eksis namun akan terjadi persaingan yang ketat

antara sekolah agama dan umum. Tergantung pada manajemen pengelolaan, jika bagus maka akan eksis jika tidak akan kalah bersaing bahkan akan ditinggalkan oleh para calon siswanya dan sekolah akan tutup beroperasional.

3. Bahasa

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Madina terbagi dua (1). Bahasa Indonesia (2). Bahasa Mandailing. Bahasa Indonesia digunakan ketika mengajar di sekolah, di kantoran, menyambut tamu, bahasa pengantar ketika rapat-rapat resmi, dan musyawarah desa. Bahasa Mandailing adalah bahasa ibu, pengantar di rumah tangga, di sekolah, di kedai kopi dan di pasar.

Bahasa etnis Mandailing Madina dialeknya tergolong lembut dan halus karena dipengaruhi oleh Bahasa Minangkabau Pasaman Barat. Di sinilah letak beda antara bahasa Mandailing masyarakat Sidempuan, Padang Lawas dan Sipirok yang sedikit agak keras nada atau intonasinya. Sebab, daerah ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Tapanuli Utara yang nota benenya menggunakan bahasa Batak Toba. Di samping itu, terdapat pula perbedaan makna bahasa antara satu kata dengan dengan kata yang lain. Misalnya pada etnik Mandailing Sipirok, kata ulame, artinya dodol. Pada etnik Mandailing Panyabungan disebut alame artinya dodol juga. Jadi hanya perbedaan huruf u dan a saja. Pada etnik Mandailing Padang Lawas kata bukkak artinya pendusta. Pada etnik Mandailing Panyabungan disebut napargabus artinya pendusta. Berikutnya kata Dangka (dangka) bahasa etnik Mandailing Panyabungan, pada masyarakat Mandailing Angkola, dan Sipirok adalah dakka (dangka). Demikian pula kata Manungkol (mengganjal) bahasa masyarakat Mandailing Panyabungan. Namun, pada bahasa masyarakat Mandailing Padang Lawas, Sipirok dan Angkola disebut Manukkol (mengganjal).

Penggunaan bahasa ini hampir sama, perbedaannya terletak pada satu atau dua huruf yakni bergantinya suatu konsonan pada satu kata tetapi tidak merobah makna.

4. Budaya

Masyarakat etnik Mandailing memiliki beberapa jenis budaya.

Pertama, dalam bidang seni yaitu uning-uningan (bunyi-bunyian)

sering juga disebut gordang dua (gendang dua), gordang sembilan (gendang Sembilan) dan tortor. Gendang dua artinya dua buah gendang dan gendang sembilan artinya sembilan buah gendang.

Pemukulan gendang dilakukan pada saat pesta adat raja dan permaisuri dengan syarat memotong seekor kerbau atau lembu jantan.

Sedangkan tortor adalah sejenis tarian yang mengikuti irama gendang sembilan diiring dengan lagu atau nyanyian.

Tarian tortor terbagi pada beberapa jenis. (1). Tortor suhut (ahli bait), tortor kahanggi suhut (saudara kandung, sepupu atau semarga), tortor mora (pemilik pesta) dan tortor anak boru (menantu). (2). Tortor raja-raja (3). Tortor raja Panusunan (4). Tortor Naposo Bulung (pemuda). Setiap orang yang manortor maka diberi selendang ulos adat (kain adat) dan diletakkan dibahu masing-masing.

Pada Gerakan pertama tarian tortor dihadapkan pada raja, kerena orang yang sangat dihormati, pada kahanggi, mora dan anak boru. Semua elemen ini sama-sama dihormati meskipun levelnya berbeda-beda. Level terbawah adalah anak boru (menantu). Sering juga dikatakan bagian pekerja posisinya berada di bagian dapur.

Kedua, upacara mangupa-upa (upah-upah). Kebaikan menurut etnik Mandailing bukan saja dari segi agama tetapi juga berasal dari holong dan domu. Holong artinya kasih sayang sedang domu artinya persatuan. Dari dua kata ini menghasilkan ketulusan hati dan persatuan di kalangan masyarakat. Untuk menciptakan kasih sayang maka perlu diadakan acara upah-upah ketika mendapat kebahagian, dan dapat melalui penderitaan hidup. Tujuannya agar semangat berkerja dan pulih dari penderitaan. Disertai dengan rasa syukur atas nikmat-Nya. Ketiga, pemberian marga. Pada umumnya diberikan pada orang yang dihormati menjadi warga Mandailing dan bisa juga diberikan pada etnik lain yang tidak punya marga ketika mau menikah dengan anak gadis Mandailing. Sebelum diadakan pernikahan maka terlebih dahulu diberi marga agar lebih mudah mencari suhut, mora dan kahangggi yang akan mengurus segala keperluan pesta pernikahan.

Keempat, Dalihan Na Tolu (tungku tiga sejarangan), terdiri atas, mora, kahanggi dan anak boru. Mora adalah orang tua kandung

dari anak perempuan, bisa juga pemilik pesta. Kahanggi adalah saudara sepupu atau semarga dan anak boru adalah menantu laki-laki dan perempuan. Pentingnya tiga tungku sejarangan ini agar seseorang dapat memahami posisinya dalam adat dan mengetahui pula tentang partuturon (tutur) pada seseorang. Misalnya, dewasa ini di kalangan para remaja dan pemuda memanggil orang yang lebih tua darinya adalah abang, om, tante (bibi), kakak atau uwak. Dari segi adat diperkenalkan cara bertutur misalnya pada adik ibu laki-laki dipanggil tulang atau paman. Jika adik ibu perempuan dipanggil etek (bibi) dan bujing. Abang dari ayah dipanggil uwak atau amang tua (orang yang lebih tua), adik ayah yang laki-laki dipanggil pakcik atau paman.

Orang tua dari ayah disebut ompung atau kakek, kalau ibu dari ayah disebut nenek. Dalam bahasa Melayu dipanggil atok dan nenek.

Tujuan dari partuturon (tutur) ini adalah agar saudara, keluarga dan anak-anak memahami tarombo (silsilah), panggilan pada seseorang dan akhlak atau etika. Artinya budaya mengatur tatacara santun sosial pada seseorang. Dalam Islam tentu sangat diatur berkaitan dengan sopan santun sosial agar seseorang mengetahui dan diajarkan berkata sopan pada orang lebih tua, teman sebaya dan pada orang lebih muda darinya. Bagi masyarakat yang sangat kuat adat istiadat menyebut orang yang tidak memahami tutur disebut orang yang tidak beradat. Pepatah etnik Minangkabau menyebut di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Artinya di mana pun kita berada ikutlah pada aturan yang berlaku dan mentradisi.

Dalam dokumen Penelitian Dasar Interdisipliner (Halaman 67-74)

Dokumen terkait